Saturday, October 21, 2006

Ramai-ramai Berobat ke Singapura

Ketika terjadi booming minyak di awal tahun 1970-an, Presiden Soeharto membangun Rumah Sakit Pertamina di Kebayoran, Jakarta Selatan. Rumah sakit bertaraf internasional itu didirikan dengan tujuan agar investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia tak lagi berobat ke Singapura. Cukup di RS Pertamina saja.

Sebelumnya, Presiden Soekarno juga membangun Paviliun Cenderawasih di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Ciptomangunkusumo. Ruang khusus very important person (VIP) itu semula diperuntukkan bagi para menteri, pejabat tinggi negara, maupun anggota MPR/DPR yang perlu berobat. Dengan asumsi, mereka adalah orang kaya yang sanggup membayar berapa pun biaya pengobatannya.

Namun rupanya, upaya dua presiden itu tak dapat membendung arus pasien yang berobat ke luar negeri. Dengan moto 'Perawatan Kesehatan Prima Sesuai Kebutuhan Anda', di Singapura, setiap tahunnya lebih dari 200 ribu orang datang ke negara pulau itu untuk mendapatkan perawatan medis bermutu. Data ini dikeluarkan oleh 'Singapore Medicine'.

Sedangkan dari data Dewan Pariwisata Singapura, pada 2005 jumlah wisatawan yang berkunjung ke negara berpenduduk empat juta jiwa ini telah mencapai 7-8 juta wisatawan. Suatu jumlah yang sangat fantastis, beberapa kali lipat lebih banyak dari jumlah wisatawan asing yang masuk ke Indonesia. Yang menarik, dari jumlah 200 ribu orang itu, sebagian besarnya justru pasien asal Indonesia. Jumlah itu belum termasuk yang berobat ke kota-kota di Malaysia, seperti Kuala Lumpur, Malaka, dan Penang, yang nilai mata uangnya lebih rendah dari dolar Singapura.

Data yang dikeluarkan Parkway Group Healthcare, organisasi perawatan terbesar di Asia yang mengelola tiga rumah sakit Mount Elizabeth Hospital, East Shore Hospital, dan Gleneagle Hospital menyebutkan, sekitar 80-90 persen pasien mereka berasal dari Indonesia. Mount Elizabeth Hospital, rumah sakit paling terkenal dari ketiganya, menampung pasien akut berkapasitas 505 tempat tidur.

Tak menentunya masa tinggal pasien yang bisa hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, menyebabkan tumbuhnya rumah sewaan di sekitar rumah sakit yang terletak di pusat perdagangan dan perbelanjaan Orchad Road ini. Pemiliknya pun ternyata kebanyakan orang Indonesia keturunan Tionghoa asal Medan. Rumah sewaan ini seperti yang terlihat di Jalan Kayu Manis, dekat RS Mount Elizabeth Hospital, disewakan cukup murah.

Pasien hanya merogoh 60 dolar Singapura untuk menginap satu hari, dengan kurs Rp 5.650 per dolar-nya. Seperti dituturkan Rudy Haretono (32 tahun), seorang pasien cangkok ginjal asal Palembang, ia lebih memilih rumah sewaan ketimbang tinggal di hotel. Kalau di hotel, ia harus mengeluarkan minimal 80 dolar Singapura per harinya, itu pun kategori hotel termurah. ''Belum lagi ongkos taksi,'' katanya.

Mengapa memilih Singapura? Rudy yang memiliki seorang anak itu menceritakan, ia pernah cangkok ginjal di Guangzhou (Cina Selatan) dekat Hong Kong, empat tahun silam. Guangzhou memang terkenal sebagai tempat pencangkokan ginjal. Tercatat, mantan gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pernah berobat di kota itu.

Namun, katanya, ia merasakan pelayanan di Mount Elizabeth Hospital sangat memuaskan, jauh dibanding saat ia berobat ke Guangzhou. Meski, lebih banyak resep dokter Singapura yang tak bisa ditemui di apotek-apotek Jakarta. Hal lainnya, di Singapura ia lebih leluasa berkonsultasi dengan dokter, yang tak ditemuinya di tempat lain. Ia pun merelakan koceknya keluar lebih banyak, demi kenyamanan pelayanan itu. Seperti, tambahan biaya hingga 50 dolar Singapura untuk setiap setengah jam waktu lebih konsultasi.

Membludaknya pasien Indonesia ke Singapura dan juga Malaysia itu, menjadi fakta tak terbantahkan bahwa rumah sakit di Indonesia --khususnya Jakarta -- tak mampu menarik orang berduit untuk berobat di negeri sendiri. Ironisnya, orang Singapura sendiri hampir tidak ada yang berobat di RS mewah macam Mount Elizabeth Hospital itu. Biaya tinggi menjadi alasan mereka. Kebanyakan warga Singapura lebih memilih berobat di Singapore General Hospital (SGH), rumah sakit terbesar di negeri itu.

SGH berada di bawah Singapore Health Service, kelompok organisasi perawatan kesehatan masyarakat yang membawahkan poliklinik untuk penyakit kanker, jantung, mata, kandungan, kanak-kanak, gigi, penyakit otak, syaraf, tulang, dan perawatan penyakit akut.

Sebagai rumah sakit rujukan nasional, tak kurang 1.500 tempat tidur dan 400 dokter spesialis berbagai macam penyakit, disediakan. Di Indonesia, SGH ibaratnya adalah RSCM. Tentu saja, biayanya lebih murah dibanding Mount Elizabeth Hospital. Walau dari sisi pelayanan tak disangsikan.

Penulis membuktikan sempurnanya layanan rumah sakit ini saat berobat ke bagian Singapore National Eye Centre (SNEC). Cukup dengan menelepon dr Yeo Kim Teck -- senior konsultan SNEC -- pada keesokan harinya, dokter mata terkenal di Singapura itu sudah bisa ditemui.

Dalam waktu singkat, obat juga dapat diambil dengan leluasa di apotek di salah satu ruangan SNEC. Tak ada calo obat berkeliaran di tempat ini. Kejadian yang mungkin tak dijumpai ketika ada di rumah sakit di Indonesia.

( alwi shahab)

1 comment:

nana said...

Mau ikut berbagi nih..
Bagi teman-teman yang butuh informasi tentang rumah sakit dan center2 di Singapore terutama yang tergabung dalam SingHealth Group (SGH [Singapore General Hospital], KKH [KK Women & Children's Hospital], CGH [Changi General Hospital], NHC [National Heart Center], SNEC [Singapore National Eye Center], NCCS [National Cancer Center Singapore] dan NNI [National Neurocenter Institute]), termasuk estimasi harga dan membantu perujukan yang sifatnya subspesialistik dapat menghubungi saya di jakarta@singmedic.com atau riana@singmedic.com.

Pelayanan kami Free Of Charge (Gratis), karena memang merupakan bagian dari pelayanan resmi SingHealth yang tujuan awalnya untuk membantu SingHealth memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pasien internasional. Anda langsung datang ke salah satu rumah sakit ini ataupun melalui kami, biaya akan tetap sama. Jadi kenapa harus telpon internasional kalau dengan telpon lokal pun, anda bisa mendapatkan pelayanan yang sama.
kami juga memiliki dokter full-time yang akan membantu merujuk anda ke subspesialis dan rumah sakit yang sesuai dengan kebutuhan medis anda. Pelayanan ini pun Free Of Charge (Gratis) karena ini adalah bagian dari pelayanan kami untuk menjadi pusat informasi medis yang dapat diandalkan.

Regards,

Riana
Senayan Trade Center Lt. V no. 114-116
Jln. Asia Afrika Pintu IX (samping Plasa Senayan)
Jakarta
Hotline (24jam) : 0813 20 25 25 25
Telp : (021) 34 10 1000
email : riana@singmedic.com atau jakarta@singmedic.com