Monday, June 01, 2009

Majelis Taklim Kwitang di Masa Jepang

Majelis Taklim Kwitang di Masa JepangHabib Ali Alhabsyi, sedang memberikan wejangan (orang Betawi menyebut tesuir) di tengah ribuan umat di majelis taklimnya di Kwitang, Jakarta Pusat. Peristiwa seperti terlihat dalam foto terjadi di masa penjajahan Jepang (1942-1945).

Penjajah Jepang, dalam upaya menarik dukungan masyarakat Indonesia, telah mendekati para alim ulama yang punya karisma besar di tengah masyarakat. Setiap pagi, saat munculnya matahari, rakyat diharuskan membungkuk menghadap matahari. Tenno Heika, kaisar Jepang kala itu dan kaisar-kaisar sebelumnya oleh rakyatnya dianggap putra dewa matahari.

Ketika itu, para ulama dan tokoh pejuang menolak keharusan ini karena dianggap sebagai perbuatan musyrik. Akhirnya, kebiasaan ini dihentikan. Majelis Taklim Kwitang, didirikan Habib Ali sekitar satu abad lalu dan sampai kini tetap dikunjungi masyarakat se-Jabodetabek. Habib Ali meninggal dunia pada September 1968 dalam usia 102 tahun. Lahir 20 April 1870, di masa pendudukan Jepang, usianya sekitar 70-an tahun. Ia dimakamkan di samping Masjid Al-Riyadh Kwitang yang dibangunnya.

Sebelumnya, dia membangun sebuah musala kecil. Dia juga membangun madrasah modern Unwanul Falah dengan sistem kelas pada 1918. Untuk pertama kali, ketika itu madrasah ini juga terbuka untuk murid-murid perempuan. Meskipun, tempatnya terpisah dan berseberangan dengan madrasah pria.

Ayahnya Habib Abdurahman Alhabsyi, kelahiran Semarang, dimakamkan di Cikini berdekatan dengan Taman Ismail Marzuki (TIM) yang ketika itu merupakan kediaman misannya, Raden Saleh. Kini, Majelis Taklim Kwitang dipimpin oleh cucunya, Habib Abdurahman (67), menggantikan ayahnya, Habib Muhammad, yang meninggal pada 1993.

Menurut Habib Abdurahman, Majelis Taklim Kwitang tiap Ahad pagi dihadiri sekitar 20 ribu sampai 30 ribu kaum Muslimin dan Muslimat. Di sekitarnya terdapat ratusan pedagang yang tiap Ahad, mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB, menggelar dagangan. Akibatnya, daerah sekitar tempat majelis taklim tertutup untuk umum.

Gedung KPM dan Kisah Nyai Dasima

Gedung KPM dan Kisah Nyai Dasima Inilah gedung Koninklike Paaketvard Mastchappij (KPM) terletak di ujung Jl Medan Merdeka Timur (dulu Koningsplein Oost) No 5, Jakarta Pusat. Bersebelahan dengan gedung Pertamina dan berseberangan dengan bagian belakang Masjid Istiqlal, gedung megah itu kini ditempati oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut setelah KPM dinasionalisasi tahun 1957 saat putusnya hubungan RI- Nederland karena masalah Irian Barat (Papua).


Gedung ini didesain pada 1916 dan dibangun pada 1917-1918. Ketika dinasionalisasi, perusahaan terbesar Belanda ini diambil alih Pelni. Belanda mendirikan usaha pelayaran yang dapat mengarungi rute seluruh Indonesia pada 1825. Pada tahun 1988 diresmikan namanya menjadi KPM setelah dibukanya pelabuhan Tanjung Priok menggantikan pelabuhan Sunda Kalapa yang mengalami pendangkalan.

Foto ini diabadikan tahun 1920-an, hanya beberapa tahun setelah diresmikan. Tampak deretan mobil tahun 1920 yang dikuasai produk Eropa, seperti Austrin dan Opel dengan kap yang bisa buka tutup. Pada 1927, KPM memiliki 136 armada kapal yang beroperasi hampir di seluruh pelosok Nusantara. KPM-lah yang membangun RS Koja di Priok dan RS Pelni di Jati Petamburan.

Di tempat Ditjen Perla inilah kira-kira menjadi latar belakang novel historis terkenal Nyai Dasima. Nyai yang bahenol ini bersama suaminya, Meener Willem, dan putrinya, Suzana, tinggal di tempat ini. Tapi, dari tempat ini pula, Nyai asal Desa Kuripan, Parung, Kabupaten Bogor, rela meninggalkan suami dan putrinya dengan menjadi istri kedua Samiun, tukang sado anak Kwitang. Dia rela meninggalkan keluarganya setelah diingatkan bahwa kawin tanpa nikah, apalagi dengan pria lain agama, dosa besar karena hukumnya zina. Peristiwa ini terjadi di masa pemerintahan Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816).

Nyai Dasima suatu malam ketika naik delman bersama Samiun dibunuh Bang Puase, jagoan dari Kwitang. Karena Hayati, istri pertama Samiun dibakar cemburu dan membayar jagoan ini. Bang Puase mati digantung di Balai Kota Batavia (kini Museum Sejarah DKI Jakarta). Ada yang menyebutkan, tuduhan ini fitnah belaka. Kematian Dasima sengaja dikaitkan dengan Bang Puase, seorang jagoan antipenjajahan.

Bagi seorang jagoan Betawi, ribut dengan perempuan adalah perbuatan tercela apalagi membunuh dengan cara membokongnya. Konon, ketika digiring ke tiang gantung oleh soldadu-soldadu Belanda, Bang Puase berjalan dengan gagah.