Thursday, January 27, 2005

MENDAPAT HIDAYAH DI BIARA

Hj. Irena Handono



Aku dibesarkan dalam keluarga yang rilegius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibabtis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.


Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.


Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.


Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja.
Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.


Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada.
Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.


Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati.


Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.


Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.


Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa?, Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa?
Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.


Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina.


Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur'an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.




Kebenaran surat Al Ikhlas



Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur'an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.


Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas.


Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. "Ini 'kok bagus, dan bisa diterima!" pujiku lagi.


Pagi harinya, saat kuliah teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. "Allahhu ahad, ini yang benar", putusku pada akhirnya.


Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakana, "Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan."


"Yang mana yang Anda belum paham?" tanya Pastur.


Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.


"Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi," tanyaku lebih mendalam.


Dosen menjawab, "Tidak bisa!"


Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti.


"Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!" tegas Pastur.


Aku katakan, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana?


"Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!" tegas Pastur mengakhiri.


Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, "Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?" Dia tidak mau jawab.


"Coba Anda jawab!" Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.


"Lalu kenapa?" tanya Pastur lagi.


"Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu," saya mencoba menjelaskan.


"Apa maksud Anda?" Tanya Pastur penasaran.


Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.


Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, "Siapa yang melantik RW?" Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini 'kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?.


"Sebetulnya saya tahu," ucapku.


"Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!" tantang mereka.


"Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah."


"Apa maksud Anda?" Mereka semakin tak mengerti.


Saya mencoba menguraikan, "Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah."



Keluar dari Biara



Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadid ialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja.


Menurut semua literatur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi.


Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan 'Aku Tuhanmu'? Tidak pernah ada.


Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur'an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu.


Kebiasaan mengkaji al-Qur'an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah.


Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur'an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.


Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat.


Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.


Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai!


Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.


Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu.


Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, "Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekuensinya?"


"Siap!" jawabku.


"Apakah Anda tahu konsekwensinya?" tanya beliau.


"Pernikahan saya!" tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat.


"Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?" Tanya beliau lagi.


"Islam" jawabku tegas.


Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat mereka telah menjadi muslim dan muslimah.



Shalat pertama kali



Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat.


Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, 'kok ada perempuan shalat? Ia pikir ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.


Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami.


Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang.


Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.


Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, "kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan
hidup saya harus berliku-liku seperti ini?" ungkapku sedikit kesal.


Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.


Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalh agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, "Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?"


Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab. Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di Jakarta.


Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang
Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.

Friday, January 07, 2005

Naik Trem Mester-Sao Besar dan Kota

"Neng, neng, neng, neng....!" Trem Lijn satu meninggalkan Mesteer (kini Terminal Kampung Melayu). Hari Minggu, tanggal muda, trem penuh sesak. Banyak penumpang pada plesiran. Mbakyu Inem mau ke Museum Nasional atau Gedung gajah ngeliat Seni Jawa Studio Jakarta, Si Johan dengan kacamata Rayban ingin ke bioskop Globe di Pasar Baru. Nonton film Giant yang dibintangi Rock Hudso, Elisabeth Taylor, dan James Dean. Yang terakhir ini dengan jaket merahnya jadi pujaan penonton kala itu.

James Dean yang di gila-gilain cewek ini masih muda ketika sepeda motor yang dinaikinya bertabrakan dengan mobil di Uncle Sam. Di dalam trem yang makin dipadati penumpang terpadat Pak Buang, mau ke Pasar Ikan untuk 'bayar kaul' pada meriam 'si jagur' sebelum digusur oleh Wali Kota Jakarta Sudiro.

Dari Sampur ke Cilincing

Selama libur lebaran, masyarakat menyerbu berbagai tempat rekreasi di ibu kota. Yang paling banyak didatangi adalah Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan Kebon Binatang Ragunan. Di samping Kebun Raya Bogor dan kawasan Puncak. Pantai Carita di Anyer, Banten, juga dipadati pengunjung. Sebagian mereka pergi berombongan dengan menyewa bus secara patungan.

Seperti juga sekarang, pada tempo dulu, tempat-tempat hiburan pada saat lebaran juga diserbu pengunjung. Hanya kala itu, Dufan di Ancol masih merupakan hutan dan rawa-rawa. Bahkan, sampai pertengahan 1950-an masih dianggap daerah angker. Banyak monyet berkeliaran, diantaranya monyet yang dijuluki si kondor. Mitos yang beredar kala itu bahwa di Ancol pada malam hari sering muncul 'si manis dari jembatan Ancol'. Hingga mobil-moobil takut melewati Ancol pada malam hari. Kalau pun ada satu dua yang lewat malam hari, mereka menyalakan lampu dan membunyikan klakson. Mohon supaya jangan diganggu 'si manis'.

Bagaimana dengan TMII? Daerah itu pun masih berupa hutan belukar dan hanya ada satu dua rumah. Ketika pada 1970, Ibu Tien Soeharto memprakarsai pembangunan TMII di lokasi ini banyak yang menentangnya. Hampir tiap hari ada demo-demo dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Maklum saat itu, keadaan ekonomi masih suram. Sedangkan, Ragunan yang merupakan salah satu tempat rekreasi favorit warga ibu kota, disebut juga sebagai tempat 'jin buang anak'. Apalagi belum ada jalan raya menuju Ragunan.

Sebelum Gubernur Ali Sadikin memindahkan kebun binatang dari Cikini (kini Taman Ismail Marzuki) ke Ragunan, daerah Pasar Minggu sampai 1950-an masih dianggap kawasan luar kota. Daerah ini masih berupa perkebunan dan menghasilkan buah-buahan. Adhie MS pada 1950-an menciptakan lagu yang liriknya berbunyi: ''Pepaya, pisang, jambu. Dibeli dari Pasar Minggu.'' Pergi ke Pasar Minggu kala itu dianggap naar boven (naik ke atas), seperti ke Puncak saat ini.

Kebun binatang di Cikini, pada hari Lebaran juga diserbu warga yang ingin menikmati hiburan sambil melihat berbagai jenis binatang. Bing Slamet, Eddy Sud, Ateng, dan Iskak dulu sering menghibur di kebun binatang ini. Kebun yang luasnya sampai RS DGI Cikini ini dulunya merupakan halaman rumah pelukis kesohor Raden Saleh Syarif Bustaman. Dikabarkan, setelah bercerai dengan istrinya yang keturunan Jerman dan mengawini putri Kraton Yogyakarta, pelukis ini banyak memberikan perhatian terhadap Islam. Ia membangun sebuah masjid yang kini menjadi Masjid Jami' Raden Saleh di Jl Raden Saleh. Karena kedekatannya terhadap Islam, Raden Saleh pernah dicurigai ikut mendukung pemberontakan kelompok Islam di Bekasi untuk menentang Belanda.

Di tahun 1950-an, Gedung Museum Nasional di Medan Merdeka Barat yang kini 'kesepian' pengunjung (lebih banyak turis asing), dulu merupakan salah satu tempat rekreasi pada akhir pekan dan selama lebaran. Bukan untuk melihat koleksinya yang dinilai paling baik di Asia, tapi untuk menonton kesenian Sunda dan kesenian Jawa yang digelar di situ.

Dulu untuk menikmati deburan ombak dan mandi di laut, bukannya pergi ke TIJA, tapi ke Zandvoord (orang Betawi menyebutnya Sampur). Saya berani bertaruh, banyak anak muda yang tidak tahu di mana Sampur. Padahal pernah menjadi tempat rekreasi paling banyak didatangi pada 1950-an. Letaknya hanya beberapa kilo meter dari stasiun kereta api Tanjung Priok. Nama Zandvoord diberikan warga Belanda untuk mengenang tempat yang sama di negerinya. Mandi, berenang, dan rekreasi ke Zandvoord tidak ditarik biaya sepeser pun.

Saya sering ke Sampur dari Kwitang yang jaraknya sekitar 15 km naik sepeda. Maklum, waktu itu kendaraan tidak banyak, hingga saya dan kawan-kawan bisa saling kebut-kebutan ke Sampur. Orang Belanda banyak membangun vila di sini. Di dekatnya terdapat Jacht Club yang didirikan orang-orang bule sebagai tempat rekreasi mereka. Setelah warga Belanda hengkang dari Indonesia, Jacht Club menjadi tempat hiburan paling bergengsi sampai 1970-an. Tiap malam Minggu, Jacht Club yang buka hingga subuh jadi tempat hiburan bagi orang-orang berduit. Berdansa dansi dengan iringan musik yang punya nama.

Saat ini mungkin tidak ada yang percaya bahwa pantai Cilincing yang kini dipenuhi sampah dan berbagai kotoran, pada 1960-an merupakan tempat rekreasi paling banyak didatangi saat lebaran. Cilincing menggantikan Sampur yang ketika itu sudah mulai kehilangan pamor. Airnya jernih dan di pantainya banyak pohon kelapa. Konon, komponis Ismail Marzuki mendapat ilham dari Cilincing ketika menciptakan lagu Rayuan Pulau Kelapa. Di pantai Cilincing ketika itu banyak pedagang membuka tenda. Sementara para pengunjung menikmati pantai dengan lesehan beserta keluarga.

Pasar Ikan, Jakarta Utara, juga menjadi tempat yang dikunjungi warga saat lebaran. Tapi, mereka lebih banyak untuk berziarah ke Makam Luar Batang. Di sini terdapat makam Habib Husein Alaydrus yang hingga kini banyak diziarahi orang. Di dekatnya dulu terdapat Meriam si Jagur yang oleh masyarakat pengikut tahayul dijadikan sebagai tempat meminta jodoh dan anak. Melihat kemusyrikan yang sangat dikutuk oleh Allah, meriam peninggalan Portugis pada abad ke-17 itu dipindahkan ke Museum Nasional. Di Pasar Ikan banyak pengunjung membeli gelang dari akar bahar yang dipercaya dapat menghilangkan penyakit rematik. Pergi ke Pasar Ikan kala itu paling enak naik trem Lijn I dari Mester (Jatinegara) dan Lijn IV dari Tanah Abang. Ongkosnya hanya sepicis (10 sen). 

(Alwi Shahab)

Operasi KTP: Denda Rp 5 Juta dan Kurungan 5 Hari

Jakarta kembali dilanda macet setelah lalu lintas lengang lebih dari seminggu karena ditinggal warga mudik Lebaran. Sebagai imbalan, kini para pemudik yang berdatangan dari berbagai daerah menambah sesak Jakarta. Mereka membawa ratusan ribu pendatang baru untuk mengadu nasib di kota ini. Gubernur Sutiyoso yang tidak pernah bosan membatasi peledakan penduduk kembali melancarkan Operasi Yustisi Kependudukan (OYK). Tidak tanggung-tanggung, para pelanggar yang terkena razia didenda Rp 5 juta. Banyak pihak meragukan keberhasilannya.

Pada masa Gubernur Ali Sadikin (1966-1977), saat penduduk baru tiga juta jiwa, ia pernah menyatakan Jakarta sebagai kota tertutup. Tapi, tidak pernah mampu menahan laju urbanisasi yang laksana air bah membanjiri Jakarta. Juga para gubernur penggantinya.

Operasi Yustisi Kependudukan memang bukan hal baru bagi Pemprov DKI. Operasi semacam ini pernah dilakukan lebih dari 160 tahun saat kota ini bernama Batavia. Ke mana pun orang bepergian harus membawa KTP yang dikeluarkan kelurahan masing-masing dengan membayar setalen atau 25 sen. Mereka yang bepergian malam hari bila lewat gardu penjagaan akan ditanyai KTP-nya, tulis Rd Arya Sastradarma, pelancong dari Solo ketika mengunjungi Batavia (1830).

Bagaimana kalau tidak bawa KTP? Untuk yang satu ini jangan coba-coba, tulisnya. Jika ketangkep bisa dibui (dipenjara) lima hari, seperti dialami Mpok Hindun yang semalaman kagak tidur dan gelisah nungguin suaminya, Bang Musa, karena tidak pulang sampai pagi di kediamannya di Kwitang setelah mengunjungi saudaranya di Kebon Sirih. Rupanya Bang Musa ketinggalan bawa KTP. Terjadilah hal yang tidak diinginkan ketika ia melewati gardu penjagaan. Keesokan harinya ia baru dibebaskan setelah Mpok Hindun mengurus ke kantor polisi sambil menyerahkan KTP suaminya.

''Kowe inlander lain kali jangan lupa yah kalo pigi bawa itu kowe punya surat penduduk,'' kata polisi yang memeriksanya. ''Iye tuan polisi,'' kata Bang Musa dan Mpok Hindun. Dikabarkan bahwa pada pertengahan abad ke-19 itu Batavia sangat aman. Orang yang bepergian malam tidak diizinkan membawa senjata sekalipun sebilah besi. Lebih-lebih jika tajam dan runcing.

Operasi Yustisi juga dilakukan pada masa pendudukan Jepang (Maret 1942-Agustus 1945). Di samping penduduk harus memiliki KTP, terhadap bangsa asing baik Eropa maupun Asia (Cina, Arab, dan India) yang sudah berusia 17 tahun dikenakan wajib daftar, sekaligus menyatakan sumpah setia kepada Balatentara Dai Nippon. Wajib daftar ini sangat memberatkan karena biayanya sangat tinggi. Untuk orang Eropa laki-laki Rp 150/orang, wanita Rp 80 orang. Orang Asia, termasuk Ciona, Arab, dan India laki-laki membayar Rp 100/orang dan wanita Rp 50/orang.

Penduduk Batavia dalam sensus 1930 lebih dari 500 ribu jiwa. Jika digabung dengan daerah sekitarnya (Meester Cornelis, Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bogor), mencapai 1,3 juta jiwa. Kala itu 900 ribu di antaranya etnis Betawi (mayoritas). Sampai proklamasi kemerdekaan (1945) pertumbuhan penduduk cukup lamban. Tapi, pada 1960 Jakarta berpenduduk 2,6 juta.

Kaum urban banyak berdatangan dari daerah konflik, seperti Priangan Timur (Jawa Barat)) dan sebagian pesisir Jawa Tengah serta Sulawesi Selatan akibat gangguan keamanan (DI/TII). Pada masa awal Gubernur Ali Sadikin, Jakarta mendapat julukan 'kampung besar' (the big village). Hingga sutradara Usmar Ismail membuat judul demikian menggambarkan kehidupan Kota Jakarta. Kala itu gedung bertingkat masih bisa dihitung dengan jari.

Pada masa Belanda kemajuan Batavia diimbangi Surabaya, Semarang, dan Bandung. Setelah kemerdekaan Jakarta menjadi kota segala fungsi. Berdasarkan data statistik, diperkirakan 80 persen dari total dana nasional terpusat di Jakarta. Konon pada masa Bung Karno sebagian besar uang beredar di kawasan China Town Glodok. Maklum ketika itu pusat perdagangan berada di Glodok, belum nongol pusat-pusat perbelanjaan yang kini tumbuh seperti cendawan di musim hujan.

Untuk memperebutkan kue pembangunan nasional yang terpusat di Jakarta, kaum urban pun semakin merangsek kota ini. Kini Jakarta berpenduduk tidak kurang dari 13 juta (siang hari) dan 10 juta pada malam hari. Berarti ada tiga juta penduduk dari Debotabek yang penghasilannya dari Jakarta. Karena itulah Bang Ali pernah secara keras mengkritik pemda Debotabek yang melarang Pemprov DKI ingin menjadikan sebagai tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Padahal, penduduknya ikut mengotori Jakarta.

Dengan penduduk yang terus bertambah, potret kehidupan Jakarta adalah kota yang bermasalah. Kehidupan masyarakat yang makin sesak, resah, gelisah, bahkan sering mengerikan. Tidak seperti pertengahan 1960-an. Meskipun negara dinyatakan dalam keadaan SOB, keadaan aman. Jarang terjadi kriminilitas, apalagi perampokan.

Kini masyarakat takut keluar pada malam hari membawa perhiasan dan barang berharga. Tindakan kriminilitas baik kualitas maupun kuantitas makin mengkhawatirkan. Sektor informal penuh sesak diserbu pencari nafkah. Pedagang kaki lima sudah mencapai 141 ribu orang. Karena lahan makin sedikit, mereka pun berdagang di trotoar. Bahkan, sudah banyak yang mengambil jalan umum. Itulah wajah Jakarta saat ini.

(Alwi Shahab, Wartawan Republika)

Museum Nasional dan Thomas Raffles

Mungkin banyak yang belum tahu Jakarta memiliki 40 buah gedung museum. Namanya pun beragam sesuai fungsinya. Seperti Museum Taman Prasasti, tempat warga Kristen dimakamkan, termasuk para petinggi VOC dan keluarganya ketika bertugas di Batavia. Ada Museum Komodo, Museum Rekha Artha, Museum Keris, Museum Sejarah Jakarta, dan Museum Adam Malik. Tentu akan sangat panjang bila diuraikan satu persatu. Yang jelas warga Ibu Kota kurang menikmati keberadaan 40 museum itu. Karena sehari-hari lebih banyak 'kesepian'. Kalaupun ada yang datang, umumnya para turis asing atau anak sekolah yang berkarya wisata.

Di antara 40 museum, Gedung Museum Nasional di Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat telah memperoleh nama internasional karena kumpulan benda sejarahnya sejak masa prasejarah. Museum tertua di Indonesia ini didirikan oleh Bataviaasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen atau Perkumpulan untuk Seni dan Ilmu Pengetahuan. Perkumpulan ini dibentuk 1778 oleh JCM Radermacher, anggota Dewan Hindia, dan menantu laki-laki dari gubernur jenderal Reinier de Klerk.
Bekas kediaman de Klerk hingga kini masih berdiri dengan megah di Jl Gajah Mada dan telah direhabilitasi pemerintah Belanda. Gedung yang memiliki pekarangan luas ini pernah dijadikan Gedung Arsip Nasional.

Gedung Museum Nasional yang meniru vila gaya Romawi kuno, mudah dikenali keberadaannya. Satu-satunya gedung yang di halaman depannya di pasang patung seekor gajah perunggu, cendera mata Raja Chulalongkorn dari Siam (Thailand) waktu berkunjung ke Batavia (1871). Karenanya ia lebih dikenal dengan sebutan Gedung Gajah. Karena koleksinya banyak terdapat patung (arca) ia juga dinamakan Gedung Arca.

Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, keberadaan museum ini juga berfungsi tempat hiburan. Pada 1950-an, ketika tempat hiburan masih langka di Jakarta, di museum ini tiap Ahad pagi hingga sore digelar kesenian Sunda atau Jawa. Pertunjukan yang diselenggarakan RRI Studio Jakarta ini dihadiri pengunjung yang membludak.
Museum ini juga memiliki perpustakaana yang banyak dikenal di mancanegara. Ini berkat dorongan Sir Thomas Raffles, letnan gubernur Inggris (1811-1815). Raffles yang sangat memperhatikan sejarah dan arkeologi Jawa -- patut diacungi jempol dalam ikut mendorong perkembangan Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia-- adalah pendiri Museum Nasional. ''Hindia Belanda terutama Jawa harus berterima kasih pada Raffles yang memberikan semangat untukkemajuan perkumpulan ini,'' tulis seorang pelancong dari Amsterdam pada awal abad ke-20.

Bangsa Belanda walaupun mereka telah menyatakan menduduki seluruh kepulauan Nusantara, hanya mengetahui sedikit daerah pedalaman. Tak heran jika bukan mereka yang menemukan monumen artistik terbesar dari kehidupan Jawa kuno: Candi Borobudur. Raffleslah yang menemukakan candi besar dan monomental itu di hutan rimba dekat Yogyakarta, yang sebelumnya tidak diketahui Belanda.

Mendengar penemuan ini, penguasa Inggris itu bukan saja sangat bahagia bahkan menuju ke sana dengan kereta dari Batavia dalam perjalanan yang sulit kala itu. Raffles dalam bukunya History of Java menceritakan, ratusan relief batu di Borobudur terlihat olehnya sebagai pemandangan dari mitologi Hindu. Walaupun sebenarnya relief-relief tersebut bercerita tentang Budha.
Candi Borobudur sekarang ini sebagai tempat suci warga Budha, yang selalu membanjiri candi ini pada saat-saat hari suci mereka. Bahkan, banyak penganut Budha dari berbagai negara juga mendatangi dan mensucikan candi ini.

Raffles, yang saat menaklukkan Batavia (1811) dalam usia 29 tahun, dalam karier yang singkat di Jawa, didampingi istrinya, Olivia Marianne. Wanita ini digambarkan cerdas, mengagumkan, dan cantik. Istrinya ini meninggal di Batavia pada 1814, dan prasastinya masih dapat kita jumpai di Museum Taman Prasasti, Jl Tanah Abang I, Jakarta Pusat.Raffles yang berduka dan merasa kehilangan mengabdikan istrinya ini dalam bentuk tugu di pintu masuk Kebon Raya Bogor, yang masih kita dapati hingga saat ini. Raffles dan juga istrinya sangat memberikan perhatian terhadap koleksi beberapa jenis tanaman di Kebon Raya Bogor.

Selama empat setengah tahun bertugas di Nusantara, Raffles lebih banyak tinggal di Istana Buitenzorg (Bogor) yang beriklim sejuk. Hanya bila ada keperluan penting, ia berkereta kuda ke Batavia.
Ketika ekspedisinya dari Penang menuju Jawa (Agustus 1811), Raffles menyaksikan pulau Tumasik, pulau kecil yang masih berupa rawa-rawa. Instingnya yang kuat, dia ingin menjadikan pulau ini sebagai bandar penting, yang kemudian diwujudkan dalam bentuk kota Singapura.
Kembali ke Gedung Museum Nasional yang memiliki koleksi lengkap masa lalu dan benda-benda seni dari seluruh Nusantara, termasuk dari emas murni. Pada 1963, emas dan permata koleksinya telah digasak perampok bernama Kusni Kasdut. Ketika itu, Bung Karno tengah membangun Monas dengan puncaknya dari emas. Ada pemeo kala itu, bila ada yang berani mengambil emas ini, hukumannya penjahat tersebut harus dijatuhkan dari puncak Monas. Bahkan ada yang mengusulkan, para koruptor kelas kakap dilemparkan saja dari puncak Monas.

(Alwi Shahab)

Musibah

Akhir-akhir ini musibah secara beruntun melanda negeri kita. Baik berupa gempa bumi di Alor dan Nabire, maupun kecelakaan pesawat terbang di Solo dan lalu lintas di berbagai tempat, yang kesemuanya menelan korban jiwa cukup besar. Tentu saja kita turut berduka kepada para korban dan keluarga yang tertimpa musibah ini.

Musibah baik fisik maupun nonfisik datang jalin-menjalin kepada umat manusia di dunia ini. Ia selalu hadir berupa ''tamparan'' atau ''cubitan'' yang tidak enak untuk dirasakan. Dalam menghadapi musibah ini, kita diingatkan oleh firman Allah, ''Sungguh akan Kuberikan kepadamu kecemasan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa serta buah-buahan, tetapi berbahagialah orang yang bersabar, yaitu orang-orang yang ditimpa musibah mereka mengucapkan, 'Sungguh kita kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita akan kembali'.'' (QS 2: 155-156).

Melalui ayat tersebut, orang yang biasa bersabar diuji kualitas kesabarannya. Sedangkan orang yang belum bersabar diberi peluang untuk mendapatkan kesabaran lantaran musibah itu. Di samping musibah karena faktor alam (takdir), kita pun sangat prihatin dengan maraknya musibah yang penyebabnya justru karena ulah dan keteledoran manusia sendiri. Angka-angka kecelakaan di jalan raya di negeri kita sungguh mengerikan. Berdasarkan data, sekitar 12 ribu jiwa melayang percuma setiap tahun atau 34 orang per hari akibat kecelakaan lalu lintas.

Dengan tingkat kecelakaan lalu lintas yang tinggi dan menelan banyak korban itu, kita jelas memerlukan manusia-manusia yang mau menjaga ketertiban di jalan raya. Mereka yang mau menghormati dan bersopan santun pada pengguna jalan. Kita menjadi sangat prihatin, karena para pengendara tampaknya kini sudah tidak lagi mengenal sopan santun lalu lintas.

Dalam Alquran surat Al-Naml ayat 18-19, Allah SWT memberikan contoh bagaimana Nabi Sulaiman beserta tentaranya telah membagi jalan kepada barisan semut. Dalam surat tersebut Allah juga memerintahkan umat manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan memperhatikan kepentingan bersama. Karena, salah satu prinsip dari ajaran Islam adalah kebersamaan dan ia harus mewarnai segala aktivitas kita, termasuk para pengendara untuk berdisiplin.

Dalam memelihara sopan santun di jalan, kita juga dapat mencontoh Sayidina Ali bin Abi Thalib. Dikisahkan, suatu hari ketika Ali dalam perjalanan menuju masjid, ia melihat di hadapannya seorang tua yang jalannya terseok-seok menuju ke tempat yang sama. Serta-merta Ali menghentikan dan memperlambat jalannya, sampai orang tua itu lebih dulu memasuki masjid.

Kalau saja teladan tersebut kita jalankan, alangkah nyamannya berkendaraan di jalan raya. Bukan saja akan mengurangi kemacetan, tapi juga korban jiwa. Bukankah agama telah memperingatkan 'agar kita jangan berjalan di muka bumi dengan sombong alias semau gue. Karena, ia merupakan salah satu perbuatan yang amat dibenci oleh Allah'. (Al-Isra ayat 37-38). Wallahu a'lam bis-shawab.

(Alwi Shahab)

Azahari, Priiit... Ce Ban, dan Denda Damai

Kepolisian RI saat ini bener-bener dalam sorotan. Begitu banyak kritik pedas dilontarkan masyarakat kepada institusi tersebut. Lebih-lebih sejak peristiwa kekerasan di Tempat Pembungan Sampah Terpadu (TPST) Bojong, Kabupaten Bogor, pekan lalu. Bukan hanya itu. Ada berita lain yang bisa membuat merah muka aparat kepolisian, yakni pengakuan Rois, alias Irwan Darmawan, anak buah Azahari yang berhasil dibekuk pekan lalu. Menurut ceritanya, Azahari itu tokoh teroris yang sedang diuber-uber dan diudak-udak aparat keamanan. Dia pernah beberapa kali tertangkap Polisi Lalu Lintas (Polantas) karena melanggar lalu lintas. Termasuk kendaraannya pernah ditahan di Kuningan beberapa saat setelah pemboman Kedubes Australia.

Pernyataan anak buah Azahari ini mengusik sebuah harian Ibu Kota untuk membuat karikatur. Di tengah uang Rp 10 ribu terdapat gambar Azahari. Dengan kata-kata pantesan Azahari lolos terus. Kapolri Jenderal Pol Dai Bachtiar menyatakan, Rais memang bercerita panjang lebar soal Azahari yang berkali-kali kendaraannya ditilang. Namun, dia lolos karena memberi uang pada anggota Polantas. Agar peristiwa memalukan ini tidak terulang, para petugas Polantas wajib mengantongi foto Dr Azahari dan Noordin M Top. Tentu tujuannya agar polisi hafal wajah mereka bila tertangkap di jalan.

Tapi, entah kalau keduanya saat ditangkap tengah menyamar. Maklum, 'denda damai' alias pungli dan entah apalagi namanya sudah bukan rahasia umum di negeri ini. Sudah terjadi puluhan tahun dan sering dilakukan secara terang-terangan. Tidak mengherankan bila aparat Polantas dan DLLAJ saat merazia kendaraan banyak yang mengaitkan kegiatan mereka dengan pungli.

Pada 1950-an ketika semangat nasionalisme masih tinggi dan rakyat sama-sama susah belum begitu dikenal pungli di jalan-jalan. Polantas tiap saat, baik pagi, petang, maupun malam berjaga-jaga di perempatan jalan. Kala itu belum ada lampu lalu lintas seperti sekarang. Polisi Lalu Lintas berdiri di perempatan jalan raya. Mereka memutar-mutar tanda lalu lintas dari besi setinggi kurang lebih dua setengah meter.

Tanda lalu lintas itu bercat hijau berbunyi: 'JALAN'. Warna merah bertuliskan: 'STOP'. Sungguh kasihan nasib Polantas ketika itu. Kalau terik matahari kepanasan dan saat hujan basah kuyup. Baru pada 1960-an dikenal istilah priit ji-go. Maksudnya, kalau kendaraan salah jalan kena tilang polisi dapat diajak 'denda damai' dengan membayar 25 perak atau ji-go.

Pada masa Demokrasi Terpimpin itu inflasi kelewat tinggi dan harga-harga melonjak drastis. Ji-go yang sebelumnya bisa membeli lima liter beras nilainya turun drastis. Kemudian, dikenal istilah priiit seceng (Rp 1.000). Saat ini untuk 'denda damai' kita harus mengeluarkan uang ce-ban (Rp 10 ribu) untuk sepeda motor dan no-ban atau Rp 20 ribu untuk mobil. Bahkan, kadang-kadang no-ban-go alias Rp 25 ribu.

Bagi para pengendara cing-cai atau denda damai lebih baik daripada kena tilang. Mengurusnya berbelit-belit dan memakan waktu di pengadilan. Biayanya pun bisa mencapai go-ban (Rp 50 ribu). Ada cerita menarik tentang tata kehidupan masyarakat Kota Batavia serta jalannya peraturan kepolisian pada akhir abad ke-19. Saat itu kota tersebut banyak didatangi para pendatang dari Eropa dengan dibukanya Terusan Suez, Pelabuhan Tanjung Priok, mulai banyaknya kendaraan bermotor, termasuk kereta api, trem uap, dan kemudian trem listrik.

Peraturan kepolisian dijalankan dengan keras dan cermat. Semua perkara dan persoalan diselesaikan dengan cepat dan tidak memungut biaya satu sen pun. Tidak dikenal istilah pungli, uang semir, atau uang rokok. Pengendara kendaraan dengan tertib memenuhi peraturan lalu lintas. Mereka tidak ada yang berani berhenti di tempat terlarang. Para sopir dengan tertib mengendarai kendaraan dan hampir tidak ada yang ugal-ugalan seperti sekarang.

Rumah-rumah penduduk diatur dengan rapi, berjejer berderet-deret menghadap ke jalan. Tidak seperti sekarang ini, kala itu sampah tidak menjadi persoalan bagi gementee (Pemda Batavia). Tidak ada yang membuang sampah sembarangan. Peraturan kepolisian begitu keras. Berjudi adalah salah satu perbuatan yang dilarang dan dikenai sanksi berat. Hingga tidak perlu Front Pembela Islam (FPI) menggeladah tempat-tempat perjudian dan hiburan. Perbuatan zina juga terlarang. Pejabat yang paling ditakuti penduduk Batavia adalah Tuan Schaut atau sekaut, kata orang Betawi. ''Itu tuan macannya di negeri Betawi,'' kata mereka.

Di seluruh Karesidenan Batavia terdapat delapan schaut (semacam kapolres sekarang ini). Di dalam kota empat schaut dan di luar kota empat schaut. Masing-masing di Meester Cornelis (Jatinegara), Bekasi, Mauk, dan Curuk. Dua nama terakhir berada di Tangerang. Salah seorang di antaranya mengepalai penduduk Selam (sebutan Islam oleh penduduk kala itu) dan seolah-olah menjadi momok.

( Alwi Shahab, wartawan Republika)

Madrasah Nurussaadah Bermutu tapi Murah

Habib Idrus Hasyim Alatas, mengaku sudah tidak mau lagi terjun di dunia politik yang digelutinya cukup lama. ''Sekarang ini saya full bergerak dibidang pendidikan dan dakwah serta sudah tutup buku di bidang politik,'' kata ulama kelahiran Kwitang, Jakarta Pusat 55 tahun lalu. Padahal, sebelumnya ia menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Syariah DePP PPP.

Ketika diwawancarai Republika di madrasahnya di Jl Pol Tangan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ulama lulusan Kuwait dan Arab Saudi ini menyatakan, kekuatan Islam yang sebenarnya bukan hanya di parpol dan organisasi Islam. Dia justru melihat kekuatan yang sebenarnya itu ada di masjid, madrasah, dan majelis taklim. ''Mencerdaskan umat itu lebih utama,'' ujarnya.

Dan, ketiga bidang itulah kegiatan yang digelutinya saat ini. Tidak heran kalau ia hampir setiap saat dapat dijumpai di kediamannya di Pol Tangan, yang bersebelahan dengan masjid dan madrasah. ''Saya sepenuhnya kini menangani madrasah, masjid, dan majelis taklim.''

Madrasah yang memiliki ruang belajar 16 lokal (MI 5 lokal, MTs 6 lokal, dan MA 5 lokal), kini memiliki 554 murid. Terdiri dari TPA (Taman Pendidikan Alquran) 130 siswa, MI (Madrasah Ibtidaiyah) 130 siswa, Madrasah Tsanawiyah (MTs) 220 siswa, dan Madrasah Aliyah (MA) 74 siswa.

Jumlah guru yang membantunya ada 54 orang, umumnya lulusan S1. Diantara mereka terdapat 9 guru yang sudah diangkat menjadi PNS Departemen Agama. Selama sebelas tahun berdirinya, MI sudah menghasilkan lulusan 786 siswa.

Madrasah yang dipimpinnya disamping sudah diakui oleh pemerintah, juga merupakan sekolah plus, karena pendidikan agama yang diberikan mempunyai porsi lebih dari sekolah umum. Sekolah ini dilengkapi dengan sarana penunjang pendidikan yang memadai, seperti laboratorium eksakta, bahasa, dan komputer.

Namun iming-iming plus itu tidak disertai biaya pendidikan yang 'plus' pula. Untuk madrasah ibtidaiyah, siswa baru hanya dikenai kewajiban sebesar Rp 460 ribu, MTs sebesar Rp 630 ribu, dan MA sebesar Rp 710 ribu.

Menyangkut biaya pendidikan, madrasah yang memulai pelajaran dari pukul 07.00 hingga 14.00 siang, punya motto: ''Fasilitas lengkap, bayaran menengah kebawah (murah).'' Kata Idrus, ini sesuai dengan motto yayasan, yaitu menghidupkan dan membesarkan masjid dan madrasah, tidak hidup dari masjid dan madrasah.

Kalau pada awal luas tanah yayasan hanya 1400 M2, kini sudah berkembang jadi 2.600 M2, yang seluruhnya sudah bersertifikat wakaf.

Olahraga dan kesenian mendapatkan perhatian khusus di Madrasah Nurussaadah. Di sini tersedia lapangan basket dan bulutangkis. Dengan tekad agar para murid dapat mengusai teknologi canggih, tiap siswa diharuskan belajar komputer. Sedangkan laboratorium bahasa Arab dimaksudkan agar para siswa menguasai bahasa tersebut. Ruang perpustakaan bukan hanya tersedia buku-buku pelajaran, tapi juga buku dan majalah ilmu pengetahuan.

Tidak heran, kalau Habib yang masih cucu ulama terkenal Habib Ali Kwitang ini, membanggakan banyak luluasan madrasahnya yang meneruskan pendidikan ke Universitas Islam Negeri, Universitas Indonesia (UI), dan perguruan tinggi ternama lainnya.

Habib Idrus yang pernah mengajar Bahasa Arab di Pusat Bahasa Hankam (1983-1999) ini mengaku, melalui madrasahnya, ia ingin mencetak kader-kader Islam yang tangguh, berwawasan luas, dan memiliki budi pekerti serta akhlak Islami.

Ketika wawancara ini berlangsung, tiba-tiba azan berbunyi dari Masjid Assaadah, pertanda waktu untuk shalat dzuhur. Habib yang berbadan agak tambun ini mengakjak Republika untuk shalat bersama dengan para siswa. Di masjid sudah menunggu ratusan siswa untuk shalat berjamaah yang diimani Habib Idrus. Mereka beramai-ramai membaca shalawat Badar, sementara para siswinya mengikuti di bagian belakang masjid.

Setelah pembacaan doa yang dipimpin Habis Idrus, seorang siswa MTs (SMP) naik ke mimbar menyampaikan kultum. Ahmad Ridho, siswa MTs (SMP) membawa kultum bertema iri hati. Dengan mengutip ayat dan hadis dalam bahasa Arab, siswa yang berusia 13 tahun ini menyatakan bahwa iri hati merupakan perbuatan tercela menurut ajaran Islam.

Di madrasah ini, tiap hari Senin hingga Kamis para siswa secara bergantian tiap habis shalat dzuhur membawakan kultum. Sedangkan pada shalat Asar, siswa-siswa TPA (Taman Pendidikan Alquran) yang masuk siang, juga diwajibkan shalat berjamaah di masjid. Sedangkan tiap Sabtu, Habib Idrus selama satu jam membuka majelis taklim di sini, membahas kitab kuning, dan tafsir Alquran.


Berkat Kepedulian Pengusaha Muda
Kisahnya di mulai tahun 1990. Sejumlah wiraswasta muda, yang rata-rata berusia 40-an tahun, pada 14 April 1990 membeli sebidang tanah seluas 1.400 M2. Bukan untuk membangun rumah, yang merupakan bisnis utama mereka ketika itu. Tapi untuk mendirikan majelis taklim dan pendidikan Islam. Tujuannya adalah untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bertakwa, berakhlak, dan memiliki keterampilan. Tanah yang dibeli bersama-sama itu letaknya di Jl Raya Pol Tangan, Tanjung Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Hanya dalam waktu empat hari setelah pembelian tanah itu, terbentuklah sebuah yayasan bernapaskan Islam, Yayasan Assaadah, yang berarti bahagia. Setelah persiapan-persiapan yang cukup matang, sehari menjelang peringatan HUT Proklamasi ke-45, dilaksanakan perletakan batu pertama pembangunan masjid dan madrasah disaksikan warga setempat yang kebanyakan orang Betawi, tokoh masyarakat, lurah, dan camat.

Berkat kerja keras, dalam waktu delapan bulan, tepatnya tanggal 23 Juni 1991, masjid berlantai dua dan dapat menampung 750 jamaah pun usai. Yang berarti masyarakat Jl Pol Tangan dan sekitarnya, kini memiliki sebuah tempat ibadah yang cukup megah. Kemudian oleh masyarakat setempat, dan dengan restu para alim ulama Jakarta, masjid ini diresmikan oleh Walikota Jakarta Selatan, Harun Al-Rasyid, pada perayaan Maulid Nabi Muhammad.

Hampir bersamaan dengan usainya pembangunan masjid Assaadah, maka di belakangnya dan masih dalam satu atap, berdiri pula madrasah diniyah, yang pada awalnya menampung 60 orang. Kemudian, berturut-turut tiap tahun -- dimulai 1992 - berdiri madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, dan madrasah aliyah. Madrasah yang diberi nama Nurussaadah, bersama dengan Masjid Asasadah, bernaung dibawah Yaysan Assaadah yang diketuai Habib Idrus Hasyim Alatas.

Habib berusia 55 tahun ini, adalah lulusan Teacher Institute of Education Kuwait (1973-1978) dan College Education King Saud University Riyadh, Arab Saudi (1979 - 1983). Ia sendiri terjun langsung sebagai guru, bersama 54 orang pengajar lainnya. ''Mencerdaskan umat adalah tanggung jawab semua Muslim,'' ujar mantan politisi yang kini bangga dengan julukan barunya, Pak Guru.

(alwi shahab)

Batavia: Venesia dari Jawa

Jakarta Great Sale merupakan paket wisata yang akan digelar akhir Desember ini. Sebagai ajang diskon besar-besaran, Dinas Pariwisata DKI dan Asosiasi Pengusaha Retail akan memberikan bonus bagi wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung lebih lama di Jakarta, atau membawa keluarganya. Paket wisata belanja ini mengikutsertakan pihak perhotelan dan elemen wisata lainnya. Selama ini, menurut Kepala Dinas Pariwisata DKI Aurora Tambunan, sebagian besar wisman yang datang ke ibu kota untuk bisnis, sedikit sekali untuk wisata.

Dalam agenda Jakarta Great Sale juga akan digelar progra Enjoy Jakarta River dan Enjoy Jakarta Golf. Hal ini untuk menjadikan Jakarta sejajar dengan Kuala Lumpur dan Singapura yang sukses mengundang arus wisman. Sejak kerusuhan 1997 dan disusul berbagai ledakan bom, dunia pariwisata Indonesia mengalami masa suram. Kalau sebelumnya tingkat hunian hotel di Jakarta sekitar 60 sampai 80 persen, kini tinggal separuhnya, yaitu 35 sampai 40 persen. Rupanya dampak bom sangat parah. Pada 2004 DKI mentargetkan 1,3 juta kunjungan wisman, tapi sampai September 2004 yang datang baru 650 ribu orang.

Dalam kaitan paket Enjoy Jakarta River, timbul pertanyaan mana sungai di ibu kota yang dapat dinikmati oleh para wisman. Karena nyaris semua sungai yang ada sudah berubah fungsi jadi selokan besar. Yang di musim hujan, sungai-sungai yang kelebihan air menghantam rumah-rumah yang kebanjiran di kiri kanan bantarannya.

Pemda DKI pernah berencana melakukan Proyek Kali Bersih (Prokasih). Tapi, upaya untuk memfungsikan kembali sungai-sungai ini kagak kesampean karena terjadi krisis moneter. Proyek ini memerlukan biaya bejibun. Belum lagi untuk memindahkan penduduk yang berjubelan di kiri kanannya. Hotel Omni Batavia, hotel berbintang lima di Kalibesar Timur, Jakarta Barat, yang terletak di muara Ciliwung, pernah melakukan pembersihan. Agar sungai ini tidak hitam seperti air selokan dan berbau. Tapi, tidak berhasil karena sampah dan lumpur yang datang dari arah selatan susah kebendung. Pemerintah Korea Selatan ketika menyelenggarakan Olimpiade di Seoul (1988) melakukan pembersihan pada sungai-sungai di kota itu yang kemudian menjadi tempat wisata air bagi wisman yang banyak berdatangan.

Dalam buku berjudul Batavia Awal Abad 20 disebutkan, pada kurun waktu abad ke-17 dapat dikatakan sebagai awal pariwisata modern ketika bangsa Eropa mulai mendatangi nusantara. Meski tujuan awal mereka berniaga, bukan untuk berwisata dan menikmati keindahan alam, banyak diantara mereka yang terkesan dengan keindahan alam Nusantara dan penduduknya. Hal ini diketahui dari catatan-catatan pribadi yang sempat dibuat para peniaga asing yang bertandang ke Nusantara. Ketika kembali ke Eropa dan catatan-catatan itu diterbitkan lantas menarik minat orang untuk melakukan perjalanan dan petualangan ke negeri eksotis ini.

Ketika seluruh Nusantara ditaklukkan, terutama Aceh (1908), dan dibukanya jalur pelayaran oleh KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappi) ke berbagai wilayah semakin banyak orang Eropa berdatangan kemari. Iklan-iklan beberapa perusahaan pelayaran pun kemudian menambahkan layanan jalur ke Hindia Belanda sebagai paket perjalanan wisata.

Buku panduan wisata yang dibuat pada akhir abad ke-19 berisi petunjuk perjalanan ke Batavia dan Buitenzorg (Bogor) pada 1872. Selain itu terdapat pula buklet wisata berisi perjalanan ke Bandung, Garut dan sekitarnya (1898), Batavia, Buitenzorg dan Priangan (1891). Terdapat pula petunjuk jalan ke Banten (1930). Tentu saja masih puluhan lagi buku panduan pariwisata yang disebarkan ke Eropa mengenai Hindia Belanda. Termasuk tempat-tempat yang disarankan untuk dikunjungi, makanan khas, pemandangan alam, dan berbagai kesenian. Daerah tujuan wisata pun sengaja diciptakan sedemikian rupa sesuai dengan selera dan keinginan orang Eropa.

Untuk menimbulkan kesan seperti di rumah sendiri, mereka menggunakan istilah-istilah Parijs van Java untuk Bandung, Switzerland van Java untuk Garut, Venetia van Java untuk Batavia, dan Costa Brava van Java untuk Semarang. Yang diutarakan dalam buku-buku petunjuk wisata yang dikeluarkan Dinas Pariwisata Hindia Belanda itu adalah tempat-tempat berlibur di Eropa yang banyak dikunjungi saat liburan. Dengan kata lain pemerintah kolonial berusaha menciptakan Eropa-Eropa baru di daerah tropis dengan cara memindahkan pemandangan di Eropa ke sini.

Jika Batavia mendapat julukan demikian, tidaklah terlalu mengada-ngada. Ketika itu Batavia masih dikitari sungai dan kanal-kanal buatan yang banyak dibangun di berbagai tempat. Seperti layaknya Venesia, sebuah kota di Italia yang dikelilingi air. Di depah sungai dan kanal-kanal ini, warga Belanda membangun rumah-rumah besar dengan pekarangan besar. Di depan pekarangan terdapat tambatan perahu sebagai alat transportasi untuk saling berhubungan dengan tetangga. Selain itu, perahu ini juga banyak digunakan para muda-mudi sebagai tempat pacaran, terutama di malam Minggu sambil memetik gitar bernyanyi.

Di Nieuw Batavia yang makin berkembang pada awal abad ke-20, orang Belanda membangun rumah di pinggir jalan tetap dengan gaya Eropa dan dinaungi pohon-pohon rindang. Rumah itu dibangun di atas tanah luas dan dilengkapi taman bunga dengan beranda di bagian depan dan belakang rumah. Di sekitar Jl Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Jl Juanda, Pasar Baru, dan Gambir berdiri gereja-gereja baru, sekolah, klab malam, dan belasan hotel. Semuanya dengan ciri Eropa modern. Dan Belanda pun menjuluki Batavia sebagai Ratu dari Timur. /

(Alwi Shahab)

Trem, Ostin, Ikarus, dan Ikan Bandeng

Pada awal 1960-an trem listrik di Jakarta tamat riwayatnya. Menurut memori yang dibuat Sudiro, wali kota Jakarta saat itu, Presiden Sukarno menganggap trem yang telah beroperasi sejak akhir abad ke-19 sudah tidak cocok lagi untuk kota besar seperti Jakarta.

Sukarno mengatakan lebih baik dibangun metro (kereta api bawah tanah) untuk Jakarta. Sebagai upaya akhir agar tidak seluruh trem dihapus, Sudiro minta agar jurusan Jatinegara-Matraman-Kramat-Senen sebagai urat nadi perdagangan bagi para pengusaha kecil tetap dipertahankan. Tapi, usulan itu ditolak Bung Karno.

Sayangnya ketika trem dihapus, sebelumnya tidak diimbangi dengan jumlah bus. Ketika itu politik kita yang 'progresif revolusioner' berpihak ke Blok Timur yang sedang berkonfrontasi dengan Blok Barat yang dijuluki Nekolim (neokolonialisme, kolonialisme, dan imperialisme). Tidak heran bus-bus yang beroperasi di Jakarta berasal dari Eropa Timur, seperti merek Robur dan Ikarus.

Tapi, karena jumlahnya tidak banyak, opletlah yang mendominasi angkutan di Jakarta. Sampai-sampai beroperasi ke jalan-jalan protokol, di samping becak untuk jarak dekat. Waktu itu oplet (dari kata autolet) bodinya terbuat dari kayu yang dirakit di dalam negeri. Sedangkan mesinya dari mobil tahun 1940-an dan 1950-an, seperti merek Austin dan Moris Minor (Inggris) serta Fiat (Italia). Di Jakarta oplet juga disebut ostin, mengacu nama Austin, yang sisa-sisanya kini dapat dihitung dengan jari. Antaranya oplet si Mandra dalam Si Doel Anak Sekolahan.

Kalau sekarang mikrolet yang juga sejenisnya pintu masuk penumpang terletak di bagian samping, sedang oplet di bagian belakang. Naik oplet sampai 1960-an memerlukan kesabaran, di samping harus berani rebut-rebutan dan tempo-tempo sikut-sikutan. Terutama pada jam masuk kantor dan pulang kantor.

Seperti dialami si Mamat saat hendak naik oplet ke Pasar Baru. Berdiri di bawah panggangan matahari musim kering, di Matraman Raya ia sudah satu jam nungguin oplet dari arah Jatinegara yang penuh terus. Begitu sebuah oplet berhenti, si Mamat dan para calon penumpang lainnya harus saling berebutan untuk dapat tempat. Begitu pintu oplet ngablak, tidak lebih dari satu menit oplet sudah penuh terisi.

Tidak seperti sekarang ini, mikrolet yang juga sejenis oplet para sopirnya sampai ngedumel karena kekurangan penumpang dan sulitnya mendapatkan uang setoran. Bus mulai banyak di Jakarta ketika pada masa Gubernur Ali Sadikin. Ia pun membuat banyak shelter di perhentian-perhentian bus sehingga calon penumpang dapat berteduh.

Jakarta pada saat revolusi (1945-1949) banyak ditinggalkan penduduknya untuk hijrah ke Yogyakarta. Tidak heran kala itu banyak rumah kosong dan tidak ditempati. Awal 1950-an setelah penyerahan kedaulatan banyak kaum urban dari berbagai daerah ke Ibu Kota.

Seperti juga sekarang, banyak yang mendirikan rumah dan gubuk liar. Tentu saja tanpa izin. Akibatnya, pada 17 Mei 1952 dikeluarkan pengumuman yang ditandatangani Wali Kota Samsuridjal, Kepala Kejaksaan Negeri Militer Letkol R Soenaryo, Komandan Komando Markas Kota Besar Djakarta Raya (KMKBDR) Mayor Kosasih, dan Kepala Kepala Kepolisian Djakarta dan Sekitarnya R Ating Natakusumah. ''Mereka yang membangun bangunan liar harus membongkarnya sebulan setelah pengumuman ini. Mereka yang tidak mematuhi akan dikenakan sanksi berat.''

Kini jumlah sekolah lanjutan pertama (SLTP) di Jakarta mencapai ratusan. Pada 1952 baru terdapat 13 SMP negeri dan 20 SMP partikulir. Ada 6 SMA negeri dan 22 SMA partikulir. Sebelum 1950 hanya ada Fakultas Kedokteran dan Fakultas Hukum UI, 153 madrasah, dan dua pesantren. Cengkareng dengan bandara internasional dan puluhan perumahan real estate dulu masih persawahan. Demikian pula Klender di Jakarta Timur. Bahkan, sawah-sawah terbentang luas di utara Tanjung Priok.

Hasil sawah ini bukan saja mencukupi kebutuhan Jakarta, tapi juga dikirim ke luar daerah. Di daerah Selatan, seperti Pasar Minggu, Pasar Rebo, Kebon Jeruk, Kebayoran, Kemang, dan Mampang Prapatan hasil buahan-buahan melimpah, seperti jeruk, durian, nenas, rambutan, dan mangga. Kala itu tidak perlu impor buah seperti sekarang, yang kini buah impor mendominasi pasaran hingga ke daerah terpencil. Kala itu Pemprov DKI membangun kebun percontohan buah-buahan di Pasar Minggu.

Di Kemang dan Buncit merupakan pusat peternakan susu di Ibu Kota. Produksinya sekitar 15 ribu liter per hari dengan ratusan ekor sapi. Pada pagi dan sore hari ratusan warga Betawi dari kedua daerah ini membawa susu ke kota bersepeda. Di sepanjang pantai utara terdapat ribuan hektare empang yang menghasilkan ikan bandeng. Di Jakarta Kota ada tempat yang bernama 'Bandengan' karena pernah menjadi pusat penjualan bandeng.

Ada kebiasaan pada malam 'CAP GO MEH' atau malam ke-15 setelah tahun baru Imlek para siawce berias seelok mungkin menanti kedatangan sang pacar untuk wakuncar (waktu kunjung pacar) yang membawa sepasang ikan bandeng. Cilaka dua belas calon mantu yang kagak muncul atau datang tidak membawa ikan bandeng. Mantu macam ini dianggap tidak memberi hormat pada calon mertoku. Bisa-bisa pertunangan jadi putus dan berantakan.

(Alwi Shahab, Wartawan Republika)

Van Dorp Dinasionalisasi

Sejak 1950-an hubungan RI-Belanda makin memburuk. Apalagi soalnya kalau bukan masalah Irian Barat. Kala itu, tiap penggantian kabinet salah satu programnya adalah merebut Irian Barat. Karena tidak digubris Belanda, Bung Karno menjadi sewot dan naik pitam. Ketika mencetuskan Trikora di hadapan ratusan ribu rakyat, Bung Karno memperingatkan sebelum matahari terbit pada 1 Januari 1963 Irian Barat sudah harus jadi wilayah RI.

Tapi, jauh sebelum itu ia telah menasionalisasi persahaan-perusahaan Belanda yang banyak beroperasi di Indonesia. Seperti bidang perdagangan, perminyakan, perkapalan, perkebunan, dan masih belasan perusahaan lagi. Sementara warga Belanda, termasuk para Indo, dan mereka yang dianggap berpihak pada Belanda, merasa gerah tinggal di Indonesia. Mereka pun ramai-ramai pasang kuda-kuda untuk hengkang dari negeri ini.

Kala itu, diperkirakan sekitar 300 ribu orang meninggalkan Indonesia. Tapi, tidak semua ke Belanda. Kerajaan Belanda yang kala itu dipimpin Ratu Yuliana harus menghadapi masalah pengangguran dan mengkhawatirkan terjadinya kelebihan penduduk. Di samping pula masih kuatnya diskriminasi rasial mengingat para pendatang memiliki separuh latar belakang Asia. Maka, kedatangan para migran yang membludak ini juga tak mendapat sambutan baik. Karenanya sekitar 10 ribu orang lainnya pergi ke AS dan jumlah yang sama ke Australia.

Di antara puluhan perusahaan Belanda yang dinasionalisasi, terdapat lima perusahaan besar yang mendapat julukan the big five. Kelima perusahaan ini, terutama di masa kolonial, yang mengendalikan perdagangan dan ekspor impor berbagai hasil perkebunan ke manca negara. Kelimanya adalah Jacobson van den Berg, Lindeteves, Internatio, Borsumy, dan Geo Wehry. Serentak nama-nama perusahaan ini diganti menjadi Dharma Niaga, Cipta Niaga, dan masih banyak lagi yang dimasukkan dalam kelompok BUMN.

Memang dalam menasionalisasi perusahaan asing keberanian Bung Karno patut dipuji. Demikian pula keberaniannya dalam mencaci AS. Maklum, kala itu Indonesia yang berkiblat ke Blok Timur tengah berkonfrontasi dengan Barat. Seperti saat konfrontasi dengan Malaysia pada awal 1960-an, ia menasionalisasi perusahaan Inggris dan AS. Setelah lebih dulu mengutuk mereka karena memihak Malaysia yang oleh Bung Karno dicap proyek Nekolim.

Ketika era nasionalisasi ini para pimpinan BUMN ini banyak dijabat figur dari ABRI. Sejak itu dikenal dwifungsi ABRI. Sayangnya, setelah penggantian ini, entah karena kurang pengalaman atau birokrasi dan entah apa lagi, perusahaan-perusahaan yang dulunya berjalan baik, satu persatu rontok seperti daun jatuh dari pohon. Seperti KPM (perusahaan perkapalan Belanda yang punya ratusan armada), ketika diambil alih negara dan menjadi Pelni kegiatannya jauh berkurang. Tidak seperti masa KPM yang armadanya sampai ke pelosok-pelosok Nusantara. Bahkan masih merugi terus.

Ada cerita menarik tentang toko buku dan percetakan milik Belanda, Van Dorp, yang juga diambil alih pemerintah. Gedungnya yang baru dan mengesankan, serta buku-buku yang dijualnya ketika masih dipimpin pemilik lama, sangat mengesankan. Van Dorp yang terletak di Noordwijk (kini Jl Juanda) ini termasuk salah satu toko buku terbaik di ibu kota, tulis PK Ojong dalam Kompasiana (1981).

Sekarang lewat beberapa tahun toko buku Van Dorp tidak ada lagi. Tokonya pun tidak lagi. Juga buku-bukunya tidak ada lagi. Ruangannya diambil oleh Sarinah Internasional, dan sisa toko bukunya tergeser ke suatu kamar di tingkat satu. Kecil. Sempit. Ketika saya baru-baru ini ke sana, suasananya sangat mematahkan semangat. Inilah sisa dari toko buku Van Dorp yang pernah jaya itu.

Yang memprihatinkan, seperti ditulis PK Ojong, pernah ketika ia pukul 10 pagi ke sana, ternyata toko yang dipimpin seorang ABRI ini belum dibuka. Pegawainya belum masuk. Karena mobil yang mengangkut pegawai belum datang. Baru pukul 10.30, toko dapat dibuka. Sesuatu yang belum pernah dialami toko buku itu sebelumnya. ''Belakangan ini sering begini,'' terang seorang pegawai yang kami kenal baik. Ia menarik napas panjang. Suasana di seluruh toko buku yang besar itu pun berlainan sekali. Lesu. Lamban. Tanda-tanda dari demoralisasi. Dan semua ini karena satu dua pemimpin yang lama meninggalkan negeri ini, tulis PK Ojong.

Berdekatan dengan Van Dorp, terletak di kawasan Jl Pecenongan, Jakarta Pusat, sebelum dinasionalisasi terdapat Percetakan Kolff & Co. Percetakan besar dengan ratusan pekerja dan banyak menerbitkan buku bermutu ini juga mengalami nasib yang sama. Sedangkan, di Gang Sectarie (kini Jl Veteran I), samping gedung Bina Graha, terletak penerbit dan toko buku terkenal milik Belanda, Visser & Co. Setelah diambil alih toko yang membuka cabang di Hotel des Indes (sudah dibongkar) untuk komsumsi orang asing, mengalami nasib menyedihkan. Hilang tanpa ketahuan rimbanya.

Apa yang dikemukakan ini hanya sekedar contoh. Begitu gampangnya nasionalisasi dilakukan dalam suasana yang emosional. Tanpa diimbangi pengelolaan yang baik dan profesional.

(Alwi Shahab)

Kolusi dan Korupsi

Khalifah Ali bin Abi Thalib ketika menerima laporan gubernurnya di Mesir, Malik Al Asytar, menghadiri jamuan yang hanya dihadiri para pengusaha, menjadi khawatir. Dia takut kalau pembantunya bisa terseret untuk berkolusi, tidak bisa berlaku adil dan bertindak tegas dalam memerangi penyelewengan.

Dalam suratnya Ali menulis, "Tegakkanlah keadilan dalam pemerintahan Anda dan dalam diri Anda sendiri. Carilah kepuasan rakyat, karena ketidakpuasan rakyat memandulkan kepuasaan segelintir orang yang berkedudukan istimewa. Sedangkan ketidakpuasan segelintir orang itu hilang dalam kepuasan rakyat banyak. Ingatlah! Segelintir orang yang berkedudukan istimewa itu akan meninggalkan Anda bila Anda dalam kesulitan.'' Kolusi (persekongkolan) antara pejabat dan penguasa yang berdampak pada penyuapan, penyogokan, korupsi, dan katabelece dianggap sebagai perilaku menyimpang. Perilaku yang menyebabkan kerugian dan penderitaan bagi rakyat banyak.

Begitu besar dampak kejahatan ini yang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pelakunya dianggap tidak memiliki etika dan moral. Apalagi bila diingat, seorang pejabat ketika dilantik, atas nama Allah dia bersumpah tidak akan menerima suatu pemberian yang diketahui atau diperkirakan akan merugikan negara dan jabatannya.

Itulah sebabnya, ketika Umar bin Abdul Azis khalifah yang terkenal dengan keadilannya ketika oleh sejumlah pengusaha diberikan iming-iming hadiah, dengan tegas menolaknya. Ketika seorang dari mereka menyatakan bahwa Nabi mau menerima hadiah, Umar menjawab, ''Tidak disangsikan lagi hadiah itu memang untuk Nabi. Tapi, kalau diberikan kepadaku itu penyuapan dan penyogokan.''

Dalam Islam, menerima uang sogok dan menyelewengkan keputusan menurut keinginan para penyogok adalah dosa besar. Islam yang menekankan agar manusia hidup dengan cara terhormat, menganjurkan agar umatnya memilki perilaku yang bersih, jujur, dan mengutuk keras segala bentuk penyimpangan dan penyogokan yang merugikan rakyat banyak. Ini dijelaskan dalam banyak ayat Alquran. Sedangkan Nabi Muhammad SAW bersabda, "Orang yang memberikan sogokan, yang menerimanya, dan menjadi perantara semua masuk neraka.'' Ketika menggoda Nabi Yusuf AS, Zulaikha menutupkan kain ke atas wajah berhala yang biasa disembahnya. ''Wahai Zulaikha, engkau malu di hadapan seonggok batu, maka tidakkah aku mesti malu di hadapan Dia yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi,'' kata Nabi Yusuf.

Dari peristiwa ini, Imam Al Ghazali mengajak kepada kita, agar dalam setiap denyut kehidupan kita senantiasa merasakan kehadiran Allah. Merasa takut dan malu pada Allah, seperti yang sering difatwakan para ulama, merupakan langkah pencegahan paling efektif untuk menangkis segala kejahilan dan penyelewengan, termasuk korupsi dan kolusi. Ini menyangkut masalah etika moral atau akhlak seorang hamba di hadapan Tuhannya, bahkan di hadapan diri, bangsa, dan negaranya. Karenanya, rakyat sangat mendukung pemberantasan korupsi.

(Alwi Shahab)

Tangis-tangisan Jelang ke Tanah Suci

Saat ini para calon haji (calhaj) mulai meninggalkan tanah air menuju tanah suci. Dengan pesawat dari Jakarta ke Bandara King Abdul Azis di Jeddah kini hanya memerlukan waktu 10 jam. Pada tempo dulu saat menggunakan kapal laut diperlukan waktu berbulan-bulan. Bahkan, memakan waktu bertahun-tahun sebelum ditemukannya kapal uap pada 1920. Dengan kapal uap pun diperlukan waktu tiga sampai enam bulan baru kembali ke tanah air. Karena lamanya waktu, baik di perjalanan maupun selama di tanah suci, bawaan para calon haji pun seabrek-abrek. Seperti panci, beras, ikan asin, terasi, cabe, bawang, dan kerupuk. Maklum pada zaman 'kuda gigi besi' barang dan makanan ini susah didapat di Arab Saudi.

Pokoknya pergi haji di tempo doeloe seolah-olah siap untuk mati. Tidak heran mereka yang akan menunaikan ibadah haji kala itu selalu dilepas dengan kebesaran. ''Bang, jangan lupa name kita di panggil-panggil di depan ka'bah. Kirim juga salam pada Nabi. Semoga kita bisa ziarah.'' Mereka yang melepas keluarga atau kerabatnya akan mengucapkan kata-kata diatas sambil menangis. Bahkan, seperti dituturkan oleh H Irwan Syafi'ie, 75 tahun, yang selama 21 tahun menjadi lurah di tiga kampung di Jakarta Selatan, begitu berhasratnya masyarakat yang ingin menunaikan ibadah haji, sampai ada yang menitipkan namanya dalam amplop untuk disampaikan di makam Nabi. Mereka yang berperilaku demikian umumnya dari Jakarta pinggiran (udik).

Kembali ke masa kapal layar, begitu lamanya pergi haji naik kapal ini, sehingga orang di tanah air tidak bisa mendengar kabar bagaimana keadaan keluarganya yang pergi haji. Lamanya perjalanan bisa dimaklumi karena kapal harus singgah di belasan kota dan negeri sebelum sampai ke Arab Saudi. Belum lagi kemungkinan menghadapi bahaya badai selama pelayaran.

Tapi, berbagai kesulitan tersebut tidak pernah memadamkan semangat orang Betawi untuk berhaji. Ketika itu semua jamaah harus dikarantina dan diturunkan di Kamerun, Afrika Utara, selama tiga hari. Mereka mandi dengan air asin dan jumlah makanan yang ada juga kurang dari semestinya. Setibanya di tanah air jangan dikira bisa langsung menemui sanak keluarga. Mereka masih harus dikarantina di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Karena itulah dalam buku sejarah perhajian Indonesia yang diterbitkan Departemen Agama disebutkan bahwa nasib jamaah haji Indonesia ketika itu lebih buruk dari kuli kontrak.

Di pulau yang terletak di Teluk Jakarta ini mereka juga sering diperlukan tak manusiawi. Seperti, diperiksa sambil ditelanjangi. Karena perlakuan yang sangat merendahkan itu, sejumlah ulama khususnya di Jawa mengeluarkan fatwa: ''Tidak wajib bagi kaum wanita pergi haji berhubung dengan perlakuan yang kurang baik di jalan.'' Kalau pada masa sekarang, lebih-lelbih pada 1970'an sampai 1990'an banyak orang Betawi yang naik haji terlebih dulu menjual tanah hingga disebut 'haji gusuran'. Tapi pada 1950'an dan 1960'an harga tanah tidak berharga. ''Malah lebih mahal harga kebon dan empang.''

Ketika itu orang Betawi banyak yang memiliki kebun, empang, dan peternakan kecil. Karena belum ada bank yang mengurus ONH seperti sekarang, uang itu dikumpulkan dalam bumbung-bumbung bambu. Bumbung bambu merupakan bagian dari dinding di kamar rumah yang diberi lubang. Dalam masa menabung, mereka tekun belajar manasik haji. Ada kebiasaan puluhan tahun lalu yang hingga kini masih berlangsung. Seperti, tahlilan dan ratiban sebelum berangkat ke tanah suci. Hanya dulu berlangsung lebih lama. Bahkan dibeberapa daerah pinggiran acara ini bisa berlangsung selama selama 40 hari.

Sepulangnya di Tanah Air, berbagai acara masih menunggu para haji. Seperti selamatan. Mereka yang datang itu bisa mencicipi seteguk air zamzam. Lalu meminta doa pada orang yang baru pulang haji. Agar dia juga dapat menunaikan rukun Islam kelima ini.

Di Jakarta tengah atau kota (istilah waktu itu), setelah dua atau tiga hari istirahat di rumah, mereka yang baru kembali dari haji biasanya langsung bekerja atau berdagang. Tapi, tidak demikian di daerah-daerah pinggiran. Ada yang masih harus menunggu selama 40 hari karena ada larangan untuk keluar rumah. Di ruang tamu rumahnya disediakan kasur dan permadani. Kecuali mandi, buang air dan shalat, selama 40 hari mereka tidak diperbolehkan meninggalkan tempat ini. Di kasur itulah ia menerima para tamu. Sekarang tentu saja kebiasaan ini sudah hampir tidak ada.
(Alwi Shahab)

Buka Palang Pintu: Care Kawinan Betawi

Bagi etnis Betawi ada tiga hal yang dianggap sakral, yaitu kelahiran, perkawinan, dan kematian. Ada beberapa adat-istiadat yang dilewati dalam acara tersebut, seperti acara perkawinan atau pernikahan. Ada belasan prosesi adat yang harus dijalankan. Di antaranya, acara 'buka palang pintu'. Kegiatan ini terjadi ketika iring-iringan 'tuan raja mude' (panggilan untuk pengantian pria) pada sore hari hendak masuk ke rumah 'tuan putri' (pengantin perempuan).

Ketika hendak memasuki rumah, rombongan dicegat wakil tuan rumah. "Eh, ente jangan nyelonong aje!" kata juru bicara dari pihak tuan rumah sambil mencegat rombongan pengantian pria di depan pintu rumah. Menghadapi hadangan ini, rombongan pengantin pria kagak mau kalah. Tetap bekutet agar dapat masuk. Dalam acara 'buka palang pintu', kedua belah pihak disertai tukang pantun dan jago silat. "Eit brenti dulu! Maaf ni rombongan dari mane mau ke mane. Tumben amat, ada perlu apa?" Teguran pihak tuan rumah ini dijawab pihak pria dalam bentuk pantun, "Naek delman ke pasar ikan. Beli bandeng campurin teri. Aye dateng beserta rombongan. Nganter tuan raje mude nemuin tuan putri."

Dijawab tuan rumah dengan, "Anak kude naek kerete. Tukang kue naek sepede. Kalo emang itu tujuannya. Tentu ada syaratnye." Ternyata salah satu syarat yang diminta keahlian pihak tamu dalam bermain silat. Maka, terjadilah 'duel' cukup seru antara jago tuan rumah dan jago tamunya. Tentu saja yang harus 'menang' jago dari pihak tamu. Hanya dalam satu dua jurus pihak tuan rumah menyatakan, "Cukup ... cukup ....! Abang punye jago memang jempolan." Tapi, pihak pengantian pria masih belum diperbolehkan masuk ke kediaman wanita. "Belon bisa, Bang. Tuan putri minta dibacain beberapa ayat Alquran. Kalo sanggup boleh masuk, kalo gak sanggup pulang aje, deh."

Syarat ini pun dilalui dengan mulus tanpa suatu halangan karena sejak kecil anak Betawi oleh orang tuanya disuruh mengaji. Ketika mempersilakan rombongan pengantin pria memasuki kediamannya, tuan rumah sekali lagi berpantun. "Pisang batu pisang lempenang. Gado-gado kacang tane. Orang atu banyak yang pinang. Kalo jodo masa ke mane?", Silahkan masuk. Ahlan wasahlan, ya marhaban. Maka kedua belah pihak yang tadinya sedikit tegang kini saling salaman dan berpelukan.

Malam hari para tamu dan undangan dihibur kesenian tradisional Betawi lenong. Kesenian ini mulai berkembang akhir abad ke-19. Sebelumnya masyarakat mengenal komedi stambul dan teater bangsawan. Komedi ini dimainkan oleh berbagai suku dengan menggunakan bahasa Melayu. Orang Betawi meniru pertunjukan ini yang kini disebut lenong. Perhatian masyarakat di tahun-tahun 1950'an terhadap lenong digambarkan Firman Muntaco dalam Gambang Jakarta yang dimuat sebuah surat kabar mingguan di Jakarta. "Hoooi lenong! Kapan mau maen? Mate gue pan ude lapar nih/. Perut gue ude ngantuk!" teriak penonton saking keselnya menunggu.

Orang berdempet-dempetan mengerubungi panggung lenong. Lelaki dan perempuan campur aduk, dan cecere-cecere penuhnya di sebelah depan. Barulah ketika persis pukul 09.17 mendadak gamelan lenong berbunyi santer. Mong, duk-duk mong, duk-duk mong, duk-mong, mong, duk mong sehingga bocah-bocah pada kegirangan menjerit-jerit. "Hureee... maen, lenong main!" Seorang kakek di sudut sembari melirik arlojinya berkata, "Mentang-mentang orang Indunisia, masak telat sampe tujuh belas menit ....!"

Sementara, Bang Pa'ul yang nanggap lenong repot menyambut tamu-tamu yang membanjir kondangan. "Eh, gile Bang Pa'ul," kata seorang tamu sambil salaman. ''Jempol bener eh, malemen bekerjenya kagak ujan barang seketel!" Bang Pa'ul menjawab sambil nyengir. "Keruan aje, penolaknya dong manjur ....! Kodok ane kurung di pendaringan!"

"Ane heran, Ul. Banyak betul yang datang. Berape sih ente ..?". "Pan due ribu lembar lebih ane lepas undangan," jawab Bang Pa'ul. "Ane sebarin di saban kampung. Kenal kek, enggak kek, sebodo amat. Pokoknya serean (kapala kampung) yang atur!". Sampai kini, terutama di daerah pinggiran, banyak undangan melalui RT dan RW. Yang turut mengundang namanya berjejer, mulai dari lurah, kepala kampung, RW, dan RT.

Lenong pun makin hebat mainnya. Malam itu membawakan lakon Jembatan Patah yang mengisahkan dua orang raja kakak beradik berebutan tanah hingga akhirnya mesti berkelahi di atas sebuah jembatan. Saking sengitnya sampai-sampai jembatan itu jadi patah dua. Penonton rame bersorak waktu di panggung nampak raja tengah memangku sang putri. "Jadi, Adindaku," kata sang raja. "Tak relakah kau bila Kakanda pergi berperang ke Irak untuk membantu rakyatnya melawan kezaliman AS?"

"Betul kakanda!", jawab tuan putri kolokan. "Biar bagaimana juga Adinda ogah berpisah dari Kakanda ... oh!". Sekonyong-konyong tuan putri masuk ke balik layar sambil menangis. Adegan itu pun selesai. Tapi, sang raja yang habis diduduki sang putri, tak mau bangkit-bangkit juga sehingga para penonton berteriak. "Hei, raja, mau duduk terus lu. Ayo bangun ...!"
(Alwi Shahab, Wartawan Republika)

Majelis Rasulullah - Masjid Al-Munawar Ajak Pemuda Cinta Nabi

Gerimis tak menghalangi ratusan jemaah untuk hadir di Masjid Al-Munawar di Pancoran, Jakarta Selatan, awal pekan ini. Jangan dibayangkan mereka adalah kaum 'bapak-bapak' alias orang tua. Mereka adalah anak-anak muda usia, yang rata-rata usianya di bawah 25 tahun. engan berpakaian dan kopiah putih, mereka datang dari berbagai tempat di ibu kota. Kebanyakan mengendarai sepeda motor. Tapi, seperti terlihat di tempat parkir masjid yang cukup luas, terdapat juga puluhan mobil. Merek-merek terkenal, seperti BMW, Audi, dan Mercedes, terselip di antara barisan mobil itu.

Di dalam masjid, para anak muda dengan suaranya cukup keras melantunkan puji-pujian kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sebelumnya mereka terlebih dulu shalat Isya berjamaah. Di dekat mimbar duduk Habib Munzir Almusawa. Ia dikelilingi para jamaahnya yang muda-muda itu. Mungkin dialah satu-satunya wakil 'kaum' bapak di sini; ia tampak kharismatik diantara para pemuda itu. Padahal, Habib kelahiran Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, ini masih berusia 32 tahun.

Agar pemuda mencontek Rasul
Nama kelompok pengajian yang dipimpin Munzir sangat sederhana, Majelis Rasulullah SAW. Tujuan pendirian kelompok pengajian ini adalah untuk mengisi kekosongan rohani para pemuda di Ibu kota. Lalu mengapa ia menamakan Majelis Rasulullah SAW?. Menjawab pertanyaan Republika, Habib lulusan Daarul Musthafa, Tarim, Hadramaut, Yaman Selatan ini menyatakan, ''Saya ingin anak-anak muda kita mencintai dan mengidolakan Rasulullah. Mentaati ajaran-ajaran dan contoh teladan yang tak ternilai dari beliau.

Melalui shalawat, kasidah, dan ceramah-ceramah perilaku Nabi, ia berharap agar para pemuda menjadi Muslim yang bermanfaat bagi bangsa, tanah air, dan agamanya. Dan yang sangat membanggakan, seperti dituturkan Habib Munzir, banyak diantara mereka yang sebelumnya para premen, 'polisi cepek', dan hobi kebut-kebutan. ''Alhamdulillah, kini mereka sudah menjadi manusia baik, dan mengidolakan Nabi Muhammad dalam kehidupan di dunia ini.''

Satu dari 27 majelis
Pengajian di Masjid Al-Munawar sendiri, merupakan salah satu dari 27 Majelis Rasulullah SAW yang kini sudah berdiri di kelima wilayah DKI Jakarta. Bahkan kini sudah meluas sampai ke Depok. Meskipun untuk itu, Habib Munzar setiap harinya harus mendatangi sebuah majelis dari pukul 21.00 hingga 13.00 WIB. Ini artinya, waktunya tiap malam tersita untuk mendatangi majelis tersebut. Sedangkan siang hari acara yang padat juga menanti kedatangannya. Seperti ceramah agama diberagai pengajian, menjadi khatib shalat Jumat, dan mengisi acara siraman rohani di televisi.

Merasa belum cukup pengabdiannya terhadap agama, Habib yang energik ini merencanakan mulai bulan depan (Januari) Majelis Rasulullah SAW sudah membuka 54 cabang, dua kali lipat dari sekarang. ''Untuk itu, saya tiap malam akan mendatangi dua buah masjid.'' Masih ada lagi cita-citanya. Majelis taklim khusus wanita, juga untuk para pemudi. Tentu saja pengajian ini terpisah dari pria.

Cita-cita ini, diharapkan dalam bulan depan akan terwujud. Karena Habib Muchsin Alhamid, ulama dan pengusaha yang banyak membantunya, telah menyiapkan majelis taklimnya di Jl Kompleks Hankam, Cidodol, Jakarta Selatan. Habib Muchsin yang bersimpati terhadap kegiatan Majelis Rasulullah juga telah menyediakan ruangannya untuk penyelenggaraan pesantren kilat bagi para pemuda yang tergabung dalam Majelis Rasulullah. Tiap bulan sekitar 100 - 150 pemuda digembleng di pesantren kilat ini. Tempat menginap dan makan minum ditanggung pihak tuan rumah.

Saat ini, aku Munzir, ia telah memiliki 7.000 murid. Mereka kini menjadi peserta aktif. Seperti dituturkan Munzir, majelis yang dipimpinnnya ini bebas dari politik, non-sektarian, dan terbuka untuk umat tanpa membedakan mazhab dan golongan.

Dimulai dari Rumah ke Rumah
Kalau sekarang ini majelisnya, berjalan mulus dan hampir tanpa halangan, tidak demikian pada awal-awalnya. Habib yang tutur katanya lembut ini menuturkan bagaimana perjuangan keras ketika masa awal-awal. Dari kediamannya di Cipanas, pada tahun 1998, saat ia baru berusia 26 tahun, dia harus terjun dari rumah ke rumah. Waktu itu, yang mengikuti majelisnya hanya 3 - 6 orang. Setelah dari rumah ke rumah -- ia sampai harus menginap di Jakarta karena terlalu jauh untuk pulang ke Cipanas -- akhirnya meluas dari musala ke musala.

Berkat perjuangan yang gigih dan semata-mata lillahi taallah, mejelisnya makin meluas. Musala menjadi tak cukup. Lalu pindah ke empat masjid besar, yaitu Masjid At-Taubah, Masjid At-Taqwa di Pasar Minggu, Masjid Al-Munawar di Pancoran, dan Pesantren Daarul Islah di Mampang, Jakarta Selatan. Menurutnya, semakin banyaknya para pemuda yang mengikuti majelisnya, karena ia menekankan pada mereka tentang kasih sayang sesama umat seperti dicontohkan Rasulullah. Pendekatan demikian, katanya, sangat ampuh. ''Dari mereka yang tadinya sama sekali tak tertarik pada Islam, bahkan ada di antara mereka yang menjadi preman dan pecandu narkoba, berubah 180 derajat dan mau mengaji,'' tuturnya.

Sepintas, ketika menyaksikan Majelis Rasulullah SAW seperti majelis dzikir H Mohammad Arifin Ilham atau majelisnya Ustadz Haryono. Baik dalam tata cara berpakaian maupun sistem pengajiannya. Tapi yang sangat kontras adalah, di Majelis Rasulullah hampir seluruh jamaahnya adalah anak-anak muda. ''Memang selama majelis didirikan dua tahun lalu, sasaran saya adalah generasi muda. Agar figur Rasulullah benar-benar menjadi idola mereka,'' katanya.

Dengan makin pesatnya majelis taklim ini, kegiatannya ke daerah-daerah dan luar negeri hampir tidak mungkin dilakukan lagi. Padahal dahulu, ia sering berdakwah di berbagai daerah, dan sudah punya kegiatan bulanan di Bali, Lombok, Madura, serta di beberapa tempat di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Secara keseluruhan, ia telah membina 99 majelis taklim di sekitar Jakarta dan di kota-kota besar di Jawa, Bali, dan Lombok.

Tapi kini ia sudah tidak bisa lagi keliling tanah air karena padatnya acara di Jakarta. Bukan hanya itu, dakwah ke luar negeri yang dulu sering dilakukan kini hampir tidak mungkin dilaksanakan. Padahal, habib yang mendalami bidang fikih, terjemahan Alquran, ilmu hadis, dan tata bahasa Arab ini dulu sering berceramah di Singapura, Malaysia, dan Pathani (Thailand Selatan). Di Singapura, ia memberikan ceramah di di hadapan umat Islam yang bekerja di Bandar Udara Changi. Anak kandung Fuad Abdurahman, mantan wartawan Berita Buana, kini hampir tiap hari waktunya dihabiskan untuk dakwah.

(alwi shahab/as)

Derita Para Haji di Onrust

Bukan hanya banyak jalan ke Roma, tapi juga ke Onrust. Salah satu pulau di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, ini terletak 14 km dari Jakarta. Pulau yang semula luasnya 12 ha ini kini tinggal 7,5 ha akibat abrasi. Mendatangi pulau yang dijadikan taman arkeologi itu dapat dilakukan melalui tiga pelabuhan: Marina Ancol, Angke, dan Muara Kamal. Yang paling dekat melalui pelabuhan Muara Kamal. Hanya dengan menggunakan perahu tradisional dapat dicapai dalam waktu 10 sampai 15 menit saja. Maklum, Onrust yang dalam Belanda berarti 'tanpa istirahat' ini merupakan kawasan Kepulauan Seribu yang terdekat dengan pantai Jakarta.

Pada musim haji sekarang sengaja kita ketengahkan pulau ini karena merupakan salah satu pulau yang punya nilai sejarah dalam lintasan haji di tanah air. Kisah Onrust dimulai pada awal abad ke-20, ketika terjadi wabah pes di Malang, Jawa Timur, yang semula diduga berasal dari kapal yang membawa jamaah haji dari tanah suci. Ternyata wabah akibat tikus ini berasal dari kapal yang mengangkut beras dari Rangon (kini Yangon), Birma (kini Myammar). Tapi, bagaimana pun Belanda tetap ingin mengkarantina para jamaah haji sepulang mereka dari tanah suci. Dan Onrust yang dianggap sebagai pulau terpencil dipilih sebagai tempat itu. Selama karantina mereka harus tinggal di pulau ini selama lima hari. Bahkan kadang-kadang lebih lama lagi tergantung kesehatan para jamaah bersangkutan.

Pembangunan karantina Onrust menelan biaya 607 ribu gulden, yaitu sebanyak 35 barak yang dapat menampung 3500 jamaah haji. Begitu rampung dibangun pada 1911, Onrust langsung digunakan saat itu pula. Pulau tempat pertama kali VOC mendarat sebelum menaklukkan Jakarta pada abad ke-17 ini selama 29 tahun (sampai 1940) berubah fungsi menjadi karantina haji. Kini di pulau tersebut masih dijumpai sisa-sisa barak yang sudah porak poranda. Yang masih berdiri kokoh hanya sebuah rumah yang dulu digunakan untuk para dokter karantina haji.

Basirun Prawiroatmodjo, yang menjadi jurutulis karantina haji di tahun 1919 dan bertugas di pulau ini hingga 1958, ketika diwawancarai Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta mengemukakan, para haji yang pulang dari tanah suci pertama kali turun di Pulau Cipir yang bersebelahan dengan Onrust. Para jamaah satu persatu dicek oleh dua orang petugas. Usai pemeriksaan, para haji itu harus menanggalkan seluruh pakaiannya, diganti dengan pakaian karantina. Kemudian mereka dipersilahkan mandi dan diperiksa oleh seorng dokter. Bila ada yang membawa bibit penyakit menular diharuskan tinggal di stasiun karantina di Pulau Cipir. Karantina ini dibangun bersamaan dengan karantina di Pulau Onrust (1911).

Selama pemeriksaan kesehatan, pakaian pribadi serta kapal pengangkut difumigasi. Para jamaah yang dinyatakan sehat kemudian dibawa ke Onrust. Mereka naik eretan (getek) dari ujung dermaga Pulau Cipir ke Pulau Onrust. Eretan ini hanya dapat menampung 8-10 orang. Menaikinya cukup berbahaya lebih-lebih bila air pasang. Tapi, sejauh ini tidak ada laporan pernah terjadi kecelakaan seperti terseret gelombang saat menaikinya.

Setiba di Onrust dari Cipir, para jamaah haji kembali diperiksa kesehatannya oleh seorang dokter. Terdapat pula enam orang petugas bangsa Belanda yang turut menangani jamaah haji. Mereka hanya berada di Onrust saat-saat musim haji. Di Onrust ketika itu ada sebuah kapal motor bernama Kapal Onrust yang berlayar dua kali seminggu ke Tanjung Priok. Kapal ini berfungsi untuk mengangkut jenazah jamaah haji yang meninggal di Pulau Sakit (kini pulau Bidadari) dan Pulau Kelor untuk dimakamkan. Kedua pulau yang merupakan satu gugus dengan Onrust dan Cipir ketika itu merupakan hutan belukar. Kini kedua pulau itu merupakan tempat rekrasi yang tiap akhir pekan ramai dikunjungi, khususnya di Bidadari (Pulau Sakit). Di sini kita juga dapat menjumpai benteng peninggalan VOC saat mereka menjadikan pulau ini sebagai tempat rekreasi.

Menurut Basirun, para jamaah haji yang meninggal dikuburkan dengan sangat sederhana. Tidak mendapatkan perawatan atau fasilitas seperti orang-orang Belanda yang meninggal di pulau Onrust. Jenazah-jenazah para haji dimakamkan di sembarang tempat dan samasekali tidak memperhitungkan arah kiblat. Di Pulau Onrust masih dijumpai sejumlah makam warga Belanda.

Kini, rumah dokter karantina haji yang menjadi salah satu peninggalan kelam sejarah perhajian di tanah air masih berdiri utuh setelah dipugar oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta. Yang masih perlu dipugar kembali adalah barak-barak yang pernah menampung 3500 jamaah haji yang kini tinggal puing-puing. Apalagi Pemda DKI ingin menjadikan Onrust sebagai taman arkeologi. Pulau yang kini tidak berpenghuni ini paling banyak memiliki tinggalan arkeologi. Padahal pada masa jayanya di Onrust pernah tinggal 1000 orang pekerja yang kebanyakan para budak dan orang Tionghoa. Pada abad ke-18, sebelum menemukan benua Australia, James Cook sempat singgah terlebih dulu di Onrust untuk memperbaiki dan mereparasi kapalnya.

(Alwi Shahab)