Friday, January 07, 2005

Tangis-tangisan Jelang ke Tanah Suci

Saat ini para calon haji (calhaj) mulai meninggalkan tanah air menuju tanah suci. Dengan pesawat dari Jakarta ke Bandara King Abdul Azis di Jeddah kini hanya memerlukan waktu 10 jam. Pada tempo dulu saat menggunakan kapal laut diperlukan waktu berbulan-bulan. Bahkan, memakan waktu bertahun-tahun sebelum ditemukannya kapal uap pada 1920. Dengan kapal uap pun diperlukan waktu tiga sampai enam bulan baru kembali ke tanah air. Karena lamanya waktu, baik di perjalanan maupun selama di tanah suci, bawaan para calon haji pun seabrek-abrek. Seperti panci, beras, ikan asin, terasi, cabe, bawang, dan kerupuk. Maklum pada zaman 'kuda gigi besi' barang dan makanan ini susah didapat di Arab Saudi.

Pokoknya pergi haji di tempo doeloe seolah-olah siap untuk mati. Tidak heran mereka yang akan menunaikan ibadah haji kala itu selalu dilepas dengan kebesaran. ''Bang, jangan lupa name kita di panggil-panggil di depan ka'bah. Kirim juga salam pada Nabi. Semoga kita bisa ziarah.'' Mereka yang melepas keluarga atau kerabatnya akan mengucapkan kata-kata diatas sambil menangis. Bahkan, seperti dituturkan oleh H Irwan Syafi'ie, 75 tahun, yang selama 21 tahun menjadi lurah di tiga kampung di Jakarta Selatan, begitu berhasratnya masyarakat yang ingin menunaikan ibadah haji, sampai ada yang menitipkan namanya dalam amplop untuk disampaikan di makam Nabi. Mereka yang berperilaku demikian umumnya dari Jakarta pinggiran (udik).

Kembali ke masa kapal layar, begitu lamanya pergi haji naik kapal ini, sehingga orang di tanah air tidak bisa mendengar kabar bagaimana keadaan keluarganya yang pergi haji. Lamanya perjalanan bisa dimaklumi karena kapal harus singgah di belasan kota dan negeri sebelum sampai ke Arab Saudi. Belum lagi kemungkinan menghadapi bahaya badai selama pelayaran.

Tapi, berbagai kesulitan tersebut tidak pernah memadamkan semangat orang Betawi untuk berhaji. Ketika itu semua jamaah harus dikarantina dan diturunkan di Kamerun, Afrika Utara, selama tiga hari. Mereka mandi dengan air asin dan jumlah makanan yang ada juga kurang dari semestinya. Setibanya di tanah air jangan dikira bisa langsung menemui sanak keluarga. Mereka masih harus dikarantina di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Karena itulah dalam buku sejarah perhajian Indonesia yang diterbitkan Departemen Agama disebutkan bahwa nasib jamaah haji Indonesia ketika itu lebih buruk dari kuli kontrak.

Di pulau yang terletak di Teluk Jakarta ini mereka juga sering diperlukan tak manusiawi. Seperti, diperiksa sambil ditelanjangi. Karena perlakuan yang sangat merendahkan itu, sejumlah ulama khususnya di Jawa mengeluarkan fatwa: ''Tidak wajib bagi kaum wanita pergi haji berhubung dengan perlakuan yang kurang baik di jalan.'' Kalau pada masa sekarang, lebih-lelbih pada 1970'an sampai 1990'an banyak orang Betawi yang naik haji terlebih dulu menjual tanah hingga disebut 'haji gusuran'. Tapi pada 1950'an dan 1960'an harga tanah tidak berharga. ''Malah lebih mahal harga kebon dan empang.''

Ketika itu orang Betawi banyak yang memiliki kebun, empang, dan peternakan kecil. Karena belum ada bank yang mengurus ONH seperti sekarang, uang itu dikumpulkan dalam bumbung-bumbung bambu. Bumbung bambu merupakan bagian dari dinding di kamar rumah yang diberi lubang. Dalam masa menabung, mereka tekun belajar manasik haji. Ada kebiasaan puluhan tahun lalu yang hingga kini masih berlangsung. Seperti, tahlilan dan ratiban sebelum berangkat ke tanah suci. Hanya dulu berlangsung lebih lama. Bahkan dibeberapa daerah pinggiran acara ini bisa berlangsung selama selama 40 hari.

Sepulangnya di Tanah Air, berbagai acara masih menunggu para haji. Seperti selamatan. Mereka yang datang itu bisa mencicipi seteguk air zamzam. Lalu meminta doa pada orang yang baru pulang haji. Agar dia juga dapat menunaikan rukun Islam kelima ini.

Di Jakarta tengah atau kota (istilah waktu itu), setelah dua atau tiga hari istirahat di rumah, mereka yang baru kembali dari haji biasanya langsung bekerja atau berdagang. Tapi, tidak demikian di daerah-daerah pinggiran. Ada yang masih harus menunggu selama 40 hari karena ada larangan untuk keluar rumah. Di ruang tamu rumahnya disediakan kasur dan permadani. Kecuali mandi, buang air dan shalat, selama 40 hari mereka tidak diperbolehkan meninggalkan tempat ini. Di kasur itulah ia menerima para tamu. Sekarang tentu saja kebiasaan ini sudah hampir tidak ada.
(Alwi Shahab)

1 comment:

Perjalanan Hajiku said...

Membaca Cerita haji memang cukup mengasyikkan.
Oleh penulis buku 40 Hari Di Tanah Suci.