Friday, July 22, 2005

Dari Kemayoran ke Jaga Monyet

Sampai 1970'an nama Kemayoran sangat dikenal di dunia internasional. Para kepala negara atau tamu asing yang ingin ke Indonesia harus melalui Kemayoran sebelum bandara dipindahkan ke Cengkareng. Ketika berlangsung Konperensi Asia Afrika (KAA), April 1955, Bung Karno berhari-hari siaga di ruang VIP pelabuhan udara Kemayoran menyambut puluhan kepala negara, sebelum mereka diberangkatkan ke Bandung tempat berlangsungnya KAA.

Kemayoran sebagai salah satu kampung tua di Jakarta banyak didatangi pendatang setelah dibangunnya bandar udara (1935). Ia juga dikenal sebagai kawasan yang banyak dihuni Indo-Belanda hingga dapat julukan Belanda Kemayoran. Kemudian sebagian besar hengkang ke negeri Belanda ketika hubungan Indonesia dengan negara kerajaan ini putus pada 1957 karena soal Irian Barat (kini Papua).

Menyelusuri sejarahnya ke belakang, ketika Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) hendak membangun jalan darat dari Anyer (Banten) ke Panarukan (Jawa Timur) ia kekurangan biaya dan menjual tanah Kemayoran kepada orang kaya/tuantanah. Konon, nama Kemayoran berasal dari kata mayor. Mayor (pangkat kehormatan) kala itu hanya diberikan kepada orang Tionghoa yang mengepalai golongannya.

Di Kemayoran inilah Benyamin S dibesarkan dan kini diabadikan jadi nama jalan di Kemayoran. Demikian pula kakeknya, H Jiung seoranmg jagoan terkenal dan banyak menolong rakyat kecil. Untuk nama jembatan dan nama jalan. Kemayoran juga menyandang nama besar di bidang musik. Hingga dikenal keroncong Kemayoran. Pada 1920 - 1925 berdiri musik keroncong Lief de Java (Oud Bat avia), salah satu pemainnya Ismail Marzuki. Di musik ini juga dikenal M Sagi dengan penyanyi tunanetra Anni Landau.

Dari Kemayoran kita Kampung Petojo. Kalau sekarang Petojo salah satu pusat perdagangan dan bisnis di Ibukota, sampai awal ke-18 masih merupakan hutan belukar tanpa penghuni. Barulah setelah Phoa Bing Gam, kapiten Cina kedua pertengahan abad ke-18 membuat terusan Molenvliet (di kiri kanan Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk), guna menghubungkan Kota Lama dengan daerah selatan banyak berdatangan pendatang ke Petojo.

Petojo diambil dari Datuk Patuju, anak buah Aru Palaka yang datang ke Batavia meminta bantuan VOC dalam menghadapi Hasanuddin: Ayam jantan dari timur. Dulu (sampai 1950'an) di Jl Jaga Monyet (kini Jl Suryopranoto) ada pabrik es "Petojo'. Dari pabrik es inilah suplai es ke seluruh Jakarta. Kala itu di warung-warung Tionghoa ada khusus tempat menyimpan es balokan berukuran sekitar 2 X 3 meter.

Nama Jaga Monyet sampai 1970'an sangat terkenal. Karena ditempat ini Belanda membangun benteng pertahanan (sekitar gedung BRI sekarang) yang letaknya jauh di luar kota. Karena lebih banyak menjaga monyet yang berkeliaran ketimbang menghadapi monyet, benteng ini dinamakan Jaga Monyet. Di Petojo terdapat Jl Kesehatan. Dulunya disebut daerah Pabuaran karena penduduknya berasal dari daerah luar.

Sedangkan nama Petojo Binatu karena banyak penduduk jadi tukang binatu. Mereka mencuci di pinggir kali Ciliwung, hingga para tamu Hotel Des Indes (hotel paling mewah kala itu yang digusur awal 1970'an, dapat menikmati pemandangan orang mandi sambil berbugil ria sehingga jadi pentas tontonan bathing beuties. Bukan hanya di Molenvliet, di kampung-kampung yang dialiri Ciliwung banyak penduduk jadi tukang binatu. Ongkosnya 5 sen untuk kemeja dan satu setel sepicis (10 sen). Kala itu setrika diisi arang yang dipanaskan. Maklum belum ada setrika listrik.

Petojo kala itu dialiri dua sungai, Palis dan Cideng. Sungai Palis mengalir sepanjang Jl Kesehatan dan Sungai Cideng mengalir dari Jatibaru ke Cideng. Ke-13 sungai di Jakarta kala itu dijadikan alat transportasi membawa getek-getek bambu dari Tanah Abang ke Jakarta Kota. Getek-getek ini berjalan tenang di air yang jernih dan dalam, sambil harus berhati-hati agar tidak terkena mereka yang mandi, mencuci dan membuang hajat ditepinya.

Dari Petojo kita Kampung Jembatan Lima. Letaknya sangat strategis dapat dicapai oleh kendaraan mobil maupun kereta api. Perlu diketahui kereta api pertama Batavia - Boutenzorg (Bogor) dimulai 1873. Trem kuda 1869 dan disusul trem listrik 1899. Trem dibongkar masa Bung Karno (1961). Mobil baru mulai dikenal 1920'an merupakan simbol elitis dan ekslusif. Hanya orang Belanda tertentu yang memilikinya, dan kemudian segelintir kaum berada dari etnis lain.

Jembatan Lima di Jakarta Barat nama ini mengacu adanya 5 buah jembatan, yang kini sudah menghilang. Di Kampung Lima terdapat Kampung Sawah Lio karena dulunya tempat pembakaran batu bata (lio). Terdapat Gang Laksa, karena disana tinggal beberapa orang kaya yang punya uang berlaksa-laksana. Terdapat Kampung Petuakan sebagai tempat jual beli tuak. Di Kampung Lima juga ada Kampung Petak Serani. Dulu merupakan petak-petak tempat tinggal orang Serani (Kristen). Di kampung Lima juga terdapat rawa-rawa yang dipenuhi bunga teratai. Hingga dinamakan Kampung Teratai.

Adapun nama Tambora, kecamatan yang membawahinya, karena tiap pagi di asrama tentara terdengar suara tambur. Jadi nama-nama kampung tua di Jakarta biasanya diambil dari keadaan alam sekitar kampung tersebut atau peristiwa yang pernah terjadi.


(Alwi Shahab, wartawan Republika. 26 Feb 2005 )

1 comment:

Roy Thaniago said...

Ulasan sejarahnya asik. Saya jadi semakin tahu soal Petojo dan sekitarnya. Karena saya memang tinggal di Petojo.