Tuesday, October 30, 2007

Asyraf Hadhramaut

Asyraf Hadhramaut

dan peranan mereka dalam menyebarkan islam di Asia Tenggara

Dr. Muhammad Hasan Al-Aydrus

( pengajar Sejarah Modern di Universitas Uni Emirat Arab )


Diketik ulang oleh

Abdullah bin Gasim Al-Aydrus

Bogor

17 september 2005

Diterjemahkan dari Asyraf Hadhramaut,

karya Dr. Muhammad Hasan Al-Aydrus Terbitan Darul Mutanabbi, Abu Dhabi – UAE

Penerjemah : Ali Yahya

Diterjemahkan atas biaya Alwi bin Shaleh Al-Aydrus

Diterbitkan oleh Abdullah bin Ahmad Assegaf bekerja sama dengan Penerbit Lentera, Jl. Melati Bakhti No.7 Jakarta 13430

Desain Sampul : Eja Ass.

Cetakan pertama, Sya'ban 1416 H/ Januari 1996


Daftar isi


Persembahan

untuk ayahku tercinta

Hasan Ahmad Alwi Alaydrus

yang telah berjasa sejak awal adanya naskah ilmiah ini

tanpanya risalah ini tidak akan ada

cinta dan penghargaanku hanya untuk beliau


Pengantar

Asia Tenggara dianggap sebagai wilayah yang paling banyak pemeluk agama Islamnya. Yang termasuk wilayah ini adalah pulau-pulau yang terletak di sebelah Timur India sampai Lautan Cina dan mencakup Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Islam masuk ke Asia Tenggara pada umumnya dan Indonesia pada khususnya dengan dakwah yang damai dan bukan dengan ketajaman mata pedang. Ia masuk dengan perantaraan orang-orang Arab Hadhramaut, dalam hal ini para syarif ( gelar untuk keturunan Rasul, Penj) dari keturunan Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Beliau diberi laqob (gelar) Al-Muhajir karena hijrah dari Bashrah setelah kota itu menghadapi serangan umum Khawarij dan pemberontakan orang-orang kulit hitam. Ketika itu ia memutuskan berngakat ke Hijaz dan menetap setahun di Madinah Al-Munawwarah ketika Makkah Menghadapi serangan orang-orang Qaramithah. Kemudian beliau melaksanakan haji dan thawaf mengelilingi ka'bah tanpa ada Hajar Aswad yang ketika itu bawa ke Hijr sehingga tempat batu itu menjadi kosong.

Kemudian Imam Ahmad bin Isa memutuskan hijrah ke Hadhramaut. Disana ia menghadapi orang-orang Khawarij, sehingga ia dan anak cucunya dapat menghapus mazhab Ibadhiy dan menyebarkan mazhab Syafi'i. Setelah itu salah satu cucunya Muhammad Shohib Marbath menyempurnakan perjalanannya dan menyebarkan mazhab Syafi'i di daerah Zhufar.

Para syarif hadhramaut juga hijrah ke Afrika Timur, India, dan Asia Tenggara untuk menyebarkan dakwah Islamiyah dan mengajarkan para penduduknya pokok-pokok ajrab agama yang hanif (lurus) ini.

Kita nanti akan sampai pada para da'i yang pertama dari kalangan syarif Hadhramaut yang memainkan peran pening dalam menyebarkan Islam di Asia Tenggara khususnya di Indonesia. Yang paling penting diantara mereka adalah para da'i pertama yang berjumlah 9 orang dan dikenal dengan nama 'Sunan' yang artinya "wali" dan sebagian besar dari mereka adalah para syarif hadhramaut dari keturunan Ahmad bin Isa.


BAB I

Nasab Para Syarif di Hadhramaut

Nasab para syarif / sayid di Hadramaut berpangkal pada Imam Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhy bin Ja’far Ash-Shadiq, cucu imam Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah dan pemimpin pemuda ahli surga.

Imam Husein bin Ali

Dari Ya’la bin Murrah berkata ia: Telah bersabda Rasulullah SAW:1

“Husein dari aku dan aku dari Husein, Allah mencintai orang yang mencintai Husein, Husein adalah cucu dari para cucu”

Berkata Al-Imam Al-Akbar Dr.Abdul Halim Mahmud Syeikhul-Azhar:2

“Sesungguhnya nasab Sayidina Husein R.A. hampir saja terputus seandainya bukan karena anugerah Allah. Anugerah Allah inilah yang mengekalkan keturunannya. Pada nereka terdapat keharuman Rasulullah SAW. Pada mereka juga terdapat orang-orang yang akhlaknya pemurah, pemberani, dan hati yang penuh dengan keimanan serta ruh yang selalu memandang ke atas, tidak disibukkan oleh dunia dengan segala perhiasannya yang membuatnya menjadi ingin kekal di dunia dan menuruti hawa nafsunya. Tidak , sekali-kali tidak sesungguhnya jiwa mereka dihiasi teladan yang tinggi dan kekal disertai kepahlawanan dalam bentuknya yang terbaik dan bersama kebenaran dimanapun berada. Sesungguhnya jiwa mereka seumpama orang yang membantu orang yang berjuang di jalan kebaikan, yaitu di jalan Allah”

Sayidina Husein sungguh telah memasuki suatu pertempuran menentang orang yang bathil dan mendapatkan syahidnya di sana. Pertempuran ini banyak mengalirkan darah orang-orang yang bersamanya, sedang sisanya ditawan. Ahlul bait telah digiring sebagai tawanan. Tidak tersisa keturunan Husein yang laki-laki setelah pertempuran ini kecuali Ali bin Al-Husein R.A. yag diberi lagob (gelar) ‘Zainal Abidin’ (hiasan para ahli ibadah)

Al-Imam Zainal Abidin Ali bin Al-Husein

Imam Ali Zainal Abidin diberi gelar ‘Zainal Abidin’ dan As-Sajjad’ (yang banyak sujud) dan nama serta gelar-gelar yang lain. Ia tumbuh dari kedua orang tua yang mulia. Salah satunya Al-Imam Husein bin Ali R.A., anak dari puterinya Rasulullah SAW dan penyejuk matanya di dunia. Ia (Imam Ali Zainal Abidin) juga putera dari Sulafah binti Yazdajird, raja persi.

Dr. Abdul Halim Halim Mahmud, seorang Imam besar dan Syeikhul-Azhar, berkata:3

“Zainal Abidin tumbuh dengan jiwa yang kenyang dengan ruhaniyah datuknya (s.a.w), dengan ketaqwaan ayahnya dan ketinggian pribadi ibunya yang merupakan keturunan para raja dan didikan para kaisar.”

Ath-Thohir bin Abdullah Al-Lahyawi4 mengatakan bahwa Zainal Abidin hidup bersama kakeknya Ali bin Abi Thalib selama 2 tahun, bersama pamannya Al-Hasan 10 tahun, bersama ayahnya Al-Husein 11 tahun dan sesudah itu hidup selama 34 tahun. Ia meninggal diracun oleh Al-Walid bin Abdul Malik.

Penyair Farazdaq dalam qashidahnya yang masyhur mengatakan tentang Ali Zainal Abidin:

Inilah orang yang dikenal jejak langkahnya

Oleh butiran pasir yang dilaluinya

Baitullah pun mengenalnya

Dan dataran tanah suci sekelilingnya

Dialah putera insan terbaik

Dari hamba Allah seluruhnya

Dialah manusia yang bertaqwa

Yang bersih lagi suci

Apabila orang Quraisy melihatnya

Berkatalah penyambung lidah mereka

Kepada kemuliaan pribadinya

Berpuncaklah segala kemuliaan

Ia bernasab setinggi bintang kejota

Seanggun langit di cakrawala

Yang sulit untuk mencapainya

Baik orang Arab maupun selainnya

Disaat ia menuju Ka’bah

Untuk mencium hajar yang mulia

Ruknul-Hatim enggan melepaskannya

Karena tahu betapa ia tinggi nilainya

Imam Muhammad Al-Bagir

Beliau adalah anak Ali Zainal Abidin yang tertua dan salah satu dari Imam Dua Belas menurut mazhab Imamiyah. Ia dilahirkan pada tahun 59 H di Madinah pada masa kehidupan kakenya al-Husein. Masa kehidupannya penuh dengan pekerjaan-pekerjaan besar, di antaranya dibukanya lembaga-lembaga keilmuan, pembahasaan ilmiah dan sastra. Pelajaran yang diberikannya di Madinah Al-Munawwarah dihadiri oleh para ulama dan fuqaha besar. Para utusan berdatangan kepadanya untuk mengambil manfaat darinya.

Ia terlibat dalam gerakan pemikiran, keilmuan, dan kemasyarakatan dan banyak yang dituju oleh para penuntut kebenaran. Muhammad Al-baqir semasa dengan para raja-raja dari mulai Muawiyah sampai Yazid bin Abdul Malik. Ia wafat pada tahun 113 H di masa Hisyam bin Abdul Malik. Puteranya empat orang, tetapi keturunannya setelah itu hanya melalui Ja’far Ash-Shadiq menurut ijma’ Bukhari dan Muslim. Maka orang yang mengaku bernasab kepada Muhammad Al-Baqir tanpa melalui ja’far Ash-Shadiq adalah seorang pengaku yang dusta.5

Imam Ja'far Ash-Shadiq

Asy-Syarif Ahmad bin Muhammad Sholih Al-Baradighi mengatakan bahwa nasab para sayid/syarif di Hadramaut berpangkal pada nasab Imam Ja’far Ash-Shadiq melalui anaknya Muhammad bin Ali Al-Uraidhi. Nasab para syarif Alawiyin Hadramaut bermuara pada Syarif Alwi bin Ubaidillah bin Al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shidiq.6 Ia diberi gelar ‘Ash-Shidiq’ karena kebenarannya dalam kata-katanya. Ia juga diberi nama ‘Amudusy-Syaraf’ (Tiang Kemuliaan).7 Ia adalah seorang imam yang utama, mempunyai ilmu, keutamaan, dan kemurahan.

Imam Muhammad bin Ali Al-Uraidhi dan Hijrahnya dari Madinah ke Iraq

Ia adalah Abu Isa Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Ash-Shidiq. Ia tinggal di Bashrah, demikian juga anaknya Isa. Disana pula Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa dilahirakan dan dibesarkan.8

Imam Muhammad bin Ali Al-Uraidhi adalah anak tertua dilahirkan di Madinah. Kemudian pindah bersama ayahnya ke Bashrah. Ia wafat pada tahun 203 H pada usia 59 tahun.

Ayahnya dinamai dengan Al-Uraidhi sebagai nisbah kepada ‘Al-Uraidh’ yaitu nama suatu begeri yang terletak pada jarak 4 mil dari kota Madinah Al-Munawwarah. Ayahnya ini adalah putera terkecil dari Imam Ja’far Ash-Shadiq yang wafat ketika ia masih kecil. Kemudian bersama saudaranya Muhammad bin Ja’far Ash-Shadiq ia pergi ke Makkah dimana ia mengadakan pergerakan disana.9

Disebutkan dalam kitab “Tarikh Baghdad” karangan Ibn Al-Khatib bahwa:

“ Muhammad bin Ja’far Ash-Shadiq pergi ke Makkah pada masa pemerintahan Al-Ma’mun. Ia mengajak orang untuk memba’atnya. Maka penduduk Hijaz membai’atnya sebagai khalifah. Ia adalah keturunan Ali bin Abi Thalib yang pertama dibai’at oleh mereka. Hal itu terjadi pad tahun 200 H.”

Serelah itu Abu Ishaq Al-Muaqqim melaksanakan haji dan mengutus orang yang memeranginya. Kemudian ia menangkapnya dan membawanya ke Baghdad dalam pengawalannya. Pada saat itu Al-Ma’mun berada di Khurasan. Maka ia (Muhammad bin Ja’far Ash-Shadiq) dihadapkan kepadanya. Tetapi kemudian Al-Ma’mun memaafkannya. Ia hanya tinggal sebentar sampai ia wafat di Jurjan pada tahun 203 H.10

Imam Ahmad bin Isa dan Hijrahnya dari Iraq ke Hadhramaut

Imam Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shidiq hidup di masa yang penuh dengan kebudayaan dan nama-nama yang masyhur seperti Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Al-Ashma’i, Ibnu Ishaq, Muhammad bin Jarir Ath-Thobari, dan para imam ahlul bait. Sedang di Bashrah ada Ibnu Al-Qazzaz, Ash-Shan’ani, Al-Haratsi, dan Muhammad bin Ahmad Al-Bishri seorang alim dari kalangan syiah yang wafat pada tahun 327 H. Lalu datang juga ke Bashrah Al-Mas’udi dan Ath-Thobari.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir (karena hijrah dari Iraq ke Hadramaut) hidup dalam suasana yang penuh dengan hal-hal yang saling bertentangan. Ilmu, sastra, dan filsafat di satu sisi dan di sisi lainnya kejadian-kejadian berdarah, ketakutan, dan kekhawatiran. Ia menyaksikan apa yang disaksikan oleh saudaranya Muhammad bin Isa. Ia mengepalai suatu gerakan, lalu maju dengan pasukannya dan menguasai satu wilayah.11

Ibnul-Khatib dalam kitabnya “Tarikh Bagdad” mengatakan:

“Telah memberi kabar kepada kami Abul-Ala’ Muhammad bin Ali Al-Wasithi, berkata ia, telah memberi kabar kepada kami Zahl bin Ahmad Ad-Dibaji, berkata ia, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thobari berkata kepada kami:

Ahmad bin Isa Al-Alawiy mengatakan kepadaku dalam tulisannya dari Bashrah:12

Ketahuilah bahwa saudara-saudara kita

Yang dapat dipercaya itu sedikit

Dan apakah ada kesempatan untukku

Menuju yang sedikit itu ?

Bertanyalah pada orang-orang

Niscaya kau kan tahu

Orang yang kurus di antara yang gemuk

Tiap sesuatu itu ada bukti dan petunjuknya

Berkata Abu Ja’far Ath-Thobari:

Lalu aku menjawabnya:

Pemimpinku mempunyai persangkaan yang buruk

Tentang perjuangan orang yang berjuang

Maka masih adakah kesempatan untukku

Untuk berbaik sangka ?

Perhatikanlah wahai pemimpinku

Apa yang aku sangka dan aku katakan

Sesungguhnya persangkaan yang baik darimu

Itulah yang baik bagiku.

Apa yang dikatakan oleh Ath-Thobari di atas menunjukkan kedudukan Imam Ahmad bin Isa di sisinya. Jika ia (Imam Ahmad bin Isa) lebih tua, maka itu sudah semestinya dan merupakan penghormatan baginya. Padahal kenyataannya sebaliknya, karena Ath-Thobari lebih tua darinya.13

Hijrahnya Imam Ahmad bin Isa dari Hijaz ke Hadhramaut

Imam Ahmad bin Isa melihat terpecah-pecahnya keturunan Ali bin Abi Thalib, keadaan yang memburuk, adanya kerusakan dan kejadian berdarah yang dialaminya sehingga tidak ada lagi keamanan dan tempat untuk menetap. Juga fitnah orang-orang kulit kitam telah meninggalkan bekas yang buruk dalam kehidupan, ditambah lagi pemberontakan orang-orang Qaramithah dan serangan mereka ats Bashrah (310 H) membuat orang-orang yang sabar pun tidak dapat lagi untuk bersabar. Ketika mereka memasuki Bashrah, Imam Ahmad bin Isa sedang berada di tengah-tengah keluarga dan penduduk Bashrah berada dalam kegelisahan dan kekhawatiran sebagaimana yang disampaikan oleh sahabatnya Muhammad bin Jarir Ath-Thobari. Karena keadaan tidak memungkinkan untuk tetap tinggal disana dan ia yakin bahwa berangkat pada saat itu sesuatu yang tidak dapat dihindari lagi, maka ia memutuskan untuk meninggalkan Iraq, dimana ia meninggalkan harta dan sebagian anak-anaknya.14

Yang demikian itu ia lakukan meskipun ia menikmati berbagai keistimewaan, diantaranya ia adalah pemimpin keluarga Al-Uraidhiyah ( yang dinisbahkan kepada Imam Ali Al-Uraidhi), kemudian ia dan ayahnya adalah naqib para syarif Alawiyin, mereka berdua juga adalah imam dan pemuka besar orang-orang Bashrah serta merupakan bintang-bintang kejora mereka. Walau demikian ia memutuskan hijrah dari itu semua.

Pada tahun 317 H berangkatlah suatu kafilah besar dari Bashrah pada masa pemerintahan Al-Muqtadirbillah (290-320 H) melewati padang pasir membawa Imam Ahmad bin Isa dan istrinya Zainab binti Abdullah bin Al-Hasan bin Ali Al-Uraidhy, anaknya Ubaidillah dan istrinya Ummul Banin binti Muhammad bin Isa bin Muhammad, serta cucunya Ismail yang diberi gelar ‘Ibn Ubaidillah’ serta para pengikut mereka yang berjumlah sekitar 70 orang. Kafilah ini melalui jalan Syam yang panjangnya mencapai 712 mil.

Ikut bersamanya juga lima orang yang bukan pengiringnya. Di antara mereka dua orang adalah anak-anak pamannya. Mereka adalah kakek dari “Bani Qadim” dan “Bani Al-Mahadilah”. Mereka adalah sahabat-sahabat Al-Muhajir sebagaimana tiga orang lainnya Ja’far bin Abdullah Al-Azadi kakek dari Al-Masyaikh Al-Makhdum, Mukthar bin Abdullah bin Sa’d kakek Al-Masyaikh Al-Mukhtar, dan Syuwayyah bin Faraj Al-Ashbihaniy.15

Sa’id Bawazir, seorang ahli sejarah dari Hadramaut, mengatakan bahwa keputusan Imam Ahmad bin Isa hijrah dari Bashrah, berangkat bersama keluarga dan para pengikutnya yang berjumlah lebih dari 70 orang adalah pada masa sulitnya perjalanan karena tidak ada kapal laut dan kendaraan selain kafilah onta yang melewati pdang tandus yang luas dengan langkah-langkahnya yang berat pada perjalanan yang sulit dan berbahaya.16 Ia meninggalkan sebagian anak-anaknya bersama keluarga mereka di Bashrah. Mereka adalah Muhammad, Ali, dan Hasan.17

Kemudian Imam Al-Muhajir sampai di Madinah dan menetap disana selama setahun. Ketika ia berada di Madinah, masuklah orang-orang Qaramithah ke Makkah di bawah pimpinan Abu Thohir bin Abi Sa’id pada tanggal 17 Dzulhijah tahun 317 H. Mereka mencabut Hajar Aswad dan membawanya ke Hijr sehingga tempatnya menjadi kosong. Pada tempat yang kosong itu orang-orang meletakkan tangannya untuk bertabarruk selama 22 tahun.

Pada tahun berikutnya (318 H) Imam Ahmad bin Isa menuju Makkah diikuti keluarga dan para pengikutnya. Ia melakukan ibadah haji dan di tempat Hajar Aswad hanya menyentuhnya saja. Disana ia mendengar apa yang dilakukan oleh orang-orang Qaramithah ketika memasuki Makkah dan mendengar tentang berkembangnya orang-orang Khawarij di Arab Selatan.

Kemudian ia memutuskan berangkat ke Yaman, menembus segala penjuru Hijaz, ‘Asir, dan Yaman. Lalu ia berbelok ke timur ke arah Hadramaut.18

Mengapa Imam Al-Muhajir Hijrah ke Hadhramaut ?

Mengapa Imam Al-Muhajir memilih Hadramaut dan tidak pergi ke Khurasan yang hijau atau tidak tinggal di Hijaz atau Yaman sebagaimana anak-anak pamannya tinggal? Mengapa tidak berangkat ke Mesir dimana hati penduduknya selalu beserta ahlul bait sejak permulaan Islam? Mengapa pula tidak pergi ke Sind, India padahal disana banyak terdapat keluarga Abu Thalib dan para pengikut mereka? Atau mengapa tidak pergi ke tempat lain dan hanya bermaksud ke Hadramaut, mengapa?

Apakah ia pergi untuk menghadapi orang Khawarij dan menjadi benteng terhadap orang-orang Qaramithah yang telah maju dan menguasai kota Amman? Kalau tidak mengapa ia berangkat ke suatu negeri yang tidak terdapat disana suatu kekayaan atau sesuatu yang memikat hatinya dan tidak pula terdapat seorang pun dari putera-putera pamannya?19

Maka masuklah Imam Al-Muhajir ke Hadramaut. Ia bersikap lemah lembut dalam da’wahnya dan menempuh cara yang halus dan mengeluarkan hartanya. Maka banyak orang-orang Khawarij yag datang kepadanya dan taubat di tangannya setelah mereka berusaha menentang dan mencacinya.

Ia jug menolong qabilah Al-Masyaikh Al-Afif. Dan bergabung juga dengannya qabilah ‘Kandah’ dan ‘Madij’. Mereka meninggalkan mazhab Ibadhiy dan bercampur dengan orang-orang yang datang dari Iraq. Minoritas Sunnah dan Syiah sekitar Al-Washil Al-Jadid juga berpaling kepadanya. Hanya orang-orang Khawarij yang lainnya menentangnya dan menyalakan api peperangan terhadapnya. Tetapi ia dan orang-orang yang besertanya walaupun dalam jumlah yang sedikit dapat menang pada pertempuran “Bahran”.

Sampai saat ini masih tetap dikatakan orang suatu perumpaan: “ Dimana engkau wahai orang yang lari dari Bahran?” kemenangan itu adalah suatu kemenangan bersama bagi orang Sunni dan Syiah dalam melawan orang Khawarij,20 karena seperti diketahui Imam Al-Muhajir adalah Sunni dan bermazhab Syafi’i.

Sejarawan Hadramau Sa’id Bawazir mangatakan bahwa orang-orang Ibadhiyin memerangi Al-Muhajir karena mereka tersingkir dari tinggal di Hadramaut dan orang-orang Sunni maupun Syiah di Hadramaut dan Yaman bersatu untuk menolongnya. Maka berkecamuklah peperangan diantara kedua pihak. Pada peperangan ini orang-orang Ibadhiyun mendapatkan bantuan dari orag-orang sekaumnya dari Amman dan daerah lainnya, sedangkan Al-Muhajir mendapatkan bala bantuan dan keuangan yang dibawa oleh qafilah-qafilah di darat dan kapal-kapal laut yang dikirim oleh anaknya Muhammad yang ia tinggalkan ditempat lamanya sebagai wakil dirinya dalam menjaga segala miliknya, kurmanya, dn perdagangannya yang luas.

Ketika terjadi peperangan yang menentukan diantara keduanya di daerah Bahran yaitu saat Al-Muhajir tinggal di Bahrain terpecahlah keberanian orang-orang Ibadhiyun. Setelah itu Al-Muhajir pindah ke bukit Bani Jasyir.

Karena itu jelaslah bahwa Imam Al-Muhajir menyatakan dengan terang-terangan mazhab dan aqidahnya dan mengajal orang kepada aqidahnya itu yang membuat orang-orang Ibadhiyun berpikir mencari siasat menghadapinya dan menghadapi perkembangan mazhab dan aqidahnya dengan segala cara. Dan sesungguhnya orang-orang Alawiyin menutupi diri mereka dengan membawa senjata sebagaimana metode para sahabat dalam ilmu dan pengalamannya. Tetapi setelah berakhir mazhab Ibadhiy dan tampil kemukanya mazhab Syafi’i mereka mulai dengan mazhab shufi sejak zaman Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam.21

Ahli sejarah dari Hadramaut Muhammad Asy-Syathiri mengatakan bahwa mazhab Ibadhiyah adalah mazhab yang dominan disan dimana mereka mempunyai pengaruh dalam pelaksanaan berbagai hal dihadapan mereka. Tetapi Imam Al-Muhajir dengan ilmunya, kekuatan pribadinya, dan keberaniannya mampu menyebarkan mazhab Sunni Syafi’i di Hadramaut sehingga akhirnya setahap demi setahap dapat menempati tempat mazhab Ibadhiy sesuai dengan cara perkembangan mazhab. Berkata ia dan murid-muridnya dari kalangan ahlussunnah berubahlah tanah Hadramaut menjadi negeri Sunni Syafi’i. Dan sebelum berakhir abad ke tujuh mazhab Ibadhiy telah lenyap sama sekali dari Hadramaut dan merata mazhab Sunni disana.22

Imam Alwi bin Ubaidillah bin Imam Al-Muhajir

Imam Al-Muhajir mempunyi empat orang putera, yaitu Ali, Al-Husein, Ubaidillah, dan Muhammad. Ubaidillah hijrah bersama ayahnya ke hadramaut dan mendapat seorang anak yang bernama Alwi. Ia adalah anak pertama dari cucu Imam Al-Muhajir yang dilahirkan di Hadramaut. Karena itu para sayid / syarif di sana disebut dengan Al-Alawiyin atau qabilah ‘Ba alawi’.

Sejarawan Hadramaut Muhammad Bamuthrif23 mengatakan bahwa Alawiyin dianggap qabilah yang terbesar jumlahnya di Hadramaut dan yang paling hijrah ke Asia dan Afrika. Qabilah Alawiyin di Hadramut dianggap orang Yaman karena mereka tidak berkumpul kecuali di Yaman dan sebelumnya tidak terkenal di luar Yaman.

Datuk pertama yang orang Hadramaut bagi qabilah ini adalah Alwi bin Ubaidillah. Ia adalah kelahiran Hadramaut. Anak cucunya tersebar di kota-kota Hadramaut dan Zhufar, khususnya di kota Tarim yang disebutkan oleh Amir Syakib Arsalan ketika mentelaah kitab “Al-Masyra’ Al-Rawi” ketika menceritakan pribadi-pribadinya yang pada umumnya dilahirkan di Tarim dan hafal Al-Quran. Maka Amir Syakib Arsalan mengatakan aku ingin mengarang suatu kitab yang bernama “Alhajar al-Karim fi man wulida bi Tarim.”

Nasywan Al-Hamiri (wafat tahun 573 H) ketika mengunjungi Tarim dan mendapatkannya bagikan seorang pengantin dan disana terdapat para syarif Hadramaut mengatakan:24

“Semoga Allah memelihara saudara-saudaraku yang semasa denganku yang didalam negeri Tarim bagaikan bintang-bintang yang bersinar.”

Al-Imam Shohib Marbath Muhammad bin Ali dan keturunannya (573-653)

Ia adalah Imam Muhammad Shohib Marbath bin Ali Kholi’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Ubaidillah bin Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Ayahnya diberi laqob “Kholi’ Qasam” sebagai nisbah kepada negeri al-Qasam yang merupakan tempat mereka di negeri Bashrah,25 dimana dari tempat itu ia mendapat harta dan membeli tanah didekat kota Tarim di Hadramaut dengan harga 20.000 dinar dan ditanaminya pohon kurma untuk mengenang kota Qasam di Bashrah yang tadinya dimiliki oleh kakeknya Al-Imam Al-Muhajir yang merupakan tanah yang luas disana didekat teluk Arab dan penuh kurma pada masa itu.26

Imam Muhammad Shohib Marbat dilahirkan di kota Tarim dan ia hafal al-Quran.27 Ia dinamai dengan Shohib Marbah karena ia tinggal disana. Ia sering pergi ke berbagai penjuru sehingga sampai di Marbath di daerah Zhufar dan menetap disana ia mendapatkan sambutan dan penghormatan dari penduduknya, dan bertambah tersebar keharuman namanya. Ia tinggal disana sampai wafat dan kuburnya di Marbath terkenal.28

Keutamaan yang besar bagi Imam Muhammad Shohib Marbath karena ia memasukkan mazhab Imam Syafi’i dan Aqidah Ahlussunnah ke Zhufar setelah tadinya penduduknya adalah orang Khawarij dari sekte Ibadhiyah. Ia berhasil dengan kemampuannya yang hebat merubah aqidah mereka menjadi aqidah ahlussunnah dan bermazhab Syafi’i.

Ia telah melakukan peranan seperti peranan yang telah dilakukan oleh kakeknya Al-Imam Al-Muhajir dalam memasukkan mazhab Syafi’i di Hadramaut. Dan sebagaimana kakeknya hijrah dari Bashrah ke Hadramaut, ia hijrah ke Zhufar.29 Demikian pula cucu-cucunya dan keturunannya hijrah ke Asia dan Afrika setelah itu.

Kakek dari semua Syarif Alawiyin di Hadramaut dan ditempat hijrah yang lain adalah Syeikhul Imam Muhammad Shohib Marbath.30 Dan kepada kedua orang anaknya bernasablah semua sayid/syarif di dalam dan di luar hadramaut.

Mereka berdua adalah Alwi yang bergelar ‘Ammul-Faqih’ dimana bernasab kepadanya keluarga Abdul Malik yang dikenal dengan keluarga “Azhmat Khan” di India. Demikian pula para da’i pertama yang menyebarkan Islam di Asia Tenggara yang akan kita kemukakan nanti. Sedangkan anak yang kedua adalah Ali dan keturunannya melalui anaknya Muhammad yang bergelar ‘al-Faqih Al-Muqaddam’. Ia mempunyai 3 orang anak yaitu Ahmad, Ali, dan Alwi.

Lalu Alwi menurunkan Al-Imam Muhammad Maula Ad-Dawilah yang menurunkan Al-Imam Abdurrahman As-Saqqaf. Kemudian dibawahnya anaknya Syeikhul-Imam Abubakar As-Sakran.

Abubakar As-Sakran mempunyai seorang anak yang terkenal dengan nama Al-Aydrus, yaitu Al-Imam Abdullah Al-Aydrus bin Abubakar As-Sakran bin Abdurrahman As-Saqqaf bin Muhammad Maula Ad-Dawilah bin Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shohib Marbath.

Al-Imam Abdullah Al-Aydrus (811-865 H) diberi gelar oleh kakeknya Abdurrahman As-Saqqaf dengan gelar Al-Aydrus yang dikatakan berasal dari kata “Al-Aytarus”. Kakeknya wafat ketika ia berusia 8 tahun, sedang ketika ayahnya wafat ia berusia 10 tahun. Lalu ia diasuh oleh pamannya Asy-Syeikh Umar Al-Muhdar. Ia memperoleh ilmu dari pamannya ini dan dari sejumlah ulama besar di Hadramaut, Yaman, Makkah Al-Mukaramah, dan Madinah Al-Munawwarah.

Pamannya yaitu Al-Muhdar wafat ketika ia (Al-Aydrus) berusia 25 tahun. Lalu orang-orang bersepakat untuk mengajukannya untuk memegang kepemimpinan para Sayid/Syarif Alawiyin setelah pamannya Umar Al-Muhdhar dan banyak menghasilkan ulama.

Sejarawan Muhammad Dhiya’Syahab, seorang pentahqiq nasab para Syarif Hadramaut mengatakan bahwa qabilah Al-Aydrus adalah suatu keluarga yang terkenal dalam bidang keilmuan, politik, dan kemasyarakatan. Mereka banyak memiliki orang-orang besar (istimewa) yang berkhidmat pada ilmu dan masyarakat. Mereka juga terlibat dalam urusan-urusan umum.

Pada masa sekarang mereka banyak tersebar di Hadramaut, Jazirah Arab sebelah Selatan, Zhufar, Hijaz, Ahsa’, daerah-daerah lain di Jazirah Arab, Iraq, Mesir, India, Afrika Timur, dan Asia Tenggara.

Di daerah rengat, Sumatera terdapat sejumlah besar dari mereka, yaitu yang bernasab kepada Syarif Zein bin Alwi “Shohib Taribah” bin Ahmad bin Abdullah “ Shohib Ath-Thoqoh”. Yang pertama kali masuk ke Rengat adalah Ali bin Abdullah bin Hasan bin Umar bin Zein Al-Aydrus pada masa Sultan Hasan Shalih.

Di daerah Trengganu, Malaysia terdapat beberapa keluarga ini. Jam’iyyah Al-Rabithah Al-Alawiyah di Indonesia telah menghitung jumlah mereka di jawa, di beberapa bagian pulau Sumatera, dan pulau-pulau di Indonesia bagian Timur, yaitu berjumlah 1057 orang pada tahun 1358 H. Perhitungan ini belum mencakup seluruh pelosok Indonesia, Malaysia, dan Filipina.31

Keluarga syarif di Hadramaut mempunyai cabang-cabang yang banyak. Yang paling terkenal diantaranya: Al-Habsyi, Al-Aththas, Al-Hamid.


BAB II

Hijrahnya para syarif hadramaut ke asia tenggara

Para syarif dan hijrah

Sejarah telah mencatat macam-macam hijrah yang berbeda-beda. Di antaranya hijrah karena lari dari kerasnya kehidupan dan kezaliman penguasa. Sebagian lagi karena mencari keselamatan dari peperangan. Seringkali orang yang hijrah menemui penderitaan dalam perjalanan. Terkadang mereka tidak mendapatkan tempat yang cocok untuk hidup, sehingga mereka melanjutkan perjalanannya di padang tandus atau di lautan sampai mereka menemui orang yang mengasihani dan menghormati mereka, sehingga mereka dapat tinggal di antara masyarakat yang baru dan memberi keamanan.

Terlepas dari sebab-sebabnya, hijrah mempunyai pengaruh yang besar dalam penyebaran Islam. Setelah menetap di daerah-daerah yan baru, mulailah da’wah Islamiyah di antara ummat yag tadinya tidak mempunyai hubungan dengan Islam atau mempunyai pengetahuan tentangnya. Maka mereka menerima Islam dengan hati yang terbuka. Setelah mereka mngenal Allah dan pindah ke peradaban Islam yang tinggi, mereka mengakui kebaikan para da’inya dan mengenang nama-namanya di hati mereka.32 Inilah yag kita temukan di daerah-daerah dan pada ummat-ummat yang memeluk agam Islam dan kemudian menjadi pembela-pembelanya.

Kita banyak menemukan anak cucu dan keturunan Imam Ja’far Ash-Shadiq yang hijrah dan tersebar di berbagai daerah baik atas kehendak mereka ataupun karena masalah politik. Pada mulanya mereka tersebar di daerah-daerah yang bertetangga dengan Iraq dan Jazirah Arab. Mereka hijrah ke Syiraz, Qum, dan Khurasan.

Kita saksikan sekarang anak cucu dan keturunan mereka di berbagai pelosok Hadramaut dan di daerah pesisir lautan Hindia, seperti Asia Tenggara, India, dan Afrika Timur. Para da’i dan ulama-ulama mereka mempunyai peranan yang besar di tanah air mereka yang baru. Karena itu para penguasa, sultan, dan penduduk-penduduknya memuliakan mereka karena karya mereka yang baik dan agung.

Setelah berakhir hijrah ini ke tempat tinggal mereka di daerah-daerah yang baru, mereka biasanya berbaur dalam masyarakat dimana mereka tinggal, sebagaimana yang terjadi pada diri Imam Muhammad bin Ali Al-Uraidhi dan anak-anaknya hijrah dari Madinah ke Bashrah. Juga cucunya Ahmad bin Isa yang hijrah dari Bashrah ke Hijaz kemudian ke Hadramaut, lalu menetap disana. Anak cucunya juga berbaur dalam masyarakat yang baru. Setelah itu hijrah mereka yang pertama adalah ke India. Dari sana ke Asia Selatan dan juga ke Afrika Timur.

Kita menemukan juga pada sebagian orang di Afrika Selatan, dan juga para muslimin Filipina pengaruh darah Arab yang banyak. Khususnya anak-anak para penguasa dan pemimpin yang selalu menyebutkan kakek-kakek mereka yang orang Arab. Sebagian mereka, jika tidak kebanyakan dari mereka, mengaku bernasab pada keturunan para syarif Hadramaut. Demikian juga dengan sebagian anak-anak penguasa di kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia sebelum kemerdekaan. Demikian juga di Malaysia dan Brunei.

Dr. C. Snouck Hurgronye seorang orientalis Belanda mengatakan sesungguhnya “Tuanku Kota Karang” yang nerupakan seorang musuh yang terbesar bagi Belanda meyakini dan membela kepercayaannya bahwa pada darah penduduk Aceh mengalir darah Arab. Ia menyatakan hal ini dalam khutbah-khutbahnya yang keras melawan Belanda. Nama orang alim ini sebenarnya adalah Tuanku Abbas yang merupakan Qadhi pada kesultanan Aceh ketika berjuang melawan penjajahan Belanda dan juga penasehat Syeikh Sulaiman pemimpin pasukan jihad Islami.

Karena ini dapat dikatakan bahwa pembauran terjadi secara bertahap. Seandainya orang-orang yang hijrah itu tidak melebur dalam masyarakat setempat, niscaya keturunan Arab akan tetap jelas setelah melalui masa yang panjang. Padahal keadaannya tidak demikian.33

Dapat dikatakan bahwa para Syarif Hadramaut menyebarkan da’wah Islamiyah di Asia Tenggara melalui dua hijrah:

Yang pertama, hijrah para syarif yang datang pada masa Bani Umayah karena lari dari Iraq, setalah penindasan Bani Umayah terhadap Alawiyn. Tujuan mereka pada hijrah ini adalah pulau-pulau di Filipina.

Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad Al-Anshari dalam kitabnya “Nukhbatud-dahri fi ajaibil barri wal bahri” menerangkan tentang kedatang mereka. Ia mengatakan34 suatu kaum dari Alawiyin masuk pada enam pulau sebelah Timur yang dinamai Sila (Sili), lalu mereka menetap dan mempunyai anak keturunan di sana. Mereka memiliki tempat-tempat itu dan wafat di sana. Demikian yang dikatakan para ahli. Dan sebagian di antara pulau-pulau Sila adalah sebagian pulau-pulau Filipina sekarang. Penyebaran isalam pada masa ini terbatas dan tidak melewati daerah-daerah dan masa tertentu.

Adapun hijrah kedua mempunyai pengaruh yang besar dalam penyebaran Islam ke sebagian besar Asia Tenggara. Demikian pula masa sampai sekarang ini. Hijrah ini adalah setelah menetapnya anak cucu Imam Al-Muhajir.

Hijrah ini sampai ke Asia Tenggara melalui dua tahap, yaitu: Tahap pertama hijrah ke India. Kemudian pada tahap kedua dari India ke Asia Tenggara, atau langsung dari Hadramaut ke Asia Tenggara melalui pesisir India.

Sejarawan Hadramaut Sholah Al-Bakri dalam kitabnya “Tarikh Hadramaut”35 tahun 1936 mengatakan tidak diragukan lagi bahwa hijrahnya orang Arab Hadramaut ke Jawa dan ke pulau-pulau sekitarnya adalah hijrah terbesar dalam sejarah mereka. Mereka memasuki Timur jauh pada masa lautan penuh dengan bahaya. Lalu mereka turun di pulau-pulau yang subur itu. Diantara hasil terbesar hijrah ini adalah lenyapnya agama Budha dan tegaknya agam Islam

Hijrahnya para syarif hadramaut ke India lalu dari sana ke Asia Tenggara

Hijrahnya para syarif Hadramaut ke India dan dari sana ke Asia Tenggara, merupakan sebab dari ketidakpahaman sebagian besar sejarawan khususnya sejarawan Eropa. Kesalahan mereka adalah bahwa mereka menganggap para da’i yang datang ke Asia Tenggara adalah dari India.

Sebagian mereka membandingkannya dengan orang-orang terdahulu yang datang dari India, dimana mereka datang ke Indonesia dengan membawa agama Hindu dan Budha, sebagaimana dikatakan oleh Brian May dalam bukunya tentang Indonesia bahwa agama Islam menyerupai agama Hindu karena ia datang ke Indonesia dari India, menetap di sebagian Sumatera pada abad ke 13 Masehi sebelum berkembang ke berbagai pelosok Indonesia pada abad ke 15.36

Da’i Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab ketika memberikan catatan atas kitab “Hadhir Al-Alam Al-Islami” karya Amir Syakib Arsalan37 mengatakan:

Dari segi ini para sejarawan Eropa menerangkan secara serampangan tentang para da’i yang di tangan mereka orang-orang Jawa masuk Islam. Satu ketika mereka mengatakan bahwa para da’i ini berasal dari Gujarat. Sedang pada kesempatan lain mereka mengatakan bahwa para da’i ini adalah orang-orang Persi. Dalam masalah ini mereka hanya berputar-putar dan tidak lepas dari kebodohan.

Mereka berpendapat bahwa para da’i tersebut datang dari negeri-negeri itu tanpa mengetahui hakekat mereka yang sebenarnya. Sesungguhnya orang-orang Arab Hadramaut dengan dipimpin oleh para syarif Alawiyin sering pulang pergi ke Malabar, Gujarat, Kalikut, dan negeri-negeri lain di India. Di sana mereka mempunyai pusat-pusat perdagangan dan keagamaan. Dan banyak orang Alawiyin yang mempunyai asram-asrama yang terbuka untuk para penuntut ilmu. Banyak juga kapal-kapal yang pergi ke pesisir Hadramaut menuju Malabar kemudian ke pesisir India di sebelah Timur. Dari sana menuju Sumatera dan Aceh, kemudian ke Palembang lalu ke Jawa.38

Kita dapat membantah pendapat orang-orang Eropa itu karena berbagai sebab, yaitu:

Pertama, masalah hijrahnya para syarif Hadramaut dan menetapnya mereka di India.

Para syarif Hadramaut hijrah ke pesisir India dan menetap disana pada abad X Masehi atau sebelum itu, seperti keluarga Bani Abdul Malik bin Alwi “Ammul-Faqih Al-Muqaddam” bin Muhammad Shohib Marbath yang wafat pada tahun 613 H. Keturunannya tersebar di India dan mereka mempunyai keistimewaan dalam keberanian dan kekuatan. Mereka mendirikan kerajaan di sana yang terkenal dengan nama “Azhmat Khan”.

Di antara yang hijrah ke India adalah seorang alim Syarif Abdullah bin Husein bin Muhammad Bafaqih ke kota “Kanur” dan menikahi anak menteri Abdul Wahab dan menjadi pembantunya sampai ia wafat. Lalu Syarif Muhammad bin Abdullah Al-Aydrus yang terkenal di kota Ahmadabad dan Surat. Ia hijrah atas permintaan kakeknya Syarif Syeikh bin Abdullah Al-Aydrus. Ketika kakeknya tersebut wafat pada tahun 990 M ia menempati kedudukannya sampai tahun 1003 M ketika wafat di Surat.

Sultan Kharm berhubungan dengan Syarif Abubakar bin Husein Al-Aydrus yang wafat di kerajaan Abad pada tahun 1048 M. Juga raja Anbar berhubungan dengan Syarif Abubakar bin Husein bin Abdurrahman dari keluarga Ahmad bin Al-Faqih Al-Muqaddam. Sultan Bijapur yaitu Sultan Mahmud Syah bin Sultan ‘Aidil Syah juga berhubungan dengan syarif ini dan menjadikannya teman khususnya. Syarif ini adalah seorang yang pemurah kepada orang-orang yang datang kepadanya. Adapun Syarif Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Haddad adalah seorang penasehat dari raja Anbar yang juga berhubungan dengan Syarif Ja’far Ash-Shadiq bin Zainal Abidin Al-Aydrus (997-1064 M) di kerajaan Abad. Syarif ini datang mengajar di daerah Deccan dan mengajar bahasa Persi dan menterjemahkan kitab “Al-Aqd Al-Nabawi” ke dalam bahasa tersebut. Sultan Burhan Nizham Syah juga berhubungan dengannya. Mereka semua mempunyai kedudukan di sisi sultan Haidarabad dan lainnya.

Al-Allamah Syarif Baqir bin Umar bin Aqil Bahsan Jamalullail pulang pergi ke India sampai wafat pada tahun 1076 M sesudah ia kembali ke Hadramaut di kota Tarim.

Buku-buku biografi penuh dengan orang-orang yang hijrah ke berbagai daerah dan menetap di daerah-daerah itu. Sebagian keluarga-keluarga Arab itu telah melebur dalam masyarakat itu sedangkan yang lainnya masih dikenal di India dan di Asia Tenggara. Di antara mereka adalah:39 Keluarga Al-Qadri, Al-Muthahhar, Al-Haddad, Al-Basyaiban, Khaneman, Al-Aydrus, bin Syahab, bin Syeikh Abubakar, As-Saqqaf, Bafaqih, Jamalullail, Al-Habsyi, Asy-Syatiri, Al-Baidh, Aidid, Al-Jufri. Keluarga ini semua keturunan dari Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa.

Yang kedua, sulitnya mengarungi lautan dari Hadramaut ke Asia Tenggara tanpa melalui India.

Sungguh merupakan suatu hal yang sangat sulit jika tidak mustahil mengarungi lautan langsung dari Hadramaut ke Asia Tenggara, khususnya karena kiata mengetahui bahwa kapal-kapal perniagaan yang sederhana yang menuju ke India dan dari sana ke Asia Tenggara.

Bahkan kapal-kapal modern pada masa kita sekarang pun harus melalui pelabuhan India untuk mengambil perbekalan bahan bakar, makanan, air, dan persiapan-persiapan lainnya sebelum menuju ke Asia Tenggara karena jarak dari Hadramaut ke Asia Tenggara sangat jauh.

Da’i Muhammad Abdurrahman bin Syahab mengatakan:40

“yang dimaksudkan adalah mungkin orang-orang Eropa yang mengatakan tentang hal ini telah mempunyai persangkaan yang salah dikarenakan para da’i itu datang melalui jalan India.”

Hal tersebut diatas memang benar karena tidak seorang pun yang mengarungi lautan dari Hadramaut ke Jawa, melainkan mereka menuju kesana melalui India. Dan disana terdapat markas mereka, bahkan disana telah berdiri kerajaan-kerajaan dimana para pekerja yang mendirikannya adalah sebagian syarif Hadramaut, seperti kerajaan Anbar.

Sebagian di antara pekerja dalam mendirikannya adalah berdasarkan petunjuk-petunjuk Syarif Ali bin Alwi bin Muhammad Al-Haddad. Karena itu terdapat kisah yang aneh yang disebutkan dalam kitab “Aqdul jawahir wad-durar” dan dinukilkan oleh pengarang Khulashoh Al-Atsar. Silahkan anda membacanya. Sedangkan Amir Jauhar Saharti tidak lain adalah murid dari Al-Imam Syeikh bin Abdullah Al-Aydrus.

Di antara penyebab timbulnya persangkaan yang salah dari para sejarawan Eropa tersebut adalah pakaian yang dikenakan oleh orang-orang Alawiyin mirip dengan yang dikenakan oleh para ulama Persi. Dalam perkataan-perkataan mereka terdapat persangkaan-persangkaan yang dapat diketahui oleh setiap pengamat.

Perlu disebutkan bahwa memang ulama-ulama Hadramaut mengenakan pakaian dan sorban hijau mirip dengan yang dikenakan oleh ulama-ulama Persi. Keserupaan ini disebabkan karena keduanya berasal dari asa yang sama. Sesungguhnya yang mengenakan sorban hijau biasanya adalah para ahlul bait. Di sana (Persi) terdapat sebagian cabang dari keturunan Imam Ja’far Ash-Shadiq. Sedangkan pada masa yang sama terdapat cabang lain yang hijrah ke Hadramaut yaitu keturunan Imam Al-Muhajir bin Isa.

Yang ketiga, perbedaan mazhab antara orang India dan para syarif Hadramaut.

Seandainya kita kembali ke India, kita akan dapati diantara mereka sejumlah besar orang syiah dan firqah-firqah lainnya. Orang-orag sunninya bermazhab Hanafi. Sedangkan para da’i yang menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara adalah bermazhab Syafi’i yang merupakan mazhab para syarif Hadramaut. Adanya perbedaan ini adalah bukti terbaik bahwa mereka yang datang dari India atau melalui India dan menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara adalah para syarif Hadramaut yang menetap di India atau datang dari Hadramaut melalui jalur India.

Ada orang yang menggunakan kata ‘Al-Magharibah’ terhadap satu cabang keluarga Al-Basyaiban yang termasuk syarif Hadramaut dan menghubungkan nasab mereka dengan para da’i dari Maghrib. Mungkin mereka menggunakan nama itu untuk keluarga Al-Basyaiban ini karena mereka datang dari sebelah Barat pulau Jawa dan letak semenanjung Arab dimana Hadramaut terletak di sebelah Selatannya adalah di sebelah Barat jika dilihat dari Jawa.

Kubur-kubur yang terdapat di Mojoagung merupakan suatu contoh dari nasab mereka. Diantara mereka adalah Kyai Al-Allamah Mansur bin Thoha bin Muhammad bin Baqir bin Mujahid bin Ali Asghor bin Ali Akbar bin Sulaiman bin Abdurrahman bin Umar bin Muhammad bin Ahmad Abibakar Asy-Syaibani yang dikuburkan didaerah Mojoagung.

Terdapat sejumlah besar Al-Basyaiban di Cirebon, Pekalongan, Balikpapan, dan sebagainya. Dan Abdurrahman dimana nasab mereka (keluarga Al-Basyaiban) kembali kepadanya, wafat pada tahun 973 H dan anaknya Abdullah wafat di Aceh dan mempunyai keturunan di India, di Balqam, dan di Deccan.41


BAB III

Sejarah masuknya islam ke asia tenggara

Ada beberapa pendapat tentang masuknya Islam ke Asia Tenggara. Kami akan membatasi pada dua pendapat saja. Yang pertama pendapat orang-orang Eropa dan yang kedua pendapat sejarawan Arab dan muslim.

Pendapat orang-orang Eropa Barat

Orang-orang Eropa menghubungkan temuan-temuan geografi kepada penyelidikan bangsa mereka. Bahkan masuknya Islam ke Asia Tenggara pun mereka kembalikan kepada temuan seorang bangsa mereka yaitu seorang pengembara Italia yang bernama Marcopolo.

Hal ini adalah sesuatu yang tidak kita sukai dan tidak menggambarkan kenyataan yang sebenarnya. Seolah-olah sejarah masuknya Islam ke daerah tersebut tidak diketahui oleh dunia pada umunya dan oleh orang-orang Islam dan Arab pada khususnya, kecuali ketika orang Eropa ini (Marcopolo) datang ke Sumatera dan menemukan orang Islam disan dan mengungkapkannya. Seolah-olah juga orang Islam tidak mengetahui hal itu kecuali melalui orang Eropa ini.

Dari kenyataan ini maka kita wajib untuk tidak menghubungkan tiap sesuatu kepada orang Kristen Barat, melainkan kepada kenyataan ilmiah. Sejarah masuknya Islam ke Asia Tenggara dan peran yang dimainkan oleh para Syarif Hadramaut tidak diketahui oleh orang Barat atau mereka sengaja tidak menunjukkan hal itu.

Walau demikian kami akan mengemukakan apa yang disebutkan oleh orang-orang Barat, lalu apa yang dikatakan oleh orang Arab dna muslimin. Pendapat sebagian besar sejarawan Eropa secara mutlak berpegang pada apa yang disebutkan oleh pengembara Italia Marcoplo bahwa masuknya Islam ke Asia Tenggara adalah pada abad ke 13 Masehi di sebelah Utara pulau Sumatera dan mereka membatasi pendapat mereka pada perjalanan Marcopolo ini ke daerah tersebut pada 1292 M dengan perkataannya seperti yang termuat didalan buku “Ensiklopedia Dunia Islam”.42

“ sesungguhnya semua penduduk negeri ini adalah penyembah berhala kecuali di kerajaan kecil Perlak yang terletak di Timur Laut Sumatera dimana penduduk kotanya adalah orang-orang Islam. Sedangkan penduduk yang tinggal di bukit-bukit mereka semuanya adalah penyembah berhala atau orang-orang biadab yang memakan daging manusia”

M. C. Ricklefs dalam bukunya tentang sejarah Indonesia modern mengatakan:

“Penetapan pertama tentang Islam dan orang-orang muslim di Indonesia adalah bahwa pertama mereka berada di bagian Utara Sumatera ketika Marcopolo melihat mereka sewaktu ia kembali dari perjalanannya dari negeri China tahun 1292 M ketika itu ia mendapati Perlak sebagai kota orang-orang Islam sedangkan dua daerah yang terdekat dengannya yaitu Basma dan Samara bukan Islam. Keduanya biasanya disebut bersama-sama dengan daerah Islam Pasai.

Karena penamaan ini sebelum kedatangan Marcopolo, maka hal ini menimbulkan tanda tanya. Mungkin saja daerah Samara buka Samudra itu sendiri. Tetapi jika ya demikian, maka Marcopolo salah ketika mengatakan kota itu bukan kota Islam. Karena sesungguhnya di sana terdapat beberapa batu bertulis dan merupakan pemerintahan Islam pertama di Samudra. Sultan Malaka yaitu Shaleh berada di sana tahun 696 H (1297 M). Dengan demikian itulah masa pertama yang jelas tentang adanya masyarakat Islam yang pertama di Indonesia dan Malaysia.”43

Dari pembahasan tadi jelaslah bahwa Islam benar-benar ada dan tersebar diantara para penduduk Sumatera bagian Utara dan daerah Malaka di Malaysia sebelum kedatangan Marcopolo. Hanya kita belum bisa memastikan secara tepat sejarah masuknya Islam di daerah ini dan kapan penduduknya memeluk agama yang hanif (lurus) ini. Karena itu dapat dikatakan bahwa Islam telah tersebar sebelum kedatangan Marcopolo ke daerah itu. Kalau tidak bagaimana penduduk daerah itu memeluk agama Islam ketika ia datang ?

Karena itu kita yakin bahwa merupakan suatu kesalahan menghubungkan masuknya Islam dengan kunjungan Marcopolo ke Sumatera. Untuk itu kami akan kemukakan pendapat sejarawan Arab dan Muslim yang paling dekat dengan kebenaran karena kedekatan mereka dengan tempat-tempat kejadian dan mereka juga penduduk daerah itu serta mengalir darah Arab di dalam diri sebagian mereka.

Pendapat Sejarawan Arab dan Muslim

Kami akan kemukakan beberapa pendapat sejarawan Arab dan Muslim tentang sejarah Asia Tenggara sebagai berikut:

  1. Muhammad Dhiya ‘Syahab dan Abdullah bin Nuh dari Indonesia mengatakan:44

“ Banyak buku-buku sejarah dari Barat dan orang-orang yang mengikutinya yang mengira bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 13 M, tetapi saya berkeyakinan bahwa masuknya Islam ke Asia Tenggara jauh sebelum masa yang diduga oleh orang-orang asing itu dan para pengikut mereka,”

  1. Mufti kesultanan Johor, Malaysia Syarif Alwi bin Thohir Al-Haddad mengatakan:45

“Pendapat-pendapat para sejarawan tentang masuknya Islam ke Asia Tenggara adalah tidak tepat. Terutama pendapat sejarawan Eropa yang menetapkan masuknya Islam ke Jawa pada tahun 800-1300 H, di Sumatera dan Malaysia pada abad ke 7 Hijriah. Kenyataan yang benar bertentangan dengan apa yang mereka katakan. Karena sesungguhnya Islam telah mempunyai raja-raja di Sumatera pada abad ke 6 bahkan ke 5 Hijriah.”

Kemudian ahli sejarah dan mufti ini mengatakan:

“Kami telah menyebutkan kesalahan yang terjadi tentang masuknya Islam ke Sumatera, negeri-negeri Melayu, Kepulauan Sulu dan Mindanao. Islam telah masuk ke daerah-daerah tersebut sebelum waktu yang disebutkan oleh orang-orang Eropa. Bukti-bukti telah menunjukkan hal tersebut. Demikian juga yang terjadi tentang masuknya Islam ke Jawa dan China.

Rahasia (kunci) kesalahan ini sebagaimana dikatakan adalah, bahwasanya orang-orang Jawa tidak mempunyai penanggalan tahunan yang tepat sebelum masuknya Islam dan sesungguhnya hal itu terjadi jauh setelah itu dan dimasukkan pada kejadian-kejadian dalam sejarah.

Orang-orang yang mengatakan demikian mempunyai beberapa bukti, di antaranya bahwasanya mereka (orang-orang Jawa) menyebutkan kelahiran Sunan Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Uluwwul Islam Makhdum Ishaq pada tahun 1355 tahun jawa, dan ayahnya masuk ke Jawa setelah masuknya Syarif Al-Husainy Raja Carmen yang masuk pada tahun 1313 tahun Jawa. Setelah itu masuk raden Rahmat, seorang penyebar Islam di Jawa Timur,tahun 1316 tahun Jawa. Bibinya yang merupakan anak Raja Campa yang menjadi istri raja Majapahit menerimanya dengan penerimaan yang baik.

Mereka menyebutkan tentang menetapnya bibinya ini dalam masa kehidupan yang panjang sampai jatuhnya ibukota Majapahit di tangan orang-orang Islam. Para peneliti menemukan makamnya yang masih terpelihara di pekuburan Majapahit yang bergaya Islam dan dituliskan di atasnya tahun wafatnya pada tahun 1320 tahun Jawa.

Keterangan-keterangan di atas ditambah lagi dengan apa yang disebutkan oleh sejarah-sejarah Sulu dan Mindanao, bahwasanya Makhdum datang ke daerah-daerah tersebut sebagai da’i pada tahun 1380 M yaitu tahun 782 H bertepatan dengan 1308 tahun Jawa. Maka antara masuknya Makhdum Ishaq ke Jawa dan tahun ini terdapat perbedaan yang tak kurang dari 47 tahun.

Mereka juga mengatakan bahwa Raden Fatah (Abdul Fatah) dilahirkan kurang lebih pada tahun 1313 tahun Jawa dan mengalahkan ayahnya yang memerintah Majapahit dan menyingkirkannya pada tahun 1402 tahun Jawa. Maka usia Raden Fatah ketika itu 89 tahun, maka berapa usia ayahnya ketika itu?

Kesemuanya itu dan lain-lainnya yang tidak kami sebutkan, membuktikan bahwa penanggalan tersebut dibuat-buat, dimasukkan atau ditambahkan begitu saja pada peristiwa-peristiwa sejarah.

Cara-cara yang tepat dapat membawa kepada hakekat permasalahan ini yang sebenarnya adalah mengambil tahun kejadian-kejadian masuknya Islam ke Jawa dengan sejarah nasuknya Islam ke Sumatera, Sulu, Mindanao, Brunei, Campa, dan Carmen. Sesungguhnya para da’i Islam telah berhasil di daerah-daerah tersebut sebelum berhasilnya da’i-da’i Islam di Jawa. Dan sesungguhnya Islam dapat berkuasa di Jawa Timur dan dan Jawa Barat sesudah atau semasa dengan berkuasanya di tempat lain, sehingga dapat menyamai Sumatera dalam hal itu. Tahun-tahun kejadiannya adalah tepat dengan dituliskannya tahun-tahun wafat raja-raja Islam pada batu-batu diatas kubur dengan penanggalan Hijriah. Sebagian dari hal itu telah disebutkan sebelum ini.

Dan diantara kuburan-kuburan dan tulisan-tulisan diatas batu-batu kubur dari marmer adalah yang terdapat di Brunei, sebagaimana juga terdapat di Sumatera dan Gresik, di Jawa”

Pada bagian lain berkata mufti Alwi bin Thohir Al-Haddad ini:46

“Sesungguhnya sebagian sejarawan yang dapat dipercaya mengatakan bahwa tegaknya da’wah Islamiyah di daerah-daerah pulau Jawa bagian Timur pada tahun 648 H. Yang demikian itu didapat dari perjanjian antara kerajaan-kerajaan Islam tersebut dengan Ratu dari Pasundan yang terdapat pada catatan-catatan sejarah.

Ahli sejarah ini dapat dipercaya dan dikenal karena ia telah mengumpulkan data-data dari sumber-sumber sejarah Indonesia yang tidak oernah dikumpulkan oleh seorangpun sebelumnya. Kebanyakan orang yakin bahwa Islam telah masuk ke Sumatera sekitar tahun 1270-1275 M atau tahun 670-675 H. Sebenarnya Islam telah tersebar disana sejak tahun 1100 M atau tahun 597 H sebagaimana ditunjukkan oleh sebagian tulisan-tulisan yang merupakan bukti-buktinya. Yang demikian itu adalah hasil dari penelitian yang dilakukan oleh seorang alim Syarif Muhammad bin Ahmad bin Semith Al-Alawy Al-Husainy Al-Hadhramy yang disebarluaskan pada tanggal 22 Jumadil Akhir 1352 H bertepatan dengan 8 Oktober 1933 M.”

  1. Adapun Dr. Muhammad Zaitun47 mengatakan:

“Walaupun para sejarawan menyebutkan masuknya Islam ke Malaysia pada abad ke-6 H (abad ke 12 M), pendapat yang lebih kuat adalah Islam telah mask kesana jauh sebelum itu. Mungkin tahun yang disebutkan oleh mereka hanya menjelaskan catatan-catatan sejarah (prasasti) yang sampai kepadanya sesudah pemerintah wilayah-wilayah tersebut memeluk agama Islam dan terbentuk kesultanan-kesultanan Islam di daerah tersebut. Di Malaysia, wilayah kedah adalah wilayah yang paling cepat memeluk Islam.”



BAB IV

para syarif hadramaut dan peranan mereka dalam penyebaran islam di asia tenggara

Para Syarif Hadramaut memainkan peranan yangn besar dalam da’wah Islamiyah di Asia Tenggara. Baik sejarawan Arab maupun Barat telah menyebutkan tebtang mereka dan peranan mereka. Sesungguhnya hijrahnya mereka dari Hadramaut di Arab ke tempat yang jaraknya ribuan mil melalui laut tidak ditujukan kecuali untuk menyebarkan Islam di daerah-daerah yang jauh dari negeri mereka, dan bukan untuk mencari keuntungan material maupun moral.

Sejarawan Yaman Muhammad Abdul Qadir Bamuthrif mengatakan:48

“Orang-orang Alawiyin memulai hijrah mereka dari hadramaut, lalu mereka melalui benua Asia dan Afrika. Di sana sampai kini terdapat keluarga-keluarga mereka yang sebagiannya mempunyai peran yang diingat dalam berbagai segi aktifitas kemanusiaan. Secara khusus sebagian orang-orang Alawiyin yang hijrah mempunyai peran yang penting dalam menyebarkan da’wah Islamiyah di Afrika Timur, di pulau-pulau di lautan Hindia, di India, kepulauan Melayu, Indonesia, dan Filipina.”

Alwi bin Thohir Al-Haddad mengatakan:49

“Pembahasan ini tidak jauh dengan apa yang telah kami sebutkan tentang pembicaraan mengenai silsilah para syarif Alawy, puncak kemunculan dan tersebarnya mereka, peranannya dalam menyebarkan Islam di pulau-pulau dan wilayah-wilayah yang jauhnya dari negeri mereka sampai lima ribu mil, dan juga apa yang mereka sebarkan dan jelaskan dari ajaran-ajaran agama. Mereka mengajak umat yang berbeda-beda dan banyak jumlahnya ke dalam agama Islam sehingga puluhan juta orang masuk Islam. Mereka mendirikan kerajaan-kerajaan Islam berdasarkan hukum-hukum syariah sehingga sampai ke kepulauan Halmahera, dan yang berdekatan dengan pulau Papua (Irian), dan yang disebutkan sebelumnya sebagai kepulauan ‘Wak-wak’ pada masa dahulu sebelum wilayah itu dikuasai oleh orang Barat.”

Mereka melakukan hal itu tanpa pasukan kecuali keinginan yang kuat, tanpa kekuatan kecuali keyakinan dan keimanan, tanpa bekal kecuali tawakal, dan juga tanpa kapal-kapal laut ataupun peralatan perang. Tidak ada pada mereka kecuali keimanan dan Al-Qur’an. Mereka dapat mencapai apa yang tidak dapat dicapai oleh beribu-ribu orang yang mempunyai jumlah dan perbekalan yang banyak.

Sesungguhnya kenanganku kepada sejarah para da’i yang baik ini yang mengarungi lautan dan menghadapi daerah-daerah yang menakutkan adalah suatu hak mereka yang wajib atas diri kita, bahkan termasuk hak-hak agama Islam dan hak Nabi kita Muhammad SAW yang memerintahkan kita menyampaikan ajarannya dan berda’wah.

William Langer mengatakan:50

“Kerajaan Majapahit pada abad ke 14 M mendirikan kerajaan perdagangan yang kekuasaannya meluas sampai ke Brunei, Sumatera, pulau-pulau di Filipina, dan Semenanjung Melayu tetapi antara tahun 1405-1407 M dengan cepat kesultanan Islam Arab dapat menempati tempat Majapahit pada abad ke-15 M. Perjuangan Islam meluas dari kedudukannya yang utama di Malaka ke seluruh pulau-pulau di Asia Tenggara. Secara resmi sekitar 20 kerajaan-kerajaan kecil memeluk Islam.”

Gustav Le Bon mengatakan:51

“Kita tidak pernah menyaksikan dalam sejarah suatu umat yang mempunyai pengaruh yang nyata seperti orang Arab. Semua umat yang berhubungan dengan orang-orang Arab akan mengikuti peradaban mereka walaupun sebentar. Ketika orang-orang Arab hilang dari pentas sejarah, penakluk-penakluk mereka seperti Turki dan Mongol mengikuti tradisi mereka”

Ya, memang peradaban Arab telah mati sejakk beberapa abad yang lalu, tetapi dunia tidak mengenal di negeri-negeri yang membentang dari pantai lautan Atlantik sampai ke India dan dari laut Tengah sampai ke padang pasir, selain pengikut-pengikut Nabi Muhammad SAW dan bahasa mereka.

Itulah yang dikatakan oleh Gustav Le Bon tentang peran orang-orang Arab dalam menyebarkan Islam. Seandainya kita tahu bahwasanya para Syarif Hadramaut dari keturunan Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa adalah yang menyebarkan da’wah Islamiyahm dan bahwa cita-cita mereka yang pertama, yang terakhir dan satu-satunya adalah menyampaikan risalah Islam tanpa niat lain dari nafsu duniawiyah maka itulah di antara sebab-sebab yang terpenting yang membantu cepatnya penyebaran Islam sehingga penduduk Asia Tenggara memeluknya, dan juga menjadi dekat dan menghormati mereka karena akhlak mereka dan perjuangan mereka dalam menyebarkan da’wah Islamiyah yang ikhlas karena Allah SWT.

Van Den Berg mengatakan:52

“Sesungguhnya pengaruh yang besar dlm penyebaran Islam adalah dari para Sayid/Syarif. Ditangan mereka tersebarlah Islam diantara para sultan-sultan Hindu di Jawa dan lainnya. Seandainya ada orang-orang Arab Hadramaut selain mereka, mereka tidak mempunyai pengaruh seperti tu. Sebab dari kenyataan ini adalah karena mereka keturunan dari pembawa risalah yang membawa ajaran Islam”

Adapun Muhammad bin Abdurrahman bin Syihab telah menyebutkan dalam kitab “Hadhir Al-‘Alam Al-Islami” karangan Syakib Arsalan:53

“ Datuk-datuk kita mempunyai keahlian dalam menetapkan nasab sehingga mereka menjadikan sebuha sejarah yang khusus untuk gelar-gelar, demikian juga sejarah yang khusus mengenai ibu-ibu mereka, demikian selanjutnya. Tetapi mereka tidak mengharap pujian karena karya-karya mereka di negeri-negeri dimana mereka pergi dan menyebarkan da’wah Islamiyah disana karena mereka cenderung untuk tawadhu’, menaklukkan hawa nafsu, dan tidak rela menurutinya. Tetapi kita perlu menyebutkan dan menyebarkannya sekarang, karena orang-orang yang sadar telah mengetahuinya. Sebuah ungkapan menyatakan jika seorang tidak menghiraukan isyarat burung balam pada malam hari, niscaya ia akan tidur (tanpa mengetahui bahaya yang mengancam).

Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa bukti dan sejarah penyebaran da’wah serta para da’i pertama yang menyebarkan di Asia Tenggara.

Hasil seminar masuknya islam di Indonesia

Dari tanggal l7 sampai dengan 20 maret 1963 di kota Medan telah diadakan seminar tentang masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia yang dihadiri oleh sejumlah besar budayawan dan sejarawan Indonesia. Mereka membicarakan tentang masuknya Islam di Indonesia, cara-cara berkembangnya, dan orang-orang yang membawanya.

Setelah dilakukan pembahasan dan diskusi maka seminar memutuskan:54

  1. Dari sumber-sumber yang kami telaah maka kami mengerti bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kali pada abad pertama Hijriah (antara abad ke-8 dan ke-9 Masehi).
  2. Daerah pertama yang dimasuki Islam adalah pantai Sumatera bagian Utara. Setelah terbentuknya masyarakat Islam dn setelah mendapatkan kebebasan dalam bidang politik maka raja Muslim pertama adalah di daerah Aceh.
  3. Orang-orang Indonesia setelah itu mempunyai peran dalam da’wah Islamiyah.
  4. Sbagian da’i-da’i pertama adalah para pedagang.
  5. Da’wah Islamiyah berlangsung secara damai.
  6. Islam mendatangkan kebudayaan dan peradaban yang tinggi bagi Indonesia yang merupakan unsur-unsur pembentuk kepribadian Bangsa Indonesia.
  7. Merupakan suatu hal yang penting adanya suatu badan yang melakukan suatu penelitian dan penyusunan tentang sejarah Islam di Indonesia dalam bentuk yang lebih luas dan tetap. Kami berpendapat badan ini sebaiknya berada di Medan dengan mendirikan cabang-cabangnya di berbagai tempat yang penting, terutama di Jakarta.

Ketetapan Majlis Musyawarah

Masjlis Musyawarah berkumpul untuk membahas masuknya Islam ke Indonesia dan dihadiri oleh 165 orang ulama. Keputusannya dalam bentuk sebuah risalah dikirimkan kepada:

Menteri Agama di Jakarta

Menteri Penghubug Alim Ulama di Jakarta

Kepala Kantor Penerangan Agama di Surabaya

Kepala Kantor Penerangan Agama di Pasuruan

Inilah keputusannya:55

Majlis Musyawarah, Tuan Wagiri Pasuruan.

No.63

Hal: Masuknya Islam Ke Indonesia

Pasuruan 12 Mei 1962

Yth. Sdr. Ketua Seminar Masuknya Islam ke Indonesia

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Dengan hormat.

Kami atas nama Majlis Musyawarah menyampaikan bahwa Mjlis Musyawarah dalam pertemuannya yang ketiga pada 8 Dzulhijjah 1382 H bertepatan dengan 20 April 1962 yang dihadiri oleh sekitar 165 ulama setelah mendengarkan, membahas, dan mencari bukti-bukti tentang hal tersebut di atas memutuskan bahwa yang pertama memasukkan Islam ke Indonesia adalah para Syarif Alawiyin dari Hadramaut yang bermazhab Syafi’i.

Demikianlah, semoga dapat dimaklumi dan dapat diamalkan sebagaimana mestinya. Terima kasih.

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Ketua, H. Ahmad Khalil Nawawi

Wakil Sekretaris Abdul Ghani Ali

Atas nama Majlis Musyawarah Tuan Wagiri Pasuruan

Masuknya Para Syarif Hadhramaut ke Aceh, Sumatera

Seperti diketahui daerah pertama yang dimasuki Islam terletak di Pulau Sumatera, khususnya di bagian Utara. Yang demikian itu dapat kita perhatikan pada bab dua hasil seminar di kota Medan bahwa Aceh adalah daerah pertama di Indonesia yang dimasuki Islam. Kitab-kitab Melayu menyebutkan bahwa raja muslim pertama yang memerintah Aceh adalah Jenan Syah pada tahun 1205 M. Ia bukan penduduk asli negeri tersebut, melainkan datang dari luar dan menikah dengan penduduk asli. Lalu mereka menerimanya sebagai raja.56

Syarif Hadramaut yang termasuk pertama datang ke Aceh adalah Syarif Ahmad bin Muhammad bin Abubakar Asy-Syili. Kerajaan Aceh memuliakannya pada masa itu dan salah seorang menterinya menikahkannya dengan seorang anak gadisnya. Lalu ia tinggal dan mempunyai keturunan disana. Sebelum itu telah ada beberapa orang syarif Hadramaut yang telah memasuki Aceh. Di antara mereka adalah Syarif Abubakar bin Husein yang wafat tahun 1000 M. Juga Syarif Abubakar bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Umar bin Alwi Asy-Syathiri. Pada masanya banyak yang masuk ke Aceh dan tersebar di sana pada awal abad ke 11. kurang lebih pada masa yang sama Syarif Ali bin Umar bin Ali Ba’mar masuk ke pulau Jawa, lalu menyebarkan da’wah Islamiyah disana.57

Mengenai hal tersebut Muhammad bin Abdurrahman bin Syahab mengatakan:58

“Seandainya hal seperti ini dibentangkan kita akan melihat kesalahan para sejarawan Eropa dalam menerangkan orang pertama yang masuk ke negeri-negeri Jawa dan mengislamkan penduduknya.”

Apakah Sayid Ibrahim yang dikuburkan di Gresik dan yang ditangannya penduduk Jawa memeluk Islam bukan dari kalangan Alawiyin? Sekali-kali tidak.

Seandainya pangkal pertama dari sejarah nasab Alawiyin dibentangkan pada kita, niscaya kita akan dapat memperoleh bukti-bukti mengenai banyak hal. Tetapi sangat disayangkan mereka (sejarawan Barat) mereka cukup dengan sejarah nasab yang ada pada mereka yang menukil dari pangkal pertama itu, tanpat menggabungkannya dengan apa yang disebutkan oleh orang-orang yang tidak berhubungan dengan mereka di tempat-tempat yang jauh.

Dimana pangkal sejarah nasab yang dikarang oleh Abul Hasan Ali bin Abubakar bin Syeikh As-Saqqaf yang ternama “Al-Jawahir As-Saniyyah fi nasabah Al-‘Itrah Al-Huseniyyah”, yang dikumpulkan dan diperbaiki setelah itu oleh Sayid Ali bin Ahmad bin Ali bin Hasan Abu Jabhat, dan yang kemudian dikumpulkan dan diterbitkan oleh Tajul-Arifin Zainal Abidin Al-Aydrus?

Memang sejarah nasab yang sebelumnya diterbitkan oleh Syeikh bin Abdullah Al-Aydrus disangka hilang. Tetapi kemudian didapatkan oleh Sayid Abdurrahman bin Syeikh Al-Kaff. Selain itu terdapat pula satu naskah yang berharga yang didapatkannya pada koleksi Syarif Alawiyin dari kalangan Al-Aydrus di India. Di dalamnya disebutkan tentang banyak orang yang pindah dari Hadramaut dari kalangan para syarif.

Disamping itu dalam kitab “Al-Masyra’ Al-Rawi” sejumlah nama ulama syarif Alawiyin Hadramaut yang masuk ke Indonesia beberapa abad sebelum kedatangan Belanda, khususnya ke daerah Aceh.

Diantara orang-orang yang terkenal disana adalah Syarif Hasyim yang memainkan peranan yang penting dalam peperangan yang terkenal dengan perang Bugis sebelum penjajah Belanda dan yang lainnya menduduki Indonesia. Keluarga Hasyim adalah termasuk dari kalangan Syarif Alawiyin “Aal Ammul Faqih Al-Muqaddam” bin Shohib Mirbath dari Zhufar. Banyak terdapat dari mereka di daerah Banjar, pulau Kalimantan dan di Ceylon (Srilangka).

Nasab mereka berpangkal kepada Syarif Hasyim bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi yang dikenal dengan ‘Ammul Faqih’. Ada orang yang lebih dahulu dari mereka masuk ke Aceh yaitu Sayid Hasyim bin Muhammad, yang wafat pada tahun 678 H, bin Abdullah bin Mubarak bin Abdullah yang wafat pada tahun 884 H bin Muhammad bin Abdullah Ba ‘Alawi,

Didaerah Aceh ada beberapa pemakaman yang terdiri dari banyak makam Syarif Alawiyin. Ada sejumlah sultan dari kalangan Syarif yang memegang pemerintahan di daerah itu yang dikenal oleh penduduknya sampai sekarang dengan sebutan ‘Habib’, yang merupakan kata yang digunakan untuk setiap orang dari Arab dari kalangan Syarif.59

Di daerah itu kita dapati kuburan beberap sultan dan raja, diantaranya kubur Al-Malik Al-Kamil yang memerintah Aceh. Kemudian setelah itu Al-Malik Ash-Sholih yang menggantikannya di kampung Blang Mey dengan kuburan-kuburan lain yang banyak. Pada batu nisan sebagian kubur itu terdapat tulisan-tulisan yang dipahat, sebagiannya dari marmer, sebagian lagi dari batu granit.

Diatas kubur Al-Malik Al-Kamil tertulis keterangan bahwa ia wafat pada hari Ahad tanggal 7 Jumadil Ula thun 607 H bertepatan dengan 1210 M. Juga terdapat kubur sepupunya seorang panglima dimana penduduk daerah Kayu dan daerah-daerah yang terletak di sebelah Barat Sumatera masuk Islam melalui perantaraannya, yaitu Al-Malik ash-Sholih yang wafat pada tanggal 8 Ramadhan tahun 696 H bertepatan dengan 1296 M. Diantara yang tertulis diatas kuburnya adalah kalimat-kalimat berikut ini:60

Sesungguhnya dunia itu fana, tidak ada yag tetap didunia

Sesungguhnya dunia itu bagaikan rumah, yang dibuat laba-laba

Cukuplah bagimu wahai penuntut ilmu, makanan darinya

Yang sedikit saja, karena setiap yang berada didunia akan mati

Setelah ia wafat yang memegang pemerintahan adalah anaknya, Sultan Muhammad Azh-Zhahir yang wafat pada malam ahad tanggal 12 Dzulhijjah 726 H yang bertepatan dengan 1325 M. Setelah ia wafat yang memerintah Sultan Ahmad bin Sultan Muhammad Azh-Zhahir, ia wafat pada hari jumat tanggal 4 Jumadil Akhir tahun 809 H bertepatan dengan 1407 M. Setelah itu yang memegang pemerintahan adalah Ali Zainal Abidin, kemudian saudara kandungnya Shalahudding, kemudian Abdullah bin Shalahudin dan istrinya yaitu Ratu Bahiyyah binti Zainal Abidin yang wafat tahun 811 H bertepatan dengan 1408 M, kemudian saudaranya Johan Parabu yang wafat pada tahun 848 H (1444 M) dan lain-lain.

Dari keluarga-keluarga inilah berasal orang-orang tua dari raja-raja Brunei, Carmen, Serawak, Sulu, Sebu, Mindanao, Kanawi yang disebut Al-Alawiyah sebagaimana yang disebutkan oleh Dr. Najeeb Shaliby pada fasal yang menerangkan tentang kumpulan pulau-pulau yang jumlahnya mencapai 1700 pulau dan juga menyebutkan perbatasan-perbatasan negeri.61

Sembilan Da'i islam (Wali Sanga)

Para da’i yang menyebarkan Islam dalam sejarah Jawa dikenal dengan nama Sunan Auliya atau Syarif Auliyai. Kebanyakan dari mereka adalah keturunan dari Syarif Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi “Ammul Faqih Al-Muqaddam” salah satu cucu dari Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Dr. Najeeb Shaliby telah menyebutkan tentang mereka. Begitu juga para sejarawan Indonesia dan Sejarawan Barat.

K.H. Abdullah bin Nuh, ketua Badan Pembahasan Keislaman di Indonesia telah mengajukan bahasan (makalah) di kota Medan pada Seminar Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia pada tanggal 17-20 Maret 1963. mengenai keluarga Abdul Malik ia mengatakan:62

“ Disini terdapat keluarga syarif yang telah benar-benar melebur dalam masyarakat muslim Indonesia, yaitu keluarga Abdul Malik di India dan di Pakistan dikenal dengan nama Al’Azhmar Khan. Kita telah mengetahui bahwa Syarif Abdul Malik ini adalah termasuk keturunan Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq.”

Diantara keluarga Abdul Malik ini adalah para da’i terdahulu yang dikenal denga nama “Sunan”. Diantara mereka adalah Sunan Ampel, Sunan Giri, dan yang lainnya. Raja-Raja dan para pemimpin di Banten, Palembang, Cirebon, Sumedang, Cianjur, dan Sebagainya juga berasal dari keluarga ini. Dari keluarga ini juga terdapat banyak para ulama dan zhuama pada masa sekarang di Indonesia. Dr. Ahmad Syalabi mengatakan bahwa pada perkembangan Islam menjadi jelas pada abad ke 13 melalui para da’i yang terkenal dengan gelar Wali Sanga. Kebanyakan dari mereka berasal dari keturunan Arab, 63 khususnya dari kalangan syarif Hadramaut.

Perkembangan Islam di Jawa dihubungkan dengan masa Wali Sanga, karena terikatnya sejarah da’wah Islamiyah dengan mereka ini. Mereka ini adalah:

  1. Maulana Malik Ibrahim
  2. Sunan Ampel
  3. Sunan Bonang
  4. Sunan Giri
  5. Sunan Drajat
  6. Sunan Kalijaga
  7. Sunan Kudus
  8. Sunan Muria
  9. Sunan Gunung Jati

Mereka dinisbahkan kepada tempat-tempat dimana mereka tinggal atau dimakamkan. Dan lafazh “sunan” adalah gelar kehormatan yang digunakan untuk sebagian raja-raja dan da’i-da’i besar di Jawa dan mereka terkenal dengan sebutan Wali Sanga.64 Berikut ini adalah silsilah keturunan mereka.


BAB V

da'i-da'i islam pertama di jawa

Dr.Najeeb Shaliby dalam kitabnya “Dirasat Fi Tarikh Moro wa Dienihim” menyebutkan bahwa da’i-da’i Islam di pulau-pulau Filipina adalah para syarif Hadramaut dari keturunan Syarif Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa dan dari keturunan para da’i Islam di Malaysia dan Indonesia. Kami akan menyebutkan da’i-da’i pertama ini yang menyebarkan Islam di Jawa pada masa pertama.

Syarif Jamaluddin Al-Husein Al-Akbar

Ia dianggap keturunan Imam Al-Muhajir yang pertama yang hijrah ke Indonesia dan menetap disana sampai wafat di daerah Bugis. Ia dilahirkan di kamboja (Indo China) dan ia anak dari Ahmad Jalal Syah yang dilahirkan di Nasrabad di India. Kakeknya adalah keturunan para sultan di India yang terkenal dengan keluarga Al-Azhmat Khan yang nasabnya berpangkal kepada Abdukl Malik bin Alwi bin Shohib Mirbath sebagaimana yang disebutkan dalam pembahasan sejarawan Indonesia Abdullah bin Nuh, ketua Lembaga Pembahasan Keislaman dan diajukan pada seminar masuknya Islam ke Indonesia di kota Medan pada tanggal 20 Maret 1962.

Hijrahnya Syarif Jamaluddin Al-Husein dari Kamboja ke Indonesia dengan disertai keluarga dan kerabatnya dan meninggalkan anaknya Ibrahim Az-Zein Al-Akbar di daerah Aceh, Sumatera bagian Utara untuk menyebarkan da’wah Islamiyah dan mengajarkan ilmu-ilmu agama. Kemudian Ibrahim bin Jamaluddin pindah ke kota Surabaya di Jawa dan terkenal dengan nama Ibrahim Asmoro, mungkin asalnya Ibrahim Al-Asmar dan diberi gelar ‘Sunan Anpasik Tuban’.

Kemudian ia menuju ke Majapahit dan dari sana terus ke daerah Bugis. Disana ia berjuang untuk menyebarkan da’wah Islamiyah dengan cara-cara damai, sehingga memperoleh keberhasilan yang besar dan menetap di sana sampai wafat di kampung Tuwajo. Setelah ia wafat terjadi peperankgan di pulau Jawa dan berakhir dengan jatuhnya kerajaan Hindu Majapahit dan tersebarnya agama Islam.

Anak-anaknya dan cucu-cucunya juga berpisah-pisah di berbagai tempat di pulau Jawa dan sekitarnya, sehingga mereka berpencar di banyak tempat yang jauh untuk menyebarkan da’wah Islamiyah. Sebagian mereka lalu kembali ke semenanjung Melayu, Kamboja, dan Thailand di daerah Indo China. Dan diantara anggota-anggota keluarga ini adalah para sultan Palembang yang berasal dari keturunan Syarif Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein. Tersebut dalam silsilah nasab yang ditulis oleh Tuan Faqih jalal dalam bahasa Melayu tulisan Arab keterangan yang ringkasanny sebagai berikut:65

“ ini adalah suatu fasal tentang Tuan Faqih Jalaluddin yang tinggal di Talang Sura yang wafat pada tanggal 20 Jumadil-Ula tahun 1161 H hari selasa jam 9.00. pada masa hidupnya ia tinggal di istana kerajaan Sultan Muhammad Manshur, dimana ia mengajar ilmu Ushuluddin, Al-Quran dan sebagainya.”

Didalamnya juga disebutkan nasab para sultan Palembang dan hubungan orang-orang tua mereka dengan Syarif Jamaluddin Agung sampai ke Imam Husein bin Fathimah, Putri Rasulullah S.A.W.

Diantara mereka yang bernasab kepada keluarga ini adalah:66

  1. K.H. Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah. Nasabnya kembali ke Muhammad Ainul Yaqin.
  2. K.H.Kholil, seorang alim besar di pulau Madura. Nasabnya juga kembali kepada ke Muhammad Ainul Yaqin bin Ishaq.
  3. R.H. Muhammad Thohir, seorang alim yang sholeh, yang wafat di Bogor pada tahun 1849 M. Puteranya, seorang yang sholeh dan taqwa, bernama R.Surya Winata adalah seorang hakim di wilayah Bogor dan wafat pada tahun 1879 M.
  4. Raden Haji Ma’mun dan Raden Haji Muhammad Nuh yang lahir tahun 1296 H bertepatan dengan tahun 1879 M, seorang alim yang mempunyai murid pribadi-pribadi yang besar.
  5. Satu keluarga “Al-Basyaiban”, Syarif Raden Hasan Datuningrat. Ia merupakan pembesar dari keluarga Al-Basyaiban yang terakhir di Jawa Tengah. Diantara anak-anaknya adalah Ir.Abdul Muthalib dan Dr. Muhammad Said dan lain-lain.
  6. K.H. Muhammad Dahlan, mantan Rois Jam’iyyah Nadhlatul Ulama dan mantan menteri Agama R.I.

Syarif Malik Ibrahim

Ia adalah Malik Ibrahim bin Barkat Zainal Alim bin Jamaluddin Al-Husein bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa. Ia dianggap wali sanga yang pertama. Ia datang ke pulau Jawa bersama keponakannya raja Carmen, dan merupakan orang yang mengajak raja Majapahit memasuki agama Islam pada tahun 801 H bertepatan dengan tahun 1398 M.67 Carmen adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah utara pantai Serawak, Malaysia, dimana terletak kota Kucing dan kerajan Brunei yang ibukotanya Darussalam, juga kota Baru, negeri kebahagiaan.

Malik Ibrahim tinggal di Leran dekat Gresik sekitar 20 tahun untuk mengajak orang masuk kedalam agama Islam, sampai ia wafat pada tahun 822 H bertepatan dengan tahun 1419 M dan dimakamkan di Gresik. Diatas nisan kuburnya yang terbuat dari marmer tertulis kalimat sebagai berikut:

“ Ini adalah kubur Almarhum Almaghfur ila rahmatillah, seorankg kebanggaan para pemimpin, tiang para sultan dan para menteri, penolong orang-orang fakr miskin, orang yang berbahagiak, seorang syahid, cermin keelokkan kerajaan dan agama, Malik Ibrahim yang terkenal dengan nama Kakek Bantal, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya dan menempatkannya di surga-NYA. Ia wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal 822 H.68

Keturunan Syarif Ibrahim Asmoro

Al-Makhdum Ishaq dan saudaranya Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel) adalah termasuk anak-anak Ibrahim Asmoro bin Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein, yang nasabnya terus sampai ke Imam Al-Muhajir.

Berikut ini kami akan bicarakan keduanya dan anak-anak mereka yang dianggap para da’i pertama atau sebagaimana disebut di Indonesia sebagai Sunan Auliya’.

  1. Al-Makhdum Ishaq

Al-Makhdum Ishaq bin Ibrahim Asmoro yankg diberi gelar “Uluwwul Islam” mempunyai peranan yang menonjol dalam sejarah Islam. Ia telah menghabiskan sebagian besar masa kehidupannya dalam menyebarkan da’wah Islamiyah. Ia memiliki kapal perniagaan dimana ia menjelajah dari satu pulau ke pulau lain dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam diantara para penduduknya.

Jika para muridnya telah menyelesaikan pelajarannya di kota Malaka, ia mengatur perjalanan mereka dan menentukan arah (tujuan) masing-masing diberbagai tempat, untuk melakukan da’wah Islamiyah disana.

Kehidupannya sangat sederhana, tetapi keilmuannya bagaikan lautan dalam kedalaman dan keluasannya. Pada awal abad ke 8 H ia datang ke Pulau Jawa dan tinggal bersama saudaranya Ahmad Rahmatullah Sunan Ampel.69

Alwi bin Thohir Al-Haddad 70 mengatakan bahwa Syarif Makhdum menghabiskan umurnya untuk berda’wah. Ia memiliki sebuah kapal dimana ia berkeliling diatas kapal itu diantara pulau-pulau di Asia Tenggara, mengajak penduduknya untuk masuk ke dalam agama Islam. Setelah para muridnya menyelesaikan pelajaran ilmu-ilmu agama darinya ia mengatur perjalanan mereka dan menentukan arah mereka yankg berbeda-beda dalam menyebarkan da’wah Islamiyah.

Ia mempunyai kedudukan yangk tinggi dalam ha zuhud dan kesederhanaan baik dalam makanan maupun pakaian. Ia masuk ke Pulau Jawa pada tahun 804 H bertepatan dengan 1401 M yaitu 3 tahun setelah masuknya Raja Carmen tahun 1398 M (801 H). Ia tinggakl selama beberapa waktu bersama saudaranya yang juga seorang da’i, Syarif Ahmad Rahmatullah Sunan Ampel.

Ia tela memberikan pertolongan yang besar dalam perdebatan yang terjadi antara saudaranya dan para pemimpin agama lain sepertik Hindu dan Budha dan dapat mengalahkan mereka dengan suatu kemenangan yankg nyata dan juga dapat memberi pemahaman pada mereka.

Ia adalah seorangn yang diterima doanya apabila berdoa. Tentang beliau, Dr. Najeeb Shaliby mengatakan bahwa ia mempunyai pengaruh yang kuat dan tidak biasa terhadap penduduk Malaka. Ia pula yang memasukkan Sultan Mahmud Syah bin Sultan Iskandar Syah kedalam agama Islam. Keduanya termasuk raja-raja Malaka dan Johor.

    • Muhammad Ainul yaqin (Sunan Giri)

Ia adalah anak Al-Makhdum Ishaq, dinamakan Sunan Giri dan diberi gelar ‘Raden Paku’. Lafazh “Raden” adalah suatu gelar kehormatan di Jawa yang diberikan pada setiap orang yang bernasab kepada para raja. Ia dinamai Raden Paku karena termasuk para Syarif yang teguh. Adapun laqobnya Sunan Giri timbul karena ia tinggal di sebuah rumah diatas bukit yang tinggi yaitu Bukit Giri. Ia membangun masjid-masjid, madrasah-madrasah, dan pesantren-pesantrn untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama. Maka mulailah murid-murid berdatangan kepadanya dari berbagai tempat karena memandang kemasyhurannya yang luas. Mereka bangga menjadi muridnya. Tempat-tempat terpenting darimana mereka berdatangan adalah Madura, Lombok, Makasar, Hitu, dan Ternate.

Setelah gurunya Sunan Ampel wafat, Ainul Yaqin (Sunan Giri) menempati kedudukan gurunya di Gresik dan Ampel. Maka ia adalah sebaik-baik pengganti bagi sebaik-baik pendahulu. Ia menjadikan tempat tinggalnya di Giri sebagai pusat da’wah IsIamiyah. Raja Majapahit pun tidak dapat menghentikan da’wah Islamiyah.71

Kemudian Ainul Yaqin mulai mengutus para muridnya dan para pedagang muslim untuk menyebarkan da’wah Islamiyah di berbagai tempat di Asia Tenggara. Mereka sampai ke Pulau Ternate dan Pulau Maluku pada saat Islam tersebar disekitar Giri seperti Gresik dan Tuban sebelum berdirinya kerajaan Islam Demak dalam masa yang panjang. Mereka menyempurnakan perjalanan yang telah dimulai oleh ayah-ayah mereka. Mereka berjuang di jalan Islam di Giri dan membantu Demak agar menjadi kerajaan Islam yang resmi dengan bantuan Giri, untuk bersama-sama menghadapi kerajaan Hindu Majapahit apabila Majapahit berusaha menentang cara kehidupan orang-orang muslim.72

  1. Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel)

Ahmad Rahmatullah bin Ibrahim Asmoro bin Jamaluddin Al-Akbar Al-Husien adalah anak paman (sepupu) dari Malik Ibrahim yang dimakamkan di Gresik, Jawa Timur. Ahmad Rahmatullah adalah termasuk da’i pertama di pulau Jawa.

Ia membuka pesantren untuk para pelajar di Ampel, Surabaya, untuk mendidik para pemuda dan agar mereka menjadi para da’i yangn ahli dan terdidik untuk menyebarkan agama Islam di berbagai tempat di pulau Jawa. Di antara murid-murid terpentingnya adalah Muhammad Ainul Yaqi (Sunan Giri) anak saudaranya Al-Makhdum Ishaq. Demikian juga Raden Fatah yang kemudian menjadi raja pertama dari kerajaan Islam Demak.73

Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel) berasal dari ayah seorang arab yaitu Syarif Ibrahim Asmoro bin Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein dan dari ibu puteri raja Campa yang terkenal dengan nama ‘Puteri Campa’. Kakaknya bernama Puteri Darwati menikah dengan raja Hindu Majapahit yang bernama Anggawijaya yang memerintah kerajaan itu di pulau Jawa.

Ketika Sunan Ampel beranjak dewasa ia menikah dengan Manila, anak salah satu penguasa muslim di Tuban.74 Darinya ia mendapatkan sejumlah anak yang memainkan peranan yang penting dalam menyebarkan Islam di Indonesia.

Berikut ini kami sebutkan mereka satu persatu:

  • Syarif Ibrahim bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Bonang)

Prof.Wijisakono telah menulis suatu makalah dalam bahasa Indonesia di majalah Al-Jamiah pada nomor 4 dan 5 bulan April dan Mei, tahun pertama 1963 dengan judul: Islam menurut pengajaran Wali sanga. Diantara hal terpenting dalam makalah tersebut adalah sebagai berikut:75

“ Tidak ada sesuatu yang lebih jelas dan lebih kuat dari peninggalan wali sanga seperti warisan ilmu yang ditinggalkan oleh Sunan Bonang bin Ahmad Rahmatullah yang ia tinggalkan dalam mazhab Syafi’i yang memuat ilmu ushul, fiqih, dan tashawwuf. Dan ini cukup bagi kita. Al-Imam Sunan Bonang sangat dipercaya karena hal-hal berikut:

    1. Sunan Bonang adalah orang yang telah mencapai gelar ‘Mayangkarawati’ yang berarti pemimpin para ulama, ia menempati kedudukan mufti dan Syeikhul-Islam.
    2. Ia adalah anak dan murid dari Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel) bersama saudaranya Hasyim (Sunan Drajat). Maka pengajaran keduanya berpegang pada pengajaran, aqidah, dan mazhab ayah mereka.
    3. Ia adalah teman dari Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri) dan Syarif Hidayatullah dalam mengambil ilmu dari Maulana Ishaq di Pasai, Sumatera bagian Utara.
    4. Dikatakan juga bahwa ia adalah guru sunan Kalijaga yang pertama yang dianggap sebagai salah satu pembentuk kebudayaan dan kehidupan ruhaniyah di Jawa Tengah.

Jika kita pelajari primbon yang berupa kumpulan ilmu dan rahasia-rahasia dari pengajaran-pengajaran Sunan Bonang, kita akan dapati disana nama-nama ulama dan kitab-kitab yang menjadi sandaran dari pengajaran-pengajaran Islam yang dibawa oleh Wali Sanga. Primbon itu juga mencakup ilmu ushul, fiqih, dan tashawwuf yang disusun menurut ushul Ahlussunnah wal jamaah berdasarkan mazhab syafi’i.

Sunan Bonang selalu memperhatikan untuk menjauhkan darik perbuatan syirik, dan menjelaskan kesesatan sebagian i’tiqad seperti aliran –aliran kebathilan dan lain-lainnya dari kekufuran dan kemaksiatan. Ia selalu menekankan penjelasan bahwa Allah-lah satu-satunya Yang Maha Pencipta, Yang Maha Hidup, Yang Berdiri Sendiri, Yang mempunyai Kekuatan dan Kehendak. Dan bahwasannya manusia memiliki usaha dan pilihan. Ini adalah dasar dari apa yang dibawa dan diserunya. Primbon ini diakhiri dengan ucapannya:

Agar perilakumu lahir dan batim sesuai dengan hukum-hukum syariah dan mencintai Rasulullah serta mengikuti sunahnya.

  • Syarif Hasyim bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Drajat)

Syarif Hasyim bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Drajat) dianggap sebagai orang yang mempunyai peranan dalam mendirikan kerajaan Islam Demak dan orang yang paling setia kepadanya. Di antara kegiatannya adalah menyebarkan da’wah Islamiyah di Jawa Timur, memberi pertolongan yang besar terhadap para faqir, anak-anak yatim, orang-orang yang membutuhkan , orang-orang sakit dan sebagainya. Ia wafat pada tahun 995 H bertepatan dengan 1586 M didekat Sedayu (dekat Gresik).

  • Ja'far Ash-Shadiq bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Kudus)

Ja'far Ash-Shadiq bin Ahmad Rahmatullah diberi gelar ‘Sunan Kudus’ karena ia pendiri kota Kudus di Jawa Tengah dan juga membangun masjidnya yang dinamai dengan Masjid Al-Aqsha sebagai tabarruk (untuk mengambil barokah) kepada masjid Al-Aqsha l-Mubarok. Ia wafat pada tahun 1012 H bertepatan dengan 1603 M. Namanya disebut dengan tulisan Arab di masjid kudus sebagaimana dikatakan oleh Solihin Salam dalam bukunya tentang kota Kudus.

  • Ahmad Hisamuddin bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Lamongan)

Ia diberi gelar ‘Sunan Lamongan’ dan termasuk anak Ahmad Rahmatullah. Ia wafat pada tahun 1014 H bertepatan dengan 1605 M dan juga menyebarkan Islam di Indonesia.

  • Zainal Abidin bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Demak)

Zainal Abidin bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Demak) menduduki ‘Daar Al-Qadha wa Al-Ifta’ di kerajaan Islam Demak pada masa Sultan Abdul Fatah yang dianggap sultan pertama dari kerajaan Islam di Jawa ini.

  • Abdul Jalil bin Ahmad Rahmatullah (Raden Asmoro)

Abdul Jalil bin Ahmad Rahmatullah diberi gelar Raden Asmoro dan memainkan peranan yang penting dalam da’wah Islamiyah. Ia wafat pada tahun 1022 H bertepatan dengan 1613 M.

Syarif 'Umdatuddin Abdullah

Ia adalah ‘Umdatuddin Abdullah yang tinggal di IndoChina bin Nurul Alim Ali bin Jamaluddin saudara Ibrahim Asmoro yang telah disebutkan dalam pembahasaan sebelumnya mengenai dirinya dan anak-anaknya.

Diantara anak-anak ‘Umdatuddin Abdullah yang terkenal adalah Syarif Hidayatullah, Syarif Abu Al-Muzhaffar Ahmad, Syarif Babullah di Ternate. Berikut ini kita akan berbicara tentang mereka:

  1. Syarif Hidayatullah

Syarif Hidayatullah dianggap sebagai seorang penyebar da’wah Islamiyah yang terpenting di Jawa Barat. Ia diberi gelar “Sunan Gunung Jati”yaitu penguasa Gunung Jati yang wafat disana di dekat kota Cirebon, Jawa Barat pada tahun 1570 M. Para sultan yang memerintah Banten dan Cirebon adalah keturunannya. Di dalam Makhthuthah Al-Ustaz Asy-Syarif Ahmad bin Abdullah As-Saggaf terdapat satu fasal khusus dimana didalamnya disebutkan nasab Syarif Hidayatullah berdasarkan sumber dari Banten sebagai berikut:76

Maulana Hasanuddin Sultan Banten pertama bin Syarif Hidayatullah di Cirebon bin ‘Umdatuddin di Campa (Indo China) bin Ali Nurul Alim bin Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein di Bugis bin Ahmad Syah Jalaluddin di India bin Abdullah bin Abdul Malik di India bin Syarif Alwi di Tarim bin Muhammad Shohib Marbath bin Ali Kholi’Qosam bin Alwi di Bait Jubeir bin Muhammad di Beit Jubeir bin Alwi di Sumul bin Abdullah di Bur bin Al-Imam Al-Muhajir Ahmad di Al-Hissiyah bin Isa An-Naqib di Bashrah bin Ali Al-Uraidhi di Madinah Al-Muwwarah bin Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib dan bin Fathimah binti Sayidina Muhammad SAW.

Sejarawan Eropa L.W.C. Van Den Berg didalam bukunya yang berbahasa perancis yang judulnya “Hadramaut dan Orang-orang Arab yang Hijrah ke Indonesia”77 mengatakan:

“Dengan demikian jelaslah bahwa anak cucu Maulana Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein adalah orang-orang yang menyebarkan agama islam di Jawa dan sekitarnya di abad 15 M. Diantara mereka adalah Syarif Hidayatullah, sunan Ampel, Sunan Giri, dan sebagainya,.”

Jika kita membandingkan keterangan tersebut dengan apa yang disebutkan oeh Dr.Najeeb Shaliby dalam kitabnya “Dirasat fi Tarikh Moro” tentang kaitan nasab, kita akan mendapatkan bahwa sultan-sultan Islam di Filipina bertemu dengan nasabnya dengan Syarif Hidayatullah dan anak cucu Jamaluddin Al-Amir Al-Husein bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdullah bin Abdul Malik dari keturunan Al-Imam Al-Muhajir.

  1. Syarif Abu Al-Muzhaffar Ahmad

Ia adalah Abu Al-Muzhaffar Ahmad bin ‘Umdatuddin Abdullah bin Nurul Alim Ali bin Jamaluddin Al-Akbar Al-Husein yang bersambung nasabnya ke Al-Imam A-Muhajir. Ia saudara dari Syarif Hidayatullah dan Syarif Babullah di Ternate. Syarif Abu Al-Muzhaffar wafat di Thailand tahun 960 H bertepatan dengan 1552 M dan mendapatkan beberapa orang anak yang merupakan para da’i yang menonjol di Indo China dan Asia Tenggara. Diantara mereka:78

    1. Syamsuddin Ismail yang menyerukan jihad terhadap penjajah Portugis di Rangoon, Burma (Myanmar) tahun 998 H bertepatandengan 1589 M.
    2. Fathul-Arifin Abdul Maula yang bergelar Shalahuddin, wafat di Thailand 999 H yang bertepatan dengan 1590 M.
    3. Syarif Jadid yang bergelar Al-Mu’tashim billah, syahid pada peperangan di China tahun 989 H (1581 M).
    4. Bishri yang bergelar Najmuddin, wafat di dekat Pulau Sulu, Filipina.
    5. Syarif Damari Isa yang bergelar Qutbuddin, wafat di kota Canton, China.
    6. Syarif Taufiquddin Alwi, wafat di China.
    7. Syarif Badruddin Muhammad Ali, wafat di Thailand tahun 993 H (1585 M)
    8. Syarif Saniruddin Alwi Al-Akbar, wafat di Thailand tahun 1001 H bertepatan dengan 1592 M.
    9. Syarif Nashruddin Yunus, wafat di Sumatera tahun 995 H bertepatan dengan 1586 M, termasuk orang yang memerangi penjajah Portugis di Jawa.


BAB VI

para syarif hadhramaut dan peranan mereka dalam menyebarkan islam di filipina

Dr.Najeeb Shaliby dalam kitabnya “Tarikh Moro” yang dikarangnya atas permintaan pemerintah Amerika di Filipina dan dalam pengawasan orang-orangnya, sebagai tambahan dari apa yang ditulis oleh para pengelana Barat, yang terdiri dari 2 jilid dan dicetak di Manila tahun 1323 H bertepatan dengan 1905 M menyebutkan bahwa kata ‘Syarif’ adalah gelar yang diberikan kepada keturunan Nabi S.A.W. Gelar yang lengkap adalah Sayid Syarif. Orang Arab hanya menggunakan kata ‘Sayid’ saja sedangkan orang Moro menyebutnya Sayid Syarif sebagai penghormatan mereka yang besar terhadap keturunan Nabi S.A.W.

Dalam kitab ”Tarik Serawak” ( A history of Serawak) disebutkan bahwa Sultan Barkat adlah termasuk keturunan dari Al-Imam Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib. Ia mempunyai kendaraan perang yang terkenal. Nasabnya adalah Barkat bin Thohir bin Ismail yang dikenal dengan gelarnya ‘Bashri’ bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Al-Husein bin Al-Imam Ali bin Abi Thalib.

Dalam sejarah muslimin di Filipina dan sejarah Sulu ada satu keterangan yang menjelaskan bahwa nasabnya berpangkal pada Abdullah bin Alwi bin Muhammad Shohib Marbath bin Ali Kholi’ Qosam, keturunan Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa.

Ia keturunan para syarif Alawiyin dari Hadramaut yang mengarungi lautan menuju Filipina. Dr.Najeeb Shaliby dalam sejarah Mindanao menyebutkan:79

“Tidak ada sesuatu sejarah yang pasti sebelum sampainya Islam. Tidak ada juga hikayat-hikayat yang dipelihara dalam ingatan. Ketika Islam datang, tersebarlah ilmu, peradaban, dan kegiatan-kegiatan, muncul undangk-undang baru bagi kerajaan. Huku-hukum ditetapkan dalam sebuah buku. Silsilah nasb ditulis dan cabang-cabang dari keturunan yang bernasab kepada para pembesar dipelihara dengan bantuan semua sultan dan para pemimpin sampai sekarang.”

Silisilah atau syajarah yang dinamai Tarsila atau silsilah merupakan keterangan dasar-dasar tertulis mengenai keturunan-keturunan pertama dari muslimin pertama di Filipina.

Dr. Hajeeb Shaliby telah mengungkapkan silsilah pertama dan diikuti dengan silsilah-silsilah berikutnya yang banyak. Kami akan menyebutkan disini silsilah pertama dari penduduk pulau-pulau itu. Berikut ini yang dikatakannya:

“ Alhamdulillah, sesungguhnya aku yakin Allah menjadi saksi atas diriku, kitab ini memuat keturunan Rasulullah SAW. Yang sampai ke Magindanao. Seperti diketahui Rasulullah mempunyai anak Fathimah Az-Zahra yang melahirkan Al-Hasan dan Al-Husein. Al-Husein mempunyai anak Zainal Abidin, dan seterusnya. Berikut ini adalah nasab dari Muhammad bin Zainal Abidin:80

“Muhammad Zainal Abidin, yang datang dari Johor, bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Alwi Ammul Faqih Al-Muqaddam bin Muhammad Shohib Marbath bin Ali Kholi’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi yang merupakan orang pertama yang yang dinamai Alwi dan kepadanya bernasab Sayid/Syarif Alawiyin di Hadramaut bin Ubaidillah bin Al-Muhajir Ahmad bin Isa dan seterusnya.

Didalamnya disebutkan empat silsilah. Sedangkan pembicaraan tentang masuknya para Syarif Alawiyin dari Hadramaut ke pulau-pulau di Hindia Timur telah lewat.

Enam da'i pertama yang menyebarkan Islam di Filipina

Sesungguhnya para da’i pertama yang menyebarkan Islam di pulau-pulau Filipina, Sulu, Mindanao, dan sebagainya adalah kalangan Syarif Hadramaut. Kami menganggap mereka adalah enam dari pertama selain Raja Baginda yang berkuasa atas Kepulauan Sulu dan Saldung atau Luzon, karena ia tersebut dalam bilangan para Syarif kerajaan Brunei, Carmen, dan Serawak, juga Borneo dan Saldung. Setiap tahun diberikan kepadanya Jizyah sebesar satu gantang emas. ‘gantang’ adalah ukuran yang kadang-kadang setara dengan 5 mud, dan kadang-kadang 8 mud menurut daerah yang berbeda-beda.

Demikian juga tidak termasuk kedua orang Syarif, Tabunawi dan Mamalo, keduanya anak dari Syarif Maraja Mahraj, yang datang setelah Syarif Auliya’.

Berikut ini adalah enam orang da’i pertama yang mempunyai peranan paling besar dalam menyebarkan Islam di Filipina dan sekitarnya:81

  1. Syarif 'Auliya

Syarif Auliya’ dipandang sebagai salah satu da’i Islam pertama yang datang ke Magindanao dan daerah lainnya dimana ia menyebarkan Islam dan menikah disana. Dari istrinya ia mendapatkan seorang putri yang diberi gelar ‘Paraisuli’. Kemudian ia kembali ke tempat dimana ia datang dari Melayu.

Ada dikatakan sesungguhnya ia adalah Syarif Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husein bin Ahmad Syah bin Abdullah bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad Marbath, keturunan dari Al-Imam Al-Muhajir dan seterusnya. Tersebut juga nasabnya di sejarah Palembang.

  1. Syarif Maraja (Mahraj)

Syarif Maraja Mahraj datang setelah berangkatnya Syarif Auliya’ dan menikah dengan putrinya Paraisuli dan darinya mendapatkan dua orang putera yaitu Tabunawi dan Mamalo yang keduanya dijumpai oleh Syarif Muhammad bin Ali Zainal Abidin.

  1. Syarif Makhdum Ishaq

Syarif Ishaq yang bergelar ‘Uluwwul Islam’ bin Ibrahim Asmoro dianggap sebagai salah satu dari enam da’i pertama yang menyebarkan Islam di Filipina dan juga dianggap sebagai salah satu dari Wali Sanga yang menyebarkan Islam di Jawa yang telah kami sebutkan sebelumnya.

  1. Syarif Zainal Abidin

Syarif Zainal Abidin dipandang sebagai salah satu raja pertama di kepulauan Sulu. Mengenai beliau, Dr.Najeeb Shaliby mengatakan:

“Di pantai Utara Magindanao pada daerah yang subur dan makmur didekat tempat yang bernama ‘Pulangi’ Islam tumbuh berkembang, bunganya merekah, dahannya menjulang ke atas, masjid-masjid didirikan untuk menyembah Allah, diatas menara-menaranya diserukan kalimat Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Syarif Ahmad bin Ali Zainal Abidin diumumkan sebagai penguasa Magindanao berdasarkan kesepakatan, kesenangan, dan keputusan yang tetap dari penduduknya.”

Dr.Najeeb dalam kitabnya menyebutkan tarjamah silsilah nasabnya, dan menyebutkan keterangannya dari Adam ke Ibrahim lalu ke Ismail dan terus sampai ke Abdu Manaf, Hasyim, Abdul Muthalib, Abdullah, Muhammad Rasulullah SAW., lalu puterinya Fatimah Az-Zahra yang melahirkan Al-Husein, lalu Ali Zainal Abidin, Syarif Muhammad Al-Baqir, Syarif Ja’far Ash-Shadiq, Syarif Ali, Syarif Muhammad, Syarif Isa, Syarif Ahmad, Syarif Ubaidillah, Syarif Alwi, Syarif Abdurrahman, Syarif Ahmad, Syarif Abdullah, Syarif Ali, Syarif Muhammad, Syarif Husein, Syarif Ali Al-Baqir, Syarif Ali Zainal Abidin, yang datang dari Johor dan menikah dengan saudara sultannya. Syarif Muhammad Kabungsuan mempunyai anak yang dilahirkan di Johor yang diberi gelar ‘Sambakan’ dan anak perempuan yang bernama Muzadniq (mungkin diambil dari kata muznah, menurut kebiasaan orang Melayu dalam merubah nama-nama, seperti Khadijah menjadi Khatijahm dsb). Lalu ia datang bersama kedua anaknya ini ke Magindanao dan disana ia mendapat anak juga.82

  1. Syarif Muhammad bin Ali (Kabungsuan)

Terdapat dalam silsilah yang telah disebutkan tadi.

  1. Syarif Abubakar

Syarif Abubakar termasuk salah satu da’i-da’i besar. Ia pergi ke Makkah untuk memperoleh ilmu-ilmu keislaman disana. Setelah kembali ia mulai menyebarkan Islam sebagaimana yang dipelajarinya dari Makhdum Ishaq. Ia mengarang kitab yang bernama “Addurul Manzhur”. Kemudian ia menjadi sultan Kepulauan Sulu setelah Raja Baginda.


Penutup

Dari pembahasan yang telah lalu jelaslah bahwa para Syarif Hadramaut dari keturunan Al-Imam Ahmad bin Isa Al-Muhajir memainkan peranan yang penting dalam menyebarkan Islam menurut mazhab Imam Syafi’i. Sedangkan orang-orang Indonesia yang terdahulu adalah penyembah berhala kemudian setelah itu datang agama Hindu dan Budha, lalu tersebar diantara mereka. Setelah itu barulah datang agama Islam.

Islam tersebar berkat pra da’i pertama dari keturunan Hadramaut. Cara mereka dalam menyebarkan Islam mempunyai pengaruh di dalam jiwa para penduduknya, sehingga tidak tersisa agama Hindu dan Budha di kepulauan Indonesia kecuali sedikit saja, sebagian besar terdapat di pulau Bali.

Setelah para da’i pertama, datang para murid mereka dari berbagai tempat di Indonesia, yang memainkan peranan yang pening dalam menyampaikan Risalah Islam dan menyebarkannya di seluruh pelosok kerajaan, dengan cara-cara damai dan dengan kecepatan yang tak ada bandingnya.

Ketika Indonesia berada dalam kekuasaan penjajah Belanda, para Syarif mendirikan organisasi pertama yang dikenal di Indonesia yang bernama ‘Syarikat Islam’ yang masih ada sampai sekarang.

Kemudian mereka menentang penjajahan Belanda, Jepang, dan Inggris. Tetapi sebagian mereka tidak melebur secara total dalam masyarakat Indonesia walau dalam masa yang panjang, karena masih memakai adat dan tradisi Arab. Mereka ini generasi terdahulu. Namun sebagian besar telah berbaur dalam masyarakat Indonesia, hanya merka tidak melupakan asal dan nasab mereka, walaupun mereka jauh dari Hadramaut dan menetap ditempat hijrah yaitu Indonesia. Bersama rakyat mereka menghadapi setiap musuh asing sebagaimana mereka memerangi musuh-musuh Islam dari dalam yaitu kaum komunis di akhir pemerintahan Ahmad Sukarno.

Tetapi sekarang, setelah berlalunya beberapa abad sejak masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, dan gagalnya penjajah Belanda menyebarkan agama Kristen, orang-orang Indonesia mulai menghadapi suatu rencana besar yang bukan saja datang dari kekuataan Barat dan dari Majelis Gereja Sedunia untuk gerakan Kristenisasi, tetapi juga dari sebagaian orang Indonesia yang hanya memakai nama Islam sebagai nama saja, tetapi hati mereka bersama kekuatan Kristen Barat yang memerangi Islam dengan bantuan mereka ini yang terpengaruh dengan peradaban Kristen Barat.

Di samping hal tersebut diatas juga tidak adanya perhatian dari negara-negara Islam, khususnya negara-negara Arab, terutama perhatian terhadap bahayanya gerakan Kristenisasi. Merupakan kewajiban bagi negara tersebut memberikan bantuan yang semestinya dalam rangka menghentikan gerakan Kristenisasi penjajah baru ini.

Kita berharap kepada Allah semoga muslimin didunia bersama bangsa Indonesia, Malaysia, Filipina, dan yang lainnya mampu menghentikan gerakan Kristenisasi dari penjajah Kristen Barat ini.

Kami meanggap bukan suatu hal yang mustahil bangkitnya kaum muslimin Indonesia dan kembali ke lapangan politik, untuk menggagalkan gerakan Kristenisasi dan menghapuskannya dari Indonesia. Sebagaimana yang terjadi ketika gerakan komunis melakukan tindakan makarnya dipuncak perlawanan mereka terhadap partai Islam Masyumi, kaum muslimin dapat menghancurkannya dengnan keras sehingga tidak terdapat lagi seorang komunis pun di Indonesia.

Sebagai penutup, saya berharap semoga saya diberi taufiq dalam memberikan gambaran yang jelas tentang da’i-da’i Islam pertama dari kalangan orang Arab Syarif Hadramaut, keturunan Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa.


Daftar Pustaka

  1. Ahmad bin Muhammad Shalih Al-Baradighi Al-Huseiny: Ad-durar As-Saniyyah fi Al-Ansab La Hasaniyyah wala Huseiniyyah,cetakan kedua, Beirut, 1394 H.
  2. Ahmad Syalaby, Dr.: Mausu’ah At-Tarikh Al-Islamy, Maktabah An-Nahdhah Al-Mishriyyah, Kairo, 1983.
  3. Al-Hafizh Abubakar Ahmad bin Ali Al-Khatib Al-Baghdady: Tarikh Baghdad, Daar Al-Kutub Al-Araby, Beirut.
  4. Ath-Thohir bin Abdullah Al-Lahyawi: Hishnus-Salam Baina Yaday Maulaya Abdis-Salam, Daar Al-Baidha’, 1978.
  5. Ruqayyah Asy-Syadzili: Min A’lam Al-Islam fi Indonesia,Mathbu’ath Asy-Sya’b, Mesir, 1976.
  6. Said Awadh Bawazir: Shafahat Min Tarikh hadramaut, Maktabah Al-Irsyad, Jeddah, 1378 H.
  7. Sholah Al-Bakry Al-Yafi’i: Tarikh Hadramaut As-Siyasy, Mathbaah Mushthafa Al-Bab Al-Halaby, Mesir, 1936.
  8. Shalih Al-Hamid Al-Alawiy: Tarikh Hadramaut, Maktabah Al-Irsyad, Jeddah, 1968.
  9. Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur: Syams Azh-Zhahirah, ‘Alam Al-Ma’rifah, Jeddah, 1984.
  10. Alwi bin Thohir bin Abdullah Al-Hadar Al-Haddad: Al-Madkhal ila Tarikh Al-Islam bi Asy-Syarq Al-Aqsha, Muassasah Al-Muhdar, Mesir, 1971.
  11. Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila Tarikh Al-Islam fi Asy-Syarq Al-Aqsha, ‘Alam Al-Ma’rifah, Jeddah, 1985.
  12. Abdul Halim Mahmud, Dr. Syeikhul-Azhar: Sayyiduna Zainul Abidin, Daar Al-Islam, Mesir.
  13. Lothrop Stoddard-Syakib Arsalan:Hadhir Al-‘Alam Al-Islamy,Daar Al-Fikr, Beirut, 1973.
  14. Muhammad Dhiya’ Syahab- Abdullah bin Nuh: Al-Islam fi Indonesia, Addaar As-Su’udiyyah li An-Nasyr wa At-Tauzi’, Jeddah, 1977.
  15. Muhammad Dhiya’ Syahab- Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, Daar Asy-Syuruq, Jeddah, 1980.
  16. Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiry: Al-Mu’jam Al-Lathif li Asbab Al-Alqab wa Al-Kuna fi An-nasab Asy-Syarif li Qabail wa Buthun As-Sadah Bani Alawiy, ‘Alam Al-Ma’rifah, Jeddah, 1986.
  17. Muhammad bin Ali bin Alwi Khird Ba’Alawiy: Al-Azr Mathabi’ Al-Maktab Al-Mishriy Al-Hadits, Kairo, 1985.
  18. Muhammad Muhammad Zaitun: Al-Muslimin fi Asy-Syarq Al-Aqsha’, Daar Al-Wafa’, Kairo, 1985.
  19. Muhammad Abdul Qadir Bamathraf: Jami’ Syaml A’lam Al-Muhajirin Al-Muntasibin ila Al-Yaman wa Qabailihim, Daar Al-Hamadaniy, ‘Adn, 1984.
  20. Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Dr: Al-Muslimin fi Al-Filipin, Maktabah An-Nadhah Al-Mishriyyah, Kairo, 1983.
  21. Mausu’ah Al-‘Alam Al-Islamy, Daar Ar-ra’y Al-‘Am, Mesir, 1979.
  22. William Langer: Mausu’ah Tarikh Al-‘alam, Maktabah An-Nadhah Al-Mishriyyah, Mesir, 1962.
  23. Brian May: The Indonesian Tragedy, Graham Brash, P.T.E. LTD, Singapore, 1984.
  24. M.C. Ricklefs: A History of Modern Indonesia, Mac Millan Education LTD, London.

1 Riwayat Turmudzi, Dr.Abdul Halim Mahmud: Sayyiduna Zainal Abidin, hal.14.


2 Riwayat Turmudzi, Dr.Abdul Halim Mahmud: Sayyiduna Zainal Abidin, hal.15.


3 Riwayat Turmudzi, Dr.Abdul Halim Mahmud: Sayyiduna Zainal Abidin, hal.16.


4 Ath-Thohir bin Abdullah Al-Lahyawi: Hishn Al-Islam baina yaday maulaya Abdus-Salam, hal. 13.


5 Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur: Syams Ash-Zhahirah, jiid 1, hal. 39.


6 Ahmad Muhammad Sholeh Al-Baradighi: Ad-Durar As-Saniyah fi Al-Ansab Al-Hasaniyah wa Al-Huseiniyah, hal. 81.


7 Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur: Syams Ash-Zhahirah, jiid 1, hal. 41.


8 Muhammad bin Abibakar Asy-Syili ba Alawi: Al-Masyra’ Al-Rawi fi manaqib As-Sadah Al-Kiram Ali Abi Alawi, jiild 1, hal. 239.


9 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal. 44.


10 Al-Hafizh Abubakar Ahmad bin Ali Al-Khatib Al-Baghdady: Tarikh Baghdad, jilid 2, hal. 113-115


11 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal. 40.


12 Al-Hafizh Abubakar Ahmad bin Ali Al-Khatib Al-Baghdady: Tarikh Baghdad, jilid 2, hal. 166.


13 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal. 44.


14 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal. 47.


15 Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiry: Adwar At-Tarikh Al-Hadramy, jilid 1, hal.158.


16 Diarah Al-Maarif Al-Bustaniy, jild 2 hal.352.


17 Said Awadh Bawazir: Shofahat min Tarikh Hadramaut, hal.58.


18 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal. 50.


19 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal. 55.


20 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal. 58.


21 Said Awadh Bawazir: Shofahat min Tarikh Hadramaut, hal.61.


22 Muhamad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiry: Adwar At-Tarikh Al-Hadramy, jilid 1, hal.161.


23 Muhammad Abdul Qadir Bamuthrif: Jami’ Syaml A’lam Al-Muhajirin Al-Muntasibin ila Al-Yaman wa Qabailihim, jilid 3, hal. 57.


24 Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur: Syams Ash-Zhahirah, jiid 1, hal. 54.


25 Muhammad bin Ali bin Alwi Khird Ba Alwi: Al-Azr, hal. 352.


26 Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathri: Al-Mu’jam Al-Lathif, hal. 21.


27 Muhammad bin Abibakar Asy-Syili ba Alawi: Al-Masyra’ Al-Rawi fi manaqib As-Sadah Al-Kiram Ali Abi Alawi, jiild 2, hal. 8.


28 Shalih Al-Hamid Al-Alawy: Tarikh Hadramaut, jilid 2, hal. 467.


29 Muhammad bin Ahmad bin Umar Asy-Syathiri: adwar At-Tarikh, jilid 1, hal.192.


30 Muhammad Abdul Qadir Bamuthrif: Jami’ Syaml A’lam Al-Muhajirin Al-Muntasibin ila Al-Yaman wa Qabailihim, jilid 3, hal. 57.


31 Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Al-Masyhur: Syams Ash-Zhahirah, jiid 1, hal. 95.


32 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila tarikh Al-Islamy Asy-Syarq Al-Aqsa, hal. 124.


33 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila tarikh Al-Islamy Asy-Syarq Al-Aqsa, hal. 135.


34 Muhammad Abdul Qadir Ahmad: Al-Muslim fi Al-Filipina, hal. 21.


35 Sholah Al-Bakri Al-Yafi: Tarikh Hadramaut As-Siyasi, hal. 240.


36 Brian May: The Indonesia Tragedy, hal. 11.


37 L. Stoddard-Syakib Arsalan: Hadhir Al-A’lam Al-Islamy, jilid 3, hal. 175.


38 L. Stoddard-Syakib Arsalan: Hadhir Al-A’lam Al-Islamy, jilid 3, hal. 175.


39 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila tarikh Al-Islamy Asy-Syarq Al-Aqsa, hal. 131.


40 L. Stoddard-Syakib Arsalan: Hadhir Al-A’lam Al-Islamy, jilid 3, hal. 177.


41 L. Stoddard-Syakib Arsalan: Hadhir Al-A’lam Al-Islamy, jilid 3, hal. 177.


42 Mausu’ah Al-‘Alam Al-Islamy, jilid 2, hal. 807.


43 M. C. Ricklefs: A History of Modern Indonesia, hal. 3.


44 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal. 169.


45 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila tarikh Al-Islamy Asy-Syarq Al-Aqsa, hal. 275-277.


46 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila tarikh Al-Islamy Asy-Syarq Al-Aqsa, hal. 281.


47 Muhammad Zaitun : Al-Muslimin fi Asy-Syarq Al-Aqsha, hal. 145.


48 Muhammad Abdul Qadir Bamuthrif: Jami’ Syaml A’lam Al-Muhajirin Al-Muntasibin ila Al-Yaman wa Qabailihim, jilid 3, hal. 57.


49 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila tarikh Al-Islamy Asy-Syarq Al-Aqsa, hal. 252.


50 William Langer :Mausu’ah Tarikh Al-Alam, jilid 3, hal. 939.


51 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila tarikh Al-Islamy Asy-Syarq Al-Aqsa, hal. 36.


52 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila tarikh Al-Islamy Asy-Syarq Al-Aqsa, hal. 201.


53 L. Stoddard-Syakib Arsalan: Hadhir Al-A’lam Al-Islamy, jilid 3, hal. 163.


54 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Islam fi Indonesia, hal.9-10.


55 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila Al-Islam bi Asy-Syarq Al-Aqsha, hal. 11-12.


56 Mausu’ah Al-‘Alam Al-Islamy, jilid 2, hal. 7-8.


57 L. Stoddard-Syakib Arsalan: Hadhir Al-A’lam Al-Islamy, jilid 3, hal. 162.


58 L. Stoddard-Syakib Arsalan: Hadhir Al-A’lam Al-Islamy, jilid 3, hal. 162.


59 L. Stoddard-Syakib Arsalan: Hadhir Al-A’lam Al-Islamy, jilid 3, hal. 176.


60 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila Al-Islam bi Asy-Syarq Al-Aqsha, hal. 585.


61 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila Al-Islam bi Asy-Syarq Al-Aqsha, hal. 287.


62 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Islam fi Indonesia, hal.15.


63 Dr. Ahmad Syalabi: Mausu’a At-Tarikh Al-Islamy, jilid 1, hal. 45.


64 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal.174.


65 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal.184.


66 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal.188.


67 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila Al-Islam bi Asy-Syarq Al-Aqsha, hal. 241.


68 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila Al-Islam bi Asy-Syarq Al-Aqsha, hal. 279.


69 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal.183.


70 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila Al-Islam bi Asy-Syarq Al-Aqsha, hal. 279.


71 Ruqayyah Asy-Syadzili : Min A’lam Al-Islam fi Indonesia, hal. 51.


72 Ruqayyah Asy-Syadzili : Min A’lam Al-Islam fi Indonesia, hal. 51.


73 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal.180.


74 Ruqayyah Asy-Syadzili : Min A’lam Al-Islam fi Indonesia, hal. 28.


75 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal.181.


76 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal.177.


77 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal.178.


78 Muhammad Dhiya’ Syahab-Abdullah bin Nuh: Al-Imam Al-Muhajir Ahmad bin Isa, hal.185.


79 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila Al-Islam bi Asy-Syarq Al-Aqsha, hal. 201-202.


80 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila Al-Islam bi Asy-Syarq Al-Aqsha, hal. 204.


81 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila Al-Islam bi Asy-Syarq Al-Aqsha, hal. 278-279.


82 Alwi bin Thohir Al-Haddad: Al-Madkhal ila Al-Islam bi Asy-Syarq Al-Aqsha, hal. 256.

Friday, October 19, 2007

Kisah Dua Sahabat Bin Yahya dan AlHabsyi

Habib Muhammad bin Ali bin Hasan Bin Yahya (Pangeran Noto Igomo) mempunyai seorang sahabat dekat di Barabai. Namanya Habib Alwi bin Abdullah AlHabsyi. Keduanya mempunyai kedudukan terhormat di wilayahnya masing-masing. Habib Muhammad tinggal di Tenggarong selaku penasihat Sultan Kutai, sementara Habib Alwi adalah seorang Kapten Arab berkedudukan di Barabai. Mereka sudah saling mengenal sejak sama-sama tinggal di Hadramaut, Yaman.


1 - Habib Alwi AlHabsyi, sejak di Hadramaut, mengakui keluasan pengetahuan dan kealiman Habib Muhammad Bin Yahya. Habib Muhammad kelahiran tahun 1844, sedangkan Habib Alwi beberapa tahun lebih muda. Tidak diketahui persis tahun kelahiran Habib Alwi.

"Tahun 1917-an, Habib Alwi di Banjar sudah mempunyai 3 anak," ujar Habib Agil bin Salim Bahsin, cucu Habib Alwi.

Jika Habib Muhammad Bin Yahya melalui perjalanan panjang melalui Palembang , Cirebon , Martapura dan akhirnya menetap di Kutai, maka Habib Alwi dari Hadramaut memilih Barabai sebagai tempat tinggal tetap setelah sempat bermukim beberapa tahun di Banjarmasin .

Habib Alwi menikah pertama kali di Banjarmasin dengan Syarifah Raguan binti Syekh AlHabsyi. Dengan istrinya Habib Alwi masih bersaudara dekat karena mereka sama-sama cucu dari Habib Alwi bin Syekh AlHabsyi.

Ketika tinggal di Banjarmasin , Habib Alwi adalah pejabat Kapten Arab pengganti Habib Hasan bin Iderus AlHabsyi (Habib Ujung Murung). Habib Alwi tinggal di kawasan Ujung Murung.

Habib Alwi pindah ke Barabai setelah menikah di sana dengan seorang perempuan asal Nagara-Banua Kupang bernama Hj Masrah. Belakangan Habib Alwi juga menikah dengan perempuan Kandangan bernama Masja.

Sejak melepaskan kedudukan sebagai Kapten Arab, Habib Alwi berdomisili di Barabai. Namun masyarakat tetap memperlakukannya sebagai orang istimewa karena latar belakang dan jasanya.

Jasa terbesar Habib Alwi bagi daerah Hulu Sungai adalah kepeloporan beliau dalam membangun perkebunan karet secara besar-besaran di Barabai. Habib Alwi memiliki kebun karet di Desa Manggasan, Hantakan, Barabai. Bibit karet diperoleh Habib Alwi dari Bogor melalui perantaraan pemerintah Belanda.

Walau tinggal di daerah berbeda dan dipisahkan jarak cukup jauh persahabatan Habib Alwi dan Habib Muhammad tetap terjalin mesra.

"Habib Muhammad yang menyumbang batu dan semen ketika Habib Alwi membangun Pasar Batu," ujar Ami Agil, panggilan sehari-hari Habib Agil bin Salim Bahsin.

Pasar Batu adalah bangunan beton pertama di Hulu Sungai yang merupakan tempat pasar gatah (karet) di paruh pertama abad lalu.

Suatu masa kedua sahabat ini bertemu di Samarinda. Dalam pertemuan antara dua sahabat itu mereka tak lupa berfoto bersama dengan gaya masing-masing. Habib Muhammad mengenakan sarung dan baju koko berwarna putih, sementara Habib Alwi memakai busana baju safari dan celana panjang. Persamaan mereka adalah kopiah yang dikenakan serta masing-masing memakai tongkat.

Habib Muhammad masuk ke lingkungan Kesultanan Kutai berkat kelebihan dan kekuatan spiritualnya. Habib Muhammad Bin Yahya yang juga datuk dari aktor terkenal drg Fadly ini masuk ke istana setelah berhasil menyembuhkan penyakit seorang kerabat kesultanan.

Tak lama setelah kejadian itu, Habib Muhammad dinikahkan dengan Aji Raden Lesminingpuri, cucu Sultan AM Sulaiman yang juga anak Sultan AM Alimuddin.

Sedang, Habib Alwi sendiri juga menjadi tokoh kehormatan masyarakat Hulu Sungai terutama Barabai. Ketika Presiden Soekarno berkunjung wilayah Hulu Sunggai dan mampir ke Barabai tahun 1955, terjadi dialog singkat antara Habib Alwi dengan Sang Presiden.

Waktu berjabat tangan, disaksikan oleh tokoh-tokoh masyarakat lainnya mereka berbincang-bincang.

"Siapa nama Pak Haji?" ujar Bung Karno.

"Saya Sayyid Alwi," jawab Habib Alwi.

"Pak Sayyid orang Arab?"

"Ya, saya orang Arab, lahir di Hadramaut."

"Mengapa orang Arab mau membantu perjuangan orang Indonesia ?"

"Saya muslim, dia juga orang muslim. Jadi wajib membantu. Ikhwanul muslimin (persaudaraan sesama orang Islam)."

"Pergi ke Jakarta nanti," Bung Karno menawarkan undangan kepada Habib Alwi.

"Ya, Batavia ." (seorang wedana di Hulu Sungai kemudian membisiki Habib Alwi bahwa yang benar adalah Jakarta ).

"Yakarta," ujar Habib Alwi lagi mengoreksi ucapannya (Habib Alwi menyebut J dengan lafal Y).

Akhir cerita, Habib Alwi tak pernah ke Jakarta mendatangi undangan presiden pertama RI itu.

Habib Alwi AlHabsyi meninggal dunia tahun 1967 waktu berada di Banjarmasin dan dimakamkan di Turbah Sungai Jingah. Sahabatnya, Habib Muhammad Bin Yahya mendahuluinya 20 tahun sebelum itu dan bermakam di pekuburan Kelambu Kuning, Kutai Tenggarong. ali

Tuesday, October 09, 2007

Memburu Lailatul Qadar di Kota Suci

Rasulullah selalu beritikaf pada sepuluh hari terakhir.

Menjelang Idul Fitri 1428 H dan saat-saat Lailatul Qadar-malam yang dinyatakan Alquran sebagai lebih baik dari seribu bulan-dua kota suci Makkah dan Madinah makin dipadati pengunjung. Baik di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, saat-saat pada shalat fardu dan shalat Tarawih, jamaah meluap hingga ke pelataran-pelataran masjid.

Banyak yang memperkirakan jamaah dari mancanegara yang berumrah, terlebih menjelang akhir Ramadhan, jumlahnya hampir menyerupai jamaah haji. Membludaknya para jamaah juga terlihat dari hotel-hotel di Makkah dan Medinah yang sejak awal Ramadhan sudah dibooking oleh jamaah umrah.

Bahkan, sejumlah travel biro dari Indonesia mengatakan, mereka umumnya telah membooking hotel sejak beberapa bulan lalu. Sayangnya, meskipun sudah dipesan jauh hari, bahkan sudah setahun seperti yang dilakukan Biro Perjalanan Wisata NRA (Nur Rima Al-Waali), saat hendak pulang ke Indonesia sebuah hotel berbintang lima secara sepihak membatalkan kesepakatan karena mendapat pesanan yang lebih mahal. Akibatnya, biro perjalan itu terpaksa mencari hotel lain. Padahal, jamaah sudah berada di hotel yang telah dipesan itu.

Meskipun jumlah jamaah makin membludak saat umrah menjelang akhir Ramadhan, tapi saat berbuka puasa tidak ada seorangpun yang tidak mendapat bingkisan untuk berbuka. Baik di Masjid Nabawi di Madinah maupun di Masjidil Haram, Makkah, kita akan ditarik untuk diajak makan oleh para dermawan yang menggelar tikar putih menjelang Magrib.

Rupa-rupa makanan tersedia dan kita tinggal memilihnya. Tapi di dalam masjid hanya disajikan makanan ringan seperti korma, roti, susu, kopi dan air zamzam.

Kalau belum puas, setelah shalat Magrib silakan bergegas keluar masjid. Di sana kita akan memakan roti atau nasi dengan lauk pauk kambing atau ayam dalam ukuran besar untuk jamaah Indonesia. Berbuka di tanah suci memang terasa nikmat.

Ketika berumrah akhir September 2007, saat tawaf, terlihat padat para jamaah. Mereka melakukan tawaf hingga seluruh lapangan yang berbentuk bundar dan di tengahnya berdiri Kabah, sebanyak tujuh kali. Akibat para jamaah sulit bergerak karena saling desak-desakan. Dan ini berlangsung hampir satu jam.

Empat pendapat
Lailatul Qadar menjadi sebuah dambaan setiap Muslim. Sebuah malam pada Ramadhan yang menumpahkan anugerah tak terkira. Maka harapan pun meninggi, setiap Muslim berharap mendapati malam yang senilai dengan seribu bulan kebaikan.

"Sesungguhnya telah Kami turunkan Alquran pada Lailatul Qadar. Tahukah Engkau apa Lailatul Qadar itu? Malam itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu para malaikat dan ruh Jibril turun dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Selamatlah pada malam itu hingga fajar."

Demikian kutipan surat Al Qadar ayat 1 hingga 5 yang mengurai mengenai malam Lailatul Qadar. Maka kemudian bertebaranlah setiap Muslim untuk menggapai malam itu. Dalam buku Panduan Puasa Bersama Quraish Shihab, dinyatakan ada empat pendapat mengenai Al-Qadar.

Pertama adalah al-hukm yang berarti penetapan. Jadi malam Al-Qadar adalah malam penetapan Allah atas perjalanan hidup makhluk selama setahun. Kedua, adalah al-Qadar yang berarti pengaturan. Yaitu pada malam turunnya Alquran, Allah mengatur strategi untuk Muhammad.

Yaitu sebuah strategi untuk memandu Muhammad mengajak umat manusia menuju jalan Allah. Ketiga, Al-Qadar memiliki arti kemuliaan sedangkan makna keempat adalah sempit. Sebab pada malamnya Alquran itu banyak malaikat yang turun ke bumi hingga menjadi sempit.

Quraish mengatakan, dengan merangkum empat pendapat atau makna tersebut bahwa malam Lailatul Qadar itu merupakan malam yang mulia nan hebat.

(alwi shahab/fer)

Harmoni: Gedung Pesta Elite Bule

Inilah gedung Harmoni, setelah dihancurkan tahun 1985 menjadi bagian dari gedung Sekretariat Negara (Sekneg) yang diabadikan awal 1870-an. Harmonie Club merupakan salah satu gedung paling menawan dari bangunan-bangunan abad ke-19 di Batavia. Hingga banyak yang menyayangkan kenapa ia harus dibongkar. Di Harmoni tempo doeloe, masyarakat Eropa tingkat atas sering berdansa di lantai pualam, diterangi lampu-lampu kristal gemerlapan sambil minum anggur dan kadang-kadang ada yang ambruk karena teler. Tidak lupa mereka berbicara soal politik di klub ini --bagaimana melanggengkan kekuasaan kolonial Belanda-- sambil menikmati makanan tengah malam di bawah sinar bulan diteras yang ditanami bunga warna-warni.

Gedung yang terletak dipaling sudut Rijswijk (kini Jl Veteran) dan Rijswijkstraat (kini Jl Majapahit), pembangunannya dimulai pada masa Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), kemudian dilanjutkan penggantinya letnan gubernur Raffles pada masa Inggris (1811-1815). Raffles sendiri yang meresmikan gedung yang diarsiteki seorang putra Melayu pada 18 Januari 1815 untuk menghormati hari kelahiran Ratu Charlotte, istri Raja Inggris George III. Gedung Harmoni yang telah almarhum itu merupakan contoh terbaik bangunan Empire Style di Asia Tenggara.

Diberitakan, pesta peresmian berjalan sangat meriah dengan berbagai atraksi termasuk dansa-dansi yang dimulai pukul 21.00 hingga dini hari diselingi makan larut malam. Pada saat itu hubungan antara pejabat Inggris dan Belanda dikukuhkan dengan toast berulang-ulang dipelopori Raffles sendiri.

Di sini dalam ruang yang memuat 600 orang-- terutama para pegawai Belanda-- sering berakhir dengan perkelahian dan baku hantam khas Belanda. Paling sering karena memperebutkan hareem terutama saat dansa dansi akibat banyak meneggak minuman haram. Charles Warter Kinloch warga Inggris yang tamasa ke Batavia (1852) menggambarkan: ''Kehidupan elit Eropa dan Belanda di Batavia penuh glamour. Wanitanya sering gunakan pettycoat yang bagian bawahnya melebar seperti kurungn ayam. Mereka juga mendatangkan pakaian-pakaian mode terbaru dari Paris, London, dan Amsterdam.

Di klub Harmoni masalah gengsi dan status sosial tanpa malu dipertontonkan. Mereka saling menyapa satu sama lain tidak dengan menyebut nama tetapi dengan angka jumlah gaji mereka setahunnya. ''Meener 50 ribu gulden secara merendah mengalah terhadap meener 100 ribu gulden.'' Memang masyarakat kolonial Belanda tidak pernah terkenal sebagai orang berperasaan halus atau pandai bersopan santun, tulis Willard A Hanna dalam 'Hikayat Jakarta'.

Dalam gambar tampak jalan trem listrik yang menggelinding dari Meester Cornelis (Jatinegara), Pasar Ikan lewat Senen, Pasar Baru, Harmoni, Molenvliet (Jl Gajah Mada), Glodok. Di depannya yang diterangi oleh lampu gas terlihat beberapa pelayan berseragam. Demikian juga terdapat sejumlah pelayan klub tengah berada di samping gedung. Dahulu di bagian belakang klub Harmoni di Jl Majapahit terdapat hotel Du Pavilion yang kini juga menjadi bagian gedung Sekneg. Hotel mewah ini milik keturunan Arab kaya raya dari keluarga Sungkar.

(Alwi Shahab, wartawan Republika)

Masjid-masjid Tua

Cornelis Matelief Jonge, pemimpin armada Belanda, ketika menjelajahi Teluk Jakarta (1607), membuat gambar kota Jayakarta yang berada di tepi pantai. Terlihat sebuah masjid, yang menurut sejarawan Adolf Heuken sebagai masjid pertama di Jakarta. Pada Mei 1619, masjid ini dibumi-hanguskan oleh JP Coen, ketika dia menaklukkan Jayakarta.

Menjadi pertaanyaan, apakah masjid yang dibangun dari kayu terletak beberapa puluh meter sebelah selatan Hotel Omni Batavia (kira-kira terminal angkutan darat Jakarta Kota) itu merupakan masjid pertama di Ibukota? Tanah bekas masjid itu kemudian digunakan untuk membangun sebuah perwakilan dagang Inggris.

Pada paruh abad ke-14 di Karawang, Jawa Barat, berdiri pesantren Kuro. Karawang, seperti juga Sunda Kalapa, ketika itu termasuk wilayah Kerajaan Pajajaran yang dipimpin prabu Siliwangi. Ketika sang prabu mengunjungi pesantren Kuro, ia jatuh hati pada seorang santri bernama Subang Larang. Mereka menikah dan dikarunia seorang putera, Kyan Santang, yang kemudian menyebarkan agama Islam.

Ketika itu, orang Betawi banyak menjadi pengikut Islam. Para pendeta di Pajajaran menilai Kyan Santang melakukan penyimpangan, atau langgara. Karena itu, tempat sembahyang pengikut Islam di sebut langgar. Warga Betawi masih banyak menyebut langgar untuk sebutan mushola. Sedang tempat shalat yang lebih besar mereka sebut masjid atau masigit. Jadi, menjelang abad ke-15 sudah berdiri masjid di Jakarta.

Karena Islam dianggap membahayakan, maka Pejajaran melakukan perjanjian dengan Portugis yang membuat Sultan Trenggano dari Demak menjadi amat gusar. Dia kemudian mengirimkan seorang mubaligh sekaligus panglima, Fatahilah, dengan balatentaranya untuk menyerbu Sunda Kalapa dan mengusir Portugis. Fatahillah mendirikan kadipaten di sebelah barat muara Ciliwung. Di sebelah timur didirikan aryan -- perumahan untuk pejabat kadipaten dan keluarganya yang didatangkan dari Banten.

Pada abad ke-17 orang dari berbagai bangsa di Nusantara bertemu di Jakarta. Adat kebiasaan masing-masing terpaksa ditinggalkan karena beraneka ragam. Karena itu, kampung-kampung di sekitar kota dan desa-desa pedalaman bersatu dalam hal agama, dan kemudian dalam hal bahasa Melayu Betawi.

Gereja reformasi, tulis Hayken, tak sampai mencoba penginjilan, karena dianggap mustahil mentobatkan orang Muslim atau Tionghoa. Kecuali kegiatan Katholik yang dilarang sampai 1806. Batavia dan daerah sekitarnya mengalami semacam 'Melayunisasi' cepat setelah tahun 1700. Letnan Gubernur Jenderal Raffles sampai menulis pujian terhadap perkembangan Islam yang pesat pada masanya.

Untuk menjajaki sejumlah masjid tua yang sampai kini masih berdiri, baiklah kita mendatangi Masjid Al-Alam di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Masjid ini dibangun oleh Fatahilah dan pasukannya untuk menyerang Portugis (1527). Ada keyakinan masyarakat di sini, bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari.

Hingga kini masjid yang terletak di tepi pantai itu tidak pernah sepi. Selalu diziarai, lebih-lelbih pada malam Jumat kliwon. Seratus tahun kemudian (1628-1629), ketika ribuan prajurit Mataram pimpinan Bahurekso menyerang markas VOC (kini gedung museum sejarah Jakarta) para prajurit Islam ini lebih dulu singgah di Marunda guna mengatur siasat perjuangan. Bahkan, ada yang mengatakan masjid ini dibangun oleh prajurit Sultan Agung.

Dalam bulan puasa ini, ada hal-hal istimewa yang akan kita dapati bila mengunjungi masjid-masjid tua di Jakarta. Di samping mendapatkan siraman rohani, kita akan mendapatkan pula kisah-kisah heroik perjuangan umat Islam di masa lalu. Mencontoh fungsi masjid di masa Rasulullah SAW, nasjid tua itu, melalui para jamaahnya, telah mengobarkan semangat perjuangan melawan penjajahan Belanda. Bahkan, pernah dijadikan sebagai markas perjuangan pada masa revolusi fisik (1945-1949) melawan NICA.

Ada Masjid As-Salafiah di Jatinegara Kaum, dekat Pulo Gadung, Jakarta Timur. Masjid ini didirikan oleh Pangeran Ahmed Jakerta, setelah ia hijrah dari Jayakarta pada tahun 1619 akibat gempuran VOC. Di tempat yang empat abad lalu masih terpencil dan berupa hutan belukar itu pangeran membangun masjid yang hingga kini masih diabadikan. Ini terlihat dari empat tiang utama yang terbuat dari kayu jati yang menjadi penyangganya. Sekalipun sudah delapan kali direnovasi dan diperluas, empat tiang penyanggah ini masih kita dapati.

Dari Masjid As-Salafiah inilah, pangeran Jayakarta dan pengikutnya mengobarkan semangat jihad untuk terus menerus mengusik Belanda. Menurut sejarah versi Belanda, sampai 1670 Batavia tidak pernah aman dari gangguan keamanan akibat aksi gerilya tersebut. Ketika Sultan Agung menyerang Batavia, Jatinegara Kaum kembali memegang sejarah penting. Di masjid ini kita masih mendapati makam Pangeran Ahmed Jakerta, para keluarga dan pengikutnya.

Glodok yang selalu hingar bingar -- apalagi saat puasa sekarang ini -- juga banyak memiliki masjid tua. Di Jl Pengukiran II, misalnya, terdapat masjid Al-Anshor yang didirikan oleh para pendatang dari Malabar (India) pada abad ke-17. Tepatnya pada 1648. Ada lagi Masjid Kampung Baru yang didirikan pada tahun 1748 yang kini hanya tersisa beberapa dari bangunan aslinya.

Tidak jauh dari tempat itu, di tepi kali Angke di Jl Pekojan, Jakarta Barat, terdapat sebuah surau yang disebut Langgar Tinggi. Disebut demikian karena langgar ini agak tinggi dan berlantai dua. Para Muslim India juga berperan dalam membangun langgar ini. Masih di kawasan Pekojan, terdapat masjid yang dibangun pada abad ke-18. Masjid an-Nawier (Cahaya) erat kaitannya dengan masjid kuno di Kraton Solo dan Banten. Ikut berperan dalam penyebaran Islam. Masih terdapat puluhan lagi masjid tua di Jakarta yang ikut berperan dalam penyebaran Islam dan memeprtahankan kemerdekaan.

(Alwi Shahab )

Jaringan Zionis di Rumah Setan

Orang Betawi sampai awal abad ke-20 dengan rasa takut menyebut gedung dengan enam buah pilar sebagai penyangganya adalah 'rumah setan'. Letaknya bersebrangan dengan Gedung Mahkamah Agung (MA) pada masa Bung Karno dan awal pemerintahan Pak Harto. Gedung MA sendiri terletak di sebelah kanan Departemen Keuangan di Lapangan Banteng, yang rencananya oleh Gubernur Jenderal Daendels akan dibangun Istana namun urung.

Gedung Setan seperti terlihat dalam foto terletak di Vrijmet Selaarweg (kini Jalan Budi Utomo), tidak jauh dari Kantor Pos Pasar Baru, Jakarta Pusat. Bangunan yang memiliki loge (loji) merupakan perkumpulan kaum Theosofi De Ster in het Oosten atau Bintang Timur. Tapi lebih populer dengan sebutan rumah setan, sebutan yang dibisikkan oleh pribumi dengan rasa takut. Dahulu, di sebelah 'rumah setan' terdapat perumahan para perwira dan petinggi Belanda.

Di rumah setan inilah yang kemudian pada awal abad ke-20 menjadi gedung farmasi Rathkamp dan kini Kimia Farma setelah diambil alih pemerintah RI dijadikan pusat kegiatan Freemason suatu gerakan yang menjadi kaki tangan zionisme sejak abad ke-18 di Indonesia. Waktu itu namanya 'La Choisile' didirikan pada 1763 oleh Jacobus Cornelis Mattheus Roderman Cher (1741-1783) beserta enam orang kawannya.

'La Choisile' kemudian membangun dua loge (loji) lainnya yang sebagian besar anggotanya para militer dan petinggi Belanda, termasuk perwira-perwira VOC. Menunjukkan sejak ratusan tahun lalu Yahudi telah mengembangkan sayapnya di Indonesia. Dulu di Noordwijk (Jl Juanda) dan Rijswijk (Jl Segara) yang merupakan pusat perdagangan dan pertokoan di Batavia warga Yahudi banyak yang membuka toko.

Kedua loge (loji) hingga kini masih berdiri sekalipun fungsinya sudah beralih menjadi pabrik Kimia Farma. Di dekatnya dulu terdapat SMA terkenal Budi Utomo. Pada awal gerakannya Freemason atau Vrijmetselarij dalam Belanda, menggunakan kedok persaudaraan, kemanusiaan, tak membedakan agama dan ras, warna kulit dan gender, apalagi tingkat sosial di masyarakat. Mereka menitikberatkan gerakannya pada kegiatan ilmiah dan bersifat keilmuan. Gerakan ini juga memberikan beasiswa pada murid-murid berbakat. Tidak heran banyak tokoh masyarakat ketika itu bersimpati pada gerakan ini.

Satu dari sekian doktrin yang dengan kuat diajarkan dalam persaudaraan 'Freemason' adalah sikap mereka pada agama. Mereka menganggap semua agama sama. Ini sama persis dengan apa yang marak kita temui hari-hari dengan nama lain: pluralisme. Dan memang sesungguhnya pluralisme pun adalah ajaran dari pemikiran orang-orang Yahudi. Tulis Herry Nurdi dalam buku 'Jejak Freemason & Zionis di Indonesia'. Menurut para orang tua, masyarakat sendiri banyak tertipu menyangka warga Yahudi adalah keturunan Arab karena menggunakan bahasa ini dengan fasih.

(Alwi Shahab, Wartawan Republika)

Menelusuri China Town

Menjelang pertengahan Ramadhan, Glodok yang mendapat julukan China Town atawa Pecinan merupakan salah satu pusat perbelanjaan yang banyak didatangi pembeli. Glodok dalam sejarahnya merupakan salah satu pasar tertua di Jakarta, lebih tua dari Pasar Tanah Abang dan Senen yang dibangun pada abad ke-18.

Glodok berasal dari nama yang berbunyi grojok-grojok pada masa VOC merupakan kampung yang terletak di luar kota berbenteng. Jauh sebelum dibangunnya Batavia (Mei 1619), dan semenjak bernama Sunda Kalapa, orang Cina sudah banyak tinggal di tepi pantai tidak jauh dari bandar Sunda Kalapa. Tapi, ketika Olanda membangun loji di sini, mereka pun diusir. Baru setelah terjadinya pembantaian orang Tionghoa (November 1740) mereka ditempatkan di kawasan yang sekarang ini kita kenal dengan sebutan Glodok.

Mendatangi pusat-pusat pembelanjaan di Glodok saat puasa, kita harus ekstra kuat menahan haus. Berdampingan dengan Glodok terdapat pertokoan Pancoran yang dulunya merupakan pancuran tempat orang mengambil air minum dan mandi. Glodok memiliki pusat elektronik yang dikenal sebagai pertokoan Harco. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa yang membangunnya pada tahun 1970-an adalah seorang keturunan Arab bernama Abubakar Bahfen. Dia juga membangun pertokoan dengan nama yang sama di Pasar Baru.

Baik di Glodok maupun di Pasar Baru, sampai tahun 1960-an terdapat Markas Polisi Seksi II dan III -- semacam Polsek sekarang ini. Di Harco kita dapat membeli berbagai produk elektronik dengan harga miring, dan kini didominasi oleh produk Cina. Konon, di sini juga terdapat barang-barang selundupan, yang begitu gampang lolos dan dijual bebas. Di sekitar Harco terdapat para pedagang VCD dan DVD, termasuk film-film porno. Entah sudah berapa puluh kali dilakukan razia, tapi tidak pernah berhasil menghalau para pedagamg VCD porno yang jumlahnya ratusan.

Menelusuri jalan-jalan di daerah ini, diperlukan banyak fantasi. Bukan saja untuk membayangkan tragedi 1740 yang menelan korban 10 ribu Tionghoa, tapi situasi tempat dan masyarakat ketika itu. Pria Cina ketika itu berlalu lalang dengan rambut dikepang panjang dan rambut bagian depan dicukur licin, sebagai tradisi ketika daratan Cina dijajah Manchu selama tiga ratus tahun. Pemerintah kolonial Belanda, disamping mengharuskan orang Cina tinggal di satu tempat, juga melarang mereka berpakaian seperti pribumi dan barat. Yang melanggar dikenai denda atau kurungan.

Hingga kini -- sekalipun harus bersaing dengan pusat perdagangan lain yang menjamur di Jakarta -- Glodok masih tetap merupakan tempat perbelanjaan paling bergengsi. Hampir semua tempat tinggal telah berubah fungsi menjadi tempat perdagangan. Penghuninya kini tinggal di perumahan-perumahan mewah, seperti Pluit, Ancol, Sunter dan Kawasan Indah Kapuk.

Pada masa Bung Karno dan awal pemerintahan Soeharto, konon sebagian besar uang yang beredar berada di Glodok. Sebelum dilarang di masa pemerintahan Soeharto, di Glodok dapat disaksikan berbagai atraksi kesenian Cina, yang juga diminati pribumi. Misalnya, pesta-pesta pada tahun baru Imlek yang meriah dan gemerlapan. Lalu, perayaan Cap Go Meh yang berlangsung setiap malam mulai dari Pecinan hingga Meester Cornelis (Jatinegara), dan diteruskan ke Buitenzorg (Bogor), Sukabumi dan Cianjur.

Ketika kita menelusuri jalan-jalan di Pecinan, serta puluhan jalan kecil di sekitarnya, aroma hio terasa menyengat dan merupakan tipikal kawasan ini. Tidak usah heran, hio bagi masyarakat setempat bukan saja dipasangkan di hio lau, tapi juga di pojok-pojok pintu rumah. Itu membuktikan adat istiadat leluhur masih mendapat tempat. Termasuk bagi generasi mudanya, yang kita dapati banyak mendatangi klenteng-klenteng untuk bersoja sebagai tanda bakti kepada leluhur. Dalam masyarakat Tionghoa, berbakti pada orang tua merupakan kemustian, agar tidak jadi orang doraka.

Di China Town kita akan mendapati belasan sinshe yang membuka praktek pengobatan sejak puluhan tahun lalu. Dulu, ketika dokter masih sedikit, sinshe paling banyak didatangi orang yang ingin berobat. Di samping sinshe, kita akan mendapati kios-kios pedagang obat-obatan Cina yang dijual secara bebas. Pengobatan Cina, yang dikenal sejak ribuan tahun lalu, kini makin diminati. Sayangnya, banyak obat-obat produk Cina yang palsu, seperti berulang kali disiarkan pers.

Berdekatan dengan Glodok terdapat Kali Besar yang oleh Belanda disebut Groote Kanaal. Dulu merupakan alur pelabuhan, di mana kapal-kapal kecil dapat masuk dan sandar untuk membongkar barang-barang, khususnya rempah-rempah. Sampai tahun 1950-an, banyak perusahaan besar berkantor di Kali Besar. Sebelum perusahaan Belanda dinasionalisasi, mereka berkantor di Kali Besar.

Banyak pegawai Belanda yang datang ke kantor dari Menteng dan Pasar Baru dengan naik trem listrik. Di Kali Besar muara Ciliwung pada saat Peh Cun hari keseratus tahun baru Imlek banyak masyarakat Cina melakukan lomba sampan. Ketika itu airnya masih jernih, sering digunakan untuk mandi oleh anak-anak dan mencuci pakaian oleh ibu-ibu.

(Alwi Shahab)

Trem Uap Mester-Pasar Ikan

Trem uap (seperti terlihat dalam foto), mulai beroperasi di Batavia (Jakarta), pada tahun 1881 menggantikan trem kuda. Trem uap yang meluncur dari Meester Cornelis (Jatinegara)-Pasar Ikan (Kota), hanya bertahan selama 18 tahun dan kemudian digantikan trem listrik pada 1899. Foto yang diambil pada awal abad ke-20 memperlihatkan trem uap tengah meluncur di salah satu tempat antara Matraman-Jatinegara. Jakarta ketika itu masih teduh dan rimbun dengan pepohonan di kiri kanan jalan.

Seorang pendatang dari negeri Belanda ke Batavia pada awal abad ke-20 menulis, dari kejauhan terdengar bunyi lonceng trem uap, persis seperti di Belanda. Di atas lokomotif berdiri masinis pribumi dengan petugas yang menyalakan api. Dua kondekturnya adalah orang Betawi muda yang berseragam tapi tanpa alas kaki.

Sementara kepala kondektur adalah seorang Eropa pensiunan tentara. Trem itu memiliki kelas satu dan kelas dua dan masih ada gerbong khusus kelas tiga untuk orang pribumi yang membayar dengan murah. Ganjilnya adalah orang Tionghoa, Arab, dan Eropa tidak diperbolehkan duduk di kelas tiga. Mereka harus naik di kelas dua yang harganya lebih mahal. Tapi juga dilarang naik kelas satu yang hanya diperuntukkan bagi warga Eropa.

Ini ada hubungannya dengan prasangka rasis gila di mana banyak orang Eropa di Hindia ini masih menganutnya. Orang-orang yang di Belanda hanya seorang pemerah susu, hanya karena mereka tidak memiliki kulit sawo matang yang indah seperti orang-orang pribumi, di Hindia mereka menganggap dirinya luar biasa.

Jaringan perhubungan dalam dan luar kota Batavia, mulai berkembang dan meluas pada paruh kedua abad ke-19 yang antara lain disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi. Pada 1873 jalan kereta api pertama dibangun antara Batavia-Buitenzorg (Bogor). Untuk lalu lintas kota pada 1869 muncul trem kuda --yang ditarik empat ekor kuda-- untuk kemudian digantikan trem uap.

Seperti terlihat dalam foto, mobil belum terlihat dan baru dikenal mulai tahun 1920-an --merupakan simnbol elitis dan ekslusif. Karena hanya orang-orang Belanda tertentu yang memilikinya. Terlihat dalam foto sado dan kereta kuda yang merupakan sarana angkutan ketika itu. Di samping sepeda yang punya jalur sendiri. Sementara kendaraan angkutan barang berupa gerobak yang selain ditarik oleh kuda, lebih banyak digerakkan oleh manusia. Kini merupakan hal langka angkutan gerobak yang ditarik oleh manusia.

(Alwi Shahab, wartawan Republika)

Kramat - Pasar Senen 1935

Di bulan Ramadhan, Pasar Senen, seperti saudara kembarnya, Pasar Tanah Abang, banyak didatangi pemnbeli. Mereka mencari barang-barang kebutuhan lebaran. Kedua pasar yang berada di Jakarta Pusat itu dibangun pertama kali oleh Justinus Pink -- seorang petinggi Hindia Belanda -- pada abad ke-18.

Kini kedua itu saling berlomba untuk menjadi pasar terbesar di tanah air. Tidak henti-hentinya kedua pasar yang telah berusia hampir tiga abad itu terus memperluas diri.

Baiklah, kita beralih ke situasi Kramat-Pasar Senen pada tahun 1935, atau 72 tahun yang lalu. Di depan pasar, tempat kini berdiri Atrium Senen, dulu terdapat Apotik Rathkamp yang setelah kemerdekaan menjadi Kimia Farma. Dulu daerah ini disebut Gang Kenanga. Di sini terdapat toko sepeda terkenal, Tjong & Co.

Kala itu sepeda merupakan kendaraan yang paling banyak digunakan masyarakat mulai dari murid sekolah, pegawai, hingga pedagang. Sepeda yang terkenal kala itu bermerek Humber, Raleigh, Royal & Fill, Fongers dan Hercules.

Pada masa kolonial dan awal kemerdekaan, memiliki sepeda harus memakai peneng -- semacam pajak seperti STNK untuk mobil. Naik sepeda pada malam hari harus memakai lampu. Mula-mula lampu minyak, kemudian menggunakan berco yang ditempelkan pada ban depan saat berjalan. Tanpa peneng dan lampu, sepeda akan ditahan polisi untuk kemudian di proses ke landracht (pengadilan) -- istilah sekarang ditilang.

Ketika itu, meskipun ada polisi yang ceker ayam alias telanjang kaki, mereka sangat ditakuti. Denda pelanggarannya bisa mencapai lima gulden, setara dengan gaji golongan menengah kebawah. Tidak ada polisi yang mau menerima 'uang rokok' alias makan sogokan. Mereka yang melakukan pelanggaran berat bisa dipenjara selama sebulan.

Kala itu, bioskop Grand -- kemudian Kramat Theater -- masih bernama Rex Theater. Di depannya terdapat trem yang menghubungkan Meester Cornelis (Jatinegara) dengan Pasar Ikan lewat Senen, Pasar Baru, Sawah Besar dan Glodok. Pada masa kolonial, keturunan Arab dan Tionghoa harus naik trem di kelas dua, dan Belanda di kelas satu. Sedangkan pribumi di kelas tiga.

Ada juga trem dari Jatinegara ke Gunung Sahari dan Ancol. Sampai tahun 1950-an hampir tidak ada sopir yang berani melewati Ancol pada malam hari. Karena di sekitar jembatan Ancol (kini tempat masuk ke Taman Impian Jaya Ancol) masih berupa hutan belukar penuh monyet yang sering berhamburan keluar. Ditambah adanya isu si Manis dari jembatan Ancol yang sering muncul mengganggu para sopir yang lewat di malam hari.

Di Pasar Senen saat itu banyak bermunculan toko milik orang Jepang, yang statusnya oleh Belanda disamakan dengan golongan Eropa. Harga barang-barang di toko milik orang Jepang jauh lebih murah katimbang produk Eropa dan lokal.

Ternyata sebagian besar warga Jepang itu adalah mata-mata. Mereka rupanya telah menyiapkan diri untuk menaklukkan Hindia Belanda yang dibuktikan pada Perang Dunia II.

Di Pasar Senen juga terdapat tukang peci Idris Halim merek Pantas. Konon, Bung Karno selalu memesan peci dari tempat ini. Antara Bioskop Rex dan Tanah Tinggi banyak toko dan kafe bermunculan. Seperti Padangsche Buffert -- mungkin rumah makan pertama di Jakarta.

Pada tahun 1950-an di Senen terdapat rumah makan padang Ismail Merapi. Di sinilah tempat para seniman Senen, seperti Sukarno M Noor, Wahyu Sihombing, Sumandjaya, Menzano, Wahid Chan, termasuk HB Yassin dan Djamaluddin Malik ngumnpul. Letak rumah makan ini di pintu gerbang pertama Proyek Senen.

Saat itu toko yang paling terkenal di Pasar Senen adalah Baba Gemuk dan Baba Jenggot. Kasirnya menghitung uang belanjaan dengan shempoa yang tidak kalah cepatnya dengan sistem komputer. Di dekatnya ada toko batik milik Ahmad bin Alwi Shahab, raja batik asal Pekalongan. Di pasar ini juga terdapat toko sepeda H Ma'ruf, yang putranya pada 1950-an membangun bioskop Garden Hall di Taman Ismail Marzuki.

Di Gang Kwini, dekat RS Gatot Subroto, terdapat kediaman Djohan Djohor -- pengusaha kenamaan -- kawan baik Bung Hatta. Pada tahun 1930-an ada seorang pribumi yang menjadi pengusaha perdagangan dan perkapalan Dasaad Concern. Sedangkan pengusaha Arab terkenal saat itu adalah Marba, singkatan dari nama Marta dan Bajened. Yang terakhir ini pada tahun 1950-an mati ditembak oleh Bir Ali dari Cikini yang hendak merampoknya.

Rupanya kegiatan Zionis di Indonesia sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Dulu, di samping Gedung Departemen Keuangan di Lapangan Banteng terdapat 'rumah setan' -- tempat perkumpulan Freemason -- suatu gerakan zionis di Indonesia. Freemason dalam kegiatannya menggunakan kedok persaudaraan, kemanusiaan, tak membedakan agama dan ras, warna kulit maupun gender serta tingkat sosial di masyarakat.

Di Jl Kramat dekat Senen, ketika itu Snouck Hurgronye -- seorang orientalis Belanda yang menyamar sebagai Muslim -- bertempat tinggal. Ia menguasai bahasa Artab dan Islam. Snouck pergi ke Mekah dan Madinah -- tempat yang terlarang bagi non Islam.

Menurut sejarawan Mr Hamid Algadri, Snouck bukan saja bertindak sebagai ilmuwan yang ingin mengabdikan ilmunya untuk kepentingan politik kolonialisme Belanda di Indonesia, tapi untuk tujuan itu dia juga menjauhkan orang Indonesia dari keturunan Arab yang baginya identik dengan Islam.

Alwi Shahab)

Istana Callenberg di Cikini

Callenberg di Jerman tentu saja jaraknya ribuan kilometer dari Jakarta. Terletak di atas sebuah bukit di dekat Coburg, istana yang bernama Callenberg itu dapat kita saksikan bila berkunjung ke Rumah Sakit Dewan Gereja Indonesia (DGI) di Cikini, Jakarta Pusat. Tidak pelak lagi, bahwa gedung pimpinan RS Cikini itu adalah satu bangunan tiruan dari satu istana kecil di Callenberg (Jerman). Istana ini merupakan tempat peristirahatan yang paling disenangi oleh para adipati dari Sachsen-Cobutha-Gortha. Tapi mengapa tiruannya dibangun di Jakarta?

Kunci jawaban atas pertanyaan itu adalah riwayat kehidupan pelukis modern asal Jawa yang pertama, seorang turunan dari keluarga bangsawan Jawa Tengah: Raden Saleh Syarif Bustaman. Pelukis yang lukisan-lukisannya banyak menjadi koleksi Istana karena digemari Bung Karno, hidup antara 1811-1880. Dia dimakamkan di Bogor di Jl Pahlawan. Atas perintah Bung Karno-lah tempat meninggalnya dipugar.

Pelukis kelahiran Semarang ini, adalah saudara misan Habib Abdurahman Alhabsyi, ayah Habib Ali Alhabsyi, pendiri majelis taklim Kwitang 80 tahun lalu. Setelah belajar selama 10 tahun di Belanda, Raden Saleh kemudian ke Jerman dan di negara ini ia tertarik dengan Istana Callenberg. Maka sekembalinya di Indonesia, di tanahnya yang luas di Cikini termasuk TIM dan SMP II Cikini serta masjid Cikini dia pun membangun kediamannya meniru Istana Callenberg. Sebagai penyayang binatang, Raden Saleh telah membangun kebun binatang Cikini, di kediamannya yang luas itu.

Di Jerman, negara yang tidak mempunyai jajahan, dia tidak diperlakukan sebagai budak melainkan sederajat dengan orang sesama, suatu yang tidak mungkin terjadi di Hindia Belanda yang melakukan politik rasialis. Ketika kembali ke Batavia, Raden Saleh tidak masuk ke dalam dinas penguasa kolonial Belanda, salah satu syarat ketika ia mendapat beasiswa pendidikan di Eropa.

Beberapa karya terbaik Raden Saleh sekarang berada dalam koleksi seni istana kepresidenan. Menunjukkan kekaguman Bung Karno terhadap pelukis dari keluarga Bin Yahya. Di antaranya yang menonjol adalah ''Penangkapan Pangeran Diponegoro'' yang ia selesaikan tahun 1858.

Bertentangan dengan pelukis-pelukis Belanda yang melukis akhir dari penguasa kolonial yang berbahaya ini dari sudut pandang Belanda. Raden Saleh menunjukkan Pangeran Diponegoro, seorang bangsawan dari Kesultanan Mataram sebagai pemenang bermoral. Pangeran yang mengenakan jubah dan sorban, dengan tasbih terlihat menonjol di sabuknya, berjalan ke tahanannya di Magelang dengan muka menantang perwira Belanda yang menipunya dengan kedok mengajak berunding. Itu adalah suatu karya lukis yang revolusioner dan antikolonial yang baru dibawa Belanda kembali ke Jakarta setelah kemerdekaan.

Kediaman Raden Saleh ini kemudian dibeli oleh sahabatnya: Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, yang memiliki sebuah rumah besar dan mewah yang kini menjadi museum tekstil di Jati Petamburan, Jakarta Pusat. Kemudian kediaman Raden Saleh ini dijual oleh Sayid Abdullah kepada Yayasan Emma, sebuah organisasi sosial Belanda. Tapi menjelang kemerdekaan rumah sakit ini oleh Belanda diserahkan kepada Dewan Gereja Indonesia (DGI).

(Alwi Shahab, wartawan Republika)

Sumpah Pemuda Arab

Banyak masyarakat salah persepsi tentang kedatangan orang Arab ke Nusantara. Pemerintah kolonial Belanda menyebutkan para imigran dari Hadramaut (Yaman Selatan) datang ke Indonesia pada abad ke-19. Lalu para orientalis, seperti Snock Hurgronye, menyatakan Islam masuk ke Indonesia bukan dari Arab, tapi Gujarat (India). Tujuannya adalah untuk menghilangkan pengaruh Arab di Indonesia, yang di mata Belanda sangat berbahaya bagi kelangsungan hidupnya di tanah jajahan.

Pendapat tersebut telah dibantah dalam seminar Sejarah Masuknya Islam di Indonesia yang berlangsung di Medan (1973). Seminar yang dihadiri para sejarawan dan pemuka agama ini menegaskan bahwa Islam telah berangsur datang ke Indonesia sejak abad pertama hijriah (abad ketujuh Masehi) dibawa oleh para saudagar Islam yang berasal dari Arab, diikuti oleh orang Persia dan Gujarat.

Menurut hasil seminar itu, mereka bukanlah missionaris Islam sebagaimana diperkirakan dunia Kristen. Sebab, pada hakekatnya setiap orang Islam punya kewajiban menyampaikan missi. Malabar dan Koromandek (India) juga bukan tempat asal kedatangan Islam ke Indonesia, tetapi tempat singgah.

Pada masa terebut perjalanan dari Arab ke Indonesia dengan kapal layar memerlukan waktu berbulan-bulan, bahkan lebih setahun. Karena itu, mereka harus singgah di Gujarat yang kala itu merupakan bandar yang ramai.

Berarti, sejak lama orang Arab telah datang ke Indonesia, Malaysia dan daerah lain di Nusantara. Penduduk menerima orang-orang Arab yang mereka anggap datang dari tanah suci (Mekah dan Madinah). Dapat dipahami bahwa pengaruh Arab di kedua negara tersebut relatif sangat besar.

Pada abad ke-18 dan 19, misalnya, masyarakat Nusantara lebih dapat membaca huruf Arab daripada latin. Maka, mata uang di masa Belanda ditulis dengan huruf Arab Melayu, Arab Pegon atau Arab Jawi. Bahkan, pada masa itu, cerita-cerita roman termasuk tulisan pengarang Tionghoa juga ditulis dalam huruf Arab Melayu.

Mengingat sekitar 90 persen penduduk Indonesia adalah Muslim, seperti pernah dikatakan Rasulullah, ''Dicintai Arab karena tiga hal, karena aku seorang Arab, Alquran tertulis dalam bahasa Arab, dan percakapan ahli surga juga mempergunakan bahasa Arab.'' (Hadis riwayat Ibnu Abbas).

Sehubungan dengan hal di atas, wajarlah bila Indonesia-Arab merupakan golongan yang sedemikian unik, karena status atau kedudukan mereka akibat perpaduan antara Islam dan budaya Arab, serta sejarah mereka. Kalau Belanda menyebut pribumi sebagai inlander (bangsa kuli) yang membuat Bung Karno marah besar, keturunan Arab memberikan penghargaan dengan sebutan ahwal (saudara dari pihak ibu). Mengingat, sebagian besar keturunan Arab yang datang ke Indonesia tanpa disertai istri.

Karena itu, orang Indonesia keturunan Arab menolak ketika Belanda ingin meningkatkan status mereka, sebagai usaha untuk menjauhkan mereka dengan pribumi. Mereka lebih memilih untuk berdekatan dengan saudara-saudaranya dari pihak ibu.

Mr Hamid Algadri yang banyak menulis tentang keturunan Arab di Indonesia menyebutkan tidak sedikit mereka yang terlibat dalam perjuangan melawan Belanda di berbagai daerah. Bahkan, Raden Saleh (dari keluarga Bin Yahya), yang merupakan anak didik Belanda, pada akhir hayatnya pernah ditangkap dan dituduh membela kelompok Muslim radikal yang memberontak di Bekasi.

Belanda selalu menyebut kelompok yang melakukan perlawanan terhadap penjajah sebagai radikal dan Islam fundamentalis. Seperti yang dilakukan sekarang ini oleh AS dan sekutu-sekutunya terhadapat para pejuang Islam yang tidak mau tunduk padanya.

Raden Saleh telah menyediakan kediamannya (kini TIM) sebagai kebon binatang sebelum pindah ke Ragunan. Pelukis yang namanya dikenal di dunia internasional ini juga membangun sebuah masjid di Jl Raden Saleh yang hingga kini masih berdiri.

Sebelum Boedi Oewtomo berdiri (1908), pada 1901 berdiri organisasi Islam modern pertama di Indonesia, Jamiat Kheir. Pendirinya antara lain Sayed Ali bin Ahmad Shahab, kelahiran Pekojan, tempat sekolah itu pertama kali didirikan. Kelahiran Jamiat Kheir mendapat simpati dari tokoh-tokoh nasional seperti HOS Tjokroaminoto (Syarikat Islam) dan KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah).

Sayed Ali, bersama sejumlah pemuka keturunan Arab, pernah mengirimkan para pemuda ke Turki, termasuk putranya, Abdul Muthalib Chehab. Di Turki mereka mendapatkan pendidikan militer dengan harapan sekembalinya ke Indonesia dapat turut memimpin perjuangan melawan Belanda.

Sayang, pada 1923 Kerajaan Ottoman jatuh dan Turki menjadi negara sekuler pimpinan Mustafa Kemal Attaturk. Sekarang ini, kelompok Islam di Turki memiliki seorang Presiden yang dekat dengan Islam dan istrinya memakai jilbab, sesuatu yang sebelumnya sangat diharamkan.

Beberapa orang Arab telah mengumpulkan dana sebagai modal pada Tirtoadisuryo untuk mendirikan majalah dagang Medan Prijai di Bandung yang akhirnya mendirikan Sarikat Dagang Islam (SDI) di Jakarta dan Bogor (1911), sebelum yang bersangkutan diundang Samanhudi agar bergabung dengan SDI di Solo (1912).

Tampilnya Partai Arab Indonesia (PAI) pimpinan AR Baswedan dalam arena pergerakan perjuangan kemerdekaan cukup mengejutkan, karena PAI mencita-citakan Indonesia sebagai tanah air keturunan Arab. Sumpah Pemuda Indonesia keturunan Arab ini diikrarkan secara luas pada tahun 1934.

Ikrar tersebut sekaligus menjadi jembatan yang menyatukan kembali kelompok Arabithah dengan Al-Irsyad yang sebelumnya saling cakar-cakaran. Kini masyarakat Indonesia keturunan Arab tidak mau lagi dipecah belah seperti yang pernah terjadi pada masa kolonial Belanda.

(Alwi Shahab )

Marilyn Monroe Diboikot di Menteng

Menteng seperti terlihat dalam foto sampai tahun 1960-an mnerupakan bioskop kelas satu di Jakarta di samping Metropole dan Garden Hall di Cikini. Bioskop Menteng terletak di Jalan Tjokroaminoto pada masa Belanda bernama Java Weg (Jl Jawa) Sebelah kanan bioskop Menteng yang selalu memutar film-film AS, terletak Lapangan Persija yang di masa Belanda bernama Vios Veld (Lapangan Vios).

VIOS merupakan perkumpulan sepakbola di Batavia yang sebagian besar pemainnya para bule dan Indo Belanda. Jalan Tjokroaminoto pada 1960-an seperti terlihat dalam foto belum seramai sekarang, yang hampir tiap waktu dilanda kemacetan. Bioskop Menteng sendiri kini sudah almarhum digantikan oleh pertokoan Batik Keris. Sedangkan Lapangan Persija kini berubah menjadi Taman Menteng disulap menjadi daerah hijau royo-royo dan tempat rekreasi.

Pokoknya sampai akhir 1960-an, kawasan Menteng selain Jl Imam Bonjol Jl Diponegoro merupakan kawasan permukiman yang tenang. Tinggal di kawasan ini, kata sejumlah penghuninya, sangat nyaman. Kita dapat beristirahat di teras muka rumah pada sore dan malam hari sambil memandangi jalan melalui pagar yang rendah, membaca koran atau menerima tamu. Memang Belanda ketika membangun Menteng ingin mengabadikan sebagai kota taman pertama di Indonesia.

Kini, kita harus berhati-hati bila ke Menteng akibat semrawutnya lalu lalang kendaraan. Berjalan kaki dengan aman termnasuk naik sepeda kini merupakan kemustahilan. Mobil dan motor terang-terangan melanggar peraturan menyerempet trotoar untuk pejalan kaki. Sementara para pedagang dengan seenaknya menggelar tenda-tenda yang menjadi milik pejalan kaki dan pengendara sepeda. Begitulah lalu lintas di Jakarta entah kapan akan ditertibkan.

Di samping bioskop Menteng, dulu terdapat Toko Li yang kemudian menjadi swalayan Gelael yang habis terbakar pada 1987 dan diganti dengan gedung Lippo Bank. Di dekatnya terdapat Apotik Oranye Nassau, yang kini juga sudah marhum. Tentu saja diganti gedung yang lebih megah.

Bioskop Menteng dan ratusan bioskop lainnya di tanah air kini berubah fungsi. Ada yang jadi mal, pertokoan dan gudang. Salah satu penyebabnya akibat ulah golongan kiri PKI yang pada awal 1960-an memnboikot film-film AS dan barat. Di antaranya film The Misfuts yang dibintangi Marilyn Monroe, simbol seks Hollywood tahun 1950-an dan 1960-an. Pemboikotan film-film AS (Barat) dalam bentuk aksi dan demo di berbagai tempat di Indonesia, dilakukan oleh PAPFIAS (Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis AS).

Padahal ketika itu rakyat menggemari film AS termasuk Marilyn Monroe yang film-filmnya selalu ditunggu-tunggu. Lalu PKI/LEKRA mendatangkan film-film dari negara sosialis yang berisi propaganda komunisme. Karena rakyat tak suka maka bioskop gulung tikar. Marilyn Monroe meninggal akibat minum obat tidur overdosis. Dia dikabarkan pernah melakukan skandal dengan Presiden Kennedy, Presiden AS yang muda dan tampan yang dikagumi Bung Karno.

(Alwi Shahab, wartawan Republika.)

KH Abdullah Syafi'ie

Awal pekan ini saya mendapat telepon dari KH Abdul Rasyid AS, putera tertua almarhum KH Abdullah Syafi'ie. ''Antum datang ya pada khaul ke-22 walid (ayah) di Puloair, Sukabumi, Jawa Barat.''

Mendapat undangan itu saya teringat peristiwa 22 tahun lalu. Ketika saya hendak olahraga pagi, istri memberitahukan bahwa Radio Assafi'iyah memberitakan KH Abdullah Syafi'ie meninggal dunia tanggal 3 September 1985 dalam usia 75 tahun. Kemudian, dari radio Islam itu bergema ayat-ayat suci Alquran diselingi berita-berita duka cita.

Saya bergegas meninggalkan kediaman di Depok, dan langsung ke rumah duka di Kampung Balimatraman, Tebet Selatan, Jakarta Selatan. Sesampai di rumah duka, sekitar pukul 09.00 WIB, saya mendapati ribuan orang yang tengah ber-takziah. Suara tahlil, takbir dan tahmid bergema tiada henti.

KH Abdullah Syafi'ie memang dikenal luas oleh masyarakat. Karena itu, saya yang saat itu menjadi koordinator liputan KBN Antara menugaskan dua orang wartawati dan seorang fotografer. Bagaimana susah payah dan lelah keduanya, karena dari rumah duka di Kampung Balimatraman ke peristirahatan terakhir di Pesantren Asyafi'iyah, Jatiwaringin, mesin mobil dimatikan. Karena, ribuan pelayat rela untuk saling rebutan mendorongnya sejauh 17 km. Benar saja, kedua reporter tersebut cukup berpeluh saat membuat berita reportase pemakaman.

Saya mengenal baik KH Abdullah Syafi'ie, karena pada masa Habib Ali Alhabsyi (meninggal September 1968), sang kiai hampir tiap Ahad pagi hadir di majelisnya. Apalagi sang kiai pernah berguru di madrasah Unwanul Walah yang dibangun Habib tahun 1920-an. Habib Ali selalu meminta muridnya itu untuk berpidato di majelis taklimnya di Kwitang.

KH Abdullah Syafi'ie juga pernah berguru pada Habib Alwi Alhadad, seorang yang banyak ilmunya hingga diminta menjadi Mufti Johor oleh pemerintah setempat. Kesultanan Johor memberikan penghargaan besar kepada muftinya itu. Habib Alwi adalah pendiri Daarul Aitam (Panti Asuhan) di Tanah Abang, Jakarta Pusat (1931), yang hingga kini masih berdiri dengan megah. Ia juga penulis Masuknya Islam di Indonesia, yang dijadikan salah satu rujukan dalam seminar di Medan (1953).

Saya teringat pada peristiwa 52 tahun lalu, saat kampanye Pemilu pertama (September 1955). Bagaimana gagahnya sang kiai memimpin barisahn ketika melewati Jalan Kwitang Raya -- depan toko buku Gunung Agung. Memang, waktu Pemilu 1955, sang kiai berkampanye untuk Partai Masyumi. Karenanya, sampai akhir hayatnya dia sangat dekat dengan Mohamad Natsir, Mr Mohamad Roem, Syafrudin Prawiranegara, Prawoto Mangunpuspito, dan KH Abdulllah Salim.

Bagi KH Abdullah Syafi'i, beda pendapat dalam agama bukan untuk diperdebatkan, apalagi menjadi sumber konflik. Dia dekat dengan kelompok tradisional yang memang merupakan tema majelis taklimnya. Tapi, ia juga punya hubungan erat dengan tokoh-tokoh pembaharuan.

Meskipun sekolahnya hanya sampai kelas dua SD, tapi ketika ia wafat putra-putrinya ikut mengendalikan perguruan Islam Asyafi'iyah yang memiliki 63 lembaga. Suatu prestasi yang perlu diacungi jempol. Menunjukkan ia punya cita-cita besar untuk memajukan umat Islam Indonesia. Ketika ditanya dari mana dananya, almarhum dengan optimis mengatakan, ''Setiap niat baik dan ikhlas, pasti Allah akan memberikan jalan.''

Melihat pesantrennya yang memiliki ribuan santri dari tingkat SD sampai perguruan tinggi, mungkin sukar dipercaya bahwa untuk mencapainya almarhum merintisnya dari bawah. Kiai yang kental logat Betawi-nya dan dikenal rendah hati ini mulai berdakwah dari kandang sapi. Kemudian, dari kandang sapi dia membangun Masjid Al Barkah yang diresmikan oleh Habib Ali Kwitang (Nopember 1933). Lalu, ia menyediakan tanahnya sendiri yang dibeli dengan uang pribadi.

Bagi KH Abdullah Syafe'ie, perjuangan untuk Islam tidak mengenal akhir. Sebelum wafat, almarhum masih bercita-citakan untuk membangun pesantren Alquran. Rupanya, putra KH Abdul Rasyid ini ingin mewujudkan cita-cita sang ayah. Pada tahun 1970 -- 17 tahun lalu, atas wakaf dari pengusaha Restoran Lembur Kuring, H Sukarno, dia mendapatkan hibah tanah seluas 3,3 hektar di Pulau Air, Jl Sukabumi-Cianjur Km 10,

Saat ini pesantren Alquran, mulai dari TK sampai SMA, memiliki tanah seluas 27 hektar. Pesantren yang terletak di atas ketinggian 600 meter di atas permukaan laut itu, kini memiliki lebih dari 700 santri. Pesantren yang juga menyelenggarakan pendidikan umum itu telah mewisuda 15 santri hafal Alquran. Empat diantaranya telah diberangkatkan haji.

Seperti ayahnya, KH Abdul Rasyid AS belum merasa puas atas apa yang telah dimiliki dan diperbuatnya. ''Saya bercita-cita pesantren ini menjadi tempat pengkaderan ulama,'' katanya.

Dia juga bercitya-cita membangun sebuah universitas Islam berbobot di Pulau Air, serta mendirikan rumah sakit Islam di lereng pegunungan yang sejuk itu. Kini siaran radionya makin berkembang dengan adanya Radio Asyafi'iyah 792 AM dan RASfn 95,5 -- keduanya di Jakarta. Selain itu, juga Radio Suara Pulau Air FM 89,5. ''Khaul walid nanti akan disiarkan langsung oleh ketiga radio tersebut,'' katanya.

(Alwi Shahab )

Tanah Abang West (Jl Fachrudin)

Menjelang bulan suci Ramadhan, Pasar Tanah Abang tiap hari didatangi ribuan pembeli. Bukan hanya dari Jakarta dan sekitarnya, tapi dari berbagai Nusantara, bahkan pedagang dan pembeli dari luar negeri mendatangi pasar yang sudah berusia 272 tahun.

Kalau sekarang kita harus bersusah payah memasuki pasar yang dibangun Yustinus Vink (1735), seorang anggota Dewan Hindia Belanda, tidak demikian pada saat-saat pasar tersebut mulai beroperasi. Setidaknya terlihat dari foto hasil jepreten Jacobus Anthonie Meessen (September 1867), memperlihatkan Jalan Fachruddin (masa Belanda bernama Tanah Abang Barat) terletak di pinggiran pasar yang dibangun bersamaan Pasar Senen. Tanah Abang, punya riwayat sejarah panjang.

Bahkan beberapa tahun sebelum dibangunnya pasar, balatentara Mataram pimpinan Sultan Agung ketika menyerbu Batavia (1628) pasukannya bermarkas di Tanah Abang. Karena tanahnya merah (abang), askar-askar Mataram menyebutnya Tanah Abang, nama yang hingga kini masih tidak berubah.

Sementara Kapiten Cina kedua Phoa Beng Koan , yang memiliki perkebunan luas di Tanah Abang kemudian membangun kanal yang kini tersisa sebagai got besar . Dari kanal yang menyambung hingga Molenvliet (Harmoni), kapiten yang sangat tajir ini menyuplai hasil-hasil pertanian miliknya ke pusat kota (kala itu di sekitar Pasar Ikan, Jakarta Utara). Tanah Abang kala itu menghasilkan gula dalam jumlah besar, kayu jati, minyak kacang, jahe, minyak melati, dan kelapa. Sampai sekarang di bekas perkebunan masih jadi nama kampung. Seperti Kebun Kacang, Kebun Jahe, Kebun Melati, dan Kebun Jati nama kampung yang menuju ke Jati Petamburan. Banyak orang Tionghoa tinggal di sekitar Tanah Abang setelah terjadi peristiwa pembantaian kejam terhadap mereka oleh kompeni yang berpusat di Glodok, Jakarta Barat.

Anthonie mengabadikan foto ini dari perempatan Jalan Abdul Muis dan Jl Kebon Sirih Raya. Di ujung di antara pepohonan yang rindang tampak Tanah Abang Bukit dan di sebelahnya (tidak tampak) adalah Pasar Tanah Abang. Dua buah sado yang memiliki cungkup untuk tempat kusir berteduh tampak tengah membawa dagangan dari pasar ke pusat kota (Pasar Ikan).

Mereka umumnya datang dari daerah Palmerah dan Kebayoran yang masih hutan. Di sado inilah si kusir harus bermalam selama perjalanannya yang memakan waktu berjam-jam. Saat itu listrik belum ada. Penerangan di jalan raya masih menggunakan lampu gas yang baru menyala menjelang malam. Belanda pada akhir abad ke-19 membangun pabrik gas di Gang Ketapang (kini Jl KH Zainul Arifin), yang hingga kini masih berfungsi.

Pasar Tanah Abang dan kembarannya Pasar Senen kini berkembang pesat, saling menyaingi. Khusus di Tanah Abang, akibat pesatnya perkembangan pasar ke daerah-daerah sekitar membuat harga tanah di sini menjadi sangat mahal. Konon, saat ini kios di Pasar Tanah Abang harganya bisa menyaingi pusat saham Wall Street di New York, Amerika Serikat.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Pandu Arab Indonesia

Ahad 19 Agustus 2007, Front Pembela Islam (FPI) menyelenggarakan milad ke-9 di markasnya, Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Acara ini dihadiri sekitar lima sampai enam ribu anggotanya, termasuk wakil FPI dari 25 provinsi.

Di sepanjang Jl Jatipetamburan III (sekitar 300 meter) digelar permadani untuk para jamaah. Sedang di sebagian ruas Jl Jatipemburan Raya, depan RS Pelni, hanya dapat dilewati kendaraan satu jalur karena sebagian dipadati massa yang mengenakan busana putih dan peci putih.

Acara itu dimulai shalat Subuh berjamaah. Diteruskan dzikir, tahlil dan ceramah maulid Nabi Muhammad SAW yang berlangsung hingga pukul 09.30 pagi. Diakhiri dengan pawai keliling Jakarta. Ketua Umum FPI Habib Rizieg Husein Shihab, ketika melepas pawai, meminta agar mereka tertib dan sopan.

Melihat begitu patuhnya para anggota FPI kepada ketua umumnya, saya teringat pada pemimpin Pandu Arab Indonesia, Husein Shihab, ayah Habib Rizieq Shihab. Pada awal 1950-an, Husein Shihab telah menghimpun para pemuda Arab untuk mengabdi pada bangsa melalui bidang kepanduan. Dia lebih dikenal dengan sebutan hopman -- kata Belanda untuk pemimpin kepanduan.

Seperti juga Habib Rizieq, ayahnya itu juga sangat cekatan dalam memimpin dan memberikan pengarahan kepada para pemuda yang tergabung dalam Pandu Arab Indonesia. Saya, yang juga menjadi anggota pandu ini lebih setengbah abad lalu, membandingkan penampilan sang ayah dengan putranya yang kini memimpin ratusan ribu massa FPI -- menurut Rizieq anggota FPI di Indinesia sekitar lima juta orang.

Sangat jauh berbeda dengan penampilan sang ayah yang sering memakai jas dan dasi, putranya ini selalu mengenakan jubah dan sorban. ''Ayah saya memang modern dan orangnya sangat berbaur,'' kata Habib Rizieq, kelahiran Agustus 1965. Wajah Rizieq hampir sama dengan wajah almarhum ayahnya.

Sekalipun cara berpakaian dan berpikirnya modern, Husein Shihab sangat dekat dengan ulama Betawi terkemuka, Habib Ali Alhabsyi dari Kwitang, Jakarta Pusat. Pada acara-acara seperti Maulid Nabi, Isra Miraj dan menerima tamu asing, Habib Ali selalu meminta Husein Shahab yang fasih berbahasa Belanda menjadi MC. Acara-acara Pandu Arab yang dilakukan tiap Sabtu sore berlangsung di halaman Madrasah Unwanul Falah di Kwitang. Madrasah yang dibangun oleh Habib Ali pada 1911 ini telah melahirkan sejumlah ulama Betawi.

Habib Rizieq mengaku ketika ayahnya meninggal dunia tahun 1966, dia baru berusia 11 bulan. ''Jadi saya mengenalnya hanya dari foto,'' katanya.

Sang ayah yang lahir tahun 1920-an, sebelum meninggal di Polonia, Jatinegara, berkata kepada seorang anggota keluarganya, ''Tanyakan kepada putra saya ini, kalau sudah besar mau menjadi ulama atau jagoan. Kalau mau jadi ulama, didik agamanya dengan baik. Kalau mau jadi jagoan, berikan dia golok.''

Sejak itu, Rizieq dipindahkan ke Jatipetamburan dan terakhir lulus Riyadh University (kini King Saud University) Arab Saudi. Kini dia tengah menyelesaikan tesis pada University Malaya, Kuala Lumpur, untuk lulus S2 bidang Syariat.

Menurut sejumlah teman almarhum Husein Shihab yang kini rata-rata berusia diatas 80 tahun, pemimpin Pandu Arab ini pernah bekerja di Rode Kruis (kini Palang Merah Indonesia) pada masa kembalinya Belanda setelah proklamasi kemerdekaan.

Husein, yang ketika itu masih berusia 20 tahunan, bekerja di bagian logistik. Di sini dia punya hubungan dengan para pejuang kemerdekaan. Dia banyak memberikan makanan dan pakaian untuk para pejuang yang ketika itu bergerilya di Jakarta dan sekitarnya.

Rupanya pihak NICA (tentara Belanda) mengendus tingkah lakunya itu, karena ada kawannya sendiri yang tega mengkhianatinya dan melaporkannya pada NICA. Tanpa ampun lagi, Husein Shihab pun ditangkap. Kedua tangannya diikat dan ia diseret dengan kendaraan jip.

Di penjara dia divonis hukuman mati oleh Belanda. Tapi, berkat bantuan Allah, Husein berhasil kabur dari penjara dan melompat ke Kali Malang. Dia selamat, meskipun bagian pantatnya tertembak. Dia sadar setelah sebelumnya mendapat pertolongan dari KH Nur Ali, pejuang Bekasi yang sangat ditakuti NICA.

Suatu hari, Rizieq memperlihatkan foto ayahnya dengan istri Bung Karno, Fatmawati, dalam suatu upacara pada awal kemerdekaan. Dia menyatakan bangga, ayahnya punya semangat nasionalisme yang tinggi dan ikut membakar para pemuda Arab melawan Belanda melalui Pandu Arab Indonesia.

Ayah Husein Shihab, Habib Muhammad Shihab, dahulu pernah memiliki ratusan delman dan memiliki istal kuda di depan RS Pelni. Delman yang bertrayek Tanah Abang ke Kebayoran Lama ini pernah diganggu oleh preman yang mengaku anak buah si Pitung, jagoan Betawi yang dibenci Belanda.

Seperti dituturkan Rizieg, kakeknya itu langsung menemui Pitung yang merasa tidak senang namanya dicatut. Rupanya pertemuan itu malah membuat dua tokoh Betawi tersebut menjadi akrab. Akhirnya, Habib Muhammad dikawinkan dengan ponakan Pitung dari Koebon Nanas, Kebayoran Lama. Dari perkawinan ini lahirlah Husein Shihab, ayah Rizieq.

(Alwi Shahab )

Departemen Store di Molenvliet

Inilah toko serba ada atawa departemen store di abad ke-19 yang dibangun pada 1890. Eigen Hulp Cooperative Department Store demikian nama koperasi serba ada ini yang terletak selatan Molenvliet West (kini Jl Gajah Mada), Jakarta Pusat. Department store ini merupakan salah satu dari dua toko serba ada terbesar di Batavia pada akhir abad ke-19.

Karena harga barang-barang lebih mahal katimbang di pasar tradisional, tidak heran kalau pembelinya sebagian besar para pejabat pemerintah Hindia Belanda dan pegawai swasta terkemuka. Terlihat sejumlah sado yang ditarik dan diberi pelindung saat panas terik maupun hujan tengah menanti para penumpang.

Toko serba ada dengan nama yang sama juga memiliki cabang di Noordwijk (kini Jalan Juanda). Seperti juga sekarang ini umumnya toko serba ada memiliki cabang-cabang di berbagai penjuru tanah air seperti kelompok-kelompok Matahari, Giant, Alfa Mart, Indo Mart dan Hero. Di sebelah kanan terlihat Marine Hotel, salah satu hotel modern ketika itu. Seperti juga toko serba ada Eigen Hulp, hotel ini sudah tidak ada lagi digantikan bangunan yang lebih modern.

Hotel ini kemudian menjadi kantor pusat Bank Tabungan Negara (BTN) dipersimpangan Jl Jaga Monyet (kini Jl Suryopranoto). Dinamakan jaga monyet karena pada abad ke-17 dibangun sebuah benteng untuk menghalau serangan balatentara Islam Banten, yang sering mengusik Batavia dari arah barat. Karena penjaga yang ditempatkan di sini lebih sering menghalau monyet-monyet yang sering mengganggu mereka hingga dinamakan Jaga Monyet.

Dalam foto terlihat deretan gardu penerangan jalan. Tapi ketika itu masih menggunakan lampu gas karena listrik belum nongol. Gas ketika itu merupakan penerangan dari rumah, hotel, sampai istana Governur Jenderal. Kembali kepada Departemen Store 'Eigen Hulp', toko keduanya terdapat dikawasan elit Eropa: Noordwijk (Jl Juanda). Yang letaknya bersebrangan dengan bagian selatan Jl Gajah Mada (Harmoni).

Di kedua toko ini dijual barang-barang mewah seperti busana impor dari Eropa, yang digemari para nona dan nyonya bule untuk menghadiri pesta-pesta di Batavia. Di samping busana juga tersedia parfume merk-merk terkenal dari Eropa, payung (ketika itu karena udara panas warga Eropa masih membawa payung bila mereka pesiar). Juga tersedia furnitur yang sangat disenangi oleh warga Eropa. Furnitur buatan departemen store ini pernah memenangkan medali emas dalam suatu kontes di Pasar Gambir 1907 yang dinilai memiliki ciri modern.

Di tengah-tengah Jl Gajah Mada yang seabad lalu masih tampak lengang terlihat rel trem yang menghubungi Mesteer Cornelis (Jatinegara)-Kota, Tanah Abang-Kota, dan Menteng-Kota. Kala itu trem masih menggunakan bahan bakar uap. Baru awal abad ke-20 bergulir trem listrik. Trem jenis ini berakhir tahun 1960 masa walikota Jakarta, Sudiro atas perintah Bung Karno.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Proklamasi 17 Agustus

Setelah Jepang bertekuk lutut pada Sekutu, pada 15 Agustus 1945, sejumlah pemuda yang mendengarnya melalui radio asing mendatangi Bung Karno yang baru kembali dari Dallat, Saigon, Vietnam. Para pemuda yang dipimpin oleh murid Tan Malaka, Sukarni, itu mendesak Bung Karno agar memproklamirkan kemerdekaan RI saat itu juga.

Karena Bung Karno tidak mau memproklamasikan kemerdekaan pada hari itu, mereka yang menemui Bung Karno di kediamannya, Jl Proklamasi 56, Jakarta Pusat, sempat mengancam. Bung Karno, bersama Bung Hatta, Fatmawati dan Guntur, lantas diculik oleh para pemuda, pada tanggal 16 Agustus 1945, saat Subuh.

Tapi, Bung Karno tidak mau melayani ancaman itu. Menurut Bung Karno, sejak berada di Saigon dia sudah merencanakan seluruh pekerjaan tersebut untuk dijalankan pada tanggal 17 Agustus. ''Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja atau tanggal 16,'' tanya Sukarni seperti diceritakan dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.

Bung Karno menjawab, ''Saya orang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, tidak dapat menjelaskan mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku bahwa dua hari lagi adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka keramat. 17 adalah angka suci.''

''Pertama-tama,'' lanjut Bung Karno, ''kita sedang berada dalam bulan Ramadhan, waktu kita semua sedang berpuasa. Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang berbahagia dan suci. Dan, hari Jumat tanggal 17. Alquran diturunkan tanggal 17. Orang Islam sembahyang 17 rakaat dalam sehari. Mengapa Nabi Muhammad memerintahkan 17 rakaat, mengapa tidak 10 atau 20 saja? Karena itu, kesucian angka 17 bukan buatan manusia.''

Setelah dilantik sebagai presiden di bekas gedung Volksraad (kini Gedung Pancasila di Pejambon, Jakarta Pusat), ketika pulang ia bertemu dengan tukang sate. Lalu PYM Presiden RI Soekarno memanggil penjaja yang kaki ayam dan tidak berbaju itu, dan mengeluarkan perintah pertama, ''Sate ayam 50 tusuk.''

''Aku jongkok di sana, dekat selokan dan kotoran. Kumakan sateku dengan lahap dan inilah seluruh pesta atas pengangkatanku sebagai Kepala Negara,'' kata Bung Karno.

Saat ini seorang presiden mendapatkan berbagai fasilitas yang cukup mewah, lengkap dengan mobil dinasnya. Namun, tidak demikian halnya ketika Bung Karno dilantik sebagai Kepala Negara. Bahkan, kendaraan dinas saja tidak tersedia.

Menyadari perlunya seorang presiden memiliki kendaraan, Sudiro, seorang pejuang, berinisiatif mencarikan mobil untuk Bung Karno. Ia tahu ada sebuah mobil limousin merek Buick besar yang dapat memuat tujuh orang. Mobil tersebut merupakan sedan paling besar dan cantik di Jakarta, dilengkapi korden di kaca belakangnya. Mobil buatan General Motor, Amerika Serikat, tahun 1939, itu milik Kepala Jawatan Kereta Api Jepang.

Tapi, soal kecil begitu tidak membuat pusing Sudiro. Diam-diam dia pergi berburu mobil dan mendapati kendaraan itu ada dalam garasi. Kebetulan Sudiro mengenal pengemudinya dan berkata padanya, ''Heh, saya minta kunci mobilmu.''

''Kenapa?'' jawab orang itu kaget.
''Karena saya bermaksud hendak mencurinya untuk presidenmu.''

Lalu, Sudiro memberi uang pada sopir itu dan menyuruhnya segera pulang ke kampung halamannya di Kebumen, Jawa Tengah. Si sopir langsung memberikan kunci mobilnya kepada Sudiro. Sejak saat itu, Presiden Soekarno memiliki sebuah mobil kepresidenan yang diberi plat REP 1.

Pada saat pusat pemerintahan RI pindah ke Yogyakarta, mobil REP 1 dibawa serta. Pada tanggal 19 Mei 1979, mobil ini diserahkan oleh Kepala Rumah Tangga Kepresidenan pada Dewan Harian Nasional 45. Kini, mobil tersebut disimpan di Museum Joang 45 di Menteng Raya 31, Jakarta Pusat.

Bersebelahan dengan REP 1, terdapat mobil REP 2, yang selalu digunakan Bung Hatta dalam kedudukannya sebagai wakil presiden. Bung Hatta memperoleh hadiah mobil tersebut dari seorang pengusaha terkenal kala itu, Djohan Djohor, paman Bung Hatta.

Di sebelah kiri mobil Bung Hatta, terdapat mobil merek Imperial yang digunakan oleh Presiden Soekarno dan kedua anaknya: Guntur dan Megawati. Mereka menghadiri lustrum ke-3 Yayasan Perguruan Cikini di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, pada 30 Nopember 1957.

Malam itu diadakan keramaian dengan hiasan balon, racikan kertas warna-warni yang ditaburkan, musik, nyanyian, lelang dan beberapa pertunjukan seni. ''Sekitar 500 tamu serta pengajar, anak-anak, dan ribuan penonton berdiri di dalam hujan pada pukul 08.55 ketika kami turun tangga yang sempit dari tingkat kedua gedung tempat keramaian berlangsung,'' kata Bung Karno.

Saat Bung Karno dikerumi anak-anak dan akan segera meninggalkan ruangan menuju ke mobilnya, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan. Kemudian dari sebelah kiri gedung dilemparkan sebuah granat lagi. Sebuah granat yang dilemparkan dari jarak lima meter menembus mesin mobil, menghancurkan kaca depan, menyobek-nyobek bagian dalam mobil menjadi serpihan dan meledakkan dua bannya.

Ajudan Presiden, Mayor Sudarto, segera menarik tangan Bung Karno dan mereka lari menyeberangi jalan. Saat Bung Karno terjatuh, ledakan kelima mengenai kakinya dan merobek paha seorang perwira, yang melindungi Bung Karno dengan tubuhnya.

Dalam peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno itu, sembilan orang meninggal dan 55 luka berat. Menurut Bung Karno, pelakunya yang berjumlah empat orang adalah anggota gerombolan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo.


(Alwi Shahab )

Indonesia Raya Diperdengarkan Pertama Kali

Ulang tahun kemerdekaan berlangsung meriah. Lagu kebangsaan Indonesia Raya bukan saja dikumandangkan dalam acara kenegaraan di halaman Istana Merdeka, tapi juga di pelosok tanah air. Demikian juga Sang Saka Merah Putih dikibarkan dari Sabang sampai Merauke sebagai tekad bangsa Indonesia bahwa Negara Kesatuan RI tidak bisa di tawar-tawar lagi dan rakyat siap menghadapi mereka yang ingin memisahkan diri.

Karena itu sangat disayangkan menjelang 17 Agustus 2007, sejumlah wilayah di Aceh melakukan aksi penurunan bendera Kebangsaan yang merupakan simbol negara. Padahal sejauh ini pemerintah telah banyak melakukan perbaikan bagi kesejahteraan rakyat Aceh. Karena itu, tidak heran Kepala Staf TNI AD Jenderal Djoko Santoso menegaskan, penurunan 150 bendera merah putih di Aceh adalah tindakan pelecehan kedaulatan RI. Harus ada tindakan hukum sesuai dengan aturan yang berlaku bagi mereka yang terlibat, katanya.

Padahal semangat kebangsaan dan persatuan telah dikumandangkan sejak 79 tahun lalu, ketika para pemuda dari segenap tanah air menyatakan sumpah pemuda Satu Bangsa, Satu Negara dan Satu Bahasa. Di tempat yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda, Jl Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, untuk pertama kali lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan.

Seperti terlihat dalam diorama yang terdapat di gedung museum tersebut, terlihat penciptamya Wage Rudolf Soepratman dengan gesekan biolanya tengah mengumandangkan ''Indonesia Raya''. Sementara para pengurus yang terdiri dari enam orang pemuda dengan penuh minat tengah mendengarkannya. Karena diorama dibuatsetelah gedung ini dijadikan museum pada 1972, di tembok sebelah kiri terlihat lagu Indonesia Raya yang terdiri dari tiga stanza (bait).

Sedangkan di depannya terdapat ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Ikrar tersebut dicetuskan di ruang tengah museum Sumpah Pemuda dihadiri 81 pemudi dan mahasiswa. Sejak 1928, lagu Indonesia Raya telah berkumandang di berbagai tempat. Ketika Ir Soekarno memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, ratusan hadirin yang hadir tanpa bimbingan diringen serentak menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika Sang Saka Merah Putih dikibarkan, yang kini menjadi Bendera Pusaka.

Lahirnya Sumpah Pemuda dirintas sejak tahun 1920'an ketika timbul gagasan dari Bahder Djohan dan Mohammad Hatta untuk mempersatukan perkumpulan-perkumpulan pemuda yang ada di Batavia. Kemudian pada 1921, dirintis upaya mempersatukan Jong Java dengan Jong Sumatera. Semangat inilah yang menjadi modal terselenggaranya Kongres Pemuda Indonesia I (1925) yang kemudian dilanjutkan Kongres Pemuda II (1928). Gedung tempat Sumpah Pemuda 1928 adalah Indonesische Clubgebouw yang dijadikan sebagai tempat berkumpul, berdiskusi dan saling berkomunikasi para pemuda dari seluruh Indonesia yang bersekolah atau kuliah di Batavia.

(Alwi Shahab, wartawan Republika)

Wage Rudolf Soepratman

Memasuki Museum Sumpah Pemuda di Jl Kramat 106, Kelurahan Kwitang, Jakarta Pusat, saya merasakan seolah-olah berada di peristiwa 79 tahun yang lalu, ketika sekitar 81 pemuda dari berbagai perkumpulan pada 28 Oktober 1928 mencetuskan Sumpah Pemuda: Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa.

Ketika itu, museum yang berdiri di atas tanah seluas 1.041 meter tersebut terdiri dari gedung utama seluas 460 m2 dan sejumlah pavilyun massing-masing seluas 45 m2. Di gedung utama itulah para pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi kedaerahan menghadiri kongres pemuda yang berlangsung sejak sehari sebelumnya.

Kepala Museum Drs Agus Nugroho mau bersusah payah mengantarkan saya mengelilingi museum bersejarah tersebut. Di gedung utama, saya menjumpai Wage Rudolf Soepratman, dengan biolanya, tengah membawakan lagu Indonesia Raya, yang kala itu berjudul Indonesia, tanpa Raya. Di depannya duduk tiga orang pimpinan sidang.

Dewasa ini terjadi silang pendapat tentang lagu Indonesia Raya, khususnya ketika Roy Suryo mengumumkan penemuan lirik lagu Indonesia Raya di perpustakaan Leiden, Belanda yang menbimbulkan heboh.

Agus Nugroho memberikan kepada saya syair lagu asli Indonesia Raya, yang diperdengarkan pertama kali pada 28 Oktober 1928 di Indonesische Clubgebouw nama gedung tersebut pada masa Hindia Belanda. Lagu kebangsaan yang didapatkan Roy Suryo adalah yang diperdengarkan dalam suatu acara pada pemerintahan Dai Nippon, tahun 1944. Lagu itu dikumandangkan dalam suatu rapat raksasa di Jakarta yang dihadiri ribuan massa.

Pihak Museum Sumpah Pemuda tidak berani berspekulasi mengenai tempat saat dikumandangkan lagu tersebut di depan massa. Tapi, saya menduga tempatnya di Lapangan IKADA (kini Monas), mengingat lapangan ini sering dijadikan tempat oleh Jepang yang tengah berperang melawan sekutu untuk menggerakkan rakyat Indonesia anti Amerika yang langsung dipimpin Jenderal Ikamura.

Ketika itu, untuk mengambil hati rakyat Indonesia, Jepang mencanangkan gerakan 3A, yakni Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia dan Jepang Pemimpin Asia. Gerakan 3A, yang juga diartikan Aku Anti Amerika, selalu dilakukan Jepang di lapangan-lapangan terbuka.

Apa yang ditemukan Roy Suryo adalah lirik lagu yang dinyanyikan pada masa pendudukan Jepang itu. Dan, benar terdiri dari tiga stanza (bait). ''Seluruhnya adalah ciptaan Wage Rudolf Soepratman,'' kata Agus Nugroho. Ia sekaligus membantahnya sebagai penemuan Roy Suryo, karena sejak tahun 2002 pihak museum telah menyosialisasikannya ke masyarakat. ''Yang jelas para pandu (pramuka) hapal ketiga stanza itu,'' katanya.

WR Soepratman, yang tanggal dan tempat kelahirannya tidak diketahui pasti, sudah sejak lama ingin menyumbangkan sesuatu bagi perjuangan bangsanya. Tetapi, ia tidak tahu bagaimana caranya, karena ia hanya seorang wartawan dan pemain musik.

Suatu hari, secara kebetulan ia membaca artikel berjudul Manakah Komponis Indonesia yang Bisa Menciptakan Lagu Kebangsaan Indonesia yang Dapat Membangkitkan Semangat Rakyat dalam majalah Timboel terbitan Solo. Hati Soepratman tergerak. Tulisan itu seolah ditujukan kepada dirinya.

Tidak ada catatan yang pasti kapan Soepratman menulis lagu kebangsaan. Ada pendapat yang menyatakan ia menciptakannya tahun 1926. Pada Kongres Pemuda Pertama (1926), Soepratman yang hadir ingin menawarkan kepada ketua kongres agar ia diberi kesempatan memperdengarkan lagu itu di hadapan para peserta.

Tetapi, saat itu keberaniannya belum cukup. Ia membatalkan niatnya. Baru pada Kongres Pemuda Kedua, tanggal 28 Oktober 1928, pada malam penutupan, WR Soepratman dengan gesekan biolanya mengiringi sebarisan paduan suara membawakan lagu Indonesia Raya.

Dua bulan kemudian ode tersebut menjadi sangat populer. Anggota Kepanduan Indonesia termasuk salah satu pihak yang memperkenalkan lagu tersebut ke masyarakat. Karena, di dalamnya ada kata-kata ''menjadi pandu ibuku''.

Soepratman juga telah mengabadikan lagu perjuangan itu ke dalam piringan hitam. Gagal menghubungi His Master Voice di Inggris, ia kemudian menghubungi Yo Kim Tjan. Sampai suatu ketika, di studio yang bersahaja, Soepratman memainkan biola sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan dua irama, mars dan keroncong.

Master rekaman dibuat dari lilin yang dibekukan dalam suhu rendah. Yo Kim Tjan memasarkan lagu tersebut dengan harga dua picis (20 sen). Karena beberapa kali dinyanyikan di depan umum, Soepratman diintrogasi PID (intel Belanda). Dia ditanya mengapa memakai kata ''merdeka - merdeka''. Ia menjawab, kata-kata itu hasil ubahan orang lain, sebab lirik naskah aslinya ''mulia-mulia''.

Protes atas pelarangan lagu itu berdatangan dari berbagai pihak. Volkraad turun tangan. Akhirnya, kata ''merdeka-merdeka'' boleh dinyanyikan di ruang tertutup. Setelah menderita kekalahan di mana-mana, Jepang membentuk Panitia Lagu Kebangsaan pada tahun 1944.

Panitia yang diketuai Ir Soekarno melakukan beberapa perubahan atas naskah asli Soepratman. Perubahan cukup besar terjadi pada refrain lagu 1928. Kata-kata Indones, Indones, moelia, moelia, tanahkoe, neg'riku yang koecinta. Indones, Indones, moelia, moelia, hidoeplah Indonesia Raja, diubah menjadi Indonesia Raya. Merdeka, merdeka. Tanahku, negeriku yang kucinta. Indonesia Raya. Merdeka, merdeka. Hiduplah Indonesia Raya.

Sampai Jepang angkat kaki dari Indonesia, format lagu Indonesia Raya belum seragam. Pada 26 Juni 1958 keluarlah Peraturan Pemerintah tentang lagu Indonesia Raya yang di dalamnya termuat tata tertib penggunaan, nada, irama, kata dan gubahan lagu.

Yang pasti, lagu Indonesia Raya yang asli berdurasi tiga menit 49 detik merupakan lagu kebangsaan terpanjang di dunia. Bila pada tiap tanggal 17 Agustus kita memperingati HUT Kemerdekaan RI, berarti sekaligus merupakan hari wafat WR Soepratman. Karena, ia wafat pada 17 Agustus 1939, di Surabaya.

Alwi Shahab)

Sosialis Kanan (Soska)

Pada tahun 1955, menjelang Pemilu pertama, saya menghadiri kampanye Partai Sosialis Indonesia (PSI) di lapangan Gambir (kini Monas), berhadapan dengan gedung Dana Reksa. Saya, sebagai pemembaca koran Pedoman, tertarik pada PSI. Koran yang dipimpin Rosihan Anwar ini menjadi pendukung PSI, bersama Keng Po dan Indonesia Raya. Ketiganya, pada tahun 1950-an dan 1960-an merupakan koran yang memiliki tiras terbesar di Indonesia.

Jumlah massa mengikuti kampanye ternyata tidak begitu banyak. Sekalipun hanya bagian kecil lapangan Gambir yang digunakan, masih tampak ruang-ruang kosong. Padahal, hadir Sutan Sjahrir, ketua umum PSI, Sumitro Djojohadikusumo, Subadio Sastrosatomo, dan sejumlah tokoh PSI lainnya. Jauh lebih sepi dibanding kampanye Masyumi, PNI, NU dan PKI.

Dalam kampanye PSI itu hadir pula ketua partai sosialis Birma. Pada tahun-tahun tersebut di Asia dan Eropa banyak bermunculan partai sosialis yang mempunyai pengaruh kuat di pemerintahan.

Sedikitnya pendukung PSI tercermin pada hasil Pemilu 1955. Partai yang dijuluki sosialis kanan (soska) karena gandrung kepada kelompok Troskis katimnbang Stalin yang berkuasa setelah meninggalnya Lenin itu hanya meraih lima kursi di parlemen -- merosot dari sebelumnya 17 kursi. Partainya Sjahrir -- yang dijuluki Bung Kecil -- itu tidak begitu laku di kalangan buruh dan tani, meski di kalangan terpelajar memiliki kader-kader militan yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Sosialis dan Gerakan Pemuda Sosialis.

Setidak-tidaknya, setelah PKI dibubarkan karena dituduh terlibat G30S, para kader PSI menduduki posisi penting dalam pemerintahan Order Baru. Bahkan, Widjojo Nitisastro menjadi ketua Bappenas dan anggota-anggota kelompoknya memegang kendali ekonomi.

Pada masa Jepang, Sjahrir dikenal sebagai tokoh yang non-kooperatif. Ia menolak kerja sama dengan Jepang, berlainan dengan Sukarno-Hatta yamg mau kerjasama dengan Dai Nippon. Dia mendirikan PSI pada tahun 1948, setelah pada awal revolusi mengeluarkan sebuah buklet berjudul Perjuangan Kita, yang berisi diagnosis terhadap masalah-masalah kontemporer Indonesia pada masa revolusi fisik.

Di masa itulah kemudian 'si Bung Kecil' menduduki jabatan sebagai Perdana Menteri. Naiknya Sjahrir sebagai PM untuk menunjukkan kepada Belanda bahwa republik ini bukan bentukan Jepang. Wartawan senior Rosihan Anwar dalam buku Subadio Sastrosastomo mengemukakan, kekalahan PSI dalam Pemilu 1955 berarti berakhirnya politik Sjahrirl. Ini suatu hal yang tragis, tulisnya. Hal yang sama dikemukakan Jenderal Simatupang dan Mochtar Lubis.

Namun, PM pertama RI ini justru tutup usia dalam status sebagai tahanan politik Orla pada 9 April 1966 di Zurich, Swiss. Dia diizinkan berobat ke Swiss oleh Presiden Soekarno sejak Mei 1965. Dalam surat izin itu Sjahrir diperbolehkan berobat kemana saja selain ke Belanda. Kalau pada masa Orla dia dianggap penghianat, saat jenazahnya tiba di tanah air dia dielu-elukan sedemikian rupa, bahkan diangkat sebagai pahlawan nasional.

Keberhasilan Sjahrir menduduki jabatan PM tidak serta-merta menghilangkan gejolak yang ada. Menurut Anderson (1988) dalam salah satu tulisannya, ada dua hal yang menjadi fokus permasalahan. Pertama, kabinet tersebut tidak mewakili semua golongan, bahkan hanya dikuasai oleh pemimpin-pemimpin dari Partai Sosialis dan beberapa orang profesional yang buta politik. Kedua, karena isi program kabinet Sjahrir yang mengutamakan diplomasi daripada perlawanan bersenjata.

Salah satu tokoh yang keras menentang kebijakan-kebijakan Sjahrir adalah Tan Malaka. Dalam usia yang sangat muda, Tan Malaka berpidato pada sidang kominteren (komunis internasional). Kelompok Tan Malaka -- yang juga sosialis -- memiliki kader-kader muda yang berpendirian setelah kemerdekaan diproklamirkan bukan sesuatu yang harus dirundingkan. Kemerdekaan itu adalah seratus persen milik bangsa Indonesia.

Kecendrungan semacam itu makin memuncak setelah terjadinya pertempuran di Surabaya tanggal 10 Nopember 1945. Tan Malaka yang melihat secara langsung peristiwa itu menganggap bahwa semangat yang muncul pada waktu itu merupakan tanda untuk dapat menggerakkan massa guna merealisasikan revolusi total. Baginya, pertempuran-pertempuran amat penting dilakukan dengan pengorganisasian serta kepemimpinan yang kuat. Bukan semata-mata dilakukan melalui perundingan-perundingan, tulis Aria Wiratma, anggota Studi Klub Sejarah, UI. Tan Malaka mati tertembak dalam revolusi fisik.

Ketika Bung Karno dan Bung Hatta diculik oleh para pemuda agar memproklamirkan kemerdekaan saat itu juga, dalam bukunya Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat, dia menuduh Sjahrirlah orang yang menyala-nyalakan api para pemuda itu. Padahal yang menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdenglok, Karawang, kemudian dikenal sebagai kelompok Tan Malaka. Mereka kemudian tergabung dalam Partai Murba, yang juga dituduh Troskis dan sangat dibenci oleh PKI-nya DN Aidit.

Ketika PSI bersama Masyumi dibubarkan oleh Bung Karno pada 1960, berarti dua musuh bebuyatan PKI jadi partai terlarang. Maka, bagi PKI, tinggal Partai Murba yang harus dihadapinya. Dan Partai Murba pun mengalami nasib yang sama, dibubarkan oleh Bung Karno hanya beberapa hari menjelang G30S.

Saat itu, musuh-musuh politik PKI sudah tersingkir. Tapi, PKI menghadapi lawan berat, Angkatan Darat. Meskipun sebelumnya telah berhasil mengutak-ngatik perpecahan di tubuh ABRI, tapi yang terakhir inilah yang menumpas PKI dan menggagalkan G30S.

(Alwi Shahab)

Dari Pasar Kambing Jadi Pusat Tekstil

Foto yang diabadikan pada tahun 1859 oleh fotografer Woodbury & Page memperlihatkan Jalan Abdul Muis (dulu Jalan Tanah Abang Barat), Jakarta Pusat. Di sebelah kanan terlihat sebuah kanal dengan rakit-rakit dari bambu, beberapa di antaranya penuh dengan angkutan barang. Di antara deretan bangunan, tampak sebuah masjid dengan gentengnya bersusun dua. Di sebelah kanan masjid terdapat pertokoan Cina. Sedang di sebelah kiri masjid terlihat perumahan penduduk, yang kini sudah menjadi gedung-gedung bertingkat.

Di ujung Jl Abdul Muis, terdapat Tanah Abang Bukit, yang kini sudah menjadi daerah pertokoan mewah. Dahulu, Tanah Abang Bukit -- yang sampai awal 1980 menjadi Markas AURI Jakarta--, merupakan daerah perkebunan dan pengembalaan ternak khususnya kambing. Karenanya, Pasar Tanah Abang -- yang kini menjadi pusat perdagangan tekstil dan pakaian jadi paling besar di Indonesia -- dulu disebut juga Pasar Kambing.

Tanah Abang memiliki sejarah yang panjang. Menurut legenda, pasukan Sultan Agung dari Kerajaan Islam Mataram ketika menyerang Batavia pertama kali (1628) berbasis di sini. Karena tanahnya merah -- mereka sebut tanah abang. Jalan Abdul Muis yang bermuara di pusat pertokoan Tanah Abang, saat ini merupakan kawasan yang sangat padat. Karena mereka yang hendak ke Tanah Abang dari arah Jakarta Kota melalui jalan ini. Sedangkan kanal seperti yang terlihat dalam foto yang dulu dapat dilalui rakit-rakit kini merupakan comberan (got besar).

Warga Tionghoa setelah peristiwa pembantaian mereka (1740) di Glodok, Jakarta Kota, banyak tinggal di Tanah Abang. Khususnya di Jalan Abdul Muis. Sedangkan orang Arab lebih banyak tinggal di kawasan Jalan Kebon Kacang, yang kini sudah berubah fungsi menjadi pertokoan dan gudang barang-barang serta tekstil.

Tanah Abang menjadi kesohor sebagai pusat tekstil dan pakaian jadi yang didatangi para pedagang dan pembeli dari mancanegara, sekalipun sekarang menghadapi saingan dari produk-produk Cina. Pasar ini dibangun 1735 oleh seorang penguasa tinggi VOC bersamaan dengan Pasar Senen, yang kini juga tengah mnelebarkan sayapnya sebagai pasar modern. Kawasan Tanah Abang juga dikenal sebagai daerah kuburan. Termasuk kuburan Kristen yang kini jadi Museum Prasati. Begitu terkenalnya sebagai tempat pemakaman sampai orang Belanda berseloroh: trug naar Tanah Abang yang maksudnya kembali ke Tanah Abang masuk liang kubur.

(Alwi Shahab, wartawan Republika)

Bertemu Pujaan Chairil Anwar

Ketika memasuki rumah cukup luas di kawasan elit Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pekan lalu, seorang petugas menyapa saya, ''Mau bertemu ibu sepuh?''

Kemudian, di ruang tengah yang luas, saya diminta menunggu, karena sang ibu tengah shalat dzuhur. Setengah jam kemudian keluarlah seorang nenek dari kamarnya seorang diri menggunakan kursi roda. Dia adalah Sri Ayati, kelahiran Tegal 88 tahun yang lalu, yang pada tahun 1957 mendapat persembahan khusus sebuah puisi dari Chairil Anwar.

Puisi karya Chairil Anwar berjudul Senja di Pelabuhan Kecil itu dinilai oleh kritikus sastra HB Jassin berisi 'kerawanan hati, suatu kesedihan yang mendalam yang tidak terucapkan.' ''Saya tahu dari almarhumah Mimiek, anak angkat Sutan Syahrir, bahwa Chairil Anwar membuat sajak untuk saya,'' kata nenek empat anak dan sejumlah cucu yang masih berbicara jelas dan daya ingatnya masih kuat itu.

''Alhamdulillah, memori saya masih baik dan tidak pikun. Hanya mata saya tidak dapat melihat lagi, karena penyakit glukoma,'' kata nenek yang telah empat bulan berada di Jakarta diboyong oleh putra bungsu dan menantunya untuk berobat. Nenek yang tinggal di Magelang itu menolak kalau dikatakan bahwa masa mudanya berwajah jelita dan menyebabkan Chairil jatuh cinta sampai membuat sajak untuknya.

''Saya tahu kalau Chairil membuat sajak untuk saya dari almarhumah Mimiek, puteri angkat mantan PM Sutan Syahril. Mimiek datang ke rumah saya di Serang. Waktu itu saya sudah bersuami dokter RH Soeparno, dan memiliki seorang anak. Kami kemudian bermukim di Magelang, karena suami saya ditugaskan di sebuah rumah sakit militer di sana. Padahal ketika itu saya lama tidak ketemu Chairil,'' kata nenek yang tampak masih sehat dalam usianya yang mendekati kepala sembilan itu.

Sri Ayati mengaku baru kenal baik dengan Chairil ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta (kini gedung RRI, Jl Merdeka Barat, Jakarta Pusat). Nama radio Jepang setelah NIROM (radio Belanda) ditutup itu adalah Jakarta Hoso Kyokam. Dia pernah lama ngobrol dengan Chairil di kediamannya, Jl Kesehatan V, Petojo, Jakarta Pusat.

Suatu ketika Chairil datang ke rumahnya, "Saya duduk di korsi rotan dan dia duduk di lantai sebelah kanan saya. Ia bercerita baru saja mengunjungi seorang teman bernama Sri. Sang gadis yang bernama Sri memakai baju daster (kala itu disebut housecoat). Ia bercerita sambil memegang daster yang saya pakai. Chairil bercerita, daster yang dipakai Sri dari sutera asli. Kebetulan daster yang saya pakai juga dari sutera asli. Kala itu saya tidak tahu siapa yang dimaksud Chairil gadis bernama Sri itu,'' kenangnya.

Sri Ayati mengaku heran, kenapa Chairil membuat sajak untuknya. Padahal, ketika itu ada sejumlah teman wanitanya yang lain, seperti Gadis Rasyid, Nursamsu, dan Zus Ratulangi. Chairil, ketika itu juga dekat dengan Usmar Ismail, Rosihan Anwar dan HB Jassin. Chairil sendiri tidak pernah menyatakan cintanya kepada Sri Ayati.

Ketika ditanya tentang sosok seniman Chairil Anwar yang sajak-sajaknya dikenal luas hingga saat ini, Sri Ayati mengatakan, penyair pelopor Angkatan 45 yang meninggal dunia pada 28 April 1949 itu kurang mengurus dirinya. ''Rambutnya acak-acakan. Matanya merah, karena kurang tidur. Di tangan kiri dan kanannya penuh buku-buku. Memang Chairil dikenal sebagai kutu buku,'' katanya.

Sri Ayati, yang juga seorang seniwati dan pernah mengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), menilai bahwa Chairil adalah seorang seniman yang jujur, tak tahan dan tidak bisa melihat hal-hal yang kurang baik. ''Kalau saja dia hidup pada zaman Orde Baru, saya kira pasti dia ditahan karena dia akan berani mengkritik hal-hal yang dianggapnya kurang baik dan kurang benar,'' kata nenek yang menguasai bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis itu.

Sri Ayati pernah sekolah MULO di Batavia, sebelum ke Fakultas Sastra UI. Mutu pendidikan di masa kolonial, menurutnya, jauh lebih bermutu dari pada sekarang. Bung Karno ketika masih sekolah di HBS sudah dapat menguasai bahasa Belanda dan Inggris. Bahkan, membuat karangan-karangan dalam bahasa tersebut. Sayangnya, pemerintah kolonial melakukan diskriminasi dalam bidang pendidikan. Hanya golongan priyayi yang dibolehkan sekolah oleh Belanda.

Sri Ayati mengaku merasa seperti anak Betawi. Karena, sejak berusia 8 ia dibawa ayahnya ke Jakarta dan tinggal di Gang Seha, Pecenongan, Jakarta Pusat. Pada tahun 1997, dia pernah bertemu bekas tetangganya, bernama Adrian Seha, di Borobudur, Magelang. ''Saya tanya apa ada hubungan namanya dengan nama Gang Seha?''

Adrian Seha, ketika itu menjawab, ''Nama Gang Seha mengabadikan nama kakek saya, seorang tuan tanah yang tinggal di gang tersebut.'' Sri Ayati juga pernah tinggal di Gang Adjudant (kini Kramat II), Kwitang, Jakarta Pusat. Di Kwitang, yang menjadi tuan tanah adalah keluarga Alkaff. Di Kwitang, Alkaff menyewakan puluhan rumah. Keluarga ini, sampai awal 1970-an, juga memiliki banyak rumah dan tanah di Singapura.

Sampai sekarang di Singapura ada kawasan Alkaff, yang kini sudah dikuasai Cina. Tapi, masjid yang dibangun keluarga Alkaff masih tetap berdiri. Di Jakarta, dulu juga banyak jalan yang memakai nama keluarga Arab, seperti Alatas Laan di Cikini (kini Jl Cilosari), Gang Alhadad di Bukitduri, Jatinegara, dan Gang Bafadal di Matraman.

Ketika saya wawancarainya, pekan lalu, Sri Ayati sempat membacakan sebuah Renungan Jiwa dalam bahasa Inggris yang dibuatnya di Magelang, Desember 2002. Petikannya, antara lain, ''Sekarang saya mendekati akhir dari perjalanan hidup saya. Saya tidak bersedih dan bukan suatu yang menakutkan. Apabila Allah memanggil saya, saya siap untuk menghadapNya. Dengan harapan penuh agar saya dikaruniai Khusnul khatimah.''

Ketika menulis renungan tersebut Sri Ayati mengaku sudah siap meninggalkan dunia fana ini. Tapi, ternyata masih diberi umur panjang. ''Sekarang saya menghabiskan waktu untuk shalat, zikir dan ibadah,'' katanya.

(Alwi Shahab)

Perang Spanduk Pilkada DKI

Gambar siapa paling banyak muncul di DKI Jakarta? Yang pasti bukan gambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Yusuf Kalla. Siapa lagi kalau bukan gambar dua calon gubernur dan wakilnya yang tengah rebutan untuk menduduki kursi kursi nomor satu dan dua di pemerintahan provinsi DKI Jakarta.

Kalau ingin tahu letak perbatasan Jawa Barat dan Banten kini gampang sekali. Lihat saja di mana spanduk, poster, umbul-umbul, dan stiker sudah tidak terdapat lagi. Karena dari Kepulauan Seribu di Jakarta Utara, menyeberang laut ke Tanjung Priok terus sampai Lenteng Agung di Jakarta Selatan, kemudian mendekati Cengkareng di Tangerang, hampir semua jalan 'dikepung' oleh spanduk pasangan Fauzi Bowo-Priyanto, dan Adang Daradjatun-Dani Anwar.

Kemeriahan ini, tampaknya tidak menggambarkan hasil survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) pekan lalu. Menurut LSI potensi golput Pilkada Jakarta 2007 bisa mencapai 65 persen. Tentu saja hitungan macam begini kagak akurat. Masa hanya 35 persen dari yang berhak memilih di Jakarta turut mencoblos pada Rabu, 8 Agustus 2007.
Padahal pilkada merupakan pilihan rakyat langsung, yang tidak pernah terjadi pada pemilihan gubernur sebelumnya. Presiden Soekarno pada masa demokrasi terpimpin (1959) mengangkat sendiri gubernur DKI. Terakhir kali adalah Ali Sadikin. Di masa Orba, Pak Harto sami mawon dengan Bung Karno. Dia juga telah menyiapkan orangnya.

Meskipun tidak seramai pemilihan umum, tapi kampanye-kampanye pilkada yang dilakukan kedua belah pihak cukup memacetkan lalu lintas. Setidaknya menunjukkan peminatnya cukup besar. Meskipun banyak yang menginginkan ikut kampanye agar dapat kaos, seperti juga pada pemilu-pemilu di masa Orba, kecuali Pemilu 1955.

Bukan hanya beribu-ribu kaos yang harus mererka sediakan, kedua pasangan ini juga harus mengeluarkan uang untuk membayar tukang ojek, mobil tumpangan dan bus angkutan umum. Karenanya tidak heran kalau cagub Fauzi Bowo menyatakan dia sampai menjual rumahnya sekitar Rp 10 miliar untuk biaya kampanye. Tentu saja perusahaan sablon, spanduk dan percetakan mengais rezeki besar dalam menerima order.

Seperti juga pada pemilu-pemilu sebelumnya --kecuali Pemilu 1955-- setidaknya para artis juga ikut ketiban rezeki. Karena kedua pasangan getol mengikutsertakan mereka saat kampanye di lapangan terbuka. Pada Pemilu di masa Orde Baru, para artis tidak berani ikut berkampanye selain berkampanye untuk Golkar. Mat Solar atau 'Si Badai Bajuri', pernah kagak boleh muncul di televisi selama bertahun-tahun karena ikut memeriahkan kampanye PPP. Demikian juga dengan Rhoma Irama.

Pelawak Harry de Fretes, yang kala itu terkenal dengan Lenong Rumpinya juga dilarang main di TV termasuk tv swasta. Alasannya gampang saja. Ia ikut memeriahkan kampanye PDI. Di masa Orba, Golkar sebagai partai pemerintah harus menang mutlak agar tercipta pemerintahan yang kuat. Meskipun berbagai cara dilakukan. Kala itu, Golkar memiliki koordinator artis dipimpin almarhum Eddy Sud.

Kembali pada Pilkada DKI, rupanya humor tidak bisa dipisahkan dari kehidupan warga Jakarta. Merasa dikepung oleh 19 parpol, kecuali PKB yang menyokong pasangan Fauzi-Priyanto, ada spanduk berbunyi: 'Pok Ame-ame belalang kupu-kupu. Dikeroyok rame-rame tetap pilih nomor satu'. Ini nyanyian terkenal anak-anak Betawi saat main lompat-lompatan.

Sementara spanduk dari PAN yang menyokong Fauzi-Priyanto berbunyi: 'Kenapa harus Golput. Pilih yang sudah berpengalaman'. Di bawah spanduk tertulis: 'Warga Muhammadiyah Pendukung Fauzi-Priyanto'. Rupanya, yang memasang spanduk, umbul-umbul dan stiker tidak mnengenal tempat.

Seperti di pagar-pagar rumah, tiang listrik, gedung, perkantoran dan tempat-tempat penyeberangan mereka pasang spanduk. Juga kendaraan-kendaraan bus tidak luput sasaran stiker. Tapi yang jelas sampai hari kelima kampanye pilkada berjalan damai. PKS sendiri yang mendukung pasangan nomor satu dalam salah satu spanduknya tertulis: 'Siapapun pilihannya persaudaraan harus tetap dijaga'. Atau spanduk Muhammadiyah berbunyi: 'Membangun ukhuwah menuju Pilkada damai'. Menunjukkan tekad semua pihak agar pilkada berlangsung damai. Semoga saja jadi kenyataan.

(Alwi Shahab, wartawan Republika)

Banteng - Grogol

Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, kini tertata rapi. Lapangan kedua terbesar di Jakarta setelah Monas itu kini menjadi tempat Pameran Flora dan Fauna. Tidak lagi sesemrawut ketika pada tahun 1970-an oleh Gubernur DKI Ali Sadikin dijadikan sebagai terminal bus. Lapangan Banteng dibangun oleh Gubernur Jenderal Daendels -- seperti juga Lapangan Gambir (kini Monas) -- pada awal abad ke-19.

Terminal bus Lapangan Banteng ketika itu melayani berbagai trayek hampir ke segenap penjuru Ibukota. Trayek paling terkenal dulu adalah Banteng-Grogol. Sedangkan trayek ke arah selatan yang banyak penumpangnya adalah Banteng-Cililitan. Sekarang ini sebagian besar bekas terminal Cililitan sudah menjadi pertokoan.

Grogol yang kala itu terletak di paling ujung barat Jakarta baru dikembangkan. Berbagai perumahan, termasuk untuk anggota DPR, dibangun. Sayangnya, pada 1980-an, ketika terjadi banjir besar, hampir seluruh kawasan di Grogol terendam air. Pada abad ke-18, tentara Islam Banten sering mengusik Belanda dari Grogol yang masih hutan belukar.

Dulu, bagi warga Jakarta, Grogol menjadi semacan ejekan untuk menyebutkan orang yang berperilaku aneh atau sinting. ''Orang ini perlu dibawa ke Grogol,'' kata orang. Maksudnya, ke rumah sakit jiwa yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda di Grogol.

Pada 1970-an, sopir ugal-ugalan belum sebanyak sekarang. Bang Ali pernah mengejar-ngejar mereka. Kala itu belum banyak 'sopir tembak'. Saat si sopir yang bertanggung jawab ingin istirahat, tiduran, main gaple atau main 'judi nomor mobil', maka kenek atau teman lain yang membawa bus. Istilahnya nyerep.

Sampai kini, kebiasaan nyerep masih berlangsung secara leluasa. Bukan lagi di bus kota, juga bus antar daerah, sampai taksi dan mikrolet. Tidak heran kalau kecelakaan lalulintas makin parah saja. Soal SIM pun bisa diatur, termasuk bila tertangkap aparat kepolisian, ada yang membereskannya. Saat itu angkutan kota dilayani oleh bus Robur buatan Bulgaria.

Sejak tahun 1957, pemerintah mendirikan Perusahaaan Pengangkutan Djakarta (PPD). Berdirinya PPD sebagai konsekwensi dari pengambil-alihan perusahaan angkutan milik Belanda: BVM (Batavia Verkeer Matchapij). BVM kala itu bukan hanya melayani bus kota, tapi juga trem listrik. Seperti juga bus, trem listrik ketika ditangani PPD juga mengalami kerugian. Pada tahun 1960 (masa walikota Sudiro) angkutan massal ini dihapus.

Kini, ribuan awak PPD dikabarkan tengah 'sekarat' karena selama tujuh bulan (sejak Januari) tidak menerima gaji. Dikabarkan banyak pegawai PPD yang mengalami depresi -- sesuatu yang tidak terjadi ketika perusahaan angkutan ini ditangani Belanda.

Ketika menjadi terminal bus kota, Lapangan Banteng hidup selama 24 jam. Di lapangan yang berhadapan dengan Hotel Borobudur itu berjejer rumah makan yang juga buka selama 24 jam. Daerah dekat patung Irian Barat, merupakan tempat penjualan buku-buku dan majalah. Beragam komik dijual di sini.

Kala itu, bila kita ke lapangan Banteng, harus ekstra hati-hati untuk menjaga kantung dan barang berharga. Karena, di Lapangan Banteng beroperasi pencopet-pencopet yang paling ulung di Jakarta. Namun, mereka tidak seganas sekarang, kriminalitas di Ibukota sangat menyeramkan. Para komplotan penjahat, ketika melakukan perampokan, misalnya, tidak segan-segan membunuh korbannya. Termasuk di siang bolong.

Lapangan Banteng yang sebelum penyerahan kedaulatan bernama Lapangan Singa (ada patung singa di atas sebuah tugunya), oleh Belanda dinamakan Waterloo Plein untuk mengejek kekalahan Kaisar Napoleon di Waterloo, Belgia (1815). Pada Pemilu 1955, Lapangan Banteng digunakan untuk kampanye multi parpol. Demikian juga pada Kampanye 1971. Pada 18 Maret 1982, ketika Golkar berkampanye di Lapangan Banteng, terjadi kerusuhan. Panggung dan peralatan musik yang sangat mahal dibakar massa, hingga terjadi kepanikan yang luar biasa.

Saat itu, selama beberapa hari para pegawai negeri tidak berani memakai baju dan atribut Korpri di jalan-jalan. Mereka takut menghadapi gangguan massa. Konon, kerusuhan itu dipicu oleh massa PPP, yang ketika itu menjadi pesaing utama Golkar. Sementara, Golkar yang menjadi partai pemerintah mendapatkan fasilitas yang sangat berlebihan. Tapi, banyak yang mengatakan bahwa peristiwa itu diotaki oleh petinggi Golkar sendiri untuk mendiskreditkan pesaing utamanya itu.

Gubernur Jenderal Daendels juga membangun sebuah 'gedung putih' di Lapangan Banteng, yang kini menjadi Departemen Keuangan. Pada 1876, untuk memperingati 200 tahun berdirinya kota Batavia, dibangun patung JP Coen, pendiri kota tersebut. Patung itu dihancurkan pada masa pemerintahan Jepang (1942).

Dulu, di sayap sebelah kiri gedung yang gagal dijadikan istana gubernur jenderal itu, terdapat gedung Club Concordia -- tempat hiburan para perwira militer yang berpangkat letnan ke atas. Pada malam minggu, para perwira dengan istri atau pasangan mereka berdansa di lantai pualam, diiringi musik hasil karya komposer terkenal, seperti Strauss, Offenbach, Verdi, dan Donizetti. Sementara, para wanita mengenakan pakaian yang mereka impor dari Paris dan London.

Setelah penyerahan kedaulatan, gedung ini dijadikan sebagai gedung DPR di era demokrasi liberal.

(Alwi Shahab)

Senja di Pelabuhan Kecil

Sajak berjudul Senja di Pelabuhan Kecil adalah salah satu karya penyair terkenal Chairil Anwar (alm). Sajak yang dibuat menjelang akhir hayatnya (1949) itu dipersembahkan untuk Sri Ajati. Chairil Anwar meninggal pada 28 April 1949 di Jakarta dalam usia 27 tahun dan meninggalkan seorang puteri yang kini jadi notaris.

Yang dimaksud Chairil dengan 'senja di pelabuhan kecil' itu adalah senja di Pelabuhan Sunda Kalapa, tempat yang syarat dengan peristiwa sejarah. Rupanya, Sri Ajati, yang ketika itu masih berusia 20-an tahun, menjadi dambaan sang penyair. Sampai tahun 2002 Sri Ajati dikabarkan masih hidup dan saat itu telah berusia 83 tahun. Ia tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Ketika itu digambarkan bahwa dalam usia lanjut ia masih menyisakan garis-garis kecantikannya.

Sekalipun harus duduk di kursi roda, ia tak pernah mengurangi aktivitasnya, termasuk kegiatan sosialnya di Rotary Club Magelang. Sri Ajati adalah Ny RH Soeparsono, atau istri almarhum Mayor Jenderal TNI Soeparsono -- mantan Kepala Rumah Sakit Tentara (RST) Dr Soedjono, Magelang. Coba kita simak penggalan sajak Chairil yang ditulis untuk Sri Ajati itu di bawah ini.

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu, tiada bertaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Kritikus sastra Dr HB Jassin (almarhum) menilai sajak tersebut berisi keresahan hati, suatu kesedihan yang mendalam yang tak terucapkan. Sri Ajati, yang konon digila-gilain oleh Chairil, adalah seorang gadis tinggi semampai, berkulit hitam manis, dengan rambut berombak, dan memiliki kerling mata yang dalam. ''Tidak ada agaknya pemuda sehat yang tidak akan jatuh cinta padanya,'' tulis Jassin dalam buku Pengarang Indonesia dan Dunianya (PT Gramedia, Jakarta, 1983).

Dengan sajaknya itu, penyair Chairill Anwar yang namanya diabadikan untuk sebuah taman di Jakarta, melihat suatu pemandangan di tengah laut di Teluk Jakarta, dengan gudang-gudang tuanya (di sekitar Sunda Kalapa kala itu masih terdapat bekas gudang rempah-rempah peninggalan Belanda).

Sri Ayati, kala itu sempat menyatakan tergetar dan sedih membaca sajak itu. Ia mengaku kenal baik dengan Chairil ketika ia bekerja sebagai penyiar radio Jepang tahun 1942. Tapi, menurut Jassin, ketika itu dia sudah punya pacar seorang calon dokter, yakni Soeparsono.

Sajak lain karya Chairil Anwar yang terkenal adalah Kerawang-Bekasi. Ia mengangkat situasi mengharukan di kawasan sebelah timur Jakarta pada masa revolusi fisik (1945-1949), suatu daerah pertahanan RI yang ditakuti oleh pasukan Belanda (KNIL) .Sampai beberapa tahun lalu, Karawang dan Bekasi merupakan penghasil beras utama di Pulau Jawa. Sekarang, banyak pabrik yang bermunculan di sana, terutama di Bekasi.

Sunda Kalapa dan kota tua di dekatnya adalah tempat awal VOC menjejakkan kakinya di Nusantara. Di sana pula DN Aidit bersembunyi setelah terjadi pemberontakan PKI di Madiun (1948) yang dipimpin oleh Muso dan berhasil ditumpas TNI. Aidit sempat diisukan melarikan diri ke Moskow. Tapi ternyata tidak. Dia bersembunyi di sekitar kota tua itu. Dia baru muncul kembali pada tahun 1950-an, ketika wakil presiden Moh Hatta dengan Keputusan No X menghidupkan kembali parpol-parpol dalam rangka mempersiapkan Pemilu pertama.

Setelah muncul bersama MH Lukman dan Nyoto, Aidit mulai membangun kembali partainya yang hancur setelah pemberontakan. Hasilnya sangat lumayan. Melalui janji-janji akan membagi-bagi tanah untuk petani, PKI menjadi partai yang kuat. Pada Pemilu 1955 PKI menjadi partai keempat terbesar. Bahkan sebelum pemberontakan G30S, dia sesumbar PKI akan menjadi partai nomor satu. Sebelum dibubarkan, penganut komunisme di Indonesia adalah terbesar nomor tiga di dunia setelah Rusia dan RR Cina.

Klan Aidid, yang nenek moyangnya berasal dari Hadramaut, bukan hanya populer di Indonesia, tapi juga di Afrika Utara. Misalnya, presiden Somalia pada tahun 1990-an adalah Farakhan Aidid. Sedangkan di Batavia, setidaknya ada tiga klan Aidid (dengan huruf 'd' di belakangnya) yang menjadi kapiten Arab. Mereka adalah Sayid Muhammad bin Abubakar Aidid (15 Mei 1864), Sayid Husin bin Muhammad bin Abubakar Aidid (5 November 1879) dan Sayid Oemar bin Hasan bin Ahmad Aidid.

VOC membangun Batavia (1619) sebagai kota berbenteng tebal, untuk menghadapi serbuan Mataram dan Banten. Saat itu, pelabuhan Sunda Kalapa sangat penting sebagai pusat jalur perdagangan VOC di Hindia Timur. Sunda Kelapa, selain sebagai pelabuhan, juga dipakai sebagai tempat jual beli komoditi terutama rempah-rempah dari Indonesia bagian Timur.

Sampai sekarang bekas gudang-gudangnya masih berdiri dan menjadi Museum Bahari. Juga masih terlihat puing-puing benteng peninggalan abad ke-17, termasuk kawasan yang kini disebut Kota Inten. Pelabuhan Sunda Kalapa kala itu juga terkenal dengan airnya yang jernih. Para awak kapal mengambil air dari muara Sungai Ciliwung yang belum tercemar. Sunda Kalapa juga dikenal dengan produksi araknya yang menjadi dambaan para awak kapal. Arak ini diproduksi oleh pedagang Tionghoa.

Seorang kapiten Cina, Bingham, pada tahun 1648 diberi izin menggali kanal di selatan Sunda Kalapa mulai dari Gerbang Baru (Nieuwpoort) di Pasar Ikan hingga Kali Krukut. Setelah diambil alih (1661) kanal ini diberi nama Molenvliet (kini Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk). Itulah sepenggal kisah tentang Sunda Kalapa, pelabuhan yang menjadi kecil setelah dibangun Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1886.

(Alwi Shahab)

Agar Jakarta Ijo Royo-royo

Fotograper Woodbury & Page telah mengadakan ratusan foto Batavia akhir abad ke-19. Ketika itu, ia merupakan kota yang ijo royo-royo. Seperti Jl Kalibesar di Glodok yang kini hiruk-piruk dan gersang masih dipenuhi pepohonan rindang. Apalagi daerah pinggiran kala itu seperti Condet, Tebet, Senayan, bahkan Menteng masih jarang dihuni manusia. Di sepanjang Jl Hayam Wuruk dan Gajah Mada yang diapit kanal Ciliwung dikiri kanan dipenuhi pohon rindang.

Tentu saja, membandingkan Jakarta seratus tahun lalu yang penduduknya baru ratusan ribu jiwa, sangat tidak relevan. Jakarta kini sudah menjadi kota megapolitan yang berpenduduk sekitar 10 juta jiwa. Tentu saja Jakarta memerlukan gedung-gedung pencakar langit, ratusan pusat perbelanjaan, dan berbagai tempat hiburan. Tapi, jangan semua tanah kosong dijadikan hutan beton. Sisakanlah juga untuk penghijauan, yang kini banyak dilakukan oleh kota-kota besar di dunia.

Menyadari perlunya 'paru-paru kota', Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso mencita-citakan agar 13 persen dari wilayah seluas Jakarta sekitar 66.000 hektare, 14 persen adalah daerah hijau royo-royo atau sekitar 9.240 hektare lahan hijau. Sekarang ini, sekalipun baru delapan persen, konon penghijauannya lebih baik dari Bandung, yang pada masa kolonial Belanda dijuluki 'Parijs van Java'. Sutiyoso sendiri ketika memagari Monas -- lapangan terbesar dan terluas di dunia --, mendapat reaksi keras dari banyak pihak. Sekarang ini, Monas tertata rapi dan merupakan salah satu tempat rekreasi paling digandrungi masyarakat. Tiap hari tidak kurang dari delapan ribu orang mendatanginya. Bahkan pada hari-hari libur, bisa mencapai 20 - 25 ribu orang. Mereka datang untuk rekreasi sambil olah raga.

Dalam melaksanakan programnya selama dua periode menjabat gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso punya prinsip dan keyakinan bahwa ia ingin melaksanakan tugas sebaik mungkin. Sekalipun sebagai manusia, ia pernah menyatakan tidak luput dari kesalahan. Karena itulah, dia menerima, bahkan siap untuk menerima kritik.

Adanya hutan kota ini, dapat mengurangi banjir. Seperti dikemukakan sejumlah pakar perkotaan, kalau saja tidak ada lagi lahan kosong untuk area resapan air dan luapan air sungai, kawasan Stadion Gelora Bung Karno yang merupakan stadion terbesar di dunia ketika awal dibangun, akan tenggelam. Singapura yang berpenduduk lima juta -- satu juta warga asing --, tiap tahun kedatangan sekitar 20 juta wisatawan asing. Dan negeri pulau ini, membanggakan dirinya: 'Garden City' (kota taman). Untuk mencapai target yang dipatok Sutiyoso menjadikan Jakarta 'ijo royo-royo', Pemprov DKI Jakarta akan menanam 115 ribu pohon produksi di seluruh wilayah Jakarta.

Pohon-pohon yang akan ditanam adalah pohon jenis produktif setinggi dua sampai dua setengah meter. Seperti mangga, jambu, rambutan, belimbing, jeruk, dan durian. Sampai tahun 1970'an, kampung-kampung di pinggiran Jakarta melimpah dengan buah-buahan. Durian dan jeruk sudah merupakan pohon langka, hingga kita mengimpor durian montong dan jeruk dalam jumlah berlimpah.

Sutiyoso, lulusan Akademi Militer Magelang (1968), yang pernah menjabat sebagai Wakil Komandan Jenderal Kopassus (1962) dan Pangdam Jaya (1996), adalah seorang penggemar berat olah raga. Tidak heran kalau hobi Letjen (Purn) ini bulutangkis, tenis, golf, menembak, basketbal, dan sepakbola. Dia juga menjadi pengurus sekitar 10 organisasi olah raga, di samping Ketua Asosiasi Pimpinan Pemerintahan Daerah Seluruh Indonesia (APPSI).

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Samrah, Ngibing dan Joged

Kota Jakarta baru saja merayakan jarig (ulang tahun) ke-480 dan suasana peringatan masih berlangsung hingga sekarang. Pemda Provinsi DKI Jakarta menetapkan tanggal 22 Juni sebagai HUT Jakarta. Pada tanggal itu, 480 tahun lalu pasukan Islam di bawah pimpinan Falatehan menghalau armada Portugis dari bandar Sunda Kalapa.

Tapi, orang Olanda (sebutan warga Betawi untuk Belanda), merayakan ulang tahun Batavia pada tanggal 30 Mei setiap tahun. Karena, pada 30 Mei 1619, gubernur jenderal JP Coen menaklukkan Jayakarta. Saat itulah mulai bercokol penjajahan di Nusantara yang berlangsung selama tiga setengah abad.

Membicarakan ulang tahun Jakarta, dianggap kurang afdol kalau tidak membicarakan keseniannya. Boleh dibilang kota metropolis ini memiliki berbagai ragam kesenian. Penduduk Betawi disebut majemuk. Konon tidak kurang 300 etnis dan bangsa berbaur dengan damai di kota yang kini berpenduduk lebih 10 juta itu. Ada Melayu, Jawa, Sunda, Padang, Batak, Bugis, Cina, Arab, India, dan masih banyak lagi. Sehari-hari mereka bergaul, saling menghormati dan membantu.

Tidak heran kalau kesenian Betawi sangat beragam. Seperti kesenian sambrah yang berasal dari Arab. Sambrah berasal dari kata bahasa Arab, samarokh, yang artinya berkumpul atau pesta. Kata samarokh oleh orang Betawi diucapkan menjadi sambrah. Dalam kesenian Betawi, sambrah menjadi jenis kesenian musik atau orkes sambrah dan tonil sambrah. Orkes atau tonil ini biasa pentas di tempat orang berkumpul dan memeriahkan pesta.

Tonil sambrah dikembangkan dari teater bangsawan dan komedi stambul. Kata stambul berasal dari Istambul, pusat kegiatan Islam pada masa dinasmi Usmani. Tonil sambrah sudah muncul di Betawi sekitar 1918. Ia termasuk kesenian yang komplit. Dalam pentasnya tergabung seni musik, pantun, tari, lawak, dan lakon. Sayangnya, pada 1940-an tonil sambrah menghilang. Baru pada 1950-an muncul kembali, tetapi namanya menjadi orkes harmonian. Sesudah masa itu, perannya digantikan oleh orkes melayu yang kini menjadi dangdut.

Berasal dari Timur Tengah, orkes gambus dulu dikenal dengan sebutan irama padang pasir. Pada tahun 1940-an, orkes gambus menjadi tontonan yang disenangi. Bagi orang Betawi, tanpa nanggap gambus pada pesta perkawinan dan khitanan terasa kurang sempurna. Orkes ini sudah ada di Betawi sejak abad ke-19 ketika banyak imigran dari Hadramaut (Yaman) datang ke Betawi. Kalau para walisongo menggunakan gamelan sebagai sarana dakwah, imigran Hadramaut menggunakan gambus.

Awalnya, orkes gambus membawakan lagu-lagu bersyair bahasa Arab, berisi ajakan beriman dan bertakwa kepada Allah dan mengikuti teladan Rasulullah. Kemudian gambus berkembang menjadi hiburan. Sekarang ini, pesta-pesta keturunan Arab banyak menghadirkan kembali gambus. Sementara para hadirin hanyut dalam pesta zapin menggerak-gerakkan badan seperti layaknya berjoget.

Berkembangnya orkes gambus tidak dapat dipisahkan dari peran Syech Albar, yang lagu-lagunya dikenal bukan hanya di Indonesia tapi juga di Timur Tengah. Syech Albar adalah ayah pemusik rock Ahmad Albar, dan ayah dari Fachri Albar, pemain film dan sinetron terkenal. Sampai 1940-an, lagu gambus masih berorintasi ke Yaman. Sejak berdirinya bioskop Alhambra (kini jadi pertokoan), yang memutar film-filmn Mesir, gambus beralih ke irama negeri Sungai Nil.

Jauh sebelum JP Coen menguasai Batavia, warga Cina sudah tinggal di kota ini. Gambang kromong dan cokek adalah salah satu kesenian Cina yang berasal dari negeri leluhur dan masih berjaya hingga saat ini. Baru-baru ini di Tangerang diselenggarakan pesta pehcun (hari keseratus Imlek). Menggambarkan meriahnya pehcun di Kali Angke, seniman Betawi, Ridwan Saidi, menceritakan ratusan perahu dan sampan berweliweran dihiasi ribuan lampion warna-warni sehingga suasana malam menjadi terang benderang. Orkes gambang keromong dan cokek, suatu kesenian Cina yang terkenal kala itu, mengiringinya.

Di tangan almarhum Benyamin Sueb, musik dan lagu-lagu gambang keromong menjadi sangat populer. Nama gambang keromong diambil dari nama alat musik yaitu gambang dan kromong. Mulanya orkes gambang keromong merupakan kegiatan masyarakat Cina saja. Setelah pemberontakan Cina 1740, karena dikejar-kejar Belanda, mereka melarikan diri ke berbagai tempat di Jakarta dan berbaur dengan masyarakat. Maka, bermain musik gambang kromong dan cokek diikuti oleh warga Betawi.

Sampai 1960-an, warga Cina kalau hajatan selalu memanggil orkes gambang keromong. Di sertai belasan penari cokek yang ngibing dengan membawa selendang yang diletakkan para tauke. Sementara, sambil ngibing, sang tauke diberi minuman memabukkan hingga teler. Kemudian, ia memberikan uang pada si penari yang dimasukkan ke bagian dadanya.

Belanda pada abad ke-17 menjadikan daerah Tugu, Cilincing, Jakarta Utara, sebagai tempat pemukiman orang Portugis setelah mereka ditaklukkan dari Malaka, Malaysia. Keturunan Portugis ini melahirkan Keroncong Tugu. Pengaruh Portugis dapat diketahui dari jenis irama lagunya. Misalnya, moresko, frounga, kafrinyo, dan nina bobo. Dari irama lagu moresko kemudian lahir Keroncong Moresko. Sampai kini keroncong yang sudah berusia hampir empat abad di Indonesia itu masih memiliki banyak penggemar. Tentunya masih banyak lagi kesenian Betawi yang merupakan hasil percampuran budaya antar-etnis dan bangsa.

(Alwi Shahab)

Dari Old Batavia ke Weltevreden

Setelah mendatangi bandar Sunda Kalapa -- tempat Falatehan menghalau armada Portugis (1527) dan kemudian direbut Belanda (16190) -- kita mendatangi Museum Bahari di Pasar Ikan, Jakarta Utara. Dulunya museum ini merupakan gudang rempah-rempah yang terletak tepat di tepi pantai sehingga kapal-kapal yang mengangkut barang-barang dapat berlabuh di depannya. Sekarang sudah ada jalan besar dan didepannya terdapat sebuah pasar dan kantor polisi.

Gudang rempah-rempah itu merupakan salah satu gedung yang terselamatkan, ketika gubernur jenderal Daendels (1808-1811) memindahkan pusat kota dari Oud Batavia ke Weltevreden (Gambir dan sekitarnya). Dari belakang Museum Bahari, dengan menaiki tangga, kita masih mendapati reruntuhan bekas benteng Batavia. Benteng ini dibangun, karena selama 80 tahun setelah kejatuhan Jayakarta, Batavia tidak pernah aman. Baik dari serangan gerilyawan Mataram dan Banten, maupun sisa-sisa pasukan Jayakarta.

Pada awal abad ke-19, ketika Daendels menghancurkan Oud Batavia, termasuk benteng kota yang merupakan sarang penyakit, seorang pendatang menulis, ''Kota Batavia bukan lagi metropolis terkenal masa lampau. Sebagian besar bangunan dan rumah-rumah yang paling penting telah dirobohkan, kecuali gudang-gudang belaka (termasuk Museum Bahari). Istana yang berada dalam benteng hanya tinggal reruntuhan. Kota Batavia hanya seperti sebuah desa yang dikelilingi parit-parit lebar.''

Dari pusat kota berbenteng pagar batu itu kita bisa menyusur ke arah selatan Jalan Pintu Besar yang menjadi tempat pemukiman yang banyak dihuni warga Belanda. Daerah itu dibagi dua oleh sungai Ciliwung. Orang Eropa umumnya tinggal di sebelah timur (Kalibesar Timur) dan orang Cina di sebelah barat (Kalibesar Barat). Sedangkan kampung-kampung tempat orang Sunda, Jawa, Ambon, Bali dan orang-orang dari daerah lain, berkelompok di luar dinding benteng.

Pada abad ke-18, orang-orang Belanda yang lebih kaya membangun rumab-rumah tinggal di sepanjang kanal Molenvliet (kini Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk) sepanjang sekitar tiga kilometer. Banyak orang Cina dan Belanda yang bermukim di daerah yang sedang berkembang itu. Pada abad ke-19, Koningsplein (sekarang Medan Merdeka) menjadi pusat kota baru untuk merebut kembali reputasi sebagai Queen of the East. Pemukiman ini dua kali lebih besar daripada kota lama.

Dengan bertambah ramainya orang membangun di Weltevreden (Gambir dan sekitarnya), pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika modal asing dan dalam negeri makin berkembang, kelebihan penduduk kian merambat ke selatan. Ke jurusan Gondangdia dan Menteng, yang akhirnya menjadi pemukiman yang sangat modern. Sementara, Batavia terus meluas ke timur dan barat, ke Meester Cornelis (kini Jatinegara) dan ke Tanah Abang.

Weltevreden (tidak jauh dari Molenvliet) pada abad ke-18 merupakan kompleks perumahan yang besar dan bagus. Rumah-rumah besar itu dilengkapi kebun-kebun dengan aneka bunga, seperti rumah peristirahatan. Pada abad ke-19, daerah ini, yang menjadi Nieuw Batavia (kota baru Batavia), masih merupakan jantung kota yang meluas ke segala penjuru. Di sini terdapat taman yang luas: Wilhelmina Park (nama ratu Belanda ketika itu), yang kini oleh Bung Karno disulap menjadi Masjid Istiqlal.

Di samping membangun Koningsplein (kini Monas) -- lapangan terbesar dan terluas di seluruh jagad -- Daendels juga membangun 'Gedung Putih' (semula untuk istanna) yang kini menjadi Departemen Keuangan. Di depannya, Waterlooplein (kini Lapangan Banteng), tiap Ahad sore didatangi para tuan dan nyonya serta gadis-gadis dengan pakaian mutakhir dari Eropa untuk menyaksikan parade militer. Terdapat gedung Concordia (kini menyatu dengan Depkeu), tempat para perwira militer berpesta pora dengan gadis-gadis cantik.

Harmonie Club (kini bagian dari gedung Sekretariat Negara), digambarkan sebagai bangunan paling menawan pada abad ke-19. Di depannya, di atas jembatan Rijswijk (Jl Veteran) dan Noordwijk (Jl Juanda), terdapat patung Hermes bersayap, yang menurut mitologi Yunani adalah dewa perniagaan, karena masa itu Harmoni dan sekitarnya merupakan pusat pertokoan dan perniagaan. Di dekat Harmoni (Jl Gajah Mada) terdapat hotel paling bergengsi di Batavia: Hotel des Indes. Sebelum dibangun HI pada 1960, para tamu negara dan diplomat asing tinggal di hotel ini.

Di seberang Jl Veteran terdapat Pasar Baru yang sampai tahun 1970-an bersaing dengan Glodok. Sampai sekarang, masih ada pasar gelap dolar dan mata uang asing lain yang banyak terdapat di sini. Sekarang, pemerintah DKI ingin menjadikan Pasar Baru sebagai salah satu pusat belanja di Jakarta.

Dari sekitar Lapangan Banteng kita bisa menuju Jl Thamrin, yang bersambung dengan Jl Sudirman, dan merupakan jalan protokol yang dibangun Bung Karno menjelang Asia Games IV (1962). Di sini terdapat Hotel Indonesia yang kini tengah direnovasi. Di depannya terdapat Tugu Selamat Datang yang dikelilingi air mancur -- kini menjadi tempat favorit untuk melakukan demo.

(Alwi Shahab)

Bandar Sunda Kalapa 1527

Mendatangi Bandar Sunda Kalapa kita akan mendapati puluhan kapal phinisi tengah berlabuh. Kapal layar yang berdatangan dari berbagai tempat di Nusantara ini sebagian tengah melakukan bongkar muat. Membawa kayu, semen, dan bahan bangunan lainnya untuk kebutuhan Jakarta.

Terlihat juga para kuli sibuk mengangkut bahan-bahan pokok untuk dinaikkan ke kapal-kapal itu guna dikirim ke daerah-daerah. Mungkin terdapat minyak goreng yang kini meroket harganya. Meskipun tak lagi seramai pada masa VOC, bandar Sunda Kalapa yang perannya sudah digantikan pelabuhan Tanjung Priok, masih terlihat sibuk. Lebih ramai dari palabuhan Karangantu di Banten yang pada masa lalu jadi saingan utamanya.

Di palabuhan Sunda Kalapa juga di Priok telah beberapa kali para pengemudi angkutan, pemilik barang dan ekspedisi, melancarkan demo karena tidak tahan atas merajalelanya pungli. Memang, pungli seperti juga korupsi, telah menjadi budaya di negeri ini. Para pelakunya termasuk orang dalam, tidak menyadari akibat perbuatan mereka bukan saja negara dirugikan, tetapi mengakibatkan terpukulnya para eksportir dan importir.

Orang Betawi belum pernah mendirikan kerajaan. Karenanya mereka lebih demokratis dan terbuka sekalipun di negeri ini sekarang berkumpul lebih dari 300 etnis dan suku. Tapi, orang Betawi saksi pergantian kekuasaan dari jaman ke jaman. Tanah Betawi penting karena di muara Ciliwung ada pelabuhan Sunda Kalapa.

Pada jaman Pajajaran (abad ke-12-16) Betawi merupakan bagian dari kerajaan Hindu ini. Orang Betawi sudah berbahasa Melayu dan Kerajaan Pajajaran berbahasa Sunda. Hubungan masyarakat Betawi dengan kerajaan Pajajaran sangat dekat. Karena, dari pelabuhan Sunda Kelapa ke Pakuan (Batutulis-Bogor) angkutan sungai sangat hidup yang ditempuh dalam dua hari. Sampai kini di Batutulis masih didapati prasasti bekas kerajaan Pajajaran.

Di Batutulis hanya beberapa tahun berselang pernah terjadi heboh, ketika seorang menteri dalam kabinet Presiden Megawati membongkar bekas peninggalan sejarah, mencari harta pusaka di bekas kerajaan Pajajaran. Dia melakukan hal itu karena meyakini ada harta karun milik kerajaan, yang dikatakan jumlahnya dapat menutup seluruh utang luar negeri RI.

Pada awal abad ke-16 raja di Pakuan merasa cemas akan timbulnya kekuatan baru di pesisir Jawa Timur, yang sudah merembes sampai ke perbatasan negerinya. Pasukan Demak menguasai Cirebon (akhir abad ke-15). Maka, Pajajaran meminta dukungan orang Portugis, yang baru saja merebut Bandar Malaka (1511).

Ketika itu, orang Betawi sudah banyak yang beragama Islam. Diantara penyebarnya adalah Kyan Santang, putera Prabu Siliwangi. Para pendeta Pajajaran menilai Kyan Santang melakukan penyimpangan, atau langgara. Karena itu, tempat bersembahyang mereka disebut langgar. Sampai kini orang Betawi menyebut surau dengan langgar.

Persekutuan antara Pajajaran dan Portugis mengakibatkan kemarahan bukan saja dari Kerajaan Demak tapi para walisongo. Portugis yang baru saja terlibat dalam perang salib dianggap bukan saja membahayakan persaingan dagang, tapi juga membahayakan Islam yang ketika itu tengah berkembang pesat. Sultan Trenggano dari Demak menugaskan iparnya, Fatahillah, memimpin pasukan menyerbu Sunda Kalapa.

Pada suatu hari di bulan Juni 1527 para laskar Islam pimpinan Fatahillah bergerak dari darat dan laut. Puncak pertempuran terjadi pada suatu senja di sekitar pelabuhan Sunda Kalapa. Ketika merebut bandar ini, kapal-kapal Portugis yang tiba dari Malaka dihalau. Armada Portugis yang bermaksud mendirikan benteng di mulut Ciliwung sesuai perjanjian dengan Raja Pajajaran tidak diizinkan melaksanakan maksud itu. Mereka dihalangi dan diusir dari Teluk Jakarta (1527), karena Pajajaran sudah tidak berkuasa lagi.

Sunda Kalapa diduduki orang dari Jawa Tengah, sedangkan orang Sunda yang beragama Hindu mengundurkan diri ke arah selatan. Akhirnya, ibukota Pakuan Pajajaran (Bogor) jatuh ke tangan sultan Maulana Yusuf dari Banten (1579), dan makin menyebarlah Islam di Jawa Barat.

Fatahillah memberi nama Jayakarta kepada kota yang baru direbutnya. Sebagai seorang panglima dan ulama ia mendirikan kadipaten di tepi barat kali Ciliwung, sekitar Jl Kalibesar Barat. Dia juga mendirikan aryan perumahan untuk pejabat kabupaten dan keluarganya yang di datangkan dari Banten. Seperti juga umumnya kadipaten di Jawa, di depannya terdapat sebuah masjid tempat menggembleng umat.

Menurut Adolf Heyken dalam buku Sejarah Masjid, masjid pertama di Jakarta yang dibangun dari kayu ini, terletak di sebelah selatan Hotel Omni Batavia, yakni antara Jl Kalibesar Barat dan Jl Roa Malaka Utara, di daerah Kota. Berdekatan dengan masjid, yang dibakar oleh JP Coen ketika menaklukkan Jayakarta, itu terdapat sebuah pasar yang letaknya mungkin di sekitar terminal bus dan mikrolet di Kota Inten, Jakarta Barat.

Tanah bekas masjid yang terbakar itu digunakan untuk membangun rumah perwakilan dagang Inggris. Pada Mei 1619 semua penduduk Jayakarta meninggalkan kota mereka bersama dengan tentara Banten, menuju Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Di sini mereka mendirikan Masjid As-Salafiyah, yang hingga kini masih berdiri dengan megah.

(Alwi Shahab)

Mencanangkan Konsep BMW

Wiyogo Atmodarminto, wong Yogyakarta kelahiran 1926, menjadi gubernur DKI Jakarta periode 1987-1992. Lulusan Akademi Kemiliteran Yogya 1945-1948 ini menggantikan R. Soeprapto. Ketika menjabat gubernur DKI, ia baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai dubes RI di Jepang. Dalam usaha mengembangkan Ibu Kota, Wiyogo atau biasa disapa Bang Wi mencanangkan konsep 'Jakarta BMW' (Bersih, Manusiawi, Berwibawa).

Ketika ia mulai menjabat gubernur DKI (1987), pertumbuhan ekonomi kota ini kurang dari enam persen. Kondisi ekonomi Jakarta kala itu tidak terlepas dari resesi ekonomi dunia yang berkepanjangan dan keadaan ekonomi dalam negeri sendiri yang kurang menggembirakan. Maka dia pun membina industri kecil dan memberikan kredit kepada mereka. Kebijaksanaan ini, kata Bang Wi, agar pendapatan masyarakat lebih merata dan jumlah warga yang miskin berkurang.

Dalam melaksanakan pembangunan ekonomi di DKI, selain mengupayakan pertumbuhan dan pemerataan, kami mempertimbangkan ciri-ciri perekonomian daerah urban. Demi efisiensi, Pemprov DKI juga menata kembali pusat-pusat distribusi barang seperti pasar induk dan pasar kota yang terus menerus ditingkatkan kondisinya.

Untuk pusat perbelanjaan (shopping centre), kami batasi pada daerah-daerah yang memang peruntukannya komersil. ''Kalau menyimpang dari peruntukan, tidak saya izinkan,'' tegas Bang Wi. Agar konsepsional, kami menginginkan shopping centre ini ada di daerah-daerah primer. Kami ingin mendekatkan fasilitas belanja ke daerah-daerah permukiman. Ada sentra sekunder, ada sentra primer. Yang sekunder itu kecil. Yang primer seperti yang ada di Kelapa Gading, yang sudah merupakan kota tersendiri. Orang di daerah itu tidak perlu lagi pergi berbelanja jauh-jauh ke Blok M Plaza.

Sekarang shopping centre dan pasar swalayan sudah cukup berkembang. Kendalanya, kalau ada yang baru, yang lama lalu agak terbengkalai. Glodok Plaza misalnya, tidak seramai dulu.

Yang berkaitan dengan dengan kegiatan usaha, Pemprov DKI mempunyai 27 BUMD. Yang berbentuk Perusahaan Daerah selain PD Pasar Jaya ada Sarana jJya di bidang pembangunan. PAM Jaya untuk produksi dan distribusi air minum. BPD Jaya untuk perbankan dan Dharma Jaya untuk pemotongan dan perdagangan hewan potong. Selain itu ada tujuh yang berbentuk Badan Pengelola (BP), tiga berbentuk yayasan, dan 12 usaha patungan baik dengan swasta asing maupun swasta nasional. Antara lain yang terbesar adalah PT Pembangunan Jaya.

Salah satu masalah yang paling berat yang dihadapi Jakarta saat sekarang, dan yang dirasakan masih akan lama dihadapi, adalah masalah penghidupan golongan bawah. Selama pembangunan nasional belum merata, penduduk di daerah yang lebih sulit keadaan perekonomiannya akan terus mengalir ke Jakarta. Makin lama bukan makin berkurang, malah makin besar.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Era Demokrasi Terpimpin

Pada 6 Juni 1901 Bung Karno lahir di Surabaya. Dia meninggal dunia pada 21 Juni 1970 di Jakarta dan dimakamkan di Blitar, Jawa Timur. Saya yang ikut meliput acara pemakaman almarhum dari rumah duka di Wisma Yaso Jl Gatot Subroto (kini Museum Satria Mandala) ke Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, melihat pengantar jenasah yang begitu membludak di sepanjang jalan.

Dari kediaman Nyonya Dewi, istrinya, di Wisma Yaso, ke bandara yang jaraknya belasan kilometer, mobil jenazah harus berjalan perlahan-lahan karena harus melewati ribuan massa. Di antara mereka banyak yang melelehkan air mata dan menangis histeris. Kabarnya, haul 27 tahun wafat presiden RI pertama itu akan diperingati di Blitar. Dikabarkan banyak tokoh nasional yang akan hadir, termasuk mantan presiden Megawati, puteri tertua almarhum.

Presiden Soekarno -- seperti dinyatakannya sendiri -- baru merasa berkuasa penuh setelah pada 5 Juli 1959 mengeluarkan maklumat kembali ke UUD 1945 dan membubarkan konstituante hasil pemilu pertama. Dia begitu membenci demokrasi parlementer, yang olehnya dikritik sebagai demokrasi ala Barat yang tidak cocok dengan demokrasi Indonesia.

Tapi, menurut Herbeth Feith & Lance Coster dalam buku Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965, periode demokrasi parlementer boleh dianggap berakhir Maret 1958, ketika terjadi pertentangan yang amat seru antara pusat dan daerah dan berujung pemberontakan PRRI/Permesta. Kekalahan pemberontak yang begitu cepat dan pengambilalihan semua milik Belanda, disusul dengan susunan politik baru. Parpol-parpol menjadi lemah dan peran para pemimpin ABRI menjadi jauh lebih besar.

Pidato Presiden Soekarno pada hari kemerdekaan 17 Agustus 1960 berjudul Kembali ke Jalur Revolusi, oleh MPRS kemudian ditetapkan sebagai Manifesto Politik (Manipol) menjadi garis-garis besar Haluan Negara. Parpol maupun perorangan, yang dinilai menyimpang dari Manipol, disingkirkan. Masyumi dan PSI dibubarkan, tokoh-tokohnya dipenjarakan, termasuk tokoh oposisi yang tergabung dalam Liga Demokrasi. Setelah membubarkan BPS (Badan Pendukung Sukarnoisme), terakhir kali Bung Karno membubarkan Partai Murba -- musuh utama PKI.

Dari soal-soal politik kita bisa menyoroti suasana kota Jakarta di era demokrasi terpimpin, yang pada 22 Juni 2007 nanti berusia 480 tahun. Bung Karno, pada masa jayanya itu, punya pengaruh cukup menentukan dalam membentuk wajah kota Jakarta. Pada awal demokrasi terpimpin, penduduk Jakarta hampir tiga juta jiwa. Kenaikan enam kali dari populasi 1941, menjelang hengkangnya kolonial Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang penduduk Jakarta baru sekitar 500 ribu jiwa. Sebagian akibat migrasi, karena banyaknya orang ngendon ke Jakarta akibat stagnasi di kota-kota lain. Seperti juga sekarang, meski diberlakukan otonomi, tapi pendatang ke kota si Pitung ini makin membludak.

Seperti juga tahun 1950-an, gubuk-gubuk liar banyak bertebaran di mana-mana. Tidak terhitung jumlah pengemis dan gelandangan. Bung Karno yang ketika itu menjadikan Jakarta sebagai kota perjuangan bangsa-bangsa tertindas, sangat sibuk menerima kepala-kepala negara asing.

Guna menunjukkan keramahan bangsa Indonesia, untuk menyambut tamu negara dikerahkan murid-murid sekolah, kaum buruh dan pegawai negeri sipil. Mereka berbaris di sisi kiri dan kanan jalan yang di lewati tamu negara -- dari bandara Kamayoran hingga depan Istana Negara -- sambil mengelu-ngelukannya.

Pernah terjadi menjelang kedatangan Presiden Polandia, di dekat bandara Kemayoramn dipasang bendera negara Eropa Timur itu yang bewarna putih-merah. Seorang Hansip, yang menyangka bendera itu dipasang terbalik, langsung menaiki tiang dan membaliknya jadi merah putih. Karuan saja panitia menjadi repot akibat ulah si Hansip. Benderapun dikembalikan menjadi putih merah.

Bung Karno-lah yang membangun Jl Thamrin dan Jl Sudirman -- menjelang Asian Games IV awal 1960-an -- yang menghubungkan Senayan dan Kebayoran Baru. Jalan ini -- semula tidak beraspal -- oleh Bung Karno disulap menjadi jalan protokol. Kini kawasan di timur kedua jalan tersebut, bersama Kuningan-Gatot Subroto, merupakan kawasan segi tiga emas.

Di Jl Thamrin, Bung Karno membangun gedung berlantai 20, Sarinah, pencakar langit tertinggi kala itu, dari hasil uang pampasan perang Jepang. Di lantai bagian atas pada masa Bang Ali Sadikin dibangun kasino yang kemudian mendapat protes keras dari umat Islam. Sementara, Usmar Ismail -- tokoh perfilman nasional -- membangun nite club Mirasa Sky Club yang merupakan klub malam pertama ketika itu. Di Jl Thamrin, Bung Karno membangun Hotel Indonesia bertingkat 13, setelah sebelumnya menggusur Hotel des Indes di Jl Gajah Mada, peninggalan Belanda. Dia kurang menyenangi bangunan warisan kolonial.

Kawasan Sudirman-Thamrin makin bergengsi setelah dibangun kompleks OR Gelora Bung Karno pada 1960, ketika Indonesia terpilih menjadi tuan rumah Asian Games IV. Meskipun, untuk itu tergusur ribuan KK warga Betawi yang kemudian ditempatkan di Tebet, Jakarta Timur. Setelah daerah ini berkembang, ribuan warga Betawi tergusur lagi ke daerah-daerah pinggiran.

Kini jumlah warga Betawi korban gusuran yang masih tinggal di Tebet dapat dihitung dengan jari. Memang demikianlah nasib warga Betawi di kota kelahirannya sendiri. Semoga gubernur mendatang lebih memberikan perhatian pada nasib warga Betawi dan tidak lagi melakukan penggusuran secara sewenang-wenang tanpa ganti rugi yang layak.

(Alwi Shahab )

Jakarta 1950-an

Tahun 1950-an, beberapa tahun setelah penyerahan kedaulatan (29 Desember 1949), penduduk Jakarta sudah sangat padat. Namun, tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan jumlah penduduk sekarang ini. Sebelum Perang Dunia II (Perang Asia Pasifik) tahun 1942-1945 Jakarta hanya berpenduduk kurang dari setengah juta jiwa, tapi tahun 1950-an melonjak lebih dari dua kali lipat.

Jumlah itu terus membengkak akibat situasi tidak aman di daerah-daerah, sehingga banyak penduduk yang hijrah ke Jakarta. Di Jawa Barat, misalnya, terjadi pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwirjo. Mobil jarang yang berani melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bandung, karena tidak aman. Pemberontakan juga terjadi di berbagai daerah, antara lain menuntut didirikannya negara Islam.

Ketika gubernur Ali Sadikin berkunjung ke Belanda, walikota Amsterdam menggeleng-gelangkan kepala ketika mendengar Jakarta sudah berpenduduk di atas empat juta jiwa. Padahal sebelum Perang Dunia II, Jakarta hanya berpenduduk kurang setengah juta jiwa -- jauh lebih rendah dari penduduk Amsterdam yang berjumlah 800.000 jiwa. Jumlah ini hampir tidak meningkat lagi ketika Bang Ali berkunjung ke sana.

Kala itu pendapatan perkapita penduduk Indonesia yang 70 juta jiwa, hanya sekitar 90 dolar AS. Sekarang lebih 10 kali lipat, sekitar 1000 dolar AS. Waktu itu, murid-murid Sekolah Rakyat (kini SD), lebih banyak pergi ke sekolah dengan telanjang kaki. Makan sehari hanya dua kali. Sarapan cukup dengan ubi dan singkong. Murid-murid sekolah yang tidak berseragam, masih banyak yang memakai baju tambalan. Saya, misalnya, mendapatkan uang jajan sekolah hanya ceta' atau setalen (25 sen).

Bung Karno yang menyadari kesulitan yang dihadapi rakyat Indonesia, dalam pidato 17 Agustus 1950 yang berjudul Dari Sabang sampai Merauke, berkata, ''Janganlah mengira kita semua sudah berjasa dengan turunnya tiga warna (bendera Belanda). Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, belumlah pekerjaan kita selesai.''

Jakarta pada awal 1950-an memang jauh berbeda dari satu dekade sebelumnya. Kalau kita berjalan di tengah malam, kita akan menyaksikan orang-orang yang tidur di emperan toko. Di pusat keramaian Senen, di malam hari, saat kita makan, banyak pengemis, diantaranya anak-anak, siap menunggu. Mereka akan menyerbu sisa-sisa makanan kita.

Wartawan Muchtar Lubis yang menginjak kakinya pertama kali di Jakarta pada tahun 1940, menulis, ''Sungguh nyaman kota Jakarta di masa itu. Pinggir jalan penuh dengan pohon-pohon asam, johar dan berbagai pepohonan lainnya, memberi naungan dan perlindungan di waktu panas terik.''

Walaupun hidup sangat sederhana, mandi di kali (ngebak) saat saya kecil sangat nikmat. Airnya jernih dan dalam. Sungai-sungai masih lebar dan belum tercemar seperti sekarang. Kendaraan umum kala itu didominasi trem yang menggelinding di hampir segenap penjuru Jakarta. Bayarnya juga murah, hanya 10 sen. Untuk anak sekolah, bila berlangganan, cukup bayar setengah harga. Sayangnya, merasa negaranya sudah merdeka banyak orang yang naik trem tidak mau membayar. Kalau ditanya, jawabnya, ''numpang''. Seperti juga sekarang, banyak yang tidak membeli karcis ketika naik KRL.

Jangan dikata suasana politik kala itu. Dalam demokrasi parlementer yang oleh Bung Karno dicemooh sebagai free fight liberation, partai-partai saling cakar dan jegal-jegalan. Krisis kabinet, kata Bung Karno, seperti dagangan kue, dagangan kacang goreng. Antara 1950-1959 Indonesia mengalami 17 kali krisis kabinet yang rata-rata sekali tiap 8 bulan.

Polemik dan caci maki terjadi di surat-surat kabar yang kala itu rata-rata terbit tidak lebih dari empat halaman. Yang perlu diacungi jempol adalah kesetian orang untuk membaca koran dari partai yang mereka minati, seperti Abadi (Masyumi), Harian Rakyat (PKI), Suluh Indonesia (PNI), Duta Masyarakat (NU), Pedoman dan Keng Po (PSI), serta Bintang Timur (berhaluan kiri). Bahkan, partai-partai kecil pun kala itu juga memiliki media sendiri, seperti Berita Indonesia (Partai Murba) dan Sin Po (Baperki).

Meskipun zaman susah, bagi orang-orang berkantong tebal terdapat sejumlah tempat hiburan. Seperti, di Princen Park (kini Lokasari di Mangga Besar) terdapat tempat untuk mereka berdansa-dansi. Demikian pula Hotel des Indes (kini pertokoan Duta Merlin) banyak didatangi korps diplomatik yang juga membuka kantor di sini. Di samping bioskop Capitol (kini jadi pertokoan) depan Masjid Istiqlal, juga terdapat restaurant dan tempat hiburan. Di Citadel Weg (kini Jl Veteran I), terdapat tempat hiburan Black Cat yang pada masa Belanda khusus untuk mereka.

Di Restoran Airport Kemayoran, grup musik Koes Plus kala itu sering manggung. Tapi, rupanya Bung Karno kurang menyukai musik ngak ngak ngok ini. Dia bukan saja melarang, bahkan pernah memenjarakan mereka. Sementara, pertokoan yang paling bergengsi kala itu adalah Pasar Baru dan Glodok. Kedua kawasan pertokoan itu pernah menjadi black market penjualan uang dolar dan mata uang asing lainnya.

Kala itu belum dikenal istilah dangdut dengan goyangannya yang erotis. Sementara, para penyanyinya saling rebutan untuk tampil seksi. Maklum, artis yang tidak berani buka-bukaan sulit bisa laku. Saat itu para wanita berpakaian sangat sopan, termasuk penyanyi-penyanyi orkes Melayu. Mereka memakai konde dua yang disebut konde berunding. Sedangkan gadis-gadis rambutnya dikepang dan belum ada yang nglayap ke mal-mala yang kala itu belum nongol.

(Alwi Shahab )