Tuesday, October 09, 2007

Senja di Pelabuhan Kecil

Sajak berjudul Senja di Pelabuhan Kecil adalah salah satu karya penyair terkenal Chairil Anwar (alm). Sajak yang dibuat menjelang akhir hayatnya (1949) itu dipersembahkan untuk Sri Ajati. Chairil Anwar meninggal pada 28 April 1949 di Jakarta dalam usia 27 tahun dan meninggalkan seorang puteri yang kini jadi notaris.

Yang dimaksud Chairil dengan 'senja di pelabuhan kecil' itu adalah senja di Pelabuhan Sunda Kalapa, tempat yang syarat dengan peristiwa sejarah. Rupanya, Sri Ajati, yang ketika itu masih berusia 20-an tahun, menjadi dambaan sang penyair. Sampai tahun 2002 Sri Ajati dikabarkan masih hidup dan saat itu telah berusia 83 tahun. Ia tinggal di Magelang, Jawa Tengah. Ketika itu digambarkan bahwa dalam usia lanjut ia masih menyisakan garis-garis kecantikannya.

Sekalipun harus duduk di kursi roda, ia tak pernah mengurangi aktivitasnya, termasuk kegiatan sosialnya di Rotary Club Magelang. Sri Ajati adalah Ny RH Soeparsono, atau istri almarhum Mayor Jenderal TNI Soeparsono -- mantan Kepala Rumah Sakit Tentara (RST) Dr Soedjono, Magelang. Coba kita simak penggalan sajak Chairil yang ditulis untuk Sri Ajati itu di bawah ini.

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu, tiada bertaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Kritikus sastra Dr HB Jassin (almarhum) menilai sajak tersebut berisi keresahan hati, suatu kesedihan yang mendalam yang tak terucapkan. Sri Ajati, yang konon digila-gilain oleh Chairil, adalah seorang gadis tinggi semampai, berkulit hitam manis, dengan rambut berombak, dan memiliki kerling mata yang dalam. ''Tidak ada agaknya pemuda sehat yang tidak akan jatuh cinta padanya,'' tulis Jassin dalam buku Pengarang Indonesia dan Dunianya (PT Gramedia, Jakarta, 1983).

Dengan sajaknya itu, penyair Chairill Anwar yang namanya diabadikan untuk sebuah taman di Jakarta, melihat suatu pemandangan di tengah laut di Teluk Jakarta, dengan gudang-gudang tuanya (di sekitar Sunda Kalapa kala itu masih terdapat bekas gudang rempah-rempah peninggalan Belanda).

Sri Ayati, kala itu sempat menyatakan tergetar dan sedih membaca sajak itu. Ia mengaku kenal baik dengan Chairil ketika ia bekerja sebagai penyiar radio Jepang tahun 1942. Tapi, menurut Jassin, ketika itu dia sudah punya pacar seorang calon dokter, yakni Soeparsono.

Sajak lain karya Chairil Anwar yang terkenal adalah Kerawang-Bekasi. Ia mengangkat situasi mengharukan di kawasan sebelah timur Jakarta pada masa revolusi fisik (1945-1949), suatu daerah pertahanan RI yang ditakuti oleh pasukan Belanda (KNIL) .Sampai beberapa tahun lalu, Karawang dan Bekasi merupakan penghasil beras utama di Pulau Jawa. Sekarang, banyak pabrik yang bermunculan di sana, terutama di Bekasi.

Sunda Kalapa dan kota tua di dekatnya adalah tempat awal VOC menjejakkan kakinya di Nusantara. Di sana pula DN Aidit bersembunyi setelah terjadi pemberontakan PKI di Madiun (1948) yang dipimpin oleh Muso dan berhasil ditumpas TNI. Aidit sempat diisukan melarikan diri ke Moskow. Tapi ternyata tidak. Dia bersembunyi di sekitar kota tua itu. Dia baru muncul kembali pada tahun 1950-an, ketika wakil presiden Moh Hatta dengan Keputusan No X menghidupkan kembali parpol-parpol dalam rangka mempersiapkan Pemilu pertama.

Setelah muncul bersama MH Lukman dan Nyoto, Aidit mulai membangun kembali partainya yang hancur setelah pemberontakan. Hasilnya sangat lumayan. Melalui janji-janji akan membagi-bagi tanah untuk petani, PKI menjadi partai yang kuat. Pada Pemilu 1955 PKI menjadi partai keempat terbesar. Bahkan sebelum pemberontakan G30S, dia sesumbar PKI akan menjadi partai nomor satu. Sebelum dibubarkan, penganut komunisme di Indonesia adalah terbesar nomor tiga di dunia setelah Rusia dan RR Cina.

Klan Aidid, yang nenek moyangnya berasal dari Hadramaut, bukan hanya populer di Indonesia, tapi juga di Afrika Utara. Misalnya, presiden Somalia pada tahun 1990-an adalah Farakhan Aidid. Sedangkan di Batavia, setidaknya ada tiga klan Aidid (dengan huruf 'd' di belakangnya) yang menjadi kapiten Arab. Mereka adalah Sayid Muhammad bin Abubakar Aidid (15 Mei 1864), Sayid Husin bin Muhammad bin Abubakar Aidid (5 November 1879) dan Sayid Oemar bin Hasan bin Ahmad Aidid.

VOC membangun Batavia (1619) sebagai kota berbenteng tebal, untuk menghadapi serbuan Mataram dan Banten. Saat itu, pelabuhan Sunda Kalapa sangat penting sebagai pusat jalur perdagangan VOC di Hindia Timur. Sunda Kelapa, selain sebagai pelabuhan, juga dipakai sebagai tempat jual beli komoditi terutama rempah-rempah dari Indonesia bagian Timur.

Sampai sekarang bekas gudang-gudangnya masih berdiri dan menjadi Museum Bahari. Juga masih terlihat puing-puing benteng peninggalan abad ke-17, termasuk kawasan yang kini disebut Kota Inten. Pelabuhan Sunda Kalapa kala itu juga terkenal dengan airnya yang jernih. Para awak kapal mengambil air dari muara Sungai Ciliwung yang belum tercemar. Sunda Kalapa juga dikenal dengan produksi araknya yang menjadi dambaan para awak kapal. Arak ini diproduksi oleh pedagang Tionghoa.

Seorang kapiten Cina, Bingham, pada tahun 1648 diberi izin menggali kanal di selatan Sunda Kalapa mulai dari Gerbang Baru (Nieuwpoort) di Pasar Ikan hingga Kali Krukut. Setelah diambil alih (1661) kanal ini diberi nama Molenvliet (kini Jl Gajah Mada dan Hayam Wuruk). Itulah sepenggal kisah tentang Sunda Kalapa, pelabuhan yang menjadi kecil setelah dibangun Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1886.

(Alwi Shahab)

5 comments:

Saifuddien said...

Ada juga yang saya ketahui Hasan Aidid,dulu menjadi Wakil Ketua Front Anti Komunis di jaman tahun 1955-an [saat Pemilu pertama], yang Ketuanya adalah KH Isa Anshari [ayah Endang Saifuddin Anshari].
Hasan Aidid [apa dengan "d" atau "t" ini] pernah tinggal di Gresik, di Kampung Arab [Jalan Gapuro].
Apa ada kaitan dengan Aidid yang lain yang penulis ceritakan?

MLS said...

Mereka sama-sama bermarga "Aidit", tetapi mengenai hubungan kekeluargaan dekat, saya kurang tahu.

masaidid said...

Hasan Aidid yang Anda maksud benar pernah bermukim di Kampung Arab di Kota Gresik Jatim. Beliau wafat pada Oktober 1979 di Mekkah saat menunaikan ibadah haji. Almarhum lahir di Pulau Bonerate, Kabupaten Selayar, Sulsel. Ayahnya berdarah Arab, ibundanya berasal dari Sulsel. Istrinya (alm) Hj. Zubaidah Daeng Sikati berasal dari suku Bugis. Hasan Aidid selain dikenal sebagai Ketua Front Anti Komunis (FAK) Jatim, beliau juga pernah menjadi anggota KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat)hasil pemilu 1955 dari Partai Masyumi. Dikarunia 4 orang anak, kini keempatnya tinggal di Gresik, Jatim.
(Muhammad Aidid, putra ke-4 Alm. Hasan Aidid)

Yayung said...

Aidit PKI beda dg Aidid yg Arab Hadramaut. Aidit PKI asli Minang, diadopsi oleh klg Arab Palembang. Aidit bukan marga. Dia punya nama sendiri berbau Arab. Tp lupa namanya. Bisa dicek di buku 'Api Sejarah 2' karya Dr. Ahmad Mansyur Suryanegara, dosen sejarah Unpad.

Darul Aqsha

Yayung said...

Aidit PKI beda dg Aidid Arab. Aidit PKI berasal dr Minang dg nama Arab tp namanya berubah stlah diadopsi sbuah klg di Palembang. Bisa dicek di buku 'Api Sejarah 2' karya dosen sejarah Unpad, Dr Ahmad Mansyur Suryanegara.