Friday, July 06, 2007

Menghapus Berbagai Pajak Judi

Tjokropranolo (1924-2001) menjabat gubernur DKI Jakarta 1977-1982. Mantan Aspri (Asisten Pribadi) Presiden Soeharto dan pada masa revolusi fisik pernah menjadi ajudan Panglima Besar Jenderal Sudirman. Setelah Bang Ali mengakhiri jabatan sebagai gubernur DKI, Tjokropranolo oleh Pak Harto ditunjuk sebagai penggantinya.

Sebelas tahun Bang Ali menjadi gubernur, Jakarta telah berubah sangat dahsyat. Putra kelahiran Sumedang, Jawa Barat ini, telah mengubah wajah Jakarta dari julukan sebuah 'kampung besar' menjadi 'Kota Metropolitan'. Tidak heran kalau segala gerak geriknya selalu dibandingkan dengan Bang Ali.

Falsafah kepemimpinan Bang Nolly, julukan Tjokropranolo ''small is beautiful' (kecil itu indah). Kalimat ini membawa makna bahwa, pedagang kecil itu harus diutamakan. Mengingat saat itu, non-pribumi merupakan satu-satunya kelompok yang sangat dominan dalam perekonomian. Salah satu jalan pemberian tempat-tempat strategis bagi golongan pribumi dalam kehidupan ekonomi kota.

Sementara para pedagang kaki lima (PKL) dijadikan sebagai salah satu jalur yang cukup penting untuk memasakan hasil-hasil industri kecil yang dibina pemerintah. Pendekatan yang lebih manusia yang dilakukan pemda telah menimbulkan partisipasi pedagang untuk memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku.

Selama lima tahun sebagai gubernur, Bang Nolly telah melakukan pembinaan terhadap 88.497 pedagang PKL tersebar di 12 lokasi. Dia juga berhasil menyalurkan sekitar 14 ribu PKL ke pasar-pasar Inpres. Melalui program pembinaannya, antara lain pemberian bantuan permodalan dalam bentuk kredit. Dan mengenalkan sistem perbankan kepada mereka. Sayangnya, maksud baik ini menimbulkan berbagai masalah. Seperti pengembalian pinjaman yang tidak dapat ditepati pada waktunya sehingga terjadi berbagai tunggakan.

Bang Nolly menyadari bahwa sekalipun kehidupan masyarakat di Kota Metropolitan Jakarta penuh kesibukan untuk mempersiapkan hidup, tapi masih cukup kuat untuk memegang agama. Menunjukkan identitas sebagai bangsa yang relijius ternyata tidak luntur di kota yang besar. Hingga pembentukan masyarakat relijius sosialistis di perkotaanpun, yang dihangatkan 1977 akan dapat dilaksanakan dengan baik.

Bang Nolly juga mencanangkan Program Dokter Kecil dengan melibatkan murid-murid sekolah dalam Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Dengan adanya 'dokter-dokter kecil', di sekolah-sekolah dimaksudkan untuk mempercepat tercapainya perikehidupan masyarakat sekolah yang sehat, rohaniah dan jasmaniah. 'Dokter kecil' ini adalah anak didik yang dipilih oleh guru ikut melaksanakan usaha pendidikan dan kesehatan terhadap diri sendiri, keluarga, teman murid pada khususnya dan dari sekolah pada umumnya.

Pajak judi yang diberlakukan sejak 1977, dirasakan merupakan ganjalan bagi Pemda DKI. Meskipun merupakan pendapatan yang cukup potensial daerah (mencakup porsi 22%), secara bertahap pajak judi dihapuskan. Seperti judi balap anjing karena saat itu judi ini sangat meluas sampai ke pelosok-pelosok kampung. Dengan penghapusan ini Pemda kehilangan pajak Rp 3 miliar.

Judi jackpot suatu permainan dengan alat elektronik dengan memasukkan uang ke dalamnya, juga dihapuskan. Apalagi judi ini banyak melibatkan anak-anak sekolah. Usaha Bang Nolly ini mendapat tanggapan dari Presiden yang pada 1 April 1980 menghapus segala bentuk penjudian. Sekalipun perjudian sekarang ini makin marak. Tidak mempedulikan segala bentuk larangan.


(Alwi Shahab, wartawan Republika )

No comments: