Thursday, July 05, 2007

Glodok-Pancoran 1872

Inilah pusat perdagangan dan perekonomian paling bergengsi di Jakarta: Glodok dan Pancoran. Foto ini diabadikan tahun 1872 memperlihatkan adanya sungai atau kanal yang menghubungkan Glodok dan Pancoran. Pada abad ke-20 kanal di Pancoran ditutup dan kini merupakan bagian dari jalan raya dan pertokoan.

Sedangkan jembatan Glodok sebagai penghubung kedua daerah di kawasan China Town dibongkar. Sampai akhir abad ke-19, kanal seperti terlihat di foto menjadi salah satu urat nadi tranportasi seperti terlihat sejumlah perahu yang memuat barang-barang dagangan.

Jembatan Glodok yang sudah menghilang itu letaknya dipersimpangan Pancoran dan Nieuwpoort Straat (kini Jalan Pintu Besar Selatan). Di sebelah kiri foto tampak pertokoan Glodok dan diseberangnya pertokoan Pancoran. Pasar Glodok tampak masih sangat sederhana. Kala itu atap rumah mereka meruncing di bagian atas, meniru rumah di dataran Cina negeri leluhurnya. Kawasan Glodok yang kini gersang karena dipenuhi oleh para pedagang, waktu itu masih rimbun. Dikelilingi oleh pepohonan yang kini sudah tidak dijumpai lagi.

Nama Pancoran karena ditempat ini dulu ada air mancur. Para penduduk siap untuk antri selama beberapa jam untuk mengambil air dari kali Molenvliet (Ciliwung) yang telah disaring terlebih dahulu. Menurut sejarawan Belanda, de Haan banyak para anak kapal saat mendarat di pelabuhan Sunda Kelapa mengambil air yang telah dijernihkan di sini. Para kelasi juga sangat menyukai arak produksi Batavia yang pada abad ke-17 banyak diusahakan oleh keturunan Cina. Dan di tempat ini pulalah para pelaut setelah berbulan-bulan dalam pelayaran berkesempatan bermain dengan WTS di soehian (istilah Mandarin untuk rumah pelacuran dan hiburan).

Ketika terjadi huru-hara dalam Peristiwa Mei 1998 banyak toko dan rumah di China Town dihancurkan dan dibakar serta barang-barang mereka dijarah. Peristiwa lebih keji terjadi pada Nopember 1740 ketika 10 ribu warga Cina dibantai mulai dari kanak-kanak, wanita hingga kakek-kakek. Karena mereka dianggap ingin memberontak terhadap Belanda. Di masa Bung Karno, Glodok bersama Pasar Baru menjadi tempat penjualan uang dolar secara gelap (black market).


(Alwi Shahab,wartawan Republika )

No comments: