Thursday, July 05, 2007

Jalan Panjang Majelis Taklim Kwitang

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku sudah lima kali mengunjungi Majelis Taklim Habib Ali Alhabsyi di Kwitang, Jakarta Pusat. Kunjungan itu mulai dilakukannya sejak masih aktif di TNI hingga kini setelah dia menjadi presiden. Kunjungan kelimanya berlangsung Ahad (22/4) lalu.

Ia bukan presiden pertama yang berkunjung ke pengajian yang diselenggarakan tiap Ahad pagi itu. Sebelumnya, Soeharto telah mengunjungi majelis taklim ini. Kemudian, BJ Habibie dan Abdurahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, Soekarno pun pernah ingin berkunjung ke majelis taklim ini. Segala persiapan sudah dilakukan, tapi rupanya masalah keamanan menjadi halangan. Maklum ketika itu suasana politik sedang memanas. Yang datang hanya PM Ir Juanda. Menhankam/Pangab Jenderal AH Nasution ketika berlangsung Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) juga sengaja membawa anggota delegasi menyaksikan kegiatan umat Islam di majelis ini.

Membludaknya kaum Muslimin yang mendatangi Majelis Taklim Kwitang ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh pendirinya, Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi. Habib kelahiran Kwitang ini meninggal 20 April 1968 pada usia 98 tahun. Dia dimakamkan di samping Masjid Al Riyad, Kwitang, masjid yang dibangunnya sekitar 80 tahun lalu. Sebelumnya, masjid tersebut hanya sebuah mushala, yang dibangun pada 1.869 atau 138 tahun lalu.

Ayah Habib Ali adalah Habib Abdurahman Alhabsji, kelahiran Semarang, yang menikah dengan seorang wanita pribumi -- putri seorang kiai dari Jatinegara, Jaktim. Habib Abdurahman adalah saudara misan pelukis terkenal Raden Saleh Syarif Bustaman. Ia dimakamkan di Cikini, Jakpus, dekat TIM yang kala itu merupakan bagian dari kediaman Raden Saleh.

Ketika ayahnya meninggal, Habib Ali masih berusia belasan tahun. Dia kemudian dibesarkan oleh ibunya, Nyai Salmah, seorang Muslimat yang taat. Sesuai pesan almarhum suaminya, Muslimat yang memiliki cita-cita besar ini, menyekolahkan putranya ke Hadramaut (Republik Yaman). Selama lima tahun (1881-1886) Habib Ali berguru pada sejumlah tokoh alim ulama setempat. Sebagai pemuda yang haus akan ilmu, Habib Ali yang masih remaja juga menempuh pendidikan di Kota Suci Makkah. Sekembalinya ke Betawi, sekitar 121 tahun lalu, dia belajar pada Habib Usman bin Yahya, seorang ulama dam penulis lebih dari 20 kitab kuning. Sejumlah kitab karangannya sampai kini masih digunakan di pengajian-pengajian tradisional di Jakarta dan Jabar.

Di Masjid Pekojan -- tempat Habib Usman mengajar -- dia berpidato mengutuk kebiadaban Pemerintah Italia yang membantai para pejuang Muslim pimpinan Omar Mukhtar. Peristiwa ini telah difilmkan oleh Hollywood dengan judul 'Lion of the Desert' (Singa Padang Pasir) yang diperankan oleh Anthony Quinn sebagai Omar Mokhtar.

Peristiwa yang meminta banyak korban para pejuang Libya saat melawan Italia itu dikutuk keras kaum Muslimin di Jakarta. Habib Ali yang masih berusia 30 tahunan ikut mengutuk peristiwa yang terjadi 85 tahun lalu. Sejumlah tokoh Syarikat Islam seperti HOS Tjokroaminoto dan KH Agus Salim kemudian memelopori pemboikotan produk-produk Italia.

Setelah menjadi mubaligh, sambil berdakwah di berbagai tempat Habib Ali juga menjual kain di Pasar Tanah Abang. Ketika itu, banyak orang Betawi yang lebih senang jika anaknya mengaji, karena sekolah-sekolah umum Belanda menanamkan pelajaran Kristen. Menyusul berdirinya perguruan Islam modern pertama Jamiatul Kheir di Pekojan (1905), ia lalu mendirikan perguruan Islam Unwanul Falah di Kwitang (sampimng Masjid Kwitang). Unwanul Falah sekolah Islam dengan sistem kelas. Di samping pendidikan agama juga diajarkan pengetahuan umum. Didekatnya, dia juga membangun sekolah khusus untuk wanita, juga dengan sistem kelas seperti di sekolah-sekolah umum.

Di sinilah para murid belajar, yang kemudian menjadi mubaligh andal. Di antara mereka adalah KH Abdullah Syafi'ie, pemimpin Perguruan Islam Assyafiyah dan KH Tohir Rohili, pemimpin perguruan Attahiriyah. Selain itu, juga ada KH Syafei Al-Hazami, yang memimpin belasan majelis taklim di Jakarta.

Setelah Habib Ali berusia lanjut, antara murid dan guru tetap terjalin hubungan baik. Bahkan, Habib Ali mempersaudarakan putranya, Habib Muhammad, dengan KH Abdullah Syafi'ie dan KH Tohir Rohili di hadapan ribuan umat di majelis taklimnya. Setelah Habib Ali meninggal dunia, ketiga mubaligh yang telah dipersaudarakan ini masing-masing membangun majelis taklim, yang terus berlangsung hingga saat ini.

Ketika KH Abdullah Syafi'ie ingin membangun perguruan Islam, dia meminta Habib Ali ke kediamannya di Kampung Bali, Matraman, Jaksel. ''Insya Allah dari tempat ini timbul kebun surga,'' tutur Habib Ali waktu itu, mengutip hadis Nabi SAW yang menyatakan majelis taklim merupakan kebun surga.

Yang menarik, saat Pemilu 1955, Habib Ali cenderung ke partai NU dan KH Abdullah Syafi'ie menjadi juru kampanye Masyumi. Perbedaan pendapat antara murid dan guru tidak menyebabkan hubungan mereka retak. Setelah putranya, Habib Muhammad, meninggal dunia, kini majelis taklim Kwitang ditangani generasi ketiga, Habib Abdurahman Alhabsyi.

Apa yang membuat majelis taklim tersebut bisa berumur sangat panjang? Seorang ulama yang mengarang lebih dari 20 judul buku, alm M Asad Shahab (91 tahun) menyatakan Majelis Taklim Habib Ali dapat bertahan selama lebih dari satu abad, karena inti ajaran Islam yang disuguhkannya berdasarkan tauhid, kemurnian iman, solidaritas sosial, serta akhlaqul karimah.


(alwi shahab )

No comments: