Monday, June 01, 2009

Gedung KPM dan Kisah Nyai Dasima

Gedung KPM dan Kisah Nyai Dasima Inilah gedung Koninklike Paaketvard Mastchappij (KPM) terletak di ujung Jl Medan Merdeka Timur (dulu Koningsplein Oost) No 5, Jakarta Pusat. Bersebelahan dengan gedung Pertamina dan berseberangan dengan bagian belakang Masjid Istiqlal, gedung megah itu kini ditempati oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut setelah KPM dinasionalisasi tahun 1957 saat putusnya hubungan RI- Nederland karena masalah Irian Barat (Papua).


Gedung ini didesain pada 1916 dan dibangun pada 1917-1918. Ketika dinasionalisasi, perusahaan terbesar Belanda ini diambil alih Pelni. Belanda mendirikan usaha pelayaran yang dapat mengarungi rute seluruh Indonesia pada 1825. Pada tahun 1988 diresmikan namanya menjadi KPM setelah dibukanya pelabuhan Tanjung Priok menggantikan pelabuhan Sunda Kalapa yang mengalami pendangkalan.

Foto ini diabadikan tahun 1920-an, hanya beberapa tahun setelah diresmikan. Tampak deretan mobil tahun 1920 yang dikuasai produk Eropa, seperti Austrin dan Opel dengan kap yang bisa buka tutup. Pada 1927, KPM memiliki 136 armada kapal yang beroperasi hampir di seluruh pelosok Nusantara. KPM-lah yang membangun RS Koja di Priok dan RS Pelni di Jati Petamburan.

Di tempat Ditjen Perla inilah kira-kira menjadi latar belakang novel historis terkenal Nyai Dasima. Nyai yang bahenol ini bersama suaminya, Meener Willem, dan putrinya, Suzana, tinggal di tempat ini. Tapi, dari tempat ini pula, Nyai asal Desa Kuripan, Parung, Kabupaten Bogor, rela meninggalkan suami dan putrinya dengan menjadi istri kedua Samiun, tukang sado anak Kwitang. Dia rela meninggalkan keluarganya setelah diingatkan bahwa kawin tanpa nikah, apalagi dengan pria lain agama, dosa besar karena hukumnya zina. Peristiwa ini terjadi di masa pemerintahan Inggris, Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816).

Nyai Dasima suatu malam ketika naik delman bersama Samiun dibunuh Bang Puase, jagoan dari Kwitang. Karena Hayati, istri pertama Samiun dibakar cemburu dan membayar jagoan ini. Bang Puase mati digantung di Balai Kota Batavia (kini Museum Sejarah DKI Jakarta). Ada yang menyebutkan, tuduhan ini fitnah belaka. Kematian Dasima sengaja dikaitkan dengan Bang Puase, seorang jagoan antipenjajahan.

Bagi seorang jagoan Betawi, ribut dengan perempuan adalah perbuatan tercela apalagi membunuh dengan cara membokongnya. Konon, ketika digiring ke tiang gantung oleh soldadu-soldadu Belanda, Bang Puase berjalan dengan gagah.

1 comment:

bataragema said...

Menurut cerita keluarga, Nyai Dasima itu memang tokoh historis, rumah beliau di daerah Jalan Perwira (samping kiri Masjid Istiqlal), atau tepatnya di belakang SMPN 4 Jakarta (dulu SMPN 7 Jakarta).