Sunday, November 21, 2004

Tenabang, Ambisi Pemda, dan Ongkos Parkir

Seorang antropolog bernama Lea Jellinek tahun 1970-an mengadakan penelitian tentang kawasan miskin di Jakarta. Untuk bahan perbandingan ia mondar-mandir Jakarta-Yogyakarta. Pada 30 tahun lalu situasi Ibu Kota sangat berbeda dengan sekarang. Kawasan Kebon Kacang di Tanah Abang, Jakarta Pusat, masih terdapat rumah-rumah gubuk. Tapi, ketika Lea Jellinek memantau kawasan Kebon Kacang ia menyimpulkan bahwa watak kampung miskin Kebon Kacang berbeda dengan kampung-kampung miskin di Yogyakarta.

Kebon Kacang, katanya dalam buku berjudul The Wheel of Fortune (Roda Keberuntungan), sejak 1949 masuk dalam 'garis edar' pembangunan nasional. ''Roda-roda keberuntungan berputar di Kebon Kacang dan tidak di kampung-kampung miskin di Yogyakarta.'' Demikian tulis Lea Jellinek, seperti dikutip budayawan Betawi, Ridwan Saidi, dalam salah satu tulisannya.

Kawasan Kebon Kacang, Kebon Melati, Karet Pasar Baru, dan sekitarnya dikembangkan sejak 1920-an. Mereka menyebut Tanah Abang dengan Tenabang. Sampai akhir 1950-an sebelum berdiri Hotel Indonesia (HI) yang kini tengah direnovasi, kawasan ini bernama Kebon Sayur. Orang-orang bule (Eropa dan Belanda) yang tinggal di Menteng mendapat suplai sayur-mayur dari para petani di Kebon Sayur.

Dengan berkembangnya ratusan gedung pencakar langit di sepanjang jalan Thamrin maka kawasan yang banyak didiami rumah-rumah rakyat di sekitarnya tergusur. Kini di Kebon Kacang yang memiliki 30-an gang (lorong jalan) hampir tidak lagi terlihat rumah-rumah yang terbuat dari papan maupun setengah tembok. Sesuai dengan judul buku Lea Jellinek, di kawasan Kebon Kacang, lebih-lebih yang berdekatan dengan Pasar Tanah Abang, berdiri gedung-gedung megah.

Dalam suasana hiruk-pikuk menyambut Lebaran sekarang ini dipastikan Pasar Tanah Abang menjadi salah satu pasar yang paling banyak didatangi pembeli. Mereka berdatangan bukan saja dari berbagai tempat di Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari berbagai penjuru Tanah Air dan mancanegara. Tidak heran Pemprov DKI Jakarta dan PD Pasar Jaya terus berupaya mengembangkan dan memodernisasi pasar yang telah berusia 269 tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, Tenabang akan dijadikan sebagai pusat perdagangan tekstil terbesar alias nomor wahid di kawasan Asia.

Sengketa antara penghuni pasar dan Pemprov (PD Pasar Jaya) mengenai peremajaan masih terus berlangsung. Tapi, yang jelas beberapa bangunan yang dinilai sudah tua tahun 2005 akan dibangun baru. Sengketa ini, di antaranya berkisar pada keberatan para pedagang mengenai harga kios yang kelewat tinggi.

Harga kios di Blok A yang dianggap sebagai tempat yang tidak strategis minimal Rp 20 juta per meter persegi. Di salah satu blok yang strategis Rp 200 juta per m2. Jadi, bila seorang pedagang memiliki lima meter persegi harganya mencapai satu miliar rupiah. Bahkan, ada kios yang harganya mencapai satu miliar rupiah per meter persegi. Dengan kata lain ada yang seharga 110 ribu dolar AS dengan nilai Rp 9.000 per dolar AS. Sampai-sampai ada yang memperkirakan lebih mahal dibandingkan harga di Wall Street, salah satu pusat perdagangan di New York, AS.

Kembali ke rencana menjadikan Tanah Abang sebagai sentra tekstil terbesar di Asia, pernah ada rencana induk (master plan) yang meluas hingga ke kawasan Gang Lontar, Jatibunder, Kebon Kacang I dan J KH Mas Mansyur. Bahkan, saat ini berdiri sejumlah kantor ekspedisi, pertokoan, dan berbagai kegiatan perdagangan dan industri lainnya. Contohnya, di Jl KH Mas Mansyur, salah satu jalan utama di Tanah Abang.

Di antara gedung lama yang masih tertinggal adalah Masjid Al-Makmur, masjid bersejarah yang dibangun pada abad ke-17 oleh dua bersaudara dari Kerajaan Islam Mataram ketika menyerang Batavia. Harga tanah juga telah melangit di sekitar Pasar Tanah Abang. Sebagai contoh, di Pasar Lama Ujung yang berdekatan dengan Pasar Tanah Abang yang akan dibangun Metro Development, konon ada pengembang yang berani membeli tanah di sini seharga Rp 25 juta per meter persegi. Ini jelas harga tanah termahal di Jakarta. Itu jauh lebih mahal dibandingkan harga di kawasan Segitiga Emas (Thamrin-Sudirman, Kuningan, dan Gatot Subroto). Di kawasan elite Kemang masih berkisar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per m2.

Memasuki Pasar Tanah Abang, lebih-lebih saat Ramadhan, kita harus mau bersusah-payah dan tahan uji agar tidak sampai membatalkan puasa. Kemacetasn lalu lintas sudah menjadi masalah rutin, tapi tidak terpecahkan. Ini terjadi karena para pedagang kaki lima (PKL) tak terkendali dan menempati ruang milik publik. Sejumlah pedagang menuding kemacetan Pasar Tanah Abang akibat para PKL dan parkir yang semrawut. Perparkiran di sini ditentukan oleh para preman. Tidak mengherankan sewa parkir di sini termahal di Jakarta. Memarkir di dekat Masjid Tanah Abang, kita diminta membayar Rp 5 ribu per jam. Itu pun dilakukan dengan agak memaksa.

Tenabang boleh dikata 'surga' bagi para PKL. Petugas PD Pasar Jaya beberapa tahun lalu pernah memperkirakan omzet seorang PKL lebih Rp 500 ribu per hari. Mereka mendapat keuntungan rata-rata 20 persen dari omzet per hari. Menjelang Lebaran keutungan sehari lebih dari Rp 200 ribu per hari. Karena itulah istilah 'surga' bagi PKL muncul. Tidak heran saat pulang ke Sumatra Barat pada malam takbiran, misalnya, banyak pedagang Tanah Abang yang naik pesawat terbang.

1 comment:

lia said...

Tentang Kebon Kacang, Kebon Melati,Tenabang dsk mengingatkan saya akan masa kecil sekitar akhir thn 70an s/d thn 1987. Dimasa itu jika ulang tahun Jakarta tiba, pastilah ada pawai pembangunan dan terdapat atraksi terjun payung, saya digendong oleh pembantu dan keluarga pasti sudah duduk2 disepanjang jalan Thamrin depan HI utk melihat pawai. Dan jika malam harinya dari atas loteng rumah terlihat kembang api sangat bagus dan terang. Jalan2 relatif sepi, kemana2 pasti saya naik becak. Naik sepeda keliling kebon kacang pun masih relatif aman krn tidak banyak mobil saat itu. Kepasar pun tidak usah jauh2 dekat rumah ada pasar namanya gang lontar, yg mungkin sekarang sudah tidak ada lagi, krn sebentar lagi akan dibangun pusat perbelanjaan terbesar waduk melati kalo tidak salah namanya. Persaudaraan antar tetangga pun sangat erat sekali, tdk perduli dari berbagai macam etnis, jika hari besar agama tiba, pasti kita ikut merasakan kebahagiaan mereka, kue2, angpao, silaturahmi, takbiran keliling kampung dan sholat tarawih bergantian dimasjid2 yang ada disekitar Kebon Kacang. Perayaan 17 Agustusan juga diselanggarakan secara meriah, sambil berpakaian adat atau disesuaikan dengan tema perayaan tahun itu, kita berkeliling gang disekitar kebon kacang dan malamnya pasti ada panggung gembira dan prasmanan. Mengingat kehidupan masa kecil di Kebon Kacang pingin rasanya mengulang lagi, tapi jangan yang seperti sekarang, sudah sesak dan semrawut, masyarakatnya sudah individual khas masyarakat kota zaman sekarang.