Friday, December 07, 2007

Salemba: Daendels vs Raffles

Inilah foto Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat, pada akhir abad ke-19 saat dimulainya fotografi di Batavia. Pada masa penjajahan Salemba bernama Struiswijk. Jalan yang tampak masih senyap di kiri kanannya dipenuhi pepohonan yang rindang yang sekarang ini kering kerontang dan penuh pertokoan. Salemba merupakan salah satu jalan yang dibangun oleh Daendels ketika memerintah (1808-1811) hingga dikenal dengan jalan Daendels.

Salemba terletak di perbatasan antara Batavia dan Meester Cornelis. Kenapa demikian? Karena sejak 1 April 1905 di Ibukota Batavia dibentuk dua kotapraja atawa gemeente, yakni gemeente Batavia dan Meester Cornelis (kini Jatinegara). Baru tahun 1935 gemeente Batavia digabungkan dengan Meester Cornelis.

Dalam foto juga tampak jalan trem uap dari Jatinegara-Salemba-Senen, dan Jakarta Kota. Sedangkan dari kejauhan tampak trem uap yang tengah menggelinding dari arah Jatinegara menuju Kota. Juga tampak gerobak kuda tengah mengangkut muatan di tengah jalan yang sunyi senyap.

Salemba mulai banyak dikenal ketika pemerintah Belanda membangun perguruan tinggi yang kini bernama UI. Lusinan para alumni UI yang telah menjadi menteri. Dan dari UI inilah berbagai kegiatan mahasiswa dilancarkan untuk menumbangkan Bung Karno. Bagi calon mahasiswa lulus UI merupakan suatu kebanggaan. Di belakang Fakultas Kedokteran UI terdapat RSUP Tjipto Mangunkusumo yang juga menjadi tempat praktek para mahasiswa kedokteran.

Rumah sakit ini dulu dikenal dengan nama CBZ. Berbelok kekiri dari depan UI, terletak Jl Salemba Tengah. Di ujung jalan ini terdapat penjara Salemba. Pada masa kolonial penjara ini juga dijadikan tempat memenjarakan para pejuang yang oleh Belanda dinilai ingin menumbangkan pemerintah kolonial. Waktu itu banyak di antara mereka yang bergerak di bawah tanah.

Salemba dalam sejarah juga mencatat pada Agustus 1811 bala tentara Inggris setelah terlebih dulu menguasai Kota dan Senen, tanpa mengenal ampun melaju ke kawasan ini Salemba, jalan yang dibangun Daendels. Anak revolusi Prancis ini telah menyiapkan tangsi-tangsi di sekitar Matraman yang kala itu masuk dalam bagian Meester Cornelis.

Ribuan tentara Inggris dengan mati-matian bertempur melawan pasukan Belanda/Prancis (saat itu Batavia dikuasai Prancis). Tentara gabungan Belanda-Prancis yang menyerah, sebanyak 6.000 orang pasukannya ditawan. Setelah pesta kemenangan dan peperangan dilupakan, opsir-opsir Inggris yang muda mengadakan pesta pora dan menemukan teman pesta dansa di kalangan gadis-gadis Belanda dan Indo dengan penuh gairah.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

No comments: