Tuesday, October 12, 2004

Mak Comblang, Si Tukang Ngejodoin

Laporan : Alwi Shahab, Wartawan Republika


Istilah 'jodoh di tangan hansip' masih cukup populer sekarang. Maksudnya, sebagai ejekan terhadap para muda dan mudi yang kawin setelah sebelumnya ditangkap hansip karena sedamg 'bermesraan'. Umumnya terjadi pada tengah malam. Tapi, sekarang hansip yang punya tugas jaga keamanan dan ketertiban kampung tidak perlu lagi mencampuri urusan demikian. Sekarang bukan rahasia lagi hubungan sebelum nikah seolah-olah menjadi hal biasa. Meminjam istilah psikolog terkenal, Sartono Mukadis, muda-mudi kita sudah lebih matang di bidang seks. Terlihat dalam sinetron dan berbagai tayangan di televisi yang melibatkan muda-mudi sejak SLTP. Padahal, kemandirian mereka jauh lebih mundur dibanding muda-mudi angkatan sebelumnya.

Dalam ihwal perjodohan ini, di masyarakat Betawi dikenal adanya 'Mak Comblang'. Istilah kerennya mediator atau perantara dalam hal perjodohan muda-mudi. Maklum, sampai 1950-an cukup banyak gadis yang masih dipingit. Untuk keluar rumah saja mesti ditemani keluarga atau pembantu. Tapi, ada acara khusus seperti pesta perkawinan atau 'keriyaan' si gadis yang sudah disiapkan berdandan dan bersolek seindah mungkin tidak jarang ditaksir si ibu untuk jadi calon mantu. Bahkan, tidak jarang si pemuda yang naksir dan minta dikawinkan oleh gadis idamannya. Nah, di sinilah diperlukan adanya Mak Comblang. Sesuai namanya, dia perempuan berumur (paruh baya) dan sudah memiliki keahlian terampil dalam mencari calon menantu.

Tiap keluarga yang akan dikunjungi Mak Comblang akan menampilkan anak gadisnya setelah lebih dulu didandani seindah mungkin. Si ibu pun sudah menyiapkan hidangan istimewa untuk Mak Comblong dan rombongan. Ketika terjadi pembicaraan antara orang tua dan Mak Comblang, si gadis lebih dulu masuk ke kamar. Setelah terjadi kecocokan, sang jejaka pun sudah berani datang ke rumah si gadis ngelancong. Ngelancong pertama kali biasanya si jejaka ditemani kawannya. Ia belum berani datang sendiri. Dalam ngelancong ini si jejaka belum bertemu secara langsung dengan gadis pujaannya karena tujuannya adalah memperkenalkan diri kepada keluarga si gadis.

Apalagi, 'colak-colek' seperti pacaran sekarang. Setelah itu ngelancong agak sedikit lebih bebas. Tapi, tetap masih dalam pengawasan orang tua si gadis. Setelah segalanya berjalan lancar, terjadilah acara melamar berupa permintaan resmi dari keluarga pria kepada keluarga wanita. Saat itu juga keluarga pria akan mendapat jawaban dari pihak wanita, apakah lamarannya diterima atau ditolak. Kemudian, dilanjutkan dengan tanda putus atau tunangan. Yang berarti calon none mantu telah terikat dan tidak lagi dapat diganggu oleh pihak lain. Begitu pula dengan calon tuan mantu. Setelah itu dilanjutkan dengan akad nikah. Masyarakat Betawi biasanya menyelenggarakan akad nikah hari Jumat.

Alasannya, pada hari Jumat orang Betawi tidak pergi jauh-jauh dari rumahnya karena ada kewajiban Shalat Jumat. Sebelum akad nikah diadakan acara 'bawa tanda putus'. Pada acara ini diserahkan bawaan tanda putus. Setelah acara ini ditentukan hari dan tanggal pernikahan. Mahar atau mas kawin menjadi pembicaraan pokok. Pada tempo doeloe dengan mendengar permintaan dari pihak calon none mantu, seorang utusan dari keluarga tuan calon mantu akan segera memahami berapa jumlah biaya yang diperlukan. Ada pun ketika menyebut maharΓΏ20atau mas kawin, orang Betawi punya tatakrama sendiri. Dia tidak akan menyebut langsung apa dan berapa permintaan yang diinginkan. Biasanya pihak calon none mantu mengutarakannya dengan gaya bahasa atau ungkapan yang tersirat.

Misalnya, ''None kita mintanye mate bandeng seperangkat.'' Berarti pihak si gadis menghendaki mas kawin seperangkap perhiasan emas bermata berlian. Jika pihak gadis mengatakan, ''None kita mintanye mate kembung seperangkat'', berarti mas kawin yang diminta seperangkat perhiasan emas bermata berlian. Ketika pihak pengantin pria menyerahkan tanda putus, beberapa jenis bawaan yang mengiringi mahar, antara lain sirih nanas lamaran yang melambangkan pernyataan rasa hormat dan ungkapan rasa gembira pihak keluarga pria kepada calon besar. Bawaan lain adalah miniatur masjid berisi jumlah uang lamaran. Masjid sendiri diartikan sebagai lambang keteguhan akidah Islamiyah. Tidak boleh ketinggalan sepasang roti buaya yang perempuannya menggendong seekor buaya kecil (anak buaya) di punggungnya.

Ini sebagai lambang telah berakhirnya masa bujangan dengan melaksanakan pernikahan. Buaya menurut pengertian orang Betawi adalah jenis satwa yang ulet, panjang umur, kuat, dan juga termasuk satwa yang sabar dan setia. Tapi, buaya, seperti dikemukakan tokoh Betawi KH Irwan Sjafi'ie, melambangkan sifat orang Betawi yang sabar dan santun, tapi akan bertindak tegas bila diganggu. Biasanya pada malam resepsi yang sampai 1960-an diadakan di rumah-rumah dengan mamasang pelampang diadakan malam hiburan. Ada yang diimeriahkan oleh orkes gambus atau orkes melayu. Maka, sejumlah pemain dangdut kala itu, seperti Johana Satar, Ellya Khadam, Elvie Sukaesih, M Mashabi, dan Munif Bahasuan, terlihat manggung di pesta pernikahan di kampung-kampung. Belum ada wanita yang berani joget di panggung saat itu.

No comments: