1 - Habib Alwi AlHabsyi, sejak di Hadramaut, mengakui keluasan pengetahuan dan kealiman Habib Muhammad Bin Yahya. Habib Muhammad kelahiran tahun 1844, sedangkan Habib Alwi beberapa tahun lebih muda. Tidak diketahui persis tahun kelahiran Habib Alwi.
"Tahun 1917-an, Habib Alwi di Banjar sudah mempunyai 3 anak," ujar Habib Agil bin Salim Bahsin, cucu Habib Alwi.
Jika Habib Muhammad Bin Yahya melalui perjalanan panjang melalui Palembang , Cirebon , Martapura dan akhirnya menetap di Kutai, maka Habib Alwi dari Hadramaut memilih Barabai sebagai tempat tinggal tetap setelah sempat bermukim beberapa tahun di Banjarmasin .
Habib Alwi menikah pertama kali di Banjarmasin dengan Syarifah Raguan binti Syekh AlHabsyi. Dengan istrinya Habib Alwi masih bersaudara dekat karena mereka sama-sama cucu dari Habib Alwi bin Syekh AlHabsyi.
Ketika tinggal di Banjarmasin , Habib Alwi adalah pejabat Kapten Arab pengganti Habib Hasan bin Iderus AlHabsyi (Habib Ujung Murung). Habib Alwi tinggal di kawasan Ujung Murung.
Habib Alwi pindah ke Barabai setelah menikah di sana dengan seorang perempuan asal Nagara-Banua Kupang bernama Hj Masrah. Belakangan Habib Alwi juga menikah dengan perempuan Kandangan bernama Masja.
Sejak melepaskan kedudukan sebagai Kapten Arab, Habib Alwi berdomisili di Barabai. Namun masyarakat tetap memperlakukannya sebagai orang istimewa karena latar belakang dan jasanya.
Jasa terbesar Habib Alwi bagi daerah Hulu Sungai adalah kepeloporan beliau dalam membangun perkebunan karet secara besar-besaran di Barabai. Habib Alwi memiliki kebun karet di Desa Manggasan, Hantakan, Barabai. Bibit karet diperoleh Habib Alwi dari Bogor melalui perantaraan pemerintah Belanda.
Walau tinggal di daerah berbeda dan dipisahkan jarak cukup jauh persahabatan Habib Alwi dan Habib Muhammad tetap terjalin mesra.
"Habib Muhammad yang menyumbang batu dan semen ketika Habib Alwi membangun Pasar Batu," ujar Ami Agil, panggilan sehari-hari Habib Agil bin Salim Bahsin.
Pasar Batu adalah bangunan beton pertama di Hulu Sungai yang merupakan tempat pasar gatah (karet) di paruh pertama abad lalu.
Suatu masa kedua sahabat ini bertemu di Samarinda. Dalam pertemuan antara dua sahabat itu mereka tak lupa berfoto bersama dengan gaya masing-masing. Habib Muhammad mengenakan sarung dan baju koko berwarna putih, sementara Habib Alwi memakai busana baju safari dan celana panjang. Persamaan mereka adalah kopiah yang dikenakan serta masing-masing memakai tongkat.
Habib Muhammad masuk ke lingkungan Kesultanan Kutai berkat kelebihan dan kekuatan spiritualnya. Habib Muhammad Bin Yahya yang juga datuk dari aktor terkenal drg Fadly ini masuk ke istana setelah berhasil menyembuhkan penyakit seorang kerabat kesultanan.
Tak lama setelah kejadian itu, Habib Muhammad dinikahkan dengan Aji Raden Lesminingpuri, cucu Sultan AM Sulaiman yang juga anak Sultan AM Alimuddin.
Sedang, Habib Alwi sendiri juga menjadi tokoh kehormatan masyarakat Hulu Sungai terutama Barabai. Ketika Presiden Soekarno berkunjung wilayah Hulu Sunggai dan mampir ke Barabai tahun 1955, terjadi dialog singkat antara Habib Alwi dengan Sang Presiden.
Waktu berjabat tangan, disaksikan oleh tokoh-tokoh masyarakat lainnya mereka berbincang-bincang.
"Siapa nama Pak Haji?" ujar Bung Karno.
"Saya Sayyid Alwi," jawab Habib Alwi.
"Pak Sayyid orang Arab?"
"Ya, saya orang Arab, lahir di Hadramaut."
"Mengapa orang Arab mau membantu perjuangan orang Indonesia ?"
"Saya muslim, dia juga orang muslim. Jadi wajib membantu. Ikhwanul muslimin (persaudaraan sesama orang Islam)."
"Pergi ke Jakarta nanti," Bung Karno menawarkan undangan kepada Habib Alwi.
"Ya, Batavia ." (seorang wedana di Hulu Sungai kemudian membisiki Habib Alwi bahwa yang benar adalah Jakarta ).
"Yakarta," ujar Habib Alwi lagi mengoreksi ucapannya (Habib Alwi menyebut J dengan lafal Y).
Akhir cerita, Habib Alwi tak pernah ke Jakarta mendatangi undangan presiden pertama RI itu.
Habib Alwi AlHabsyi meninggal dunia tahun 1967 waktu berada di Banjarmasin dan dimakamkan di Turbah Sungai Jingah. Sahabatnya, Habib Muhammad Bin Yahya mendahuluinya 20 tahun sebelum itu dan bermakam di pekuburan Kelambu Kuning, Kutai Tenggarong. ali
Friday, October 19, 2007
Kisah Dua Sahabat Bin Yahya dan AlHabsyi
Habib Muhammad bin Ali bin Hasan Bin Yahya (Pangeran Noto Igomo) mempunyai seorang sahabat dekat di Barabai. Namanya Habib Alwi bin Abdullah AlHabsyi. Keduanya mempunyai kedudukan terhormat di wilayahnya masing-masing. Habib Muhammad tinggal di Tenggarong selaku penasihat Sultan Kutai, sementara Habib Alwi adalah seorang Kapten Arab berkedudukan di Barabai. Mereka sudah saling mengenal sejak sama-sama tinggal di Hadramaut, Yaman.
Tuesday, October 09, 2007
Memburu Lailatul Qadar di Kota Suci
Rasulullah selalu beritikaf pada sepuluh hari terakhir.
Menjelang Idul Fitri 1428 H dan saat-saat Lailatul Qadar-malam yang dinyatakan Alquran sebagai lebih baik dari seribu bulan-dua kota suci Makkah dan Madinah makin dipadati pengunjung. Baik di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, saat-saat pada shalat fardu dan shalat Tarawih, jamaah meluap hingga ke pelataran-pelataran masjid.
Banyak yang memperkirakan jamaah dari mancanegara yang berumrah, terlebih menjelang akhir Ramadhan, jumlahnya hampir menyerupai jamaah haji. Membludaknya para jamaah juga terlihat dari hotel-hotel di Makkah dan Medinah yang sejak awal Ramadhan sudah dibooking oleh jamaah umrah.
Bahkan, sejumlah travel biro dari Indonesia mengatakan, mereka umumnya telah membooking hotel sejak beberapa bulan lalu. Sayangnya, meskipun sudah dipesan jauh hari, bahkan sudah setahun seperti yang dilakukan Biro Perjalanan Wisata NRA (Nur Rima Al-Waali), saat hendak pulang ke Indonesia sebuah hotel berbintang lima secara sepihak membatalkan kesepakatan karena mendapat pesanan yang lebih mahal. Akibatnya, biro perjalan itu terpaksa mencari hotel lain. Padahal, jamaah sudah berada di hotel yang telah dipesan itu.
Meskipun jumlah jamaah makin membludak saat umrah menjelang akhir Ramadhan, tapi saat berbuka puasa tidak ada seorangpun yang tidak mendapat bingkisan untuk berbuka. Baik di Masjid Nabawi di Madinah maupun di Masjidil Haram, Makkah, kita akan ditarik untuk diajak makan oleh para dermawan yang menggelar tikar putih menjelang Magrib.
Rupa-rupa makanan tersedia dan kita tinggal memilihnya. Tapi di dalam masjid hanya disajikan makanan ringan seperti korma, roti, susu, kopi dan air zamzam.
Kalau belum puas, setelah shalat Magrib silakan bergegas keluar masjid. Di sana kita akan memakan roti atau nasi dengan lauk pauk kambing atau ayam dalam ukuran besar untuk jamaah Indonesia. Berbuka di tanah suci memang terasa nikmat.
Ketika berumrah akhir September 2007, saat tawaf, terlihat padat para jamaah. Mereka melakukan tawaf hingga seluruh lapangan yang berbentuk bundar dan di tengahnya berdiri Kabah, sebanyak tujuh kali. Akibat para jamaah sulit bergerak karena saling desak-desakan. Dan ini berlangsung hampir satu jam.
Empat pendapat
Lailatul Qadar menjadi sebuah dambaan setiap Muslim. Sebuah malam pada Ramadhan yang menumpahkan anugerah tak terkira. Maka harapan pun meninggi, setiap Muslim berharap mendapati malam yang senilai dengan seribu bulan kebaikan.
"Sesungguhnya telah Kami turunkan Alquran pada Lailatul Qadar. Tahukah Engkau apa Lailatul Qadar itu? Malam itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu para malaikat dan ruh Jibril turun dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Selamatlah pada malam itu hingga fajar."
Demikian kutipan surat Al Qadar ayat 1 hingga 5 yang mengurai mengenai malam Lailatul Qadar. Maka kemudian bertebaranlah setiap Muslim untuk menggapai malam itu. Dalam buku Panduan Puasa Bersama Quraish Shihab, dinyatakan ada empat pendapat mengenai Al-Qadar.
Pertama adalah al-hukm yang berarti penetapan. Jadi malam Al-Qadar adalah malam penetapan Allah atas perjalanan hidup makhluk selama setahun. Kedua, adalah al-Qadar yang berarti pengaturan. Yaitu pada malam turunnya Alquran, Allah mengatur strategi untuk Muhammad.
Yaitu sebuah strategi untuk memandu Muhammad mengajak umat manusia menuju jalan Allah. Ketiga, Al-Qadar memiliki arti kemuliaan sedangkan makna keempat adalah sempit. Sebab pada malamnya Alquran itu banyak malaikat yang turun ke bumi hingga menjadi sempit.
Quraish mengatakan, dengan merangkum empat pendapat atau makna tersebut bahwa malam Lailatul Qadar itu merupakan malam yang mulia nan hebat.
(alwi shahab/fer)
Menjelang Idul Fitri 1428 H dan saat-saat Lailatul Qadar-malam yang dinyatakan Alquran sebagai lebih baik dari seribu bulan-dua kota suci Makkah dan Madinah makin dipadati pengunjung. Baik di Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, saat-saat pada shalat fardu dan shalat Tarawih, jamaah meluap hingga ke pelataran-pelataran masjid.
Banyak yang memperkirakan jamaah dari mancanegara yang berumrah, terlebih menjelang akhir Ramadhan, jumlahnya hampir menyerupai jamaah haji. Membludaknya para jamaah juga terlihat dari hotel-hotel di Makkah dan Medinah yang sejak awal Ramadhan sudah dibooking oleh jamaah umrah.
Bahkan, sejumlah travel biro dari Indonesia mengatakan, mereka umumnya telah membooking hotel sejak beberapa bulan lalu. Sayangnya, meskipun sudah dipesan jauh hari, bahkan sudah setahun seperti yang dilakukan Biro Perjalanan Wisata NRA (Nur Rima Al-Waali), saat hendak pulang ke Indonesia sebuah hotel berbintang lima secara sepihak membatalkan kesepakatan karena mendapat pesanan yang lebih mahal. Akibatnya, biro perjalan itu terpaksa mencari hotel lain. Padahal, jamaah sudah berada di hotel yang telah dipesan itu.
Meskipun jumlah jamaah makin membludak saat umrah menjelang akhir Ramadhan, tapi saat berbuka puasa tidak ada seorangpun yang tidak mendapat bingkisan untuk berbuka. Baik di Masjid Nabawi di Madinah maupun di Masjidil Haram, Makkah, kita akan ditarik untuk diajak makan oleh para dermawan yang menggelar tikar putih menjelang Magrib.
Rupa-rupa makanan tersedia dan kita tinggal memilihnya. Tapi di dalam masjid hanya disajikan makanan ringan seperti korma, roti, susu, kopi dan air zamzam.
Kalau belum puas, setelah shalat Magrib silakan bergegas keluar masjid. Di sana kita akan memakan roti atau nasi dengan lauk pauk kambing atau ayam dalam ukuran besar untuk jamaah Indonesia. Berbuka di tanah suci memang terasa nikmat.
Ketika berumrah akhir September 2007, saat tawaf, terlihat padat para jamaah. Mereka melakukan tawaf hingga seluruh lapangan yang berbentuk bundar dan di tengahnya berdiri Kabah, sebanyak tujuh kali. Akibat para jamaah sulit bergerak karena saling desak-desakan. Dan ini berlangsung hampir satu jam.
Empat pendapat
Lailatul Qadar menjadi sebuah dambaan setiap Muslim. Sebuah malam pada Ramadhan yang menumpahkan anugerah tak terkira. Maka harapan pun meninggi, setiap Muslim berharap mendapati malam yang senilai dengan seribu bulan kebaikan.
"Sesungguhnya telah Kami turunkan Alquran pada Lailatul Qadar. Tahukah Engkau apa Lailatul Qadar itu? Malam itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu para malaikat dan ruh Jibril turun dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Selamatlah pada malam itu hingga fajar."
Demikian kutipan surat Al Qadar ayat 1 hingga 5 yang mengurai mengenai malam Lailatul Qadar. Maka kemudian bertebaranlah setiap Muslim untuk menggapai malam itu. Dalam buku Panduan Puasa Bersama Quraish Shihab, dinyatakan ada empat pendapat mengenai Al-Qadar.
Pertama adalah al-hukm yang berarti penetapan. Jadi malam Al-Qadar adalah malam penetapan Allah atas perjalanan hidup makhluk selama setahun. Kedua, adalah al-Qadar yang berarti pengaturan. Yaitu pada malam turunnya Alquran, Allah mengatur strategi untuk Muhammad.
Yaitu sebuah strategi untuk memandu Muhammad mengajak umat manusia menuju jalan Allah. Ketiga, Al-Qadar memiliki arti kemuliaan sedangkan makna keempat adalah sempit. Sebab pada malamnya Alquran itu banyak malaikat yang turun ke bumi hingga menjadi sempit.
Quraish mengatakan, dengan merangkum empat pendapat atau makna tersebut bahwa malam Lailatul Qadar itu merupakan malam yang mulia nan hebat.
(alwi shahab/fer)
Subscribe to:
Posts (Atom)
