Friday, July 11, 2008

Lima Presiden Dikibulin

Sejumlah ilmuwan menilai Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) 'tertipu' dalam kasus blue energy (energi biru). Seorang pria asal Nganjuk, Joko Suprapto, mengaku bisa memproduksi minyak mentah dari air. Dari biang minyak itu bisa dihasilkan bahan bakar sekelas minyak tanah hingga avtur.

Presiden SBY yakin itu merupakan sumbangan Indonesia bagi dunia, di tengah makin meroketnya harga minyak. Sementara, negara dibikin pusing tujuh keliling oleh dampak dari kenaikan itu. Karuan saja, sejumlah pihak, termasuk para ilmuwan, menyesalkan informasi yang belum valid bisa diterima oleh SBY. Kabarnya Joko kini dilaporkan ke polisi.

Penipu 'masuk Istana' ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Baiklah kita mulai pada tahun 1950-an, pada masa pemerintah Presiden Soekarno. Ada seseorang yang mengaku Raja Kubu -- suku anak dalam di Jambi. Tidak tanggung-tanggung, dia memberi gelar dirinya Raja Idrus dan istrinya Ratu Markonah.

Pasangan 'suami istri' itu, entah bagaimana prosesnya, mendapat pemberitaan pers, termasuk foto-foto keduanya. Maka, sejumlah pejabat negara memberikan penghormatan luar biasa pada 'raja' dan 'ratu' tersebut.

Rupanya ada seorang pejabat yang menghubungi Presiden Soekarno dan kemudian memperkenalkannya. Di Istana, 'suami-istri' yang sebenarnya adalah penarik becak dan pelacur itu sempat diterima sebagai tamu kehormatan di Istana Merdeka. Mereka juga diberi uang, menginap dan makan gratis di hotel-hotel mewah. Termasuk mengunjungi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.

Kedok penipuan mereka terbongkar saat berjalan-jalan di Jakarta. Ada seorang tukang becak yang mengenali 'Raja' Idrus, teman seprofesinya di Tegal. Sedang sang 'maharani' juga terbongkar berprofesi sebagai pelacur kelas bawah di kota yang sama. Konon, keduanya bertemu di sebuah warung kopi di Tegal. Kemudian sepakat untuk menjalankan aksi penipuan itu. Keistimewaan Markomah selalu memakai kaca mata hitam baik siang maupun malam. Rupanya sebelah matanya picek.

Pada masa Soeharto, di era 1970-an, juga terjadi penipu kelas kakap. Penipunya bernama Cut Zahara Fona, asal Aceh. Meski tidak tamat SD, dia memiliki ide jenius. Dia, yang selalu mengenakan kain batik, mengklaim bahwa janin yang ada diperutnya bisa berbicara dan mengaji.

Karuan saja, kabar itu menggegerkan masyarakat, apalagi diberitakan secara luas di surat kabar dan majalah. Konon, tiras sebuah harian ibukota terdongkrat naik, karena tiap hari membuat berita tentang 'bayi ajaib' di perut Cut Zahara.

Masyarakat yang banyak berdatangan pun rela untuk nguping di perutnya yang dilapisi kain untuk mendengar 'bayi ajaib' itu berbicara atau mengaji. Bukan hanya rakayat biasa, ada juga pejabat yang meyakininya. Termasuk Wakil Presiden Adam Malik yang mengundang Cut Zahara ke Istana Wapres. Bahkan, Menteri Agama KH Mohamad Dachlan termasuk orang yang meyakininya. Untuk meyakininya, ia menyatakan bahwa Imam Syafi'ie selama tiga tahun berada di kandungan ibunya.

Cut Zahara Fona dan suaminya pernah diperkenalkan oleh Sekdalopbang (Sekretaris Pengendalian Pembangunan) Bardosono kepada Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Perkenalan ini dilakukan di Bandara Kemayoran setelah keduanya tiba dari lawatan luar negeri. Tapi, rupanya Ibu Tien termasuk orang yang kurang yakin terhadap 'bayi ajaib'-nya Cut Zahara Fona. Apalagi wanita Aceh itu menolak ketika hendak diperiksa di RSCM.

Konon, Ibu Tienlah yang menggeledah dan mendapatkan bahwa bicara dan mengaji itu hanya berasal dari tape recorder kecil yang disisipkan di perut Cut Zahara. Kala itu memang belum banyak perekam suara sekecil milik Cut.

Meskipun kedoknya terbongkar, 'bayi ajaib' tersebut bukan hanya mendapat perhatian masyarakat Indonesia, tapi juga dunia internasional. Hingga ada permintaan dari Pakistan agar Cut dan suaminya berkunjung ke sana. Bahkan, ada yang meramal 'bayi ajaib' itu, bila lahir akan menjadi Imam Mahdi.

Setelah tidak terdengar kasus Istana pada masa Presiden BJ Habibie, yang memang pendek masa jabatannya, pada masa Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) kembali terjadi penipuan yang mengaitkan Istana Negara. Pelakunya adalah Soewondo, yang biasa keluar masuk Istana karena jadi tukang pijat Gus Dur.

Orang yang dianggap 'dekat' dengan orang nomor satu di Indonesia itu berhasil menipu Yayasan Dana Kesejateraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (BULOG) dan dituduh membobol uang yayasan hingga Rp 35 miliar. Soewondo sempat kabur, namun kemudian ditangkap polisi di kawasan Puncak, Jawa Barat. Pengadilan memvonisnya 3,5 tahun penjara.

Kasus tersebut sempat menyita perhatian khalayak dan menjadi senjata pamungkas bagi lawan-lawan politik Gus Dur, yang membantah telah memerintahkan pencarian dana itu. Namun, akhirnya Gus Dur lengser juga dari jabatannya gara-gara kasus yang dikenal dengan istilah Buloggate tersebut.

Pada masa Presiden Megawati, skandal 'penipuan' kembali terjadi. Kali ini yang diperdaya adalah Menteri Agama Kiai Said Agil Almunawar. Menteri yang bergelar profesor dan hafidz Alquran ini memimpin penggalian situs di Batutulis Bogor yang diyakini memendam harta karun yang nilainya dapat untuk membayar seluruh utang negara.

Menurut Said Agil, Presiden Megawati mengetahui rencana penggalian situs bersejarah yang konon peninggalan Kerajaan Pajajaran itu. Sayangnya, harta karun yang dicari hanya pepesan kosong. Said Agil sendiri kini masih ditahan dalam kasus tuduhan korupsi uang haji.

Moga-moga penghuni Istana yang menjadi lambang kebanggaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia, itu tidak lagi menjadi korban penipuan.

(Alwi Shahab )

Pasar Pisang atawa Kali Besar Timur 3

Entah apa sebabnya, gedung ruko berlantai dua yang diabadikan 1865 terletak di Pasar Pisang dan kini menjadi Jalan Kali Besar Timur 3. Seperti juga sekarang, ruko yang terdiri belasan unit ini menjadi perkantoran dari berbagai perusahaan Belanda dan Eropa yang di dalamnya menjual sandang pangan, minuman beralkohol, porselen, cerutu, perusahaan jasa angkutan, hingga bahan bangunan.

Ketika foto ini diabadikan oleh fotografer Woodbury & Page, Jalan Raya Kali Besar Timur sedang diaspal meskipun kala itu mobil masih belum nongol. Salah satu perusahaan yang terletak di antara deretan ruko (rumah toko) adalah Van Vleuten & Co yang didirikan di Batavia 1865 oleh Diendericus Bernandus van Vleuten (lahir 1835) dan Willem Hendrix Co. (1834-1884). Van Vleuten & Cox juga menjadi jurulelang dan agen perkapalan. Van Vleuten tercatat sebagai penduduk Batavia pada 1854, sementara Cox rekan bisnisnya tercatat tahun 1857.

Pasar Pisang yang kini menjadi Jl Kali Besar Timur 3, menjadi salah satu pusat kegiatan berbagai bisnis terutama setelah 1870 ketika terjadi liberalisasi di negeri Belanda yang berdampak ke Batavia. Van Vleuten & Cox juga aktif membangun real estate untuk warga Barat yang banyak berdatangan setelah berlangsung liberalisasi ekonomi. Kala itu yang menjadi angkutan utama adalah sado dan delman, termasuk sado yang penumpangnya berada di ruang tertutup dan sang kusir duduk di bagian depan.

Gedung yang telah berusia dua abad ini masih kita jumpai di bagian kota lama Jalan Kali Besar Timur 3. Tapi keadaannya sangat menyedihkan dan kini dijadwalkan akan direhab kembali. Apalagi di bagian ujung kanan gedung tersebut dahulunya terletak Toko Buku dan Percetakan G Kolff & Co. Sampai tahun 1957 percetakan Kolff meskipun kantor pusatnya pindah di Jl Pecenongan, Jakarta Pusat, merupakan supplier utama buku-buku untuk keperluan sekolah di Hindia Belanda yang diberikan secara cuma-cuma. Kolff & Co juga merupakan produser foto-foto post-card topografi Batavia pada abad ke-20 selama dua dekade.

Dinas Permuseuman dan Kebudayaan DKI telah membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemetaan dan Pengembangan Kota, yang diketuai oleh Candrian Attahiyat untuk mengembalikan kembali pamor Kali Besar seperti pada masa abad ke-18 dan 19. Di kawasan Kali Besar terdapat 50 gedung tua yang akan dikembalikan kembali keindahannya seperti masa lalu sebagai salah satu tujuan wisatawan asing di Jakarta. Candrian mengeluhkan banyak gedung tua itu kini keadaannya memprihatinkan karena tak terawat. Ada gedung bersejarah yang di bagian dalamnya dipakai oleh pengumpul barang bekas sebagai tempat tinggal.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )