Wednesday, March 12, 2008

Ellya Khadam

Situasi politik Jakarta sejak akhir 1950-an sampai awal 1960-an dalam keadaan bergolak. Bung Karno, yang baru saja mengeluarkan Dekrit Presiden kembali ke UUD 1945 setelah mendepak demokrasi liberal, mengajak rakyat menjadi kekuatan progresif revolusioner.

Bung Karno juga mengutuk keras kebudayaan asing, seperti dansa-dansi, musik twist, dan lagu-lagu The Beatles, sampai memenjarakan kelompok musik Koes Plus. Bahkan, dalam berpakaian pun tidak dibenarkan wanita mengenakan busana you can see dan rambut sasak. Celana panjang blue jeans dan celana ketat juga diharamkan. Termasuk, rambut gondrong yang menjadi incaran aparat untuk memangkasnya secara paksa.

Dalam situasi demikian, Orkes Melayu (OM) saat itu dangdut belum muncul menjadi tontonan yang paling digemari masyarakat. OM main di berbagai pesta hajatan, seperti resepsi perkawinan dan khitanan. Pada pertengahan 1950-an muncul penyanyi Melayu, Ellya Agus, yang kemudian setelah menikah dengan seorang keturunan India berganti nama menjadi Ellya Khadam.

Anak Kampung Kawi, Pedurenan, Jakarta Selatan, itu memulai karir menyanyi dari balik jendela. Itu terjadi di Kwitang, Jakarta Pusat, di kediaman seorang keturunan Arab. Ia menyanyi bukan di depan panggung, tapi mikrofon diantarkan kepadanya yang tengah duduk di balik jendela. Pendek kata, dalam waktu dekat, nama putri Betawi kelahiran 23 Oktober 1938 ini meroket. Dia mengalahkan penyanyi utama Melayu saat itu, Johana Satar dan Hasnah Tahar.

Ellya, yang sangat menggemari lagu-lagu India, rupanya belajar bahasa dari Negeri Gangga itu. Apalagi kala itu, suaminya, Khadam, keturunan India. Ellya sejak 1955 sampai masa kejayaannya dalam tahun 1980-an telah merekam tidak kurang dari 400 lagu. Kecintaannya terhadap lagu-lagu berirama India terlihat dari lagu yang diciptakannya. Ia banyak meniru lagu dari film-film India yang kala itu banyak penggemarnya.

Bahkan, dia mendapat kehormatan untuk menyambut kedatangan aktor dan sutradara India terkenal, Raj Kapoor, di Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat. Lagunya, Boneka dari India, yang sampai kini tetap digemari orang, yang diciptakannya sendiri, menjadi fenomena menarik dalam sejarah musik di Indonesia. Ketika lagu ini diciptakan, orkes Melayu telah berubah menjadi dangdut.

Setelah lagu tersebut meledak, Ellya kemudian menciptakan lagu Kau Pergi Tanpa Pesan konon sebagai ungkapan rasa rindu terhadap kekasihnya, seorang keturunan Arab, yang pergi meninggalkannya. Ellya semakin dikenal ketika bersama Orkes Malayu Chandraleka pimpinan Husein Bawafie turut mendampingi penyanyi M Mashabi dan Munif Bahaswan. Banyak lagu-lagu mereka yang masuk rekaman. Ellya juga ikut bermain di sejumlah film.

Pada 1960-an, orkes bermain hingga jauh malam, didukung situasi keamanan yang tidak separah sekarang ini. Kala itu, peristiwa kriminil yang paling menggemparkan adalah ketika terjadi perampokan tempat pameran emas di Museum Nasional.

Oleh masyarakat Jakarta museum itu disebut Gedung Jodoh. Tiap Ahad pagi sampai sore di sana digelar kesenian Sunda dengan penyanyi Upit Sarimanah. Musium Nasional kala itu merupakan salah satu tempat hiburan yang paling banyak dikunjungi orang. Perampokan itu dipimpin oleh Kusni Kasdut, bersama empat orang kawannya. Mereka menyatroni museum dengan menggunakan pakaian polisi dan menaiki mobil jeep.

Di antara tangan kanan Kusni Kasdut adalah Bir Ali, anak Cikini Kecil -- sekarang ini letaknya di belakang Hotel Sofyan. Bir Ali, yang juga menjadi pembunuh Ali Bajened bersama Kusni Kasdut di Jalan KH Wahid Hasyim, bernama lengkap Muhammad Ali. Dia mendapat gelar Bir Ali karena kesukaannya menenggak bir.

Seperti dituturkan oleh H Irwan Syafi'ie, sekalipun Bir Ali telah dipenjara tapi setiap malam dia bisa keluar dan tidur di Pedurenan, di rumah salah seorang artis penyanyi dangdut yang kesohor kala itu. Tentu saja yang dimaksud adalah kediaman Ellya Khadam.

Suatu ketika, pihak kepolisian Seksi III Pasar Baru mendapat info bahwa seorang bernama G yang dicari-dicari aparat keamanan tengah menginap di rumah seorang artis dangdut yang menjadi kawan dekatnya. Ketika seorang polisi, pada dini hari, menggerebek rumah si penyanyi, yang tidur di lantai bawah adalah Bir Ali. Sedangkan G, yang diincar polisi, menginap di lantai dua.

Begitu polisi mengetok pintu lantai pertama, Bir Ali langsung menembak polisi tersebut. Tapi, aparat keamanan, sambil terjatuh, juga masih keburu menembak Bir Ali. Tertembak lehernya, Bir Ali masih bisa melarikan diri sekitar 100 meter untuk kemudian jatuh dan menghembuskan napas terakhirnya.

Sang polisi mengalami nasib yang sama. Sementara, G yang menjadi sasaran penangkapan berhasil melarikan diri. Tentu saja sang artis dangdut menangis histeris menyaksikan dua mayat tergeletak di kediamannya. Peristiwa ini kala itu benar-benar menggemparkan kota Jakarta.

Peristiwa kejahatan lain yang menghebohkan pada tahun 1960-an, menurut H Irwan Syafi'ie, adalah ketika iring-iringan mobil pick-up yang membawa rokok Escort keluaran British American Tobacco (BAT) dirampok di Gang Thomas (kini Jl Tanah Abang V), Jakarta Pusat. Tapi, para pelakunya berhasil digulung pihak kepolisian.

Saat ini Ellya Khadam, dalam usianya yang mendekati kepala tujuh, masih bersemangat kalau diajak berbincang soal musik dangdut. Bahkan, dia kini berencana untuk memproduksi sendiri albumnya, yang selama belasan tahun pernah menjadi hit di tanah air. ''Termasuk mempersiapkan lagu baru,'' tutur nenek 14 cucu itu.

(Alwi Shahab)

Sogok

Dalam sejarah Islam tercatat, Umar bin Abdul Azis dikenal sebagai seorang khalifah yang sangat jujur, tidak pernah mau menerima hadiah dari siapa pun. Sesaat setelah ia dinobatkan datanglah seorang konglomerat yang hendak memberikan hadiah kepadanya. Tapi, khalifah menolak keras pemberian itu. Umar bin Abdul Azis mengartikannya sebagai usaha penyuapan dan penyogokan.

Kolusi dan persekongkolan antara pejabat dan pengusaha yang dapat berdampak pada penyuapan, penyogokan, korupsi, dan pemberian katebelece, sangat ditentang keras oleh Islam. Apalagi kalau dilakukan oleh seorang pejabat, ketika dilantik atas nama Allah dia bersumpah untuk tidak menerima hadiah atau sesuatu pemberian yang diketahui atau diperkirakan akan merugikan negara dan jabatannya. Suatu sumpah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Ini dijelaskan baik dalam Alquran maupun sunah. Nabi Muhammad SAW bersabda, ''Orang yang memberikan sogok, yang menerimanya, dan yang menjadi perantaranya, semuanya masuk neraka.''

Khalifah Ali bin Abi Thalib ketika mendapat laporan bahwa gubernurnya di Mesir dijamu makan oleh para pengusaha setempat, dia menjadi khawatir dan memperingatkan, ''Tegakkanlah keadilan dalam pemerintahan dan pada diri Anda sendiri, dan carilah kepuasan rakyat, karena kepuasan rakyat memandulkan kepuasan segelintir orang yang berkedudukan istimewa. Ingatlah! Segelintir orang yang berkedudukan istimewa itu tak akan mendekati Anda ketika Anda dalam kesulitan.''

Untuk menangkal sikap tak terpuji, Imam Ghazali menyatakan, malu dan takut kepada Allah merupakan langkah pencegahan paling efektif untuk menangkis segala penyelewengan, termasuk korupsi dan penyogokan. Rasulullah SAW menyebutkan tanda-tanda orang munafik. Salah satu di antaranya adalah 'apabila dia dipercaya, dia berkhianat'. Sabdanya lagi, ''Sesungguhnya tak ada agama bagi orang yang tidak mempunyai amanat.'' Sedangkan menurut ulama kontemporer Sayid Sabiq, ''Kejujuran adalah tiang keutamaan, tanda kemajuan, bukti kesempurnaan dan penampilan dari perilaku yang bersih.''

Dari berbagai ayat Alquran dan hadis Nabi SAW menjadi jelas dan tidak disangsikan lagi bahwa Islam mengutuk segala bentuk kolusi, penyuapan, dan sogok-menyogok, mengingat bahayanya bagi masyarakat. Aparat yang 'terbeli' tidak dapat lagi bersikap objektif, sementara rakyat kecil di bidang hukum mendapat perlakuan yang tidak adil. Apabila hal ini dibiarkan akan membahayakan sendi-sendi negara, dan hilanglah kepercayaan rakyat terhadap aparat penegak hukum.