Tuesday, March 21, 2006

Bung Karno Mengganyang You Can See

Ganyang (mengganyang), menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti memakan mentah-mentah, memakan begitu saja, menghancurkan, mengikis habis dan mengalahkan lawan (dalam pertandingan).

Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno kata tersebut banyak dipakai. Ketika konfrontasi dengan Malaysia misalnya, tidak terhitung banyaknya demo meneriakkan 'ganyang Malaysia'. Demikian juga saat-saat meruncingnya hubungan Indonesia dengan negara-negara Barat, muncul 'Ganyang nekolim' (neo-kolonialisme, kolonialisme dan imperialisme).

Dalam pidato kenegaraan 17 Agustus 1964, Bung Karno memberikan judul pidatonya Tahun Vivere Pericoloso (Tavip). Ia menginstruksikan seluruh rakyat untuk melaksanakan Tri Sakti Tavip. Yakni, berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan. Dalam masalah yang terakhir ini, Bung Karno menentang keras apa yang disebutnya 'musik ngak ngik ngok', literatur picisan, dan dansa-dansi gila-gilaan. Menurut Bung Karno kaum imperialis ingin merusak moral bangsa Indonesia melalui penetrasi kebudayaan.

Dalam soal kepribadian, Bung Karno juga menginginkan agar dalam berpakaian pun mencerminkan kepribadian Indonesia. Tidak heran kalau pakaian you can see, yang memperlihatkan ketiak, juga menjadi sasaran tembak. ''Ganyang you can see,'' teriakan yang sering terdengar bila melihat orang berpakaian demikian.

'Pengganyangan' itu tidak hanya terjadi di Jakarta. Saya pernah mengikuti Menteri Negara Oei Tjoe Tat, pada pertengahan 1960-an, ke Kalimantan Barat. Dari sebuah losmen, sejumlah anak muda meneriakkan ''ganyang you can see'' kepada seorang wanita yang berpakaian demikian. Terlihat bagaimana merah padamnya muka wanita tersebut menahan malu. Ia cepat-cepat menghindar dari kerumunan massa yang berteriak-teriak itu.

Dalam kaitan dengan you can see itu, perusahaan kosmetik Rexona punya iklan yang disebut Ketty Dance, yakni tarian sejumlah perempuan dengan memperlihatkan ketiaknya. Bukan rahasia lagi, para pembawa acara di televisi bukan hanya berwajah cantik, tapi kebanyakan juga mesti berpenampilan berani. Demikian pula para penari latar dan penyanyi, merasa kurang afdhol kalau tidak menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Menurut Munif Bahasuan (71 tahun), yang lebih 50 tahun berkecimpung di dunia dangdut, ketika dangdut masih bernama Orkes Melayu mereka tampil sangat sopan. Penyanyi wanitanya berpakaian kebaya, sedangkan prianya memakai teluk belanga. Ada foto yang sering disiarkan ketika Bung Karno bertari lenso dengan putrinya, Megawati Sukarnoputri. Megawati menggunakan baju kebaya dan kain batik, busana wanita yang dominan saat itu.

Masih menurut Munif, dahulu yang disebut goyang pinggul tidak ada. Kalau sekarang tidak terhitung banyak jenisnya. Ada goyang ngebor, goyang ngecor, goyang patah-patah, goyang kayang dan entah apa lagi namanya. Tidak heran kalau RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) disahkan mereka tidak setuju. Bagi televisi pertunjukan semacam itu bukan saja dimaksudkan untuk mengejar rating, tidak peduli dengan mengeksplorasi sensualitas. Padahal ketika Bung Karno melarang you can see tidak ada masalah di masyarakat.

Dalam kaitan dengan RUU APP, saya ingin sedikit mengutip pengamatan Moammar Emka, penulis buku Jakarta Undercover dan pemerhati kehidupan malam, ketika beberapa waktu bersama saya jadi pembicara dalam 'Program Persiapan Calon Pemimpin DPW PKS DKI Jakarta.

Jakarta sebagai kota metropolitan (dan kota-kota besar lainnya), tak lepas dari kehidupan malamnya. Ratusan tempat hiburan malam berlomba-lomba membuka pintu lebar-lelbar dengan aneka menu spesial menggoda, dari kafe, bar, pub, diskotek, karaoke sampai klub. Nafas kehidupan malam itu, pada akhirnya juga menghembuskan bau lain yang tak sedap karena dalam prakteknya tak semua tempat hiburan beroperasi sebagaimana mestinya.

Diskotek kini tak hanya sebagai ajang berdisko semata, tapi juga sebagai ajang untuk meneguk kenikmatan 'surga ekstasi dan seks'. Karaoke tak lagi sebagai tempat rileksasi ditemani ladies-escort, tapi juga sebagai prive room untuk mendapat layanan spesial dari penari striptis, seks shashimi sampai kencam one short time.

Kalau dilihat dari kaca mata industri, kata Moammar Emka, Jakarta tak ubahnya seperti sebuah medan yang tiap hari, bahkan tiap jam, selalu berdenyut oleh banyaknya transaksi seksual. Saking banyaknya industri seks yang ada di Jakarta, saya sampai berani membuat satu kesimpulan bahwa Jakarta sudah menjadi medan sex show supermarket. Bagaimana tidak? Jumlah tempat pijat, sauna, karaoke dan hotel yang menyediakan pelayanan sensual, jumlahnya tak kalah banyak dengan supermarket.

Kita tidak ingin dekadensi moral yang sudah merusak kepribadian bangsa terus meningkat tanpa kendali. Karena itu, memang diperlukan perangkat UU yang mengatur pornografi dan pornoaksi.

(Alwi Shahab )

Kenangan Masa Kecil di Batutulis

Berbelok kearah kiri setelah melewati Jl Juanda, Jakarta Pusat, kita memasuki Jalan Pecenongan. Gedung paling ujung yang terletak antara Jl Juanda dan Pecenongan terdapat kantor PT Astra. Gedung yang cukup besar dan terletak di hook ini dulunya toko buku dan percetakan Van Dorp, milik Belanda.

Boleh dikata, Van Dorp toko buku terbesar dan terlengkap di Jakarta kala itu. Gunung Agung dan Gramedia belum muncul. Seperti juga berbagai perusahaan milik Belanda, toko buku itu 'diambil alih' pertengahan 1950-an akibat sengketa Irian Barat (Papua). Di kiri Jalan Pecenongan, dulu terdapat Gang Bongkok. Gang buntu yang dihuni warga Betawi. Mereka banyak yang berprofesi sebagai tukang penatu. Baju dan pakaian mereka cuci di Kali Ciliwung yang jaraknya tidak lebih dari seratus meter. Masih di Jalan Pecenongan, di sebelah kiri jalan menuju arah Sawah Besar terdapat Gang Abu.

Saya punya cukup banyak pengalaman ketika masa kanak-kanak tinggal di kampung ini. Seperti juga Gang Abu, banyak jalan yang sudah menghilang. Ada yang karena diganti namanya, banyak juga yang tergusur menjadi pertokoan dan pencakar langit. Semua lorong atau jalan di sini menjadi Jalan Batutulis I sampai XX.

Di Gang Abu dulu banyak berdiam keturunan Arab berdampingan dengan warga Betawi. Seperti almarhum M Asad Shahab, pendiri kantor berita Arabian Press Board (APB), pada tahun 1940 sampai 1950 tinggal di Gang Panjang (kini Jalan Batutulis I). Ketika revolusi fisik, APB berjasa besar menyiarkan proklamasi kemerdekaan ke negara-negara Arab, sehingga Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Di Gang Panjang terdapat sasana tinju, yang pada 1950-an dan 60-an menghasilkan banyak petinju terkenal seperti Bobby Nyoo dan Jacky Nyoo.

Di Gang Lebar (kini Jalan Batutulis XIII), kala itu terdapat rumah kediaman KHM Syafi'i Alkhadzami, yang kini mengajar dan membuka majelis taklim di belasan tempat. Ia pernah menjadi ketua MUI DKI Jakarta (1985-1990). Dalam usia 9 tahun dia telah khatam Alquran seperti juga banyak dilakukan anak Betawi kala itu. Kiai ini pernah mengajar di Masjid Gang Abu, berseberangan dengan rumah Habib Husein Alaydrus, cicit pendiri masjid Luar Batang, Pasar Ikan.

Di Jalan Pecenongan dulu terdapat toko buku dan penerbit G Kolff & Co. Kolff merupakan toko buku dan percetakan pertama di Jakarta, berdiri pada 1848. Pendirinya seorang Belanda bernama Johannes Cornelis Kolff. Mula-mula berkantor di Buiten Nieuwpoort (kini Pintu Besar Selatan). Kolff juga aktif di bidang pers. Dialah yang menyeponsori surat kabar terkemuka di Indonesia: Java Bode. Kantor Kolff di Pecenongan, sekarang menjadi Hotel Red Topp. Di sini juga terdapat Hotel Imperium, disamping perkantoran, restoran, dan showroom beberapa perusahaan mobil besar. Boleh dikata kini sudah tidak ada lagi rumah tinggal di Pecenongan.

Hal yang sama juga kami dapati di Jalan Batutulis, yang terletak di sebelah kirinya. Di sinilah Wakil Gubernur DKI Fauzi Bowo pernah tinggal semasa anak-anak. Dia tinggal bersama kakeknya, H Abdul Manaf, yang pada masa itu menjadi salah seorang tokoh NU. Kesetiannya pada NU ditularkan pada puteranya, H Syah Manaf. Seperti juga kakek dan pamannya, Ir Fauzi Bowo mengikuti jejak mereka menjadi ketua NU Jakarta Raya. Bersebelahan dengan kediaman kakeknya, terdapat rumah SMR Shahab. Dia adalah importir film-film Mesir dan pengelola bioskop Alhambra, di Sawah Besar. Bioskop ini khusus memutar film-film Mesir, sebelum tersaingi film India. Di depan bioskop terdapat Pasar Ciplak, tempat para seniman sering berkumpul.

Di Jalan Batutulis terdapat kluster tempat mendidik calon biarawati Katolik. Tempat ini terbentang dari Jalan Juanda hingga Jalan Batutulis, yang panjangnya lebih dari 500 meter. Pada masa VOC (1602-1799) agama Katolik dilarang berkembang di seluruh daerah kompeni. Baru pada 1806, ketika Louis Bonaparte menjadi Raja Belanda, agama Katolik boleh berkembang. Louis adalah adik Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte, yang berhasil menaklukkan Belanda. Pihak Prancis menyatakan memberikan perlindungan yang sama terhadap semua agama. Pada 8 Mai dicapailah kesepakatan antara Raja Louis Bonaparte dan Vatikan, hingga agama Katolik dibolehkan berkembang di Nusantara.

Penduduk Tugu, Jakarta Utara, yang beragama Protestan, dulunya Katolik. Mereka diberikan tempat tersebut setelah mengganti agamanya jadi Protestan. Di Depok, bekas keturunan budak telah dibebaskan oleh Chastelein, setelah mereka masuk Protestan. Berbelok ke kiri dari Jalan Batutulis, terdapat Jalan Juanda III. Dulu bernama Gang Thieubalt (Gang Tibo, kata orang Betawi). Jalan yang kini hanya dihuni perkantorn, rumah makan, dan berbagai tempat bisnis lainnya, mengabadikan seorang Belanda, Alfred Thiebault. Memulai karir sebagai guru, ia kemudian menjadi pengelola klub hiburan militer Concordia di Lapangan Banteng (kini menyatu dengan Depkeu). Kemudian jadi pengelola Klub Hiburan elit Belanda, Harmonie. Kini bagian dari gedung Setneg.

Di Gang Thiebault terdapat toko roti Bogerien, yang kesohor di Jakarta sampai 1950-an. Di sini juga terdapat rumah makan Italia Chez Morio yang banyak didatangi anak-anak muda. Di dekatnya terdapat Masjid Kebon Kelapa. Di masjid ini, sejak 1940-an dikembangkan ajaran tarekat oleh KH Abdul Fatah. Di dekatnya terdapat Brendesch Laan (kini Jalan Batuceper). Kemudian Gang Bedeng. Bedeng berasal dari nama pengusaha es warga Belanda: Buddungh. Di Gang Bedeng tinggal seorang ahli fikih kenamaan, almarhum Habib Abdullah Shami Alatas. Banyak ulama Betawi yang berguru kepadanya. Di kawasan ini sekarang hampir tidak terdapat lagi perumahan. Rupanya Jakarta berkembang terlalu cepat, sehingga di kanan-kiri jalan-jalan raya sudah hampir tidak tersisa lagi rumah-rumah tinggal.

(Alwi Shahab )