Friday, July 11, 2008

Pemberontakan Tangerang 1924

Sejak masa VOC, tanah-tanah partikelir yang di Belanda disebut landerijen telah bermunculan di Batavia dan ommelanden (daerah pinggiran kota).

Namun, pada masa kekusasaan Daendels dan Raffles (1808-1816), tanah-tanah partikelir makin meluas karena kedua gubernur jenderal itu memerlukan banyak uang untuk berbagai kegiatan pemerintahan. Di Batavia dan sekitarnya ada tidak kurang dari 230 lokasi tanah partikelir milik para tuan tanah Eropa, Cina, dan Arab.

Umumnya, tanah-tanah itu disewakan pemiliknya pada petani untuk digarap sebagai sawah dan kebun. Atau disewakan kepada para pengusaha yang pada gilirannya memanfaatkan kaum tani yang berdiam di daerah sekitar. Selain kompeni, banyak tuan tanah yang memeras mereka dengan keharusan membayar cuke (pajak) yang mencekik leher.

Tidak heran kalau saat itu petani penggarap hidup melarat, sementara tuan tanah bergelimang harta. Sejarah mencatat, para pemimpin perjuangan di tanah-tanah partikelir umumnya berasal dari petani. Di antara pejuang yang memelopori perlawanan terhadap tuan tanah adalah Kaiin. Karena orang tuanya bernama Bapak Kayah, dia disebut Kaiin Bapak Kayah. Lahir pada 1884 di Kampung Pangkalan, Tangerang, sejak kanak-kanak Kaiin termasuk pendiam dan taat kepada kedua orang tuanya. Dia belajar mengaji sambil belajar main pukulan (silat).

Karena dikenal alim dan pandai main silat, Kaiin diangkat menjadi mandor pengawas perkebunan milik tuan tanah Tionghoa di Kampung Pangkalan. Ketika menjadi mandor itulah dia melihat ketidak-adilan dan pemerasan para tuan tanah terhadap saudara-saudaranya rakyat pribumi.

Tidak sanggup melihat kesewenang-wenangan itu, Kaiin mengundurkan diri. Mulai saat itulah dia mengembara ke berbagai tempat, seperti Batavia, Bekasi, Bogor, dan Kerawang. Di Batavia dia sempat bekerja di kantor polisi sebagai opas. Di sini Kaiin kembali tergugah melihat ketidak-adilan para hamba wet (hamba hukum) dalam menangani berbagai kasus dengan sangat diskriminatif.

Setelah pulang ke kampung kelahirannya di Kampung Pangkalan, suatu malam dia menonton pertunjukan wayang kulit Betawi. Kemampuan ki dalang dalam mendalang menarik perhatiannya. Kaiin bertekad untuk menjadi dalang wayang kulit Betawi. Mula-mula ia magang sebagai asisten dalang. Kemudian dipercaya mendalangi sebuah lakon.

Ketika menjadi dalang dia menikah dengan seorang janda kaya Tionghoa bernama Tan Teng Nio. Dengan kekayaan istrinya Kaiin hidup lebih stabil. Janda Tionghoa ini memilihnya sebagai suami karena berharap Kaiin sebagai seorang jagoan dapat menjaga seluruh kekayaannya.

Tapi, sekalipun sudah hidup mapan, Kaiin tidak pernah surut untuk menentang pemerintah kolonial dan para tuan tanah yang memeras petani. Dia juga mempelajari ilmu tarikat dan kerap menziarahi tempat-tempat keramat, seperti makam Raden Kartadriya di Jacatraweg (kini Jl Jayakarta, Jakarta Kota), yang dihukum gantung oleh Belanda (1720) karena menjadi sekutu Pieter Erbelveld dalam melawan kompeni, dan makam Kramat Ujung di Bekasi.

Suatu malam, saat mendalang tiba-tiba Kaiin kesurupan. Pada saat itulah, di tengah-tengah warga Kampung Pangkalan yang sedang menonton wayang, Kaiin berkata, ''Wahai saudara-saudara, sayalah Sang Hyang Tunggal atau Ratu Rabbul Alamin, karena saya adalah keturunan Pangeran Siliwangi. Mulai saat ini saya akan ambil hak saya sebagai seorang pemimpin. Saya akan usir kaum penjajah dan para tuan tanah yang kejam dan jahat yang selalu mengambil hak-hak petani. Mulai saat ini saudara-saudara harus ikut saya punya perkataan.''

Maka, mulai saat itu di kediaman Kaiin selalu ramai karena ia mengundang tamu-tamu yang terdiri para tokoh masyarakat dari Tangerang, Batavia dan Bekasi. Di kediamannya dia berpidato membangkitkan semangat perlawanan dan melatih pengikutnya untuk menguasai senjata golok, parang, tombak dan panah. Kepada para pengikutnya, dia juga memberikan jampe-jampe berupa wafak (kesaktian), agar mereka semakin berani melawan Belanda dan para tuan tanah jahat.

Suatu hari, setelah shalat Subuh, tepatnya tanggal 10 Februari 1924, Kaiin mengumpulkan seluruh pengikutnya untuk apel persiapan maju ke medan perang. Semua pengikutnya diberi pakaian putih-putih dan tudung cetok dan itulah ciri pengikut Kaiin Bapak Kayah.

Saat itu dia berpidato, ''Saatnya sekarang kita menyerang dan usir penjajah dan tuan tanah jahat dari negeri kita. Kita usir orang kafir Belanda. Allahu Akbar!'' Kepada rakyat yang tidak ikut dalam penyerangan, dia minta untuk tidak keluar rumah.

Pukul 07.00 pagi rombongan Kaiin mulai menyusuri rumah-rumah tuan tanah, termasuk penggilingan tebu dan padi yang ada di Kampung Pangkalan, Kampung Melayu, Teluk Naga dan Tanah Tinggi. Pasukannya terus merangsek hingga ke rumah asisten wedana di Teluk Naga.
Rumah asisten wedana dikepung dan kepadanya Kaiin bertanya, ''Apakah tuan membela orang kafir?''

Asisten wedana menjawab, ''Pada orang kafir kita tidak suka.'' Asisten wedana berusaha untuk mendinginkan kemarahan pasukan Kaiin, sambil mengajaknya bicara di kediamannya. Tapi, tujuannya untuk menghambat pasukan Kaiin supaya dia dapat menghubungi kantor polisi di Batavia untuk minta bantuan.

Saat berunding itulah datang schout (perwira polisi) dan pasukannya dari Batavia. Kaiin dan sejumlah pengikutnya ditangkap. Kemudian, bersama 29 orang pengikutnya, dia ditembak mati, dan 24 orang lainnya dipenjara.

(Alwi Shahab )

Wednesday, May 14, 2008

Sejarah Musik Gambus & Melayu Indonesia

Sejak kapan perhelatan perkawinan dimeriahkan hiburan? Paling sedikit di Batavia sejak menjelang akhir abad ke-18, begitulah laporan seorang pelancong Jawa bernama Sastrodarmo yang berkunjung ke Batavia pada zaman itu. Jenis hiburan pun dilaporkannya antara lain gambus dengan lagu-lagu Arab.

Gambus adalah musik yang dibawa peranakan Arab dari Hadramaut (Yaman). Perantau Arab ini menurut C.C. Berg memang ramai sekali berdatangan ke Hindia Belanda pada abad ke-18 dan menunjukkan eskalasi pada abad ke-19 .

Tentu saja sulit bagi kita untuk melacak grup gambus yang populer pada abad-abad tersebut. Catatan yang dapat dipertanggungjawabkan berasal dari era menjelang dan sesudah PD II. Berikut ini rangkuman percakapan KSK dengan seorang penyanyi lagu Melayu yang terkenal dengan lagunya Ya Mustafa yaitu Munif Bahaswan yang berlangsung di Jakarta.

Extra Melayu

Market gambus bukan hanya kalangan peranakan Arab, tetapi orang-orang non Arab pun banyak yang menyukai gambus. Mempertimbangkan selera market, menurut Munif, orkes gambus sering membawakan extra lagu Melayu, atau extra Melayu. Market di kalangan non Arab makin meluas, akhirnya pada tahun 1950 awak grup-grup gambus yang ada seperti Al Wardah, yang pada awalnya dipimpin Umar Hamada kemudian Muchtar Lutfi, mendirikan Orkes Melayu Moderen Sinar Medan di bawah pimpinan Umar Fauzi Aseran. Disebut orkes Melayu moderen karena menggunakan alat tiup (brass) seperti klarinet, saxophone, dan trompet. Kemudian hari disebut Orkes Melayu saja, yang sering disingkat OM.

Trend ini diikuti oleh awak gambus Al-Wathon pimpinan Hassan Alaydrus yang mendirikan OM Kenangan pimpinan Hussein Aidit. Sementara itu awak orkes gambus Surabaya Al Afan pimpinan A. Kadir, menurut Munif, mendirikan OM Sinar Kemala pimpinan A. Kadir juga. Menurut Munif, mantan Mendikbud Fuad Hassan pernah bermain biola untuk orkes gambus Al Afan. Dalam percakapan dengan penulis, Hassan Alaydrus juga memberikan kesaksian yang sama bahwa Fuad Hassan pernah bermain gambus. Namun kepada penulis Fuad Hassan mengatakan bahwa ia tak pernah bermain gambus melainkan ikut orchestra besar, mungkin semacam New York Philarmonic Orchestra.

Abdul Haris, M. Thahar, dan Hussein Bawafi adalah pengarang lagu Melayu generasi pertama. A. Haris terkenal dengan lagu Kudaku Lari. Lagu ini diilhami oleh back sound film Mesir Syaifi wal Qalbi yang dibintangi Abdul Wahab. Wahab adalah bintang film dan penyanyi Mesir yang amat digemari di Indonersia. Penyanyi Mesir perempuan yang nyaris menjadi mitologi "persatuan Arab"adalah Ummi Kalsum.

M. Thahar mengarang lagu Cinta Hampa. Lagu ini mencuat merobek cakrawala musik Melayu berkat suara yang gurih Hasnah Thahar, isteri M. Thahar. Bawafi muncul di zaman itu dengan lagunya Khayalan dan Penyair, tetapi lagunya yang mencuat adalah Seroja.

Lagu-lagu Melayu yang lahir di zaman ini meski pun mengalami up dating dibanding dengan lagu Melayu klasik yang ditulis oleh penggubah-penggubah N.N. (tak dikenal) seperti lagu Seringgit Dua Kupang yang kini didangdutkan menjadi Ayam Jago Jenggernya Merah, tetapi menurut Munif belum mencapai format lagu yang disebut songform. Struktur sebuah lagu yang disebut songform adalah terdiri atas 32 bar dengan bagian yang diulang (refrein) A1 + A2, klimaks (yang malah disebut refrein), dan kembali kepada A1 atau A2, atau malah muncul A3. A3 adalah syair yang bukan pengulangan dari bait-bait sebelum klimaks.

(Munif yang dikenal sebagai penyanyi yang serba bisa, ia pun mahir menyanyikan lagu jazz, dan untuk kurun waktu yang lama ia bersama Rudy Rusadi dan Dudung menjadi vocal-grup kelompok terkenal Los Morenos. Ketika tamat pendidikan dasar di Al-Irsyad, Batavia, Munif beroleh beasiswa dari Irak yang ketika itu dipimnpin oleh Raja Faisal).

Said Effendi nyaris meninju Iskandar

Penulis mengatakan kepada Munif bahwa ia adalah penyanyi Melayu legendaris, Munif mengelak seraya menyebut nama Effendi. Tentu tidak perlu digelar perdebatan, baiklah didengar argumentasi Munif.

Effendi adalah pelopor lagu Melayu dengan format songform, lagu ciptaannya itu dibawakan dengan suara soprano bercengkok. Dan tidak pula ia menempuh karirnya dengan jalan yang mudah. Kepada Munif, Effendi mengungkap riwayat hidupnya.

S. Effendi dilahirkan dengan nama Said Arrasyidi di Bondowoso sekitar tahun 1930. Pada sekitar tahun 1952 pemuda Said merantau ke Jakarta dan melamar di RRI Stodio Jakarta. Namun lelah menunggu lamaran tak kunjung berjawab. Maka Said mendapat pekerjaan, yang bersifat non seni, di Kalimantan. Pada suatu hari yang menerima surat dari familinya di Jakarta bahwa lamarannya bekerja di RRI diterima. Said meluncur ke Jakarta.

Ia kaget bukan kepalang ketika di latihan di studio RRI dengan iringan Orkes Studio Djakarta (OSD) pimpinan Josd Clebert ia disodorkan partitur. Said tidak mengenal not balok. Ia tahu not angka. Sal Salius, seorang penyanyi lagu seriosa, melihat bakat yang luar biasa yang dimiliki Said menjadi sukarelawan mengajarkan Said not balok. Dan Said dalam waktu cepat menguasainya. Ia mulai bernyanyi dan dikenal. Lalu ia melengkapi namanya menjadi Said Effendi. Nama family Arrasyidi tak dipakainya. Bahkan kemudian hari ia lebih suka memakai nama S. Effendi saja. Nama Effendi adalah sangat lazim digunakan dan amat disukai di kalangan masyarakat Mesir, apalagi setelah di bioskop Alhambra, Sawah Besar, diputar berbulan-bulan film Mesir Bul Bul Effendi.

Effendi mengarang lagu pertama berjudul Bachtera Laju. Dengan bersemangat ia memasuki kamar kerja komponis Iskandar, ayah penyanyi Diah Iskandar yang dijuluki Connie Francis Indonesia. Iskandar sedang bermain piano menerima naskah Effendi tanpa menoleh. Setelah menatap naskah itu beberapa menit kemudian naskah itu diremas dan dilemparkan ke keranjang sampah. Darah menggelegak di kepala Effendi. Ia meninggalkan ruangan Iskandar dan menuju kantin RRI dengan niat meninju Iskandar. Sesaat menunggu pikirannya berubah. Malah ia kembali ke ruang Iskandar yangh telah kosong dan memungut naskahnya yang lecek. Dibelainya naskah itu dan ia memasuki ruang komponis Ismail Marzuki.

"Waduh, ini lagu bagus benar, biar saya yang membuat arrangementnya, dan dua hari lagi kita latihan", kata Ismail Marzuki.

Dengan girang Effendi meninggalkan kamar Ismail Marzuki. Dan ia berpapasan dengan Iskandar yang wajahnya terlihat bingung.

"Ëffendi, mana naskah kamu tadi, aku cari-cari di keranjang sampah kok enggak ada"

"Memangnya kenapa?" Tanya Effendi.

"Lagu itu bagus, aku mau buat arrangementnya"

"Oh terlambat, Ismail yang mau membuat arrangementnya. Tapi, tadi 'kan kamu buang ke keranjang sampah naskah itu!"

"Aku 'kan cuma bercanda"

Bachtera Laju meroket sampai ke negara jiran. Setelah itu Effendi menulis puluhan lagu dengan standard songform. Lagunya bagus-bagus semua, apalagi ia yang menyanyikannya. Pada tahun 1980-an Effendi meninggal dunia. Namun namanya tetap dikenang. Dan anehnya, terutama di Malaysia. Seniman Malaysia acapkali mengadakan acara memperingati Effendi.

"Saya Indonesia"

Munif dan M. Mashabi adalah dua penyanyi tersohor yang nyaris muncul bersamaan di sekitar tahun 1955. Munif pandai mencipta lagu. Hingga saat ini ia telah mencipta sebanyak 75 lagu Melayu dan beberapa lagu Arab. 

M. Mashabi, atau Mamat.  Mashabi adalah nama famili, namanya sendiri Muhammad. Ia lahir dan dibesarkan di Kebon Kacang, Tanah-abang. Ciptaan Mashabi tidak banyak, mungkin tidak sampai 20 buah. Tetapi banyak ciptaannya yang ia nyanyikan sendiri yang tersohor misalnya Ratapan Anak Tiri yang sempat meledak dan menjadi tema film Ratapan Anak Tiri garapan Sandy Suwardi. (M. Mashabi meninggal bunuh diri di rumahnya di Tanah Abang, Jakarta).

Munif pandai berdendang Melayu, tetapi menyanyikan lagu Arab pun jago. Di samping Ya Mustafa yang mencapai hits, lagu Meester Machmud pun meledak. Lagu ciptaan Munif Ya Gazibni banyak disukai khalayak penggemar musik.

(Pada tahun 1965 Munif diundang untuk bernyanyi di Yaman. Ia menyanyikan lagu-lagu Melayu dan Arab dengan iringan gitar yang ia mainkan sendiri. Sambutan publik cukuplah. Dan Munif pun diwawancara Televisi Yaman. Ketika pewawancara menanyakan ia orang mana, dengan tegas Munif berkata bahwa ia orang Indonesia. Pewawancara menukas, bukankah anda menggunakan nama famili Bahaswan, mestinya anda orang Hadramaut, Yaman. Munif menandaskan lagi bahwa dirinya adalah orang Indonesia, masalah nama famili Bahaswan itu adalah soal biologi. Alangkah gusarnya sang pewawancara. Sejak wawancara itu Munif diboikot wartawan Yaman).

Peran kaum peranakan Arab cukup signifikan dalam musik Melayu. Juga di Malaysia. Dua penyanyi Melayu yang tersohor di Malaysia, SM Salim dan Syarifah Aini berdarah Arab. Meski perlu dicatat pada sekitar tahun 1956 muncul OM Bukit Siguntang pimpinan anak Pecenongan A. Chalik. Namun haruslah diakui peran serta peranakan Arab dalam bidang ini. Mereka juga penggubah syair-syair yang indah. Lagu-lagu ciptaan Munif, misalnya Cinta Direkayasa, M. Mashabi Rasa Cinta, Hussein Bawafi Budi, Effendi Khayalan Suci, A. Kadir Keagungan Tuhan, adalah syair lagu dengan cita rasa yang tinggi. Menurut Munif, penggubah lagu seperti Hussein Bawafi sangat mendalami karya sastra Amir Hamzah dan Chairil Anwar.

Bina Ria

Sebuah konkurs bernyanyi lagu-lagu Effendi yang diadakan di Singapura pada sekitar tahun 1967-1968 dimenangkan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Oma Irama. Sebenarnya ia penyanyi lagu-lagu Barat populer. Bukan untuk pertama kali ia menghikuti kongkurs. Sebelumnya juga ia mendapat tempat yang berarti dalam kongkurs lagu Barat populer. Kala itu ia menyanyikan lagu I who have nothing.

Oma Irama, kini Raden Haji Oma Irama atau potong letter Rhoma Irama, bukan lagi sebagai orang yang tak punya apa-apa. Ia berharta berkat musik dangdutnya. Musik Dangdut adalah derifat Musik Melayu Moderen. Rhoma Iramalah pelopornya ketika ia muncul dengan gaya musik yang lain dari yang lain membawakan lagu ciptaannya Bina Ria pada sekitar tahun 1969. Rhoma menciptakan aliran. Kalau musik Melayu Moderen mengandalkan accordeon sebagai lead instrument, Rhoma menggunakan electrik gitar. Dalam perkusi ia memasukkan unsur drum yang berperan menjadikan sebuah lagu menjadi beatles, punya warna irama yang jelas. Tamborin dipertahankannya, namun marakas tak lagi menampil. Alur musik melewati jeram-jeram breaks yang banyak. Pada musik Melayu moderen breaks hanya sekali-sekali saja, dan itu pun sedikit saja lagu yang alur musiknya memakai break.

Rhoma Irama menjadi "mazhab", ia adalah sebuah tonggak dalam perjalanan musik Melayu. Aliran ini ramai pengikutnya hingga kini. Tak banyak lagi yang "mengamalkan" musik Melayu moderen pada tahun 1970 kecuali M. Mashabi. Tetapi kelompok musik Mashabi hanya dapat ruang bermain di tempat yang terlalu bersahaja dengan sound system bertenaga accu. Dan Mashabi pun pergi ke haribaanNya dalam usia 40-an, di tahun 1970-an, pada saat musik Melayu modern yang ikut dirintisnya memudar.


*sumber: benar-benar betawi