Friday, December 07, 2007

Bersalaman dengan Raja Faisal di Mina

Saya pertama kali ke Tanah Suci pada Juni 1973. Itupun untuk melaksanakan ibadah umroh setelah berkunjung ke Aljazair menghadiri 10 tahun kemerdekaan negara di Afrika Utara itu. Dari Aljier saya mampir ke Jeddah. Waktu itu, KBRI berada di kota yang terletak di tepi Laut Merah ini. Dubes RI di Arab Saudi kala itu dijabat H Rus'an memberikan saya pakaian ihram untuk umroh. Perjalanan dari Jeddah ke Mekah naik mobil besar merk Impala keluaran Chevrolet (AS). Begitu memasuki Masjidil Haram -- yang belum semegah sekarang --, dan melihat Ka'bah saya terharu hingga meneteskan air mata.

Apalagi waktu itu saya masih muda teringat akan dosa-dosa. Sambil berharap nantinya dapat melaksanakan ibadah haji. Karena tidak ada persiapan samasekali saya tidak pergi ke Madinah berziarah kepada Nabi Muhammad SAW.

Rupanya doa saya ini dikabulkan. Karena suatu ketika menjelang musim haji 1974, ketika tengah membuat berita kegiatan Pak Harto, saya mendapat telepon dari Pak Bustaman, sekretaris Menteri Sosial HMS Mintaredja yang kala itu juga sebagai ketua umum PPP. Saya (Antara) bersama rekan Merdeka diminta untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Kala itu merupakan tahun kedua pemberangkatan jamaah haji dengan pesawat udara. Tapi masih banyak calon haji (calhaj) yang berangkat dengan kapal laut. Setelah istirahat beberapa jam di Madinatul Hujaj di Jeddah -- di sini kami bergabung dengan jamaah dari mancanegara --, kami diberangkatkan ke Mekah dengan bus tanpa AC karena waktu itu belum ada angkutan ber-AC.

Kami dibawa langsung ke tempat Syeikh Abbas, seorang mukimin yang berasal dari Jawa Barat. Kami disuguhi minuman dari ketel. Seperti kebiasaan di Arab Saudi kala itu, kita bergantian minum dalam gelas yang sama.

Kala itu, para calon jamaah haji diwajibkan untuk untuk tinggal di tempat syeikh yang mereka pilih. Kita diberi makanan seperti beras dan berbagai lauk pauk. Karena saya tidak bisa masak, saya memilih makan di luar. Di Mekkah dan juga Madinah terdapat banyak rumah makan yang menyajikan masakan Indonesia. Tapi jangan minta martabak, karena di Arab seperti juga di India martabak tidak dikenal.

Kali ini saya berkesempatan ziarah ke makam Rasul di Masjid Nabawi Madinah. Tapi tidak mendapat arbain. Karena ada kawan yang datang dari Kedubes RI di Syria membawa mobil mengajak saya ke rumah pamannya di Jeddah.

Di Jeddah saya mendatangi kembali KBRI. Nasib baik, Atase Pers KBRI Arifin menawarkan saya menjadi tamu negara. Kerajaan Arab Saudi tiap tahun mengundang dua wartawan dari negara-negara Islam untuk berhaji. Kebetulan tidak ada wakil dari Indonesia.

Maka jadilah saya tamu negara setelah mendatangi Kementerian Penerangan Arab Saudi. Saya mendapat mobil khusus untuk mengantar jemput dari Jeddah ke Mekah. Saya disediakan tempat penginapan di Hotel Kandara, salah satu hotel terbaik kala itu.

Karena belum puasa, saya berziarah ke Madinah, dari Jeddah saya kemudian pergi ke kota Nabi. Dalam perjalanan setelah memasuki kota Madinah sambil terus menerus mengucapkan shalawat, saya hampir mendapat kecelakaan. Ban mobil yang kami tumpangi pecah.

Beruntung sang sopir sangat tenang menghadapi kejadian ini. Dia menggunakan versneling untuk memperlambat laju mobil. Kalau saja dia mengerem mobil akan terbalik. Saya teringat peristiwa yang dialami tokoh NU Subchan ZE meninggal dunia karena mobilnya terbalik karena bannya meletus.

Di Arafah kami -- rombongan wartawan mancanegara -- ditempatkan di tenda khusus. Di Mina, kami ikut hadir pada resepsi di istana dan saya bersalaman dengan Raja Faisal. Di antara yang hadir dari Indonesia adalah H Mohammad Natsir, ketua Arabithah Alam Islam dan ketua Dewan Dakwah Indonesia, Gubernur DKI Ali Sadikin, Sekjen DDI Harsono, Ketua MUI HAMKA, tokoh Islam dari Persis E.Z.Muttaqin, Ketua Komite Solidaris Islam H.Lukman Harun dan Habib Muhammad Alhabsyi dari Majelis Taklim Kwitang.

Di tempat resepsi kami dilayani oleh pengawal kerajaan yang membawa cangkir kecil sambil menyuguhkan kopi yang dicampur kapulaga dan jinten hitam hingga menghangatkan badan. Begitu kopi diberikan kepada kita langsung diminum dan kemudian diberikan kepada orang yang berada di sampingnya.

Ada suatu kebiasaan orang Arab yang membuat mereka senang. Kalau jenggotnya di elus-elus dan dipegang terutama oleh cowok. Seorang jamaah haji menuturkan ketika dia berbelanja di Madinah kepada orang tersebut ternyata harganya menjadi murah. Kaos kaki dari lima real menjadi satu real. Kiat bahwa pembeli adalah raja seringkali tidak berlaku di tanah suci. Apalagi kalau kita menawar dagangannya dengan harga murah. Para pedagang bisa marah atau pura-pura tidak mendengar ketika dagangannya seharga 20 real ditawar lima real.

Tapi sekarang ini dengan makin membanjirnya pedagang terutama dari India, Bangladesh dan Pakistan mereka dengan ramah dan tersenyum menyapa kita. 'Siti Rahmah .. Siti Rahmah ... homsah (lima real).' Entah siapa namanya, kalau wanita dari Indonesia seringkali mendapat panggilan Siti Rahmah.

(alwi shahab )

Saturday, December 01, 2007

Menengok Perjuangan Habib Ahmad bin Abdullah Alatas di Pekalongan

Tiba-tiba saja Kotamadya Pekalongan menjadi lebih semarak pada 21-23 November lalu. Ratusan bus dan mobil dari berbagai daerah memasuki kota 'batik', ini dengan membawa ribuan jamaah yang datang dari berbagai tempat di Jawa. Belum lagi mereka yang datang dengan kereta api. Bahkan ada jamaah dari luar Jawa yang datang dengan pesawat atau kapal laut melalui Semarang. Akibatnya, sejumlah losmen di kota ini menjadi kewalahan hingga tidak dapat lagi menerima para tamu, termasuk Hotel Nirwana, hotel paling bergengsi di kota itu. Padahal, bagian terbesar dari para tamu itu menginap di rumah-rumah penduduk yang berdekatan dengan tempat khaul seorang ulama besar Pekalongan.

Membanjirnya umat Islam ke Pekalongan, yang waktunya bersamaan dengan Muktamar NU di Lirboyo, Kediri, adalah untuk menghadiri khaul atau peringatan wafatnya ke-73 Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Alatas. Dari jumlah umat Islam yang datang dari berbagai tempat untuk menghadiri khaul itu menunjukkan, bahwa sekalipun ia telah meninggal dunia hampir tiga perempat abad lalu, tapi hingga kini kiprah perjuangannya masih tetap dikenang. Memperingati khaul untuk mengenang seorang tokoh agama dengan berbagai acara, di Indonesia merupakan tradisi yang banyak dilakukan oleh warga Nahdliyin dengan berbagai acara, yang puncaknya menziarahi kubur almarhum.

Khaul ke-73 Habib Ahmad sendiri berlangsung pada hari Senin (22/11) atau bertepatan dengan 14 Sya'ban 1420 Hijriah dengan mengadakan ziarah ke makam almarhum. Berbagai acara yang digelar dalam rangkaian khaul ini ialah, pada hari Ahad (21/12), diadakan pembacaan Dala'il al-Khaerat, berisi shalawat puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang selalu dibawakan oleh almarhum di dalam majelis-majelisnya semasa ia hidup.

Ribuan santri dan jamaah yang berdatangan dari kodya dan kabupaten Pekalongan serta berbagai tempat lainnya, duduk mengitari makam Habib Ahmad di ruang khusus berukuran sekitar 10x20 meter, di pemakaman umum Sapuro, Pekalongan. Mereka seolah-olah larut dalam kesahduan ketika dengan suara keras menggeleng-gelengkan kepala bershalawat dan berzikir kepada Allah SWT.

Menurut seorang penjaga makam di Sapuro, tiga hari sebelum acara khaul telah berdatangan kaum Muslimin dan Muslimat dengan menggunakan sembilan bus dari Purwokerto, Bogor, Sukaraja, Semarang, dan Demak. Mereka berziarah hingga larut malam. Sebagaimana terjadi tiap tahun, penjaga makam ini meyakini, bahwa sampai dua hari setelah acara khaul tempat ini masih terus didatangi para penziarah.

Seperti dituturkan oleh Haji Wagio, 40, sehari sebelum acara khaul, ia dan rombongannya datang dari Surabaya ke Pekalongan dengan 23 buah bus patas. Tiap bus memuat 70 orang. Menurut Wagio, kunjungannya ke Pekalongan ini dalam rangka 'Tour Ziarah Walisongo dan Khaul Akbar'. Mengingat para jamaah bukan saja dari Surabaya, tapi juga dari berbagai tempat di Jatim, menurut Wagio, ini menunjukkan bahwa Habib Ahmad dikenal cukup luas di Jawa Timur.

Rombongan yang berjumlah hampir 1.500 orang ini, bermalam di sekitar rumah-rumah penduduk yang dengan sukarela menyediakan tempat untuk mereka. Sedangkan untuk makam dan minum, disediakan oleh tuan rumah, yang dipimpin oleh Habib Abdullah Bagir Alatas, cicit almarhum. Rumah almarhum sendiri, yang terletak di Jalan Haji Agus Salim 29, Pekalongan yang bagian depannya menjadi Masjid Raudah dan tempat kegiatan keagamaan, juga menampung ratusan para jamaah dari luar kota. Habib Bagir sendiri merupakan generasi keempat penerus Habib Ahmad, setelah ayahnya Habib Ahmad bin Ali Alatas, meninggal dunia hari Ahad (19/12), seminggu sebelum acara khaul.

Sehari menjelang khaul, pada malam harinya di Masjid Raudah diselenggarakan acara khatam shahih Bukhari, salah satu mata pelajaran keagamaan yang diberikan kepada murid-muridnya selama almarhum hidup. Imam Bukhari, yang lahir di Bukhara, Asia Tengah (dulu bagian dari Uni Soviet), pada 194 H, selama 16 tahun telah mengumpulkan ratusan ribu hadits. Kemudian ia menyaring hadits itu dan hanya beberapa ribu saja yang dinilainya dapat dipercaya. Ketelitiannya dalam periwayatan hadits, menyebabkan para ulama hadits belakangan menempatkan kitab Sahih al-Bukhari sebagai peringkat pertama dalam urutan kitab-kitab hadits yang muktabar.

Amar ma'ruf nahi munkar

Pada puncak acara khaul, yang berlangsung Senin (22/11), dibacakan manakib atau riwayat hidup Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas. Ia dilahirkan di kota Hajren, Hadramaut, Yaman, pada 1255 Hijriah atau 1836 Masehi. Setelah menguasai Alquran dan mendalami dasar-dasar ilmu agama, ia melanjutkan menuntut ilmu kepada para pakar dan ulama terkenal lainnya.

Kemudian, ia menimba ilmu yang lebih banyak lagi di Mekkah dan Madinah. Sekalipun mendapatkan tempaan ilmu dari berbagai ulama terkenal di kedua Kota Suci itu, namun guru yang paling utama dan paling besar pengaruh didikan dan asuhannya atas pribadi Habib Ahmad, adalah Assayid Ahmad Zaini Dahlan. Yang belakangan ini, adalah seorang pakar ulama di Mekkah yang memiliki banyak murid dan santrinya. Baik dari Mekah sendiri maupun negara-negara Islam lainnya. Termasuk para tokoh ulama dan kiai dari Indonesia, seperti Hadrotul Fadhil Mbah KH Kholil Bangkalan, Madura, dan Hadrotusy Syaikh KH Hasyim Asy'ari, Jombang, Jatim, pendiri NU dan kakek dari Presiden Abdurrahman Wahid. Di samping KH Murtadha, tokoh ulama Betawi akhir abad ke-19.

Di antara murid atau orang seangkatan Ahmad Zaini Dahlan di Mekkah adalah Imam Nawawi Al-Bantani, seorang pemukiman Indonesia di Arab Saudi, pengarang kitab-kitab kuning. Di antaranya Tafsir Munir, yang bukan saja dijadikan acuan oleh ahli tafsir di Indonesia, tapi juga di hampir semua dunia Islam.

Setelah usai dan lulus menempuh pendidikan dan latihan, terutama latihan kerohanian secara mendalam, Habib Ahmad oleh guru besarnya itu ditugaskan untuk berdakwah dan mengajar di Mekkah. Di kota kelahiran Nabi ini, ia dicintai dan dihormati segala lapisan masyarakat, karena berusaha meneladani kehidupan Rasulullah.

Setelah tujuh tahun mengajar di Mekkah, ia kemudian kembali ke Hadramaut. Setelah tinggal beberapa lama di kota kelahirannya, Habib Ahmad merasa terpanggil untuk berdakwah ke Indonesia. Pada masa itu, sedang banyak-banyaknya para imigran dari Hadramaut ke Indonesia, di samping untuk berdagang juga menyebarkan agama.

Setibanya di Indonesia, ia kemudian ke Pekalongan. Melihat keadaan kota itu yang dinilainya masih membutuhkan dukungan pensyiaran Islam, maka tergeraklah hatinya untuk menetap di kota tersebut. Saat pertama menginjakkan kakinya di kota ini, ia melaksanakan tugas sebagai imam Masjid Wakaf yang terletak di Kampung Arab (kini Jl Surabaya). Kemudian ia membangun dan memperluas masjid tersebut.

Di samping menjadi imam, di masjid ini Habib Ahmad mengajar membaca Alquran dan kitab-kitab Islami, serta memakmurkan masjid dengan bacaan Daiba'i, Barjanzi, wirid dan hizib di waktu-waktu tertentu. Ia juga dikenal sebagai hafidz (penghapal Alquran).

Melihat suasana pendidikan agama waktu itu yang sangat sederhana, maka Habib Ahmad tergerak untuk mendirikan Madrasah Salafiyah, yang letaknya berseberangan dengan Masjid Wakaf. Begitu pesatnya kemajuan Madrasah Salafiyah waktu itu, hingga banyak menghasilkan ulama-ulama. Madrasah ini, yang didirikan lebih sekitar satu abad lalu, menurut Habib Abdullah Bagir, merupakan perintis sekolah-sekolah Islam modern, yang kemudian berkembang di kota-kota lain.

Menurut sejumlah orang tua di kota Pekalongan, berdasarkan penuturan ayah atau mereka yang hidup pada masa Habib Ahmad, habib ini selalu tampil dengan rendah hati (tawadhu), suka bergaul, dan marah bila dikultuskan.

Kendati demikian, kata cicitnya Habib Abdullah Bagir, ''Beliau tidak dapat mentolerir terhadap hukum-hukum dari Allah atau melihat orang yang meremehkan soal agama.'' Seperti menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. Menurut Bagir, kakeknya ibarat Khalifah Umar bin Khatab, yang tegas-tegas menentang setiap melihat kemungkaran. Tidak peduli yang melakukannya itu orang awam atau pejabat tinggi.

Sebagai contoh disebutkan, para wanita, tidak akan berani lalu lalang di depan kediamannya tanpa mengenakan kerudung atau tutup kepala. Tidak peduli wanita Muslim, maupun wanita Cina dan Belanda, menggunakan tutup kepala bila lewat di tempat kediamannya. Pernah seorang isteri residen Pekalongan, dimarahi karena berpapasan dengannya tanpa menggunakan tutup kepala. Cerita-cerita yang berhubungan dengan tindakan Habib Ahmad ini sudah begitu tersebar luas di tengah masyarakat Pekalongan. Bahkan, setiap perayaan yang menggunakan bunyi-bunyian seperti drumband, mulai perempatan selatan sampai perempatan utara Jl KH Agus Salim, tidak dibunyikan karena akan melewati rumahnya. Ia juga sangat keras terhadap perjudian dan perzinahan, sehingga hampir tidak ada yang berani melakukannya di kota ini, saat beliau masih hidup.

Keberaniannya dalam menindak yang munkar itu, rupanya diketahui oleh sejumlah sahabatnya di Hadramaut. ''Saya heran dengan Ahmad bin Thalib Alatas yang dapat menjalankan syariat Islam di negeri asing, negeri jajahan lagi,'' kata Habib Ahmad bin Hasan Alatas, seorang ulama dari Hadramaut.

Habib Ahmad yang kegiatan sehari-hari lebih banyak di Masjid Wakaf, Jl Surabaya, pada akhir hayatnya mengalami patah tulang pada pangkal pahanya, akibat jatuh, hingga tidak dapat berjalan. Sejak itu ia mengalihkan kegiatannya di kediamannya, termasuk shalat berjamaah dan pengajian.

Penderitaan ini berlanjut hingga meninggalnya pada malam Ahad, 24 Rajab 1347 H atau 1928 M, dalam usia 92 tahun, dan dimakamkan di pekuburan Sapuro, Kodya Pekalongan. Namun peringatan khaulnya diselenggarakan setiap tanggal 14 Sya'ban, bersamaan dengan malam Nifsu Syaban, yang tiap tahun dihadiri ribuan orang, tidak jarang dari luar negeri, seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei Darussalam.

Ketika ia meninggal dunia, hampir seluruh penduduk kota Pekalongan dan sekitarnya mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir. ''Belum pernah di kota Pekalongan terdapat pengantar jenazah seperti ketika wafatnya Habib Ahmad,'' kata Habib Alwi Alatas, 70, salah seorang kerabatnya.

Karena itulah, setiap khaulnya selalu dihadiri oleh ulama terkemuka, termasuk almarhum KH Abdullah Syafe'i, dan kini putranya KH Abdul Rasyid AS, serta KH Abdurrahman Nawi, dari Jakarta.

(AS, Republika 25 Nov 99)