Saturday, October 21, 2006

Asal Usul Nama Tempat di Jakarta

Setelah dilakukan penelitian, penyebutan nama tempat dan nama kampung yang ada di Jakarta tidak sekadar asal nama. Hampir semua nama tempay dan kampung yang dikaji ternyata mempunyai riwayat sendiri-sendiri, seperti peristiwa sejarah yang pernah terjadi. Ada juga nama kampung atau tempat yang dikaitkan dengan vegetasi atau tumbuh-tumbuhan yang banyak ditemukan. Juga ada nama tempat atau kampung yang dikaitkan dengan seorang tokoh yang pernah tinggal di tempat itu.

Baiklah kita mulai dengan kawasan Ancol di Jakarta Utara, yang kini menjadi tempat rekreasi paling terkenal di tanah air. Ancol mengandung arti tanah rendah berpaya-paya. Dahulu, bila laut sedang pasang, air payau kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya sehingga terasa asin. Wajarlah bila Belanda zaman VOC menyebut kawasan tersebut Zoutelande (tanah asin). Sebutan yang juga diberikan untuk kubu pertahanan yang dibangun di situ pada 1656.

Dari Ancol kita ke Angke, Jakarta Barat. Di sini kita menemukan masjid tua yang berusia hampir 300 tahun (dibangun pada 1714), yakni Masjid Al-Anwar. Kata Angke berasal dari bahasa Cina, ang, yang berarti darah, dan ke, yang artinya bangkai. Nama ini terkait peristiwa sejarah tahun 1740 ketika terjadi pemberontakan orang Cina di Batavia. Ribuan warga Cina yang dibantai Belanda mayatnya dihanyutkan ke kali, yang kemudian menjadi kali dan kampung Angke. Sebelumnya, kampung itu bernama Kampung Bebek. Karena, orang Cina yang tinggal di situ senang beternak bebek.

Sekarang kampung Gambir tinggal kenangan saja. Yang ada nama kelurahan dan stasioon Gambir. Kata Gambir sudah dikenal sejak Gubernur Jenderal Daendels mulai membuka daerah itu pada 1810. Kata ini mengacu pada sebutan masyarakat setempat yang melihat banyaknya pohon gambir yang tumbuh di kawasan tersebut. Sebelum dikembangkan oleh Daendels sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda yang dinamakan Weltevreden, kawasan itu masih merupakan daerah rawa-rawa dan padang ilalang. Pada abad ke-17 oleh pemiliknya, Anthony Paviljoen, daerah itu disewakan pada masyarakat Cina sebagai lahan pertanian tebu, sayur-sayuran dan persawahan.

Di daerah yang kini dikenal sebagai Lapangan Monas pernah tiap tahun diselenggarakan Pasar Gambir untuk memperingati HUT Ratu Wilhelmina, nenek Ratu Beatrix sekarang ini. Keramaian itu, kemudian, oleh Gubernur Ali Sadikin dilanjutkan dengan Jakarta Fair (Pekan Raya Jakarta) guna memperingati HUT Kota Jakarta.

Tidak jauh dari Gambir terdapat kampung Gondangdia yang kini berada di daerah pemukiman elit Menteng, Jakarta Pusat. Nama Gondangdia cukup dikenal di kalangan masyarakat awam di Jakarta karena sering disebut dalam lagu Betawi: Cikini si gondangdia, saya disini karena dia.

Ada beberapa versi nama kampung Gondangdia. Berasal dari nama pohon gondang (sejenis pohon beringin). Berasal dari nama binatang air sejenis keong gondang, yang artinya keong besar. Juga berasal dari nama seorang kakek yang terkenal dan disegani masyarakat sekitar kampung. Kakek ini punya nama kondang dan sering dipanggil 'kyai kondang'. Nama tempat itu pun disebut gondangdia (kakek yang tersohor).

Dari Jakarta Pusat kita ke Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Di sini terdapat kawasan Kebantenan, karena sejak 1685 dijadikan salah satu tempat pemukiman orang-oroang Banten di bawah pimpinan Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Agung Tirtayasa. Tentang keberadaan orang Bantgen di kawasan tersebut, kisahnya dimulai, setelah Sultan Haji mendapatkan bantuan Kompeni. Akibatnya Sultan Agung Tirtayasa terdesak, sampai terpaksa meninggalkan Banten, bersama keluarga dan abdi-abdinya yang masih setia kepadanya. Mereka berpencar, tetapi kemudian terpaksa menyerahkan diri: Sultan Ageng di sekitar Ciampea, Pangeran Purbaya di Cikalong kepada Letnan Untung (Untung Surapati). Di Batavia awalnya mereka ditempatkan di dalam lingkungan benteng. Kemudian, Pangeran Purbaya beserta keluarga dan abdi-abdinya diberi pemukiman di Kebantenan, Jatinegara, Condet, Citreureup, Ciluwer, dan Cikalong.

Selain Kebantenan di Jakarta Utara, ada pula Kebantenan yang terletak antara Cikeas dengan Kali Sunter, sebelah tenggara Jatinegara, atau sebelah baratdaya Kota Bekasi. Di salah satu rumah tempat kediaman Pangeran Purbaya yang berada di baratdaya Bekasi itu ditemukan lima buah prasasti berhuruf Sunda kuno, peninggalan kerajaan Sunda, yang ternyata dapat sedikit membuka tabir kegelapan sejarah Jawa Barat.

Dari Kebantenan Jakarta Utara, kita menuju ke Kampung Ambon di Rawamangun, Jakarta Timur. Nama ini sudah ada sejak 1619. Pada waktu itu Gubernur Jenderal JP Coen menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon mencari bantuan dengan menambah pasukan dari masyarakat Ambon. Pasukan Ambon yang dibawa Coen kemudian ditempatkan di Batavia, yang kini menjadi Kampung Ambon.

Pada awal berdirinya VOC, Belanda menempatkan masyarakat untuk tinggal di kampung-kampung dengan nama etnis mereka. Karena itu, di Jakarta banyak nama tempat mengacu pada etnis, seperti Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Banda(n), Kampung Bugis, dan Kampung Makassar. Di masing-masing kampung itu Belanda menempatkan kapiten, yang dipilih dari tokoh masyarakat yang disegani dari tiap etnis.

(Alwi Shahab)

Friday, August 25, 2006

Asal Nama Betawi

Minggu, 15 Januari 2006

Banyak yang mengajukan pertanyaan pada saya tentang asal usul nama Betawi. Sampai ada yang mengira nama Betawi berasal dari 'bau tai'. Konon ketika balatentara Mataram pada tahun 1928 dan 1929 berusaha merebut kota Batavia, pasukan VOC kala itu bertahan di benteng pertahanan Redout Maegdeln, sebuah menara dekat kastil Batavia.
Seorang sersan kompeni, Ian Mulder, dan 15 orang kawannya berusaha untuk bertahan terhadap serangan balatentara Mataram yang terus merangsek dan mendekati benteng. Pada saat-saat yang genting demikian ini, pasukan VOC yang dilengkapi sebuah meriam kecil kehabisan mesiu. Dalam suasana keputus-asahan ini, sersan VOC berteriak, "Lihat bagaimana saya mengusir musuh keparat ini."

Sang sersan mengangkat pot-pot berisi kotoran manusia dan melemparkan isinya pada pasukan Mataram. Melihat itu, timbul kembali semangat para kompeni. Mereka mengikuti jejak sang sersan. Mereka pun ramai-ramai melemparkan pot-pot berisi kotoran manusia itu. Pasukan Mataram yang merasa jijik mundur dengan rasa amat penasaran. Teriakan pun terdengar di mana-mana, "Bau tai... Bau tai!". Dari kejauhan suara itu terdengar seperti 'Betawi'.

Tentu saja perkiraan itu tak dapat diterima akal. Apalagi sampai ada yang menyatakan kotoran manusia itu digunakan sebagai peluru. Karena tai bukan zat padat yang dapat ditembakkan. Tapi perlu diketahui, sampai abad ke-18 rumah dan gedung di Batavia tidak memiliki toilet. Termasuk gedung Balaikota yang kini jadi Museum Sejarah DKI Jakarta di Jl Fatahillah, Jakarta Barat.

Kala itu kebiasaan penghuni kota Batavia, kalau hendak buang hajat di masukkan ke tong-tong yang tersedia di tiap rumah dan kantor. Lalu isi tong itu dilemparkan ke kali atau kanal-kanal yang disebut 'kembang jam 9 malam'. Karena pemerintah VOC mengeluarkan peraturan kotoran manusia itu baru boleh dibuang setelah jam 9 malam.
Ada juga yang menyebutkan bahwa Betawi berasal dari kata Batavia. Tapi yang jelas Gubernur Jenderal JP Coen, pendiri kota ini, mengusulkan kota yang dibangunnya bernama Niew Hoorn untuk mengenang kota kelahirannya di Belanda. Tapi, pihak pemegang saham VOV yang berpusat di Amsterdam lebih menyetujui nama Batavia. Padahal nama ini, secara tidak sengaja diberikan pada seorang prajurit yang tengah teler akibat menenggak minuman keras. Coen sangat kecewa karena usulannya ditolak, dan sampai meninggal Oktober 1929 ia menolak memakai nama Batavia. Dia menyebut kota yang didirikannya Fort Jacatra atau 'benteng Jacatra'.

Ada banyak versi tentang kematian Coen. Ada yang mengatakan ia diracun. Ada pula yang menyatakan ia tidak meninggal di kastil (benteng). Tapi dicuclik, dianiyaya serta dibunuh balatentara Mataram. Memang ia mati hanya beberapa hari setelah balatentara Islam Mataram menyerang kota Batavia.

Konon, seperti diceritakan Candrian Attahiyat dari Dinas Kebudayaan dan Permuseum DKI Jakarta, kepala Coen ditanam di tangga pertama pemakaman Imogiri, tempat peristirahatan terakhir raja-raja Mataram. Sebagai penghinaan, bila hendak ke pemakaman lebih dulu menginjak kepala Coen. Ada juga yang mengatakan Coen mati dibunuh orang Banda yang membalas dendam atas kekejamannya membunuh ribuan rakyat Banda ketika ia berada di Maluku.

Masih ada versi lain tentang misteri matinya Coen. Ia diisukan mati karena ketakutan mengingat pertemuan yang akan menyusul dengan rekan lamanya, yang saat itu jadi musuh dan calon penggantinya, yakni Jaques Spincx. Spincx adalah pedagang senior yang bekerja selama 12 tahun di kompeni. Dari hubungan kumpul kebonya dengan seorang wanita Jepang lahirlah seorang gadis jelita Saartje Spencx pada 1617. Anak itu kemudian mengikuti ayahnya ke Batavia, sedangkan istrinya tetap di Jepang. Saartje kemudian dititipkan di rumah Coen ketika ayahnya kembali ke Jepang.

Pada tahun 1629, seorang perwira muda berusia 16 tahun Pieter Contenhoeff jatuh cinta pada Saartje yang berusia 16 tahun. Dan cinta pemuda tanpan ini mendapat balasan dari si dara yang berwajah molek. Dengan menyogok beberapa budak dan pembantu rumah tangga, si perwira berhasil masuk ke ruang tidur gadis itu. Di situ walaupun di hadapan budak-budak, pasangan yang tengah dilanda asmara itu melakukan hubungan badan berkali-kali.

Jenderal Coen, yang kemudian mendengar peristiwa yang dianggapnya memalukan itu, langsung membawa keduanya ke pengadilan. Si pemuda dihukum mati di balaikota. Sedangkan Saartje disiksa dan dipermalukan di halaman tengah balaikota. Konon, bagian atas badannya dipertontonkan pada umum. Sang ayah, setelah mendengar peristiwa itu, menjadi marah besar dan bersumpah akan membalas dendam. Dalam suasana demikian itulah Coen meninggal dunia, hingga diisukan dia mati ketakutan.
Kembali ke asal muasal nama Betawi, pada tahun 1858 di Jakarta terbit surat kabar Betawi yang mempergunakan huruf Latin dan Arab bernama Pemberita Betawi. Novel-novel di abad ke-18 dan 19 lebih banyak menyebutkan nama Betawi katimbang Batavia.
Pada tahun 1870, Raden Arya Sastradarma dalam karangannya, Kawontenan Ing Nagari Betawi, menyebutkan masyarakat luas di Batavia dalam percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Melayu. Kebanyakan menyebut dirinya orang Slam atau orang Betawi. Laki-laki Betawi ketika itu umumnya mencukur habis rambutnya (gundul).

(Alwi Shahab )