Tuesday, March 21, 2006

Mudik di Jalan Daendels

Hari ini hampir semua pemudik sudah kembali ke Jakarta. Banyak di antara mereka yang mengajak saudara, tetangga, maupun kenalan untuk bekerja di Ibukota, sehingga penduduk Jakarta akan tambah berjubel. Menurut Pemda DKI Jakarta tiap tahun lebih 200 ribu pendatang baru dibawa para pemudik dari kampungnya dan menambah beban Ibukota. Apalagi sebagian besar pendatang baru tidak memiliki keterampilan.

Sejak awal 1970-an gubernur Ali Sadikin sudah menyatakan Jakarta sebagau kota tertutup. Kebijakan ini kemudian diikuti para penggantinya. Tapi, rupanya kagak mempan untuk menahan laju urbanisasi. Entah sudah berapa belas kali dilakukan 'operasi yustisi' guna menjaring para pendatang baru, tapi hasilnya nihil.

Kembali soal mudik, jutaan warga Jakarta rela dan siap menghadapi berbagai kesulitan agar dapat berlebaran di kampungnya masing-masing. Tidak peduli kemacetan atau ongkos angkutan dengan tarip gila-gilaan. Tapi apa yang mereka alami itu sebenarnya tidak ada artinya di banding derita dan pengorbanan rakyat ketika membangun Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan. Jalan sepanjang 1000 km -- sekitar Amsterrdam sampai Paris -- itulah yang dilewati sebagaian besar pemudik saat ini.

Jalan Raya Pos itu diarsiteki gubernur jenderal Willem Herman Daendels. Karenanya, lebih dikenal dengan sebutan Jalan Daendels. Ia satu-satunya gubernur jenderal yang tidak diangkat Ratu Belanda. Tapi oleh Lodewijk Bonaparte, adik Napoleon pada tahun 1808. Ketika itu Belanda berada dalam cengkeraman Prancdis, dan Napoleon mengangkat adiknya sebagak raja Belanda.

Untuk membangun jalan raya sepanjang itu, Daendels dengan kekerasan yang tiada tara mengharuskan para sultan dan bupati agar mengerahkan beribu-ribu pekerja rodi, tanpa imbalan sesenpun. Semua batu untuk peninggian dan pengerasan dibebankan kepada para petani. Sangat berat dan sulit para petani saat mengangkut bahan-bahan untuk jalan raya itu. Apalagi kala belum ada alat-alat berat. Tenaga manusialah yang digunakan untuk mengangkutnya melalui gerobak yang ditarik sapi. Pramoedya Ananta Toer menyebutkan bahwa pembangunan jalan itu merupakan genosida atau pembunuhan secara besar-besaran.

Menurut data dari pihak Inggris tidak kurang 12 ribu pekerja mati terkapar dan menggelepar untuk jalan raya yang kini kita nikmati itu. Sebelum membangun jalan raya tersebut, saat Daendels tiba di Anyer, ia menempuh perjalanan dari Anyer ke Batavia selama empat hari. Setelah ada Jalan Pos hanya ditempuh dalam satu hari, karena saat itu belum diaspal. Sekarang Anyer-Jakarta dapat kita capai dalam satu jam lewat jalan tol.

Sebagai gubernur jenderal yang keras kepala, angkuh dan otoriter, pengagum Kaisar Napoleon dan anak revolusi Prancis ini, pada 12 Nopember 1808 menghancurluluhkan Keraton Surosowan di Banten, yang sampai sekarang puing-puingnya masih dapat kita jumpai. Padahal, saat itu Surosutan merupakan keraton yang megah dan pernah menjadi kediaman 21 sultan Banten. Daendels berang terhadap sikap sultan Banten yang tidak mau mengerahkan rakyatnya untuk jadi korban rodi di Ujung Kulon, yang kala itu berawa-rawa dan menjadi sarang nyamuk malaria. Ribuan pekerja rodi di tempat-tempat lain juga meninggal karena terserang malaria -- penyakkit mematikan kala itu. Kesultanan Islam Banten, sejak masa Batavia-nya JP Coen tidak henti-hentinya mengusik Belanda. Mereka banyak bergerilya dengan markas di sekitar Angke dan Tangerang.

Setelah Jalan Pos dapat diselesaikan dalam waktu hanya satu tahun, jalur dari Batavia-Semarang-Surabaya dapat ditempuh hanya dalam enam hari. Padahal, sebelumnya harus ditempuh selama berbulan-bulan. Kala itu pembangunan Jalan Pos merupakan prestasi yang luar biasa.

Pembangunan Jalan Daendels dari Batavia-Depok-Buitenzorg (Bogor) tidak begitu menghadapi masalah. Tapi ketika jalan harus melewati Cisarua-Puncak-Cianjur terus merambat ke Priangan yang bergunung-gunung dan melewati lembah-lembah, kesulitan terjadi. Dan berkat kegigihan Daendels wilayah itu dapat ditembus. Tentu saja dengan pengorbanan ribuan rakyat kecil yang menjadi pekerja rodi.

Dalam Hikayat Jakarta, penulis Amerika Willard A Hanna melukiskan sosok Daendels. Para petani yang mengenalnya menganggapnya sebagai momok. Para penguasa tradisional menganggapnya sebagai tiran. Sedang orang-orang Belanda di Batavia menganggapnya sebagai pengkhianat, orang yang diragukan dan dibeli oleh Napoleon. Orang Belanda malah lebih suka diperintah oleh Inggris katimbang Prancis. Saking setianya kepada Napoleon, ia pernah mengibarkan bendera Prancis di Batavia.

Sejarah Daendels di Jawa telah berakhir dengan ditariknya ia dari jabatannya pada 1811, atau hampir dua abad lalu. Tetapi, namanya sebagai seorang tiran terkenal hingga kini. Jalan raya yang dibuatnya juga tetap terbentang merupakan contoh hasil kekerasan hati perencananya. Jalan yang begitu panjang tersebut melintasi pegunungan-pegunungan, menerobos hutan balantara, jurang-jurang terjal, pantai yang panjang dan lembah yang membentang.

Demi pembangunan jalan itu ribuan pekerja mati dan menderita. Mereka adalah rakyat kecil, yang sampai kini tetap menderita. Karena, itulah kita harus mengingat pengorbanan mereka. Semestinya pemerintah kini berusaha keras untuk memakmurkan mereka. Bukankah Bung Karno sering berkata, ''Kemerdekaan merupakan jembatan emas menuju kemakmuran.''

(Alwi Shahab )

Rebana, Ya Robbana...!

Jakarta sudah berkembang menjadi kota megapolitan, tapi kesenian rebana masih tetap mendapat tempat di hati masyarakatnya. Di tiap kampung yang ada pesantren, madrasah, majelis taklim, dan masjid dapat kita jumpai kesenian rebana, yang sering meraikan suasana acara Maulid Nabi atau khitanan.

Menurut seniman Betawi, Yahya Andi Saputra, rebana sampai ke Betawi dibawa oleh balatentara Kerajaan Islam Mataram pimpinan Sultan Agung ketika dua kali menyerang kota Batavia (1628 dan 1629). Lepas dari kegagalan untuk menaklukkan VOC, tapi banyak punggawa Mataram yang kemudian menetap di Jakarta. Di antaranya menjadi mubaligh yang handal dan mewariskan sejumlah masjid tua.

Rebana biang
Kata rebana, konon berasal dari kata ''Robbana'', yang berarti ''Tuhan kami''. Lama kelamaan alat musiknya disebut rebana, atau mengucapkannya dengan lafal robana, seperti di Ciganjur, Kebayoran Lama, dan Pondok Pinang. Di Jakarta, terdapat ratusan grup rebana dan kasidahan. Di samping manggung pada acara keagamaan, mereka juga menerima panggilan main pada acara-acara hiburan. Setiap grup rebana punya lagu yang berbeda. Bahkan kini, di samping menyanyikan lagu-lagu berirama padang pasir (Timur Tengah), juga lagu Melayu dan dangdut. Terutama dimainkan oleh grup ''rebana biang''--karena rebananya besar.

Rebana hadroh
Juga terdapat rebana hadroh. Kekhasannya adalah terdapat Adu Zikir. Di sini tampil dua grup yang silih berganti membawakan syair Diwan Hadroh. Grup yang kalah umumnya karena kurang hafal ketika membawakan syair. Dahulu, dalam grup ini turut serta Mudehir yang sejak kecil tunanetra. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana di Kampung Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Tetangganya seorang Betawi kaya dan punya pabrik batik. Tiap hari Mudehir mendengar kesibukan buruh yang kerja di pabrik batik cap itu. Suara hentakan bertalu-talu para buruh membangkitkan inspirasi dan imajinasi pada Mudehir. Semakin didengarkan, suara-suara itu kian memperkaya batinnya.

Suatu hari dia diajak bermain rebana oleh grup hadroh, yang bagi dia iramanya terdengar tidak asing. Mirip dengan suara-suara yang tiap hari didengarnya di pabrik batik cap. Rebana ini pernah ada di kampung Grogol, Kebayoran Lama, Kalibata, Duren Tiga, Utan Kayu, Kramat Sentiong, dan Paseban. Medehir, aktif mengembangkannya. Namun, setelah dia meninggal pada 1960, pamornya meredup.

Rebana burdah
Jenis lainnya adalah Rebana Burdah. Dikembangkan keluarga Ba'mar. Mereka berasal dari Hadramaut. Keluarga ini tinggal di Kampung Kuningan Barat, Mampang Parapatan, Jakarta Selatan. Sesepuh keluarga Ba'mar yang melahirkan kesenian rebana burdah adalah Sayid Abdullah Ba'mar, seorang kaya raya. Di masa jayanya, dia adalah pemilik sebagian besar tanah di kawasan segi tiga emas, Kuningan, dan Jl Gatot Subroto, Jakarta.

Tuan tanah dan peternak ratusan sapi itu menganjurkan semua anak cucunya belajar rebana burdah. Lagu-lagu yang dinyanyikan diambil dari syair Al-Busyiri, berupa puji-pujian kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sementara di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, muncul kesenian rebana maukhid. Yang mengembangkan adalah Habib Husein Alhadad, juga dari Hadramaut. Profesinya sehari-hari mubaligh. Untuk memeriahkan tablighnya, Habib bershalawat diiringi rebana. Syairnya diambil dari karya Habib Abdullah Alhadad, seorang sufi besar dari Hadramaut, yang karya-karyanya dijadikan rujukan di pesantren-pesantren dan majelis taklim. n

( alwi shahab )