India menjadi satu negara pembuat film terkemuka di dunia. Tidak kurang dari 800 hingga 1.000 film cerita diproduksi Bollywood--Hollywood-nya India--yang berpusat di Mumbai (Bombay). Tingginya produksi film mereka, menggiring jutaan orang India tiap hari pergi ke bioskop-bioskop. Film Bollywood juga diekspor ke-50 negara di dunia, termasuk Indonesia. Di industri film, umat Islam juga banyak berperan. Pernah disebutkan sekitar 30 persen pelaku industri hiburan ini adalah Muslim. Mulai dari aktor, artis, sutradara, penulis cerita, skenario, sampai produser. Belum lagi para kru film.
Para bintang
Gemerlap bintang film Muslim pun bertebaran di langit Bollywood. Dalam era 1950-an sampai 1970-an, misalnya, dikenal Dilip Kumar yang beberapa kali dinobatkan sebagai aktor terbaik India. Sedang para artisnya antara lain Nargis dan Madhubala yang pada 1960-an dapat julukan ''venus dari India''.
Sedangkan Zeenat Aman yang pernah jadi Miss India, sampai 1980-an telah berakting di ratusan film. Demikian pula artis cantik Waheeda Rehman, yang sampai kini masih main memerankan tokoh ibu. Sama seperti Farida Jalal, yang berperan sebagai ibu Shah Rukh Khan dalam film Kuch Kuch Huta Hai. Tak kalah tenar, Shabana Azmi.
Ada beberapa produser Muslim yang film-filmnya oleh Hollywood dicalonkan sebagai peraih Piala Oscar di Amerika untuk kategori film asing. Pada 1950-an, diraih oleh film Mother India yang disutradarai dan diproduksi Mehboob Khan; pada 2002, Laagan, produksi Aamir Khan; dan tahun ini, terpilih film Paheli, dibintangi Shah Rukh Khan, sekaligus sebagai produsen.
Shah Rukh Khan yang melakukan debut filmnya pada 1991, sampai kini menempati peringkat teratas di antara para bintang India. Bersama sutradara Azis Mirza dan artis Juhi Chaula, ia juga mendirikan perusahaan film Dreamz Unlimited.
Masih ada lagi sutradara wanita, Farah Khan, yang sekaligus sebagai kreografi terkenal. Ia sering mendapat penghargaan untuk bidangnya ini. Seperti dalam film Kuch Kuch Hota Hai dan Kabhi Kushi Kabhi Gam. Selain Aamir Khan dan Shah Rukh Khan (pernah berkunjung ke Indonesia 2002), sejumlah bintang Muslim lainnya termasuk 10 besar aktor top Bollywood. Sebut saja misalnya, Saif Ali Khan, yang tahun ini terpilih sebagai aktor terbaik India. Dia adalah putra artis era 1970-an, Sharmila Tagore, dan atlit kriket India, Mansoor Ali Khan.
Termasuk aktor papan atas India adalah Salman Khan, yang namanya sudah tidak asing bagi pecinta Bollywood di Indonesia. Ayahnya, Salim Khan, adalah penulis cerita kenamaan di India, di samping pencipta lagu Majrooh dan Kaifi. Di deretan produser juga terdapat Feroz Khan. Sementara putranya, Fardeen Khan, kini tengah menanjak karirnya di Bollywood.
Hampir seluruh film India diwrnai nyanyian. Di antara para musisi India tercatat nama AR Rehman, yang lagu dan musik ciptaannya dalam film Laagam dan Devdas terpilih sebagai pemusik terbaik. Sedangkan pada dekade 1960-an dan 1970-an, terkenal musisi Naushad Ali. Kini muncul sejumlah sutradara muda beragama Islam. Seperti Sohan Shah dan Aneez Baznee, yang juga menjadi penulis skenario. Sementara Javed Akhtar berada di antara belasan pembuat syair untuk lagu-lagu dalam film Bollywood.
Potensi minoritas
Sekedar mengingatkan, India memiliki populasi Muslim kedua terbesar di dunia setelah Indonesia. Walaupun mereka termasuk golongan minoritas, tapi sekitar 13 persen (130 jiwa) dari sekitar satu miliar penduduk negeri Hinndustan itu beragama Islam.
Bahkan, Prof APJ Abdul Kalaam, merupakan presiden keempat India yang beragama Islam. Dia adalah ilmuwan Muslim yang punya prestasi dalam meningkatkan kemampuan negaranya untuk berswasembada dalam ilmu, industri, dan riset pertahanan. Juga tercatat sebagai salah satu ilmuwan India yang menjadikan negara itu muncul menjadi kekuatan nuklir dunia yang diperhitungkan.
Tentunya, masih banyak orang Muslim hebat di India. Begitu juga yang terjun di dunia film itu tadi. Mudah-mudahan, ke depan, film-film Bollywood pun menjadi ''islami'' dan rahmatan lil'alamin. Tidak terus hanyut dalam dominasi adegan yang mengeksploitasi aurat dan moral bejad.
( alwi shahab )
Tuesday, March 21, 2006
Dari Hotel Jadi Bina Graha
Sulit memperkirakan gedung berlantai dua dan beratap genteng seperti terlihat dalam gambar adalah gedung Bina Graha, salah satu tempat kegiatan presiden sehari-hari. Fotografer Woodbury & Page mengabadikan gedung ini pada awal 1870-an, saat masih menjadi Hotel der Nederlanden.
Letaknya di samping kanan Risjwijk Palace (kini Istana Negara) di Risjwijk (kini Jl Veteran), Jakarta Pusat. Di halamannya terlihat para petugas hotel dengan pakaian seragam dan beberapa sado, yang tengah menunggu penumpang. Maklum kala itu mobil belum nongol, hingga taksi digantikan kendaraan berkuda.
Hotel der Nederlanden, kala itu merupakan hotel termewah di Batavia, sebelum dibangun Hotel des Indes pada dekade pertama abad ke-20. Hotel ini memiliki pekarangan luas hingga ke Medan Merdeka Utara. Sekarang merupakan bagian dari Gedung Dewan Pertimbangan Agung (DPA), yang juga dibangun 1980. Sebelumnya gedung DPA yang berada di tempat sama masih sederhana. Presiden Soekarno di samping Panglima Tertinggi (Pangti) ABRI, Pemimpin Besar Revolusi (PBR), juga ketua DPA. Setelah Demokrasi Terpimpin (Juli 1959), banyak keputusan penting dilaksanakan dari gedung DPA.
Sementara Presiden Soeharto lebih banyak melakukan kegiatan sehari-hari di Bina Graha. Di gedung ini Soeharto setiap Selasa, memimpin sidang kabinet bidang Ekuin, di samping menerima para menteri dan tamu-tamu penting. Sebelumnya gedung ini merupakan rumah besar dan vila milik Pieter Tenzy (1796). Kemudian dijual pada Mr WH Van Isseldijk, anggota Dewan Hindia Belanda.
Raffles (1811-1816), memilih sebagai tempat tinggalnya di Batavia, saat Kerajaan Inggris menguasai Pulau Jawa. Hingga dinamakan Gedung Raffles. Sekalipun dia lebih sering tinggal di Istana Buitenzorg (Bogor) yang berhawa sejuk. Bertolak belakang dari Bogor sekarang dijuluki kota 'sejuta angkot' dan lalu lintasnya semrawut. Pada 1840 menjadi 'Hotel Place Royal' dengan pemiliknya Johannes Petrus Fals. Empat tahun kemudian (1846) namanya diganti jadi Hotel der Nederlanden.
Pada tahun 1950-an, ketika nama-nama asing di indonesiakan, lebih-lebih yang berbau kolonial namanya jadi Hotel Dharma Nirmala. Karena berdampingan dengan istana, Bung Karno menjadikannya sebagai Markas Cakrabirawa, pasukan elit pengawal Presiden. Setelah peristiwa G30S, Cakrabirawa dibubarkan dan pengawalan Presiden dialihkan pada CPM. Seorang pendatang dari Belanda ketika keliling Batavia awal abad ke-20 menulis: ''Di Rijswijk kami melewati beberapa hotel besar, rumah makan Departement van Binnelandse Bestuur (kini Depdagri), Istana Gubernur Jenderal, dan Kementerian Kehakiman.
Semua bangunan itu dicat putih dan dihiasi oleh pilar-pilar di terasnya. Berkilauan ditimpa cahaya matahari dengan latar belakang alam tropis yang hijau. Dari hotel-hotel di Rijswijk kami amat terkesan pada Hotel der Nederlanden walaupun hanya dilihat dari luar.''Selanjutnya ia menulis: ''Kami benar-benar terkesan pada Rijwijk dan daerah seberangnya Noordwijk (Jl Juanda) dengan toko-toko vilanya serta kafe. Semua tampak mewah dan indah, terutama pada saat kami berpapasan dengan kereta kuda pribadi dengan para kusir pribumi berseragam yang indah. Para perwira, penduduk, wanita yang berkuda, dan aneka pakaian penduduk pribumi serta Tionghoa dengan pakaian Timur mereka sangat menyegarkan mata.''
(Alwi Shahab, wartawan Republika )
Letaknya di samping kanan Risjwijk Palace (kini Istana Negara) di Risjwijk (kini Jl Veteran), Jakarta Pusat. Di halamannya terlihat para petugas hotel dengan pakaian seragam dan beberapa sado, yang tengah menunggu penumpang. Maklum kala itu mobil belum nongol, hingga taksi digantikan kendaraan berkuda.
Hotel der Nederlanden, kala itu merupakan hotel termewah di Batavia, sebelum dibangun Hotel des Indes pada dekade pertama abad ke-20. Hotel ini memiliki pekarangan luas hingga ke Medan Merdeka Utara. Sekarang merupakan bagian dari Gedung Dewan Pertimbangan Agung (DPA), yang juga dibangun 1980. Sebelumnya gedung DPA yang berada di tempat sama masih sederhana. Presiden Soekarno di samping Panglima Tertinggi (Pangti) ABRI, Pemimpin Besar Revolusi (PBR), juga ketua DPA. Setelah Demokrasi Terpimpin (Juli 1959), banyak keputusan penting dilaksanakan dari gedung DPA.
Sementara Presiden Soeharto lebih banyak melakukan kegiatan sehari-hari di Bina Graha. Di gedung ini Soeharto setiap Selasa, memimpin sidang kabinet bidang Ekuin, di samping menerima para menteri dan tamu-tamu penting. Sebelumnya gedung ini merupakan rumah besar dan vila milik Pieter Tenzy (1796). Kemudian dijual pada Mr WH Van Isseldijk, anggota Dewan Hindia Belanda.
Raffles (1811-1816), memilih sebagai tempat tinggalnya di Batavia, saat Kerajaan Inggris menguasai Pulau Jawa. Hingga dinamakan Gedung Raffles. Sekalipun dia lebih sering tinggal di Istana Buitenzorg (Bogor) yang berhawa sejuk. Bertolak belakang dari Bogor sekarang dijuluki kota 'sejuta angkot' dan lalu lintasnya semrawut. Pada 1840 menjadi 'Hotel Place Royal' dengan pemiliknya Johannes Petrus Fals. Empat tahun kemudian (1846) namanya diganti jadi Hotel der Nederlanden.
Pada tahun 1950-an, ketika nama-nama asing di indonesiakan, lebih-lebih yang berbau kolonial namanya jadi Hotel Dharma Nirmala. Karena berdampingan dengan istana, Bung Karno menjadikannya sebagai Markas Cakrabirawa, pasukan elit pengawal Presiden. Setelah peristiwa G30S, Cakrabirawa dibubarkan dan pengawalan Presiden dialihkan pada CPM. Seorang pendatang dari Belanda ketika keliling Batavia awal abad ke-20 menulis: ''Di Rijswijk kami melewati beberapa hotel besar, rumah makan Departement van Binnelandse Bestuur (kini Depdagri), Istana Gubernur Jenderal, dan Kementerian Kehakiman.
Semua bangunan itu dicat putih dan dihiasi oleh pilar-pilar di terasnya. Berkilauan ditimpa cahaya matahari dengan latar belakang alam tropis yang hijau. Dari hotel-hotel di Rijswijk kami amat terkesan pada Hotel der Nederlanden walaupun hanya dilihat dari luar.''Selanjutnya ia menulis: ''Kami benar-benar terkesan pada Rijwijk dan daerah seberangnya Noordwijk (Jl Juanda) dengan toko-toko vilanya serta kafe. Semua tampak mewah dan indah, terutama pada saat kami berpapasan dengan kereta kuda pribadi dengan para kusir pribumi berseragam yang indah. Para perwira, penduduk, wanita yang berkuda, dan aneka pakaian penduduk pribumi serta Tionghoa dengan pakaian Timur mereka sangat menyegarkan mata.''
(Alwi Shahab, wartawan Republika )
Subscribe to:
Posts (Atom)
