Saturday, October 21, 2006

'Perang Salib' di Selat Malaka

Kini makin marak pagelaran Jakarta tempo doeloe. Yang menggembirakan adalah semakin banyak masyarakat yang ingin mengetahui sejarah kota Jakarta yang sudah berusia hampir lima abad. Sayangnya, sejauh ini lebih banyak ditampilkan sejarah saat-saat penjajahan Belanda. Bahkan di Museum Sejarah DKI Jakarta sendiri hampir tidak terdapat peninggalan-peninggalan sejarah di masa Sunda Kalapa, Jayakarta, maupun Portugis. Padahal penjajahan di Indonesia diawali dengan kedatangan orang-orang Portugis pada abad ke-15.

Sebelum tiba di Indonesia, Portugis telah terlibat perangdengan orang Islam di Spanyol dan Timur Tengah (Perang Salib). Tidak heran dalam suasana demikian, mereka tiba di Nusantara dengan rasa benci terhadap Islam. Kala itu, Sunda Kalapa berada di bawah kekuasaan Pajajaran yang beragama Hindu/Budha. Pajajaran yang juga tidak senang terhadap pengaruh Islam, akhirnya melakukan kerja sama dengan Portugis, sebelum negara di Eropa Selatan ini diusir dari Teluk Jakarta oleh Falatehan pada Juni 1527. Kala itu, Portugis pada 1511 telah menaklukkan Malaka. Kala itu, pusat perdagangan rempah-rempah dari kepulauan Indonesia berlangsung di Selat Malaka. Sebagian besar diangkut oleh para pedagang Arab ke pelabuhan-pelabuhan di Laut Merah.

Dengan alasan mengambil alih monopoli para pedagang Arab, Portugis menaklukkan Malaka. Ketika menduduki Malaka, Portugis mengerahkan kekuatan 1200 prajurit dan 18 buah kapal. Sebelumnya terlebih dulu menaklukkan Goa di India. Mengapa Goa begitu mudah ditaklukkan? Itu akibat perjanjian persahabatan antara Kerajaan Hindu setempat dengan Portugis, untuk menghadapi Islam yang dianggap sebagai musuh bersama.

Bagaimana eratnya motif dagang dan agama dikemukakan oleh d' Albuquerque -- panglima Portugis ketika memberikan pengarahan kepada anak buahnya, ..... jasa yang akan kita berikan kepada Tuhan kita dengan mengusir orang Moor (Islam-Arab) keluar dari negeri ini adalah memandulkan agama Mohamed sehingga api itu tak akan pernah menyebar lagi sesudah itu. (Mr Hamid Algadri, Politik Belanda terhadap Islam dan keturunan Arab di Indonesia).

Sementara itu, ketika Portugis menaklukkan Malaka, Islam sudah menyebar di kepulauan Nusantara. Karenanya, ketika Portugis melakukan kerja sama dengan Pajajaran dengan membangun loji (benteng) di Sunda Kalapa, para tokoh Islam merasa tersinggung. Dalam suatu pertemuan di Cirebon, para walisongo sepakat untuk menghukum Pajajaran dan Portugis. Tugas diserahkan kepada Pati Unus yang kemudian menunjuk Fatahillah Khan sebagai panglima perang. Setelah mengusir Portugis dan menaklukkan Pajajaran (1527), berakhirlah kerajaan Hindu di Nusantara.

Kita kembali dulu ke saat-saat perjanjian kerja sama pertahanan Portugis-Pajajaran, yang berpusat di Pakuan (Bogor). Untuk mencapai ibukota Pajajaran ini, ekspedisi Portugis menempuh jalur sungai (Ciliwung) selama dua hari dua malam. Tapi pihak Portugis ingin datang ke pusat rempah-rempah, di Indonesia bagian Timur. Maka berlayarlah ekspedisi Portugis terdiri dari tiga kapal menuju kepulauan Maluku. Salah satu kapalnya (El Sabaya) tenggelam di Pulau Sakudi di dekat Madura.

Menurut sejarawan dan pimpinan Lembaga Persahabatan Indonesia-Portugal, Rushdy Hoesein, kini ada upaya-upaya untuk mengadakan penelitian dan mengangkat kembali kapal abad ke-16 yang tenggelam itu. Menurutnya, ketika tenggelam kapal itu membawa berbagai barang hadiah untuk para sultan di Indonesia bagian Timur. Dua kapal lainnya berhasil sampai ke Indonesia Timur. Kala itu rempah-rempah merupakan komoditi penting di Eropa untuk mengawetkan daging dan melawan hawa daging. Portugis mendapatkan jalan ke jalur pusat rempah-rempah dari seorang pedagang Romawi yang mereka tangkap di Malaka.

Jalur pelayaran rempah-rempah tersebut dirahasiakan Portugis. Tapi rahasia itu dibocorkan oleh Heaygen van Linschaten, seorang warga Belanda yang menjadi pegawai di kapal Portugis.

Ketika Malaka ditaklukkan Portugis -- dengan motif dagang dan agama -- pada ab ad ke-16 perang salib di Timur Tengah masih berlangsung, dan di daerah itu pada akhirnya orang Kristen menderita kekalahan yang menentukan. Rupanya semangat perang salib juga berpengaruh di Nusantara.

Terlihat dari tiga kali ekspedisi pasukan-pasukan Islam dari Tanah Jawa (Jepara dan Demak) serta Sumatera (Aceh) menyerang Malaka. Diantaranya dipimpin oleh Pati Unus sendiri. Sekalipun gagal dalam mengusir Portugis dari Malaka karena persenjataan yang tak seimbang, tapi semangat jihad mereka untuk mengusir penjajah patut diacungi jempol.

Menurut Mr Hamid Algadri, penyebaran Islam di kepulauan Indonesia yang begitu cepat sering dipertanyakan setelah Majapahit jatuh dan Demak berdiri. Jawabannya adalah: Agama Islam telah tersebar lama di Pulau Jawa sejak masa Kerajaan Hindu Majapahit. Jauh sebelum orang Portugis, Belanda, Inggris dan Prancis, memasuki kepulauan Indonesia.

Dari tulisan peneliti sejarah Barat dapat ditarik kesimpulan, bahwa orang Arab sudah mencapai Indonesia sebelum Islam. Sesudah Islam hubungan terus berlangsung. Hubungan itu demikian eratnya sehingga banyak kerajaan di pantai Jawa didirikan oleh orang keturunan Arab. Dan, mereka memainkan peranan penting dalam penyebaran Islam.

(Alwi Shahab )

Cobra Jinakkan Preman

Di Jakarta dan berbagai daerah kini bermunculan spanduk-spanduk dengan huruf besar, Rakyat Menolak Premanisme. Spanduk-spanduk itu menunjukkan kebencian rakyat terhadap preman, bahkan mereka dianjurkan untuk melawan, sekalipun kenyataannya kejahatan para preman makin mengganas.

Meskipun ratusan di antara mereka telah didor, preman terus ada. Kapolri Jenderal Pol Sutanto juga memiliki target untuk memerangi dan memberantas preman, tapi berbagai tindak kejahatan terus terjadi. Akibat keadaan Jakarta yang tidak aman, banyak investor yang menghentikan niatnya untuk menanamkan modal di sini.

Melihat premanisme yang sudah makin menakutkan, saya teringat pada satuan Cobra pada tahun 1950-an dan awal 1960-an. Pimpinan organiasi ini adalah putra kelahiran Bangka, Kemang, Jakarta Selatan. Dia seorang militer. Ketika membentuk Cobra ia berpangkat Kapten dan anggota KMKBDR (Komando Markas Kota Besar Dajakarta Raya). Ia dibesarkan di daerah Senen, Jakarta Pusat. Sampai akhir hayatnya (meninggal 9 September 1982 dalam usia 59 tahun), ia lebih dikenal dengan sebutan Kapten Syafi'ie -- sekalipun kala itu sudah berpangkat Letkol.

Tapi, sebelum kita menguraikan keberhasilan Cobra dalam memberantas preman, sebaiknya kita mendatangi kawasan Kampung Melayu Kecil dekat majelis taklim dan perguruan At-Thahiriyah. Sampai tahun 1970-an, di sini terdapat Gang Alhadad, namun kini sudah berganti nama. Nama ini mengacu pada nama tokoh masyarakat Sayyid Muhammad Alhadad.

Keturunan Arab dari Hadramaut itu memiliki kemampuan ilmu silat. Lalu kepandaiannya itu diturunkan pada putranya, Sayyid Abdulkadir Alhadad. Orang lebih banyak memanggilnya Mi Kadir. Menurut cucunya, Umar Alhadad (64), diantara para murid kakeknya terdapat Imam Syafi'ie atau Bang Pi'ie.

Beberapa jagoan Betawi seperti H Dahrif dari Klender, Bekasi, KH Mohd Nur dari Pondok Rangon, Bekasi, termasuk murid Sayyid Kadir. Menurut tokoh Betawi, H Irwan Sjafiie (77), yang pernah dekat dengan Imam Syafi'ie, selain ahli main pukulan, Mi Kadir juga memiliki bermacam ilmu, dan tentu saja ilmu agama. Di kediamannya di Jatinegara, kata H Irwan, dia menyediakan kamar khusus bagi muridnya, Imam Syafi'ie.

Begitu berwibawa dan kharismatiknya Sayid Abdulkadir Alhadad ini, hingga bila ada keributan antar-jagoan, dia cukup mengirimkan utusannya dan menyampaikan salamnya. Dan, hanya dengan menyebut namanya, keributan sudah berakhir. Sayyid Abdulkadir lahir di Jatinegara tahun 1896 dan meninggal dalam usia 62 tahun. Ketika almarhum sakit hingga wafatnya, Letkol Syafi'ie, yang kala itu tengah menempuh pendidikan di SESKOAD Bandung, tiap Sabtu dan Minggu mendatanginya. Termasuk membantu ongkos pengobatannya.

Baiklah kita kembali ke organasasi keamanan Cobra. Ada kisah tersendiri dia menamakan demikian. Pada pertengahan 1950-an di bioskop REX Senen (kini pertokoan) tengah diputar film Darna. Film Pilipina yang jadi box office di Jakarta itu banyak menampilkan ular cobra. "Kebetulan kala itu Bapak juga ikut dalam orkes melayu yang bernama Cobra," tutur Asmawi Syafi'ie (62), putra Imam Syafi'ie, kepada penulis beberapa waktu lalu.

Anggota Cobra banyak dari kalangan pejuang kemerdekaan yang pada masa revolusi fisik menjadi anak buahnya. Sayangnya, setelah kemerdekaan banyak di antara pejuang itu yang tidak mendapat tempat di militer. Agar jangan sampai mereka 'salah jalan' oleh Bang Pi'ie mereka dikumpulkan dalam Cobra.

Cobra melakukan disiplin yang sangat keras terhadap para anggotanya. Menurut Asmawi, anggota yang menyeleweng seperti melakukan kejahatan akan ditindak tegas. Tapi, terlebih dulu ditanyakan kepadanya alasan perbuatannya. Jika alasannya tidak punya pekerjaan dan modal, maka Bang Pi'ie memberinya modal. Tapi, jika setelah mendapatkan bantuan orang bersangkutan kembali melakukan kejahatan, tidak akan diberi ampun.

"Biasanya bapak memukulnya dengan buntut ikan pari yang berduri tajam dan bergerigi. Hukuman itu lebih baik dibandingkan kalau ayah memukul dengan tangan. Apalagi tangan kirinya yang menyimpan pukulan maut. Tidak peduli orang sekuat apapun, dia tidak akan tahan menghadapi pukulan tangan kiri bapak," ujar putranya.

Menurut Haji Irwan, yang pernah dekat dengan almarhum, sukses Cobra dalam membantu menciptakan keamanan di Jakarta tidak lepas dari pendekatan Bang Pi'ie. Termasuk kedekatannya dengan ulama, yang di Betawi kala itu merupakan tokoh yang dihormati. "Saat itu banyak toko dan tempat hiburan di Jakarta yang menempatkan foto Imam Syafi'ie. Biasanya diletakkan dekat meja kasir," ujar Asnawi.

Menurut Irwan, adanya foto jago Betawi itu biasanya merupakan jaminan bahwa tidak ada yang berani mengganggu tempat tersebut. Para preman Jakarta kala itu benar-benar dikendalikan dan hampir-hampir dibuat tidak berkutik oleh Cobra. Sebagai contoh, seorang yang kehilangan atau kecopetan di suatu tempat, ia dapat mengadukan kepada tokoh masyarakat setempat. Biasanya barang yang dicuri atau dicopet itu bisa ditemukan dalam beberapa hari. Dalam mengamankan Jakarta, Imam Syafi'ie berpegang pada prinsip, "Cari makan di Jakarta silahkan. Tapi kalau ganggu gue jangan macam-macam."

Imam Syafi'ie, dalam mengamankan Jakarta, mendapatkan bantuan dari dua orang tangan kanannya, Ahmad (Mad) Bendot dan Saumin, Keduanya juga sangat ditakuti. Mengingat jasa-jasanya semasa revolusi dan mengamankan Jakarta, Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) pernah mengusulkan agar nama salah satu jalan di kawasan Senen mengabadikan nama Imam Syafi'ie.


(Alwi Shahab)

Mandi Merang Nyambut Puasa

Jakarta tahun 1950-an masih penuh pepohonan. Tidak gersang seperti sekarang. Air sungai Ciliwung yang membelah kota Jakarta masih bersih. Demikian pula sejumlah sungai lainnya. Sungai-sungai itu masih dapat digunakan untuk mandi, mencuci, dan mengambil wudhu. Untuk itu dibangun banyak getek di kiri kanan sungai.

Ada sesuatu yang unik yang kini sudah tidak terdapat lagi di Jakarta. Ketika itu, sehari menjelang bulan suci Ramadhan, di sekitar getek-getek itu, para ibu, termasuk gadis-gadis, dengan berkemben melakukan siraman (mandi keramas) untuk membersihkan seluruh tubuhnya.

Acara siraman itu dengan menggunakan merang, yakni batang padi yang dibakar. Merang itu direndam kemudian dioleskan ke seluuruh tubuh, mulai dari tambut sampai mata kaki. Maklum, kala itu yang disebut shampo belum ada dan belum dikenal. Meskipun banyak juga yang rambutnya berketombe dan kutuan. Tapi nama ketombe juga belum menjadi perbendaharaan bahasa Indonesia.

Siraman dengan air merang bukan hanya dimaksudkan untuk membersihkamn badan, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah membersihkan hati. Kala itu, untuk mandi, sebagian masyarakat masih menggunakan sabun cuci. Sabun yang terkenal kala itu adalah sabun 'cap tangan'.

Kecuali Lifebouy, sabun-sabun mandi seperti Lux dan Camay, harus dibeli dari inang-inang yang berbelanja di Singapura. Waktu itu, untuk membeli barang-barang impor kita mendapatkannya dari para inang yang banyak berbelanja di Singapura. Atau, membeliunya di black market, seperti di Pasar Ular Tanjung Priok.

Kala itu, di bulan puasa (untuk menghormati yang sedang berpuasa), rakyat tidak berbuat sesuatu yang menyolok. Misalnya merokok atau makan minum di luar rumah, yang kini tanpa mengenal malu banyak dilakukan justru oleh mereka yang beragama Islam. Maklum, ketika itu -- khususnya di kampung-kampung warga Betawi -- tak ada warung makanan yang buka selama Ramadhan.

Kini, paling satu dua hari saja warung-warung makanan dan minuman tutup. Kalaupun ingin menghormati bulan puasa, paling-paling diberi semacam krei sebagai kamuflase seolah-olah tutup. Padahal, di dalamnya terjadi kegiatan, tanpa mengindahkan bulan Ramadhan.

Meskipun rakyat Jakarta, khususnya warga Betawi, menyigrakan untuk menyuguh tamu dengan makanan dan minuman. Tetapi bila orang datang bertamu di bulan Ramadhan, pada siang hari, tidak satu tetes air pun suguhan yang akan keluar. Meski air teh sekalipun. Begitu kentalnya rasa keagamaan rakyat Betawi, hingga sejak usia enam tahun mereka dianjurkan untuk berpuasa, sekalipun hanya setengah hari.

Kembali kutika rakyat Betawi menyambut puasa, sehari sebelumnya orang telah mulai bergumbira dengan memukul bedug sepanjang hari hingga magrib. Hanya berhenti sebentar dekat waktu dzuhur dan ashar. Para ibu memasak lebih enak dari hari-hari biasa.

Perkataan ''mencari dalam 11 bulan untuk satu bulan'' masih ada juga yang ditrapkan di Condet hingga kini, tulis Ran Ramelan dalam Condet Cagar Budaya Betawi. Artinya, sebelas bulan lalu orang berusaha sekuat tenaga, dan dalam bulan puasa ini orang bersenang-senang dengan hasil tadi.

Tapi, bagai orang-orang tua kata-kata di atas diartikan, ''Mencari 11 bulan buat satu bulan''. Bagi orang tua-tua, seperti saya alami sendiri ketika tahun 1950-an tinggal di Kampung Kwitang, Jakarta Pusat. Setelah shalat tarawih, biasanya kami terus tadarusan membaca kitab suci Alquran hingga banyak yang tamat tiga kali dalam bulan itu. Mereka tinggal di masjid -- yang sekarang dikenal dengan istilah ihtikaf -- untuk beribadah, tahajud, dan berbagai amalan lainnya hingga subuh. Siangnya mereka tidur.

Kala itu, pada siang dan malam hari, dari rumah-rumah warga terdengar ayat-ayat suci Alquran dibacakan. Seperti H Muasim, seorang alim di Kwitang, benar-benar ingin memanfaatkan ibadahnya. Dia tidak mau menceritakan hal-hal yang buruk, misalnya menggunjing kejelekan orang lain, agar tidak mengurangi pahala puasa, seperti yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW.

Sementara, sebulan sebelum puasa, telah dibentuk suatu panitia 'andilan' atau 'arisan' sapi. Seperti yang terjadi di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, untuk mendapatkan satu kg daging sapi, tiap peserta membayar Rp 1.500 per minggu, selama 40 minggu. Ada yang ikut andilan untuk mendapatkan daging -- yang akan dibagikan 2 hari jelang lebaran -- 3-10 kg. Daging sapi diberikan pada saat-saat orang lagi memasak ketupat.

Ketika itu, harga sapi sekitar Rp 65 ribu per kg. "Kalau kemudian harga daging sapi naik, itu sudah resiko," ujar seorang pimpinan arisan. Hari memotong sapi itu sangat sibuk. Mereka menyebutnya, harian motong kerbo/sapi. Semuya daging dan kepalanya dibagi rata, disaksikan para anggota andilan. Hanya kulitnya tidak dibagikan untuk 'surat merah' -- surat izin memotong hewan. Tradisi ini masih berlangsung, terutama di daerah-daerah pinggiran Jakarta.

Kurang afdhol kalau kita tidak menceritakan kegiatan ibu-ibu memasak untuk keperluan buka dan sahur. Mereka biasanya membuat pacar cina< I> atau kolak, dan kolang kaling untuk tanda berbuka. Selesai shalat magrib dilanjutkan dengan makan nasi beserta lauk pauknya seperti sayur asem, sayur lodeh, kari, semur telor atau daging.


(Alwi Shahab )

Melacak Nama-nama Kampung

Jakarta yang telah berusia lima abad memiliki ratusan nama tempat dan kampung. Berdasarkan kajian arsip, wawancara dengan tokoh masyarakat dan narasumber ternyata penyebutan nama tempat dan kampung itu tidak hanya sekedar nama. Tapi punya riwayat sendiri-sendiri, yang usianya juga sudah ratusan tahun. Seperti nama tempat yang memakai kata 'bukit'. Misalnya Bukit Duri, Bukit Duri Tanjakan, dan Tanah Abang Bukit. Namun, sekarang bekas bukit-bukit itu sudah tak terlihat lagi. Hanya saja, kalau kita bersepeda terasa jalannya menanjak.

Di Jakarta yang berpenduduk lebih 10 juta jiwa juga banyak tempat yang berawal dari kata bulak. Misalnya saja Bulak Rante di Jakarta Timur. Di Jatiwaringin ada Bulak Cabe dan Bulak Sempir. Bulak Temu di Teluk Pucung, Bekasi. Lalu apa arti bulak? Bulak adalah tanah kebun yang dikelilingi sumber air. Maklum di zaman baheula Jakarta juga banyak memiliki resapan air. Kini sumber-sumber air itu sudah 'almarhum'. Bahkan puluhan situ atau rawa juga hilang akibat 'kejahilan'manusia. Banyak sekali nama yang dimulai kata rawa.

Sekarang ini Kebayoran Baru merupakan kawasan elit. Kemacetan terjadi hampir di semua jalan. Mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa Kebayoran berasal dari kata kabayuran. Artinya tempat penimbunan kayu bayur, yang sangat baik dijadikan kayu bangunan karena kekuatannya serta tahan terhadap serangan rayap. Bukan hanya kayu bayur yang biasa ditimbun di kawasan itu pada jaman dulu. Tapi juga berbagai jenis kayu lainnya. Kayu-kaayu gelondongan yang dihasilkan kawasan tersebut dan sekitarnya dianbgkut ke Batavia melalui Kali Krukut dan Kali Grogol, dengan cara dihanyutkan. Maklum kedua sungai itu di masa lalu cukup lebar dan dalam.

Sekitar tahun 1938 di kawasan Kebayoran sempat direncanakan akan dibangun sebuah lapangan terbang internasional, namun batal karena pecah perang dunia kedua (1942-1945). Dan di tempat yang akan dibangun bandara internasional itu lantas dibangun kota satelit Kebayoran Baru (1949). Kala itu arealnya hanya seluas 730 ha yang menurut rencana hanya akan dihuni 100 ribu jiwa. Sekarang ini, dari sekitar 10 juta penduduk Jakarta, beberapa juta tinggal di Kebayoran. Hanya setahun setelah kota satelit dibangun, HAMKA, ulama yang dekat dengan rakyat kecil, membangun Masjid Al-Azhar. Masjid terbesar di Jakarta kala itu sebelum dibangun Istiqlal (Kemerdekaan).

Pengarang FDJ Pangemanann di bukunya menyebutkan bahwa pada abad ke-19 Kebayoran masih berupa hutan belukar. Belum terdapat desa-desa. Hingga Kebayoran dijadikan sebagai tempat pelarian para perampok dan penjahat dari kejaran Kompeni. Menurut Pangemanann, suatu tempat yang bernama Bukit Kebayoran, dijadikan tempat pelarian para penjahat.

Dari Kebayoran kalau kita menuju Tanah Abang melewati Karet Tengsin. Kampung ini sekarang sudah hilang akibat modernisasi kota megapolitan. Nama ini berasal dari nama seorang Cina, Tan Teng Sien. Karena baik hati dan banyak memberi bantuan pada masyarakat, maka Ten Sien cepat dikenal. Di daerahnya ketika itu banyak tumbuh pohon karet. Dan, dinamakan Kampung Karet Tengsin.

Di Karet Tengsin sampai 1960-an banyak berdiri industri batik. Ribuan orang yang terlibat di sekitarnya mendapat tambahan penghasilan sebagai pembatik. Terutama, warga dari daerah Senayan, sebelum dijadikan Gelanggang Olahraga Bung Karno (1962).

Dari Karet Tengsin kita melompat agak jauh ke Kebon Sirih, Jakarta Pusat, yang dibangun awal abad ke-19 sebagai garis pertahanan Van den Bosch. Dari namanya sudah dapat diperkirakan, kawasan itu dahulu merupakan kebun sirih. Sampai awal 1960-an, sirih sangat digemari banyak orang untuk dikunyah-kunyah. Istilahnya makan sirih. Kelengkapannya antara lain adalah kapur (sirih), pinang dan gambir.

Dulu, para nyonya kelas atas umumnya menggemari makan sirih. Karena itu, kalau mereka bepergian disertai empat atau lima orang budaknya yang khusus menyediakan tempat sirih, tempolong (tempat meludah sirih), dan budak yang memayunginya.

Karena kesejukannya, pada pertengahan abad ke-19, Kebon Sirih oleh Belanda dijuluki de nieuwe weg achter het Koningspllein. Atau alam baru di belakang Istana Raja (kini Istana Merdeka). Kemudian, karena di sana tinggal seorang hartawan yang dermawan bernama KF Holle, maka di dekat Kebon Sirih yang kini bernama Jl Sabang disebut Laan Holle.

Sekarang kita makin melompat ke kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Sampai 1950-an, kami dari Jakarta Pusat menyebutnya sebagai tempat 'jin buang anak' karena saking terpencilnya. Nama kawasan tersebut diambil dari kontur tanah dan fauna. Lebak berarti 'lembah', dan bulus adalah 'kura-kura yang hidup di darat dan air tawar'. Jadi dapat disamakan dengan 'lembah kura-kura'.

Dari Lebak Bulus kita menuju ke Petamburan, Jakarta Pusat. Pada masa lalu, ketika rumah penduduk masih jarang, banyak ditumbuhi pohon jati. Suatu waktu terjadi peristiwa yang menjadi cikal bakal nama tempat ini. Yakni, meninggalnya seorang penaruh tambur daerah ini dan dimakamkan di bawah pohon jati, sehingga jadilah Jati Petambutan.

Pada awal abad ke-20 perusahaan pelayanan KPM yang memiliki ratusan armada kapal untuk domestik dan mancanegara membangun sebuah rumah sakit di sini. Karena pada 1950-an KPM dinasionalisasi menjadi Pelni, kini rumah sakit itu terkenal dengan RS Pelni.

(Alwi Shahab )

Tradisi Khatam Quran di Masjid-masjid Tua

Ada tradisi yang sudah berlangsung puluhan bahkan lebih dari satu abad di masjid-masjid tua Jakarta dan Bogor, yakni khatam Alquran di bulan Ramadhan. Masjid-masjid tua itu dikelola oleh para ulama yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Memang tradisi itu berasal dari Hadramaut. Di Indonesia, khususnya Jakarta, tradisi itu diikuti masyarakat luas. Bahkan, lebih 80 persen yang hadir bukan keturunan Arab, yang sekitar 90 persen berasal dari Hadramaut.

Besarnya minat masyarakat terlihat dari membludaknya jamaah. Acara biasanya dimulai dengan berbuka puasa bersama, dilanjutkan dengan shalat Magrib, Isya dan kemudian tarawih. Yang hadir hingga memenuhi pekarangan dan pelataran masjid. Meskipun sudah berlangsung ratusan tahun, ternyata yang hadir jumlahnya makin banyak. Mereka datang bukan hanya dari Jakarta, tapi sekitar Jabotabek, Bogor dan sekitarnya. Yang unik, mereka datang tanpa diundang, karena masjid-masjid yang menyelenggarakan acara itu dari tahun ke tahun waktunya tidak pernah berbeda.

Acara khatam Alquran dimulai dengan buka puasa bersama. Hampir seluruh yang datang ke masjid-masjid mendapat makanan berupa nasi kebuli. Satu nampan nasi kebuli beserta lauk pauknya berupa potongan-potongan daging kambing yang ditabur di atas nampan, biasanya untuk empat atau lima orang. Hidangan lainnya adalah gulai atau semur kambing. Agar tidak takut terkena kolesterol, hidangan dilengkapi acar bawang, ketimun, nenas dan paceri, untuk menetralisir lemak.

Di Masjid Kampung Bandan, acara berlangsung pada malam ke-13 (Jumat malam pekan lalu). Menurut Habib Ali Shatri -- pengurus masjid yang telah berusia lebih 200 tahun itu -- tidak menyebarkan undangan. Tapi, masyarakat sudah tahu bahwa tiap tahun di sini tiap malam ke-13 Ramadhan selalu diadakan acara khatam Quran. Masjid Kampung Bandan terletak antara pelabuhan Sunda Kelapa dan pusat rekreasi Ancol, Jakarta Utara. Di sini dimakamkan Habib Muhammad bin Umar Alqudsi (117 H atau 1705 Masehi), sekitar 300 tahun lalu.

Memang acara ini berlangsung pada malam ganjil, karena dipercaya pada saat demikianlah konon turunnya malam Lailatul Qadar, yang pahalanya melebihi 1000 bulan. Juga sudah menjadi tradisi bahwa pada malam ke-17 kegiatan semacam ini berlangsung di Masjid Kramat Luar Batang, Jakarta Utara. Bahkan jumlah jamaah yang hadir lebih besar. Masjid Luar Batang, Jakarta Utara, yang telah direnovasi atas prakarsa Wagub DKI Jakarta Fauzi Bowo, memang tiap hari banyak diziarahi orang, yang datang bukan hanya dari Jakarta tapi juga dari berbagai tempat di Nusantara. Di dekat masjid di makamkan Habib Husein bin Abdullah Alaydrus. Ia meninggal pada 27 puasa 1169 Hijriah atau 24 Juni 1756. Dia dan Habib Alqudsi (Kampung Bandan) merupakan imigran Hadramaut terdahulu.

Pada malam ke-21 Ramadhan, acara berlangsung di Masjid An-Nur di Empang Bogor. Acara ini juga sudah berlangsung lebih satu abad tanpa henti. Di belakang masjid terdapat makam Habib Abdullah bin Muchsin Alatas, pendiri Masjid Taklim di Bogor. Ia membangun masjid ini pada 1318 H -- bertepatan dengan 1900 M. Ia wafat pada 26 April 1933 dan dimakamkan di sebelah barat masjidnya.

Seperti dikemukakan salah seorang kerabatnya, Habib Abdullah Alatas, ribuan jamaah yang hadir seluruhnya dapat berbuka puasa bersama, tanpa ada yang telantar. Begitu banyaknya jamaah, hingga meluber sampai ke pekarangan dan pelataran masjid. Seperti juga di masjid-masjid lain mereka tanpa diundang. Beberapa rumah di dekat masjid Empang, juga membuka pintu lebar-lebar tanpa pandang bulu menyediakan makanan untuk berbuka. Kecuali di 'rumah besar' makanannya adalah kebuli, di rumah-rumah sekitarnya bervariasi. Ada sayur asem, gado-gado, tahu, tempe, di samping tentunya daging kambing dan ikan.

Dua malam kemudian acara serupa berlangsung di Masjid Al-Hawi, majelis taklim dan masjid yang dirintis oleh Habib Muhammad bin Ahmad Alhadad. Kegiatan yang didatangi ribuan jamaah ini juga sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Sejumlah penduduk disekitar tempat ini juga membuka pintu lebar-lebar bagi mereka yang ingin berbuka puasa bersama. Nama Al-Hawi di ambil dari sebuah tempat di Hadramaut, dimana tinggal pencipta ratib Alhadad, seorang sufi ternama Habib Abdullah Alhadad yang hidup 400 tahun lalu.

Tradisi khatam Quran di masjid-masjid tua masih terus berlangsung. Setelah Al-Hawi, pada malam ke-25 bulan Ramadhan acara serupa berlangsung di Masjid Kwitang, Jakarta Pusat. Acara ini juga sudah berlangsung sejak sekitar satu abad lalu, bila diingat pendiri majelis taklim Kwitang itu meninggal pada tahun 1968 dalam usia 100 tahun. Habib kelahiran Kwitang ini telah berdakwah sejak usia 20 tahun. Kini majelis taklim Kwitang sudah generasi ketiga. Setelah Habib Ali wafat diteruskan oleh puteranya, Habib Muhammad, dan kini cucunya, Habib Abdurahman (65 tahun).

Pada acara khatam Quran para jamaah sudah mulai berdatangan pukul lima sore. Dalam menanti saat berbuka mereka melantunkan ayat-ayat suci Alquran, membaca shalawat, dan berbagai bacaan menjelang magrib. Saat azan magrib berkumandang, mereka minum kopi jahe dan kurma. Dilanjutkan makan nasi untuk kemudian shalat Magrib berjamaah. Diteruskan shalat Isya dan Tarawih. Biasanya ada tokoh ulama setempat yang berkhotbah, mengingatkan agar mereka yang berpuasa juga mengeluarkan zakat untuk membantu manusia yang tidak berpunya.

(Alwi Shahab )

Lilies Suryani Pelantun Gang Kelinci

Penggemar lagu-lagu nostalgia Indonesia pasti sudah tak asing lagi dengan lagu 'Gang Kelinci' yang seolah menjadi salah satu lagu wajib dalam setiap acara 'tembang kenangan'. Lagu pertengahan 1960-an yang bercerita tentang suatu gang di sudut Pasar Baru Jakarta ini pada akhir 1990-an kembali populer melalui lantunan suara Rani, penyanyi yang dikenal sebagai spesialis pelantun lagu nostaligia dan mandarin. Siapakah penyanyi aslinya? Tak lain adalah Lilies Suryani, salah satu penyanyi perempuan paling terkenal di Indonesia pada dekade 1960-an dan 1970-an awal.

Kini, di usianya yang menjelang enam puluh tahun Lilies berjuang melawan kanker mulut rahim yang menderanya sejak beberapa tahun terakhir. Seperti kebanyakan nasib seniman lainnya, salah satu 'diva musik Indonesia' di era 60-an ini harus merelakan hartanya satu persatu dijual untuk biaya pengobatannya di Singapura.

Bagi perempuan bertubuh mungil kelahiran Jakarta 58 tahun silam ini, 'Gang Kelinci' telah menjadi semacam anthem dalam setiap penampilannya baik di layar kaca maupun di panggung-panggung off-air. Hampir serupa dengan Ruth Sahanaya, Titi DJ, dan Krisdayanti yang belakangan ini berkolaborasi dalam ramuan Tiga Diva, Lilies bersama Ernie Djohan dan Tetty Kadi kala itu seolah 'meratui' pasar musik pop Indonesia untuk kategori penyanyi perempuan.

Keberhasilan Lilies sebagai penyanyi tak dapat dilepaskan dari peran Zaenal Arifin, gitaris sekaligus pimpinan band Zaenal Combo, backing group Lilies pada banyak rekaman maupun pentas-pentasnya. Zaenal yang juga berperan besar dalam rekaman-rekaman awal Tetty Kadi paham benar kemampuan olah vokal Lilies yang selain pas dalam lagu-lagu bernuansa pop, juga amat klop ketika menyanyikan lagu-lagu bernapas Sunda dan Melayu. Petikan dan riff-riff gitar Zaenal seolah nyawa yang tak terpisahkan dari lagu-lagu yang didendangkan Lilies. Teknik bermain gitar Zaenal yang unik di lagu Lilies antaranya bisa terdengar di lagu 'Kisah Ali Baba'.

Pada intro lagu tersebut Zaenal memetik senar gitar secara cepat namun tidak ditekan secara penuh sehingga menghasilkan suara gemelitik yang menimbulkan fantasi mistis. Teknik ini juga dilakukan gitaris Edward van Halen dalam 'Eruption'.

Selain 'Gang Kelinci', beberapa lagu Lilies yang populer seperti 'Asmara', 'Ulang Tahunku', adalah ciptaan Titiek Puspa. Namun demikian, bukan berarti ia hanyalah artis yang sekadar pandai dan tahu urusan menyanyi saja. Sejak usia belasan, penyanyi yang sejak dahulu hingga kini berambut cepak ala Connie Francis ini banyak menulis dan menggubah sendiri lagu-lagu yang dibawakanya.

Nomor-nomor seperti 'Lenggang Kangkung', 'Ratapan Sang Bayi', 'Air Mata', 'Tepuk Tangan', dan 'Ujung Pandang' adalah beberapa contoh lagu yang diciptakan sendiri oleh Lilies dan mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Salah satu ciptaannya 'Si Baju Loreng' yang bertemakan kekaguman seorang gadis terhadap seorang anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Ini menjadi lagu yang menjadi pengobar heroisme tersendiri di pertengahan 1960-an.

Sebagai artis muda nan populer pada masanya, biduanita yang kerap tampil menghibur Bung Karno ini juga tidak bebas dari hembusan gosip tak sedap. Pada akhir Juli 1966, pers menuduh Lilies banyak tingkah karena ia dikabarkan meminta disediakan roti tawar saat tampil di Sumedang. 'Lagi-lagi Lilis Bertingkah', demikian judul berita pada harian Suara Merdeka tertanggal 25 Juli 1966 mengutip kantor berita Antara yang menceritakan kerepotan panitia yang harus membeli roti dari Bandung karena tidak ada satu pun yang menjual roti di Sumedang. Diberitakan pula ia minta dijemput dengan polisi pengawal dengan sirine yang harus dibunyikan. Perihal permintaan roti tawar ini Lilies menyatakan bahwa selain dia tidak suka nasi, hal itu dilakukannya atas anjuran dokter berhubung dengan penyakit yang dideritanya. Soal sirine yang harus dibunyikan, Lilies menganggapnya sebagai hal yang wajar jika panitia menghendaki seraya membantah bahwa dirinyalah yang meminta hal tersebut untuk dilakukan.

Selain dikenal dengan lagu-lagu pop dan Sunda, Lilies juga dikenal sebagai pelantun lagu-lagu gambang kromong, lagu khas Betawi. Boleh dikatakan, sebelum Benyamin Suaeb, Lilies Suryanilah penyanyi pertama yang berjasa besar mempopulerkan musik berirama gambang kromong dalam bentuk rekaman. Pada beberapa lagu seperti 'Dikasih Ati Minta Limpe', 'Lagi-lagi Sayur Asem', dan 'Perancang Mode', Lilies menunjukkan keluwesannya melantunkan lirik-lirik yang kocak dan menggoda dengan logat yang menggelitik khas Betawi. Hingga kini lagu-lagu Lilies Suryani baik yang berirama melayu, pop, maupun gambang kromong masih dapat dijumpai di toko-toko rekaman meskipun tidak dalam format album aselinya.

Sebagai orang yang menggeluti dunia tarik suara dan panggung selama tak kurang dari empat dekade, suka duka dalam berkarya sudah kenyang dilakoni oleh Lilies. Dalam penampilannya di TVRI sekira 2005 lalu ia menceritakan nasib sialnya ketika show di Purwokerto pada 1960-an. Selesai manggung, panitia yang mendatangkannya kabur begitu saja. Terpaksalah ia menjual cincin emasnya sebagai ongkos pulang naik kereta api yang kala itu penuh sesak dengan pedagang sayur dan ayam. Beberapa tahun lalu nasib kurang mujur juga sempat menimpa Lilies. Rumahnya dimasuki pencuri yang berhasil membawa beberapa perhiasan emas miliknya. Dalam penuturannya pada media infotainment kala itu penyanyi yang selalu tersenyum ini tetap bersyukur dan menganggapnya sebagai cobaan hidup dan mengikhlaskannya sebagai bagian dari kehendak Sang Maha Pencipta.
Penulis adalah dosen Fak Hukum Unsoed Purwokerto

(Manunggal Kusuma Wardaya/KPMI)

Sikap Tengah-tengah

Dalam situasi negara penuh gejolak seperti sekarang ini, kisah-kisah keteladanan Nabi Muhammad SAW patut direnungkan. Sikap lapang dada, ampunan, dan cinta kasih beliau banyak sekali dan tak berkesudahan.

Beliau adalah sosok pemberi yang tak merasa takut akan kemiskinan. Beliau tak pernah menyimpan uang barang satu dirham. Waktu wafat, baju rantainya masih tergadai pada seorang Yahudi. Rasulullah SAW meringkaskan inti kepribadiannya dengan ungkapan berikut, "Pengetahuan adalah modalku. Akal adalah dasar agamaku dan cinta kasih adalah aliran pahamku. Ingat pada Allah itulah temanku. Adapun keprihatinan, itulah kawanku. Kesabaran adalah busanaku, ilmu senjataku, berjihad adalah perangaiku, dan shalat itulah penawar hatiku."

Bagaimana sederhananya hidup Nabi SAW, istrinya, Aisyah berkata, "Rasulullah tak pernah penuh perutnya oleh makanan. Sebagian besar masanya dilalui dengan berpuasa." Pernah kukatakan kepada beliau, "Kiranya tuan makan secara yang cukup untuk sekadar kenyang."

Beliau menjawab, "Hai Aisyah! Buat apa dunia ini bagiku. Para rekanku, Rasul-rasul Ulul 'Azmi telah bertahan atas hal-hal yang jauh lebih berat daripada yang kurasakan. Kemudian mereka pergi menghadap Allah dan mereka diganjar Allah dengan ganjaran berlipat ganda. Aku malu, kalau sampai menikmati hidup ini, kelak aku tak mencapai martabat mereka. Tak ada sesuatu yang melebihi hasratku untuk mengejar rekan-rekanku itu."

Namun, Nabi SAW tak menolak pemberian hadiah berupa santapan enak atau pakaian yang agak halus. Yang enggan dilakukan ialah mencari-cari kehidupan yang enak, mengangankannya atau memusingkan diri mendapatkannya. Karena itu, beliau membiasakan diri hidup tak berpunya, lapar, dan sekadar yang memadai bagi kehidupannya.

Dengan begitu, beliau dapat memberi suri teladan dari bimbingan Islam itu, yakni sebagai agama yang sedang-sedang saja. Tidak membenarkan hidup memantangkan urusan biologi secara membunuh syahwat. Tetapi tak juga rakus dan lahap memenuhi syahwat.

Insan pun akan bebas dari dominasi diri sendiri dan dominasi orang lain. Itulah kemerdekaan, yaitu membebaskan diri dari segala desakan keinginan, sehingga syahwatnya menaklukkannya untuk mencapai sesuap nasi atau sehelai sandang.

Itulah sikap tengah-tengah. Itulah jalan lurus, sirath almustaqim, yang lebih kecil dari sehelai rambut yang memisahkan antara sikap terlalu mementingkan diri dan terlalu mengabaikannya. Nabi yang tak pandai membaca dan menulis, tapi mengungguli orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Dan orang mulia inilah yang dalam Alquran digambarkan oleh Allah, "Engkau berada dalam perangai yang luhur sekali."

(Alwi Shahab)

Pelabuhan Tanjung Priok 1890

Aktiivitas di Pelabuhan Tanjung Priok dan tiga pelabuhan lainnya awal pekan lalu lumpuh total akibat aksi mogok Organda. Mereka menolak kutipan PPN sebesar 10 persen pada jasa angkutan pelabuhan. Di Priok saja potensi kerugian mencapai Rp 50 miliar. Sejak bulan lalu, Organda juga mengancam untuk mogok karena sudah kagak tahan lagi, terhadap pungli di pelabuhan yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pungli yang dilakukan secara berjamaah ini mengakibatkan kerugian negara miliaran rupiah per tahun. Tapi yang terjadi bukan hanya pungli dan pemerasan terhadap para sopir angkutan yang beroperasi di pelabuhan. Tapi kagak keitung banyaknya penyelewengan lain, yang dilakukan baik secara transparan maupun bisik-bisik. TST (tahu sama tahu) istilah yang dikenal sejak tahun 1950-an bukan rahasia lagi di pelabuhan yang mulai berfungsi 1885. Seperti ekspor dan impor fiktif serta penyelundupan, yang konon mengakibatkan kerugian negara trilyunan rupiah. Yang menyedihkan hampir semua oknum berbagai instansi ikut terlibat.

Baiklah kita simak keberadaan Pelabuhan Tanjung Priok, yang dibangun untuk menggantikan Pelabuhan Sunda Kelapa. Sejak awal dibangunnya Batavia (1619), keberadaan pelabuhan yang terletak di Muara Ciliwung ini menimbulkan banyak masalah. Situasi makin gawat setelah teerjadinya gempa bumi bulan Januari 1699. Hingga mulut pelabuhan terendam pasir dan lumpur. Pada 1827 kapal yang bersandar di Sunda Kelapa semakin jauh dari daratan. Hingga diperlukan perahu-perahu untuk bongkar muat. Akibat biaya bongkar muat yang mahal, pada 1860-an diambil keputusan untuk membangun pelabuhan baru.

Pada waktu hampir bersamaan, mulai banyak berdatangan kapal uap dari Eropa menggantikan kapal layar. Setelah dilakukan survei yang cukup lama, maka dipilihlah Tanjung Priok, 9 km sebelah timur Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai pelabuhan baru. Pembangunan dimulai Mei tahun 1877 dan baru usai keseluruhan tahun 1885 atau 7 1/2 tahun setelah dibukanya Terusan Suez, yang menyebabkan jarak tempuh pelayaran dapat diperpendek.

Ketika pelabuhan Sunda Kelapa hendak dipindahkan ke Priok, banyak kantor dagang dan niaga yang berpusat di Jalan Kalibesar yang memprotes. Karena kala itu, jarak dari Jakarta Kota ke Tanjung Priok dianggap cukup jauh. Di samping itu, ketakutan para pengusaha karena Tanjung Priok merupakan pusat malaria, penyakit mematikan kala itu, hingga mengancam para pekerjanya. Karenanya kantor dagang mereka tetap berada di kawasan Kalibesar yang hingga kini masih kita dapati dan dilestarikan sebagai gedung tua.

Yang terlihat di foto adalah kapal SS Swaerdecroon milik perusahaan pelayaran KPM (Koninklijke Pakeetvaard Maatchappij) yang tengah berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1890. Kapal uap yang tengah sandar di Pelabuhan Tanjung Priok ini beratnya 641 gross tons. Nama kapal ini untuk mengabadikan Hendrik Zwaardecroon, gubernur jenderal VOC (1718-1725).,

Pada 1906 kapal ini dijual pada perusahaan pelayran Jepang, dan namanya dirubah 'Kimigayo Mayo'. Kapal berbendera Jepang ini kemudian melakukan pelayaran dari Batavia ke Shanghai pulang pergi.

KPM sejak 1891 melakukan rute pelayaran di 30 pelabuhan di Indonesia, enam di antaranya melalui Priok. Pokoknya selama ditangani oleh KPM, hampir tidak pernah terjadi kesulitan pelayaran di berbagai kepulauan di tanah air. Pada 1927, KPM memiliki armada sebanyak 136 buah kapal.

KPM dinasionalisasi pada tahun 1957, saat memburuknya hubungan antara RI - Nederland akibat persoalan Irian Barat (Papua). Sejak saat itu bernama Pelni. Bukan hanya KPM, semua perusahaan Belanda di waktu bersamaan juga dinasionalisasi. Para buruhnya memenuhi anjuran Presiden Sukarno untuk mengambil alih semua perusahaan Belanda, yang disiarkan secara luas melalui RRI.

Bung Karno pernah marah, ketika seorang wartawan foto Antara mengambil foto rakyat tengah rebutan 'menyapu' beras yang tercecer dari pelabuhan Tanjung Priok. Bagi Bung Karno foto yang memperlihatkan rakyat tengah rebutan mengambil beras yang tercecer, mencoreng nama baik pemerintah.

(Alwi Shahab)

'Obat Kuat' dari Cina

Laki-laki sebagai superior rupanya kagak mau kalah dengan wanita, termasuk dalam hubungan intim. Pokoknya pria ingin tampil luar biasa. Paling takut kalau sampai dianggap 'loyo'. Karenanya, tidak heran kalau kini sudah tidak terhitung lagi banyaknya kios yang menjual obat kuat. Bukan hanya di Jakarta, tapi seperti layaknya penyakit sudah mewadah sampai ke kota-kota kecil dan daerah pinggiran. Namanya pun beribu macam, terpampang dengan huruf-huruf besar.

Karena umumnya yang dijual obat impor dari Cina, nama kios ikut-ikutan memakai nama Cina. Seperti A Kiong, A Ceng, A Hong, tentu saja dengan mempopulerkan obat-obat yang sudah terkenal seperti Viagra. Menjamurnya kios 'obat kuat', tentu saja karena peminatnya cukup banyak. Obat-obatan Cina, termasuk obat kuat, sejauh ini harganya memang lebih murah katimbang obat produk negara lain. Begitu trend-nya obat kuat Cina, sehingga jamu-jamu lokal yang menawarkan jenis obat yang sama sengaja memakai label buatan Cina.

Kita tidak tahu bagaimana khasiat obat kuat, yang dengan huruf-huruf besar mereka namakan obat hot atau penambah gairah seks. Tapi yang jelas, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPPOM) telah menemukan 15 produk ilegal obat kuat tradisional yang dicampur bahan kimia obat keras sidenafil sitrat. Penggunaannya, menurut BPPOM, harus selalu di bawah pengawasan ketat dokter setelah ada diagnosa pasti tentang disfungsi ereksi. Sampai diingatkan begitu berbahayanya jenis obat ini, mereka yang berpenyakit jantung misalnya, 'bisa mati di ranjang'.

Di antara nama jamu dan kapsul produk ilegal yang dicampur sidenafil sitrat adalah Jamu Sehat Pria Seksi Samiaji, Jamu Pasihot Andalan Pria Perkasa, Obat Kuat dan Tahan Lama Pegasus Kuda Terbang, Penambah Vitalitas Pria -- dan masih banyak lagi dengan nama dan merek seram-seram.

Rupanya, masalah seks mendapat perhatian dalam acara-acara talk show di televisi-televisi. Tidak kalah gencarnya di media cetak, seperti suratkabar, majalah, tabloid, menjadi rubrik, yang banyak penggemarnya. Karena itulah, nama pakar seksologi, seperti Boyke Dian Nugroho, Naek L Tobing, dan Wimpie Pangkahila, tidak kalah popoler dengan pakar-pakar politik, ekonomi dan hukum.

Rupanya kecenderungan semacam itu bukan hal baru. Pada tahun 1960-an dan 1970-an misalnya, di berbagai media juga sering didapati iklan jenis obat kuat. Judulnya juga kagak kalah menyeramkan dari iklan dan reklame di kios-kios obat kuat. Sebuah tabib dari Pakistan di Sawah Besar menjual obat kuat dengan judul, ''Nafsu besar tenaga kurang, seperti rayap makan kayu.'' Sang tabib ingin menawarkan 'keperkasaan' bagi pria yang dikatakannya lemah syahwat.

Ada pula seorang tabib yang menawarkan pria yang dikatakannya tidak 'normal' akan menjadi 'kencang' kembali setelah minum obatnya. Di tahun-tahun tersebut, memang para tabib dari Pakistan yang lebih banyak menjual obat kuat. Termasuk obat dan ramuan untuk para ibu agar 'disayang' sang suami.

Pada tahun 1950-an, beberapa pedagang kaki lima tiap malam menggelar lapak di Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat. Mereka menjual tangkur buaya, yang dikatakannya sebagai obat kuat dan 'tahan lama'. Bentuknya seperti cincin, setelah diminyaki, tengahnya dimasuki benang untuk diikatkan ke pinggang. Pengobatan yang populer di kaki lima tahun 1950-an itu, kini tidak ada lagi. Rupanya sudah kalah populer dengan pengobatan Cina. Apalagi sejak nama Mak Erot dikenal.

Agak ke belakang lagi, pada zaman Belanda juga ada iklan-iklan semacam itu. Seperti di Harian Bentara Hindia (terbit 1921) ada iklan sebuah buku mengenai hubungan suami-istri. Tapi saya sendiri tidak tahu apa arti Wet dan Rrasia -- judul buku itu. Buku itu dicetak tebal, kentara dari isi iklan: Harga satoe boekoe tebel dan format bewsar 15 goelden tambgah ongkos kirim. Pesanan yang disertakan oewangnya, ongkos kirim frij.

Masih iklan obat kuat, ada judul yang tidak tanggung-tanggung, Sjorga Doenia. Coba simak isinya: Satoe waktoe toean perlu boeka? Adalah djagonja dalampertoeloengan yang teroetama boeat orang lelaki jang tidak dapat perindahan tjoekoep dan sempoerna oleh orang prampoean. Tanggoeng lantes terboekti menjenangken bagi jang pake. Ini obat satu does coema F 5 (goelden) dan bisa pake 15 atawa 20 kali. Boeat yang beli 5 does bisa dapet potongan 20 persen.

Rupanya sejak tempo doeloe kaum hawa sudah mendambakan agar memiliki bentuk tubuh langsing dan indah. Sikmaklah iklan di Majalah Sin Po Agustus 1930: Mode sekarang tidak iidzinkan lagi orang berperoet gendoet. Toean-toean dan njonja-njonja akan merasa girang yang kita sedia sematjam band peroet yang dinamaken MAS (Modern Abdominal Supporter). MAS dengan goemilang berhasil ilangkan peroet gendoet, peroet monjong atawa peroet yang bagaimana besar. MAS djoega bikin itu kita poenya badan jadi lempeng.

Rupanya, ketika itu istilah langsing belum dikenal. Sehingga ibu-ibu ingin sekali badannya jadi lempeng. Produk MAS yang gencar diiklankan belum tentu jelas khasiatnya. Tapi, yang pasti iklan semacam itu kini merebak di televisi. Jadi roda zaman memang selalu berputar.


(Alwi Shahab)

Molenvliet (Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada)

Pasti banyak yang tidak mengira bahwa jalan yang tampak begitu lengang, sepi dan asri seperti terlihat dalam foto ini, kini merupakan pusat kemacetan di Ibukota. Photografer Walter Woodbury mengabadikan kawasan Molenvliet pada tahun 1861-2. Molenvliet artinya molen (kincir) dan vliet (aliran). Karena dulunya di sini terdapat kincir angin meniru sistem pengairan di Belanda. Sampai tahun 1942, kawasan ini Molenvliet terdiri dari dua jalur: Molenvliet Oost (kini Jl Hayam Wuruk) dan Molenvliet West (Jl Gajah Mada). Kedua jalan ini dipisahkan oleh kanal dari Kali Ciliwung, yang dibuat oleh Phoa Beng Gan, kapten Cina kedua. Tembok pembatasnya terlihat di sebelah kanan foto. Begitu padatnya kedua jalan tersebut saat ini, sehingga kendaraan dari Senen menuju Jakarta Kota atau sebaliknya pada saat jam sibuk perlu waktu lebih dua jam.

Gambar ini diambil dari ujung Jalan Majapahit ke arah Harmoni. Rupanya jalan raya kala itu belum diberi aspal, hanya diperkeras. Seperti terlihat keberadaan rumah dan gedung yang cukup besar dan baik, kala itu Molenvliet merupakan kawasan elite orang Eropa dan Tionghoa kaya raya.

Terutama di abad ke-18 dan 19. Warga Belanda dan Eropa umumnya bekerja di sekitar kawasan Kalibesar yang merupakan pusat pertokoan, perkantoran, dan bisnis di Jakarta Kota. Mereka ke kantor pulang pergi naik trem. Ketika foto ini diabadikan trem belum nongol. Baru pada tahun 1869 trem merupakan angkutan yang paling banyak digandrungi, di samping bendi (delman). Tapi pada awalnya trem ditarik beberapa ekor kuda, yang dinamakan trem kuda. Baru pada 1822 muncul trem uap. Untuk kemudian digantikan trem listrik (1900). Trem listrik yang yang mengitari kota Jakarta saat itu, digusur pada tahun 1960. Karena biaya membongkar relnya cukup mahal, maka ditindih dengan aspal.

Banyak yang tidak tahu bahwa sungai di kedua jalan utama Jakarta ini, merupakan sungai buatan. Kapiten Phoa melakukannya dengan 'menyobek' Kali Ciliwung yang dialirkan kesana. Seperti diketahui Jan Piedterzoon Coen mendirikan Batavia di atas rawa-rawa. Hingga bila musim hujan daerah ini terendam dan airnya susah kering. Dan kota pun menjadi sarang nyamuk malaria. Dalam keadaan demikian, kapiten Cina ini merasa terpanggil. Apalagi korbannya banyak etnis Cina. Tidak terhitung banyaknya di antara mereka yang mati. Sementara VOC tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak memiliki uang.

Phoa mulai melakukan penggalian pada 1624 dari ujung Molenvliet, di depan Harmoni sekarang. Akibatnya adanya kanal buatan ini, daerah rawa di sekitarnya menjadi kering, sehingga nyamuk-nyamuk anopheles makin berkurang. Sedangkan hasil buminya dapat diangkut dengan perahu-perahu melalui kanal tersebut.

Di samping membangun kanal, kapiten Phoa juga membangun rumah sakit Cina dengan obat-obatan serba lengkap. Lokasinya sekarang di Jl Pejagalan, Jakarta Kota. Rumah sakit ini 'merana' akibat tersaingi oleh CBZ (kini RS Ciptgo Mangunkusumo). RS Cina kemudian dibongkar gemeenter (dewan kota) karena punya utang verponding selama puluhan tahun. Kemudian masayrakat Cina mendirikan rumah sakit 'Yang Sen Ie' yang kini bernama RS Husada di Mangga Besar. Di Kali Molenvliet sampai tahun 1950'an sering digelar berbagai atraksi. Seperti pesta perahu (pehcun) di malam hari, diiringi tanjidor dan tarian cokek. Di mana para siocia dan kongcu (nona dan pemuda) Cina saling ngibing atau joget istilah sekarang.


(Alwi Shahab)

106 Tahun Gambar Idoep

Bioskop pertama di dunia dibuka di Paris, ibukota Prancis, pada 28 Desember 1895. Pada waktu Indonesia masih bernama Hindia Belanda, pada 5 Desember 1900, diputar gambar idoep pertama di Batavia -- kini Jakarta -- yang diadakan oleh penjajah Belanda.

Saya sengaja menyebut bioskop dengan istilah gambar idoep. Soalnya, sampai 1950-an orang Betawi menyebut bioskop dengan gambar idoep. Dinamakan demikian, karena gambarnya bisa bergerak-gerak. Bioskop pertama di Jakarta terletak di Tanah Abang, Jakarta. Karena pergaulan yang belum bebas kala itu, tempat duduk laki-laki dan perempuan di pisah. Hingga bila pertunjukan usai, penonton saling berteriak memanggil pasangannya.

Pada tahun 1926, Indonesia sudah memproduksi film pertama. Judulnya Loetoeng Kasaroeng, sebuah legenda Jawa Barat. Film ini diproduksi oleh Java Film Co, milik seorang Belanda (L Heuveldrop). Ikut membintanginya, putra-putra Wiranatakusumah (bupati Bandung). Film Indonesia pertama ini diputar selama satu minggu di Bandung, dari 31 Desember 1926 sampai 6 Januari 1927. Lutung Kasarungjuga diproduksi pada 1952 dan 1983.

Masih di masa kolonial, pada 1937 diproduksi film Terang Boelan, kisah romantis di pulau 'impian'. Film ini melahirkan pasangan romantis pertama, Roekiah (1917-1945) dan Rd Mochtar, yang amat laris pada 1938. Roekiah, bintang paling tenar pada 1940-an adalah ibu almarhum penyanyi dan aktor Rachmat Kartolo.

Seperti dituturkan pakar perfilman dan staf Sinematek Indonesia, SM Ardan, setelah proklamasi kemerdekaan, banyak seniman yang hijrah ke kota perjuangan Yogyakarta, mengikuti jejak Bung Karno dan Bung Hatta. Termasuk, Usmar Ismail (1921-1971) dan kawan-kawannya -- D Djajakusuma (1918-1987), Soerjosoemanto (1918-1971), Hamidy T Djamil (1919-1986), serta sejumlah aktor dan artis lainnya. Mereka adalah anggota rombongan sandiwara Seniman Merdeka yang melakukan pentas keliling dalam mengobarkan semangat untuk mempertahankan kemerdekaan.

Pada Desember 1949 pendudukan Belanda berakhir. Jakarta kembali jadi Ibukota RI. Sampai waktu itu belum satupun perusahaan film milik nasional yang muncul. Hampir seluruhnya produksi perusahaan film milik Belanda dan Cina. Usmar Ismail, seniman yang sejak muda berkecimpung di bidang seni teater, pada usia 29 tahun mendirikan Perfini, perusahaan film berlambang banteng. Syuting pertama produksi pertama Perfini, Darah dan Doa, sebuah film perjuangan, dilakukan pada 30 Maret 1950. Hari itulah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional, yang kini sudah berlangtsung 56 tahun.

Hari Film Nasional itu tidak pernah diakui oleh kelompok kiri/Lekra. Usmar, kelahiran Bukittinggi, 20 Maret 1921, pada tahun 1950-an memang telah menghasilkan film-film box-office. Bahkan, ia salah satu tokoh yang berhasil memasukkan film-film nasional di kelas satu, seperti Metgropole (Megaria), Menteng dan Garden Hall (keduanya sudah jadi pertokoan). Usmar menjadi sutradara, penulis dan produser, dengan film-filmnya, seperti Krisis (1953) diputar selama lima minggu di bioskop Metropole. Kemudian disusul dengan Tiga Dara, yang tidak kalah sukses.

Hampir bersamaan dengan Perfini, seorang tokoh perfilman mendirikan perusahaan film Persari (Persatuan Artis Indonesia) yang kini dilanjutkan oleh putrinya, Camelia Malik. Sebagai pengusaha yang lihay, Djamaluddin Malik lebih berjaya katimbang rekannya, Usmar. Tahun 1952, Persari sudah memiliki studio terbesar di Asia Tenggara, dan sudah melakukan produksi bersama dengan Filipina, film berjudul Rodrigo de Villa dan Leilana.

Bersama Usmar Ismail, Djamaluddin Malik dikenal sebagai dwitunggal perfilman nasional. Dari kedua orang inilah lahir gagasan besar untuk bidang perfilman. Sayang sekali Djamal pada 1957 menjadi tahanan politik sampai 1959. Dia ikut dalam Liga Demokrasi yang menentang upaya Presiden Soekarno untuk membubarkan DPR dan Konstituante hasil Pemilu 1955.

Selepas dari tahanan, Djamal terjun ke Partai NU. Bahkan menduduki salah seorang Ketua PB-NU. Masuknya Djamal menjadi tokoh penting di NU sebagai kekuatan agama dari poros Nasakom, tidak melenyapkan sentimen pihak kiri PKI dengan Lekra-nya untuk menyerang tokoh perfilman nasional ini. Dan, serangan kelompok kiri secara bertubi-tubi ditujukan kepada Usmar, tanpa memperdulikan prestasinya di dunia internasional. Filmnya, Pejoang (1960) berhasil meraih penghargaan dari Festrival Film Internasional Moskow (1961) untuk peran utama (Bambang Hermanto). Bambang Hermanto, sekembalinya, dari Moskow dielu-elukan ribuan kelompok kiri yang menyambutnya di Bandara Kemayoran.

Sementara, sang produser dan sutradaranya, Usman Ismail, justru tambah dikecam. Dengan begitu Usmar semakin dekat dengan Djamal, yang tokoh NU. Ketika serangan menjadi tambah berbahaya, ia bersama Asrul Sani membidani lahirnya Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) dalam tubuh NU. Dan, ketika PKI dan golongan kiri membentuk Aksi Pemboikotan Film-film Imperialis AS (Papfias) mereka tidak mengakui 30 Juni 1950 sebagai Hari Film Nasional. Tapi menuntut 30 April 1964 sebagai Hari Film Nasional, saat berdirinya Papfias.

(Alwi Shahab)

Nederlandsche Handel Maatschappij

Foto tahun 1950-an ini adalah bangunan Nederlandsche Handel Maatchappij (NHM) di Jalan Stasion No. 1, Jakarta Kota. Berada di seberang stasion kereta api Jakarta Kota. Gedung berarsitektur Indisch gaya Nieuw-Zakelijk mulai dibangun tahun 1929, dirancang oleh tiga arsitek Belanda, J.J.J. de Bruyn, C. van der Linde dan A.P.Smits. Diresmikan 14 Januari 1933 oleh C.J. Karel van Aalst, Presiden ke-10 NHM saat itu sebagai gedung Factorij Batavia. Setelah nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda pada masa Presiden Sukarno, gedung ini beralih menjadi kantor Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN), kemudian sejak 1968 sebagai kantor pusat Bank Exim. Sampai akhirnya terbentuk Bank Mandiri 2 Oktober 1998, dan kini menjadi Museum Bank Mandiri.

Setengah abad lalu, seperti tampak di foto, jalan raya Jakarta Kota yang kini hiruk pikuk dan macetnya kagak ketolongan, saat itu tampak sepi tidak menyulitkan bagi orang untuk menyeberang. Di depan gedung yang hingga kini masih tampak megah, terlihat sebuah trem listrik yang datang dari arah Pasar Ikan menuju Harmoni. Dari Harmoni trem menuju Sawah Besar - Gunung Sahari - Senen - Matraman dan Jatinegara. Dari Harmoni juga ada yang menuju Tanah Abang. Pokoknya ketika itu, seluruh jalan raya di Ibu Kota dilewati trem listrik.

Berdekatan dengan trem tampak sebuah mobil merek Moris tahun 1940'an buatan Inggris. Juga sebuah mobil merek Chevrolet tahun 1940'an, yang tengah melintas dijalan yang sunyi. Tahun 1950'an belum satu pun mobil Jepang yang nongol di Jakarta. Maklum negara itu baru kalah perang dengan sekutu ketika di bom atom (Agustus 1945). Mobil buatan Eropa lainnya yang banyak dimiliki orang berduit adalah Fiat (Italia) dan Mercy (Jerman).

Lahirnya NHM punya kaitan dengan sistem tanam paksa yang diarsiteki oleh Gubernur Jenderal Graf van den Bosch (1830-1833). Karena pada 1799 VOC bangkrut akibat korupsi yang dilakukan hampir semua pejabatnya, maka didirikanlah NHM yang membeli barang-barang petani dengan harga murah. Akibat sistem ini ribuan orang dikabarkan mati, karena hasil jerih payahnya dibeli dengan harga sangat murah. Begitu besarnya keutungan NHM - pengganti langsung dan pewaris VOC -- hingga hampir separuh uang dari Hindia Belanda disedot ke Nederland. NHM juga memiliki Escompto Bank NV yang pada tahun 1940'an mengeluarkan surat lembaran saham yang bernilai 200 gulden dan 400 gulden. Setelah Indonesia merdeka oleh Menteri Kehakiman pada 11 Juni 1952 maka saham-saham dengan nilai gulden diubah menjadi rupiah. Pada masa itu nilai rupiah masih tinggi. Tapi sejak 1960'an nilainya anjlok ketika inflasi tanpa mengenal ampun merangkak naik lebih dari 600 persen.

Pada masa Belanda uang pecahan tertinggi 20 gulden, sedang pada masa Bung Karno Rp 20 ribu. Pada 1993 keluar uang pecahan bernilai Rp 50 ribu dengan gambar Pak Harto yang kini tidak laku lagi. Awal tahun 2000'an keluar mata uang Rp 100 ribu, dengan gambar Bung Karno dan Bung Hatta.

Gedung Museum Bank Mandiri yang terdiri dari 4 lantai, luas lahannya 10.039 m2, sedangkan bangunan 21.509 m2. Koleksi yang tersimpan di Museum Bank Mandiri kurang lebih 26 ribu item terdiri dari benda/barang yang punya nilai sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan yang mencerminkan proses awal perkembangan dan terbentuknya Bank Mandiri sejak masa Hindia Belanda (NHM, Escompto dan NIHB).


(Alwi Shahab)

Pasar Ikan - Harmoni - Kampung Melayu

Pasar Ikan, Jakarta Utara 1950-an. Kala itu, bekas markas kompeni (VOC) ini banyak pengunjungnya. Terutama di hari-hari Ahad dan libur. Karena Pasar Ikan memiliki akuarium tempat para muda-mudi saling melempar senyum. Kalau ada kecocokan bisa berlanjut ke pelaminan. Pulangnya orang membeli oleh-oleh biji congklak dari kerang. Main congklok kala itu merupakan kegemaran para gadis dan ibu-ibu untuk meluangkan waktu. Maklum televisi belum ada. Di sini juga dijual akar bahar untuk dijadikan gelang. Konon dapat menyembuhkan penyakit rematik.

Di Pasar Ikan banyak pendatang berziarah ke Masjid Luar Batang, tempat Habib Husein Alaydrus yang datang ke Indonesia dari Hadramaut pada abad ke-18 dimakamkan. Sayangnya, masjid yang sudah berusia lebih dari dua abad itu telah diperbaharui, hingga hilang kekunoannya. Untuk masuk ke Luar Batang, kita harus menaiki jembatan bambu di muara Ciliwung. Berdekatan dengan Luar Batang, di dekat terminal Kota Inten, Jakarta, terdapat meriam si jagur. Inilah meriam besar yang dibawa VOC ketika menaklukkan Portugis di Malaka (1641). Dinamakan demikian, karena bila disundut bunyinya 'jlegar-jlegur'. Di pantat meriam yang panjangnya lebih dua meter itu ada ukiran tangan yang orang sekarang bilang kode senggama. Tapi, aslinya lambang gagah perkasa.

Karena itulah 'si jagur' banyak diziarahi orang. Terutama ibu-ibu yang belum mendapat keturunan. Di samping meriam yang terbuat dari besi baja itu terdapat juru kuncen, yang mulutnya selalu kemak-kemik membacakan doa-doa. Setelah terlebih dulu si peziarah menyelipkan 'doku'. Peziah juga harus membeli 'kembang payung' yang dibuat dari kertas minyak warna-warni. Setelah pulang, payung itu ditaruh di atas kelambu tempat tidur suami istri.

Trem lijn I jurusan Pasar Ikan - Kampung Melayu masih menunggu penumpang di halte Kota Inten. Masinisnya memakai kacamata Ray Band, meniru gaya Tony Curtis, aktor Hollywood paling tampan ketika itu. Sedang kondekturnya tengah menghitung uang talenen ( 25 sen) dan picisan (10 sen), hasil perjalanan Kampung Melayu - Pasar Ikan -- ketika itu disebut uang rece.

Neng - neng - neng - neng. Trempun meninggalkan Pasar Ikan. Lalu berhenti di Faktori -- kantor Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) -- pengganti VOC yang bangkrut akibat hampir seluruh pejabatnya korupsi. Tiba-tiba sang masinis sambil menongolkan kepala dekat jendela memarahi tukang becak yang tidak mau minggir meski kelenangan sudah dibunyikan berkali-kali, "He beca ! Apa lu kagak bisa minggir?"

Tukang becak yang berambut gondrong dan bermuka sangar nyeletuk, "Apaan? Kagak bisa minggir? Gue sih bisa. Lu yang kagak!"

Neng-neng-neng-neng. Trem melewati Markas Polisi Glodok (kini pertokoan Harco). Dulu di sini terdapat penjara. Konon, Bung Hatta pernah dipenjarakan di sini oleh pemerintah kolonial Belanda. Dari Glodok trem melaju ke Lindeteves, nama sebuah perusahaan ekspor impor Belanda di Jalan Hayam Wuruk. Bersama empat perusahaan raksasa Belanda lainnya seperti Geo Wehry, Borsumij, dan Internatio, Lindeteves memiliki ratusan armada termasuk ke mancanegara, sehingga distribusi bahan pangan ke pelosok nusantara berjaloan lancar.

Neng - neng - neng - neng. Trem berhenti di Harmoni, nama sebuah gedung yang kini sudah almarhum. Harmoni Club, yang pada awal 1980-an dibongkar dan jadi gedung Sekretariat Negara di tempo doeloe merupakan tempat pertemuan masyarakat Belanda tingkat atas. Di sini mereka sering berdansa di lantai pualam diterangi oleh lampu-lampu kristal yang gemerlapan. Mereka menikmati makan tengah malam sambil meminum anggur impor dari Eropa di bawah sinar bulan purnama yang ditanami bunga warna-warni.

Di kanal Rijswijk dibatasi jalan Juanda (Noordwijk) dan Risjwijk (Jl Veteran) terdapat patung kecil Hermes bersayap. Menurut mitologi Yunani, Hermes adalah dewa perniagaan. Sementara kedua jalan tersebut pada masa Belanda merupakan pusat perniagaan. Lalu trem setelah melewati Istana Negara, berhenti di depan kantor pos Pasar Baru. Pasar Baru kala itu bersaing keras dengan Glodok. Kalau Anda berpakaian sedikit bagus, akan ditawari dolar, yang harganya di 'bllack market' itu jauh lebih tinggi dari kurs yang ditetapkan BI.

Neng - neng - neng. Dari Pasar Baru trem berbelok ke arah Lapangan Banteng. Pada 1950-an sudah ada niat pemerintah untuk membangun Masjid Istiqlal, yang menurut Bung Karno akan merupakan masjid termegah di Asia, kecuali Masjidil Haram. Masjid ini berdcampingan dengan gereja Kathedral, Menurut Bung Karno dan juga Pak Harto itu sebagai lambang kerukunan beragama di Indonesia.

Setelah menyusuri Pasar Senen yang ramai orang berbelanja, trem berhenti di depan Bioskop Grand yang tengah memutar film Giant, dengan bintang Elizabeth Taylor, Rock Hudson dan James Dean. Ketika berhenti di depan bioskop Rivoli, banyak penumpang turun untuk menonton film Awara yang dibintangi Raj Kapoor dan Nargis. Kemudian trem memasuki Matraman, Sejumlah ibu turun untuk bezoek ke CBZ (kini RSCM).

Sebelum sampai ke terminal Kampung Melayu, trem melewati Pasar Jatinegara dan Bukitduri. Sampai tahun 1970-an di Bukitduri terdapat penjara khusus wanita. Dulu di Bukitduri diuhuni warga keturunan Bali. Mereka adalah para penebang hutan. Untuk melindungi dari perampokan disekitar kediaman mereka yang sedikit berada di bukit diberi pagar berduri. Dari kata pagar berduri inilah lahir nama Kampung Bukit Duri hingga sekarang.


(Alwi Shahab)

Mengamankan Bantaran Ciliwung

Inilah bantaran sungai Ciliwung sekitar tahun 1970'an di salah satu kawasan Jakarta Timur. Air mengalir dengan deras di sungai yang masih lebar dan dalam, sementara pepohonan di sekitarnya sangat rimbun. Kini sulit mencari bantaran sungai yang demikian. Lantaran makin banyak dihuni manusia yang menjadikan sebagai tempat tinggal. Bahkan beberapa di antaranya sudah jadi perkampungan. Tidak heran bila 13 sungai yang mengalir di Jakarta, bukan saja makin dangkal, tapi makin mengecil kelebarannya. Banjir pun tiap saat makin meluas.

Melihat keadaan yang sudah sangat memprihatinkan ini, sejumlah anak di Condet, Jakarta Timur mendirikan 'Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung, Condet.' Dengan motto : 'Sebatang pohon seribu kehidupan', para anak muda yang dipimpin Abdulkadir Muhammad dan Budi Setija, telah mengamankan sekitar 20 hektare bantaran sungai Ciliwung di kawasan Condet.

Setelah bekerja tanpa mengenal lelah selama enam tahun, kini hasilnya mulai terlihat. Di markasnya di tepi Ciliwung di Balekambang, mereka menyiapkan ribuan pembibitan berbagai budidaya tanaman, khususnya duku, salak dan melinjo. Ketiga tanaman khas Condet ini, kini semakin langka akibat pesatnya pembangunan perumahan. Sementara, pemborong makin bergairah membangun Condet, yang luasnya 582.450 hektar.

Akibat gagalnya Condet dijadikan sebagai cagar budaya buah-buahan, menurut Abdulkadir dan Budi, ratusan petani buah yang tidak lagi memiliki dan berganti profesi, ingin bekerja kembali. "Untungnya sekitar 80 persen daerah bantaran sungai masih merupakan lahan kosong dan kebun yang tidak terawat," ujar Budi. "Inilah yang ingin diupayakan sebagai lahan konservasi oleh Wahana Komunitas Sungai Ciliwung Condet," ia menambahkan.

Di sini kedalaman sungai masih ada yang mencapai 15 meter. Sekalipun terjadi penyempitan 12 meter, lebar sungai masih mencapai 30 meter. Yang juga perlu diacungkan jempol, dari belasan muda-mudi yang ikut terjun di wahana itu adalah mereka mengadakan Sekolah Alam 'Sawung' (Sekolah Alam Ciliwung). Para siswanya berusia tujuh hingga 12 tahun tiap Jumat.

Di sinilah anak-anak diajar mencintai lingkungan dalam bentuk presentasi, diskusi, kunjungan lapangan, pemutaran film, dan berbagai kegiatan lainnya. Di bandaran yang telah disulap menjadi lingkungan yang sejuk dan asri itu, disediakan perpustakaan, kegiatan berperahu menyusuri sungai sejauh 7 km, dan jalan santai di tengah-tengah pepohonan hijau royo-royo. Kesemuanya merupakan bagian dari 'Wisata Lingkungan Sungai Ciliwung.' Karena itu, tidak heran pada hari-hari Ahad dan libur, anggota Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung Condet yang datang mencapai 20-an orang.

Permasalahannya adalah, tidak adanya mushola untuk pengunjung. Padahal, seperti dijelaskan Abdulkadir, biayanya hanya sekitar Rp 10 juta, di samping empat MCK (toilet). Di Condet sekarang ini ada ratusan perusahaan penampung tenaga kerja (TKW dan TKI) serta puluhan pengembang. Mungkin di antara mereka ada yang terketuk hatinya untuk membantu, kata Abdulkadir.

Condet, pada 1975 oleh gubernur Ali Sadikin ditetapkan sebagai cagar budaya buah-buahan. Bahkan berdasarkan SK Gubernur 1989, kawasan di pinggiran Jakarta Timur ini menetapkan Salak Condet dan Burung Elang Bondol sebagai 'Maskot DKI Jakarta.' Kini pohon salak sudah hampir tidak tersisa lagi di Condet, sementara 'Burung Elang Bondol' sudah punah. Setidak-tidaknya inilah yang menyebabkan didirikannya 'Wahana Komunitas Lingkungan Hidup Sungai Ciliwung Condet'. "Guna mencegah hutan kota yang tersisa ini tidak menjadi hutan beton alias tanaman bata," ujar Budi.

(Alwi Shahab)

Kesurupan Roh Halus

Surat-surat kabar dan televisi akhir Maret 2006 lalu ramai memberitakan peristiwa kesurupan massal yang terjadi di sejumlah tempat berlainan. Di awali di pabrik perusahaan rokok kretek Bentoel di Malang. Tidak tanggung-tanggung 30 karyawannya sampai harus diangkut ke poliklinik. Sehari sebelumnya, tujuh siswa SMPN 2, Natang, Jawa Tengah, juga kesurupan.

Pada 21 Maret 2006 kesurupan massal juga menimpa 30 siswa SMA PGRI 2 Banjarmasin. Jumlah itu masih terbilang kecil, karena sepekan sebelumnya 110 siswa kesurupan di Yogyakarta. Rupanya 'roh halus' tidak mau berhenti melakukan aksinya. Setelah Yogya, kasus serupa menyusul di Surabaya dan Bogor, yang juga berlangsung secara massal.

Bagi orang Betawi, kesurupan bukan hal baru. Sudah sejak zaman baheula. Karena itu, tidak heran bila kampung-kampung memiliki orang yang pandai menanganinya, tanpa perlu harus kedokter. H Irwan Sjafii (76 tahun), misalnya, sudah belasan tahun menangani apa yang disebut orang Betawi : 'kemasukan orang halus'. Di kediamannya, di Kampung Duku, Setiabudi, Jakarta Pusat, Bang Piie -- demikian sebutannya sehari-hari -- selalu dicari warga bila ada yang kesurupan.

Pada tahun 1983, ketika menjadi lurah di Petukangan Utara, Kebayoran Lama, ada istri tukang becak yang histeris dan berontak-rontak, karena kesurupan. Kesurupannya cukup lama, dari pukul 09.00 sampai 12.00. Ketika dia mendatanginya, perempuan itu mendampratnya sambil berkata : "Lurah lama baik. Minta izin dulu ketika membangun kantor PKK!"

Rupanya, ketika membangun kantor PKK, Bang Piie ketika itu tidak mau memasang ancak -- terdiri dari telur, kembang 7 rupa, lisong, satu tandan pisang dan uang receh -- seperti kebiasaan masa itu.

"Lurah sekarang pelit. Membangun gedung tidak minta iizin pada penunggunya," teriak perempuan yang kesurupanitu.

"Ini siape", tanya Bang Piie.
"Saya ratu yang menunggu kantor kelurahan," jawab perempuan itu.
"Kalo lu marah jangan masuk sama orang lain. Masuk sama gue!" jawab Bang Piie.

"Lu jangan banyak omong," tantang si wanita, histeris.

Langsung Bang Piie menyundut jempol kakinya dengan rokok yang menyala. "Lu mau pulang kagak?" kata Bang Piie sambil menggertak, "Nanti gue jejelin tai kotok lu!"
Digertak akan dijejelin tai kotok (kotoran ayam), si wanita menjawab, "Iya pulang." Maka dengan badan lesu sadarlah orang itu, setelah kesurupan selama empat jam.

Menurut H Irwan Sjafii, penyebab utama kesurupan karena masalah psikologi dan tekanan jiwa. Karenanya, orang-orang dulu selalu menasehati agar jangan melamun, nanti kemasukan roh halus.

Penulis cerita Betawi 1950-an dan 1960-an pernah membuat artikel tentang kesurupan. Ceritanya, Bang Dulloh, warga Cinangka, dekat Ciputat, Tangerang, sehabis plesiran ke Gedung Arca (Musium Nasional), tiba-tiba kesurupan. Ia menggeletak di depan pintu dengan mata mendelik dan berkaok-kaok, "Aduuuuh, aduuuuuh! Laparr, lapaaarr!"

Seisi rumah dan para tetangga kebingunan. "Ora puguh-puguh (tidak ada apa-apa) kok jejeritan. Orang alus mana nih yang datang?" tanya istrinya. Dengan tubuh menggelepar-gelepar, bang Dulloh berkata, "Guah dari gedong-arca dateng kemari, ora peduli panas, ora peduli ujan!"

"Aduh," jerit istrinya. "Jau-jau dateng ke Cinangka, apa-apaan. Coba tinggal aje di sono. Tapi, apah nih maksudnya nih datang kemari? Bilang dong!" seru beberapa tetangga. "Guah belon senang kalo kagak dijogrogin duren, rambutan, ame ayam bekakak."

"Oooo, mau gegares nyang begituan?" kata bininya. "Baru dikata duren ama rambutan, mau anggur lemot lagi kita bisa adain!" seru istrinya sambil menyuruh anaknya, si Entong, metik rambutan ame duren di kebon. Tak lama kemudian si Entong sudah nongol lagi dengan mendongdong duren tiga biji dan serenceng rambutan.

Lahap sekali Bang Dulloh menyikat apa yang ada di depannya, tapi sekonyong-konyong ia berteriak-teriak lagi, "Kagak ada rasanya. Kagak enak. Gua mau duren jatoan, yang kuning, yang tebal. Jangan kayak ini, bijinya keliatan!"

Karena orang halus di tubuh Bang Dulloh kagak mau juga pulang, maka selang beberapa menit, datanglah Uwa Neot -- seorang kakek-kakek yang kesohor bisa ngusir setan. "Betul-betul kagak mau pulang nih," kata Uwa Neot menghampiri. "Apa lu mau ngerasain dulu pencetan guah?"

Maka, dengan mulut kemak kemik, Uwa Neot memegang tengkuk Bang Dulloh. Dipencetnya jempol kakinya kuat-kuat, hingga Bang Dulloh kontan menjeri-jerit, "Aduuuuuh, aduuuuh!!"

"Nah lu, rasain dah! Ayoh, pulang kagak, ntar gua bejeg terus!" gertak Uwa Neot.

"Bener Wak Neot," sahut orang-orang di sekelingnya.

"Bejeg terus dah, jangan kasih ati!"

"Jejelin tai kotok," yang lain nyeletuk.

Akhirnya, si Ritem, orang halus dari 'gedung arca' yang masuk ke tubuh Bang Dulloh menyerah.

"Ampuuuun, ampuuun dah, sekarang guah mau pulang...."

Maka, Bang Dullah mulai siuman. Matanya berkedip-kedip, tapi ia masih belum sadar betul. "Nyebut ngapah, Bang, jangan diam ajah!"

"Memangnya guah ngapah," tanya Bang Dulloh bangkit sembari mengusap mukanya.

"Abang tadi kesurupan tadi, tau? Baru ngeliat orang-orangan dari batu aje ude kaget, jadi kesurupan...." jawab istrinya.


(Alwi Shahab)

Stadion Ikada Pusat Kegiatan Olah raga

Inilah gambar lapangan Ikada (Ikatan Atletik Djakarta). Jauh sebelum ada Senayan, Lapangan Ikada yang juga disebut Lapangan Gambir merupakan pusat kegiatan olah raga. Nama lapangan Ikada sendiri baru dikenal pada masa pendudukan Jepang, ketika negara itu menduduki Jakarta pada 1942, dan kemudian mengganti sejumlah nama tempat, lapangan dan jalan-jalan.

Dinamai Ikada, karena di lapangan ini para atlet Ibu Kota setiap hari mengadakan latihan-latihan. Tapi yang memanfaatkan lapangan itu sebenarnya bukan hanya para atlet saja. Karena di sekitar lapangan yang luas itu terdapat pula belasan lapangan sepakbola, termasuk lapangan hockey. Di lapangan ini terdapat pula tempat pacu kuda. Termasuk lapangan pacu kuda untuk satuan militer dari kavaleri. Di lapangan inilah sejumlah klub sepakbola pada tahun 1940-an dan 50-an memiliki lapangan sendiri. Seperti lapangan Hercules, VIOS dan BVC, yang merupakan kesebelasan papan atas pada kompetisi BVO (Batavia Vootball Organization) dan setelah kemerdekaan digantikan oleh Persija.

Sebelum adanya Senayan (1962), Ikada digunakan sebagai tempat latihan dan pertandingan PSSI. Di tempat inilah sebelum lapangan itu dibongkar diselenggarakan pertandingan-pertandingan sepak bola bergengsi. Termasuk mendatangkan berbagai kesebelasan luar negeri. Nama-nama pemain sepakbola seperti Ramang, Djamiat Dalhar, Tanoto (Tan Liong Houw), Kiat Sek, Van der Vin, bahkan kemudian generasi almarhum Sutjipto Suntoro dan masih puluhan nama lagi selalu bermain di sini. Iswadi Idris dan Bop Hippy yang kemudian menjadi pemain nasional dibentuk dari tempat ini melalui kompetisi-kompetisi gawang (di bawah 14 tahun).

Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-II tahun 1952 di sebelah selatan lapangan ini dibangun sebuah stadion, yang juga diberi nama Stadion Ikada. Proses pembangunan itu singkat, hanya 93 hari. Namun nama itu cukup membekas sehingga nama Stadion Ikada makin dikenal.

Di lapangan inilah pada 13 September 1945 di bawah ancaman moncong meriam dan bayonet Jepang, rakyat Ibu Kota dan sekitarnya mengadakan rapat raksasa untuk lebih mempersatukan rakyat dalam membela kemerdekaan. Tapi karena menghadapi ancaman Jepang dan mencegah rakyat menjadi korban, Bung Karno hanya berpidato sangat pendek. Takut akan terjadi 'banjir darah', Presiden Soekarno menganjurkan agar massa rakyat segera bubar dan pulang ke tempat kediamannya masing-masing.

Almarhum Adam Malik yang hadir dalam rapat raksasa itu dalam bukunya Riwayat Proklamasi Kemerdekaan 1945 menyebutkan bahwa rapat raksasa yang diselenggarakan kelompok Menteng 31 itu tanpa persiapan sama sekali. Menurut mantan Wapres, keadaan itu berbeda ketika Jepang mempergunakan Lapangan Ikada untuk menggembleng semangat ala tiga A (Aku Anti Amerika) yang persiapannya dilakukan selama berhari-hari.

Tentu saja generasi sekarang tidak lagi mengenal lapangan Ikada. Karena tiap orang menyebutnya Lapangan Monas. Lapangan terluas di dunia ini dibangun oleh gubernur jenderal Herman William Daendels (1818). Mula-mula namanya Champ de Mars karena berbarengan dengan kekuasaan Napoleon Bonaparte yang menaklukkan Belanda. Tapi ketika Belanda berhasil merebut kembali negerinya dari Prancis, namanya jadi Koningsplein (Lapangan Raja). Sementara rakyat lebih senang menyebut Lapangan Gambir, yang namanya kini diabadikan untuk nama stasion kereta api.

(Alwi Shahab)

Jl Latuharhari - Menteng

Inilah Jl Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, di masa kolonial Belanda. Terletak di pinggiran kawasan elite Menteng, Jalan Latuharhari merupakan salah satu jalan utama yang menghubungkan Menteng dengan Manggarai, dan Menteng, Jalan Thamrin - Kuningan. Tidak heran kalau kemacetan lalu lintas di sini tidak ketolongan lagi. Padahal sampai awal 1970-an kendaraan dapat leluasa melewatinya. Kini jalan ini dilewati kereta api api KRL yang menghubungkan Bogor-Depok-Tanah Abang.

Dalam masa perkembangan Kota Jakarta sebelum tahun 1945, daerah Menteng dapat disebut daerah muda karena baru dibangun sekitar tahun 1930-an. Ketika banyaknya modal asing yang masuk ke Indonesia, khususnya dari Belanda dan negara-negara barat. Untuk itu perlu dibangun perumahan di Menteng, yang ketika itu penduduknya warga asli Betawi. Tanah untuk pembangunan Menteng dibebaskan pada 1920. Sedangkan pembangunan fisik 10 tahun kemudian dilaksanakan oleh NV de Bouwploeg yang kini menjadi Masjid Cut Mutiah. Sayangnya nama Bouwploeg yang dulu menjadi nama jalan di sini diganti menjadi Jl RP Soeroso. Untungnya nama Boplo diabadikan untuk nama stasiun kereta api di Menteng.

Di seberang Jl Latuharhari terdapat Jl Halimun. Di sini, sampai tahun 1960-an merupakan daerah pelacuran kelas menengah ke bawah. Ratusan pelacur bermukim di sini mencari mangsa. Untuk itu dibangun ratusan rumah dari papan berderet-deret, di tengah-tengah hiburan dangdut hingga jauh malam. Sementara pedagang-pedagang menjajakan dagangannya di meja-meja kecil, dengan penerangan lampu semprong yang di ujungnya diberi warna merah. Sementara di pinggir rel kereta api yang merupakan sebuah taman, kini terdapat rumah-rumah gubuk, yang juga melakukan kegiatan prostitusi.

Pihak aparat keamanan yang dipusingkan oleh penghuni liar yang mengotori dan merusak pemandangan kawasan elite Menteng, kadang-kadang merazia mereka. Sekalipun keberadaan mereka sulit disingkirkan. Padahal di zaman kolonial Belanda ada ketentuan, 30 meter kiri kanan jalan kereta api merupakan milik perusahaan kereta api. Kala itu tidak ada yang berani membangun rumah, bahkan perkampungan seperti terjadi sekarang ini. Nasib yang sama juga dialami oleh bantaran sungai, yang berakibat seringkali terjadi banjir. Para keluarga yang tinggal di dekat Jl Latuharhari mengeluhkan juga keberadaan waria, yang banyak mangkal di sekitarnya. Dalam mencari mangsanya ini, pihak waria rupanya tidak mengenal waktu. Mereka beroperasi tidak tanggung-tanggung. Dari malam hingga beduk subuh baru bubaran.

Banyaknya waria yang beroperasi di sekitar Jl Latuharhari dan daerah Menteng lainnya cukup meresahkan penghuni rumah sekitarnya. Soalnya, seringkali para waria yang berdandan medok dengan seenaknya mengganggu para tamu yang berkunjung ke kediaman mereka. Yang paling menyakitkan, warga yang tinggal di sini tidak luput dari gangguan waria. "Masa kami kalau hendak masuk dan keluar rumah pada malam hari tidak lupa dari colekan waria," kata seorang penghuni. Ketika diadakan operasi terhadap mereka sekitar 1980-an, banyak para wanita yang lari tunggang-langgang. Ada yang sampai nyebur ke kali Malang untuk menghindar tangkapan aparat. Ada di antara mereka, mungkin karena tidak bisa berenang kemudian mati tenggelam.

(Alwi Shahab)

Kisah Ulama-ulama Betawi (II)

Bagian 2 habis

Bersamaan dengan KH Abdurahman Nawi yang memiliki tiga pesantren -- sebuah di Tebet (Jakarta Selatan) dan dua di Depok -- KH Abdul Rasyid AS, putera almarhum KH Abdullah Sjafii, kini juga membangun majelis taklim di Pulau Air, Sukabumi. Di sini dia telah menghasilkan santri-santri yang memperdalam Alquran. Termasuk belasan orang yang telah menjadi penghafal (hafidz).

Sementara, kakaknya, Hj Tuty Alawiyah AS, kini tengah mengembangkan Perguruan dan Universitas Asyafiiyah, di Jatiwaringin, Jakarta Timur. KH Abdurahman Nawi sendiri merupakan salah seorang murid KH Abdullah Sjafii. KH Abdul Rasyid kini juga tengah menyiapkan pembangunan Universitas Islam KH Abdullah Sjafii dan rumah sakit Islam di Sukabumi di atas tanah seluas 28 hektar.

Satu angkatan dengan kedua ulama itu adalah Habib Abdurahman Alhabsyi, putera Habib Muhammad Alhabsji dan cucu Habib Ali Kwitang. Pada awal abad ke-20 Habib Ali mendirikan madrasah modern dengan sistem kelas yang diberi nama Unwanul Falah. Perguruan Islam yang juga menampung murid-murid wanita ini, sayang, terhenti pada masa proklamasi. Karena itulah, Habib Ali yang meninggal tahun 1968 dalam usia 102 tahun dianggap sebagai guru para ulama Betawi, banyak diantara mereka pernah belajar di sekolahnya.

Dia adalah murid Habib Usman Bin Yahya, yang pernah menjadi Mufti Betawi. Hampir bersamaan datang dari Hadramaut Habib Ali bin Husein Alatas. Dia bersama Habib Salim Bin Jindan banyak ulama Betawi yang belajar kepadanya. Termasuk KH Abdullah Syafii, KH Tohir Rohili, dan KH Sjafii Alhazami. Yang belakangan ini kelahiran Gang Abu, Batutulis, Jakarta Pusat. Wakil Gubernur DKI Fauzi Bowo ketika kecil, di Batutulis, belajar agama kepadanya.

Salah seorang ulama Betawi kelahiran Matraman yang merupakan penulis produktif adalah KH Ali Alhamidy. Dia telah menulis tidak kurang dari 19 kitab dan buku, seperti Godaan Setan. Menurut budayawan Betawi Ridwan Saidi, KH Ali Alhamidy setiap minggu membuat naskah khotbah Jumat yang digunakan para khotib di masjid-masjid. Tidak hanya di Jakarta tapi di Sumatera. Termasuk masjid-masjid ahlussunah wal jamaah, sekalipun tulisannya lebih kental kearah Muhammadiyah. Tatkala masuk penjara dalam Orde Lama karena kedekatannya dengan Masyumi, ia berhenti menulis. Dan, akhirnya penguasa mengijinkan ia menulis naskah khutbah Jumat dari balik terali penjara.

Sampai tahun 1970-an, dikenal luas nama ulama KH Habib Alwi Jamalullail, yang telah beberapa kali mendekam di penjara, baik pada masa Orla maupun Orba, karena keberaniannya mengkritik pemerintah, yang kala itu dianggap tabu. Perjuanjgannya kemudiann diteruskan oleh puteranya, Habib Idrus Djamalullail, yang pada tahun 1995 mengajak demo alim ulama Betawi ke DPR menolak SDSB.

Keluarga Jamalullain termasuk generasi awal yang datang ke Indonesia dari Hadramaut pada abad ke-18. Mereka banyak terdapat di Aceh. Yang Dipertuan Agung Malaysia sekarang ini juga dari keluiarga Jamalulail.

Islamisasi di Betawi mendapatkan momentum baru tatkala Sultan Agung melancarkan dua kali ekspedisi ke Batavia untuk menyerang VOC. Terlepas ekspedisi ini tidak berhasil menyingkirkan penjajah Belanda, tapi dari segi kultural, ekspedisi itu mencapai hasil yang mempesona. Para tumenggung Mataram, setelah gagal mengusir Belanda, setelah tinggal di Jakarta, banyak menjadi jurudakwah yang handal. Mereka telah memelopori berdirinya surau-surau di Jakarta -- yang kini menjadi masjid -- seperti Masjid Kampung Sawah, Jembatan Lima, yang didirikan pada 1717.

Salah seorang ulama besar dari kampung ini adalah guru Mansyur. Ia lahir tahun 1875. Ayahnya bernama Abdul Hamid Damiri al Betawi. Pada masa remaja dia bermukim di Mekah. Di kota suci ini dia berguru pada sejumlah ulama Mekah, seperti Syech Mujitaba bin Ahmad Al Betawi. Guru Mansyur sewaktu-waktu hadir dalam majelis taklim Habib Usman, pengarang kitab Sifat Duapuluh. Guru Mansyur menguasai ilmu falak, dan memelopori penggbunaan ilmu hisab dalam menentukan awal Ramadhan dan hari raya Idul Fitri serta Idul Adha di Jakarta. Dia juga merupakan penulis produktif. Tidak kurang dari 19 kitab karangannya.

Guru Mansyur mendalami ilmu falak, karena dulu di Betawi orang menetapkan awal Ramadhan dan lebaran dengan melihat bulan. Kepala penghulu Betawi menugaskan dua orang pegawainya untuk melihat bulan. Jika bulan terlihat, pegawai tadi lari ke kantornya memberi tahu kepala penghulu. Kepala penghulu meneruskan berita ini kepada masjid terdekat. Mesjid terdekat memukul beduk bertalu-talu tanda esok Hari Raya Idul Fitri.

Kanak-kanak yang mendengar beduk bergembira, lalu belarian ke jalan raya sambil bernyanyi. Tetapi banyak juga orang yang tidak mendengar pemberitahuan melalui beduk. Akibatnya, seringkali lebaran dirayakan dalam waktu berbeda. Guru Mansyur memahami hal ini. Karena itu, ia memperdalam ilmu falak. Setiap menjelang lebaran Guru Mansyur mengumumkan berdasarkan perhitungan ilmu hisab.

Dalam adat Betawi, guru dipandang orang yang sangat alim dan tinggi ilmunya. Ia menguasai kitab-kitab agama dan menguasai secara khusus keilmuan tertentu. Di atas guru ada dato'. Dia menguasai ilmu kejiwaan yang dalam. Di bawah guru ada mualim. Di bawah mualim adalah ustadz, pengajar pemula agama. Di bawah ustadz ada guru ngaji, yang mengajar anak-anak untuk mengenalk huruf Arab.


(Alwi Shahab)

Kisah Ulama-ulama Betawi (I)

(Bagian 1)

Melaksanakan ibadah haji saat ini -- dengan pesawat udara -- hanya perlu waktu 10 jam. Tidak demikian ketika perjalanan masih menggunakan kapal layar. Perlu waktu berbulan-bulan, mungkin lebih setahun, dengan berbagai resiko selama pelayaran.

Dalam suasana demikian, sejak abad ke-18 orang Betawi banyak yang pergi ke kota suci Mekah. Mereka menjalankan ibadah haji. Karena perjalanan yang begitu sulit, setelah menunaikan rukun Islam ke-5, banyak yang tidak kembali ke tanah air dan bermukim di Mekah.

Mereka yang bermukim di sana menggunakan Al Batawi sebagai nama keluarga. Menjadi kebiasaan para pemukim ketika itu menjadikan nama kota asalnya sebagai nama keluarga. Misalnya, Syech Abdul Somad al Falimbani dari Palembang, Syech Arsyad Albanjari dari Banjarmasin, Syech Basuni Imran al Sambasi dari Sambas, dan Syech Nawawi al Bantani dari Banten.

Masih dengan kapal layar, pada pertengahan abad ke-19 (1834), Syech Junaid, seorang ulama Betawi, mulai bermukim di Mekah. Ia pun memakai nama al-Betawi. Ia amat termashur karena menjadi imam di Masjidil Haram. Syech Junaid al Betawi, yang diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab Syafi'ie, juga mengajar agama di serambi Masjidil Haram. Muridnya banyak sekali. Bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi menjadi termashur di tanah suci berkat Syech kelahiran Pekojan, Jakarta Barat, ini.

Syech Junaid mempunyai dua orang putera dan dua orang puteri. Salah satu puterinya menikah dengan Abdullah al Misri, seorang ulama dari Mesir, yang makamnya terdapat di Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Seorang puteri lainnya menikah dengan Imam Mujitaba. Sedangkan kedua puteranya, Syech Junaid As'ad dan Arsyad, menjadi pelanjut ayahnya mengajar di Masjidil Haram. Syeh Junaid wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100 tahun.

Di antara murid Syeh Junaid yang sampai kini kitab-kitabnya masih tersebar di dunia Islam adalah Syech Nawawi al Bantani, keturunan pendiri kerajaan Islam Banten, Maulana Hasanuddin (putera Syarif Hidayatullah). Karenanya, setiap haul Syech Nawawi, selalu dibacakan fatihah untuk arwah Syech Junaid.

Imam Mujitaba, yang menetap di Mekah, menikah dengan putri Syech Junaid. Pasangan ini menurunkan guru Marzuki, tokoh ulama Betawi dari Cipinang Muara, Jakarta Timur. Karena alimnya, guru Mujitaba diberi gelar waliyullah oleh masyarakat Islam di tanah suci. Menurut budayawan Betawi, Ridwan Saidi, guru Mujitaba satu angkatan dengan mukimin Indonesia lainnya seperti Syech Nawawi al Bantani dan Syech Ahmad Khatib al Minangkabawi.

Sedangkan putera almarhum guru Marzuki, yang hingga kini memiliki perguruan di Rawabunga, Jakarta Timur, mendapat gelar birulwalidain karena begitu berhidmatnya kepada kedua orang tuanya.

Guru Marzuki memiliki sejumlah murid yang kemudian menjadi ulama terkemuka di Indonesia, seperti KH Abdullah Syafi'ie dari perguruan Assyafiiyah dan KH Tohir Rohili dari perguruan Tohiriah di Bukitduri Tanjakan, Jakarta Timur. Kedua perguruan Islam (Assyafiiyah dan Tahiriah) itu kini berkembamng pesat sekali. Keduanya memiliki sekolah mulai dari TK sampai perguruan tinggi.

KH Abdullah Sjafi'ie (wafat 3/9-1985) bersama putera-puterinuya menangani 63 lembaga pendidikan Islam. Sedangkan masjid Al-Barkah di Kampung Bali Matraman, Jakarta Selatan, yang dibangun pada 1933 saat kyai berusia 23 tahun, kini merupakan masjid yang megah.

Mushola bekas kandang sapi itulah yang kemudian menjadi cikal bakal perguruan Asyafiiyah. Kini pengajian Ahad pagi di Masjid Ak-Barkah selalu yang diikuti ribuan jamaah. KH Abdullah Syafi'ie -- perguruannya menghasilkan ribuan orang -- diantara mereka kini menjadi tokoh agama dan pimpinan majelis taklim di berbagai tempat di Indonesia.

KH Abdullah Syafi'ie adalah figur yang mampu mengkombinasikan dua arus besar pemikiran yang berkembang di lingkungan masyarakat Islam. Dalam diri beliau tercermin betul warna NU dan Muhammadiyah-an. Toh beliau mampu menjadikan diri sebagai model kombinasi yang menarik itu.

Kalau KH Abdullah Sjafii pada Pemilu 1955 berkampanye untuk partai Masyumi. Maka, rekan seangkatannya, KH Tohir Rohili selama dua periode pernah menjadi anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan. Seperti juga KH Abdullah Syafiie, ia mulai berdakwah keliling Jakarta dengan bersepeda. Tiap Ahad pagi, di majelisnya yang juga merupakan kediamannya, diadakan pengajian, yang jamaahnya cukup banyak.

Ulama Betawi, angkatan KH Abdullah Syafii dan KH Tohir Rohili, yakni Mualim Rojiun, KH Nur Ali, Bekasi, sangat ditakuti oleh Belanda karena keberaniannya di front depan Bekas -- Karawang -- Purwakarta. KH Zayadi dari Klender, Mualim Tabrani, Paseban, dan sejumlah kyai lainnya.

Ulama Betawi sesudah angkatan ini adalah KH Syafii Al Hazami, mantan ketua MUI Jakarta Raya, yang memiliki belasan perguruan Islam di Ibukota. Kemudian KH Abdurahman Nawi, yang kini memiliki tiga buah pesantren yang kesemuanya bernama Al-Awwabin, di Tebet, Depok I, dan Tugu (Sawawangan Depok). Tiga pesantrennya itu memiliki ribuan santri sejak tingkat TK sampai SLTA.(Bersambung)

(Alwi Shahab)

Ramai-ramai Berobat ke Singapura

Ketika terjadi booming minyak di awal tahun 1970-an, Presiden Soeharto membangun Rumah Sakit Pertamina di Kebayoran, Jakarta Selatan. Rumah sakit bertaraf internasional itu didirikan dengan tujuan agar investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia tak lagi berobat ke Singapura. Cukup di RS Pertamina saja.

Sebelumnya, Presiden Soekarno juga membangun Paviliun Cenderawasih di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Ciptomangunkusumo. Ruang khusus very important person (VIP) itu semula diperuntukkan bagi para menteri, pejabat tinggi negara, maupun anggota MPR/DPR yang perlu berobat. Dengan asumsi, mereka adalah orang kaya yang sanggup membayar berapa pun biaya pengobatannya.

Namun rupanya, upaya dua presiden itu tak dapat membendung arus pasien yang berobat ke luar negeri. Dengan moto 'Perawatan Kesehatan Prima Sesuai Kebutuhan Anda', di Singapura, setiap tahunnya lebih dari 200 ribu orang datang ke negara pulau itu untuk mendapatkan perawatan medis bermutu. Data ini dikeluarkan oleh 'Singapore Medicine'.

Sedangkan dari data Dewan Pariwisata Singapura, pada 2005 jumlah wisatawan yang berkunjung ke negara berpenduduk empat juta jiwa ini telah mencapai 7-8 juta wisatawan. Suatu jumlah yang sangat fantastis, beberapa kali lipat lebih banyak dari jumlah wisatawan asing yang masuk ke Indonesia. Yang menarik, dari jumlah 200 ribu orang itu, sebagian besarnya justru pasien asal Indonesia. Jumlah itu belum termasuk yang berobat ke kota-kota di Malaysia, seperti Kuala Lumpur, Malaka, dan Penang, yang nilai mata uangnya lebih rendah dari dolar Singapura.

Data yang dikeluarkan Parkway Group Healthcare, organisasi perawatan terbesar di Asia yang mengelola tiga rumah sakit Mount Elizabeth Hospital, East Shore Hospital, dan Gleneagle Hospital menyebutkan, sekitar 80-90 persen pasien mereka berasal dari Indonesia. Mount Elizabeth Hospital, rumah sakit paling terkenal dari ketiganya, menampung pasien akut berkapasitas 505 tempat tidur.

Tak menentunya masa tinggal pasien yang bisa hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, menyebabkan tumbuhnya rumah sewaan di sekitar rumah sakit yang terletak di pusat perdagangan dan perbelanjaan Orchad Road ini. Pemiliknya pun ternyata kebanyakan orang Indonesia keturunan Tionghoa asal Medan. Rumah sewaan ini seperti yang terlihat di Jalan Kayu Manis, dekat RS Mount Elizabeth Hospital, disewakan cukup murah.

Pasien hanya merogoh 60 dolar Singapura untuk menginap satu hari, dengan kurs Rp 5.650 per dolar-nya. Seperti dituturkan Rudy Haretono (32 tahun), seorang pasien cangkok ginjal asal Palembang, ia lebih memilih rumah sewaan ketimbang tinggal di hotel. Kalau di hotel, ia harus mengeluarkan minimal 80 dolar Singapura per harinya, itu pun kategori hotel termurah. ''Belum lagi ongkos taksi,'' katanya.

Mengapa memilih Singapura? Rudy yang memiliki seorang anak itu menceritakan, ia pernah cangkok ginjal di Guangzhou (Cina Selatan) dekat Hong Kong, empat tahun silam. Guangzhou memang terkenal sebagai tempat pencangkokan ginjal. Tercatat, mantan gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, pernah berobat di kota itu.

Namun, katanya, ia merasakan pelayanan di Mount Elizabeth Hospital sangat memuaskan, jauh dibanding saat ia berobat ke Guangzhou. Meski, lebih banyak resep dokter Singapura yang tak bisa ditemui di apotek-apotek Jakarta. Hal lainnya, di Singapura ia lebih leluasa berkonsultasi dengan dokter, yang tak ditemuinya di tempat lain. Ia pun merelakan koceknya keluar lebih banyak, demi kenyamanan pelayanan itu. Seperti, tambahan biaya hingga 50 dolar Singapura untuk setiap setengah jam waktu lebih konsultasi.

Membludaknya pasien Indonesia ke Singapura dan juga Malaysia itu, menjadi fakta tak terbantahkan bahwa rumah sakit di Indonesia --khususnya Jakarta -- tak mampu menarik orang berduit untuk berobat di negeri sendiri. Ironisnya, orang Singapura sendiri hampir tidak ada yang berobat di RS mewah macam Mount Elizabeth Hospital itu. Biaya tinggi menjadi alasan mereka. Kebanyakan warga Singapura lebih memilih berobat di Singapore General Hospital (SGH), rumah sakit terbesar di negeri itu.

SGH berada di bawah Singapore Health Service, kelompok organisasi perawatan kesehatan masyarakat yang membawahkan poliklinik untuk penyakit kanker, jantung, mata, kandungan, kanak-kanak, gigi, penyakit otak, syaraf, tulang, dan perawatan penyakit akut.

Sebagai rumah sakit rujukan nasional, tak kurang 1.500 tempat tidur dan 400 dokter spesialis berbagai macam penyakit, disediakan. Di Indonesia, SGH ibaratnya adalah RSCM. Tentu saja, biayanya lebih murah dibanding Mount Elizabeth Hospital. Walau dari sisi pelayanan tak disangsikan.

Penulis membuktikan sempurnanya layanan rumah sakit ini saat berobat ke bagian Singapore National Eye Centre (SNEC). Cukup dengan menelepon dr Yeo Kim Teck -- senior konsultan SNEC -- pada keesokan harinya, dokter mata terkenal di Singapura itu sudah bisa ditemui.

Dalam waktu singkat, obat juga dapat diambil dengan leluasa di apotek di salah satu ruangan SNEC. Tak ada calo obat berkeliaran di tempat ini. Kejadian yang mungkin tak dijumpai ketika ada di rumah sakit di Indonesia.

( alwi shahab)

Hikayat Kebon Sirih Sejak 1927

Inilah suasana pagi hari di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, yang diabadikan fotonya pada tahun 1927. Jalan yang kini hiruk pikuk dan menjadi salah satu pusat kemacetan di Ibu Kota, 79 tahun lalu tampak lengang, di kiri kanannya dipenuhi pepohonan rindang. Mungkin karena diambil fotonya pada pagi hari, yang tampak hanya sado, yang kala itu merupakan angkutan utama di Kota Batavia (kini Jakarta).

Kampung Kebon Sirih (rupanya dulu banyak pohon sirih tumbuh di sini), merupakan salah satu kampung tua di Jakarta. Dibangun pada tahun 1830 atas perintah Gubernur Jenderal Van Den Bosh yang terkenal dengan sistem tanam paksanya yang membuat bencana kepada masyarakat banyak. Ia membentuk sebuah lingkaran apa yang disebut Defensielijn Van den Bosh atau Garis Pertahanan Van den Boosh yang disebut Weltevreden. Yakni wilayah sekitar Gambir (kini Monas). Di sinilah tempat pusat pemerintahan kolonial Belanda. Di Jl Kebon Sirih, terdapat kantor DPRD DKI Jakarta, yang terletak di bagian belakang dari Balai Kota, yang dibangun pada awal abad ke-20.

Kebon Sirih, yang berdekatan dengan kawasan elite Menteng, merupakan salah satu pemekaran Batavia ke arah selatan. Ujung bagian selatan Kebon Sirih, terdapat Jl Parapatan. Di sini Bung Karno membangun patung petani suami istri. Ketika terjadi Gerakan 30 September, banyak pihak yang menghujat patung ini, karena si petani menyandang bedil dipinggangnya. Maklum, menjelang G30S (September 1965), PKI dan ormas-ormasnya menuntut agar 15 juta petani dan buruh dipersenjatai sebagai angkatan ke-5. Usulan ini ditentang keras pihak ABRI yang mengakibatkan terjadinya konflik antara PKI dan AD.

Kebon Sirih terkenal dengan ratusan pengusaha kecil yang berkarya dalam industri jok. Hikayat Kebon Sirih sebagai pusat industri jok di Jakarta, dimulai tahun 1928. Tentu saja ketika itu, saat mobil belum banyak ngonol di Jakarta, para pengusaha kecil diisi membuat jok untuk delman dan sado. Pada tahun 1950-an mereka juga membuat jok untuk becak, ketika kendaraan beroda tiga ini menjadi raja jalanan di Ibukota. Kini, para perajin jok lebih banyak membuat pesanan untuk mobil. Ketika industri jok tengah berkembang, terutama di masa Pak Harto saat perusahaan mobil PT Astra menjadikan mereka sebagai anak angkat khusus dibidang pembuatan jok. Kala itu, anak-anak di sekitar Jl Kebon Sirih Timur Dalam tidak ada yang menganggur. Masih di usia belasan, mereka sudah ikut membantu orang tua atau teman.

Karena industri jok di Kebon Sirih sudah berlangsung lebih tiga perempat abad, maka pekerja jok sekarang ini merupakan generasi ketiga. Tapi keberadaan mereka menjadi terganggu ketika di daerah ini perusahaan Bimantara membangun gedung megah dan besar, hingga banyak rumah penduduk tergusur. Apabila hal ini terus terjadi dikhawatirkan salah satu kampung tua dan bersejarah di Jakarta ini akan hilang.

Nama Kebon Sirih termashur di mancanegara, karena di Jalan Jaksa yang terletak antara Jl KH Wahid Hasyim dan Kebon Sirih bertabur hotel murah meriah. Tempat berseliweran para turis (yang) berkantong cekak. Di sini juga digelar Pesta Jalan Jaksa. Cap jaksa pada jalan itu telah ada sejak sebelum pewrang dunia II. Konon, dulu jalan itu merupakan tempat pemondokan mahasiswa sekolah tinggi hukum Belanda di Jalan Merdeka Barat. (Kini Departemen Hankam). Namun, para mahasiswa itu tak mampu meraih gelar sarjana hukum (MR), cuma mampu tingkatan jaksa. Jadilah sepotong jalan sepanjang 450 meter itu disebut Jl Jaksa (sampai kini).


(Alwi Shahab)

Penduduk Asli Betawi

Ada yang berpendapat penduduk Betawi itu majemuk. Artinya, mereka berasal dari percampuran darah pelbagai suku bangsa dan bangsa-bangsa asing. Pendapat ini tidak seluruhnya benar. Seperti dikemukakan sejarawan Sagiman MD, penduduk Betawi telah mendiami Jakarta dan sekitarnya sejak zaman batu baru atau pada zaman Neoliticum, yaitu 1500 SM.

Yang pasti penduduk asli Betawi adalah penduduk Nusa Jawa sebagaimana orang Sunda, Jawa, dan Madura. Tidak dipungkiri memang ada percampuran darah di zaman kekuasaan Hindia Belanda. Mengingat pada masa itu, khususnya pada abad ke-17, 18, dan 19, terjadi percampuran darah ketika warga Cina, Arab, dan Eropa (Belanda), yang umumnya datang di Batavia tanpa istri, mengawini penduduk setempat.

Sementara itu, Yahya Andi Saputra, jebolan Fakultas Sejarah UI, berpendapat bahwa penduduk asli Betawi adalah penduduk Nusa Jawa. Menurutnya, dahulu kala penduduk di Nusa Jawa merupakan satu kesatuan budaya. Bahasa, kesenian, dan adat kepercayaan mereka sama. Dia menyebutkan berbagai sebab yang kemudian menjadikan mereka sebagai suku bangsa sendiri-sendiri.

Pertama, munculnya kerajaan-kerajaan di zaman sejarah. Kedua, kedatangan penduduk dari luar Nusa Jawa. Terakhir, perkembangan kemajuan ekonomi daerah masing-masing. Penduduk asli Betawi berbahasa Kawi (Jawa kuno). Di antara penduduk juga mengenal huruf hanakacara (abjad bahasa Jawa dan Sunda).

Jadi, penduduk asli Betawi telah berdiam di Jakarta dan sekitarnya sejak zaman dahulu. Pada abad ke-2, Jakarta dan sekitarnya termasuk wilayah kekuasaan Salakanagara atau Holoan yang terletak di kaki Gunung Salak, Bogor. Penduduk asli Betawi adalah rakyat kerajaan Salakanagara. Pada zaman itu perdagangan dengan Cina telah maju. Bahkan, pada tahun 432 Salakanagara telah mengirim utusan dagang ke Cina.

Pada akhir abad ke-5 berdiri kerajaan Hindu Tarumanagara di tepi kali Citarum. Menurut Yahya, ada yang menganggap Tarumanagara merupakan kelanjutan kerajaan Salakanagara. Hanya saja ibukota kerajaan dipindahkan dari kaki gunung Salak ke tepi kali Citarum. Penduduk asli Betawi menjadi rakyat kerajaan Tarumanagara. Tepatnya letak ibukota kerajaan di tepi sungai Candrabagha, yang oleh Poerbatjaraka diidentifikasi dengan sungai Bekasi.

Candra berarti bulan atau sasi, jadi ucapan lengkapnya Bhagasasi atau Bekasi, yang terletak di sebelah timur pinggiran Jakarta. Di sinilah, menurut perkiraan Poerbatjaraka, letak istana kerajaan Tarumanengara yang termashur itu. Raja Hindu ini ternyata seorang ahli pengairan. Raja mendirikan bendungan di tepi kali Bekasi dan Kalimati. Maka sejak saat itu rakyat Tarumanagara mengenal persawahan menetap.

Pada zaman Tarumagara kesenian mulai berkembang. Petani Betawi membuat orang-orangan sawah untuk mengusir burung. Orang-orangan ini diberi baju dan bertopi, yang hingga kini masih dapat kita saksikan di sawah-sawah menjelang panen. Petani Betawi menyanyikan lagu sambil menggerak-gerakkan tangan orang-orangan sawah itu.

Jika panen tiba petani bergembira. Sawah subur, karena diyakini Dewi Sri menyayangi mereka. Dewi Sri, menurut mitologi Hindu, adalah dewi kemakmuran. Penduduk mengarak barongan yang dinamakan ondel-ondel untuk menyatakan merdeka punya kagoembiraan. Ondel-ondel pun diarak dengan membunyikan gamelan.

Nelayan juga bergembira menyambut panen laut. Ikan segar merupakan rezeki yang mereka dapatkan dari laut. Karenanya mereka mengadakan upacara nyadran. Ratusan perahu nelayan melaut mengarak kepala kerbau yang dilarungkan ke laut.

Kerajaan Tarumanagara pada abad ke-7 ditaklukkan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Budha. Di zaman kekuasaan Sriwijaya berdatangan penduduk Melayu dari Sumatera. Mereka mendirikan pemukiman di pesisir Jakarta.

Kemudian bahasa Melayu menggantikan kedudukan bahasa Kawi sebagai bahasa pergaulan. Ini disebabkan terjadinya perkawinan antara penduduk asli dengan pendatang Melayu. Bahasa Melayu mula-mula hanya dipakai di daerah pesisir saja. Kemudian meluas sehingga ke daerah kaki Gunung Salak dan Gunung Gede.

Bagi masyarakat Betawi keluarga punya arti penting. Kehidupan berkeluarga dipandang suci. Anggota keluarga wajib menjunjung tinggi martabat keluarga. Dalam keluarga Betawi ayah disebut babe. Tetapi ada juga yang menyebutnya baba, mba, abi atau abah -- pengaruh para pendatang dari Hadramaut. Ibu disebut mak. Tetapi tidak kurang banyaknya yang menyebut nyak atau umih. Anak pertama dinamakan anak bongsor dan anak bungsu dinamakan anak bontot.

Sejak dahulu kala Jakarta menarik perhatian orang asing. Pada tahun 414 berkunjung ke Jakarta seorang kelana Tiongkok bernama Fa Hiiiien. Ia melihat banyak rumah di pesisir. Banyak penduduk Jakarta yang menangkap ikan di laut. Jakarta banyak disukai orang asing karena air minumnya yang jernih. Juga di sini dihasilkan tuak yang diambil dari pohon nira.

Pada abad ke-12 pelabuhan Sunda Kelapa ramai dikunjungi pelaut-pelaut asing. Kemudian hari sebagian dari mereka menjadi penduduk Jakarta. Ketika Jan Pieterzoon Coen mendirikan Batavia (Mei 1619), penduduk Jayakarta menyingkir sambil mendirikan markas gerilya di Jatinegara Kaum (Jakarta Timur). Untuk mengisi kekosongan kota, Coen mendatangkan banyak budak dari Asia Selatan dan Bali.

Keberadaan budak yang baru dihapuskan 1860 membuat sejumlah sejarawan asing terkecoh. Mereka menulis bahwa orang Betawi keturunan budak. Padahal sejak 1.500 tahun SM di Jakarta dan sekitarnya sudah bermukim orang Betawi.
(Alwi Shahab)

Mester-Condet-Cililitan

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa nama Jatinegara, sebuah kecamatan di Jakarta Timur, baru muncul pada tahun 1942. Yakni, pada awal masa pendudukan Jepang sebagai pengganti nama Meester Cornelis yang berbau Belanda.

Nama Jatinegara -- 'negara sejati' -- sebetulnya sudah dipopulerkan oleh Pangeran Ahmad Jakatra. Saat pangeran dan pengikutnya hengkang dari Sunda Kelapa dan keratonnya dihancurkan Belanda, sambil bersumpah untuk memerangi VOC, mereka mendirikan perkampungan yang diberi nama Jatinegara Kaum, di Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Jepang, pada saat bersamaan, juga merubah nama Batavia menjadi Jakarta, dari kata Jayakarta. Naman ini juga telah dipopulerkan Fatahillah, ketika ia dan balatentaranya mengusir pasukan Portugis dari Teluk Jakarta (22 Juni 1527).

Sebutan Meester Cornelis sendiri mulai muncul ke pentas sejarah kota Jakarta pada pertengahan abad ke-17 bersamaan dengan diberikannya izin pembukaan hutan di kawasan itu pada Cornelis Senen oleh VOC. Cornelis Senen adalah seorang guru agama Kristen dari Lontor, Pulau Banda.

Ketika tanah tumpah darahnya dikuasai kompeni (1621), Cornelis mulai bermukim di Batavia. Dia dikenal mampu berkhotbah, baik dalam bahasa Melayu maupun Portugis (Kreol). Sebagai guru ia biasa dipanggil meester yang berarti tuan guru. Hutan yang dibukanya juga dikenal dengan Meester Cornelis, yang oleh pribumi biasa disingkat mester.

Hingga sekarang masih banyak warga menyebut mester untuk Jatinegara atau Kampung Melayu. Termasuk para pengemudi angkot dan bus kota. Meester Cornelis dahulu merupakan kawasan yang berdiri sendiri dan tidak dalam pemerintahan Batavia.

Dari Jatinegara, setelah melalui Cawang (berasal nama seorang kapten Melayu encik Awang), bawahan dari Kapten Wan Abdul Bagus, yang bersama pasukannya bermukim di kawasan yang sekarang dikenal dengan Kampung Melayu, sebelah selatan Jatinegara.

Menurut Rachmat Ruchiat, mantan Kepala Dinas Perpustakaan dan Museum DKI, pada awal abad ke-20 Cawang pernah menjadi buah bibir masyarakat, karena disana bermukim seorang pesilat beraliran kebatinan, bernama Sa'irin alias Bapak Cangok. Sa'irin dituduh oleh pemerintah Belanda sebagai dalang kerusuhan di Tangerang (1924). Di samping itu, dia pun dinyatakan terlibat dalam pemberontakan Entong Gendut di Condet (1916).

Dari Cawang, kita menuju ke kawasan Condet. Di Condet Raya, yang jalan rayanya dua arah, kemacetannya sudah tidak ketolongan lagi. Semua pihak menganggap jalan yang sempit ini perlu diperlebar. Disamping mobil dan ribuan kendaraan beroda dua, jalan ini makin macet dengan beroperasinya metro-mini, yang berhenti seenaknya.

Di Condet, Kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur, terdapat kelurahan Batuampar. Ada legenda yang melekat pada nama tempat tersebut, sebagaimana diceritakan oleh orang-orang tua di Condet kepada Ram Ramelan, penulis buku kecil berjudul Condet.

Pada jaman dulu, ada seorang suami istri bernama Pangeran Geger dan Nyai Polongan, yang memiliki beberapa orang anak. Salah seorang puterinya, Siti Maimunah, sangat kesohor kecantikannya. Ia memiliki hidung mancung serudung, rambut mayang terurai, pipih bak pauh dilayang. Konon, kalau Siti Maimunah minum, airnya terlihat ditenggorannya. Waktu Maemunah sudah dewasa dilamar oleh Pangeran Tenggara dari Makassar, untuk dijodohkan dengan salah seorang putranya, Pangeran Astawana.

Maemunah bersedia diperistri dengan permintaan supaya dibangunkan sebuah rumah dan sebuah tempat bersantai di atas empang dekat Kali Ciliwung, yang harus selesai dalam waktu satu malam. Permintaan itu disanggupi, dan ternyata terbukti. Menurut sahibul hikayat, esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale di atas empang di pinggir Kali Ciliwung, sekaligus dihubungkan dengan jalan yang diampari batu dari tempat kediaman keluarga Pangeran Tenggara.

Menurut hikayat, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu itu disebut Bale Kambang (balai yang mengambang diatas air). Maka jadilah nama Balekambang.

Kawasan Cililitan dulu terbentang dari Kali Ciliwung di sebelah barat, sampai Kali Cipinang di sebelah timur. Sebelah selatan berbatasan dengan kawasan Kampung Makassar dan Condet. Di utara berbatasan dengan Cawang.

Nama Cililitan diambil dari nama salah satu anak sungai Cipinang. Sekarang ini, anak sungai tersebut sudah tidak ada lagi bekas-bekasnya. Kata 'Ci' adalah bahasa Sunda, mengandung arti sungai. "Lilitan" lengkapnya 'lilitan kuru', adalah nama sejenis tanaman perdu.

Kembali ke kawasan Kramatjati, tempat yang terletak antara kantor kecamatan dan kantor polisi ressort Kramatjati, sekitar persimpangan dari jalan raya Bogor ke TMII terus ke Pondok Gede, dikenal dengan nama Hek. Rupanya nama ini berasal dari bahasa Belanda. Menurut Kamus Umum Bahasa Belanda-Indonesia, kata hek berarti pagar. Tetapi hek juga berarti pintu pagar.

Dari seorang penduduk setempat yang berusia lanjut, bahwa di tempat tersebut dulu memang ada pintu pagar, terbuat dari kayu bulat, ujung-ujungnya diruncingkan, berengsel besi besar, dan bercat hitam. Pintu itu digunakan sebagai jalan keluar-masuk kompleks peternakan sapi, yang sekelilingnya berpagar kayu bulat.

Kompleks peternakan sapi itu dewasa ini menjadi kompleks Barisan Pemadam Kebakaran dan Kompleks Polisi Resor Kramatjati.

(Alwi Shahab)

Harmonie 1937 dan Pesta Ratu Juliana

Inilah Harmonie (kini Jalan Majapahit) diabadikan tahun 1937. Di kiri kanan jalan tampak gedung-gedung dan pertokoan dihias dengan ornamen-ornamen. Sementara bendera Belanda 'merah putih biru' dikibarkan di puncak-puncak gedung. Peristiwa yang diabadikan pada tahun 1937, menurut keterangan untuk memeriahkan hari perkawinan Ratu Juliana dengan Pangeran Bernhard. Pestanya dimeriahkan bukan hanya di Batavia tapi juga berbagai tempat di Hindia Belanda.

Pada masa kolonial Belanda, di Indonesia, termasuk di sekolah-sekolah diadakan peringatan yang punya kaitan dengan Kerajaan Belanda. Di sepanjang Harmoni, termasuk di Risjwijk (Jl Veteran) dan Noordwijk (Jl Juanda), diadakan pesta pora meriah. Termasuk Pasar Gambir (kini Monas) untuk memperingati ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina, ibunda Ratu Juliana dan nenek Ratu Beatrix, ratu Belanda sekarang ini.

Di sepanjang jalan yang tidak begitu ramai, terlihat sejumlah mobil tahun 1930'an produksi Eropa menguasai jalan ramai yang paling bergengsi ketika itu. Tampak juga pengendara sepeda, yang dengan disiplin melaju di trotoar yang disediakan khusus untuk mereka. Paling kiri gambar tampak gedung Harmonie yang kini merupakan bagian dari Sekretariat Negara. Jika kita dari Monas atau Hotel Indonesia menuju Jl Gajah Mada dan Glodok yang selalu ramai, kita akan melewati Harmonie. Sekalipun namanya telah berganti menjadi Jl Majapahit, tapi nama Harmonie tetap langgeng hingga sekarang. Dulu di sini merupakan daerah bisnis utama di Batavia (sampai dibangunnya Jl Thamrin 1962). Tidak heran kalau Belanda menempatkan patung Hermes (dewa perniagaan), antara jembatan Harmoni menuju Istana Negara (Rijswijk Palace) dan Noordwijk (Jl Juanda). Patung ini dipasang 1930'an, dan kini ditempatkan di Museum Sejarah DKI karena pernah dikabarkan hilang diboyong 'pencuri'.

Pada abad lalu kawasan sekitar Harmoni menyerupai permukiman orang-orang Prancis. Mereka di antaranya pedagang batu mulia, toko roti dan kue. Beberapa aktor menetap di Weltevreden yang berdekatan dengan Harmoni. Mereka memberi les dansa dan bahasa Prancis. Sedangkan beberapa artis membuka butik. Toko jahit terkenal akhir abad lalu di Harmonie adalah Oger Freres (Oger Bersaudara) dan kini menjadi kantor Nitour (Pariwisata). Sampai tahun 1960-an di samping gedung Harmoni terdapat Hotel du Pavilion, kepunyaan seorang keturunan Arab kaya raya. Kini cucunya Helmi Sungkar menjadi pereli motor terkenal. Di samping sejumlah kerabatnya yang juga menekuni reli ini.

Sejak abad ke-16 musafir-musafir Prancis mengunjungi Nusantara untuk memperoleh rempah-rempah dan mereka meninggalkan catatan dalam bahasa Prancis seperti JB Tairnier. Ketika datang dan mendirikan VOC, Belanda melengkapi diri dengan angkatan perang yang tentaranya terdiri dari orang-orang Jerman, Denmark, Belgia, Jepang, di samping tentunya Prancis. Di antara mereka terdapat Cornelis Chastelein, yang pada usia 17 tahun bekerja di VOC setelah mengarungi lautan selama 223 hari (24/1-16-8-1645) baru tiba di Batavia. Entah bagaimana ia kemudian menjadi kaya raya dan memiliki tanah bejibun. Kemudian ia menghibahkan sejumlah tanahnya di Depok kepada para budaknya dengan syarat mereka menjadi Nasrani. Kini bekas para budak itu dikenal dengan istilah Belanda Depok.


(Alwi Shahab)

Senja di Sunda Kalapa

Orang Betawi selama empat abad (12-16 Masehi) pernah menjadi rakyat Pajajaran. Pusat kotanya ada di Pakuan, sekitar Bogor sekarang. Pada masa itu orang Betawi telah berbahasa Melayu, sementara kerajaan Pajajaran berbahasa Sunda. Sejak abad ke-12 pelabuhan Kalapa dikuasai Pajajaran dan berganti nama jadi Sunda Kelapa. Kerajaan ini beragama Budha. Tidak heran kalau pendeta Budha punya kedudukan istimewa. Tapi, orang Betawi hampir tidak ada yang beragama Budha, mereka menganut kepercayaan lama.

Pada abad ke-14 di Karawang berdiri Pesantren Kuro. Karawang termasuk wilayah Pajajaran. Yang memerintah adalah Prabu Siliwangi. Menurut penuturan Yahya Andi Saputra, yang banyak menekuni sejarah Jakarta, suatu ketika Prabu Siliwangi mengunjungi Pesantren Kuro. Di sini sang prabu jatuh hati pada seorang putri bernama Subang Larang. Sang Prabu dikaruniai putera bernama Kyan Santang. Ia menganut agama Islam.

Orang Betawi banyak yang mengikuti agama Islam yang disebarkan Kyan Santang. Pendeta kerajaan Pajajaran menilai Kyan Santang melakukan penyimpangan, atau langgara. Karena itu, tempat bersembahyang (shalat) pengikut Kyan Santang dinamakan langgar. Orang Betawi sampai kini lebih banyak menyebut langgar katimbang mushala.

Pelabuhan Sunda Kalapa sejak dikuasai Pajajaran sangat makmur. Banyak disinggahi kapal-kapal dari mancanegara, disamping perahu dari berbagai tempat di Nusantara. Menurut penuturan Yahya Andi Saputra, kesenian di zaman itu berkembang pesat. Seperti tari-tarian dan gamelan. Orang Betawi banyak yang berprofesi di bidang kesenian. Mereka memajukan kesenian Betawi, seperti topeng, ubrug dan ujungan.

Pada tahun 1521 Kerajaan Pajajaran membuat perjanjian dengan penguasa Portugis. Negara di Eropa Selatan ini baru saja menaklukkan Kerajaan Malaka pada tahun 1511. Perjanjian Pajajaran-Portugis tertulis pada batu yang dinamakan padrao. Portugis diberi hak untuk membangun loji di Sunda Kelapa. Loji adalah perkantoran dan perumahan yang dilengkapi benteng. Kerajaan Pajajaran mendapat imbalan atas perjanjian itu.

Perjanjian antara Pajajaran dan Portugis itu membuat marah kesultanan Islam di Demak. Syahdan, sebagai realisasi ketidaksenangan itu, wali sembilan (songo) bermusyawarah di Gunung Sembung, Cirebon.

Mereka baru saja mendapat kabar dari Sultan Demak bahwa Pajajaran membuat perjanjian dengan Portugis yang sifatnya merugikan kepentingan Nusa Jawa. Para wali sepakat untuk menyerang Sunda Kelapa pada waktu yang tepat. Wali yang bernama Sunan Ampel Dhenta ditugaskan berangkat ke Sunda Kelapa guna melakukan persiapan. Sunan Ampel mengislamkan penduduk pesisir tanah Betawi. Sunan Ampel melakukan tugas tersebut selama lima tahun dari 1522 sampai 1527.

Sunan Amppel bergerak dari Cirebon menuju Marunda di Cilincing, Jakarta Utara. Di sini dia mendirikan masjid Al-Alam, yang hingga kini masih berdiri setelah beberapa kali direnovasi. Selesai menjalankan tugas, Sunan Ampel kembali ke Cirebon.

Sultan Demak menugaskan Fatahillah memimpin pasukan menyerbu bandar Sunda Kelapa. Pada suatu hari di bulan Juni 1527 pasukan Fatahillah bergerak dari darat dan laut. Puncak pertempuran terjadi pada suatu senja di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa. Setelah mengusir pasukan Portugis, Adipati Sunda Kelapa menyerahkan kekuasaannya pada Fatahillah. Penyerahan kekuasaan itu terjadi pada 22 Juni 1527, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Jakarta. Pada hari itu Fatahillah memberi nama Jayakarta.

Fatahillah mendirikan kadipaten di tepi barat Ciliwung. Kadipaten itu di bawah pengawasan kesultanan Banten. Di sebelah timur kali Ciliwung, Fatahillah mendirikan aryan -- perumahan untuk para pejabat kadipaten dan keluarganya yang didatangkan dari Banten. Di depan kadipaten ada alun-alun dan masjid.

Fatahillah dan pejabat-pejabat kadipaten bersembahyang di masjid itu (Ketika VOC menyerang Jayakarta, masjid, alun-alun, pasar, dan keraton dibakar tanpa sisa pada Mei 1619). Setelah tugasnya selesai, Fatahillah ke Banten, untuk kemudian kembali ke Cirebon, dan wafat di sana.

Setelah Fatahillah, pejabat tertinggi Kadipaten Jayakarta adalah Tubagus Angke. Kemudian diganti dengan Pangeran Ahmad Jaketra yang merupakan pangeran terakhir di Jayakarta. Ketika keraton, masjid, pasar, dan perumahan para adipati dibumihanguskan, mereka menyingkir ke Jatinegara Kaum yang jaraknya dari keraton (sekitar terminal bus Kota Inten) kurang lebih 20 km. Di sini pangeran Ahmad Jaketra dan para pengikutnya meneruskan perjuangan. Terbukti selama lebih 80 tahun, Batavia tidak pernah aman akibat perang gerilya yang dilancarkan mereka.

Sampai saat ini keturunan Kerajaan Banten umumnya masih berbahasa Sunda. Di sini terdapat Masjid As-Shalafiah. Di pekarangan masjid terdapat beberapa makam para bangsawan Banten yang meninggal pada akhir abad ke-17. Termasuk makam pangeran yang banyak sekali diziarahi. Bukan hanya warga Jakarta tapi dari berbagai tempat.
(Alwi Shahab)

Kesibukan di Pintu Kecil, Glodok 1957

Foto yang diabadikan tahun 1957 ini bukanlah sebuah kota di kawasan Hongkong, atau di daratan Cina. Tapi, jalan yang dipenuhi toko dan rumah dengan huruf Cina adalah suasana di Jl Pintu Kecil, bagian dari Glodok atawa China Town. Pintu Kecil yang diabadikan setengah abad lalu, suasananya sangat berlainan dengan sekarang ini.

Mobil-mobil merek Morris dan Fiat buatan Inggris dan Italia, mendominasi di jalan yang pernah dijuluki "Wall Street", karena kegiatannya sebagai pusat perdagangan dan bisnis warga keturunan Cina. Seperti juga pusat perdagangan dan bursa saham Wall Street di New York, di kawasan Glodok termasuk Pintu Kecil, kala itu tempat sebagian besar beredarnya uang di Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya.

Di samping mobil, terlihat otobus yang merupakan angkutan penumpang kala itu. Pada tahun 1957, saat menjelang berakhirnya demokrasi liberal dan kemudian digantikan demokrasi terpimpin, huruf-huruf Cina kemudian digantikan dengan bahasa Indonesia. Seperti terlihat di foto, toko-toko termasuk toko obat (sinshe) menggunakan reklame berbahasa Cina dan Indonesia. Di antaranya sebuah apotik yang menjual anggur kolesom, yang umumnya diminum oleh para ibu yang habis melahirkan. Tapi anggur ini juga menjadi minuman pria untuk mencari 'kekuatan'.

Terlihat seorang pria tengah bersepeda tanpa khawatir dengan kendaraan bermotor, di pasar yang kala itu sangat sibuk. Delman, sado, atau bendi, juga tampak lalu lalang yang sekarang ini sudah hampir menghilang di Jakarta. Pada 1860, seorang Belanda bernama FC TH Deeleman merancang kereta kuda beroda dua. Nama delman diambil dari nama perancangnya.

Pintu kecil yang berseberangan dengan Pasar Pagi, terletak sedikit di luar kota berbenteng. Sesuai namanya dulu di sini terdapat Pintu Kecil, tempat keluar masuknya manusia yang terletak di bagian barat benteng VOC. Tidak jauh dari Pintu Kecil, terdapat pintu masuk ke benteng yang lebih besar, hingga dinamakan Jalan Pintu Besar. Pasar Pagi sendiri pernah menjadi pasar grosir terbesar di Jakarta. Sekalipun telah dipindahkan ke Mangga Besar, tapi Pasar Pagi sampai kini masih tetap merupakan pasar grosir untuk alat-alat tulis, mainan anak-anak, dan tekstil.

Setelah peristiwa pemberontakan warga Tionghoa terhadap kompeni, Belanda melarang orang-orang Tionghoa tinggal di dalam benteng. Maka disediakanlah tempat untuk mereka di Glodok, di mana Pintu Kecil berada. Pada 1808-1811, Gubernur Jenderal Herman Willemn Daendels membongkar benteng tua (kastil), tembok kota, gereja Belanda baru, dan banyak gedung lainnya yang berada di dalam benteng.

Konon, nama Glodok berasal dari kata grojok suara kucuran air dari pancuran (kini disebut kawasan Pancoran). Pancoran ini terbuat dari kayu yang tingginya kl 10 kaki. Kata 'Glodok' diucapkan oleh orang Tionghoa totok (singkeh). Karena tidak bisa menyebut grojok akhirnya jadi Glodok, sesuai dengan lidahnya. Di sekitar Glodok dulu banyak kanal-kanal (kali buatan). Kala itu, mandi di kali bukan hanya kebiasaan penduduk, tapi termasuk orang Belanda yang berkedudukan tinggi.

(Alwi Shahab)

Keturunan Portugis di Tugu

Pada tahun 1641, VOC atawa Kompeni berhasil menaklukkan Malaka, kota dagang Portugis di Malaysia, yang kala itu merupakan saingan utama Batavia. Salah satu benda peninggalan Portugis yang diboyong Belanda dari Malaka adalah 'meriam si jagur' -- kini disimpan di Musium Sejarah DKI Jakarta, setelah selama 200 tahun pernah dikekramatkan.

Dan, sebagai lazimnya mereka yang kalah perang kala itu, maka VOC pun memboyong tawanan perang ke Batavia. Terdiri dari orang-orang Portugis dan dan orang dari daerah yang diduduki Portugis kala itu, seperti Goa, Malabar, dan Coramandel. Konon, nama Jl Roa Malaka di Jakarta Barat berasal dari mereka.

Di Batavia, setelah mengganti agamanya dari Katolik jadi Protestan, mereka dibebaskan dari budak menjadi mardika atau mardijkers. Sampai akhir abad ke-19, agama Katolik dilarang di Indonesia. Tawanan Portugis dari Malaka yang tidak setuju pindah agama dari Katolik ke Protestan ditempatkan di Flores, Nusatenggara Timur.

Agama Katolik baru dibolehkan di zaman Daendels (1808), ketika Belanda ditaklukkan Prancis. Di Tugu sendiri kemudian terjadilah perkawinan-perkawinan terutama dengan suku-suku yang beragama Kristen. Seperti orang Banda, yang di Batavia diberi tempat sendiri, yakni Kampung Banda(n). Pada tahun 1661 gereja di Batavia dengan persetujuan VOC memindahkan sebanyak 23 KK (150 jiwa) yang diberi nama 'Mustisa' (Mestiezen) yang berarti campuran.

Mereka diberi tempat 20 km sebelah tenggara Batavia, yaitu Kampung Toegoe (Tugu sekarang ini). Nama Tugu berarti paal, batas (grenspaal). Ada juga yang mengartikannya batu persinggahan atau dari kata Portuguese. Yang jelas sampai saat ini Kampung Tugu merupakan kampung Kristen tertua di Indonesia bagian Barat dengan segi-segi sejarahnya tersendiri.

Sejak 1661, yakni sejak mendiami Kampung Tugu, mereka disebut orang Tugu. Tapi oleh Muslim sekitarnya mereka disebut 'orang serani' berasal dari kata Nasrani. Orang Tugu merupakan keluarga besar, karena perkawinan-perkawinan yang terjadi setelah mereka berada di tempat baru itu. Dalam kehidupan sehari-hari mereka bertani, berburu babi yang dibuat dendeng asin, yang dikenal dengan nama 'dendeng Tugu'. Mereka juga menangkap ikan di kali Tugu (kali Cakung) atau di laut. Hasilnya untuk keperluan sendiri.

Kesibukan lain tidak banyak terdapat karena kehidupan di Tugu untuk beberapa ratus tahun adalah semacam natuurleven (kehidupan alam bebas), tanpa pengaruh luar lainnya. Pada waktu-waktu luang seniman (penggemar seni keroncong) membuat keroncong untuk hiburan sendiri. Umumnya pada malam hari anak-anak muda (sampai sekarang) berkumpul dengan bergantian tempat, untuk membuat keramaian sendiri: seni musik keroncong atau rabu-rabu. Kini, keroncong yang berasal dari Portugis dan telah berusia lebih 350 tahun itu telah meluas di berbagai tempat di tanah air.

Bahasa sehari-hari mereka, yaitu dialek Portugis Tugu, dapat mereka pertahankan sampai tahun 1935. Kini sudah tidak banyak lagi dipergunakan, karena orang-orang tua sudah meninggal dunia. Di samping itu sejarah dendeng tugu juga dikuatirkan akan lenyap. Karena daerah tempat berburu kini sudah lenyap dan sangat jauh seperti Cabang Bungin dan Cabang Empat. Apalalgi ketika tentara Jepang masuk (1942), senapan mereka dirampas.

Beberapa kata Indonesia yang berasal dari bahasa Portugis cukup banyak. Seperti bangku (dari kata benco), jendela (janela), meja (mesa), sepatu (sapatu), gardu (garda), keju (aquijo), bendera (bandaera), dan topi (capyo). Seperti dikemukakan oleh Samuel Quito (65), salah seorang tokoh Masyarakat Tugu, ketika mereka dipindahkan ke desa ini, Tugu masih berupa rawa-rawa dan sarang nyamuk malaria. Oleh pemerintah kolonial mereka sengaja diisolir agar 'mati pelan-pelan'. Tapi karena fisik orang Tugu kuat-kuat mereka dapat bertahan di tempat yang mematikan itu.

Sejak 1661 -- mulai dari tibanya di Tugu -- mereka dilayani oleh jamaat Portugis di Batavia. Khotbahnya dengan bahasa Portugis. Baru pada 1678, Ds Melchior Leydecker membangun sebuah gereja dari kayu, yang juga berfunfsi sebagai sekolah. Kala itu merupakan gereja dan sekolah pertama di Batavia. Ds Melchior yang dikenal sebagai pendiri Kampung Tugu adalah seorang ahli obat-obatan. Ia tinggal di Tugu dan dari sinilah ia menerjemahkan kitsn injil dari bahasa Belanda ke Melayu. Pekerjaan ini belum selesai, dan ia keburu dipanggil Tuhan pada 16 Maret 1701, dan dimakamkan di Kampung Tugu. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Ds Petrus Van de Vorm, dan selesai tahun itu juga.

Pada tahun yang sama pendeta bangsa Portugis menyalin kitab injil dari bahasa Yunani ke bahasa Portugis. Juga di kampung Tugu, DS Amelda Pareira, yang semasa hidupnya seorang Katolik yang patuh, kemudian pada umur sekitar 14 tahun ia turut dengan seorang pendeta Belanda ke Batavia. Sejak usia remaja itu dia dididik menjadi pendeta untuk jemaat Portugis di Jakarta.
(Alwi Shahab)

Senen 1956 yang Semrawut

Inilah Prapatan Senen 1956. Kala itu belum muncul lampu lalu lintas seperti sekarang ini. Lihatlah polisi lalu lintas (polantas) yang harus rela berjampjam menggerakkan kedua tangannya untuk mengatur kendaraan. Anggota Polantas ini berdiri di tempat yang ditinggikan dan iberi semen.

Rupanya sejak 50 tahun lalu, disiplin orang Jakarta berlalu lintas sangat parah. Seperti juga sekarang yang tanpa mengenal malu melakukan pelanggaran lalu lintas, hal yang sama juga terjadi pada masa itu. Lihatlah bagaimana becak seenaknya menyerobot kendaraan di jalan protokol. Di hadapan polantas masih tampak gedung-gedung atau toko-toko tua yang sebagian besar milik warga Tionghoa. Sekarang ini sudah dibongkar dan menjadi Atrium Senen, yang merupakan pusat perdagangan modern. Sedangkan diseberang kiri merupakan Pasar Senen, yang kini menjadi pertokoan.

Setelah penyerahan kedaulatan tahun 1950, penduduk Jakarta melonjak dengan tajam. Soalnya ketika Bung Karno, Bung Hatta dan para pemerintahan dipindahkan ke Yogyakarta (Januari 1946), penduduk Kota Gudek yang kini tengah mengalami musibah gempa, melonjak dari 170 ribu jiwa menjadi 600 ribu jiwa. Setelah penyerahan kedaulatan, mereka kembali ke Jakarta. Di samping mereka yang 'hijrah' ke Yogya, berbagai masyarakat di daerah-daerah juga ngendon ke Jakarta. Apalagi dengan dibangunnya banyak departemen.

Tampak beberapa mobil buatan Amerika dan Eropa, seperti merk Chevrolet, Buick, Oplet, Austin, Morris dan Fiat. Nama Oplet dari kata Opel sampai tahun 1970-an merupakan angkutan penumpang utama di Jakarta. Seperti juga mikrolet, para penumpang duduk saling berhadapan.

Kendaraan Oplet kemudian digantikan dengan Austin juga buatan Eropa. Sekalipun sudah digantikan Austin, tapi nama Oplet lebih populer. "Naik Oplet, bukan naik ostin sebutan orang-orang ketika itu," Kini baik nama Oplet maupun ostin sudah tidak terdengar lagi sejak beroperasinya mikrolet awal 1970-an. Salah satu toko paling terkenal di Pasar Senen ketika itu adalah toko Baba Gemuk. Dinamakan demikian karena si 'baba' berperawakan gemuk.

Di Pasar Senen (dalam foto terlihat di arah kanan), kala itu ada Rumah Makan Padang 'Merapi'. Kita perlu mengangkat rumah makan ini, sekarang jadi jalan arteri, karena di sinilah tempat para seniman Senen ngumpul di malam hari. Rumah makan padang ini letaknya di Kramat Bunder berdekatan dengan bioskop Grand (kini Kramat).

Dewasa ini, Seniman Senen yang biasanya nongkrong sambil membicarakan sandiwara dan film tinggal SM Ardan, Misbach Yusa Biran, Ayip Rosidi dan Harmoko. Di antara yang telah meninggal adalah Wahyu Sihombing, Soekarno M Noer dan adiknya Ismed M Noer, Syuman Jaya, dan Wahid Chan yang digelari 'camar' seniman Senen. Acara diskusi dan omong-omong dimulai sekitar pukul 22.00 WIB dan makin malam makin ramai hingga jelang shubuh.

Seperti dikemukakan SM Ardan, ketika itu hampir tidak ada membicarakan masalah politik. Karena antara kelompok kiri dan kanan tidak ada masalah kala itu. Karena tidak ada yang mempertentangkan ideologi. Baru pada 1960-an, para seniman PKI dengan Lekranya mulai mempengaruhi para seniman, termasuk seniman Senen untuk masuk dalam kelompok mereka.

(Alwi Shahab, wartawan Republika)

Ismail Marzuki dan Usmar Ismail

"Tuh, itu die tuh rumenye," kata Ibu Amsiah, 80 tahun, sambil menunjuk sebuah rumah petak tua di Jalan Kembang IV/97, Kwitang, Jakarta Pusat. Rumah tua yang ditunjuknya itu tampak sederhana, sebagian dindingnya terbuat dari papan. "Ditempat inilah Bang Maing main musik," kata nenek kelahiran Kwitang itu.

Bu Amsiah adalah misan komponis legendaris kelahiran Kwitang, Ismail Marzuki. Karena orang tua Bu Amsiah saudara kandung Pak Marzuki, ayah Ismail Marzuki. Dulu di depan rumah yang berdekatan dengan Majelis Taklim Habib Ali Kwitang itu terdapat teras. "Di teras inilah Ismail Marzuki memainkan musik dan mencipta lagu," kata Haji Amir (60), keponakan Ibu Amsiah.

Tahun-tahun lalu tiap 25 Mei, hari wafatnya komponis yang telah mencipta lebih dari 200 lagu itu, selalu diperingati. Tapi tahun ini tidak ada upacara-upacara untuk memperingati kematiannnya yang telah 48 tahun.

Ismail Marzuki, yang lagu-lagunya hingga kini tetap lestari, lahir di Kwitang, 11 Mei 1914, dan wafat di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, 25 Mei 1958.

Tidak diragukan lagi, pahlawan nasional ini, melalui lagu-lagunya, telah menggelorakan semangat perjuangan saat bangsa Indonesia tengah mempertahankan kemerdekaannya pada revolusi fisik (1945-1949). Seperti lagu-lagu Halo-halo Bandung, Rayuan Pulau Kelapa, Sepasang Mata Boladan Bandung Selatan, yang menceritakan semangat patriotisme bangsa saat menghadapi penjajah Belanda.

Dan, Ismail menunjukkan satunya kata dengan perbuatan. Dalam suasana yang begitu sulit, dia menolak kerjasama di NIROM radio Belanda yang setelah kemerdekaan jadi RRI. Meskipun untuk itu, istrinya, Eulis Zuraidah, yang juga seorang seniman dan penyanyi, harus berjualan gado-gado. Mojang Priangan ini, yang pada masa mudanya berwajah jelita ini, di usia tua harus hidup dan mati dalam keadaan merana di rumah kontrakannya di Sawangan, Bogor.

Bangsa Indonesia memang kurang menghargai pahlawannya. Padahal, Bung Karno pernah mengatakan, "Hanya bangsa yang besar yang menghargai pahlawannya."

Ismail Marzuki adalah seniman yang memiliki reputasi internasinal. Tapi belum ada satu pun nama jalan yang mengabadikan namanya. Pernah ada usulan agar Jalan Cikini atau Jl Parapatan diubah jadi Jl Ismail Marzuki.

Tapi usul yang dapat dukungan dari Bamus Betawi yang dipimpin Wagub Fauzi Bowo itu tidak terdengar lagi gaungnya. Demikian pula belum ada patung besar Ismail Marzuki yang rencananya akan di tempatkan di depan TIM. Untungnya gubernur Ali Sadikin membangun Taman Ismail Marzuki (TIM). Tapi bila kita naik taksi atau bajaj, lebih dikenal dengan sebutan kependekatannya TIM, katimbang Taman Ismail Marzuki.

Tokoh lain, Usmar Ismail, dikenal sebagai tokoh perfilman nasional. Dengan produksi film melalui Perfini yang berlogo banteng, Usmar menjadi tokoh perfilman yang berhasil mengangkat film-film produksi nasional ke bioskop-bioskop kelas satu, yang kala itu dikuasai oleh AMPAI (Asosiasi Pengusaha Film Amerika Serikat).

Dengan keberanian, dan juga karena mutu filmnya, Usmar Ismail berhasil merebut hati penonton ketika film produksinya, Krisis, diputar selama lima minggu di Metropole (Megaria). Padahal bioskop kelas satu di Cikini, Jakarta Pusat, ini sebelumnya hanya memutar film-film produksi Metro Goldwyn Mayer (MGM).

Film Krisismenggambarkan kesulitan perumahan di Jakarta pada tahun 1950-an. Ketika satu rumah ditempati tiga atau lebih keluarga, yang biasa ketika itu. Ini terjadi setelah pada revolusi fisik (1945-1950) penduduk Jakarta hijrah ke kota perjuangan Yogyakarta. Setelah penyerahan kedaulatan RI kembali, ditambah dengan banyaknya pendatang baru, Jakarta jadi padat. Sementara departemen-departemen menerima tenaga kerja dalam jumlah. Maka terjadilah 'krisis perumahan' -- saling rebutan untuk mandi, mencuci dan buang air besar.

SM Ardan, anggota Sinematek Indonesia, mengusulkan agar di depan Pusat Perfilman Usmar Ismail di Kuningan, Jakarta Pusat, dibangun patung almarhum. Maksudnya supaya generasi mendatang tidak melupakan tokoh yang syuting film perdananya, Darah dan Doa, 30 Maret 1950, ditetapkan sebagai Hari Film Nasional. Kalau Benyamin dan Ismail Marzuki sudah memiliki buku biografi, tidak demikian halnya dengan Usmar. Sampai saat ini tidak ada satu penulispun yang menyusun biografinya. Tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional pun baru ditetapkan pada masa pemerintahan Habibie, tahun 1999, setelah lama diperjuangkan.

Dalam memberikan penghargaan kepada senimannya, kita boleh mengacungkan jempol kepada pemerintah Malaysia. Negeri jiran ini memberikan penghargaan yang tinggi pada aktor legendarisnya, P Ramlee. Antara lain dengan memberikan gelar bangsawan Tan Sri, pada aktor kelahiran Pulau Penang pada 22 Maret 1929 itu.

P Ramlee meninggal mendadak pada 29 Mei 1973 dalam usia 45 tahun di Kuala Lumpur. Rumah tempat dia dilahirkan setelah dilestarikan diberi nama rumah P Ramlee. Kita memang juga masih dapat menjumpai rumah almarhum Ismail Marzuki di Kwitang, tapi kini terbengkalai.

Nama P Ramlee juga diabadikan untuk nama jalan, dan barang-barang peninggalannya masih kita dapati di Pustaka Peringatan P Ramlee. Juga terdapat sebuah mobil merek Datsun miliknya, dan rokok Lucky Strike kegemarannya. Agaknya dalam memberikan penghargaan kepada para seniman kita perlu meniru Malaysia.

(Alwi Shahab)

Kawasan Pancoran Jakarta Kota 1950-an

Foto ini diabadikan tahun 1950-an, hanya beberapa bulan setelah penyerahan kedaulatan dari pemerintah kolonial Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda. Lihatlah kawasan Pancoran Jakarta Kota ketika itu.

Seluruh gedung dan toko dengan gaya di negeri leluhur mereka. Kala itu, becak sudah menggantikan sado atau delman, yang jumlahnya sudah tidak banyak lagi. Mobil hanya terlihat beberapa buah, di kiri dan kanan jalan yang di tengah-tengahnya diapit oleh Kali Krukut (Toko Tiga).

Terlihat seorang bocah yang hanya menggunakan celana pendek tanpa baju, dan bertelanjang kaki. Kala itu murid-murid sekolah khususnya sekolah rakyat (kini sekolah dasar), masih bertelanjang kaki. Kala itu belum ada pakaian seragam seperti sekarang.

Seorang kuli yang tengah menenteng air hanya memakai sepatu terbuat dari bagian luar ban mobil. Kala itu, bakiak merupakan alas kaki yang digunakan sehari-hari, terutama saat ke tempat-tempat ibadah. Sungai Krukut dan sungai-sungai lainnya di Jakarta saat itu juga mulai tercemar dan warnanya kecoklatan karena bercampur lumpur.

Konon, pada abad ke-19 seorang putera kapitan Tionghoa, Oey Tambah Sia, seorang playboy yang tinggal di Jalan Toko Tiga, sering membuang hajat di sungai ini. Tiap pagi saat si playboy berwajah tampan ini buang hajat banyak orang dengan sabar menunggunya. Karena saat ia cebok (membersihkan duburnya setelah buang air besar), ia menggunakan uang kertas yang kemudian dibuangnya ke sungai. Si pemuda kaya raya akibat warisan orang tuanya ini amat senang hatinya, saat melihat belasan orang saling rebutan untuk mendapatkan uang kertas bekas membersihkan kotorannya.

Dikisahkan sampai sering ada yang luka parah akibat rebutan rezeki nomplok ini. Di Jakarta ada dua tempat bernama Pancoran. Satu di Kota seperti terlihat di foto, satu lagi di dekat Kalibata. Kedua tempat tersebut punya riwayat berbeda. Pancoran yang di Jakarta Kota berkaitan dengan pelabuhan Sunda Kelapa. Di lapangan Glodok tempat Pancoran berada dulu ada sumber air. Penduduk menyebutnya pancoran. Air ini disuling agar bersih. Sarana penyulingan itu disebut penyaringan. Dari situlah muncul nama tempat Pancoran dan Penyaringan. Karena kekeliruan ejaan maka Penyaringan kini menjadi Penjaringan.

Ketika Kota Batavia selesai didirikan, gubernur jenderal Jan Pieterzon Coen mengisi kota ini dengan penduduk Cina. Mereka umumnya didatangkan dari Cina Selatan (Hokkian), di samping mendatangkan orang Belanda. Tapi JP Coen lebih menyenangi orang Tionghoa yang dianggap rajin dan sangat gigih dalam mencari uang.

Sedangkan orang Belanda dianggap pemalas dan suka berfoya-foya. Untuk itu dia banyak mendatangkan para budak. Terbanyak dari Bali. Di samping dari Asia Selatan. Pernah budak menjadi penduduk paling banyak di Batavia. Nasib mereka sangat menyedihkan dan tidak mendapat perlindungan hukum samasekali. Perbudakan baru dihapuskan pada 1860.

(Alwi Shahab)

Gg Tjap Go Keng Atawa 15 Pintu

Di Jakarta sejak masa Batavia banyak nama kampung, jalan dan gedung berdasarkan nama tokoh masyarakat setempat. Atau setidak-tidaknya punya kaitan dengan peristiwa yang pernah terjadi di tempat itu. Baiklah kita mulai dari kota tua yang kini disebut Jakarta Kota. Di sebelah utara Kantor Pos Jakarta Kota kini terdapat Jalan Cengkeh. Padahal di masa awal kolonial jalan ini bernama Princenstraat. Rupanya untuk menghormati pangeran dari Belanda.

Di tempat itu dulu Belanda membangun parit, terusan atau kanal yang diberi nama Tijgergrach atau 'Parit Macan'. Bersebelahan dengan Kalibesar Timur yang kala itu disebut Groenestraad, dan merupakan kawasan paling elite di Batavia, hingga pernah dinamakan Ratu dari Timur.

Tetapi akibat sering munculnya wabah penyakit karena banyaknya kanal atau parit tertimbun dan sarang nyamuk, gubernur jenderal Daendels diperintahkan untuk memindahkan ibukota dari Batavia ke Surabaya atau Semarang. Tapi dia memilih ke Weltevreden (sekitar Gambir dan Lapangan Banteng) yang lebih sejuk.

Pada tahun 1726 Valentijn melukiskan keindahan Tijgergracht dan Princenstraat yang dikatakan, "Punya gedung-gedung indah yang serupa bagian kota yang paling indah. Keindahan parit lurus berpagar tanaman rapi melebihi segala-galanya yang pernah saya saksikan di Holland. Meskipun di sepanjang Hederrengrac ht di Amsterdam atau di tempat-tempat lain bisa dijumpai istana-istana yang lebih indah dan parit-parit yang lebih lebar, tetapi semuanya tidak menyamai kenikmatan, kepuasan dan keindahan pemandangan yang dihamparkan di depan mata oleh parit dan lain-lain di Batavia."

Sebelumnya, ketika gubernur jenderal membangunan Batavia (1619) dia banyak mendatangkan etnis Tionghoa yang dianggapnya rajin dan gigih dalam bekerja. Kemudian etnis ini, yang jumlahnya makin bertambah besar menyebar ke mana-mana, terutama setelah peristiwa pemberontakan 1740.

Karena itu, kawasan Pasar Senen -- yang dibangun 30 Agustus 1735 oleh Yustinus Vinck -- sampai 1960-an banyak tempat dan toko yang menggunakan nama Cina. Di Senen Raya III terdapat sebuah toko bernama Lauw Tjin. Dulu toko tersebut menjual barang-barang kelontong dari kulit yang kualitasnya tidak kalah denganb barang impor.

Di pasar yang dibangun bersamaan dengan pasar Tanah Abang itu dulu juga terdapat Gang Tjap Go Keng karena di sini terdapat rumah dengan 15 buah pintu. Penghuninya orang-orang Cina perantauan. Di dekatnya terdapat Gang Topekong, karena ditempat ini terdapat biara. Topekong biasanya diarak keliling diikuti ribuan orang saat Capgomeh atawa malam ke-15 tahun baru Cina. Juga terdapat Gang Wang Seng, untuk mengabadikan nama seorang letnan Cina. Di Jl Senen Raya 166 dulu terdapat Hotel Tien Euw yang kini jadi Kantor Pembangunan Sarana Jaya.

Di depan Pasar Senen terdapat Jalan Kwitang. Konon, nama ini berasal nama orang Cina kaya raya: Kwik Tang Kiam. Ia merupakan tuan tanah yang kaya raya, dan hampir semua tanah di sini merupakan miliknya. Kwik Tang memiliki seorang anak tunggal yang suka berjudi dan mabuk-mabukan. Karena sifat anaknya ini Kwik Tang meninggal dunia, sementara tanah yang luasnya bejibun dibeli saudagar Arab dari marga Alkaff. Dia adalah warga negara Singapura.

Saat Melayu (kini Malaysia) berdiri, di kediaman Alkaff, Jl Kwitang Raya, diadakan upacara yang dihadiri para pejabat tiggi Indonesia. Ketika terjadi konfrontasi RI - Malaysia, rumah-rumah yang menjadi milik Alkaff diambil alih. Kini generasi ketiga keluarga Alkaff tinggal di Singapura dan membangun sebuah masjid dan kegiatan keagamaan.

Ada beberapa adat dan kebiasaan warga Betawi. Seperti saat wanita hamil pertama adalah masa yang paling mendebarkan bagi seorang perempuan karena pengalaman dalam melahirkan baru akan terjadi pertama kali. Apa saja yang dianjurkan oleh orang lain harus dilaksanakan meskipun anjuran itu tidak rasional. Seperti, menggantung gunting kecil serta ramuan seperti bumbu dapur yang di simpan di dada.

Ada juga pantangan-pantangan yang memang menimbulkan akibat kalau tidak dilaksanakan. Seperti, dilarang membunuh binatang, mencela orang cacat dan berbagai pantangan lainnya. Maksudnya agar si bayi lahir dalam keadaan selamat tanpa cacat.

Yang sampai kini masih dilaksanakan secara luas adalah bagi calon ibu yang pertamakali hamil diselenggarakan upacara nuju bulan. Biasanya dihidangkan rujak yang terdiri dari berbagai macam buah-buahan. Sebelumnya didahului upacara mandi air kembang tujuh rupa. Di sini yang sangat berperan adalah dukun.

Pada waktu sang ibu melahirkan, biasanya ari-ari bayi sebelum dikuburkan oleh ayahnya terlebih dulu diberi ramuan kembang tujuh rupa. Si bayi yang lahir diadzani di telinga kanan dan diqomati di telinga kiri. Satu minggu kemudian diadakan sedekahan puputan, dan pemberian nama. Kalau mampu mereka melaksanakan akikah: untuk bayi laki-laki harus memotong dua ekor dan bayi perempuan seekor kambing.

Setelah bayi berusia 40 hari diadakan selamatan yang disebut upacara "bebersih". Selamatan bebersih ini dimaksudkan untuk saling memaafkan dari pihak keluarga yang melahirkan -- terutama wanita yang melahirkan -- kepada dukun beranak (peraji) yang telah menolong waktu melahirkan dan merawatnya selama 40 hari. Sebagai penghormatan, peraji disuruh memberikan nama kepada bayi tersebut. Sesudah itu ada upacara 'nginjak tanah'.

(Alwi Shahab)

Ciliwung dan Rezeki Tukang Binatu

Sungai Ciliwung tidak selamanya menimbulkan penderitaan bagi penduduk Jakarta. Seperti terjadi saat-saat ini ketika air sungai ini banjir. Bahkan, Ciliwung dimasa-masa lalu memberikan banyak berkah bagi penduduk. Sungai ini -- yang kini dijuluki got besar -- sampai tahun 1960-an menjadi tempat ribuan penduduk untuk mandi, mencuci, mengambil wudu dan berbagai hajat keperluan lainnya. Ribuan penduduk Jakarta ketika sungai ini masih jernih dan lebar menggantungkan kehidupannya dari Ciliwung. Ada yang menjadi tukang perahu, pekerja eretan, dan tidak kurang banyaknya yang menjadi tukang binatu.

Seperti terlihat dalam gambar, puluhan tukang binatu tengah mencuci pakaian dan celana di sungai Ciliwung. Lokasinya di Pasar Baru (Jalan Antara) seperti tampak beberapa pertokoan. Foto yang diabadikan tahun 1920 ini, Ciliwung jauh berbeda di tempat yang sama sekarang ini. Untuk keperluan mencuci ini, pemerintah kolonial Belanda membangun tangga dari tembok, guna memudahkan warga bila ingin mandi ke sungai itu. Sementara di kedua tepi sungai dibangun bandaran untuk meletakkan pakaian.

Sampai akhir tahun 1950-an, masih banyak orang Betawi yang berprofesi sebagai tukang penatu. Dari Jatinegara sampai ke daerah Jakarta Kota. Hingga ada nama jalan di Jakarta bernama Jl Petojo Binatu, Jakarta Pusat. Saking banyaknya orang yang berprofesi sebagai tukang binatu.

Maklum ketika itu rakyat umumnya belum mampu memelihara pembantu, kecuali orang-orang kaya di rumah-rumah gedung dan warga Belanda.

Di Kwitang, Jakarta Pusat, sampai awal 1960'an juga terdapat beberapa tukang binatu. Yang terkenal adalah Pak Acing, yang kala itu usianya sekitar 50-an tahun dan bertubuh kekar. Sehabis shalat shubuh Pak Ating sudah berendam di Ciliwung yang berdekatan dengan kediamannya. Tanpa merasa kedinginan, dia mencuci ratusan pakaian hingga pukul 09.00 pagi.

Saat mencuci agar pakaian bersih ia menggunakan bllauy pembersih bewarna biru yang kini sudah tidak ada lagi. Kala itu belum ada deterjen seperti sekarang. Ia mencuci pakaian dengan sabun 'Tjap Tangan' sabun paling terkenal ketika itu.

Setelah berendam dan membanting tenaga selama tiga atau empat jam di Ciliwung, Pak Acing dengan dibantu putranya menjemur pakaian-pakaian yang telah dicucinya. Kala itu di Jakarta banyak terdapat lapangan hingga tidak ada masalah untuk menjemur pakaian dalam jumlah besar.

Setelah beristirahat dan shalat dzohor tibalah untuk pekerjaan yang lebih berat lagi. Dia mulai menyerika pakaian-pakaian yang telah kering itu. Bukan menggunakan setrika listrik seperti sekarang. Tapi alat menyeterika ketika itu untuk memanaskannya masih menggunakan arang. Sambil memercikkan air di pakaian, supaya licin baju yang akan disetrika diberi tajin. Supaya bersih --baju diklentang-- dengan buah mengkudu. Yang menarik untuk membuka dan menutup strika yang harus dipanaskan lebih dulu dibagian atasnya -- sebagai pembuka dan penutup -- ada lambang ayam jago. Yang sekarang ini mungkin sudah menjadi barang museum. Bahkan artis Krisna Mukti menjadikannya sebagai koleksinya.

Kembali pada Pak Acing, dia baru dapat menyelesaikan pekerjaannya menjelang magrib. Dan keesokan harinya rutinitas semacam ini terus dilakukan, tanpa mengenal hari libur.

(Alwi Shahab)

China Town - Arab Town

Jakarta pada 22 Juni 2006 genap 479 tahun. Jakarta masih lebih muda dibandingkan Beijing (kl 300 tahun SM), dan Hanoi (abad ke-7 Masehi). Akan tetapi, jika dibandingkan dengan ibukota lain di Asia Tenggara, sejarah Jakarta lebih panjang. Bangkok, misalnya, didirikan pada 1769.

Jakarta juga lebih tua dibanding Sydney (1788). Bahkan, James Cook sebelum menemukan Australia kapalnya mengalami perbaikan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu. Lalu bagaimana dengan Singapura. Kota jasa terkemuka ini baru dibangun Raffles pada 1819 ketika masih bernama Temasek, sebuah kampung nelayan. Demikian pula dengan Kuala Lumpur pada awal abad ke-19.

Untuk menyambut ulang tahun kota Jakarta, kita akan mendatangi tempat-tempat awal berdirinya kota itu. Kita mulai dari bekas gedung Stadhuis (balai kota Batavia), yang kini menjadi Musium Sejarah DKI Jakarta. Gedung ini dibangun tahun 1620 oleh VOC pada masa Gubernur Jenderal JP Coen. Bangunan sekarang yang pernah dikagumi Ratu Elizabeth dari Inggris, ketika mengunjunginya, adalah hasil renovasi tahun 1710 pada masa pemerintahan Van Hoorn.

Pangeran Diponegoro, Untung Surapati, dan playboy Oey Tambahsia, pernah 'menginap' di balai kota Batavia. Yang terakhir bahkan dihukum pancung di Stadhuis Plein depan museum Jakarta yang ketika itu berupa alun-alun. Konon, Bang Puase yang dituduh membunuh Nyai Dasima juga dipancung di sini.

Di lantai dua museum tersebut kini masih ditemukan 'pedang keadilan'. Entah berapa banyak terhukum yang kepalanya berpisah dari badannya melalui pedang tersebut. Dahulu, alun-alun itu sangat luas hingga ke dekat Kota Inten dk Pasar Ikan. Saat eksekuasi sebuah mimbar disiapkan, dan masyarakat luas diminta untuk menyaksikannya.

Dari Balai Kota menyeberang Jl Pintu Besar Utara kita menuju Jl Kalibesar Timur. Di depan gedung PT Cipta Niaga terketak Gedung Kota Bawah milik seorang ibu yang akrab dipanggil Ella Ubaidi. Gedung ini dibangun kira-kira pada awal abad ke-20. Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 merupakan era tumbuhnya liberalisme di berbagai bidang. Pada masa itu Kali Besar merupakan kawasan yang ramai karena letaknya di dalam benteng (Binnenstadt).

Kemudian kita beralih ke luar benteng Batavia. Setelah melawati Glodok pusat perdagangan bergengsi selama lebih dari tiga abad kita lebih mendalam lagi memasuki China Town. Di sini terdapat kawasan Patekoan kini Jl Perniagaan. Nama ini punya kaitan dengan Kapiten Cina Gan Djie, seoroang Cina totok yang datang dari Ciang Ciu dibagian selatan propinsi Hokkian.

Seperti juga moyang dari konglomerat Thio Tiong Ham dan Liem Sioe Liong, Gan Djie saat datang ke Indonesia berdagang kelontong di Gresik keluar masuk kamnpung sambil menenteng pikulan. Hanya dalam beberapa tahun ia menjadi saudagar besar di Gresik. Kemudian ia ke Batavia (1659). Karena dermawan dan suka menolong orang banyak, di tempatnya yang baru ini dia menjadi seorang terkemuka. Dan, pada 1663 ia diangkat menjadi kapiten Cina.

Di depan kediamannya tiap hari dia dan istrinya menyediakan delapan poci teko (pat te koan) berisi air teh untuk orang yang ingin minum. Dari kata inilah berasal nama Patekoan salah satu pusat perdaqgangan di China Town. Dari sini, hanya dalam waktu 20 menit berjalan kaki, kita akan memasuki Kampung Arab (Arab Town) Pekojan. Kalau di China Town kita lebih banyak mendapati daerah-daerah perdagangan, di Arab Town (Pekojan) kita masih menjumpai tempat-tempat bersejarah yang punya kaitan dengan pengembangan agama Islam di Nusantara.

Pada tahun 1901 di Pekojan berdiri satu organiasi pendidikan Islam, Jamiat Kheir. Organisasi ini dibangun oleh Shahab bersaudara: Ali dan Idrus, serta Syeikh Said Basandi. Organisasi ini mengundang simpati tokoh-tokoh Islam seperti KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS Tjokroaminoto (Syarikat Islam) dan Haji Agus Salim.

Tempat berdirinya Jamiat Kheir kira-kira di Jalan Pekojan Kecil II. Di sini terdapat Masjid Raudah. Di tempat inilah diperkirakan lahirnya ide dari para pemuda Islam untuk mendirikan Jamiat Kheir, tujuh tahun sebelum Budi Utomo. Jamiat Kheir juga ikut menyebarkan gerakan Pan Islam dari Sayid Jamaluddin Afghani, Sheikh Muhammad Abduh dan Sayid Rashid Ridha.

Berdekatan dengan Jl Pekojan Keciul II terdapat Masjid Zawiah, didirikan Habib Ahmad bin Hamzah Alatas yang lahir di Tarim, Hadramaut. Ketika masih mengajar di masjid ini ia menggunakan kitab Fathul Mu'in kitab kuning yang hingga kini masih jadi rujukan di kalamgan Muslim tradisional. Di depannya terdapat Masjid An-Nawir masjid terbesar di Jakarta Barat. Masjid ini dibangun tahun 1760 dan di depannya terdapat 'jembatan kambing' dengan pedagang yang sudah empat generasi turun menurun.

Meskipun tradisi penduduk di China Town dan Arab Town bertolak belakang, tapi tidak mengurangi kerukunan mereka sebagai tetangga. Boleh dikata selama ratusan tahun hampir tidak pernah terjadi bentrok antar-kedua keturunan yang berbeda agama itu. Saat bulan Ramadhan, misalnya, warga Cina yang tinggal di Arab Town tidak ada yang merokok atau makan pada siang hari untuk menghormati orang yang berpuasa.

Demikian pula pedagang bakso dan bakmi sampai tahun 1960-an tidak ada yang berani lewat Pekojan karena kala itu bakso dibuat dari daging babi. Toleransi antara mereka terlihat pada peristiwa kerusuhan Mei 1988. Jamaah-jamaah Arab ikut mengamankan rumah-rumah orang Tionghoa dari penjarahan dan pembakaran. Kerukunan semacam itu yang perlu terus dipertahankan.

(Alwi Shahab)

Bandar Sunda Kalapa 1859

Pelabuhan Sunda Kalapa dilukis pada 1859. Di sekitar tempat inilah kira-kira balatentara Islam dibawah pimpinan panglima perang dan mubaligh Fatahillah mengusir Portugis pada 22 Juni 1527. Negara di Eropa Selatan ini berkat perjanjian kerjasama dengan Kerajaan Pajajaran telah diberikan hak untuk membangun loji (perkantoran dan perumahan yang dilengkapi benteng) di Sunda Kalapa. Perjanjian ini ditentang keras oleh kesultanan Islam Demak yang kemudian menugaskan Fatahillah untuk mengusir Portugis.

Ketika pelabuhan itu dilukis, Sunda Kalapa sudah tidak seramai masa-masa sebelumnya. Karena akibat pendangkalan, kapal-kapal tidak lagi dapat bersandar di dekat pelabuhan. Sehingga barang-barang dari tengah laut harus diangkut dengan perahu-perahu. Padahal kala itu, kota Batavia mengalami percepatan dan sentuhan modern (modernisasi). Apalagi sejak dibukanya Terusan Suez pada 1869 yang mempersingkat jarak tempuh berkat kamampuan kapal-kapal uap yang lebih laju meningkatkan arus pelayaran antar samudera. Apalagi ketika itu Batavia menghadapi saingan Singapura yang dibangun Raffles (1819).

Maka dibangunlah pelabuhan samudera Tanjung Priok, yang jaraknya sekitar 15 km dari Sunda Kalapa untuk menggantikannya. Hampir bersamaan dengan itu dibangun jalan kereta api pertama (1873) antara Batavia - Buitenzorg (Bogor). Empat tahun sebelumnya (1869) muncul trem berkuda yang ditarik empat ekor kuda, yang diberi besi dibagian mulutnya.

Yang kemudian dikenal dengan istilah 'jaman kuda gigit besi'. Pada 1881 trem uap mulai muncul dari Pasar Ikan - Weltevreden - Meester Cornelis (Jatinegara). Lalu lintas di Batavia terus melaju, dengan digantikannya trem uap dengan trem listrik pada 1899. Mobil mulai dikenal 1920-an yang pada awal-awalnya merupakan simbol elitis dan eksklusif. Hanya orang-orang Eropa tertentu memilikinya dan kemudian segelintir kaum berada dari kelompok etnis lainnya.

Dalam gambar terlihat tukang dagang dan dua orang kuli tengah mengangkat barang melalui pikulan. Para pedagang dan pekerja ini tidak menggunakan baju dan hanya mengenakan celana sebatas lutut. Mereka juga tidak menggunakan sandal apalagi sepatu.

Memang hidup zaman penjajahan sangat sukar, seperti juga yang dialami sebagian besar rakyat sekarang ini. Meskipun Indonesia telah mengenyam kemerdekaan lebih dari setengah abad lalu. Padahal, mensitir ucapan Bung Karno: "Kemerdekaan merupakan jembatan emas menuju kemakmuran." Belanda sendiri mengakui bahwa Hindia Belanda negeri jajahannya sangat makmur. Sehingga Koes Ploes meminjam kata-kata penjajah: "Tongkat kayu dan batu jadi tanaman." Dalam gambar terlihat Menara Syahbandar yang dibangun 1839. Di sini terdapat kubu pertahanan sebagai ''pintu masuk kota dari arah laut''.

Di atas menara berkibar bendera 'merah - putih - biru'. Pada pertengahan abad ke-18 seluruh kawasan sekitar menara Syahbandar yang ditinggali para elit Belanda dan Eropa jadi tidak sehat. Dan segera sesudah wilayah sekeliling Batavia bebas dari ancaman binatang buas dan gerombolan budak pelarian, banyak orang berpindah ke wilayah selatan.

Pelabuhan Sunda Kelapa sekarang dapat menjanjikan kesan tentang pelabuhan yang sama pada abad ke-16 dengan ratusan kapal-kapal phinisinya. Namun pelabuhan Sunda Kelapa yang asli terletak kurang lebih 700 meter ke sebelah selatan.


(Alwi Shahab)

Raffles vs Daendels

Di Singapura kita akan dapati banyak nama tempat yang mengabadikan Sir Thomas Stamford Raffles. Ada nama lapangan, jalan, bulevard, tempat rekreasi dan hotel yang mengabadikan nama pendiri kota 'singa' itu. Ada juga patung Raffles, saat dia pertama kali menginjakkan kakinya di Temasek (1819), sebuah dusun nelayan berawa-rawa yang kini menjadi Singapura.

Hal itu menunjukkan bahwa pemerintah dan rakyat negara pulau tersebut menghargai jasa penguasa dari Inggris itu. Padahal, cita-cita awalnya ketika ia membangun Singapura adalah untuk menyaingi bandar Batavia, tempat dia berkuasa selama lima tahun (1811-1816).

Bertolak belakang dari Raffles, Marsekal Herman Willem Daendels (1805-1808) hampir tidak dikenal masyarakat Indonesia. Padahal, marsekal bertangan besi yang diangkat menjadi gubernur jenderal oleh Louis Bonaparte, adik Kaisar Napoleon saat berkuasa di Belanda itu, sampai saat ini masih kita dapati peninggalannya. Daendels dijuluki 'Napoleon Betawi' karena kesediannya terhadap Prancis. Dialah yang memindahkan pusat kota dari Pasar Ikan ke Weltevreden (Gambir dan Lapangan Banteng). Menyebabkan Batavia meluas kearah selatan.

Daendels-lah yang membangun jalan raya sepanjang 1000 km dari Anyer di Banten sampai ke Panarukan, suatu karya monumental bila diingat kala itu belum ada alat-alat berat. Dan, dia dengan bengis memerintahkan kepada para sultan dan bupati untuk mengerahkan ribuan pekerja paksa (rodi) untuk membangun Groote Postweg (Jalan Raya Pos). Faksa sejarah menunjukkan bahwa akibat pembangunan jalan yang kini dapat kita nikmati itu, ribuan pekerja mati dan mayat-mayat berkaparan tak terkuburkan. Masyarakat desa yang dilanda kelaparan sudah tidak lagi mampu bangkit, apalagi mengurus saudara-saudaranya yang meninggal yang oleh agama diwajibkan untuk dimuliakan. Menurut data sekitar 12 ribu orang mati.

Ada lagi prestasi Daendels, ketika ia datang ke suatu daerah, ia menancapkan tongkat kayu dan berkata, ''Coba usahakan bila aku datang kembali ditempat ini telah dibangun sebuah kota.'' Kemudian jadilah Bandung, yang dijuluki Parijs van Java dan Kota Kembang. Bung Karno ketika menyelenggarakan Konperensi Asia-Afrika (1955) yang dihadiri puluhan kepala negara sengaja memilih Bandung. Kini Bandung yang dulu dikagumi Belanda dan wisatawan mancangara mendapat predikat baru: Kota Sampah.

Gagasan membangun Jalan Paya Pos muncul di benak Daendles saat ia dalam perjalanan darat pada 29 April 1808 dari Buintenzorg (Bogor) ke Semaranbg, terus ke Jawa Timur. Itu menunjukkan tekadnya bila diingat jalan ini masih hutan belantara dan melalui daerah-daerah pegunungan dengan banyaknya tebing dan jurang.

Keberadaan Daendles di Nusantara tak dapat dilupakan ketika pada 1799-1807 Belanda dikuasai Napoleon yang kala itu menghadapi Inggris. Dan, Jalan Raya Pos tidak dapat dipisahkan dari upaya mempertahankan Pulau Jawa dari ancaman pendudukan Inggris.

Untuk itu, sebaiknya kita membandingkan kedua orang yang saling bermusuhan tersebut. Berlainan dengan Daendles yang kejam dan tidak mengenal sopan santun, mengharuskan para sultan bersimpuh kepadanya, Raffles yang lahir di India Barat (6 Juli 1781) adalah pribadi yang lembut. Salah satu sifat yang menjadikannya sebagai humanis.

Dan, ketika pasukan Inggris 4 Agustus 1811 dengan 12 ribu pasukannya mendarat di Cilincing, Daendles yang telah bersiap-siap sebelumnya sudah tidak lagi menjadi gubernur jenderal. Ia diganti JHW Jansen (1762-1838). Pasukan Inggris hanya memerlukan waktu enam minggu untuk melumpuhkan kekuatan Prancis di Batavia. Lalu Raffles diangkat sebagai gubernur jenderal (1811-1816). Napoleon tidak mau dipecundangi begitu saja, sebaliknya Inggris mewaspadai Prancis. Ingris membangun arsenal meriam di sepanjang Jl Matraman ke selatan sampai ke lapangan Jenderal Urip Sumohardjo. Inggris memperhitungkan pasukan Prancis akan membuat revanche, dan diperkirakan akan menyerang dari arah Jl Gunung Sahari.

Dugaan Inggris meleset. Oktober 1813 tentara Prancis mendarat di Cilincing, tetapi tidak menuju Ancol melainkan memasuki hutan-hutan (bypass sekarang) dan menusuk dari Jatinegara. Tentara Inggris dibokong dan basisnya di Jl Tegalan dihancurkan. Ratusan tentara Inggris tewas dan jeneazahnya dibenamkan di rawa-rawa Jatinegara (Rawabangke dan kini diganti jadi Rawabunga). Jalan Matraman jadi ajang pertempuran hebat gaya Eropa. Bekas konsentrasi Inggris yang lengang itu dikenal sebagai solitude (kesunyian). Kemudian menjadi Gang Solitude dan kini diganti jadi Jl KHA Dahlan.

Tapi, akhirnya Inggris berhasil menguasai Batavia dan diangkatlah Raffgles sebagai letnan gubernur. Sedangkan gubernur jenderalnya berpusat di Kalkutta (India). Selama masa penjajahan Inggris (1811-1816) Raffles selain dikenal sebagai pekerja keras dalam mengubah administrtasi lama, dia juga meluruskan diplomasi dengan para sultan di Jawa dalam upaya pendekatan diplomatiknya. Berlainan dengan Daendels yang sering menghina mereka.

Laporan sebuah candi besar telah ditemukan tersembunyi di hutan dekat Yogya -- yang samasekali tidak diketahui Belanda -- yang membuatnya gembira dan iapun melakukan perjalanan kesana. Candi itu adalah Borobudur yang dibangun ribuan tahun sebelumnya dan merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Kini menjadi tempat suci paling dihormati para penganut agama Budha di dunia.


(Alwi Shahab)

Bahaya Komunisme

Di antara berbagai fenomena yang dapat kita saksikan dalam kehidupan kemasyarakatan adalah fenomena kehidupan beragama. Menurut para alim ulama, di mana ada masyarakat, pasti di situ ada agama. Atas dasar fenomena ini, maka tidak ada yang menentang pendapat bahwa masyarakat komunis telah meruntuhkan agama dari kehidupan kemasyarakatan mereka.

Komunis menegakkan kehidupan masyarakat pada asas yang meniadakan tuhan. Karena bagi kaum komunis, hidup di dunia adalah kehidupan yang bersifat materi. Sebagai masyarakat ateis, kaum komunis menganggap agama sebagai penghambat kemajuan.

Niestche, filosof eksistensialis yang sebagian ajarannya digunakan kelompok komunis menyatakan, agama adalah candu masyarakat. Dewasa ini kita dituntut untuk belajar dari sejarah. Karena pengalaman di masa lalu, merupakan kenyataan tak terbantahkan bahwa kaum komunis di Tanah Air saat mereka berjaya tak segan-segan melakukan teror dan aksi kekerasan terhadap kelompok agama dan para alim ulamanya.

Sebagai kelompok ateis, mereka juga tidak meyakini adanya hari kebangkitan (qiyamah), yang merupakan salah satu rukun iman dalam Islam. Ini perlu kita tegaskan, karena jika seseorang tak meyakini adanya masa depan di dunia lain selain dunia ini, di mana amal-amal kebaikan dan kejahatan akan diperhitungkan, dan yang bersangkutan akan memperoleh imbalan yang setimpal, maka gagasan bahwa amal-amal kebaikan mesti dikerjakan dan kejahatan mesti dihindarkan, tidak akan terlintas dalam dirinya.

Karena bahaya inilah Alquran mengingatkan manusia tentang hari kebangkitan dan pembalasan dalam ratusan ayat dan berusaha menepis keraguan tentangnya. Tidak kurang pula banyaknya hadis yang mengingatkan hal ini. Sayid Sabiq, ulama kontemporer Mesir dalam Islam Kita menulis bahwa fitrah manusia lebih kuat dari segala kekuatan manapun yang berusaha menghapuskan dan mengubah ciri-cirinya.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Ar-Rum (30): 30).

Dalam hadis shahih pun dinyatakan, "Setiap anak dilahirkan menurut fitrahnya." Fitrah manusia lebih kuat dari segala kekuatan manapun yang berusaha menghapus dan mengubah ciri-cirinya. Bila agama punya akar yang dalam di jiwa manusia, maka tidak akan terbayang bila pada suatu hari manusia akan hidup tanpa agama.

Sesungguhnya manusia di masa kini, meskipun ada bujukan-bujukan materialistis yang memalingkannya dari agama, jiwanya tetap merindukan agama yang dapat mengangkatnya kepada kesempurnaan materi dan rohaninya. Kini, kita perlu mewaspadai upaya-upaya munculnya kembali kekuatan komunisme agar sejarah kelam masa lalu tak terulang kembali.
(Alwi Shahab)

Noordwijk (Jalan Juanda) 1920

Inilah foto Noordwijk (kini Jalan Juanda) Jakarta Pusat, yang diabadikan 1920 atau 86 tahun lalu. Mendatangi Jalan Juanda yang hiruk pikuk dan salah satu pusat kemacetan di Ibu Kota, kini kita tidak menjumpai lagi adanya pohon-pohon asem dan kenari di kiri kanan jalan (kaki lima). Bahkan untuk pejalan kaki sudah dimanfaatkan oleh para pedagang kaki lima yang memanjang hingga Pasar Baru yang jaraknya sekitar tiga km.

Dalam foto tempo doeloe itu tampak seorang Belanda memakai seragam putih-putih, pakaian para pegawai dan amtenar ketika itu di jalan yang cukup lengang kecuali beberapa sado atau delman, tranportasi utama saat itu. Kala itu, karena moobil belum banyak yang nongol, para orang tajir umnumnya memiliki delman. Sedangkan para warga Betawi di samping menjadi sais, sekaligus bertugas memelihara dan memberi makan kuda-kuda. Mereka berlamngganan rumput dan dedak yang kala itu banyak dijual di berbagai tempat. Di samping itu ditempat-tempat dendam ngetem terdapat kumbongan tempat kuda minum dan makan.

Foto ini tampaknya diperapatan Harmoni, di mana Noordwijk dan jalan raya di seberangnya Rijswijk (kini Jalan Veteran) dibatasi Kali Ciliwung. Di Jl Veteran terdapat Istana Negara yang pada masa kolonial bernama Risjwijk Palace tempat kediaman gubernur jenderal. Dulu Bung Karno dan keluarganya tinggal di Istana, kecuali Sabtu dan Minggu ia berada di Istana Bogor. Sejak masa Pak Harto, dan kemudian presiden-presiden berikutnya -- kecuali Gus Dur --, mereka menjadikan istana sebagai tempat kegiatannya sehari-hari.

Baik Noordwijk maupun Rijswijk merupakan daerah elite yang banyak dihuni para bule. Di kedua jalan ini terdapat hotel-hotel, berbagai tempat hiburan, bioskop, gedung kesenian, dan pertemuan (Harmonie). Semuanya dengan ciri-ciri Eropa modern. Pada masa pemerintahan Inggris, gubernur jenderal Raffles (1811-1816) menyulapnya jadi kawasan Eropa, dan menggusur warga Betawi dan Cina dari kawasan elite ini. Dia sendiri membangun sebuah rumah mewah yang kemudian menjadi Hotel der Nederlanden. Pada masa Bung Karno, hotel ini yang sebelumnya diubah namanya menjadi Hotel Dharma Nirmala kemudian dijadikan sebagai Markas Besar Cakrabirawa, pasukan khusus pengawal presiden. Kini oleh Presiden Soeharto dijadikan sebagai gedung kepresidenan: Bina Graha.

Dahulu, di Noordwijk terdapat sebuah taman yang pada malam hari terutama malam Minggu dipenuhi oleh para pesolek: para pria dan wanita berpakaian Eropa yang sedang bermesraan diterangi oleh rembulan dan lampu-lampu taman yang indah, tulis seorang soldadoe Belanda menggambarkan Noordwijk awal abad ke-20.

Di Noordwijk - terdapat Gang Thiebault -- (kini menjadi Jalan Juanda III). Mengabadikan nama Alfred Thiebault, seorang Belanda yang memulai karirnya sebagai seorang guru (1852). Berkat ketekunannya setelah ia beralih profesi ia dipercaya jadi pengelola Klub Militer Condordia (kini di sudut kiri Departemen Keuangan di Lapangan Banteng). Karirnya kemudian menanjak dan ia diserahi tugas sebagai pengelola Klub Harmoni (kini merupakan bagian dari Gedung Sekretariat Negara di Harmoni).

(Alwi Shahab)

Sastra Betawi: Karya Agung yang Dilupakan

Betawi, sejak kelahirannya 479 tahun lalu, memiliki beragam khasanah budaya. Salah satunya adalah sastra Betawi yang di daerahnya sendiri kini seolah-olah terpendam. Padahal, di mancanegara sudah lama mendapat perhatian sejumlah ilmuwan. Terbukti dengan terbitnya berbagai telaah tentang sastra Betawi masa lalu itu, yang naskah-naskahnya tersebar di berbagai perpustakaan perguruan tinggi di negara-negara maju, termasuk di Leningrad, Rusia.

Menurut sejarawan Betawi, Yahya Andi Saputra, sastra Betawi terdiri dari sastra lisan dan tulisan. Sastra lisan Betawi sudah dikenal sejak masyarakat Betawi mengenal seni budaya. Seperti pantun, cerita, ngerahul, dan jampe-jampe yang dibacakan saat dukun mengobati penyakit pasiennya.

Kemudian, sastra Betawi berkembang dalam bentuk tulisan. Salah satu tokoh sastrawan Betawi akhir abad ke-19 bernama Mohammad Bakir. Menurut Prof Dr Muhadjir, yang tinggal di Pecenongan, Sawah Besar, Jakarta Pusat, sastrawan Betawi itu aktif menyalin dan mengarang sejak 1884 sampai 1906. Muhammad Bakir dan ketiga saudaranya serta Sapirin -- yang sering juga disebut guru Cit -- adalah keluarga Fadli yang aktif dalam proses menerjemahkan, penyaduran, dan penulisan. Mereka memiliki 76 judul naskah.

Keluarga itu memiliki sebuah perpustakaan rakyat yang menyewakan karya. Daftar karyanya yang disewakan sering disebutnya dalam naskah-naskah yang dihasilkannya, sehingga pembaca tahu naskah baru mana yang akan mereka pilih dibacanya. Naskah-naskah Muhammad Bakir ternyataa bukan hanya disimpan di Leningrad, tapi juga di Leiden, Belanda. Ada 75 naskah yang dimiliki seluruh keluarga itu.

Menurut Muhadjir, pada abad ke-19 terdapat tradisi penyalinan naskah dengan tujuan komersial, yang menjadi salah satu sumber penghasilan. Keluarga Fadli, orang tua Muhammad Bakir dari Pecenongan, termasuk salah satu keluarga pengarang/penyalin naskah yang demikian.

Ketika itu, naskah-naskah cerita ditulis dalam huruf Arab-Melayu (Arab Jawi). Pada umumnya naskah tersebut tidak dibaca sendiri, melainkan dibacakan keras-keras oleh seseorang di hadapan publiknya. Mengingat ketika itu hanya sedikit orang yang dapat membaca, dan lebih banyak yang hanya bisa mendengarkannya.

Ketika hiburan masih langka, banyak warga Betawi yang mencari hiburan ke perpustakaan. Karena sifatnya komersial, pada halaman terakhir ada bait-bait syair yang berisi harapan penulis pada pembaca agar jangan melupakan uang sewa, yang akan dipergunakan untuk keluarganya.

Seorang penulis lainnya bernama Mungarip dari Kampung Baru, Kebon Jahe, Jakarta Pusat, khusus menyampaikan sebuah pesan pada penyewanya. Pesannya minta kalau tengah membaca jangan makan sirih atau kena minyak. Karena bila hal itu terjadi diharuskan mengganti harga buku lima gulden. "Karena disamping harus membeli dawat (tinta) dan kertas, menulisnya juga sampai begadang-begadang, siang malam tiada berhenti."

Pesan penulisnya terdapat di kulit naskah buku itu, yang berjudul Hikyat Jayalengkara. Rupanya, ketika itu untuk menulis dan menyalin buku harus berani begadang, seperti layaknya menyaksikan Piala Dunia 2006 di layar televisi. Kala itu, pria dan wanita banyak yang makan sirih hingga mereka perlu diperingatkan agar jangan mengotorkan buku. Buku Hikayat Nakhoda Asyik yang terdiri dari 157 halaman dan terbit 17 Maret 1890, disewakan 10 sen sehari semalam.

Rupanya penduduk keturunan Cina menggemari dan menikmati cerita-cerita Malayu. Ini telah dibuktikan oleh sejarawan C Salmon. Menurutnya, pada akhir abad ke-19 banyak orang Cina masih dapat membaca dan menulis huruf Arab-Melayu. Akan tetapi dari akhir abad ke-19 dan selanjutnya, huruf Latin cenderung menggantikan huruf Arab-Melayu. Banyak orang Cina peranakan yang tidak dapat lagi membaca huruf Arab-Melayu.

Sebuah contoh adalah Hikayat Sultan Ibrahim edisi Arab-Melayu. Hikayat ini sangat populer, tetapi banyak orang Cina harus minta hikayat itu dibacakan karena mereka tidak dapat membacanya. Lalu pada 1891 hikayat tersebut diterbitkan dalam huruf Latin. Hikayat Amir Hamzah yang juga banyak penggemarnya akhirnya juga diterbitkan dalam huruf Latin. "Moedah-moedahan toewan-toewan bangsa Olanda dan Tjina yang koerang paham atas hoeroef Arab itu toeroet membatja," bunyi pengantar buku tersebut.

Di samping naskah berupa cerita atau hikayat, di Jakarta terdapat naskah berupa cerita yang bersifat keagamaan. Seperti, Hikyat Abdul Kadir Jailani yang diterjemahkan atau dipindahkan dari bahasa Jawa. Abdul Kadir Jailani dianggap sebagai penghulu dari segala aulia, yang hingga kini masih dipercaya, dan manakib-nya sering dibacakan di pengajian-pengajian tradisional.

Sastra Islam Betawi yang juga dikenal luas hingga kini adalah Hikyat Syekh Muhammad Samman. Di perpustakaan nasional terdapat delapan naskah, termasuk naskah yang dikarang Muhammad Bakir. Sedangkan di Leiden, Belanda, terdapat dua naskah. Muhammad Bakir menyelesaikan tulisannya pada tahun 1884. Muhammad Samman dilahirkan di Medina (1132 H) atau 1718 M. Di dalam naskah ini diterangkan bahwa seseorang dapat melihat derajat Syekh Syamman sebagai sufi dengan membaca buku-buku karangannya. Naskah itu ditutup dengan doa dalam bahasa Arab.

(Alwi Shahab)

Gedung Ex Chartered Bank Batavia

Gedung tiga lantai yang masih berdiri megah dan kokoh ini merupakan sebuah gedung tua di kawasan Oud Batavia (Kota Tua) Jakarta Kota. Keistimewaan gedung yang terletak di sudut Jalan Kalibesar Barat No 1-2 di atas areal 2.275 m2 memiliki ciri kubah seperti terlihat dalam foto. Gedung ini dibangun pada 1920-an, saat ekonomi Hindia Belanda maju pesat terutama dari hasil ekspor berbagai komoditas pertanian seperti karet, teh, kopi, tembakau, yang laku keras di pasaran dunia.

Kalibesar Barat, yang pada awalnya merupakan permukiman Cina, digantikan dengan gedung perkantoran seperti perusahaan John Peet & Co, Maintz & Co, Chartered Bank of India, Australia, Cina dan lain-lain. Perletakan batu pertama gedung yang telah berusia 3/4 abad, dilakukan pada 27 Februari 1921 oleh anak perempuan dari Manager Chartered Bank of Batavia: Juice Murray Stewart.

Kalau kita menelusuri kawasan Kalibesar, kita masih menjumpai gedung-gedung tua yang dibangun saat kejayaan kota Batavia. Gedung Chartered Bank, yang kini menjadi aset bangunan sejarah milik Bank Mandiri, pada 2 Maret 1965 setelah terjadi nasionalisasi terhadap perusahaan asing, gedung ini diambil alih oleh pemerintah RI. Pengelolaannya diserahkan pada Bank Umum Negara (BUNEG) yang kemudian menjadi Bank Bumi Daya (Desember 1968).

Gedung yang berlokasi tidak jauh dari gedung Balai Kota lama (kini Museum Sejarah DKI Jakarta), menggunakan konstruksi beton dan dinding bata. Dari kejauhan sosok gedung dengan bentuk kubahnya yang menutupi seluruh ruang sudut depan di lantai tiga, terlihat masih sangat megah. Suasana lingkungan sekitar gedung yang hampir dipenuhi oleh bangunan-bangunan lama memang sangat kondusif sebagai bagian dari kawasan Oud Batavia yang perlu dilestarikan. Sehingga banyak wasatawan asing dan domestik yang mengunjungi gedung ini.

Memasuki bagian dalam gedung Chartered Bank, yang pernah menjadi bank terkemuka di Hindia Belanda setelah De Javasche Bank, terdapat sejumlah lukisan kaca patri yang menggambarkan aktifitas manusia, seperti: orang pergi ke pasar, membawa getah karet, menumbuk padi, membawa ikan. Kaca patri ini dibuat oleh J Sabel's en Co yang pusatnya di Haarlem, Belanda. Di dalam gedung kita juga menjumpai prasasti perletakan batu pertama 27 Pebruari 1921.

Kota Batavia lama (Oud Batavia) tidak begitu luas. Luasnya dari daerah Menara Syahbandar di Pasar Ikan sampai Jl Asemka. Pusatnya adalah bekas Balaikota Lama (Stadhuis). Di dekat gedung Chartered Bank terdapat Toko Merah, yang dulu merupakan gedung mewah dan menjadi tempat kediaman Gubernur Jenderal van Imhoff, yang keturunan Jerman. Kawasan Kalibesar menyaksikan sejarah kelam kota Jakarta, ketika pada 1740 rumah-rumah warga Cina dibakar dan penghuninya dibunuh tanpa ampun. Laporan-laporan yang dapat dipercaya memperkirakan sekitar lima ribu sampai 10 ribu warga Cina mati secara mengenaskan. Termasuk pasien rumah sakit, para bayi dan 500 warga Cina yang berada di penjara.

Sampai 1809, Batavia merupakan kota berbenteng yang dikelilingi tembok dan parit (Kanal). Sejak pertengahan abad ke-19 setelah Gubernur Jenderal Daendels memindahkan kota ke arah selatan (Weltevreden) penduduknya meningkat pesat. Pada 1870 penduduk Batavia 160 ribu jiwa, 1920: 300 ribu jiwa, dan 20 tahun kemudian meningkat lebih dua kali lipat jadi 650 ribu jiwa. Kini penduduk Ibu Kota diperkirakan lebih 8 juta (malam hari) dan 13 juta (siang hari). Berarti 5 juta warga dari Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang, turut andil dalam mengootori dan membuat polusi di Jakarta.
(Alwi Shahab)

Korupsi Tahun 1950-an

Akhir pekan lalu di Jakarta telah dilakukan peluncuran buku Gambang Jakarta karya almarhum Firman Muntaco, maestro sastrawan Betawi tahun 1950-an dan 1960-an. Kala itu, karya-karya Firman Muntaco yang dimuat di mingguan Berita Minggu dengan judul Gambang Jakarta sangat digemari para pembaca. Tidak heran kalau mingguan itu mencapai teras ratusan ribu eksemplar berkat daya tarik tulisan Firman.

Setelah peristiwa G30S, Berita Minggu tidak terbit lagi, karena koran PNI tersebut dianggap pro kelompok kiri. Kemudian Firman menulis cerita yang sama di sejumlah harian. Salah satu judul tulisannya adalah Kongkalikong -- berkisah tentang seorang kepala jawatan yang memberikan ceramah tentang korupsi dan pemberantasannya, tapi ia sendiri ternyata koruptor kelas kakap.

Tulisan itu menunjukkan bahwa korupsi sudah merajalela sejak penyerahan kedaulatan awal 1950-an. Tidak heran kalau Bung Hatta pernah menyatakan bahwa korupsi sudah merupakan budaya bangsa. Tapi, baiklah kita simak sedikit cerita almarhum Firman Muntaco berjudul Kongkalikong sbb.

Dalam rangka penyempurnaan Djawatan, tibalah kini giliran pak Sanen -- kepala kantor yang akan berceramah di depan pegawai-pegawainya tentang masalah pelik: "Korupsi & Pemberantasannya".

"Sudare-sudare," kata beliau, "ketahuilah koropsi itu adalah sejahat-jahatnya penyakit di kolong langit ini. Die lebih jahat dari kolera. Lebih jahat dari cacar, karena dia merusak dari dalem, ya dari dalem! Mangkanya dia disebut diumpame musuh dalam selimut! (Mandek sejenak).

Eh, sudare-sudare binatang macam yang dikata galak kita usir same senapan, tapi kalo kutu busuk dalam selimut? Hi! Diem-diem waktu kita enak-enakan ngorok, dia ngegigit sampe dareh kita abis disedotnya, dalam hal ini kehancuran negara yang dimaksud. Begitulah kalo sudare-sudere mau tau secare kasarnye apa yang disebut korupsi! (Berhenti lagi sebentar).

Nah, lantaran terang die punye kejahatan, maka marilah sekarang rame-rame kita basmi, kita sikat to the bottom! Tapi pegimane membasminye? Bagaimane menyikatnye? Ini die yang saye mau kupas di hadepan sudare-sudare sekalian. Rhm-ehm (beliau terbatuk-batuk).

Denger sudare-sudare, korupsi itu hanya bisa dibasmi dalem diri kite juga. Ni dari sini! (Beliau menunjuk dadanya). Lantaran ude dibilang, die itu barang yang tida keliatan. Tidak kecil tidak gede. Bukan lelaki juga bukan perempuan!"

"Banci ngkali, pak!" nyeletuk seorang hadirin.

"Ho-oh, gitu deh kire-kire. Dan .... seperti juga penyakit, korupsi pun bermacam-macam. Ade korupsi duit, korupsi tenage, korupsi waktu, dan ada juga korupsi... pangkat!
Jadi, demi kesadaran bernegara, demi kemakmuran bersama-sama, sebaiknye mulai sekarang sudare-sudare pada insap, jauhilah itu penyakit korupsi. Salah satu jalannye ilaha jangan sok ikut-ikutan mau mewah, padahal penghasilan tidak mengizinkan! Jangan dibiarin nurutin permintaan istri yang mau ini mau itu! Anggep sepi. Hah, kita kan kaum lelaki, sudare-sudare. Masak iye mustri nyerah same segale tetek bengek rongrongan kaum yang lemah? Tunjukkanlah sudare-sudare punya tangan besi, jangan mau diteken, jangan mau dibudakin, jangan...."

"Stop...!" tiba-tiba dengan tak disangka-sangka istri beliau yang gemuk trokmok masuk ke dalam ruangan rapat dengan tampang beringas. "He, Pak!" katanaya membentak, "Ape jangan mau diteken, ape jangan mau dibudakin? Emangnya enggak kedengaran? Mari kite beritungan...!"

"Ti... e-eh, Ti... apa-apan ni...?" Pak Sanem gelagapan. "Alaa, ngngak pake! Ayo lekasan pulang!" terus saja istrinya menyeret, hingga Pak Sanen betul-betul tak berdaya dan ikut naik oto pulang ke rumah, sementara rapat keruan saja bubar!

"He, Pak, jangan main gile, je. Nih ape macem nih!" tangannya menunjukkan selembar foto.
Pak Sanen melirik dan tiba-tiba mukanya pucet, karena itu adalah foto ia bersama seorang nona Indo yang manis.

"Hem, lelaki mate keranjang, siapa nih ha? Ayo bilang, ayo ceritain!" Tapi Pak Sanen membungkam saja. "Pantas, belakangan ini ngasi duit kurang-kurang melulu, padahal sebelonnya saban minggu nggak kurang ngasi seribu. Ape lagi tu ngkoh-ngkoh yang nyogok masih banyak pade dateng bawa duit gepokan. Asal ditanya mau duitnye, buat ini buat itu le! Nggak taunye dikasih buat... si die. Hem, emangnye manis orangnye ye? Lelaki pintar, banyak akal!"

Keesokan harinya, di kantor, Pak Sanen jagi begitu malu gara-gara peristiwa tersebut. Kalau ada yang nanya, "Pak soal ape sih kemaren tuh?" Maka ia menjawab, "Ah kagak. Biase, istri saye memang lagi sakit panas dan sedikit nerveus gara-gara kucingnya yang disayang mati!"

Pukul sebelas, mendadak Pak Sanen terkejut, karena ke dalam kantornya masuk dua orang polisi. "Permisi, Pak!" kata polisi-polisi itu. "Kami diperintahkan membawa Bapak ke pengadilan!"

Tapi betapa kaget pegawai-pegawainya, waktu besoknya terbaca berita-berita di koran-koran, berbunyi Pak Sanen, kepala kantor jawatan anu, kemarin telah ditangkap oleh yang berwajib, dengan dakwaan melakukan kongkalikong uang jawatan dan telah menerima sogokan dari kanan kiri. Dalam pemeriksaan pertama ia telah mengakui kesalahannya dan mengemukakan alasan: ia ingin hidup mewah -- plesir, piara gula-gula dan selalu memenuhi permintaan istrinya membeli barang-barang bagus tapi apa daya gaji tak mencukupinya.

(Alwi Shahab)

Monas dan Simbol Kebesaran Bangsa

Saat dimulainya proses pembangunan Monumen Nasional (Monas) yang megah itu, entah berapa kali Presiden Soekarno mendatangi proyek monumental ini. Dia selalu didampingi sang arsitek, sekaligus sebagai direksi pelaksana. Perhatian besar Bung Karno terhadap pembangunan Monas karena dia sebagai ketua umum proyek. Saat-saat sibuknya pembangunan Monas awal 1960-an, presiden pertama RI itu membuat pernyataan tertulis yang ditujukan kepada seluruh bangsa : "Kita membangun Tugu Nasional untuk kebesaran Bangsa. Saya harap, seluruh Bangsa Indonesia membantu pembangunan Tugu Nasional ini."

Tapi, menjelang berakhirnya kekuasaan Bung Karno, setelah peristiwa G30S, para mahasiswa dan pemuda yang meminta Bung Karno turun menganggap Monas sebagai proyek mercu suar. Yang dibantah keras Bung Karno dan dikatakan Monas simbol kebesaran bangsa. Maklum ketika itu, ekonomi Indonesia memang tengah morat-marit, dihantui naiknya harga-harga dan melonjaknya inflasi.

Monas dengan tugu setinggi 115 meter dengan lidah api berbentuk kerucut tinggi 14 meter, pada saat musim liburan sekarang ini ratga-rata dikunjungi tidak kurang 5 ribu orang perhari. Sedang di hari Ahad pengunjungnya membludak hampir 10 ribu orang. Tidak heran seperti yang dituturkan Kepala Musium Monas, Rafael Nadapdap, pengunjung harus rela antre antara dua sampai tiga jam untuk menaiki puncak Monas sambil menikmati pemandangan seluruh Ibu Kota dan Jabotabek. Akibat banjirnya pengunjung, bukan hanya anak-anak sekolah tapi juga orang dewasa, terpaksa pihak pengelola Monas harus bekerja sampai malam karena pengunjung terus berdatangan. Sementara lift hanya dapat mengangkut 11 orang pengunjung. Menurut Raphael, pengunjung ada yang datang dari Papua, Kalimantan dan Sulawesi, di samping para wisatawan asing.

Dalam foto tampak penggalian tanah untuk keperluan jalan di sekiling tugu nasional, sementara pembangunan tugu masih belum selesai. Monas setelah penyerahan kedaulatan (1950) dinamakan lapangan Merdeka. Karena ketika Bung Karno datang dari Yogyakarta, sejak dari Bandara Kemayoran sampai Istana Merdeka dia disambut dengan ratusan ribu massa rakyat yang berseru : Merdeka, Merdeka ... . Maka sejak itu bernama Lapangan Merdeka dan di depannya Istana Merdeka.

Lapangan Merdeka (Monas) yang pada masa Belanda bernama Koningsplein dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels. Monas yang luasnya 100 hektare (satu juta m2), konon merupakan lapangan paling luas di seluruh kota-kota dunia. Lapangan Monas enam kali lebih besar dari Trafalgar Square di London yang kesohor itu. Dia juga lebih besar dari lapangan Arc de Triomphe de L' Etoile, di Paris. Jauh lebih besqr dari lapangan gereja Santo Pietro, Roma. Tempat ribuan jamaah Katolik berkumpul bertatap muka dengan Paus di atas balkon sambil melambai-lambaikan tangannya. Lapangan batu ini hanya sebesar Lapangan Banteng, Jakarta. Demikian juga dengan Lapangan Merah Moskow yang luasnya hanya 2/3 lapangan Monas. Salah satu alasan dipilihnya lapangan ini untuk Tugu Nasional karena luasnya yang cukup ideal itu. Di samping letaknya di jantung Ibu Kota.

(Alwi Shahab)

Anak Raksasa Main Ayunan

Saat ini tidak terhitung banyaknya orang tua yang menderita stres karena tidak mampu menyekolahkan putra-putrinya. Untuk masuk sekolah, mulai TK, SD, SLTP, SLTA sampai ke perguruan tinggi, diperlukan banyak uang. Belum lagi untuk membeli seragam dan uang sumbangan untuk biaya rehabilitasi atau perbaikan sekolah. Jangan kaget -- di tengah-tengah jumlah penganggur yang makin membengkak -- kini kita dapati putra-putra usia sekolah yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya.

Untuk sekadar menghilangkan stres dan sebagai pelipur lara dalam suasana politik yang tidak pernah sepi dari konflik, sebaiknya kali ini kita mengangkat cerita-cerita humor. Bagi orang Betawi, humor punya fungsi sosial untuk melarikan diri dari kepedihan hidup, setidak-tidaknya untuk membangkitkan kembali rasa optimisme. Refleksi rasa humor itu terlihat kental dari lakon-lakon lenong dan topeng Betawi. Bukan hanya itu. Masih banyak lagi seni Betawi kental dengan humor. Salah satunya adalah sahibul hikayat alias tukang dongeng. Mendengarkan sahibul hikayat ditanggung bisa mengendorkan urat syaraf.

Budaya Betawi tempo doeloe lahir dari pengaruh Parsi dan Timur Tengah, yang terkenal dengan kisah 1001 Malam-nya. Tidak heran jika H Sofyan Jait (65), sambil duduk di permadani dari malam sampai jelang subuh, membawakan cerita-cerita demikian.

***

Konon, di negeri Sardistan, tinggal seorang raksasa. "Cucu mau makan apa?" tanya raksasa dengan suara bernada tinggi pada salah seorang cucunya yang masih balita.

"Cucu kagak mau makan," jawab sang cucu.

"Abis cucu mau ape?" tanya sang raksasa.

"Cucu mau main ayunan," jawab si cucu.

Maka sang raksasa pun sibuk membikin ayunan untuk menyenangkan hati cucunya. Konon, ketika lohor diayun, ayunan yang membawa sang cucu baru balik kembali menjelang magrib. Tentu saja cerita ini tidak masuk akal, tapi pendengar cukup dibuat terpingkel-pingkel.

Di negeri Samarkand, ada seorang raja yang punya putra semata wayang. Namanya cukup bagus, Harsati Siti. Sayangnya, putri ini jeleknya kagak ketulungan. Seluruh rakyat negeri Samarkand tahu raja memiliki putri yang sangat jelek. Singkat cerita, raja menjadi kewalahan karena Harsati Siti belum juga dapat jodoh, sekalipun usianya sudah jatuh tempo. Suatu hari raja Samarkand memanggil hulubalang, dan memerintahkan agar mencari pemuda untuk dijodohkan pada sang putri.

Maka sang hulubalang berdiri di tengah-tengah perapatan, untuk mencari orang yang akan dijodohkan pada sang putri. Sayangnya, misi rahasia ini bocor hingga diketahui orang banyak. Kalau biasanya mengawini putri raja merupakan idaman tiap orang, tidak demikian dengan tawaran sang raja. Tidak seorangpun mau lewat diperepatan jalan, hingga sang hulubalang harus bersabar selama berjam-jam menunggu orang yang lewat. "Pokoknye kalao ada yang lewat, anak muda kek, kakek-kakek kek, gua tabrak," pikir hulubalang.

Setelah sampai lewat Ashar tidak ada orang lewat, tiba-tiba seekor kambing bandot lewat di depan hulubalang. Mungkin karena kesel, kambing bandot pun disergap sang hulubalang, sambil bertanya,

"Kambing, lu mau kawin dengan putri raja?"

Sang kambing pun menjawab, "Embek...."

Tidak diceritakan bagaimana reaksi sang raja ketika hulubalang membawa kambing bandot untuk jodoh sang putri.

***

Masih di negeri Samarkand, pernah terjadi pertempuran antara jin melawan bidadari. Tentu saja tidak ada seorang bidadari pun yang mau dengan jin. Maklum kepalanya segi tiga, perutnya mengsong dan hidungnya persis berko. Saat peperangan berlangsung dengan seru, sang bidadari ramai-ramai bubar melarikan diri ke kayangan. "Siapa yang mau perang kalau ngerogo empang," kata para bidadari.

Konon, di Samarkand banyak didatangi para pemburu, karena berbagai buruan terdapat di sini. Suatu ketika, seorang pemburu kehabisan peluru saat memburu seekor macan. Saking takutnya menjadi umpan sang macam, si pemburu cepat-cepat naik ke pohon. Sementara sang macam menunggu di bawahnya, seolah-olah siap menerkam.

"Oh macan, jangan makan gue dong," kata si pemburu.

"Ngapain makan elu. Gue lagi sakit gigi nih! Ade aspirin enggak, Lu?" tanya sang macan.

***

Di masa kolonial, Belanda menempatkan seorang kapten yang bertugas untuk mengurus komoditasnya. Yang diangkat sebagai kapten adalah orang yang paling berpengaruh dan kaya raya di masyarakat. Konon, ada seorang kapten Arab naik kereta api di kelas satu dari Beos (Jakarta Kota) ke Buitenzorg (Bogor). Entah mengapa tongkat sang kapten tiba-tiba membentur jendela hingga pecah. Maka ia diharuskan membayar kerugian lima gulden.

Ketika sang kapten memberikan uang 10 gulden, si kondektur menyatakan tidak ada kembaliannya. Maka kembali ia memecahkan kaca jendela kereta lainnya, sambil berkata, "Sekarang impas, tidak usah kembali."

Apakah cerita-cerita itu cukup mengelitik. Kalau tidak, mungkin Anda terlalu stres, atau saya yang kurang pandai menuliskannya. Yang pasti, saat Pak Jait bercerita hampir seluruh hadirin ngakak, tertawa terpingkal pingkal.

(Alwi Shahab)

Harga Diri

Ketika tekanan terhadap Islam meningkat di Makkah, Nabi Muhammad SAW memerintahkan sekelompok sahabatnya untuk hijrah ke Habasyah (Etiopia). Sementara, kaum kafir Quraisy berusaha membuntuti rombongan ini guna menggagalkan misi tersebut.

Setibanya di tempat tujuan, mereka pun diterima Raja Najasi, dalam suatu majelis kerajaan penuh keagungan. Tidak seperti tamu-tamu lainnya, kaum Muslimin memasuki majelis kerajaan tanpa mengikuti kebiasaan rakyat setempat: Menunduk dan bersujud di hadapan raja yang beragama Kristen itu.

Melihat kesempatan ini, pihak kafir Quraisy yang juga hadir berusaha menjatuhkan posisi kaum Muslimin di hadapan Raja Najasi. Namun, juru bicara kaum Muslimin, Ja'far bin Abi Thalib, tampil menjelaskan.

"Agama kami tidak membenarkan bersujud di hadapan selain Allah SWT," jawab Ja'far, pemuda tampan yang juga kakak dari Ali bin Abi Thalib. Rupanya penjelasan ini dapat diterima raja hingga akhirnya kaum Muslimin cukup lama tinggal di Habasyah.

Islam sangat menekankan umatnya untuk menjaga harga diri mereka dan melarang penghambaan manusia kepada manusia. Ini diteladani oleh Nabi Muhammad SAW yang tak menyukai dirinya dibesar-besarkan secara berlebih-lebihan oleh sahabatnya.

Pernah beliau berkata, "Kalau aku datang, janganlah kalian bangkit berdiri menghormati kedatanganku seperti orang-orang ajam.'' Di saat lain beliau berkata, "Janganlah kalian mengagung-agungkan daku seperti orang Nasrani mengagung-agungkan Isa bin Maryam."

Waktu Makkah menyerah takluk kepada Rasulullah SAW, seorang Badui menggigil ketakutan ketika berhadapan dengan Rasul SAW. Melihat hal ini beliau berucap, "Anda tak usah gemetar. Aku ini seorang dari suku Quraisy. Makanan ibunya roti kering."

Islam menginginkan umatnya untuk hanya takut kepada Allah SWT, dan memuji orang-orang yang berperilaku demikian. Dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut. (QS Al-Baqarah [2]: 40).

Sesungguhnya Islam mendorong rasa takut kepada Allah SWT dan menyeru kepada-Nya karena yang demikian punya pengaruh dan akibat yang baik dalam kehidupan individu dan jamaah. Adapun takut kepada manusia, maka ia dicela dan dilarang oleh Islam, karena hal itu mencegah manusia berterus terang dengan kebenaran, menghalangi dirinya dari upaya mengubah kemungkaran.

Juga, menjadikan individu sebagai manusia yang plin-plan dan tak bermutu, tidak dapat diharapkan kebaikannya dan tak dapat diamankan dari kejahatannya. Dan kamu takut kepada manusia. sedang Allah-lah yang lebih berhak kamu takuti. (QS Al-Ahzab [33]: 37).

(Alwi Shahab)

Molenvliet (Jl Gajah Mada-Jl Hayam Wuruk)

Fotografer Woodbury & Page mengabadikan Molenvliet yang terdiri dari dua jalan, yaitu Molenvliet West (Jl Gajah Mada) dan Molenvliet Oost (Jl Hayam Wuruk) pada 1872, saat awal-awal ditemukannya teknologi fotografi. Seperti terlihat dalam foto 134 tahun lalu, kedua jalan yang diapit dan dipisahkan oleh kanal Ciliwung di sepanjang kedua jalan raya tampak sepi dan lengang.

Jalan Gajah Mada dan Jl Hayam Wuruk yang kini sudah menjadi hutan beton, kala itu dipenuhi pepohonan rindang, sehingga suasana kedua jalan yang kini ramai dan macet, kehijau-hijauan menjadikan suasana teduh.

Generasi sekarang, dipastikan sudah tidak banyak lagi yang mengenal nama Molenvliet yang dalam Belanda berarti molen (kincir) dan vliet (angin). Karena dulunya disini terdapat kincir angin, meniru sistem pengairan Belanda. Sungai Ciliwung yang dulunya berbelok-belok dari Harmoni hingga ke Pelabuhan Sunda Kelapa, di Pasar Ikan sepanjang 3 km, telah diluruskan oleh Phoa Bing Ham pada 1648. Dia adalah kapiten kedua dari komunitas Cina di Batavia, yang karena karyanya ini telah mendapat gelar kehormatan: 'ahli pengairan'.

Pada pertengahan abad ke-18 ketika daerah Pasar Ikan dinyatakan sebagai 'sarang penyakit' dan banyaknya warga Eropa yang meninggal dunia, mereka kemudian banyak meninggalkan 'kota tua' dan berpindah ke daerah yang lebih sejuk: Molenvliet. Pada awal abad ke-20, di kiri-kanan kawasan Molenvliet merupakan daerah bisnis yang bertahan hingga sekarang. Mereka juga membangun rumah-rumah dan sejumlah tempat peristirahatan (landhuis), karena hawanya yang sejuk. Sekitar 150 tahun lalu di Molenvliet West (Jl Gajah Mada) terdapat sebuah hotel mewah "Des Indes', yang dibongkar pada tahun 1970-an dan dijadikan sebagai pertokoan 'Duta Merlin". Ketika itu tamu-tamu negara ditempatkan di hotel yang memiliki pekarangan luas, dan di bagian depannya dijadikan sebagai tempat dansa-dansi kalangan atas.

Trem listrik yang merupakan angkutan utama di Jakarta sampai 1960, menggantikan sado dan dokar, juga melewati kedua jalan tersebut dari Meester Cornelis (Jatinegara) ke Kota Inten (Pasar Ikan). Demikian juga dari berbagai jurusan di Jakarta seperti Tanah Abang-Pasar Ikan dan Kramat-Pasar Baru-Pasar Ikan.

Dulu di bagian ujung hanya beberapa puluh meter dari pusat pertokoan elektronika, terdapat perusahaan Lindeteves. Nama salah satu perusahaan raksasa milik Belanda yang mensuplai keperluan ekspor-impor ke Hindia Belanda. Perusahaan raksasa ini dinasionalisasikan 1957 setelah putusnya hubungan RI-Belanda akibat masalah Irian Barat (Papua). Bersama empat perusahaan raksasa Belanda: Geo Wehry, Internatio, Borsumij, dan Jacobson van den Berg. Sekarang ini, untuk mengingatkan kejayaan masa lalu, dibangun Pusat Pertokoan Lindeteves. Di depan Lindeteves di Jalan Gajah Mada dulu terdapat beberapa gedung antik. Di antaranya milik Mayor Cina Khouw Kim An yang dahulu merupakan gedung paling indah di Jakarta Kota.

Gedung yang kini tersisa bagian mukanya saja karena tengah dibangun pertokoan dan perhotelan oleh group Modern, konon memiliki ratusan kamar. Kenapa begitu banyak? Karena ia memiliki 14 istri dan 24 orang anak. Belum lagi puluhan budak belian. Tapi kita harus mengacungkan jempol pada mayor Cina ini. Karena istri-istrinya hidup rukun, meskipun kita tidak tahu bagaimana cara ia menggilir para istrinya itu.


(Alwi Shahab)

Habib Ahmad Mencari Kampung Arab

Menjelajahi Jl Gajah Mada dari arah Harmoni kita diminta untuk bersabar menghadapi macetnya lalu lintas ke arah Glodok. Berbelok ke kiri sebelum mencapai gedung Arsip Nasional yang dulu tempat tinggal gubernur jenderal de Klerk, yang dibangun pada abad ke-18, terdapat kampung Krukut.

Nama kampung tua yang berdiri tidak lama setelah kota Batavia itu kini diganti jadi Jl Kebahagiaan dan Jl Keutamaan. Memasuki Krukut kita akan mendapati masjid berusia ratusan tahun, yang kini sudah diperbaharui hingga tidak terlihat lagi keasliannya.

Pekan lalu, saya mengantarkan Habib Ahmad Somaid (83 tahun) ke Krukut, tempat ia dilahirkan pada tahun1923. Perjalanan dari Kebagusan, Pasar Minggu, ke Krukut, yang berjarak sekitar 20 km, kami tempuh dalam waktu empat jam akibat macetannya lalu lintas. Habib yang kini warga Arab Saudi itu, saking kesal dan lelahnya karena mobil harus berjalan merayap-rayap, mengatakan, ''Seperti perjalanan dari Arafah ke Mina saat ibadah haji.''

Karena sudah puluhan tahun tidak melihat tanah kelahirannya, dia menjadi kaget, karena suasananya sudah berubah. Dahulu, Krukut dan juga Pekojan, dihuni hampir seluruhnya oleh orang Arab. Dulu di Krukut banyak kambing berkeliaran, karena keturunan Arab senang daging kambing. Sekarang, sebagian besar penduduknya keturunan Cina. Habib, yang datang bersama istri dan cucu-cucunya yang tengah liburan, tidak menjumpai lagi rumah tempat ia dilahirkan. "Semua berubah. Saya sudah tidak mengenal lagi Krukut sekarang ini," katanya menyerah setelah berputar-putar beberapa lama.

Bercerita tentang masa kecil, Habib Ahmad dari Krukut kemudian pindah ke Tanah Abang. Ia tinggal di Jl Karet (kini Jl KH Mas Mansyur), di depan kuburan Arab (dibongkar pada masa gubernur Ali Sadikin). "Dulu, pagi-pagi di depan rumah saya lewat tukang makanan, buah-buahan, dan tukang beras yang hendak mangkal di pasar Tanah Abang," katanya. Dia juga tidak mengenali lagi bekas kediamannya. Di Tanah Abang, dia bersekolah di Jamiatul Kheir dan Al-Irfan, yang dipimpin Abdullah Salim Alatas, ayah mantan Menlu Ali Alatas.

Pada tahun 1932, dalam usia 9 tahun, dia pindah ke Kwitang, di Jalan Kembang Sepatu (kini Jl Kramat Kwitang I), Jakarta Pusat. Di Kwitang, kala itu tinggal tokoh Islam H Agus Salim (Syarikat Islam), Mr Mohamad Roem (Masyumi) dan Saerun (wartawan dan pemilik Harian Pemandangan). "Saya berkawan baik dengan putera-puteri H Agus Salim," katanya.

Ayahnya, Habib Husain Somaid, merupakan salah seorang penasehat Habib Ali Alhabsyi, pemimpin majelis taklim Kwitang. Ayahnya adalah seorang hafidz (hafal Alquran). Suatu waktu di pengajian, saat ia membaca Alquran, tiba-tiba lampu padam. Tapi ayahnya terus membaca hingga yang hadir jadi heran, karena ia membaca saat lampu padam.

"Waktu di Kwitang, saya naik trem listrik dari Gang Listrik (kini Jl Kramat III) ke pasar Tanah Abang. Kemudian ke Jamiatul Khair yang letaknya berdekatan. Kala itu, keturunan Arab diharuskan naik trem di kelas II dengan tarif 10 sen. Kelas III tarifnya lebih murah hanya untuk bumiputera, yang oleh Belanda disebut inlander. Ke Tanah Abang trem melewati Kalipasir, dan jembatan kali Ciliwung. Kala itu, lebar sungai yang membelah Kwitang - Kalipasir beberapa kali lipat dari sekarang. Demikian juga airnya jernih, hingga digunakan untuk mandi, mencuci dan wudhu."

Pada tahun 1937 (16 Juni), ia menghadiri Jambore Kepanduan di Belanda. Naik kapal Dempo milik Belanda, selama 28 hari baru sampai ke Rotterdam. Dia ikut jambore bersama 80 pandu dari Hindia Belanda. Terdiri dari Belanda totok/Indo 30 orang, Ambon 10 orang, Arab 7 orang, dan Bumiputera 30 orang. Wakil pandu Arab memakai stambul warna merah dengan kuncir hitam kopiah sehari-hari orang Mesir. Karena memakai stambul, kita mendapat sambutan dan simpati dari wakil-wakil pandu negara Arab. Uniknya, pihak bumiputera menggunakan lurik dan blangkon. Dalam jambore hadir Lord Baden Powell, bapak pandu internasional.

Pulangnya, Habib Ahnad turun di Port Said, Mesir, dan tidak kembali ke Indonesia. Ketika itu soal visa tidak ada masalah seperti sekarang. Di Kairo ia bersekolah di King Fuad University (kini Cairo University). Tahun 1952, dia melanjutkan petualangannya ke Arab Saudi. Bekerja di perusahaan importir terbesar Saudi, Sharbath, sampai 1956. Pertengahan 1956, ibunya yang sudah lanjut memintanya agar segera kembali ke Indonesia. Sementara ayahnya meninggal dunia tahun 1951.

Setibanya di Indonesia, dia memilih jadi anggota PNI. Karena menguasai bahasa Inggris, Belanda, Prancis dan Arab, dia termasuk anggota teras partai yang didirikan Bung Karno ini. Kala itu ketua umum PNI Suwiryo. Ia juga bekerja di RRI siaran bahasa Arab untuk konsumsi Timur Tengah bersama ajengan KH Abdullah Bin Nuh. Di PNI dia kenal baik dengan Ruslan Abdulgani dan Hardi SH. Ketika terjadi perdebatan soal poligami, tokoh PNI Ny Supeni minta pendapat saya untuk dijadikan rujukan sebagai suara PNI. Saya katakan Islam tidak melarang poligami tapi kamu harus berlaku adil. Dan kamu tidak bisa berlaku adil.

Pada tahun 1960-an ia kembali ke Arab Saudi sampai 1967. Kemudian bekerja di televisi Kuwait sampai 1973. Untuk kemudian kembali ke Saudi dan bekerja di National Commercial Bank selama 11 tahun dan pensiun 1987. Diapun jadi warga negara Saudi.

Sekalipun tidak menemui lagi kediamannya di Krukut, Tanah Abang, dan Kwitang, tapi kangennya terhadap tanah kelahiran terobati. Dia dapat merasakan kembali asinan, pete kecap, sambel terasi dan terutama durian. Baik saat sarapan, makan siang dan malam, durian tidak pernah ketinggalan. "Saya juga kagum pada mojang-mojang Indonesia. Cantik dan lebih luwes dibanding gadis-gadis negara lain," katanya.

(Alwi Shahab)

Tosariweg atawa Jl Kusumaatmaja (1937)

Tosariweg (Jalan Tosari) -- kini Jalan Kusumaatmaja -- Jakarta Pusat, diabadikan tahun 1937, yang kala itu juga disebut zaman normal. Perhatikanlah kesegaram taman muka dan atap. Pagar-pagar tinggi yang sekarang merupakan ciri khas kediaman para elit belum ada. Maklum kala itu Kota Batavia aman, belum banyak dikenal perampokan, perampasan, penjambretan, perkosaan, dan berbagai peristiwa kriminal yang sekarang ini makin brutal, sadis, berani dan terang-terangan.

Jalan Tosari (Kusumaatmaja) yang terletak di kawasan elite Menteng, tulis Adolf Heyken dan Grace Pamungkas merupakan kota taman pertama di Indonesia. Rumah tipe seperti terlihat dalam gambar beratap perisai dengan teritis lebar. Tipe rumah Tosari dibangun dalam lahan hijau dengan taman depan. Untuk menikmati keindahan taman tersebut selalu terdapat teras (beranda) di depan rumah. Menurut Adolf Heyken dalam buku: Menteng Kota Taman Pertama di Indonesia, ruang dalam rumah serta tata letaknya menunjukkan bahwa rumah seperti ini direncanakan bagi keluarga kecil dengan cara hidup sederhana. Tipe rumah semacam ini juga terdapat disejumlah kawasan Menteng, yang kini telah disulap menjadi rumah mewah dan sangat mewah.

Pada tahun 1960-an, Menteng masih sepi dan belum ada kemacetan lalu lintas yang sudah kagak ketolongan lagi seperti sekarang ini. Pada tahun-tahun tersebut, saya sering ke Menteng naik sepeda dari Kwitang, yang jaraknya sekitar lima km. Saat-saat bulan Ramadhan sambil menunggu berbuka, saya dan teman-teman sering ke taman Lembang, karena air situnya jernih dan dalam. Mendatangi kawasan Menteng saat ini kita sudah hampir tidak menjumpai lagi taman-taman indah dan dimana-dimana terdapat pepohonan lebat, hijau royo-royo.

Sejak tahun 1970-an -- waktu booming petro dolar mulai mengalir ke kantong-kantong pejabat pemerintah dan banyaknya kontraktor dapat uang bejibun sambil menilep uang rakyat, rumah-rumah di Menteng berubah drastis: dipermak, dibongkar dan diganti. Sehingga Menteng yang dibangun 1920'an dan dimaksudkan sebagai kota taman pertama di Indonesia sama sekali berubah bentuknya. Pada tahun 1970'an dan tahun-tahun berikutnya merupakan masa keemasan bagi kaum koruptor di Indonesia. Hampir tidak ada yang ditahan hingga mereka leluasa sekali merampok duit rakyat.

Kembali kepada Menteng tempo doeloe, ketika itu kawasan ini bersih dan teratur. Kini suhu udara naik dan kantor berdiri seperti jamur. Meskipun Gubernur DKI Ali Sadikin pernah mengeluarkan larangan mendirikan tempat usaha di Menteng. Sementara warung-warung dibiarkan memadati trotoar, taman, dan pojok persimpangan jalan, asal membayar 'uang keamanan', tulis Heyken.

Menteng dibangun oleh Bouwmaatschappij NV de Bouwploeg yang kantornya kini berada di masjid Cut Nyak Dien. Menteng kemudian jadi model bagi wilayah-wilayah pemukiman baru di kota-kota lain di Jawa seperti Surabaya dan Semarang. Sayang kalau Menteng yang pernah dijuluki Minerva-nya Amsterdam menjadi kurang terurus. Kini Menteng kehilangan tempat bersejarah dengan dibongkarnya Lapangan Persija. Lapangan ini dibangun 1921, dan ketika itu bernama Vios Veld (Lapangan Vios). Vios adalah nama kesebelasan yang para pemainnya warga Belanda.


(Alwi Shahab)

Menjelajahi Kampung Arab di Negeri 'Singa'

Tidak hanya di Indonesia terdapat kampung Arab seperti Pekojan, Krukut dan Tanah Abang. Singapura juga memiliki Kampung Arab. Seperti Arab Street di Kampung Glam, tempat Masjid Sultan yang dapat menampung lima ribu jamaah. Tapi seperti juga di Krukut (Jakarta Pusat) dan Pekojan (Jakarta Barat), di Arab Street dan sekitarnya kini sudah tidak banyak lagi kita jumpai keturunan Arab. "Hanya tinggal namanya saja Arab Street," kata seorang pria setengah baya keturunan Arab kepada penulis.

Pemerintah Singapura, dalam upaya harmonisasi penduduknya, mengharuskan mereka tinggal bersama antar beragam etnis dan agama di flat-flat. Padahal Singapura yang dibangun Raffles 1819 pernah menjadi pusat persinggahan para imigran Arab sebelum mereka tiba di Indonesia. Ini terjadi sejak 1870 ketika pelayaran dengan kapal uap antara Timur Jauh dan Arab mengalami perkembangan pesat. Sejak itulah perpindahan penduduk dari Hadramaut ke Nusantara menjadi lebih mudah.

Selain tempat persinggahan, Singapura juga jadi tempat menetap para imigran dari Hadramaut. Kalau di Indonesia, Belanda mengangkat kapiten Arab sebagai kepala koloni masyarakatnya, di Singapura dan juga Malaysia tidak memiliki kepala koloni. Mereka berada langsung di bawah kekuasaan Inggris (LWC van den Berg).

Salah seorang keturunan Arab di Singapura mengatakan jumlah mereka saat ini tidak lebih dari 10 ribu orang. Di Indonesia, menurut Edrus Almashur, yang banyak mengikuti dan menulis perkembangan masyarakat Arab Indonesia, jumlah mereka kurang lebih lima juta orang. Di Singapura keturunan Arab jumlahnya sekitar dua persen dari jumlah umat Islam yang berjumlah sekitar 500 ribu jiwa. Atau 14 persen dari empat juta penduduk Singapura.

Sekalipun jumlahnya kecil sekali, tapi pengaruh mereka di kalangan umat Islam Singapura cukup besar. Setidak-tidaknya ada sejumlah masjid yang dibangun pendahulu-pendahulu mereka, seperti Masjid Alkaff, Masjid Baalawi, Masjid Alsagoff dan Aljunaid School. Yang terakhir ini adalah madrasah modern. Para siswa, selain harus menguasai bahasa Arab, juga Inggris. Bahasa Inggris kini merupakan bahasa utama di Negeri Singa itu, termasuk dalam pergaulan antaretnis Arab. Kalau generasi di atas mereka umumnya pedagang, generasi muda etnis Arab di Singapura kini adalah para pekerja, dengan gaji yang jauh lebih menggiurkan dari pada di Indonesia.

Konon, pada masa kejayaannya, sekitar 2/3 tanah di Singapura milik tuan tanah Aljunaid, Alsagoff, Alkaff, dan Bin Thalib bin Yamani. Sekarang yang tinggal hanya tanah milik bin Yamani. Tentu jauh berkurang dibanding masa lalu. Di Kwitang, Jakarta Pusat, sampai pertengahan 1950-an, Alkaff memiliki banyak rumah yang disewakan. Keluarga besar Alkaff yang juga memiliki tanah di Hadramaut, selain di Singapura, mereka juga tinggal di Kwitang. Di kampung ini mereka memiliki banyak rumah sewa. Ketika pada 31 Agustus 1957, Negara Melayu memperoleh kemerdekaan dari Inggris, di Jakarta perayaan diadakan di kediaman Alkaff di Kwitang. Karena, ia warganegara Singapura yang kala itu merupakan bagian dari Kerajaan Melayu.

Karena hampir tidak terdapat lagi di Arab Street, sementara mereka sibuk mencari uang, umumnya masyarakat keturunan Arab di Singapura bisa ditemui saat ada kematian, pernikahan, dan di masjid saat shalat Jumat. Di antara 69 masjid di negeri singa itu, paling banyak jamaah keturunan Arab di Masjid Baalawi dan Masjid Sultan. Di Masjid Baalawi tiap Kamis malam diadakan pembacaan Ratib Al-Atas, diikuti sekitar seribu jamaah.

Masjid yang dipimpin Habib Hasan Alatas itu terletak di Bukit Timah, dibangun oleh ayahnya, Habib Muhammad Alatas. Masjid itu diresmikan oleh Habib Ali Alhabsji dari Kwitang, Jakarta Pusat, pada 9 September 1952. Habib Hasan (52 tahun) memimpin masjid tersebut sejak ayahnya meninggal pada 26 April 1976 dalam usia 74 tahun.

Masjid Baalawi merupakan salah satu pusat kegiatan dakwah di Singapura. Habib Muhammad telah mengajar ratib dengan hanya 15 murid, dan kemudian berkembang pesat menjadi lebih 10 ribu pelajar saat ini. Ratib yang dikarang oleh Habib Abdurahman Alatas dari Singapura itu kini telah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Prof Syed Mohammad Naquib Alatas, seorang ilmuwan dari Malaysia kelahiran Sukabumi.

Naquib Alatas, bersama kakaknya, Prof Dr Husain Alatas, yang buku karangannya tentang korupsi menjadi rujukan di banyak negara, adalah cucu almarhum Habib Abdullah Alatas, Bogor. Masjid Baalawi sering didatangi tokoh dari Malaysia seperti Mahathir Mohammad dan Abdullah Badawi.

Kembali ke Arab Street di Kampung Glam, para wisatawan manca negara seolah-olah diingatkan kembali kekhasan Islam di Singapura. Seperti Masjid Sultan yang dibangun tidak lama setelah Raffles mendirikan Singapura, yang sebelumnya hanya kampung Nelayan bernama Temasek. Di sekitar masjid dan istana Sultan, terdapat sejumlah kafe, rumah makan, dan tempat hiburan. Antaranya tempat para muda-mudi untuk ber-zafin -- tarian diiringi gambus yang berasal dari Hadramaut.

Para jamaah (warga Arab) Singapura, seperti juga di Indonesia, masih memelihara kesenian dan budaya asal leluhur mereka dari Hadramaut. Untuk mengiringi zafin di tikar permadani, kafe ini memutar kaset-kaset gambus dari Indonesia.

Ketika saya menghadiri pesta perkawinan putri Habib Hasan Alatas di gedung megah, pihak tuan rumah mendatangkan rombongan gambus dari Jakarta pimpinan Husein Alatas. Sementara, para jamaah Singapura meliuk-liukkan badan dan berlompat-lompat mengikuti irama padang pasir. Menlu Malaysia, Syed Hamid Albar, pun turut menikmatinya.


(Alwi Shahab)

Para Karyawan Bank di Masa Kolonial

Inilah foto kesibukan dari para karyawan bagian administrasi Nederlandsdche Handel Maatchappij (NHM) NV yang bergerak di bidang perbankan. NHM yang menggantikan fungsi VOC yang bangkrut pada 1799 akibat korupsi yang dilakukan oleh hampir semua pejabatnya, berkantor di Stationspllein (Jl Lapangan Stasion no 1)-- Binnen Niuewpoortsstraat-- depan stasion Beos (Kota).

Bangunan ini mulai digunakan sejak 1933 oleh NHM sebagai gedung factorij di Batavia, menggantikan bangunan lama di Jl Kalibesar Timur 27, Jakarta Kota. Cabang pertama NHM di Batavia pada 27 Februari 1826. Semenjak 1 September 1883 perusahaan ini membuka diri untuk deposito, rekening koran, dengan bunga empat persen untuk jangka waktu enam bulan.

Kini bekas gedung NHM di depan stasion Beos dijadikan Museum Bank Mandiri. Setelah sebelumnya dilebur kedalam Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN). Pada 2 Oktober 1998 empat bank pemerintah bergabung masing-masing Bank Bumi Daya, Bank Exim, Bank Dagang Negara dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) kedalam Bank Mandiri.

Foto yang diabadikan 1940-an terlihat beberapa pegawai pribumi yang memakai celana pendek. Menurut Kartum Setiawan, ketua komonitas jelajah budaya, inilah seragam karyawan NHM tempo doeloe, terutama untuk golongan pribumi atawa inlander.

Memang pemerintah kolonial selalu melakukan politik diskriminasi terhadap warga pribumi. Mereka tidak boleh menggunakan toilet untuk warga Belanda, tapi di sini terdapat toilet khusus untuk inlander. Lihatlah bagaimana semrawutnya berkas-berkas di meja yang terbuat dari kayu. Tentu saja belum nongol komputer, seperti layaknya di kantor perbankan sekarang ini. Di bagian kanan foto terlihat mesin-mesin pendukung perbankan. Sementara lampu-lampu buatan pabrik Marqoee Depocee dari Prancis, merek yang terkenal kala itu.

Pada tahun 1930-an transportasi pegawai NHM masih menggunakan sepeda. Karenanya pada lantai dasar gedung berlantai tiga ini terdapat tempat parkir sepeda dengban kapasitas 120 sepeda. Pegawai rendahan sekalipun mereka tinggal berjauhan dari kantor tetap menggunakan sepeda. Masih dilantai dasar terdapat percetakan terbuat dari conblock kayu jati yang didatangkan dari Rembang, Jawa Tengah. Alasan menggunakan conblock dari kayu jati agar huruf-huruf yang jatuh ke lantai tidak patah.

Di lantai II seperti terlihat di foto ini, hingga kini masih kita jumpai ruang kas Cina (Chineesche Kas) dengan furniture dan perlengkapan bank peninggalan Factoriju Batavia NHM. Pada waktu itu banyak nasabah NHM berasal dari etnis Cina, sementara pribumi masih lebih senang menyimpan uang di bawah kasur atau bantal.

Di dalam gedung ini NHM memiliki perbankan afdeling bankzaken dan perkebunan (cuulturzaken) yang berada di lantai dua seperti terlihat di foto. Di lantai III (eerste verdieping) juga terdapat ruang rapat besar, laboratorium, ruang direksi perkebunan, presiden direksi dan kepala contorler hingga sekarang kondisinya seperti tahun 1930-an, ketika gedung masih digunakan NHM.

(Alwi Shahab)

Jaringan Yahudi di Indonesia

Dengan judul Sahabat Akrab, foto Reuters yang dimuat sejumlah harian ibukota pekan lalu memperlihatkan Menlu AS Condoleeza Rice berjabatan tangan dengan PM Israel Ehud Omert di Jerusalem. Keduanya tertawa-tawa, seolah-olah puas karena pasukan Israel berhasil melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat Lebanon dan Palestina -- kebanyakan diantaranya wanita dan anak-anak.

Israel yang mendapat dukungan AS juga mempergunakan senjata-sernjata pemusnah massal yang dinyatakan terlarang oleh konvensi Jenewa. Amerika Serikat yang kini makin terus terang membela Israel, menolak gencatan senjata dan menghendaki penyerbuan sekutunya itu ke Lebanon tanpa menghiraukan berapapun korban jiwa. Sementara, pakar hukum dari sebuah universitas ternama di AS tidak menyebutkan serangan Israel itu sebagai kejahatan perang.

Itulah sikap negara imperialis yang mengklaim kampiun hak azasi manusia (HAM). HAM memang milik mereka, bukan milik kita. Sementara PBB tidak berdaya melihat kekejamaan di luar perikemanusiaan itu. Bung Karno pernah menyatakan bahwa PBB nyata-nyata menguntungkan Israel dan merugikan negara-negara Arab. Pernyataan itu dikemukakan saat Indonesia keluar dari organisasi dunia tersebut.

Konon, warga Yahudi sudah sejak kolonial Belanda banyak berdiam di Indonesia, khususnya di Jakarta. Pada abad ke-19 dan 20 serta menjelang Belanda hengkang dari Indonesia, ada sejumlah Yahudi yang membuka toko-toko di Noordwijk (kini Jl Juanda) dan Risjwijk (Jl Veteran) -- dua kawasan etlie di Batavia kala itu -- seperti Olislaeger, Goldenberg, Jacobson van den Berg, Ezekiel & Sons dan Goodwordh Company.

Mereka hanya sejumlah kecil dari pengusaha Yahudi yang pernah meraih sukses. Mereka adalah pedagang-pedagang tangguh yang menjual berlian, emas dan intan, perak, jam tangan, kaca mata dan berbagai komoditas lainnya.

Sejumlah manula yang diwawancarai menyatakan, pada tahun 1930-an dan 1940-an jumlah warga Yahudi di Jakarta banyak. Jumlahnya bisa mencapai ratusan orang. Karena mereka pandai berbahasa Arab, mereka sering dikira keturunan Arab. Sedangkan Abdullah Alatas (75 tahun) mengatakan, keturunan Yahudi di Indonesia kala itu banyak yang datang dari negara Arab. Maklum kala itu negara Israel belum terbentuk. Sepereti keluarga Musri dan Meyer yang datang dari Irak.

Di masa kolonial, warga Yahudi ada yang mendapat posisi tinggi di pemerintahan. Termasuk gubernur jenderal AWL Tjandra van Starkemborgh Stachouwer (1936-1942). Sedangkan Ali Shatrie (87) menyatakan bahwa kaum Yahudi di Indonesia memiliki persatuan yang kuat. Setiap Sabat (hari suci umat Yahudi), mereka berkumpul bersama di Mangga Besar, yang kala itu merupakan tempat pertemuannya.

Menurut majalah Sabili, dulu Surabaya merupakan kota yang menjadi basis komunitas Yahudi, lengkap dengan sinagognya yang hingga kini masih berdiri.

Sedangkan menurut Ali Shatrie, mereka umumnya memakai paspor Belanda dan mengaku warga negara kincir angin. Sedangkan Abdullah Alatas mengalami saat-saat hari Sabat dimana warga Yahudi sambil bernyanyi membaca kitab Talmut dan Zabur, dua kitab suci mereka.

Pada 1957, ketika hubungan antara RI-Belanda putus akibat kasus Irian Barat (Papua), tidak diketahui apakah seluruh warga Yahudi meninggalkan Indonesia. Konon, mereka masih terdapat di Indonesia meski jumlahnya tidak lagi seperti dulu. Yang pasti dalam catatan sejarah Yahudi dan jaringan gerakannya, mereka sudah lama menancapkan kukunya di Indonesia. Bahkan gerakan mereka disinyalir telah mempengaruhi sebagian tokoh pendiri negeri ini. Sebuah upaya menaklukkan bangsa Muslim terbesar di dunia (Sabili, 9/2-2006).

Dalam buku Jejak Freemason & Zionis di Indonesia disebutkan bahwa gedung Bappenas di Taman Surapati dulunya merupakan tempat para anggota Freemason melakukan peribadatan dan pertemuan. Gedung Bappenas di kawasan elit Menteng, dulunya bernama gedung Adhuc Stat dengan logo Freemasonry di kiri kanan atas gedungnya, terpampang jelas ketika itu. Anggota Freemason menyebutnya sebagai loji atau rumah syetan. Disebut rumah syetan, karena dalam peribadatannya anggota gerakan ini memanggil arwah-arwah atau jin dan syetan, menurut data-data yang dikumpulkan penulisnya Herry Nurdi.

Freemasonry atau Vrijmetselarij dalam bahasa Belanda masuk ke Indonesia dengan beragam cara. Terutama lewat lembaga masyarakat dan pendidikan. Pada mulanya gerakan itu menggunakan kedok persaudaraan kemanusiaan, tidak membedakan agama dan ras, warna kulit dan gender, apalagi tingkat sosial di masyarakat.

Dalam buku tersebut disebutkan, meski pada tahun 1961, dengan alasan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, Presiden Sukarno melakukan pelarangan terhadap gerakan Freemasonry di Indonesia. Namun, pengaruh Zionis tidak pernah surut. Hubungan gelap 'teman tapi mesra' antara tokoh-tokoh bangsa dengan Israel masih terus berlangsung.


(Alwi Shahab)

Yahudi

Menilik sejarah Nabi Muhammad SAW dan bangsa Yahudi sepanjang 20 tahun masa kenabian, dipenuhi catatan bagaimana komunitas yang disebut sebagai bangsa kera itu selalu mendiskreditkan Islam dengan berbagai cara.

Beberapa kali orang-orang Yahudi menghasut suku Aus dan Khazraj yang telah masuk Islam, dengan membangkitkan kembali dendam kesumat di masa Jahiliyah.

Di antara tekanan kaum Yahudi di Madinah adalah berpura-pura masuk Islam. Mereka juga mengada-adakan hal yang ditiadakan dalam Islam. Segolongan lain mencoba memojokkan Islam dengan memperdebatkan, menyebarluaskan prasangka, dan mencoba mengepung Islam dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, "Apa itu Allah? Apa itu Ruh? Jika Allah menciptakan makhluknya, siapkah yang menciptakan Allah?"

Masih banyak pertanyaan tak masuk akal lainnya yang ditujukan guna mengembalikan umat Islam kepada kekufuran. Sewaktu umat Islam berperang melawan Quraisy di Perang Badar, orang-orang Yahudi mendesas-desuskan bahwa Nabi SAW mati terbunuh.

Setelah terbukti umat Islam yang menang, dan banyak tokoh Quraisy yang tewas, sejumlah tokoh Yahudi pergi ke Makkah. Mereka meratapi yang mati sambil menghasut suku-suku bangsa Arab agar memerangi Nabi SAW kembali.

Sesudah Perang Uhud di mana umat Islam kalah, Yahudi mencoba berkonspirasi lagi hendak membunuh Nabi SAW. Saat berada di kampung Bani Nadir guna merundingkan sesuatu, seorang di antara mereka naik ke atas membawa batu kisaran gandum dan hendak dijatuhkan ke kepala Nabi SAW yang tengah bersandar.

Namun, rencana busuk itu keburu diketahui Nabi SAW melalui wahyu yang dibisikkan malaikat. Beliau pun segera berdiri dan meninggalkan tempat itu sebelum makar jahat itu terealisasi. Atas berbagai kejahatan dan tipu muslihat licik tersebut, Nabi SAW pun bertindak tegas terhadap kaum Yahudi. Ultimatum dikeluarkan agar mereka keluar dari Madinah. Hukuman tegas ini dijatuhkan karena bangsa Yahudi telah mengingkari penjanjian nonagresi.

Kini kebencian masyarakat dunia tertuju kembali pada bangsa Yahudi akibat kebiadaban mereka di Lebanon dan Palestina. Sudah banyak rakyat Lebanon dan Palestina yang menjadi korban. Seseorang yang mati membela agama dan perintah-Nya, dia tak kehilangan sesuatu apa pun.

Sebaliknya, kehidupan yang indah namun fana di jalan Tuhan akan digantikan dengan hidup abadi yang lebih indah. Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (QS Ali Imran [3]: 169).


(Alwi Shahab)

Persiapan Pesta Gubernur yang Meriah

Gambar yang dilukis oleh seorang prajurit VOC Johannes Rach (1720-1783), lokasinya bukan di Eropa, seperti yang mungkin diperkirakan orang. Tetapi di Batavia. Tepatnya di Jacatra Road, kini Jalan Pangeran Jayakarta, Jakarta Barat. Rach seorang soldadoe VOC kelahiran Denmark melukis persiapan-persiapan untuk upacara pelantikan gubernur jenderal Petrus Albertus van der Parra pada 29 September 1763. Sekaligus untuk memperingati ulang tahunnya.

Dilaporkan acara ini berlangsung sangat meriah selama sehari penuh dengan menampilkan berbagai atraksi parade dari berbagai kesatuan VOC. Sementara resepsinya yang berlangsung semalam suntuk dihadiri tidak kurang dari 600 tamu terhormat dari berbagai tempat di Batavia.

Pelukis Rach mengambil gambar beberapa hari sebelum resepsi mahamega itu berlangsung. Bagian paling atas dari dekorasi yang dibuat selama berminggu-minggu tampak burung garuda, sedangkan di bawahnya terpancang gambar besar sang Gubernur Jenderal van der Parra setengah badan. Gapura-gapura juga yang menjulang tinggi itu, di kiri kanannya diberi lukisan burung sebagai lambang sang gubernur jenderal.

Ketika resepsi berlangsung 100 buah mortir dilepas ke udara menambah semaraknya suasana pesta. Masa gubernur jenderal van der Parra yang terkenal royal dan sering menghambur-hambur uang, didatangkan anggur dari Eropa. Paling kiri tampak dua tentara pribumi VOC sedang memegang tombak dan sebelah kanannya tentara VOC yang dilengkapi tombak dan tameng.

Sekalipun baru merupakan persiapan, tampak gadis-gadis Eropa yang dipayungi oleh para budak beliannya. Lihatlah pakaian para nyonya Belanda ini, di bagian bawahnya. Seperti kurungan ayam yang banyak kita saksikan dalam film-film Hollywood yang menggambarkan situasi abad ke-18. Di bagian kanan lukisan tampak dua orang tukang cat.

Gubernur Jenderal van der Parra juga memiliki sebuah istana mewah di Weltevreden yang pada awal abad ke-20 dibongkar, untuk kemudian dijadikan hospital (rumah sakit) oleh Belanda. Kini bekas istana itu menjadi Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Masih ada sebuah istna lainnya milik gubernur jenderal ini, yakni Buitenzorg Palace (Istana Bogor). Kala itu, untuk mencapai Istana Bogor dari kawasan kota diperlukan waktu belasan jam dengan kereta yang ditarik sampai delapan ekor kuda.

Sampai 1860, perbudakan dilegalkan di Batavia. Di kota yang dibangun oleh JP Coen ini, di sekitar kawasan Kalibesar terdapat tempat lelang budak. Untuk laki-laki harga budak tergantung kekuatan mereka, sedangkan wanitanya semakin cantik makin mahal harganya. Jumlah budak yang besar itu sangat berarti bagi status sosial seseorang. Semakin banyak memiliki budak semakin bergengsi rumah tangganya.

Kala itu, dalam rumah-rumah besar seperti Arsip Nasional di Jl Gajah Mada, galangan kapal dan gudang-gudang VOC di Pasar Ikan bekerja ribuan budak belian. Tidak heran kalau jumlah budak pernah menjadi mayoritas penduduk Batavia. Seperti tahun 1788, dari 13.700 orang Bali, lebih 90 persen adalah budak belian. Mereka hidup tanpa mendapat perlakuan hukum dan dapat diperlakukan sewenang-wenang, seperti yang kini secara lebih biadab dilakukan Israel dengan dukungan AS terhadap rakyat Lebanon dan Palestina. Di tengah-tengah penghormatan umat manusia terhadap hak asasi manusia (HAM).


(Alwi Shahab)

Salak, Duku dan Emping Condet

Pemda DKI Jakarta ingin mengangkat kembali reputasi kawasan Condet, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, sebagai penghasil buah-buahan terbesar di Jakarta. Pemda DKI telah membebaskan lahan seluas dua hektar untuk cagar buah, yang terletak di kelurahan Batu Ampar. Di antara buah-buahan hasil bumi Condet, buah salak, duku, melinjo, dan kecapi, dikenal masyarakat luas. Bukan hanya di Jakarta, tapi sampai ke daerah Bogor dan sekitarnya, karena rasanya yang lebih manis dibanding buah-buahan daerah lain.

Salak Condet bagitu dikenal di masa lalu, karena rasanya manis dan masir. Jauh lebih manis dibanding salak pondoh dari Yogyakarta. Salak yang kini populer dan paling banyak dipasarkan di Jakarta, belum ada apa-apanya dibandiungkan salak Condet, kata sejumlah warga di Condet, yang dulu memiliki kebun salak di kediamannya. Apalagi kalau dibandingkan salak Bali.

Sayangnya, Condet sebagai penghasil salak terkenal di Jakarta itu kini tinggal kenangan. Sudah hampir tidak ditemui lagi pohon-pohon salak yang tersisa, bila kitas menjelajahi kawasan yang sebagian besar penduduknya warga Betawi itu. Condet kini sudah menjadi 'hutan beton'. Sampai-sampai para penjual buah-buahan di Condet tidak lagi menjual salak dari daerah kelahirannya. Mereka menjual salak pondoh. Salak Condet yang manis mereka tanam dan dapat dipetik setelah tiga tahun. Bertanam salak dilakukan secara naluri dan tak pernah diberi pupuk. Pupuknya hanyalah dari humus daun-daun kering yang jatuh di sekeliling pohon.

Tapi bukan hanya salak yang membuat gubernur Ali Sadikin pada 1975 menetapkan Condet sebagai cagar budaya Betawi yang sayangnya kagak kesampean. Luas daerah Condet terdiri dari tiga kelurahan (Bale Kambang, Batu Ampar dan Kampung Tengah), kurang lebih 632 ha (separuh Monas). Ketika Bang Ali menetapkannya sebagai cagar budaya, tumbuh-tumbuhan keras di sini hidup subur. Masih terdapat kebun-kebun yang boleh dikata tak tembus sinar matahari. Sehingga hari panas bagaimanapun teriknya orang dapat hidup santai, tulis Ran Ramelan dalam buku Condet Cagar Budaya Betawi.

Saat salak jadi primadona di Condet, di kelurahan Bele Kambang 60 persen penduduknya petani salak, 20 persen petani buah-buahan, 10 persen karyawan/buruh dan 10 persen lain-lain. Sedangkan di Batu Ampar 50 persen petani salak dan 20 persen buah-buahan. Di Kampung Tengah 40 persen petani salak dan 20 persen buah-buahan lainnya. Tapi kini, sebagian besar pemuda Condet menjadi pegawai dan tukang ojek, setelah mereka melego tanah dan rumah-rumah mereka.

Tapi, bukan hanya salak yang menjadikan Condet terkenal. Duku Condet tidak kalah manisnya dengan duku Palembang, yang kini juga banyak merajai pasar buah di Jakarta. Masih ada lagi buah-buahan lainnya, seperti sawo dan kecapi yang juga terkenal manisnya. Belum lagi melinjo, yang oleh rakyat Condet dijadikan sebagai emping. Pohon melinjo, menurut para sesepuh di Condet, jumlahnya pernah mencapai ratusan ribu pohon. Tak heran ketika itu industri emping melinjo menjamur.

Dulu banyak penduduk Condet terlibat dalam produksi emping. Terdapat sejumlah home industry. Begitu bergairahnya industri ini berkembang hingga kebutuhan melinjo tidak tercukupi. Sebagian harus didatangkan dari Banten.

Emping Condet terkenal gurih. Lebih gurih dari emping keluaran daerah lainnya. Karena, emping melinjo daerah lain sebelum digecek terlebih dulu melinjonya direbut. Sedangkan di Condet orang tidak merebusnya, melainkan di-nya-nya, yakni digoreng dengan pasir sebelum digecek, sehingga rasanya lebih gurih. Lagi pula emping Condet lebih tipis dari emping keluaran tempat lain. Biasanya warga Condet membikin emping lebar-lebar, digoreng dilipat dua.

Sampai saat ini di Jl Condet Raya masih dapat kita jumpai beberapa pedagang emping. Sedangkan salak dan duku Condet sudah sulit ditemui. Di samping emping, ada satu jenis makanan yang boleh dikata asing ditempat lain dan hanya terdapat di Condet, yakni goreng jengkol yang sangat digemari orang.

Condet, yang sampai awal 1990-an masih berudara nyaman, juga dikenal masyarakatnya pandai dalam membuat dan mengelola berbagai jenis kue. Pada hari raya Idul Fitri, misalnya, kita akan dapat menikmati dodol Condet yang warnanya kecoklat-coklatan, gurih dan manis. Rata-rata rakyat Condet pandai membuat dodol, makanan khas Betawi. Di samping dodol, kueh terkenal dari Condet adalah geplak. Dibuat dari tepung beras dan kelapa yang diparut.

Kue-kue yang juga jadi kebanggan warga Condet adalah wajik yang hampir selalu nongol pada hari-hari lebaran. Masih ada belasan kue lagi yang tiap pagi banyak dijual untuk sarapan, seperti kue care, kueh jongkong, kue bugis, kue pepe, onde-onde, dan kue talam. Pada waktu silam gadis-gadis Condet diharuskan pandai membuat kue. Maklum kala itu kepandaian memasak seorang gadis menjadi salah satu syarat saat dilamar.

Di atas lahan dua ha di Bale Kambang, kini Condet diupayakan untuk menjadi cagar budaya buah-buahan, sekalipun hanya bagian kecil dari yang pernah terdapat di sini ketika Condet belum banyak penghuninya seperti sekarang. Mengutip Ibnu Umar Yunior dalam Fenomena Kramat Jati, menurut para sesepuh Condet, sejak kakek buyut mereka Condet memang sudah dipenuhi berbagai jenis buah-buahan. Sedangkan menurut data 1993, 18 tahun setelah Bang Ali menetapkan Condet sebagai cagar budaya, terdapat 6000 pohon duku dan 200 ribu pohon salak.


(Alwi Shahab)

Gedung Proklamasi yang Diruntuhkan

Rumah dengan pekarangan luas ini adalah kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi) 56, Jakarta Pusat. Bukan di istana seperti banyak diperkirakan orang, tapi di halaman kediaman Presiden RI pertama inilah proklamasi kemerdekaan RI dikumandangkan pada Jumat, 17 Agustus 1945, bertepatan dengan bulan Ramadhan.

Foto ini diabadikan setelah proklamasi, karena pada saat Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan, tugu seperti yang terlihat di halaman muka gedung proklamasi belum dibangun. Tugu ini baru dibangun pada masa Kabinet Syahrir atas inisiatif sejumlah kaum wanita dibawah pimpinan Ny Jos Mandagi. Tugu ini pernah menjadi lambang kartu tanda penduduk (KTP) Jakarta, sebelum dibangun Monas.

Dari rumah kediamannya inilah, Bung Karno dan keluarga serta para pemimpin Indonesia hijrah ke kota perjuangan Jogjakarta pada Januari 1946 untuk menghindari serangan NICA yang datang ke Indonesia dengan membonceng tentara sekutu di bawah pimpinan Inggris. Mereka berangkat dengan kereta api dari stasion Pegangsaan, yang terletak dibelakangh kediaman Bung Karno. Seluruh gerbong kereta api telah digelapkan untuk mengelaburi tentara Belanda (NICA).

Sayang, gedung yang paling bersejarah bagi bangsa Indonesia ini diruntuhkan pada tahun 1960 atas perintah Presiden Sukarno sendiri. Seperti dikemukakan AM Hanafi sebagai Ketua Panitia Angkatan '45 pembongkaran gedung ini untuk kemudian dijadikan Gedung Pola (semacam Bappenas sekarang ini) saat itu banyak ditentang berbagai pihak. "Saya dan kawan-kawan tidak setuju," kata AM Hanafi dalam buku Menteng 31. Gubernur DKI Jakarta, Henk Ngantung dalam memoarnya menyatakan tidak setuju membangun Gedung Pola dengan mengorbankan gedung proklamasi kemerdekaan.''

Ketika gubernur yang juga seniman dan pelukis ini mengutarakan pendapatnya, Bung Karno melontarkan kata-kata : "Apakah kamu juga termasuk yang ingin memamerkan celana kolorku (maksudnya di gedung itu)." Tapi Bung Karno setuju ketika Henk Ngantung menyatakan ingin membuat duplikat dari gedung di Jalan Pegangsaan Timur 56 ini.

Ada yang berpendapat bahwa Bung Karno membongkar tempat yang paling bersejarah ini karena tidak mau diingatkan saat-saat dia dipaksa oleh para pemuda revolusioner untuk memproklamirkan kemerdekaan sebelum 17 Agustus 1945, karena diketahui Jepang kalah perang dengan Sekutu. Di kediamannya ini pulalah, ia bersama Bung Hatta serta Fatmawati serta putranya Guntur yang masih menyusui diculik para pemuda itu ke Rengasdengklok, Karawang.

Pada saat-saat menjelang detik-detik proklamasi terjadi lagi perdebatan antara Bung Karno dengan para pemuda. Para pemuda yang tidak sabar menunggu kedatangan Bung Hatta, mendesaknya : "Sekarang Bung. Sekarang. Para pemuda berteriak." Ketika didesak dr Muwardi, Komandan Barisan Pelopor, Bung Karno dengan tegas mengatakan : "Saya tak mau bacakan teks proklamasi bila Bung Hatta tidak ada. Jika Mas Muwardi tidak mau menunggu silahkan baca sendiri," kata Bung Karno. Tidak lama kemudian datanglah Bung Hatta. Bung Karno pun membacakan proklamasi pukul 10.00 pagi.

(Alwi Shahab)

Meester Cornelis yang Senyap

Foto pertengahan tahun 1930'an menggambarkan situasi di sebuah jalan protokol di Meester Cornelis (kini Jatinegara). Kalau sekarang ini dari Senen ke Jatinegara memerlukan waktu paling cepat satu jam-- apalagi pada jam-jam macet-- kala itu suasana jalan raya di Jalan Bekasi Timur, Jakarta Timur sepi, senyap dan lengang. Seolah-olah kita dapat tidur di jalan ini. Gambar sebelah kanan menunjukkan stasiun kereta api Jatinegara, yang kini dipenuhi para pedagang kaki lima. Foto ini diambil dari arah Klender.

Pada abad ke-19, perkembangan Kota Batavia terjadi sekitar tiga mil ke arah selatan Gambir yang antara lain disebabkan kondisi sanitasi dan banjir yang sering mengenangi Weltevreden sehingga para pejabat senior Hindia Belanda dan keluarganya pindah ke sana. Sampai kini masih kita dapati sejumlah rumah bekas kediaman warga Belanda seperti di Matraman Raya dan Polonia, Jatinegara.

Selain faktor di atas, perkembangan Kota Batavia selama kurun waktu abad ke-19 erat kaitannya dengan pertambahan jumlah penduduk. Akibat migrasi orang Cina, Eropa dan pribumi. Juga orang-orang Arab yang banyak berdatangan di abad ke-19 dan awal abad ke-20 dari Hadramaut banyak yang tinggal di Jatinegara. Dengan adanya nama-nama seperti Gang Awab, Gang Yahya, Gang Abud, kesemuanya nama jamaah yang pernah tinggal di sini.

Sampai kini banyak orang-orang tua Betawi yang menyebut Jatinegara Meester. Meester adalah sebutan nama depan untuk seorang guru bernama Cornelis Senen. Guru dan juga pendeta dari Kepulauan Aru di Maluku inilah yang membuka kawasan Jatinegara pada abad ke-17. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda sampai awal abad ke-20, Batavia merupakan keresidenan yang dikepalai seorang residen. Yang secara administratif di bagi dalam afdeling-afdeling yang dipimpin seorang asisten residen. Kala itu Meester Cornelis dalam afdeling yang terpisah dari Batavia. Baru disatukan 1908 ketika dibentuk geemente (kotapraja), dipimpinan seorang wali kota (burgermeester). Geementer Meester Cornelis bersamaan dengan dibentuknya geemente Batavia. Mulai 11 Januari 1936 geemente Meester Cornelis disatukan dengan geementer Batavia.

Batavia telah memiliki jalur kereta api (KA) sejak 1871. Sebelumnya (1869) trem kuda mulai diperkenalkan di Jakarta. Pada 1881 digantikan dengan trem uap dan kemudian trem listrik sampai 1960 yang beroperasi hampir disegenap penjuru Ibu Kota dari Mester-Pasar Ikan, Pasar Ikan- Tanah Abang, Senen-Tanah Abang dan berbagai tempat lainnya.

Pada 1957 sebelum dihapuskan pada 1960, pengelolaan trem dan angkutan darat dibawah manajemen PPD. Setelah dinasionalisasi PPD rugi terus dan terjadi korupsi besar-besaran terutama angkutan bus kota. Ketika masih dikelola oleh Belanda tidak terdengar terjadinya korupsi, apalagi sampai gaji ribuannya pegawainya selama delapan bulan ditunggak, dan baru dibayar beberapa waktu lalu. Sesuatu yang sangat menyedihkan.

(Alwi Shahab)

Asal Usul Nama Tempat di Jakarta

Setelah dilakukan penelitian, penyebutan nama tempat dan nama kampung yang ada di Jakarta tidak sekadar asal nama. Hampir semua nama tempay dan kampung yang dikaji ternyata mempunyai riwayat sendiri-sendiri, seperti peristiwa sejarah yang pernah terjadi. Ada juga nama kampung atau tempat yang dikaitkan dengan vegetasi atau tumbuh-tumbuhan yang banyak ditemukan. Juga ada nama tempat atau kampung yang dikaitkan dengan seorang tokoh yang pernah tinggal di tempat itu.

Baiklah kita mulai dengan kawasan Ancol di Jakarta Utara, yang kini menjadi tempat rekreasi paling terkenal di tanah air. Ancol mengandung arti tanah rendah berpaya-paya. Dahulu, bila laut sedang pasang, air payau kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya sehingga terasa asin. Wajarlah bila Belanda zaman VOC menyebut kawasan tersebut Zoutelande (tanah asin). Sebutan yang juga diberikan untuk kubu pertahanan yang dibangun di situ pada 1656.

Dari Ancol kita ke Angke, Jakarta Barat. Di sini kita menemukan masjid tua yang berusia hampir 300 tahun (dibangun pada 1714), yakni Masjid Al-Anwar. Kata Angke berasal dari bahasa Cina, ang, yang berarti darah, dan ke, yang artinya bangkai. Nama ini terkait peristiwa sejarah tahun 1740 ketika terjadi pemberontakan orang Cina di Batavia. Ribuan warga Cina yang dibantai Belanda mayatnya dihanyutkan ke kali, yang kemudian menjadi kali dan kampung Angke. Sebelumnya, kampung itu bernama Kampung Bebek. Karena, orang Cina yang tinggal di situ senang beternak bebek.

Sekarang kampung Gambir tinggal kenangan saja. Yang ada nama kelurahan dan stasioon Gambir. Kata Gambir sudah dikenal sejak Gubernur Jenderal Daendels mulai membuka daerah itu pada 1810. Kata ini mengacu pada sebutan masyarakat setempat yang melihat banyaknya pohon gambir yang tumbuh di kawasan tersebut. Sebelum dikembangkan oleh Daendels sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda yang dinamakan Weltevreden, kawasan itu masih merupakan daerah rawa-rawa dan padang ilalang. Pada abad ke-17 oleh pemiliknya, Anthony Paviljoen, daerah itu disewakan pada masyarakat Cina sebagai lahan pertanian tebu, sayur-sayuran dan persawahan.

Di daerah yang kini dikenal sebagai Lapangan Monas pernah tiap tahun diselenggarakan Pasar Gambir untuk memperingati HUT Ratu Wilhelmina, nenek Ratu Beatrix sekarang ini. Keramaian itu, kemudian, oleh Gubernur Ali Sadikin dilanjutkan dengan Jakarta Fair (Pekan Raya Jakarta) guna memperingati HUT Kota Jakarta.

Tidak jauh dari Gambir terdapat kampung Gondangdia yang kini berada di daerah pemukiman elit Menteng, Jakarta Pusat. Nama Gondangdia cukup dikenal di kalangan masyarakat awam di Jakarta karena sering disebut dalam lagu Betawi: Cikini si gondangdia, saya disini karena dia.

Ada beberapa versi nama kampung Gondangdia. Berasal dari nama pohon gondang (sejenis pohon beringin). Berasal dari nama binatang air sejenis keong gondang, yang artinya keong besar. Juga berasal dari nama seorang kakek yang terkenal dan disegani masyarakat sekitar kampung. Kakek ini punya nama kondang dan sering dipanggil 'kyai kondang'. Nama tempat itu pun disebut gondangdia (kakek yang tersohor).

Dari Jakarta Pusat kita ke Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Di sini terdapat kawasan Kebantenan, karena sejak 1685 dijadikan salah satu tempat pemukiman orang-oroang Banten di bawah pimpinan Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Agung Tirtayasa. Tentang keberadaan orang Bantgen di kawasan tersebut, kisahnya dimulai, setelah Sultan Haji mendapatkan bantuan Kompeni. Akibatnya Sultan Agung Tirtayasa terdesak, sampai terpaksa meninggalkan Banten, bersama keluarga dan abdi-abdinya yang masih setia kepadanya. Mereka berpencar, tetapi kemudian terpaksa menyerahkan diri: Sultan Ageng di sekitar Ciampea, Pangeran Purbaya di Cikalong kepada Letnan Untung (Untung Surapati). Di Batavia awalnya mereka ditempatkan di dalam lingkungan benteng. Kemudian, Pangeran Purbaya beserta keluarga dan abdi-abdinya diberi pemukiman di Kebantenan, Jatinegara, Condet, Citreureup, Ciluwer, dan Cikalong.

Selain Kebantenan di Jakarta Utara, ada pula Kebantenan yang terletak antara Cikeas dengan Kali Sunter, sebelah tenggara Jatinegara, atau sebelah baratdaya Kota Bekasi. Di salah satu rumah tempat kediaman Pangeran Purbaya yang berada di baratdaya Bekasi itu ditemukan lima buah prasasti berhuruf Sunda kuno, peninggalan kerajaan Sunda, yang ternyata dapat sedikit membuka tabir kegelapan sejarah Jawa Barat.

Dari Kebantenan Jakarta Utara, kita menuju ke Kampung Ambon di Rawamangun, Jakarta Timur. Nama ini sudah ada sejak 1619. Pada waktu itu Gubernur Jenderal JP Coen menghadapi persaingan dagang dengan Inggris. Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon mencari bantuan dengan menambah pasukan dari masyarakat Ambon. Pasukan Ambon yang dibawa Coen kemudian ditempatkan di Batavia, yang kini menjadi Kampung Ambon.

Pada awal berdirinya VOC, Belanda menempatkan masyarakat untuk tinggal di kampung-kampung dengan nama etnis mereka. Karena itu, di Jakarta banyak nama tempat mengacu pada etnis, seperti Kampung Melayu, Kampung Bali, Kampung Banda(n), Kampung Bugis, dan Kampung Makassar. Di masing-masing kampung itu Belanda menempatkan kapiten, yang dipilih dari tokoh masyarakat yang disegani dari tiap etnis.

(Alwi Shahab)