Tuesday, March 21, 2006

Bung Karno Mengganyang You Can See

Ganyang (mengganyang), menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti memakan mentah-mentah, memakan begitu saja, menghancurkan, mengikis habis dan mengalahkan lawan (dalam pertandingan).

Pada masa pemerintahan Presiden Sukarno kata tersebut banyak dipakai. Ketika konfrontasi dengan Malaysia misalnya, tidak terhitung banyaknya demo meneriakkan 'ganyang Malaysia'. Demikian juga saat-saat meruncingnya hubungan Indonesia dengan negara-negara Barat, muncul 'Ganyang nekolim' (neo-kolonialisme, kolonialisme dan imperialisme).

Dalam pidato kenegaraan 17 Agustus 1964, Bung Karno memberikan judul pidatonya Tahun Vivere Pericoloso (Tavip). Ia menginstruksikan seluruh rakyat untuk melaksanakan Tri Sakti Tavip. Yakni, berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan. Dalam masalah yang terakhir ini, Bung Karno menentang keras apa yang disebutnya 'musik ngak ngik ngok', literatur picisan, dan dansa-dansi gila-gilaan. Menurut Bung Karno kaum imperialis ingin merusak moral bangsa Indonesia melalui penetrasi kebudayaan.

Dalam soal kepribadian, Bung Karno juga menginginkan agar dalam berpakaian pun mencerminkan kepribadian Indonesia. Tidak heran kalau pakaian you can see, yang memperlihatkan ketiak, juga menjadi sasaran tembak. ''Ganyang you can see,'' teriakan yang sering terdengar bila melihat orang berpakaian demikian.

'Pengganyangan' itu tidak hanya terjadi di Jakarta. Saya pernah mengikuti Menteri Negara Oei Tjoe Tat, pada pertengahan 1960-an, ke Kalimantan Barat. Dari sebuah losmen, sejumlah anak muda meneriakkan ''ganyang you can see'' kepada seorang wanita yang berpakaian demikian. Terlihat bagaimana merah padamnya muka wanita tersebut menahan malu. Ia cepat-cepat menghindar dari kerumunan massa yang berteriak-teriak itu.

Dalam kaitan dengan you can see itu, perusahaan kosmetik Rexona punya iklan yang disebut Ketty Dance, yakni tarian sejumlah perempuan dengan memperlihatkan ketiaknya. Bukan rahasia lagi, para pembawa acara di televisi bukan hanya berwajah cantik, tapi kebanyakan juga mesti berpenampilan berani. Demikian pula para penari latar dan penyanyi, merasa kurang afdhol kalau tidak menggoyang-goyangkan pinggulnya.

Menurut Munif Bahasuan (71 tahun), yang lebih 50 tahun berkecimpung di dunia dangdut, ketika dangdut masih bernama Orkes Melayu mereka tampil sangat sopan. Penyanyi wanitanya berpakaian kebaya, sedangkan prianya memakai teluk belanga. Ada foto yang sering disiarkan ketika Bung Karno bertari lenso dengan putrinya, Megawati Sukarnoputri. Megawati menggunakan baju kebaya dan kain batik, busana wanita yang dominan saat itu.

Masih menurut Munif, dahulu yang disebut goyang pinggul tidak ada. Kalau sekarang tidak terhitung banyak jenisnya. Ada goyang ngebor, goyang ngecor, goyang patah-patah, goyang kayang dan entah apa lagi namanya. Tidak heran kalau RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) disahkan mereka tidak setuju. Bagi televisi pertunjukan semacam itu bukan saja dimaksudkan untuk mengejar rating, tidak peduli dengan mengeksplorasi sensualitas. Padahal ketika Bung Karno melarang you can see tidak ada masalah di masyarakat.

Dalam kaitan dengan RUU APP, saya ingin sedikit mengutip pengamatan Moammar Emka, penulis buku Jakarta Undercover dan pemerhati kehidupan malam, ketika beberapa waktu bersama saya jadi pembicara dalam 'Program Persiapan Calon Pemimpin DPW PKS DKI Jakarta.

Jakarta sebagai kota metropolitan (dan kota-kota besar lainnya), tak lepas dari kehidupan malamnya. Ratusan tempat hiburan malam berlomba-lomba membuka pintu lebar-lelbar dengan aneka menu spesial menggoda, dari kafe, bar, pub, diskotek, karaoke sampai klub. Nafas kehidupan malam itu, pada akhirnya juga menghembuskan bau lain yang tak sedap karena dalam prakteknya tak semua tempat hiburan beroperasi sebagaimana mestinya.

Diskotek kini tak hanya sebagai ajang berdisko semata, tapi juga sebagai ajang untuk meneguk kenikmatan 'surga ekstasi dan seks'. Karaoke tak lagi sebagai tempat rileksasi ditemani ladies-escort, tapi juga sebagai prive room untuk mendapat layanan spesial dari penari striptis, seks shashimi sampai kencam one short time.

Kalau dilihat dari kaca mata industri, kata Moammar Emka, Jakarta tak ubahnya seperti sebuah medan yang tiap hari, bahkan tiap jam, selalu berdenyut oleh banyaknya transaksi seksual. Saking banyaknya industri seks yang ada di Jakarta, saya sampai berani membuat satu kesimpulan bahwa Jakarta sudah menjadi medan sex show supermarket. Bagaimana tidak? Jumlah tempat pijat, sauna, karaoke dan hotel yang menyediakan pelayanan sensual, jumlahnya tak kalah banyak dengan supermarket.

Kita tidak ingin dekadensi moral yang sudah merusak kepribadian bangsa terus meningkat tanpa kendali. Karena itu, memang diperlukan perangkat UU yang mengatur pornografi dan pornoaksi.

(Alwi Shahab )

Kenangan Masa Kecil di Batutulis

Berbelok kearah kiri setelah melewati Jl Juanda, Jakarta Pusat, kita memasuki Jalan Pecenongan. Gedung paling ujung yang terletak antara Jl Juanda dan Pecenongan terdapat kantor PT Astra. Gedung yang cukup besar dan terletak di hook ini dulunya toko buku dan percetakan Van Dorp, milik Belanda.

Boleh dikata, Van Dorp toko buku terbesar dan terlengkap di Jakarta kala itu. Gunung Agung dan Gramedia belum muncul. Seperti juga berbagai perusahaan milik Belanda, toko buku itu 'diambil alih' pertengahan 1950-an akibat sengketa Irian Barat (Papua). Di kiri Jalan Pecenongan, dulu terdapat Gang Bongkok. Gang buntu yang dihuni warga Betawi. Mereka banyak yang berprofesi sebagai tukang penatu. Baju dan pakaian mereka cuci di Kali Ciliwung yang jaraknya tidak lebih dari seratus meter. Masih di Jalan Pecenongan, di sebelah kiri jalan menuju arah Sawah Besar terdapat Gang Abu.

Saya punya cukup banyak pengalaman ketika masa kanak-kanak tinggal di kampung ini. Seperti juga Gang Abu, banyak jalan yang sudah menghilang. Ada yang karena diganti namanya, banyak juga yang tergusur menjadi pertokoan dan pencakar langit. Semua lorong atau jalan di sini menjadi Jalan Batutulis I sampai XX.

Di Gang Abu dulu banyak berdiam keturunan Arab berdampingan dengan warga Betawi. Seperti almarhum M Asad Shahab, pendiri kantor berita Arabian Press Board (APB), pada tahun 1940 sampai 1950 tinggal di Gang Panjang (kini Jalan Batutulis I). Ketika revolusi fisik, APB berjasa besar menyiarkan proklamasi kemerdekaan ke negara-negara Arab, sehingga Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Di Gang Panjang terdapat sasana tinju, yang pada 1950-an dan 60-an menghasilkan banyak petinju terkenal seperti Bobby Nyoo dan Jacky Nyoo.

Di Gang Lebar (kini Jalan Batutulis XIII), kala itu terdapat rumah kediaman KHM Syafi'i Alkhadzami, yang kini mengajar dan membuka majelis taklim di belasan tempat. Ia pernah menjadi ketua MUI DKI Jakarta (1985-1990). Dalam usia 9 tahun dia telah khatam Alquran seperti juga banyak dilakukan anak Betawi kala itu. Kiai ini pernah mengajar di Masjid Gang Abu, berseberangan dengan rumah Habib Husein Alaydrus, cicit pendiri masjid Luar Batang, Pasar Ikan.

Di Jalan Pecenongan dulu terdapat toko buku dan penerbit G Kolff & Co. Kolff merupakan toko buku dan percetakan pertama di Jakarta, berdiri pada 1848. Pendirinya seorang Belanda bernama Johannes Cornelis Kolff. Mula-mula berkantor di Buiten Nieuwpoort (kini Pintu Besar Selatan). Kolff juga aktif di bidang pers. Dialah yang menyeponsori surat kabar terkemuka di Indonesia: Java Bode. Kantor Kolff di Pecenongan, sekarang menjadi Hotel Red Topp. Di sini juga terdapat Hotel Imperium, disamping perkantoran, restoran, dan showroom beberapa perusahaan mobil besar. Boleh dikata kini sudah tidak ada lagi rumah tinggal di Pecenongan.

Hal yang sama juga kami dapati di Jalan Batutulis, yang terletak di sebelah kirinya. Di sinilah Wakil Gubernur DKI Fauzi Bowo pernah tinggal semasa anak-anak. Dia tinggal bersama kakeknya, H Abdul Manaf, yang pada masa itu menjadi salah seorang tokoh NU. Kesetiannya pada NU ditularkan pada puteranya, H Syah Manaf. Seperti juga kakek dan pamannya, Ir Fauzi Bowo mengikuti jejak mereka menjadi ketua NU Jakarta Raya. Bersebelahan dengan kediaman kakeknya, terdapat rumah SMR Shahab. Dia adalah importir film-film Mesir dan pengelola bioskop Alhambra, di Sawah Besar. Bioskop ini khusus memutar film-film Mesir, sebelum tersaingi film India. Di depan bioskop terdapat Pasar Ciplak, tempat para seniman sering berkumpul.

Di Jalan Batutulis terdapat kluster tempat mendidik calon biarawati Katolik. Tempat ini terbentang dari Jalan Juanda hingga Jalan Batutulis, yang panjangnya lebih dari 500 meter. Pada masa VOC (1602-1799) agama Katolik dilarang berkembang di seluruh daerah kompeni. Baru pada 1806, ketika Louis Bonaparte menjadi Raja Belanda, agama Katolik boleh berkembang. Louis adalah adik Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte, yang berhasil menaklukkan Belanda. Pihak Prancis menyatakan memberikan perlindungan yang sama terhadap semua agama. Pada 8 Mai dicapailah kesepakatan antara Raja Louis Bonaparte dan Vatikan, hingga agama Katolik dibolehkan berkembang di Nusantara.

Penduduk Tugu, Jakarta Utara, yang beragama Protestan, dulunya Katolik. Mereka diberikan tempat tersebut setelah mengganti agamanya jadi Protestan. Di Depok, bekas keturunan budak telah dibebaskan oleh Chastelein, setelah mereka masuk Protestan. Berbelok ke kiri dari Jalan Batutulis, terdapat Jalan Juanda III. Dulu bernama Gang Thieubalt (Gang Tibo, kata orang Betawi). Jalan yang kini hanya dihuni perkantorn, rumah makan, dan berbagai tempat bisnis lainnya, mengabadikan seorang Belanda, Alfred Thiebault. Memulai karir sebagai guru, ia kemudian menjadi pengelola klub hiburan militer Concordia di Lapangan Banteng (kini menyatu dengan Depkeu). Kemudian jadi pengelola Klub Hiburan elit Belanda, Harmonie. Kini bagian dari gedung Setneg.

Di Gang Thiebault terdapat toko roti Bogerien, yang kesohor di Jakarta sampai 1950-an. Di sini juga terdapat rumah makan Italia Chez Morio yang banyak didatangi anak-anak muda. Di dekatnya terdapat Masjid Kebon Kelapa. Di masjid ini, sejak 1940-an dikembangkan ajaran tarekat oleh KH Abdul Fatah. Di dekatnya terdapat Brendesch Laan (kini Jalan Batuceper). Kemudian Gang Bedeng. Bedeng berasal dari nama pengusaha es warga Belanda: Buddungh. Di Gang Bedeng tinggal seorang ahli fikih kenamaan, almarhum Habib Abdullah Shami Alatas. Banyak ulama Betawi yang berguru kepadanya. Di kawasan ini sekarang hampir tidak terdapat lagi perumahan. Rupanya Jakarta berkembang terlalu cepat, sehingga di kanan-kiri jalan-jalan raya sudah hampir tidak tersisa lagi rumah-rumah tinggal.

(Alwi Shahab )

De Javasche Bank dan ''Gunting Sjafruddin''

Ketika terjadi Perang Diponegoro (1825-1830), pihak Belanda jadi kewalahan. Bukan saja perang yang dikobarkan seorang pangeran keraton Yogyakarta ini menelan banyak korban, tetapi kerugian keuangan yang amat besar di pihak Belanda. Kerugian diperkirakan 20 juta gulden, jumlah yang amat besar kala itu. Untuk itu Belanda meminjam ke sana-ke mari, termasuk utang dari luar negeri.

Untuk itu diperlukan lembaga perbankan. Dan dibangunnya De Javasche Bank pada 21 Januari 1828 di kota tua Batavia. Tepatnya di Jalan Pintu Besar Selatan, berhadapan dengan stasiun kereta api Beos (Jakarta Kota). Gedung yang hingga saat ini masih berdiri megah pada 1913 diperluas dan direnovasi. Lantainya dari granit yang didatangkan dari Bavaria (Jerman), kaca-kaca jendela aneka warna dari Delft dan gentengnya dari Belanda. Sebelumnya, tempat ini merupakan rumah sakit militer, ketika sebagian besar warga Eropa masih tinggal di kota lama (Sunda Kelapa-Pasar Ikan).

Tanpa dukungan cadangan emas, De Javasche Bank mengeluarkan uang kertas dan meminta masyarakat menukarkan uang emasnya. Kala itu, masyarakat umumnya tidak percaya pada bank. Mereka lebih suka menyimpan uang di bantal. Kini, masyarakat sudah bank minded dan bank beroperasi sampai ke desa-desa terpencil. Tidak terhitung banyaknya ATM merebak di berbagai tempat, sebagai bagian dari persaingan antar bank. Tapi, sejarah juga mencatat banyaknya kasus perbankan, terutama sejak deregulasi perbankan 1990-an. Dan kini, makin diperparah dengan kredit macet yang jumlahnya triliunan perak.

Pada tahun 1953, De Javasche Bank dinasionalisasi oleh Bank Indonesia. Karena sebagai negara merdeka harus memiliki bank sentral sendiri. Sampai 1980-an, kantor pusat BI masih di bekas gedung De Javasche Bank, untuk kemudian pindah ke Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Sedangkan gedung lama dijadikan sebagai kegiatan Litbang BI. Ketika Sjafruddin Prawiranegara menjabat Menteri Keuangan, pada 1950 di bebarapa daerah masih beredar uang ORI dengan sebutan 'uang putih', bersama uang NICA yang disebut 'uang merah'. Ia pun memerintahkan agar seluruh 'uang merah' dan uang De Javasche Bank yang bernilai lima rupiah ke atas digunting jadi dua bagian. Potongan bagian kanan tidak berlaku, sedang bagian kiri dengan nilai setengah (50 persen). Upaya yang dilakukan Syafruddin waktu itu terkenal dengan nama ''gunting Sjafruddin''.

Peristiwa lebih setengah abad lalu itu, dampaknuya sangat luas bagi masyarakat saat itu. Sanering ini baru diketahui secara luas pada sore hari setelah sebelumnya diumumkan melalui radio -- waktu masih sedikit pemilik radio -- Mereka yang mendengar siaran radio dan dari mulut ke mulut berbondong-bondong menyerbu toko dan pedagang. Membeli apa saja tanpa tawar menawar. Di Pasar Senen banyak pemilik toko terkecoh ketika dagangannya hampir ludes baru mengetahui nilai uang tinggal separuh. Banyak orang yang stress. Apalagi mereka yang baru saja menjual barang berharga. Banyak transaksi yang menjadi gagal dan batal. Tapi, dengan cara itu Sjafruddin mengurangi jumlah uang beredar, dan mengendalikan inflasi.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Asem Reges

Pasar Asem Reges terletak di kawasan Sawah Besar atau Sao Besar kata orang Betawi. Untuk mencapai pasar yang telah berusia lebih satu abad ini, dari Jl Pecenongan kita menuju Jl Taman Sari (Jakarta Barat). Asem Reges kini terkenal sebagai salah satu pusat perdagangan suku cadang kendaraan bermotor di Ibukota.

Dulu pasar itu merupakan pusat perdagangan sepeda. Maklum sampai 1950-an sepeda merupakan salah satu alat transportasi utama di Jakarta. Para pegawai, dan terutama para murid dan mahasiswa, saat sekolah dan kuliah memakai sepeda. Termasuk nonton bioskop dan pergi ke tempat hiburan dengan pacar. Di tempat-tempat ini terdapat tempat penitipan sepeda.

Jl Asem Reges ketika saya datangi awal minggu ini sudah berubah jadi Jl Taman Sari Raya. Dulu Asem Reges jadi nama jalan tersendiri, untuk kemudian menyambung dengan Jl Taman Sari. Ini merupakan peggantian yang kedua kali. Karena pada masa Belanda Jl Asem Reges bernama Droossaerweg. Seperti juga Sawah Besar -- jalan utama di sebelahnya -- kini jadi Jl Sukarjo Wiryopranoto dan KH Samanhudi. Sekalipun demikian nama Sawah Besar tetap lebih populer sampai saat ini.

Dulu, di Asem Reges terdapat pabrik limun terkenal 'Lourdes'. Kala itu, Coca Cola, Pepsi, dan Fanta, belum ada. Pabrik ini memproduksi air Belanda yang kemudian terkenal dengan air soda.

Di belakang pasar Asem Reges terdapat jalan yang hanya bisa dilewati satu mobil. Yakni, Gang Wedana (kini Jl Taman Sari II), Gang Arab (Jl Taman Sari IC), Gang Alfu (Taman Sari III), dan Gang Maphar (Jl Taman Sari IV). Sampai tahun 1960-an, banyak sekali keturunan Arab yang tinggal di kawasan ini.

Nama Jl Wedana menunjukkan bahwa di jalan itu pernah tinggal seorang wedana. Dan, sang wedana itu tidak lain Thamrin Moehammad Thabri, ayah pahlawan nasional asal Betawi, Mohammad Hoesni Thamrin. Thamrin Moehamad Thabri, seperti diuraikan cucunya H Nuh Thamrin dan keponakan Hoesni Thamrin, tinggal dibagian ujung Gang Wedana. Di rumah inilah, keluarga Thabri tinggal termasuk Hoesni Thamrin dan adiknya, Abdillah Thamrin.

Rumah tempat Thamrin dibesarkan itu kemudian menjadi Rumah Bersalin Sawah Besar, dan kini menjadi pertokoan. Ia diangkat jadi wedana tahun 1908 -- jabatan paling tinggi nomor dua untuk golongan bumiputera. Karena itulah, putera-puteranya dapat menikmati sekolah Belanda. Termasuk sekolah di Broeder dan KW Drie (kini Gedung Arsip Nasional di Salemba). KW Drie merupakan sekolah bergengsi pada masa itu, tidak sembarang bumiputera boleh sekolah di sana.

Di Gang Wedana, pada 1917, Thamrin Moehammad Thabri sebagai seorang yang telah menunaikan rukum Islam kelima, dan dididik dari keluarga taat beragama, mendirikan sebuah masjid yang diberi nama An-Nur. Masjid ini dibangun setelah ia pensiun pada 1911.

Kini masjid yang dulunya mushola itu sudah menyatu di antara Gang Arab dan Gang Wedana. Masjid berlantai dua ini dapat menampung 1500 jamaah. Sementara adik M Hoesni Thamrin, Abdillah Thamrin, setelah bermukim selama selama 11 tahun di Mekah, diminta oleh ayahnya untuk mendampinginya mengelola masjid. Kini, masjid cukup besar yang letaknya berdekatan dengan warga Betawi yang masih tersisa itu ditangani oleh H Nuh Thamrin, putra Abdillah Thamrin. Luasnya 1200 meter persegi.

Banyak sekali kegiatan di masjid yang dibangun dan dikelola keluarga pahlawan nasional Hoesni Thamrin itu. Hoesni Thamrin selama masa remaja telah ditempa semangat nasionalis. Ia sering melihat ayahnya menerima tokoh Sayarikat Islam (SI) HOS Tjokroaminoto. Pahhlawan Nasional Mohammad Hoesni Thamrin dilahirkan 16 Pebruari 1894 atau tiga tahun lebih tua dari Bung Karno, kawan seperjuangannya. Tempat kelahirannya di kawasan Sawah Besar, yang kini hiruk pikuk selama 24 jam, kala itu masih terletak di pinggiran kota Batavia.

Pada masa itu, selama seperempat abad, Batavia telah ikut menjalin perkembangan teknologi dunia. Pada 1869 Terusan Suez dibuka hingga mempercepat hubungan dari Eropa ke Asia, termasuk Indonesia. Telepon kabel telah diperkenalkan di Betawi yang menghubungkan dengan daerah-daerah lain, di samping beroperasinya kapal-kapal uap menggantikan kapal layar. Demikian pula jaringan listrik dan gas dengan dibukanya pabrik gas di Jl Ketapang, dekat Sawah Besar. Jl Ketapang, yang kini diubah jadi Jl KH Zainul Arifin -- yang merupakan kampung kelahiran ibu Hoesni Thamrin, Nurhamah -- terletak di sebelah selatan pabrik gas.

Sementara pelabuhan Tanjung Priok yang menggantikan Sunda Kelapa telah mampu melayani kapal-kapal samudera 8 tahun sebelum kelahiran Husni Thamrin. Akibat mudah dan singkatnya pelayaran dari Eropa ke Batavia, tidak heran pada saat itu mulai banyak berdatangan warga Belanda totok. Penduduk Eropa di Batavia pada 1860-1870 meningkat dari 5.000 menjadi 49.000. Sepuluh tahun kemudian menjadi 60 ribu (Bob Hering dalam buku Mohammad Hoesni Thamrin).

Di Jalan Sawah Besar No 32, tempat tinggal Hoesni Thamrin setelah berkeluarga, ia menghembuskan napas terakhirnuya, setelah beberapa hari sebelumnya kediamannya diperiksa oleh reserse PID. Kediamannya itu kini menjadi ruko yang menjual suku cabang bernama Sumatek. Meninggalnya Thamrin dengan cepat menyebar ke seantero kota. Saat pemakaman Ahad (12/1-1941) keesokan harinya, puluhan ribu warga Betawi berbondong-bondong memberikan penghormatan terakhir kepada pahlawan Betawi yang selalu membela rakyat kecil itu.

Menurut Hering, yang menyaksikan prosesi pemakaman tidak kurang 20 ribu sampai 30 ribu rakyat. Mereka memberikan penghormatan ketika kereta jenazah melewati Sawah Besar, Harmoni hinngga TPU Karet. Di antara para ulama yang mengantar termasuk Habib Ali Kwitang, yang membacakan talkin. Tempat pahlawan nasional ini menghembuskan nafas terakhir, sebelum jadi ruko dan pertokoan, pernah menjadi Percetakan Siliwangi, milik Pak Kartasasmita, ayah mantan menteri pertambangan Ginanjar Kartasasmita.

(Alwi Shahab )

Stasiun Beos dan Roh Jahat

Foto stasiun Beos (Jakarta Kota) diambil saat menjelang diresmikan pada 8 Oktober 1929 atau 76 tahun lalu. Tapi 56 tahun sebelum stasiun ini dibangun, jalan kereta api pertama di Pulau Jawa : dari Batavia ke Buitenzorg (Bogor) dimulai 1873. Untuk kemudian diikuti dari Jakarta ke Bandung, kemudian ke Yogyakarta (arah selaltan). Kemudian berkembang Jakarta - Cirebon - Semarang dan Surabaya. Juga Tanjung Priok menuju Merak, dan para penumpang yang ingin ke Sumatera disediakan kapal laut.

Nama Beos berasal dari kata BOS, singkatan dari Bataviasezhe Oosterspoorweg Maatschappij nama perusahaan kereta api di masa kolonial. Entah kenapa, kata BOS oleh lidah Betawi kemudian menjadi Beos hingga saat ini. Pada 1887 BOS sudah menambah jalur kereta api ke Bekasi, sepanjang sisi timur kota Batavia melalui Kemayoran, Pasar Senen dan Meester Cornelis (Jatinegara). Ketika stasion Beos mulai dibangun (1927-1928), ia merupakan stasion utama dengan 12 jalur.

Dalam gambar terlihat rel trem listrik, yang mulai beroperasi di Batavia pada tahun 1920'an. Sebelumnya, untuk lalu lintas kota muncul trem berkuda. Satu gerbong berisi 40 - 50 penumpang ditarik oleh empat ekor kuda dari Jatinegara - Jakarta Kota. Harian 'Java Bode' -- koran utama berbahasa Belanda kala itu -- melaporkan, beberapa kali terjadi kuda-kuda ada yang mati kelelahan. Yang juga memusingkan pihak geemente (balai kota) binatang ini membuat kotor jalan raya. Namanya juga binatang buang air besar dan kencing ditengah jalan. Untungnya 12 tahun kemudian (1881) di Batavia muncul trem uap dengan bahan bakar batubara sehingga asapnya sedikit menimbulkan polusi. Menjelang penggantian abad ke-19 ke abad 20 (1899), muncul trem listrik yang beroperasi hampir disegenap penjuru kota. Trem listrik tergusur awal 1960-an saat walikota Jakarta Sudiro. Bung Karno tidak setuju trem dipertahankan di Jakarta. Dia lebih setuju dengan kereta api bawah tanah (metro), yang hingga kini tidak kunjung dibangun.

Ketika stasiun Beos diresmikan diadakan selamatan untuk mengusir roh jahat, berupa dikuburnya dua kepala kerbau. Satu kepala kerbau dileletakkan dijalan masuk (di dasar jam dinding) dan lainnya di belakang stasion baru. Karena stasion Beos, pengganti stasion lama yang terletak di depan gedung balaikota lama (kini Museum Sejarah DKI Jakarta Jl Fatahillah). Selamatan untuk mengusir roh jahat dengan menanam kepala kerbau merupakan hal lazim ketika itu (mungkin masah ada sekarang). Kalau tidak -- menurut kepercayaan -- gedung atau jembatan yang dibangun minta tumbal berupa manusia yang akan jadi korbannya.

Stasion Beos yang pembangunannya memerlukan waktu satu tahun, diarsiteki Ir FJL Ghijsels, warga Belanda kelahiran Tulung Agunjg (Jatim) 1882. Arsitek lulusan Delf ini juga membangun berbagai gedung di Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang dan Makassar. Yang hingga kini masih kita dapati, termasuk gedung Direktorat Jenderal Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur dan gedung Bappenas di Jl Surapati, Jakarta Pusat.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Jalan Pecenongan dan Krekot

Memasuki Jl Pecenongan, Jakarta Pusat, dari arah Jl Batuceper (di masa Belanda: Brendesch Laan), awal pekan lalu, saya teringat pada Eddy Tansil, megakoruptor yang buron dan menghilang sembilan tahun lalu. Di Pecenongan inilah Eddy memulai usahanya jual beli motor kecil-kecilan, ketika datang dari Makassar.

Dengan cepat usaha Eddy berkembang pesat berkat kedekatannya dengan pejabat kala itu. Ia kemudian dipenjara di LP Cipinang karena dituduh sebagai pembobol Bapindo sebesar Rp 1,3 trilyun. Hanya beberapa saat mendekam di LP Cipinang -- dengan berbagai fasilitas yang hanya di dapat orang berduit -- ia pun kabur setelah menyogok sejumlah petugas LP dengan alasan ingin ke rumah sakit. Mula-mula ia melarikan diri ke Singapura, seperti juga yang dilakukan para pencoleng uang negara lainnya. Dari Singapura, Eddy meneruskan pelariannya entah kemana. Dan tampaknya, pemburuan terhadap Eddy Tansil sudah berakhir. Mungkin kini ia merasa aman setelah mengantongi doku bejibun.

Sejumlah konglomerat yang juga melarikan diri dengan membawa kabur uang ratusan trilyun rupiah mengalami nasib sama seperti rekannya : Eddy Tansil. Sementara ribuan balita menderita busung lapar, dan jutaan orang hidup di bawah garis kemiskinan. Jl Pecenongan kini tidak lagi menjadi pusat perdagangan sepeda motor. Statusnya menjadi lebih tinggi. Belasan show room roda empat berdiri megah di sepanjang jalan tersebut, dan di Jl Batutulis di dekatnya. Sedangkan tempat penjualan motor sudah berpindah sampai ke desa-desa terpencil.

Kini orang dapat membeli motor seperti layaknya membeli kacang goreng. Cukup jaminan KTP. Karenanya gubernur Sutiyoso setuju di Jakarta ada jalur khusus untuk sepeda motor. Karena jumlahnya berabrek-abrek. Jl Pecenongan di malam hari di ramaikan ratusan pedagang makanan dan minuman, yang sejak pukul lima sore mulai memasang tenda-tenda di tepi jalan. Hal yang sama juga kita dapati di sepanjang jalan Batutulis dan Hayam Wuruk. Demikian pula di Jl Krekot dekat Pasar Baru hingga Sawah Besar, dan di puluhan jalan lainnya di Ibukota, yang pada malam hari menjadi tempat jajan. Entah berapa puluh miliar uang beredar di tempat-tempat itu.

Saya yang ketika kecil tinggal di Gang Abu (kini Jl Batutulis X), sering bermain di Pecenongan. Berbelok ke kanan memasuki sebuah gang kecil dari Pecenongan, terdapat Gang Secha (kini Jl Pintu Air II). Mengabadikan nama putri tuan tanah Habib Abubakar Alatas, yang memiliki banyak rumah sewaan di jalan tersebut. Putrinya, yang dikabarkan berparas cantik, lengkapnya bernama Syarifah Secha. Saking cintanya, dia menamakan jalan tersebut dengan nama putrinya. Habib Abubakar yang dimakamkan di TPU Wakaf di Tanah Abang (sudah dibongkar pada masa gubernur Ali Sadikin), ketika berada di Hadramaut memiliki seorang putra Ir Haydar Alatas, yang kemudian menjadi Presiden Yaman Selatan. Setelah Yaman Selatan dan Yaman Utara bergabung, ia menjadi PM Yaman.

Karena berseteru dalam masalah politik, Haydar Alatas hengkang ke Amerika Serikat, dan kini berada di Jeddah, Arab Saudi. Ayahnya Abubakar Alatas meninggal dalam usia 80 tahun pada 1952. Sedangkan adiknya dari lain ibu Secha, yang namanya diabadikan untuk jalan meninggal saat belum bersuami. Masih bagian dari Pecenongan, dahulu terdapat Gang Belle dan Gang Kelekamp. Yang terakhir ini mungkin nama seorang tokoh Belanda yang pernah tinggal di sini. Karena di Ibukota, ketika masih bernama Batavia, banyak nama jalan dan gang tokoh masyarakat Belanda, di samping mengabadikan masyarakat setempat.

Seperti, Gang Anderson (Jl Kartini I, Pasar Baru), Gang Kow En Lie (Kartini II), Gang Chaulan (Jl Hasyim Ashari), Laan Holle (Jl Sabang), Gang Thomas (Tanah Abang V), Laan de Bruin Kops (Tanah Abang III), Laan Travelli (Tanah Abang IV), Gang Eduard (Jl Asem Reges II) dan masih ratusan nama jalan lagi yang mengabadikan tokoh masyarakat yang pernah tinggal di tempat tersebut. Masih di kawasan Pecenongan, terdapat Gang Ceylon, nama Srilangka ketika itu. Pada awal penjajahan Belanda, Ceylon merupakan salah satu jajahan negeri kincir angin. Banyak orang yang berasal dari Ceylon tinggal di Jakarta. Tapi yang jelas, di Jl Ceylon No 1 pernah tinggal almarhum MH Munawar, wartawan Harian Merdeka sejak koran yang dipimpin almarhum BM Diah ini terbit (Oktober 1945).

MH Munawar yang pernah bertugas meliput kegiatan kepresidenan di masa Bung Karno, pernah menjadi pengurus PWI Pusat. Pada tahun 1960-an dia diangkat menjadi atase pers di Malaysia. Pada 1962, saat terjadi konfrontasi RI-Malaysia, ia dipindahkan oleh Menlu Subandrio dengan jabatan yang sama di Italia. Orang Palembang ini menikah dengan Nawangsih, mojang Sunda yang berasal dari Sumedang. Istrinya ini berprofesi sebagai bidan, yang menangani kelahiran dari Pecenongan, Sawah Besar, hingga Jakarta Kota. Maklum, ketika itu rumah sakit bersalin masih jarang di Jakarta. Putranya, Kemal Munawar SH menjadi seksretaris presiden sejak masa pemerintahan Habibie.

Di Gang Ceylon terdapat markas BBSA (Bangka Biliton Sport Association), perkumpulan sepakbolabola divisi I Persija tahun 1950-an dan 60-an. Di ujung jalan Pecenongan menuju Asem Reges (kini Jl Taman Sari), terdapat Jl Krekot Raya (kini Jl Samanhudi).Di Krekot terdapat bioskop Cinema, dan pada 1960'an ketika nama-nama asing harus diganti, bioskop ini bernama Krekot. Sedangkan di ujung Gang Ceylon setelah melewati jalan kereta api, terletak Jl Pintu Air. Di sini terdapat bioskop Astoria, yang kemudian juga diganti jadi Satria. Di dekatnya terdapat bioskop Capitol, depan masjid Istiqlal. Pada masa Belanda, Jl Pintu Air bernama Sluisbrug.

(Oleh Alwi Shahab )

Segi Tiga Senen 1933

Pasar Senen salah satu pusat pertokoan dan perbelanjaan terbesar di Jakarta, pada 1933 atau 72 tahun lalu masih merupakan pertokoan sederhana dan sekaligus tempat tinggal (ruko). Muhammad Husni (63), pelukis kelahiran Betawi, kini tengah memamerkan sekitar 40'an lukisan di Hotel Santika, Jatipetamburan, Jakarta Barat dalam rangka HUT Jakarta ke-478. Pameran sampai 30 Juni 2005 mengisahkan suasana kota Betawi tempo doeloe, terutama di tahun 1930'an.

Tiga perempat abad lalu, seperti terlihat dalam gambar angkutan kota masih dimonopoli trem listrik yang menggelinding hampir ke segenap penjuru kota. Gerobak kuda kini sudah tidak terlihat lagi. Demikian pula delman yang kala itu banyak berseliweran di jalan raya, di samping sepeda. Sedangkan becak saat itu masih belum muncul. Terlihat sejumlah mobil dan oplet 1930'an buatan Eropa, melaju di jalan yang lengang.

Di belakang toko Avon (kini sudah tidak ada) pada 1950'an terdapat rumah makan Padang 'Merapi' tempat para seniman Senen berkumpul di malam hari hingga jelang subuh. Mereka mendiskusikan kehidupan teater dan film. Antaranya Soekarno M. Noer (ayah Rano Karno), sutradara Wiem Umboh, Syuman Jaya, Misbach Jusa Biran, dan Harmoko, mantan ketua MPR yang kala itu wartawan 'Merdeka'.

Di seberangnya kini Proyek Senen. Di depan proyek terdapat Atrium Senen. Atrium Senen sampai 1970'an merupakan rumah dan toko warga Tionghoa terlihat dari gentengnya yang runcing seperti di negeri leluhur mereka. Pada 1950'an toko terbesar di Pasar Senen: Toko 'Babah Gemuk', kini jadi Ramayana Departemen Store. Saat itu Pasar Senen dan pasar-pasar lainnya di Jakarta, keamanannya dikuasai Kolonel Sjafii, yang dikenal dengan sebutan Bang Pi'i.

Dia memimpin organisasi Cobra yang memiliki jaringan hampir di seluruh Ibu Kota. Kolonel Syafii pernah diperbantukan pada KSAD Jenderal Nasution. Karena sukses dalam ikut mengamankan Jakarta, Bung Karno di akhir jabatannya (1966) mengangkatnya sebagai Menteri Keamanan Jakarta dalam Kabinet 100 Menteri. Bang Pi'i pada masa revolusi fisik menggalang para pemuda Senen dan sekitarnya melawan NICA .

Masih di seberang Avon, pada 1950'an Tjio Wie Tay mendirikan toko buku 'Thay San Kongsi' yang kemudian jadi Gunung Agung. Ia berganti nama jadi Masagung. Toko buku 'Gunung Agung' pertama dibangun di Jl Kwitang, seberang Jl Senen Raya untuk kemudian dikota dan tempat lain. Setelah masuk Islam, ia mendirikan sebuah mushala dan pengajian di Kwitang, di samping membuka toko buku 'Walisongo' di jalan yang sama.

Muhammad Husni, lulusan Fakultas Hukum UI mulai aktif melukis secara full time sejak 2003, setelah pensiun dari PT Timah. Husni merupakan perupa otodidak yang belajar melukis hanya melalui literature dan pengamatan sehari-hari. Dia menjadwalkan akan melukis sekitar 200 obyek sejarah Betawi Tempo Doeloe. Untuk mengingatkan generasi muda bahwa Jakarta yang kini coreng-moreng ketika bernama Batavia sangat indah dan bersih.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Pasar Atom di Noordwijk

Orang Jakarta ternyata memiliki selera humor tinggi. Bahkan, bagi warga Betawi, humor seakan merupakan bagian dari hidup mereka. Mungkin karena kehidupan yang sulit, mereka mengalihkan kepedihan hidup itu melalui humor.

Kualitas humor orang Betawi bisa dibilang cukup berbobot. Seperti ketika Amerika Serikat (Presiden Kennedy) dan Uni Soviet (PM Kruschev) tengah bersaing untuk saling mendahului mengirimkan manusia ke ruang angkasa, maka muncullah nama planet untuk tempat pelacuran di Senen, Jakarta Pusat, yakni Planet Sene.

Sekalipun Planet Senen sudah dibongkar sejak masa Ali Sadikin menjadi gubernur DKI Jakarta, tapi tempat yang terletak di sepanjang stasion Senen itu tetap dikenal hingga saat ini. Pada akhir 1980-an, ketika terjadi perang antara Inggris dan Argentina memperebutkan pulau Malvinas, tempat pelacuran di Bekasi dinamakan Malvinas.

Ketika pada 15 Agustus 1945 Jepang takluk pada sekutu setelah negerinya di bom atom, maka di Jakarta pun ada Pasar Atom. Letaknya di Nordwijk, yang kini menjadi Jl Juanda, Jakarta Pusat. Keberadaan Pasar Atom hanya sekitar dua tahun. Saat itu di pinggir kali Ciliwung, ratusan pedagang menggelar dagangan mereka dari Hamoni sampai ke Pintu Air, Pasar Baru.

Para pembeli di Pasar Atom sebagian besar anggota NICA (Netherlands Indies Civil Administration), yang datang sejak akhir September 1945, setelah proklamasi kemerdekaan, membonceng tentara sekutu. Di antara tentara sekutu terdapat tentara Inggris dari kesatuan Baret Merah, yang terkenal kelihaiannya dalam bertempur.

Di dalam tentara sekutu juga terdapat pasukan India yang kala itu masih bersatu dengan Pakistan dan Bangladesh. Di antara tentara India ini terdapat 'muslimin' sebutan rakyat untuk tentara yang beragama Islam. Mereka sangat akrab dengan penduduk, seringkali mendatangi kampung, dan shalat berjamaah. Bahkan pasukan sekutu dari India yang beragama Islam itu sering memberikan makanan dan barang kepada penduduk. Ada di antara mereka yang kawin dengan penduduk setempat, dan kemudian masuk TNI.

Pasar Atom, yang mirip dengan komplek pedagang kaki lima, pembelinya juga kelompok-kelompok yang punya hubungan dekat dengan NICA. Mereka tidak berani membeli barang di pasar-pasar yang berada di kampung-kampung. Maklum waktu itu, kalau ada tentara NICA atau mereka yang bersimpati masuk kampung, pulang bisa 'tinggal nama'.

Tentara NICA sendiri kala itu sering menembak mati penduduk yang dicurigai, seperti layaknya pasukan AS dan sekutu di Irak. Seperti diceritakan Ali Shatri (86 tahun), saat berdagang di Pasar Atom ia membeli barang loakan dari Pasar Asem Reges (Sawah Besar), Jakarta Barat. Umumnya merupakan barang 'gedoran'. Setelah proklamasi kemerdekaan banyak warga Belanda yang kediamannya digedor penduduk, hingga dinamakan pula 'zaman gedor-gedoran'.

Tapi, pada tahun 1947, ketika NICA sudah berkuasa di Jakarta, termasuk menangkap walikota Soewiryo, Pasar Atom pun digusur. Para pedagang tidak boleh lagi berjualan dan tenda-tenda dagangannya dibongkar. Beberapa di antaranya ditampung di bagian belakang Pasar Baru.

Sejumlah pedagang menceritakan, kala itu dia menjual rokok buatan Inggris yang banyak didapat dari pasukan Inggris, seperti Player, Capstan, dan Lion. Rokok-rokok buatan Inggris itu dikemas dalam kaleng berisi 50 batang, dan 10 batang yang terbungkus dalam semacam kardus.

Pada masa NICA, untuk menarik hati penduduk, mereka secara rutin memberikan sembako kepada rakyat. Kepada warga yang berpenghasilan tinggi (berdasarkan pembayaran pajak), mereka mendapatkan jatah roti tiga hari sekali secara gratis termasuk keju dan mentega. Sedangkan mereka yang berpenghasilan rendah, mendapatkan jatah beras disamping sardencis dan minyak. Untuk mengambil jatah tersebut diberikan kupon. Karena warnanya kuning, orang menyebutnya 'kartu kuning'.

Rupanya NICA yakin ia akan terus dapat menjajah bumi Nusantara. Buktinya, pada 30 Agustus 1948 Belanda membangun Kebayoran Baru. Untuk membangun kota satelit ini, Belanda menggusur ribuan kediaman warga Betawi seluas 730 hektar. Kampung Betawi yang banyak menghasilkan buah-buahan, persawahan, kala itu terdiri dari kampung-kampung Grogol Udik, Pela Petogogan, Gandaria Noord (Utara) dan Senayan. Sebelum membangun Kebayoran Baru, rencananya ditempat itu Belanda akan membangun bandar udara.

Ketika digusur bukan saja rumah dan bangunan yang dapat ganti rugi. Tapi juga buah-buahan. Dikabarkan lebih dari 700 ribu pohon ditebang dan 26 macam buah-buahan. Sekitar 2000 rumah, bangunan, kios dan kandang ternak (penduduk banyak beternak sapi disamping petani buah-buahan) digusur. Daerah yang tergusur kala itu penduduknya banyak penjual ketupat sayur yang berdagang keliling di berbagai tempat di Jakarta.

Di Kebayoran Baru didirikan sebuah yayasan yang bernama Centrale Stichting Wederopbours (CSW). Kalau kita ke Kebayoran, kondektur bus akan mengerti bila kita menyebut CSW. Tempat itu kini bernama Jalan Sisimangaraja (Kejaksaan Agung) -- tempat yang kini menjadi sangat 'angker' bagi koruptor yang menjadi pencoleng uang negara. Semoga saja para petugas di Kejaksaan Agung semakin berani dalam menindak mereka, sesuai dengan harapan rakyat.

(Alwi Shahab )

Boplo Cikal Bakal Menteng

Gedung yang hingga kini masih berdiri dengan megah, dan menjadi Masjid Cut Mutiah terletak di Jl Gondangdia (kini Jl RP Suroso), Menteng, Jakarta Pusat. Dari gedung inilah dilakukan pembangunan Nieuw Gondangdia (Gondangdia Baru) oleh NV De Bouwploeg untuk kemudian berkembang ke kawasan Menteng. Nama perusahaan real estate pertama ini, kemudian menjadi nama Kampung Boplo. Sampai sekarang dibelakang stasion kereta api Gondangdia, terlletak Pasar Boplo. Sekalipun sudah belasan tahun nama Jl Gondangdia diganti Jl RP Suroso, tapi warga masih menyebut dan mengenal nama sebelumnya. Banyak pihak yang menyesalkan kenapa nama tempat bersejarah ini diganti begitu saja.

Dari gedung NV De Bouploeg ini pula dilakukan pembangunan kawasan Menteng, kota taman pertama di Indonesia pada 1920-an. Ketika Menteng dibangun warga Betawi dipindahkan ke Karet, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Mereka yang tergusur telah meninggikan ganti rugi dari lima sen jadi lima perak (gulden). Sarikat Islam (SI), yang dipimpin HOS Tjokroaminoto dan H Agus Salim dengan gigih berjuang hingga penduduk dapat ganti rugi yang layak saat penggusuran.

Ir Barlage, tokoh arsitek Belanda ketika berkunjung ke Batavia (1920-an), menyebut Menteng sebagai Europese Buurt (lingkungan Eropa). Karena mirip dengan Minervalaan, kawasan elit di Amsterdam. Kalau kawasan di Amsterdam itu luasnya hanya 30 hektar, Menteng 20 kali lebih besar (600 hektare).

Di sebelah kanan De Bouploeg (tidak terlihat), terdapat gedung Kunstkring tempat para arsitek awal abad ke-20 sering berkumpul dan berdiskusi. Gedung yang terletak di ujung Van Heutz Boulevard (kini Jl Teuku Umar), sebagai awal dari arsitektur modern di Indonesia. Karena setelah kiemerdekaan pernah digunakan sebagai tempat Direktorat Jenderal Imigrasi, ia lebih dikenal sebagai gedung Imigrasi.

Pada 1998, ketika Pak Harto lengser, gedung ini dijarah. Semua daun jendela dan pintunya dicuri. Karena beredar berita-berita bahwa gedung ini akan dijadikan Museum Ibu Tien Soeharto.

Sedangkan gedung NV De Bouploeg, yang kini menjadi Masjid Cut Mutiah, pernah menjadi kantor pos pembantu, dan pada perang dunia kedua (1942-1945) digunakan Angkatan Laut Jepang. Sesudahnya dimanfaatkan oleh Staatssporweg (Jawatan Kereta Api), kemudian oleh Dinas Perumahan (1957-1964). Pada 1964-1970 menjadi Kantor Urusan Agama, sekaligus untuk kegiatan peribadatan. Karena letaknya berdekatan dengan kediaman pejabat tinggi, mesjid ini sering dapat kunjungan pejabat penting. Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto beserta keluarga, usai berhaji (1991), sujud syukurnya di masjid ini.

Dahulu, dihadapan gedung De Bouploeg dibangun monumen untuk apa yang disebut 'mengenang' keberhasilan Jenderal van Heutz 'menaklukkan' Aceh, yang berarti dapat mempersatukan nusantara. Di monumen yang memanjang hingga ke dekat Jl Menteng Raya dan Cikini Raya, di atasnya diberi penumpu tempat berdirinya patung Van Heutz yang tak henti-hentinya memandang dengan wajah yang memancarkan kebajikan. Akan tetapi, kaum nasionalis menilai patung ini sebagai penghinaan terhadap kehormatan rakyat dan membuat hati mereka berontak. Setelah Indonesia merdeka, tanpa mengenal ampun patung ini dihancurkan sama rata dengan tanah.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Boplo Cikal Bakal Menteng

Gedung yang hingga kini masih berdiri dengan megah, dan menjadi Masjid Cut Mutiah terletak di Jl Gondangdia (kini Jl RP Suroso), Menteng, Jakarta Pusat. Dari gedung inilah dilakukan pembangunan Nieuw Gondangdia (Gondangdia Baru) oleh NV De Bouwploeg untuk kemudian berkembang ke kawasan Menteng. Nama perusahaan real estate pertama ini, kemudian menjadi nama Kampung Boplo. Sampai sekarang dibelakang stasion kereta api Gondangdia, terlletak Pasar Boplo. Sekalipun sudah belasan tahun nama Jl Gondangdia diganti Jl RP Suroso, tapi warga masih menyebut dan mengenal nama sebelumnya. Banyak pihak yang menyesalkan kenapa nama tempat bersejarah ini diganti begitu saja.

Dari gedung NV De Bouploeg ini pula dilakukan pembangunan kawasan Menteng, kota taman pertama di Indonesia pada 1920-an. Ketika Menteng dibangun warga Betawi dipindahkan ke Karet, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Mereka yang tergusur telah meninggikan ganti rugi dari lima sen jadi lima perak (gulden). Sarikat Islam (SI), yang dipimpin HOS Tjokroaminoto dan H Agus Salim dengan gigih berjuang hingga penduduk dapat ganti rugi yang layak saat penggusuran.

Ir Barlage, tokoh arsitek Belanda ketika berkunjung ke Batavia (1920-an), menyebut Menteng sebagai Europese Buurt (lingkungan Eropa). Karena mirip dengan Minervalaan, kawasan elit di Amsterdam. Kalau kawasan di Amsterdam itu luasnya hanya 30 hektar, Menteng 20 kali lebih besar (600 hektare).

Di sebelah kanan De Bouploeg (tidak terlihat), terdapat gedung Kunstkring tempat para arsitek awal abad ke-20 sering berkumpul dan berdiskusi. Gedung yang terletak di ujung Van Heutz Boulevard (kini Jl Teuku Umar), sebagai awal dari arsitektur modern di Indonesia. Karena setelah kiemerdekaan pernah digunakan sebagai tempat Direktorat Jenderal Imigrasi, ia lebih dikenal sebagai gedung Imigrasi.

Pada 1998, ketika Pak Harto lengser, gedung ini dijarah. Semua daun jendela dan pintunya dicuri. Karena beredar berita-berita bahwa gedung ini akan dijadikan Museum Ibu Tien Soeharto.

Sedangkan gedung NV De Bouploeg, yang kini menjadi Masjid Cut Mutiah, pernah menjadi kantor pos pembantu, dan pada perang dunia kedua (1942-1945) digunakan Angkatan Laut Jepang. Sesudahnya dimanfaatkan oleh Staatssporweg (Jawatan Kereta Api), kemudian oleh Dinas Perumahan (1957-1964). Pada 1964-1970 menjadi Kantor Urusan Agama, sekaligus untuk kegiatan peribadatan. Karena letaknya berdekatan dengan kediaman pejabat tinggi, mesjid ini sering dapat kunjungan pejabat penting. Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto beserta keluarga, usai berhaji (1991), sujud syukurnya di masjid ini.

Dahulu, dihadapan gedung De Bouploeg dibangun monumen untuk apa yang disebut 'mengenang' keberhasilan Jenderal van Heutz 'menaklukkan' Aceh, yang berarti dapat mempersatukan nusantara. Di monumen yang memanjang hingga ke dekat Jl Menteng Raya dan Cikini Raya, di atasnya diberi penumpu tempat berdirinya patung Van Heutz yang tak henti-hentinya memandang dengan wajah yang memancarkan kebajikan. Akan tetapi, kaum nasionalis menilai patung ini sebagai penghinaan terhadap kehormatan rakyat dan membuat hati mereka berontak. Setelah Indonesia merdeka, tanpa mengenal ampun patung ini dihancurkan sama rata dengan tanah.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Dari Dekrit Sampai PP

Sampaikan kepada rekan Cetak berita ini

Minggu, 03 Juli 2005

Dari Dekrit Sampai PP



Ada dua peristiwa penting yang terjadi pada tahun 1959 dalam sejarah Indonesia. Pertama, Bung Karno mengeluarkan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli untuk kembali ke UUD 1945. Sekaligus membentuk MPRS setelah Konstituante hasil Pemilu pertama tidak berhasil menetapkan Haluan Negara.

Bung Karno, sampai akhir hayatnya berpendapat bahwa demokrasi liberal tidak cocok bagi Indonesia. Dengan bangga ia menyatakan Demokrasi Terpimpinlah yang pantas bagi Indonesia, bukan demokrasi ala Barat. Peristiwa penting lainnya adalah diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) No 10 tahun 1959, yang memindahkan warga Tionghoa dari pedesaan. Dengan PP itu, semua pedagang eceran Cina harus menutup usaha mereka di pedalaman. Tepatnya di tingkat kecamatan ke bawah. Jadi para pedagang Cina yang banyak membuka usahanya sampai kepelosok-pelosok desa diharuskan hengkang.

Sementara, di Jawa Barat, Panglima Siliwangi Kolonel Kosasih memaksa mereka pindah. Lebih dari 100 ribu orang Cina meninggalkan Indonesia menuju daratan Cina. Diantara mereka terdapat sejumlah pemain bulutangkis. Dan, berkat didikan mereka, RR Cina kemudian menghasilkan pemain-pemain bulutangkis yang handal. Bahkan, ketika Rudy Hartono jadi juara tujuh kali All England, pemain dari RRC tidak diperkenankan bertanding. Di PBB, RRC saat itu dikucilkan. Di organisasi dunia ini Cina hanya diwakili Taiwan, yang punya hak veto.

Tentu saja PP 10/1959 tidak berlaku di Jakarta dan kota-kota besar. Kala itu, di Jakarta dipenuhi warung Cina. Belum banyak muncul warung pribumi. Sebagai contoh di di Jl Kramat II, Kwitang, Jakarta Pusat. Di jalan yang panjangnya kira-kira 500 meter terdapat tidak kurang enam warung Cina. Para pedagang ini umumnya Cina singkeh (totok) yang bahasa Indonesianya masih berantakan. Meskipun begitu, setidaknya mereka terlibat dalam persoalan politik yang menyagkut situasi di daratan Cina.

Kala itu (sejak Mao Ze Dong melakukan pemberontakan di daratan Cina), di Nusantara, warga Cina terpisah jadi dua kelompok. Ada yang pro Mao dan ada yang pro Chiang Kai Sek (yang kemudian terusir dari daratan Cina ke Taiwan). Seperti saat acara penting di negeri leluhur. Ada yang memasang bendera Kunchantang (RRC) dan sebagian bendera Koumintang (Chiang Kai Sek). Sekalipun terjadi perbedaan ideologi tapi dalam ihwal berdagang mereka boleh dipuji kekompakannya. Sebagai alat penghitung mereka gunakan sempoa, yang kini mulai diminati lagi.

Lalu apa yang diperdagangkan di warung-warung itu? Hampir semua kebutuhan rakyat tersedia. Mulai dari beras, gula dan minyak, sampai arang dan kayu bakar. Maklum di rumah-rumah orang memasak menggunakan kayu bakar. Di tiap rumah terdapat semprong dari bambu yang ditiup ke arah kayu bakar untuk menjaga agar api terus menyala. Baru pada akhir 1960-an, kayu bakar digantikan minyak tanah. Tapi nyatanya, sekalipun kayu bakar tidak digunakan lagi, justru keadaannya lebih parah dari tempo doeloe. Pembabatan hutan makin tidak terkendalikan, berkat kerjasama antara cukong, oknum TNI, kepolisian, Pemda, aparat kehutanan dan rakyat.

Hubungan jual beli antara pedagang Cina dan pribumi baik sekali. Di warung-warung itu kita bisa berhutang. Hingga tidak heran banyak pribumi yang menguasai bahasa Cina. Seperti kamsia (terima kasih), seceng (seribu), cepe (seratus), cetah (setalen), ceban (sepuluh ribu), dan masih banyak lagi. Bahkan banyak di antara mereka yang belajar silat gaya Cina, yang disebut kungfu.

Sementara, kawasan China Town, Glodok menjadi pusat perdagangan yang dikuasai etnis Cina. Konon, uang yang beredar di pusat perdagangan Glodok saat itu lebih 60 persen dari jumlah uang yang beredar di Indonesia. Waktu itu, mereka juga menguasai industri batik. Di Jakarta sampai 1960-an banyak terdapat industri batik dengan ribuan pekerja. Seperti di Palmerah, Setiabudi, Senayan, dan Karet Kuningan.

Sementara, orang-orang Arab lebih banyak bergerak dalam jual beli bahan bangunan. Mereka membuka toko-toko di kampung-kampung, menjual cat, kapur, genteng, semen, dan besi beton. Di samping itu, banyak juga yang menjual perabot rumah tangga. Boleh dibilang, merekalah yang memelopori perusahaan properti di Jakarta. Tahun 1950-an baru kecil-kecil. Mereka membeli satu dua rumah tua, untuk kemudian dihancurkan dan dibangun baru. Harga rumah baru dengan tiga kamar, yang sekarang ratusan juta rupiah, kala itu tidak lebih dari satu juta rupiah. Kemudian usaha mereka berkembang. Kini, banyak etnis Arab yang jadi pengusaha real estate.

Sedangkan sejumlah pengusaha pribumi membuka usaha percetakan. Seperti Percetakan Siliwangi di Jl Batuceper milik Ili Sasmita, Penca di Jl Paseban milik H Abdullah, percetakan Pemandangan milik H Tabrani, yang sekaligus menjadi pemimpin redaksi Harian Pemandangan. Dia juga yang sejak 1950-an memiliki Hotel Cipayung, di Cipayung, Bogor, hingga kini. Juga Percetakan Jakarta Pers yang mencetak Harian Pedoman yang dipimpin H Rosihan Anwar.

Kala itu, liburan yang paling digemari adalah nonton film. Saat televisi belum muncul, penonton mau bersusah payah untuk ngantri di loket-loket bioskop. Sebagai warisan Belanda, bioskop dibagi dalam kelas-kelas. Balcon, Lodge, Stalles, dan kelas kambing, di bangku bagian paling depan. Yang paling mengesankan waktu itu adalah keamanan kota Jakarta. Copet hanya ada di trem dan kereta api. Perampokan yang kini merebak boleh dikata jarang terjadi. Motor yang jumlahnya tidak banyak tidak pernah hilang saat diparkir. Pencuri belum secanggih sekarang. Belum terpikir untuk membuat kunci 'Letter T'. Sepeda juga aman. Karena dikunci. Dan yang banyak pencurian 'berco' yang menempel di ban, yang digunakan pada malam hari untuk menyalakan lampu sepeda.

(Alwi Shahab )

Gedung KPM dan Kisah Nyai Dasima

Inilah kantor pusat KPM (Koninkluke Paketvaart Maatchappij), perusahaan pelayaran terbesar di Hindia Belanda, yang setelah diambil alih pemerintah menjadi Pelni (1957). Gedung berlantai tiga kini menjadi kantor Ditjen Perla (Direktorat Jenderal Perhubungan Laut). Gedung KPM ini diabadikan tahun 1930-an. Terlihat dari puluhan mobil parkir di depan gedung di Koningsplein-Oost No 5 (kini Medan Merdeka Timur), Jakarta Pusat. Seperti merek Austin, Morris, dan Fiat, yang seluruhnya mobil buatan Eropa.

KPM pada 1927 telah memiliki 136 kapal laut, dengan lancar mengarungi seluruh kepulauan di Nusantara dan mancanegara. Di samping mengangkut penumpang, KPM secara tetap mendistribusikan berbagai kebutuhan pokok ke daerah-daerah terpencil. Di samping mengangkut berbagai komoditas ekspor dan imppor. Gedung ini didesain Ir FJL Ghijsells, arsitek Belanda kelahiran Tulungagung, Jawa Timur pada 1916 dan dibangun 1917-1918.

Pada 1957 seluruh perusahaan Belanda di Indonesia diambil alih. Di samping KPM, juga BVM (Batavia Verkeer Maatchappij), yang bergerak dibidang angkutan trem dan bus. Sejak itu lahirlah PPD (Perusahaan Umum Pengangkutan Penumpang Djakarta), yang pada awal pekan lalu para awaknya melakukan mogok kerja, menuntut pembayaran gaji dan masa depan yang lebih baik. PPD sejak mengambil alih BVM terus menerus merugi. Salah satu sebab kehancuran PPD adalah korupsi, termasuk penyalahgunaan dalam pembelian dan penggunaan suku cacang untuk keperluan armada angkutannya.

Yang tidak pernah terjadi di masa kolonial. Kurang lebih di tempat gedung Ditjen Perla inilah, latar belakang novel historis terkenal Nyai Dasima karya G Francis. Kisah seorang nyai (wanita yang dijadikan gundik dan tanpa dinikah) dari desa Kuripan. Yang letaknya di sebelah kanan dari Ciseeng, setelah menempuh perjalanan dari Parung sejauh 10 km.Kisah Nyai Dasima terjadi di masa pemerintahan Inggris (1811-1816). Dasima gadis cantik dan bahenol menjadi istri simpanan tuan Edward William, salah seorang kepercayaan Letnan Gubernur Sir Thomas Raffles. Walaupun Dasima diperlakukan dengan baik oleh tuannya, tapi ia akhirnya rela dijadikan sebagai istri kedua Samiun, tukang sado dari Kwitang.

Dalam versi G Francis, Nyai Dasima meninggalkan tuan dan putrinya karena diguna-guna Samiun, melalui Mak Buyung. Kemudian diluruskan budayawan Betawi SM Ardan. Dasima memilih Samiun dan meninggalkan tuannya setelah diinsafkan bahwa kawin tanpa nikah (kumpul kebo) suatu perbuatan yang sangat terlarang dalam Islam. Tragisnya, nyai dari Kuripan ini akhirnya dibunuh Bang Puase, jagoan dari Kampung Kwitang, ketika ia dan suaminya hendak nonton tukang cerite di Gang Ketapang (depan Sawah Besar sekitar Jl Gajah Mada). Ia dibunuh atas suruhan Hayati, istri pertama Samiun yang tengah dibakar cemburu. Peristiwa ini terjadi kira-kira di depan Markas Marinir di Kwitang, sebelah toko buku Gunung Agung.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Bisnis Susu di Segitiga Emas

Lalu lintas di Tanah Abang -- yang tengah berambisi menjadi sentra bisnis terbesar di Jakarta -- makin hidup sejak beroperasi Kereta Rel Listrik (KRL). Tiap hari, sejak subuh hingga malam, ribuan penumpang dari Bogor, Bojonggede, Citayam, Depok, dan sekitarnya, yang bekerja di Jakarta memanfaatkan KRL. Baik saat pergi maupun pulang kantor.

Untuk menunjang sentra industri yang kini tengah dibangun di beberapa lokasi di sekitar Jakarta, Tanah Abang disiapkan akan menjadi salah satu pemusatan monoreal. Bagi mereka yang tinggal di Bogor dan Depok kini lebih senang naik kereta api katimbang mobil pribadi. Apalagi sekarang ini membeli premium harus ngantri, belum lagi kena macet yang sudah makin kagak ketolongan di Ibukota. Naik kereta api bisa menghemat BBM, seperti dianjurkan pemerintah.

Tidak heran kalau penumpang KRL Bogor-Tanah Abang berjubelan. Di antara stasion KA yang dipadati penumpang adalah Stasion Sudirman. Nama baru untuk Stasion Dukuh Atas, salah satu kampung tua di kelurahan Setiabudi. Letaknya diujung Jl Blora dan Jl Kendal. Jl Blora, Jakarta Pusat, sampai 1970-an terkenal dengan Sate Bloranya.

Pada masa gubernur Ali Sadikin, ketika steambath (panti pijat) dan klub malam banyak berdiri di Jl Blora, tukang sate dipindahkan ke Jl Kendal, bersebelahan dengan Blora. Para tukang sate, sop dan gorengan itu awalnya berdagang di pasar Tanah Abang. Di antara pedagang sate terkenal adalah Mat (Muhammad) Kumis. Kini, banyak pedagang sate, sop kaki, dan soto yang menambahkan nama Kumis di belakang namanya. Yang pasti, tidak semua pedagang sate berkumis.

Banyaknya penumpang yang turun dan naik di Stasion Sudirman karena dari sini mereka dengan mudah mendatangi tempat kerjanya di sekitar Jl Jenderal Sudirman, Jl Thamrin, dan Setiabudi. Tapi, ada yang mempertanyakan, kenapa nama Stasion Dukuh Atas kini jadi Stasion Sudirman. Padahal jalan Sudirman baru ada setelah Bung Karno membangunnya awal 1960-an, saat menghadapi Asian Games 1963.

Sedangkan Dukuh Atas sudah berusia ratusan tahun. Berawal dari Kampung Dukuh. Karena letaknya di bagian atas dinamakan Dukuh Atas. Di dekatnya terdapat Kampung Dukuh Bawah, di sebelah timur SMU 3 Setiabudi. Karena terletak di bagian bawah, kampung yang berbatasan dengan Jl Halimau dan Jl Kawin itu dinamakan Dukuh Bawah.

Nama Setiabudi, seperti dituturkan H Irwan Syafe'i (75 tahun), punya arti tersendiri. Ketika hendak dibangun SMA 3 dan kavling-kavling (perumahan) awal tahunm 1950-an, masyarakat Betawi mengikhlaskan rumahnya digusur. Mereka, oleh seorang pimpinan DKI (masih DCI) Jakarta, lantas dijuluki sebagai rakyat yang setia dan berbudi (setiabudi).

Jl Halimun dan Jl Kawi di Kelurahan Guntur, seperti juga daerah Kuningan lainnya, kini telah disulap menjadi hutan beton. Jalan Halimun, pada 1950-1960-an merupakan kawasan pelacuran kelas bawah di Jakarta. Sekarang ini banyak yang mangkal di sekitar Jl Sultan Agung, di pinggir jalan kereta api Jl Latuharhari, bersama para waria yang mangkal hingga subuh.

Di selatan Setiabudi terdapat kampung Karet Belakang, yang oleh warga setempat disingkat Karbela, seperti Bendungan Hilir jadi Benhil, dan Jl Otto Iskandaridinata jadi Otista. Sedangkan Menara Imperium Kuningan yang megah dulu letaknya di Kawi Sawah, karena memang daerah persawahan. Sedangkan Pasar Festival dan Stadion Kuningan sebelum 1970-an merupakan kuburan. Demikian pula sejumlah kantor dan perhotelan yang terletak di dekatnya, termasuk RS MMC. Pekuburan yang luasnya berhektar-hektar itu merupakan wakaf seorang Betawi yang dermawan, dan tergusur ketika dibangun Kuningan.

Seperti dituturkan H Irwan Sjafi'ie, Kali Krukut dekat Pasar Benhil dan RSAL Mintaharjo, dulu banyak buayanya. ''Ketika saya sekolah rakyat, pulangnya saya suka nimpukan buaya yang naik ke darat,'' ujarnya.

Buaya-buaya itu akhirnya menyingkir akibat terpolusi oleh bahan-bahan kimia dari industri batik. Puluhan industri batik sampai 1960-an banyak terdapat di Karet Pasar Baru, Karet Tengsin, Setiabudi, bahkan hingga ke Senayan. Sebagian besar para pengusahanya warga Tionghoa, sedangkan para perajinnya ibu-ibu Betawi, yang membatik di kediaman masing-masing.

Lokasi Gedung Wanita, Departemen Kehakiman, dan puluhan gedung serta kantor pencakar langit, dulu Kampung Karet Pedurenan, yang berbatasan dengan kali dan taman pemakaman umum (TPU) Menteng Pulo, yang hingga kini masih berfungsi. Dulu di belakang RS Mata Aini (Karbela) ada mata air bening yang tidak pernah kering. Mata air tersebut berada di tengah-tengah empang berukuran sekitar 15 X 10 meter.

Masyarakat setempat menggunakan empang tersebut untuk mencuci, mandi dan masak. Di dekatnya terdapat pohon bambu dan beringin hingga oleh penduduk dianggap angker. Kalau sudah magrib, hampir tak ada orang yang berani lewat. ''Banyak hantu dan kuntilanaknya,'' kata H Irwan.

Penduduk di sekitar segitiga emas -- Kuningan, Sudirman dan Gatat Subroto -- disamping sebagian menjadi perajin batik, banyak pula yang berprofesi sebagai tukang sepatu dan konveksi. Sepatu Kampung Pedurenan cukup terkenal, dan menjadi langganan beberapa toko sepatu di Pasar Baru, termasuk toko Sien Lie Seng. Yang terbanyak adalah para pengusaha sapi, yang rata-rata memiliki 4-5 ekor.

Setiap pagi dan sore, ratusan warga Karet Kuningan, Kuningan Timur, Karet Pedurenan, dan Setiabudi (Kampung Duku) dengan mengendari sepeda, membawa susu yang dikemas dalam botol kepada pelanggan di berbagai tempat di Jakarta, serta dijualbelikan.

Industri tahu juga berkembang di tempat-tempat tersebut. Banyak pula yang jadi anemer (pemborong rumah). Kini rumah-rumah mereka sudah hampir tidak tersisa. Digantikan hotel berbintang, mal, apartemen, rumah sakit, wisma dan imperium.

(Alwi Shahab )

Hotel Des Indes Jelang Digusur

Inilah Hotel des Indes saat dikosongkan menjelang digusur pada 1971. Kemudian di lokasi hotel termegah di Jakarta sebelum dibangun Hotel Indonesia dalam rangka menyambut Asian Games 1963, didirikan pertokoan Duta Merlin. Yang berarti Kota Jakarta kehilangan satu gedung beriwayat yang telah menyaksikan perkembangan kota ini dari akhir abad ke-18 sampai 1970-an. Tidak heran, kalau banyak pemerhati sejarah dan tata kota menyesalkan penggusuran ini. Apalagi Duta Merlin yang menggantikan keberadaannya, kini dikalahkan puluhan mal dan pertokoan yang jauh lebih modern. Penggusuran Hotel des Indes membuktikan bahwa kepentingan sejarah bisa dikalahkan oleh kepentingan ekonomi dan bisnis. Sementara Singapura tetap melestarikan Raffles Hotel yang usianya hampir bersamaan.

Sejarah hotel ini dimulai tahun 1828, ketika dua kontraktor Prancis membeli persil tanah Moenswijk yang kala itu merupakan salah satu rumah peristirahatan 'jauh' di luar kota. Moenswijk berasal dari nama pemilik pertamanya, Adriaan Moens, seorang direktur jenderal VOC kaya raya. Dua pengusaha Prancis itu bernama Surleon Antoine Chaulan dan JJ Didero. Nama Chaulan kemudian diabadikan untuk nama Jl Kemakmuran yang berdekatan dengan hotel tersebut. Dan kini menjadi Jl Hasyim Ashari, itu pendiri NU kakeknya Gus Dur.

Hotel des Indes, mula-mula dikenal dengan Hotel Chaulan, kemudian Hotel de Provence (1835) untuk menghormati daerah pemiliknya. Kemudian Rotterdamsch Hotel (1854). Nama Hotel des Indes yang membawanya ke puncak ketenaran diresmikan 1 Mei 1856. Menurut Dr de Haan, penulis buku Oud Batavia nama baru itu merupakan kasak kusuk penulis Multatuli dengan pemilik hotel.

Pada abad ke-18 dan 19 banyak orang kaya terutama para pejabat Kompeni yang membangun rumah-rumah peristirahatan (landhuis) disepanjang Molenvliet. Termasuk rumah peristirahatan Reinier de Klerek (sekarang Gedung Arsip Nasional) yang letaknya tidak lebih tiga kilometer dari Glodok. Kala itu, untuk menempuh jarak tersebut dari pusat kota (Pasar Ikan) ditempuh selama tiga jam dengan kereta kuda.

Ketika penyerahan kedaulatan, Bung Karno mengganti nama Hotel des Indes jadi Hotel Duta Indonesian (HDI). Hotel ini pada masa akhir pendudukan Jepang, pernah menjadi tempat menginap para anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), yang dalam sidangnya pada 18 Agustus 1945 di Pejambon, menetapkan UUD 1945, memilih Bung Karno dan Bung Hatta sebagai presiden dan wakil presiden.

Di samping terkenal dengan makanannya terutama rijstafel dan berbagai masakan Eropa lainnya, hotel setiap malam menampilkan artis tahun 1950-an dan 60-an dalam berbagai acara hiburan. Pada tahun tersebut, beberapa diplomat asing yang menghadapi kesulitan perumahan di Jakarta, tinggal dan berkantor di Hotel des Indes.

Hotel ini letaknya berdekatan dengan gedung BTN dan Jl Jaga Monyet (kini Jl Suryopranoto). Dulu di sini terdapat benteng penjagaan. Konon, karena lebih sering menjaga monyet-monyet yang berkeliaran katimbang musuh, dinamakan Jaga Monyet. Maklum pada abad ke-18 daerah ini masih hutan belukar. Banyak yang menyayangkan kenapa nama Jaga Monyet diganti. Sampai kini mereka yang berusia lanjut lebih masih mengenal Jaga Monyet katimbang Jl Suryopranoto.

(Alwi Shahab, wartawan Republika)

Jenderal Coen Digusur Jepang

Untuk mengenang Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen, pemerintah kolonial Belanda telah mendirikan sebuah monumen dan patung pendiri Kota Batavia itu. Gubernur Jenderal VOC (1619-1623 dan 1627-1629) ini, dibuat patungnya pada 1869, bertepatan dengan 250 tahun usia kota Batavia oleh gubernur jenderal Pieter Mijer (1866-1872). Patung Coen yang berdiri dengan angkuh sambil menunjuk jari telunjuknya dengan mottonya yang terkenal: Despereet Niet (jangan putus asa).

Setelah berdiri selama 74 tahun di depan White House (Gedung Putih) yang kini jadi Departemen Keuangan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, patung dari tembaga ini pun digusur dan dihancurkan pada 7 Maret 1943 selama pendudukan Jepang. Dimasa kolonial, ulang tahun Jakarta selalu diperingati pada 30 Mei, ketika di tanggal tersebut tahun 1619, Coen menghancurkan Jayakarta. Kemudian di atas puing dan reruntuhan kota yang diberi nama oleh pejuang Islam, Falatehan, ia membangun Batavia.

Coen yang meninggal 20 September 1629, hanya tiga hari setelah balatentara Islam Mataram untuk kedua kalinya menyerbu Batavia. Menurut pihak Belanda, Coden meninggal karena kolera yang kini lebih dikenal dengan muntaber (muntah berak). Dia kemudian dimakamkan di Balai Kota (kini Museum Sejarah Jakarta), kemudian setelah balaikota diperbarui jenazahnya dipindahkan di de Oude Hollandsch Kedrk (Gereja Tua Belanda) yang kini menjadi Museum Wayang, Jl Pintu Besar Utara, Jakarta Barat. Di sini dapat ditemui prasastinya, bersama sejumlah gubernur jenderal lainnya, yang meninggal di Batavia.

Sejarawan Sugiman, meyakini bahwa kematian Coen akibat serangan balatentara Mataram. Menurut dia, yang ditunjuk sebagai makam Coen sebenarnya bukan tempat jenazahnya dikebumikan, tapi jenazah orang lain. Sedangkan menurut Chandrian Attahiyat, dari Dinas Kebudayaan dan Permusiuman DKI Jakarta, pada 1939 telah dilakukan penggalian di makam Coen, untuk mencari jenazahnya. Tapi tidak diketemukan apa-apa. Meskipun pakar arkeologi itu lebih mempercayai versi Babat Jawa, ia berpendapat untuk mencari kebenaran perlu dilakukan penggalian jenazah Coen berupa kepalanya di Imogiri (pemakaman raja-raja Jawa). Konon, kepala Coen diletakkan ditangga paling bawah Imogiri, sehingga mereka yang hendak ke tempat pemakaman ini terlebih dulu menginjak kepalanya, sebagai penghinaan.

''Memang sejauh ini belum pernah ada penelitian arkeologi kebenaran 'Babad Jawa' tentang pembunuhan Coen,'' ujar Chandrian. Seorang petugas di Museum Wayang, tempat prasasti Coen berada, membenarkan adanya dua versi tentang kematiannya. Pesta peringatan 250 tahun kota Batavia dilangsungkan waktu perang Aceh memasuki tahun ketiga. Di saat-saat rakyat Aceh dan tentara Belanda banyak yang cedera. Sementara tuan-tuan besar di Jakarta berpesta pora dengan penuh kagumbiraan.

Dengan dihancurkannya patung Coen oleh Jepang, kaum nasionalis tidak perlu bersusah payah melenyapkan lambang kolonial yang tidak diinginkan itu. Setelah Indonesia merdeka, tidak satu pun yang menjunjung Coen, di kota yang dibangunnya di bekas puing-puing kota Jayakarta lama. Dan, Bung Karno sendiri tampaknya ingin menjadikan Jakarta, sebagai kota yang berlainan dengan Batavia. Pada tahun 1960-an Bung Karno membangun Hotel Banteng di Lapangan Banteng. Kini jadi Hotel Borobudur. Dia juga membangun Masjid Istiqlal yang megah, di bekas benteng kolonial Wilhelmina Park. Untuk itu di dinamit monumen Michiels, guna memperingati Mayor Jenderal Andreas Victor Michiels, komandan militer Belanda yang memimpin peperangan di Sumatera Barat dan meninggal ketika berhadapan dengan pejuang Bali (1849).

(Alwi Shahab, wartawan Republika)

Kerak Telor dari Buncit

Memasuki Jl Buncit Raya dari arah Jl Rasuna Said, terdapat Madrasah Saadutdarain. Madrasah yang diapit oleh Jl Mampang XIV dan Jl Mampang Parapatan XIII itu juga merupakan salah satu tempat kuliah Universitas Islam Az-Zahrah, yang rektornya mantan Menteri Agama Tarmizi Taher dan ketua yayasannya DR Sechan Shahab.

''Kira-kira di tempat inilah dulu terletak Warung Buncit, yang kini diabadikan jadi nama jalan dan kampung,'' ujar HA Mas'ud Mardani (51), warga setempat. Dinamakan demikian, karena Cina pemilik warung tersebut perutnya buncit. Sekalipun warung dan pemiliknya sudah lenyap, nama Warung Buncit sampai kini tetap melekat.

Kala itu, warung-warung milik warga Tionghoa yang tersebar di berbagai pelosok Jakarta tidak satupun memakai papan nama. Warung mereka lebih dikenal berdasarkan postur tubuh pemiliknya. Seperti warung si jangkung (pemiliknya bertubuh jangkung), atau warung si gemuk, dan ada yang dinamakan warung si kurus.

Di Kwitang, Jakarta Pusat, ada yang disebut warung andil, letaknya berdekatan dengan majelis taklim Habib Ali. Karena, warung itu didirikan secara patungan (andil). Masih di Kwitang, ada yang disebut warung asuk, karena anak-anaknya memanggil bapaknya dengan sebutan asuk yang dalam bahasa Cina berarti bapak. Hingga kini warung tersebut masih berdiri, menyediakan berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari beras sampai bahan-bahan pokok lainnya. Cuma tidak ada lagi arang dan kayu bakar seperti tahun 1950-an dan 60-an.

Jl Warung Buncit, terutama pagi dan sore, menjadi salah satu pusat kemacetan di Jakarta. Keadaan ini seperti langit dan bumi dibanding tahun 1960-an dan bahkan 1970-an. Waktu itu, kata Mas'ud, Jl Buncit Raya masih lengang. Jalan raya memang sudah ada, tapi belum diaspal. Bahkan pada 1950-an dan juga 1960-an, kawasan Warung Buncit sebagian masih merupakan hutan. Sementara para penduduknya, warga Betawi, dengan bergairah menanam pohon belimbing. Buah belimbing dari daerah ini, yang disebut belimbing semarang, terkenal sekali manis dan besar-besar. ''Kini sudah punah, tak satu pun yang tinggal,'' kata H Mas'ud dan adiknya, H Mustafa.

Bukan hanya pemilik rumah yang berpekarangan besar yang terlibat dalam perdagangan belimbing, tapi juga sebagian besar penduduk Mampang dan Buncit. Hasil panen belimbing dibagi tiga. Sepertiga untuk pemilik rumah, sepertiga untuk para buruh yang sejak buahnya masih kecil dengan teliti membungkusnya dengan daun pisang. Dan sisanya untuk biaya operasional, seperti daun pisang dan tali untuk pengikat.

Lalu bagaimana situasi di perapatan Republika kala itu? Sampai tahun 1975, masih berupa persawahan dengan rumput dan alang-alang. Sebagian lagi terdiri dari empang. Banyak warga Betawi beternak ikan di sini. Kala itu, para penduduk juga punya penghasilan dari ternak sapi. Mereka yang berpunya memelihara puluhan ekor sapi. Kala itu, jumlah sapi di Buncit mencapaim ribuan ekor. Kini, kata Mas'ud, hanya sekitar 300-an ekor sapi. Sedangkan peternaknya bisa dihitung dengan jari.

Lalu bagaimana masa depan para peternak itu? Mas'ud yang ayahnya memiliki peternakan kecil-kecilan pesimis akan masa depan mereka. Seperti juga nasib perkebunan belimbing yang sudah punah, usaha ternak sapi juga akan mengalami nasib sama. Dulu, kata Mas'ud, orang yang memiliki 10 ekor sapi bisa menutup biaya hidup keluarganya. Sekarang sudah tidak bisa lagi. ''Dulu punya sapi 15 ekor sapi sudah bisa beli tanah. Sekarang malah jual tanah,'' katanya pesimis.

Tak heran kalau sekarang banyak kandang-kandang sapi yang telah berubah fungsi jadi rumah kontrakan. Oleh mereka sapinya dijual dengan harga sekitar Rp 5-10 juta. Hasil penjualan sapi itu cukup untuk membuat rumah kontrakan. Seperti kandang sapi berukuran 400 meter, misalnya bisa jadi rumah kontrakan 15 unit. ''Satu unit dikontrak Rp 400 ribu per bulan. Kan hasilnya lumayan,'' katanya.

Yang cukup merisaukan peternak sapi di Buncit, dan peternak sapi di Kuningan yang jumlahnya jauh lebih banyak, pakan ternak kini harganya sudah sangat mahal. Kalau dulu kita bisa mengambil rumput dari Buncit, sekarang harus ke Cengkareng dan Kapuk Muara.

Di tengah-tengah membanjirnya pendatang, yang tetap masih eksis di Buncit adalah kerak telor. Mashud berani menjamin, di antara para penjual kerak telor yang banyak mangkal di mal, pertokoan, dan pusat-pusat keramaian, 99 persen dari Warung Buncit. Mereka berdagang turun menurun sejak kakak mereka berjualan di Pasar Gambir tahun 1940-an. Yang menggembirakan, ujar Mas'hud, kerak telor kini sudah masuk pertokoan mewah. Bahkan sudah sampai ke Bandung, dan sedikit waktu lagi ke Manado.

Di antara para pedagang kerak telor itu adalah warga Betawi yang masih tersisa di Buncit. Kalau di pinggir-pinggir 90 persen dihuni pendatang, tapi kalau agak ke dalam masih sekitar 60-70 persen. Mereka dikenal sebagai warga yang agamis, setiap hari Ahad pagi menghadiri pengajian di Majelis Taklim Kwitang. ''Saya sendiri sejak masa kakek saya sampai kini masih tetap ke pengajian Habib Ali,'' ujar Mas'ud.

Salah satu kegemaran warga Betawi di Buncit adalah orkes gambus, kemudian orkes Melayu, dan kini dangdut. Pada tahun 1950-an, warga sering patungan menumpang oplet menonton film Mesir di Alhambra, Sawah Besar. Tidak heran, di Buncit sampai kini berdiri Orkes Gambus Arominia pimpinan H Ahmad Sukendi, putra asli Mampang Perapatan.

Di Buncit juga dikenal sejumlah ulama yang namanya kesolhor di Jakarta, seperti KH Salam Djaelani, Kh Abdcullah Musa, dan KH Tohir. Seperti kebanyakan ulama Betawi, mereka belajar agama di Mesir dan Arab Saudi. Di samping almarhum Habib Ali, almarhum KH Abdullah Sjafii juga merupakan ulama yang dihormati di Buncit.

Di kawasan ini juga terdapat sejumlah pemain rebana burdah, rebana yang berukuran 50 Cm. Rebana ini dikembangkan oleh Sayid Abdullah Ba'mar, yang dulu merupakan orang terkaya di kawasan Kuningan dan Buncit. Wan Dulloh, panggilan tuan tanah ini, kata Mas'ud, pada 1950-an punya tanah yang kini dikenal sebagai kawasan segi tiga emas, antara Jl Gatot Subroto dan Jl Tendean.

(Alwi Shahab )

Onrust dan Hukuman Tembak Kartosuwiryo

Pulau Onrust salah satu pulau terdekat dengan Jakarta di antara pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Menuju ke Pulau Onrust dari Pelabuhan Muara Kamal Jakarta Utara dengan perahu tradisional hanya perlu waktu 10-15 menit saja.

Pulau yang luasnya 12 hektar dan kini akibat abrasi tinggal 8 hektar, jaraknya hanya 14 km dari Jakarta. Tidak heran kalau pulau di Teluk Jakarta ini, kini banyak dikunjungi wisatawan, khususnya para mahasiswa dan pelajar, terutama di masa liburan. Karena di pulau yang memiliki sejarah panjang ini, oleh Dinas Museum dan Kebudayaan DKI Jakarta dijadikan sebagai Taman Arkeologi Nasional. Ini berkaitan dengan banyaknya peristiwa penting di Pulau Onrust.

Kata Onrust berasal dari bahasa Belanda : ''tanpa istirahat'' atau ''sibuk''. Nama ini dikenal sejak abad ke-17, terutama oleh orang Belanda. Sedangkan penduduk setempat mengenalnya sebagai Pulau Kapal. Pulau yang pernah disengketakan antara Pemprov DKI Jakarta dan Pemprov Banten, pada sekitar 1613 VOC mendirikan galangan kapal. James Cook, sebelum menemukan Benua Australia terlebih dulu kapalnya diperbaiki di pulau ini. Dia kemudian memujinya sebagai galangan kapal terbaik. Sebelumnya pulau ini pernah menjadi tempat peristirahatan para keluarga kesultanan Banten.

Dari pulau inilah VOC menyiapkan armadanya untuk menyerang Jayakarta, ketika sebelumnya pada 10-13 November 1610 mengadakan perjanjian dengan Pangeran Jayakarta. Pangeran mengizinkan VOC membangun sebuah galangan kapal di Onrust. Yang akhirnya justru jadi bumerang bagi Jayakarta. Karena dibalik perjanjian itu, JP Coen berencana ingin menjadikannya sebagai koloni Belanda. Onrust kemudian semakin kuat sebagai pertahanan dan depot logistik VOC. Di sini dipekerjakan 148 abdi kompeni dan 200 orang budak, yang diperlakukan tidak manusiawi. Kemudian ratusan warga Tionghoa disuruh bekerja di sini.

Pulau ini dua kali digembur dan diluluhlantakkan Inggris ketika melakukan blokade terhadap Batavia. Yaitu pada 1800 dan 1806. Inggris baru angkat kaki 1816. Pulau Onrust pernah menjadi karantina haji hingga 1911 sampai 1940. Kemudian dijadikan tawanan para pemberontak yang terlibat dalam ''Peristiwa Kapal Tujuh'' (Zeven Provincien). Pada 1940 dijadikan sebagai tawanan warga Jerman, yang pada masa berkuasanya Hitler jadi musuh Belanda. Pada masa pendudukan Jepang, Onrust dijadikan penjara bagi para penjahat kriminal kelas berat.

Setelah kemerdekaan Onrust dimanfaatkan sebagai Rumah Sakit Karantina bagi penderita penyakit menular hingga 1960-an. Kala itu, mereka yang menderita penyakit cacar tanpa ampun dikarantina di Onrust. Kalau saja rumah sakit karantina itu masih berdiri mungkin saja mereka yang terinfeksi penyakit flu burung ditempatkan di sini. Bukan hanya mereka yang menderita penyakit menular, para gelandangan dan pengemis juga ditampung di Pulau Onrust. Maklum kala itu, banyak tamu negara berdatangan ke Jakarta. Dan Bung Karno memerintahkan agar para pengemis dan gelandangan yang dapat menjelekkan citra Jakarta harus dibersihkan.

Pada masa itu, tokoh pemberontak DI/TII, Maridjan Kartosuwiryo, yang tertangkap di Leles, Garut, setelah dijatuhi hukuman mati juga ditembak di Pulau Onrust. Menurut Bung Karno seperti diceritakannya pada penulis Solichin Salam, sebelum menjatuhi hukuman itu, dia terlebih dahulu shalat meminta petunjuk Allah. Sejumlah tokoh Liga Demokrasi seperti Haji Princen dkk yang menentang Demokrasi Terpimpin-nya Bung Karno juga pernah diasingkan di pulau ini.

Di Onrust kita masih menjumpai kuburan orang-orang Belanda, barak tempat karantina haji, rumah dokter haji dan petugas kesehatan yang masih terpelihara utuh. Pokoknya Onrust pantas didatangi, yang kini tengah disiapkan jadi Museum Arkeologi.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

'Dukun Pateh' dari Cikini

Berhadapan dengan stasion kereta api Cikini, Jakarta Pusat, terletak sebuah pasar yang dikelilingi pertokoan dan gedung modern. Seperti juga nama stasion, Pasar Cikini dulunya hanya merupakan pasar tradisional seperti yang banyak terdapat di Jakarta. Entah sudah berapa lama keberadaan pasar ini. Tapi, jelas lebih tua dari gedung bioskop Metropore (kini Megaria) yang berada di dekatnya. Bioskop yang pernah menjadi bioskop termegah di Jakarta itu dibangun tahun 1950.

Memasuki pasar Cikini, yang juga menampung puluhan pedagang kembang warga Betawi yang sudah turun menurun berjualan di sini, terdapat Gang Ampiun, terletak di sebuah gang kecil. Di Gang Ampiun No 10 terdapat sebuah rumah yang banyak didatangi orang -- dari pagi hingga malam. Mereka datang untuk pengobatan patah tulang atau keseleo. Di rumah inilah dulu Haji Asmawi bin H Jasim membuka prakteknya. Karena banyak mengobati mereka yang menderita patah tulang, dia lebih dikenal sebagai 'dukun patah'. Sedang orang Betawi menyebutnya 'dukun pateh'.

Waktu itu, ketika Haji Asmawi mulai buka praktek pengobatan patah tulang, di Jakarta belum dikata belum banyak dokter spesialis tulang. Mungkin jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari. Pengobatan tulang di Cimande juga belum dikenal. Kala itu, banyak pemain bola termasuk dari klub-klub Persija, bila patah tulang dan keseleo akibat benturan, pergi ke H Asmawi.

Setelah Haji Asmawi meninggal dunia tahun 1972 dalam usia 71 tahun, praktek di Gang Ampiun, Cikini, diteruskan oleh putrinya, Ibu Nasidah, dan cucunya, H Darajatullah. Sementara, salah seorang putranya, dr Sufat, yang mendapatkan pendidikan dokter dari Jerman, membuka praktek di Jl Cirebon, Menteng, Jakarta Pusat. Tiap hari banyak pasien termasuk penderita patah tulang yang datang ke prakteknya.

Seperti dikemukakan putranya, H Paisal Kamal (70 tahun) yang kini menjabat Ketua Yayasan STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) di Rawamangun, keahlian ayahnya memang diikuti para keluarga. Haji Asmawi yang memiliki 18 putra-putri dari tiga istri, kata dokter Paisal, semuanya bisa mengobati penderita patah tulang. Bahkan para istrinya juga bisa mengobati mereka yang patah tulang dan keseleo.

Saya sendiri, sekitar tahun 1950 saat bermain sepakbola 'Anak-anak Gawang' di Gambir (kini Monas), menderita patah tulang tangan kiri setelah bertubrukan dengan lawan. Oleh kawan-kawan saya langsung di gotong ke Cikini. Alhamdulillah, setelah berobat selama sebulan dan datang tiap minggu, tulang tangan saya yang patah nyambung kembali.

Sekitar tahun 1969 ketika mengendarai skuter Vespa dari kantor berita Antara, saat hendak membelok ke Jl Pintu Air depan Istiqlal, tiba-tiba diserempet sebuah mobil. Sayapun terjatuh, dan Vespa menimpa dengkul saya hingga retak. Oleh kawan-kawan Antara, saya pun digotong dan dibawa ke Haji Asmawi. Setelah sekitar dua bulan, tulang knee (dengkul) yang retak itu sembuh. Untuk beberapa lama saya dianjurkan untuk memakai knee decker seperti yang biasa dipakai pemain volley dan basket.

Memang, dalam pengobatan terhadap mereka yang menderita patah tulang, oleh Haji Asnawi, tidak ada yang di-gips seperti di rumah-rumah sakait. Cukup diperban setelah sebelumnya diurut dengan minyak (tradisional). Kemudian diberikan jamu yang menurut cucunya, drg Azizah, ramuannya dibuat oleh kakeknya sendiri.

Lalu para pasiennya diharuskan melakukan sejumlah pantangan yang benar-benar harus dihindari. Seperti kacang-kacangan, nanas, telur, cumi, udang, rajungan dan sejumlah makanan lainnya. Menurut putranya, dr Paisal Kamal, pantangan dimaksudkan agar penderita tidak gatal-gatal dan batuk-batuk. Karena, bisa berakibat buruk.

Dalam melaksanakan pengobatan, seperti yang saya alami, Haji Asmawi yang selalu berpeci hitam, kadang-kadang bersuara keras, seperti memarahi pasiennya. Dalam hal ini dia tidak pandang bulu, apakah pasiennya tukang becak atau pejabat tinggi dan orang kaya. Pasien, setelah diurut, dipaksa jalan serta mengangkat kaki yang sakit. Kecuali pasien yang patah tulang, baru setelah tiga minggu berobat dipaksa berjalan atau mengangkat tangan yang patah.

Menurut dr Paisal, itu untuk mempercepat penyembuhan. ''Karena itulah ayah berbicara keras, guna mendorong keberanian si pasien,'' ujarnya. Dan, umumnya yang berobat kepadanaya, hampir semuanya sembuh. Di samping menularkan pengobatan patah tulang kepada putra-putri dan para cucu, Haji Asmawi juga berhasil dalam mendidik mereka. Seperti H Paisal, disamping mengajar di perguruan tinggi, juga membuka pondok pesantren di Ciawi, Bogor. Beberapa putranya juga jadi sarjana dalam berbagai disiplin ilmu. Sedangkan cucunya ada yang jadi sarjana hukum, sarjana ekonomi, dan lulusan AKABRI.

Haji Asmawi membuka praktek sejak 1948, saat ia berusia 47 tahun. Seperti juga kebanyakan warga Betawi yang keadaannya cukup mampu kala itu, Haji Asmawi pernah bermukim di kota suci Makkah selama dua tahun. Di sini dia banyak belajar dari sejumlah ulama di Masjidil Haram. Sepulang dari tanah suci, dia tidak langsung membuka pengobatan patah tulang, tapi selama beberapa waktu memberikan pelajaran agama. ''Terutama dalam ilmu nahwu (tatabahasa),'' kata Paisal.

Baru setelah buka praktek pada 1948, dia lebih banyak mengabdikan diri pada pengobatan patah tulang. Maklum begitu banyak yang berobat, hingga ia buka praktek dari pagi sampai malam. Yang unik, seperti dituturkan putranya, almarhum memiliki keahlian mengobati penyakit patah tulang sudah tujuh turunan. Jadi kemungkinan keluarga ini memiliki keahlian demikian sejak abad ke-18. Mungkin hampir sama dengan usia kota Batavia (Betawi).

(Alwi Shahab )

Tersindir Surah Al-Maidah

Usianya sudah 75 tahun (lahir 22 September 1930 di Jakarta). Tapi badannya masih tampak gagah. Bahkan ia masih dapat membaca tanpa harus menggunakan kaca mata. Jalannya masih cukup gesit untuk manula yang berusia tiga perempat abad. Itulah Haji Irwan Sjafi'ie, tokoh Betawi yang turut mendirikan Lembaga Kesenian Betawi (LKB).

Bahkan kakek enam orang anak dan 12 cucu ini, sampai tahun lalu masih aktif sebagai Ketua LKB yang bertujuan untuk melestarikan budaya Betawi ditengah maraknya budaya asing. Kepada Republika yang berkunjung ke kediamannya di Jl Setiabudi, Jakarta Pusat, Pak Haji -- demikian ia kerap dipanggil -- tanpa sungkan ia mengaku pernah menjadi "jagoan" atau istilah sekarang, preman.

Ia menceritakan penggalan hidupnya di tahun 1950-an, ketika ia masih berusia 20 tahun. Sebagai anak Betawi, ia mahir maen pukulan (silat). Kepandaiannya bermain pencak silat, ditambah lagi dengan tubuhnya yang tinggi dan tegap, menjadikannya pemuda yang disegani. Dia pun menjadi jagoan dan 'menguasai' seputar daerah Guntur, Menteng, tepatnya di bioskop Ratna di Menteng dan bioskop Gembira di Jl Kawi (kini keduanya sudah dibongkar dan dibangun pertokoan dan perkantoran). ''Tiap bulan mereka nyetor sama saya,'' ujarnya.

Para preman di kawasan itu, sampai di bioskop-bioskop Metropole (kini Megaria), Menteng dan Garden Hall (kini merupakan bagian dari Taman Ismail Marzuki-TIM) tidak ada yang berani dengan dia. Sebagai jagoan, ia memiliki anak buah tidak kurang 120 orang. Mereka siap melaksanakan apa yang diperintahkannya. ''Terhadap anak buah saya yang penakut saya pukul dengan buntut ikan pari yang ujungnya runcing dan bergerigi. Hukuman ini sangat ditakuti. Karena disamping sangat sakit, kulit bisa berkelupas,'' ujarnya.

Di bioskop Ratna dan Gembira yang terletak antara di Jl Kawi dan Jl Papandyan, Menteng, merupakan posnya sehari-hari. Toko-toko di Pasar Rumput dan Guntur di kawasan Manggarai, setiap bulan 'wajib' menggulirkan upeti baginya. Telat memberi setoran, tanggung sendiri akibatnya, begitu "hukum" yang ditetapkan olehnya.

Kadang-kadang, kalau bioskop lagi sepi sedangkan duit sudah tipis, ia dan kawan-kawan sengaja mencari keributan. ''Seperti ada orang yang memakai jam tangan yang cukup mahal harganya, kebetulan ia bertolak pinggang. Kita sengaja mencari keributan, dan saat ribut, tahu-tahu jam tangannya sudah digasak anak buah saya,'' ujarnya.

Irwan juga mengaku hidup dari hasil judi, bahkan minuman keras. Saya dan teman-teman membuka perjudian di berbagai tempat di Jakarta, seperti di Glodok, Tanah Tinggi, dan di Jatinegara. ''Kadang-kadang untuk menghindari razia oleh pihak kepolisian dan tentara, kita membuka tempat perjudian di Tugu, Puncak,'' tambahnya.

Lama menekuni "jalan" haram membuatnya bosan dan risih. Puncaknya, tahun 1965, ketika terjadi peristiwa G30S/PKI. Entah karena alasan apa, ia dipercaya sebagai Ketua BP (Badan Pembantu) Pengganyangan G30S/PKI, dibawah binaan Markas Daerah Pertahanan Sipil dibawah pimpinan Letkol Obrien Sacakusumah.

''Dalam masa-masa itu, mulai timbul kesadaran dalam diri saya. Firaun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan, akhirnya tidak berdaya menghadapi kematian dan ia pun kembali ke kubur,'' ujarnya.

Dalam keadaan demikian, suatu ketika saya diundang untuk menghadiri peringatan Isra'Mi'raj Nabi Muhammad SAW di Pasar Rumput. Salah seorang penceramahnya mengutip ayat Alquran dalam surah Al-Maidah ayat 90 yang berbunyi : ''Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum minuman keras, berjudi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu dapat keberuntungan...''

Mendengar ayat tersebut, saya marah dan merasa disindir. Saya keluar dari tempat perayaan. Kemudian saya ambil batu, dan menimpuk tenda tempat peringatan Isra Mi'raj yang terbuat dari seng. Saya berlalu dan kidak ada yang berani menegur saya.

Hanya sang ayah, Haji Murtado, satu-satunya orang yang berani berhadap-hadapan dengannya. ''Itu bukannye nyindir. Siapapun yang baca ayat itu, ya artinya begitu. Itu adalah wahyu Allah. Ini perigatan dari Allah. Mudah-mudahan elu perhatikan dan segera bertobat.''

Lama Irwan mencerna dan merenungi kata-kata ayahnya. Ia menemukan kebenaran di balik ucapan itu. Ia pun bertekad untuk "melawan" dirinya sendiri. Tiap hari ia bangun pukul 03.00 pagi, lalu jalan kaki ke Masjid Attaqwa yang lokasinya lumayan jauh dari rumahnya untuk mendengarkan kulih subuh.

Jalannya menuju tobat tidak selamanya mulus. Kerap kali teman-temannya mengejeknya. Misalnya, sepulang mengaji, ia ditegur dengan bahasa plesetan, ''Baru kuliah susu, nih.'' Namun sebisa mungkin, amarah dibuangnya jauh-jauh.

Tahun 1967, ketika Jakarta Fair dibuka di Monas, ia kembali didatangi rekan-rekan dan kolega bisnisnya. Ia diminta menjaga stan judi dengan bayaran cukup besar. Saat itu, Irwan sudah bisa menjawab tegas, ''Jangankan jaga judi. Bapak menang maen judi sekarang, lalu memberi saya uang, haram bagi saya menerimanya.''

Irwan merayakan 'kemenangan' melawan dirinya dengan mengajak masyarakat membangun mushala kecil di Jl Muria, Ujung Menteng, yang hingga kini masih berdiri. Setahun kemudian ia dikukuhkan sebagai wakil lurah Guntur. Kemudian menjadi lurah Karet. Ia sempat mendapat penghargaan Satyalencana dari Presisen.

Pada 1981, ia jadi Lurah di Petukangan Utara, dan mengajak masyarakat membangun jalan, masjid dan mushola, disamping menyantuni yatim piatu. Melarang segala bentuk judi termasuk biliar, dan pada tiap bulan Ramadhan mengadakan tarawih keliling.

Tahun 1990 ditugaskan di kelurahan Cipulir, Kebayoran Lama. Tahun 1992 ia berhenti dari aktivitasnya di pemerintahan dan mengabdikan diri pada LKB sampai Desember 2004.

Ia menunaikan rukun Islam 1974. Yang menarik, ia selalu datang ke Tanah Suci atas sponsor seseorang. ''Pada 28 April 2004 saya dan istri diberangkatkan umroh oleh seorang dermawan,'' ujarnya.

Tawaran umroh kembali datang pada saya dan istri. Kali ini dari H Biem Benyamin, putra tokoh Betawi almarhum Benyamin Suaeb. Sebenarnya bulan Mei lalu juga ada yang ingin membiayainya berumroh, tapi ditunda pada bulan ini. ''Jadi kalau Allah mengizinkan tiga kali saya umroh dibiayai orang,'' ujarnya.

Ia mengaku selalu ada semangat baru sepulangnya dari Tanah Suci. Favoritnya di sana adalah berdoa di Multazam. ''Ya Allah jangan Engkau akhiri kedatanganku di masjidMu ini, dan jangan Engkau jadikan kedatanganku untuk terakhir kali: doa itu yang selalu saya baca.''

(alwi shahab )

Tersindir Surah Al-Maidah

Usianya sudah 75 tahun (lahir 22 September 1930 di Jakarta). Tapi badannya masih tampak gagah. Bahkan ia masih dapat membaca tanpa harus menggunakan kaca mata. Jalannya masih cukup gesit untuk manula yang berusia tiga perempat abad. Itulah Haji Irwan Sjafi'ie, tokoh Betawi yang turut mendirikan Lembaga Kesenian Betawi (LKB).

Bahkan kakek enam orang anak dan 12 cucu ini, sampai tahun lalu masih aktif sebagai Ketua LKB yang bertujuan untuk melestarikan budaya Betawi ditengah maraknya budaya asing. Kepada Republika yang berkunjung ke kediamannya di Jl Setiabudi, Jakarta Pusat, Pak Haji -- demikian ia kerap dipanggil -- tanpa sungkan ia mengaku pernah menjadi "jagoan" atau istilah sekarang, preman.

Ia menceritakan penggalan hidupnya di tahun 1950-an, ketika ia masih berusia 20 tahun. Sebagai anak Betawi, ia mahir maen pukulan (silat). Kepandaiannya bermain pencak silat, ditambah lagi dengan tubuhnya yang tinggi dan tegap, menjadikannya pemuda yang disegani. Dia pun menjadi jagoan dan 'menguasai' seputar daerah Guntur, Menteng, tepatnya di bioskop Ratna di Menteng dan bioskop Gembira di Jl Kawi (kini keduanya sudah dibongkar dan dibangun pertokoan dan perkantoran). ''Tiap bulan mereka nyetor sama saya,'' ujarnya.

Para preman di kawasan itu, sampai di bioskop-bioskop Metropole (kini Megaria), Menteng dan Garden Hall (kini merupakan bagian dari Taman Ismail Marzuki-TIM) tidak ada yang berani dengan dia. Sebagai jagoan, ia memiliki anak buah tidak kurang 120 orang. Mereka siap melaksanakan apa yang diperintahkannya. ''Terhadap anak buah saya yang penakut saya pukul dengan buntut ikan pari yang ujungnya runcing dan bergerigi. Hukuman ini sangat ditakuti. Karena disamping sangat sakit, kulit bisa berkelupas,'' ujarnya.

Di bioskop Ratna dan Gembira yang terletak antara di Jl Kawi dan Jl Papandyan, Menteng, merupakan posnya sehari-hari. Toko-toko di Pasar Rumput dan Guntur di kawasan Manggarai, setiap bulan 'wajib' menggulirkan upeti baginya. Telat memberi setoran, tanggung sendiri akibatnya, begitu "hukum" yang ditetapkan olehnya.

Kadang-kadang, kalau bioskop lagi sepi sedangkan duit sudah tipis, ia dan kawan-kawan sengaja mencari keributan. ''Seperti ada orang yang memakai jam tangan yang cukup mahal harganya, kebetulan ia bertolak pinggang. Kita sengaja mencari keributan, dan saat ribut, tahu-tahu jam tangannya sudah digasak anak buah saya,'' ujarnya.

Irwan juga mengaku hidup dari hasil judi, bahkan minuman keras. Saya dan teman-teman membuka perjudian di berbagai tempat di Jakarta, seperti di Glodok, Tanah Tinggi, dan di Jatinegara. ''Kadang-kadang untuk menghindari razia oleh pihak kepolisian dan tentara, kita membuka tempat perjudian di Tugu, Puncak,'' tambahnya.

Lama menekuni "jalan" haram membuatnya bosan dan risih. Puncaknya, tahun 1965, ketika terjadi peristiwa G30S/PKI. Entah karena alasan apa, ia dipercaya sebagai Ketua BP (Badan Pembantu) Pengganyangan G30S/PKI, dibawah binaan Markas Daerah Pertahanan Sipil dibawah pimpinan Letkol Obrien Sacakusumah.

''Dalam masa-masa itu, mulai timbul kesadaran dalam diri saya. Firaun yang mengaku dirinya sebagai Tuhan, akhirnya tidak berdaya menghadapi kematian dan ia pun kembali ke kubur,'' ujarnya.

Dalam keadaan demikian, suatu ketika saya diundang untuk menghadiri peringatan Isra'Mi'raj Nabi Muhammad SAW di Pasar Rumput. Salah seorang penceramahnya mengutip ayat Alquran dalam surah Al-Maidah ayat 90 yang berbunyi : ''Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum minuman keras, berjudi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu dapat keberuntungan...''

Mendengar ayat tersebut, saya marah dan merasa disindir. Saya keluar dari tempat perayaan. Kemudian saya ambil batu, dan menimpuk tenda tempat peringatan Isra Mi'raj yang terbuat dari seng. Saya berlalu dan kidak ada yang berani menegur saya.

Hanya sang ayah, Haji Murtado, satu-satunya orang yang berani berhadap-hadapan dengannya. ''Itu bukannye nyindir. Siapapun yang baca ayat itu, ya artinya begitu. Itu adalah wahyu Allah. Ini perigatan dari Allah. Mudah-mudahan elu perhatikan dan segera bertobat.''

Lama Irwan mencerna dan merenungi kata-kata ayahnya. Ia menemukan kebenaran di balik ucapan itu. Ia pun bertekad untuk "melawan" dirinya sendiri. Tiap hari ia bangun pukul 03.00 pagi, lalu jalan kaki ke Masjid Attaqwa yang lokasinya lumayan jauh dari rumahnya untuk mendengarkan kulih subuh.

Jalannya menuju tobat tidak selamanya mulus. Kerap kali teman-temannya mengejeknya. Misalnya, sepulang mengaji, ia ditegur dengan bahasa plesetan, ''Baru kuliah susu, nih.'' Namun sebisa mungkin, amarah dibuangnya jauh-jauh.

Tahun 1967, ketika Jakarta Fair dibuka di Monas, ia kembali didatangi rekan-rekan dan kolega bisnisnya. Ia diminta menjaga stan judi dengan bayaran cukup besar. Saat itu, Irwan sudah bisa menjawab tegas, ''Jangankan jaga judi. Bapak menang maen judi sekarang, lalu memberi saya uang, haram bagi saya menerimanya.''

Irwan merayakan 'kemenangan' melawan dirinya dengan mengajak masyarakat membangun mushala kecil di Jl Muria, Ujung Menteng, yang hingga kini masih berdiri. Setahun kemudian ia dikukuhkan sebagai wakil lurah Guntur. Kemudian menjadi lurah Karet. Ia sempat mendapat penghargaan Satyalencana dari Presisen.

Pada 1981, ia jadi Lurah di Petukangan Utara, dan mengajak masyarakat membangun jalan, masjid dan mushola, disamping menyantuni yatim piatu. Melarang segala bentuk judi termasuk biliar, dan pada tiap bulan Ramadhan mengadakan tarawih keliling.

Tahun 1990 ditugaskan di kelurahan Cipulir, Kebayoran Lama. Tahun 1992 ia berhenti dari aktivitasnya di pemerintahan dan mengabdikan diri pada LKB sampai Desember 2004.

Ia menunaikan rukun Islam 1974. Yang menarik, ia selalu datang ke Tanah Suci atas sponsor seseorang. ''Pada 28 April 2004 saya dan istri diberangkatkan umroh oleh seorang dermawan,'' ujarnya.

Tawaran umroh kembali datang pada saya dan istri. Kali ini dari H Biem Benyamin, putra tokoh Betawi almarhum Benyamin Suaeb. Sebenarnya bulan Mei lalu juga ada yang ingin membiayainya berumroh, tapi ditunda pada bulan ini. ''Jadi kalau Allah mengizinkan tiga kali saya umroh dibiayai orang,'' ujarnya.

Ia mengaku selalu ada semangat baru sepulangnya dari Tanah Suci. Favoritnya di sana adalah berdoa di Multazam. ''Ya Allah jangan Engkau akhiri kedatanganku di masjidMu ini, dan jangan Engkau jadikan kedatanganku untuk terakhir kali: doa itu yang selalu saya baca.''

(alwi shahab )

'Istana' Raden Saleh, Cikini

Memasuki Rumah Sakit DGI 'Cikini', Jakarta Pusat, melalui pintu gerbangnya di Jl Raden Saleh terdapat sebuah gedung besar seperti layaknya sebuah istana. Gedung berlantai dua yang sebagian temboknya bercat putih, merupakan barang langka di Ibukota karena keantikan dan kekunoannya. Gedung tersebut bekas kediaman pelukis Raden Saleh (1811-1880).

Hampir tidak ada yang tahu gedung yang jadi tempat para pemimpin RS DGI Cikini ini, adalah tiruan dari satu istana kecil di Jerman. Yakni Istana Callenburg yang sering dikunjungi Raden Saleh. Ternyata Raden Saleh bukan hanya pelukis kondang tapi juga seorang arsitek handal. Pelukis kelahiran Semarang (1811) dari keluarga Syarif Bustaman inilah yang merancang gedung ini untuk tempat tinggalnya.

Raden Saleh pada 1829 dikirim ke Belanda, di samping untuk melukis juga akan dijadikan pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Pada 1839 setelah 10 tahun di Negeri Kincir Angin ia minta agar diberi kesempatan melakukan perjalanan keliling Eropa sebelum kembali ke Indonesia. Anak muda ini berkelana dengan kapal menyusuri sungai Rhein hingga ke Dusseldorf. Untuk kemudian mendatangi berbagai tempat di Jerman, dan Eropa. Dalam buku Napas Tilas Hubungan Jerman - Indonesia, Rd Saleh dilukiskan sebagai penyayang binatang. Dengan postur tubuhnya yang kecil dia dikenal sebagai pengendara kuda yang handal dan pemancing ikan yang kreatif.

Sekembalinya ke Indonesia, di atas tanah yang ia beli dari istrinya Winckelmann, seorang Jerman kelahiran Batavia, ia pun membangun istananya di Cikini: tiruan dari Istana Callemburg. Di Batavia, Raden Saleh menolak masuk dalam dinas penguasa kolonial Belanda. Beberapa karya lukisannya sangat digemari Bung Karno, dan masuk dalam koleksi Istana Kepresidenan.

Di antara lukisannya yang menonjol adalah 'Penangkapan Diponegoro' yang diselesaikan 1858. Bertentangan dengan pelukis kolonial, Raden Saleh yang bersimpati pada Diponegoro dengan penuh keberanian melukiskan bahwa pangeran dari Kesultanan Mataram ini sebagai pemenang bermoral, yang berjalan ke tahanan dengan muka menantang. Merupakan karya lukis revolusioner dan anti kolonial. Lukisan ini dibawa kembali ke Jakarta setelah kemerdekaan, setelah bertahun-tahun berada di Belanda. Diponegoro yang pernah dipenjara di Stadhuis (kini Museum Sejarah DKI Jakarta) sebelum dibuang ke Makassar, adalah korban kelicikan Belanda. Yang menangkapnya dengan tipuan untuk berunding.

Sebagai cicit Sayid Abdullah Bustam dan putra Sayid Husein bin Yahya, Raden Saleh selama di Maxem, Jerman mendirikan sebuah mushola bertuliskan basmalah dalam bahasa Jerman dan Jawa. Sementara di dekat kediamannya di Cikini ia juga membangun sebuah surau (1860). Setelah beberapa kali tergusur surau tersebut kini menjadi masjid Cikini, yang dapat menampung lebih 1000 jamaah.

Sebagai penyayang binatang, Raden Saleh mendirikan kebon binatang pertama di Cikini, yang masih merupakan bagian dari tanah kediamannya. Kebon Binatang ini pada masa gubernur Ali Sadikin akhir 1960-an dipindahkan ke Ragunan, Jakarta Selatan. Kediamannya di Cikini terbentang dari TIM, dua bioskop (Garden Hall dan Podium), kolam renang Cikini, SMP I Cikini, yang dulunya merupakan pintu gerbang untuk masuk ke kediamannya. Ketika pindah ke Bogor, pelukis ini menjual rumah beserta tanahnya pada Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, pemilik gedung Museum Tekstil di Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Kemudian rumah dan tanah yang luas itu dijual pada Koningen Emma Ziekerhuis (Yayasan Ratu Belanda Emma), dengan harga 100 ribu gulden. Mengetahui rumah dan tanah akan dijadikan rumah sakit, Abdullah Alatas memotong harga penjualan jadi 50 ribu gulden. Ketika Indonesia merdeka, yayasan ini menyerahkannya kepada RS DGI Cikini.

Ketika terjadi kerusuhan di Bekasi pada 1869 oleh kelompok Islam, Raden Saleh dituduh turut mendalanginya. Kediamannya di geledah, setelah dikepung 50 serdadu bersenjata lengkap. Pelukis ini meninggal di Bogor (1880) dan dimakamkan di Jl Bondongan (kini Jl Pahlawan). Bersebelahan dengan makam istrinya RA Danurejo, putri dari kesultan Mataram. Setelah sebelumnya pelukis ini bercerai dengan istrinya dari Jerman.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

'Istana' Raden Saleh, Cikini

Memasuki Rumah Sakit DGI 'Cikini', Jakarta Pusat, melalui pintu gerbangnya di Jl Raden Saleh terdapat sebuah gedung besar seperti layaknya sebuah istana. Gedung berlantai dua yang sebagian temboknya bercat putih, merupakan barang langka di Ibukota karena keantikan dan kekunoannya. Gedung tersebut bekas kediaman pelukis Raden Saleh (1811-1880).

Hampir tidak ada yang tahu gedung yang jadi tempat para pemimpin RS DGI Cikini ini, adalah tiruan dari satu istana kecil di Jerman. Yakni Istana Callenburg yang sering dikunjungi Raden Saleh. Ternyata Raden Saleh bukan hanya pelukis kondang tapi juga seorang arsitek handal. Pelukis kelahiran Semarang (1811) dari keluarga Syarif Bustaman inilah yang merancang gedung ini untuk tempat tinggalnya.

Raden Saleh pada 1829 dikirim ke Belanda, di samping untuk melukis juga akan dijadikan pegawai pemerintahan Hindia Belanda. Pada 1839 setelah 10 tahun di Negeri Kincir Angin ia minta agar diberi kesempatan melakukan perjalanan keliling Eropa sebelum kembali ke Indonesia. Anak muda ini berkelana dengan kapal menyusuri sungai Rhein hingga ke Dusseldorf. Untuk kemudian mendatangi berbagai tempat di Jerman, dan Eropa. Dalam buku Napas Tilas Hubungan Jerman - Indonesia, Rd Saleh dilukiskan sebagai penyayang binatang. Dengan postur tubuhnya yang kecil dia dikenal sebagai pengendara kuda yang handal dan pemancing ikan yang kreatif.

Sekembalinya ke Indonesia, di atas tanah yang ia beli dari istrinya Winckelmann, seorang Jerman kelahiran Batavia, ia pun membangun istananya di Cikini: tiruan dari Istana Callemburg. Di Batavia, Raden Saleh menolak masuk dalam dinas penguasa kolonial Belanda. Beberapa karya lukisannya sangat digemari Bung Karno, dan masuk dalam koleksi Istana Kepresidenan.

Di antara lukisannya yang menonjol adalah 'Penangkapan Diponegoro' yang diselesaikan 1858. Bertentangan dengan pelukis kolonial, Raden Saleh yang bersimpati pada Diponegoro dengan penuh keberanian melukiskan bahwa pangeran dari Kesultanan Mataram ini sebagai pemenang bermoral, yang berjalan ke tahanan dengan muka menantang. Merupakan karya lukis revolusioner dan anti kolonial. Lukisan ini dibawa kembali ke Jakarta setelah kemerdekaan, setelah bertahun-tahun berada di Belanda. Diponegoro yang pernah dipenjara di Stadhuis (kini Museum Sejarah DKI Jakarta) sebelum dibuang ke Makassar, adalah korban kelicikan Belanda. Yang menangkapnya dengan tipuan untuk berunding.

Sebagai cicit Sayid Abdullah Bustam dan putra Sayid Husein bin Yahya, Raden Saleh selama di Maxem, Jerman mendirikan sebuah mushola bertuliskan basmalah dalam bahasa Jerman dan Jawa. Sementara di dekat kediamannya di Cikini ia juga membangun sebuah surau (1860). Setelah beberapa kali tergusur surau tersebut kini menjadi masjid Cikini, yang dapat menampung lebih 1000 jamaah.

Sebagai penyayang binatang, Raden Saleh mendirikan kebon binatang pertama di Cikini, yang masih merupakan bagian dari tanah kediamannya. Kebon Binatang ini pada masa gubernur Ali Sadikin akhir 1960-an dipindahkan ke Ragunan, Jakarta Selatan. Kediamannya di Cikini terbentang dari TIM, dua bioskop (Garden Hall dan Podium), kolam renang Cikini, SMP I Cikini, yang dulunya merupakan pintu gerbang untuk masuk ke kediamannya. Ketika pindah ke Bogor, pelukis ini menjual rumah beserta tanahnya pada Sayid Abdullah bin Alwi Alatas, pemilik gedung Museum Tekstil di Jatipetamburan, Jakarta Pusat. Kemudian rumah dan tanah yang luas itu dijual pada Koningen Emma Ziekerhuis (Yayasan Ratu Belanda Emma), dengan harga 100 ribu gulden. Mengetahui rumah dan tanah akan dijadikan rumah sakit, Abdullah Alatas memotong harga penjualan jadi 50 ribu gulden. Ketika Indonesia merdeka, yayasan ini menyerahkannya kepada RS DGI Cikini.

Ketika terjadi kerusuhan di Bekasi pada 1869 oleh kelompok Islam, Raden Saleh dituduh turut mendalanginya. Kediamannya di geledah, setelah dikepung 50 serdadu bersenjata lengkap. Pelukis ini meninggal di Bogor (1880) dan dimakamkan di Jl Bondongan (kini Jl Pahlawan). Bersebelahan dengan makam istrinya RA Danurejo, putri dari kesultan Mataram. Setelah sebelumnya pelukis ini bercerai dengan istrinya dari Jerman.

(Alwi Shahab, wartawan Republika)

Mujahid yang Terlupakan

Hanya beberapa saat setelah Bung Karno dan Bung Hatta mengumandangkan proklamasi kemerdekaan Indonesia, suasana di Tanah Air, khususnya di Jakarta, terjadi berbagai pergolakan. Apalagi tidak lama kemudian, pasukan Belanda dengan mendompleng sekutu turut mendarat ke Jakarta.

Rakyat yang tidak ingin lagi melihat negerinya dijajah, melakukan perlawanan. Di Jakarta, di antara para ulama dan mualim yang menghimpun para pemuda untuk siap mati membela negara, ada nama Haji Mohammad Arif. Ia lebih dikenal dengan sebutan Haji Darip. Nama itulah yang kini diabadikan sebagai nama jalan di daerah Klender menuju arah Bekasi.

Haji Darip adalah putra asli Betawi yang lahir pada tahun 1886. Ia adalah sosok yang sangat disegani di wilayah Klender, Bekasi, dan sekitarnya. Selain dikenal sebagai mubaligh, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai. Begitu sekutu mendarat, ia memutuskan untuk turut angkat senjata mempertahankan kemerdekaan. Dengan prinsip "mencintai Tanah Air merupakan bagian dari iman", ia membakar semangat ratusan pemuda dari Klender dan sekitarnya. Namanya yang sudah dikenal membuatnya dalam waktu singkat mengumpulkan banyak pengikut.

Mereka lalu menghimpun diri dalam Bara (Barisan Rakyat) dipimpin Haji Darip sendiri. Mereka terlibat dalam pertempuran di beberapa front di kota Jakarta. Haji Darip sendiri saat itu dijuluki "Panglima Perang dari Klender".Sebuah brosur dari Angkatan 45 Daerah Khusus Ibukota tanggal 17 Agustus 1985 -- empat tahun setelah Haji Darip meninggal dunia -- menyebutkan, almarhum pada zaman penjajahan Belanda (sebelum perang dunia kedua), berjuang bersama Bung Karno bergerak di bawah tanah, terutama di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ketika pendudukan Jepang, menyaksikan kekejaman pasukan Dai Nippon ini, Haji Darip memimpin masyarakat di Klender dan menghimpun para narapidana dan napi Rutan Cipinang untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang.

Untuk menghimpun cerita tentang Haji Darip, Republika mendatangi kediaman H Uung, putra tertuanya. Keluarga ini tampak sangat bersahaya. Rumahnya berdekatan dengan stasiun kereta api Klender, setelah melewati Jl Pisangan Lama, Jakarta Timur. Menurut H Uung, ayahnya benar-benar berjuang lillahi ta'ala, sama seperti para ulama Betawi lainnya yang turut terlibat dalam perang kemerdekaan. Begitu tawaduknya, mereka tak mau menonjolkan diri usai perang dan namanya hilang dalam catatan sejarah. Semangatnya yang tidak pernah henti untuk mengusir penjajah, didasarkan pada ajaran agama bahwa penjajahan yang mengeksploitasi manusia tidak dibenarkan dalam Islam.

Sebelum menjadi ulama di Jakarta, Haji Darip selama bertahun-tahun menjadi mukimin di Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Selama di sana, dia banyak bergaul dengan tokoh-tokoh Islam dari berbagai negara. Inilah yang mengilhaminya untuk turut terlibat dalam pergerakan kemerdekaan sekembalinya ke Tanah Air. Ia mengawali perjuangan dengan berdakwah di sebuah musala kecil -- kini berubah menjadi Masjid Al-Makmur yang cukup megah -- di Klender. Di sini bergabung juga sejumlah ulama dari Klender yang juga pejuang seperti KH Mursidi dan KH Hasbiallah.

Ketika Jakarta dikuasai serdadu NICA Belanda yang mendompleng tentara sekutu, Haji Darip dan kawan-kawannya itu hijrah ke pedalaman Cikarang - Karawang - Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia). Dari tempat persembunyiannya, dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler -- ia bermarkas di Purwakarta dan menyususn strategi melawan NICA. Tahun 1948, setelah selama tiga tahun tidak henti-hentinya melawan pasukan Belanda, ia pun tertangkap. Kemudian dibawa ke Jakarta dan dipenjara di rumah tahanan Glodok (kini merupakan bagian dari pertokoan Harco). Lebih dari setahun ia mendekam di penjara Glodok, sebelum akhirnya dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan akhir Desember 1949.

Sewaktu dia masih memimpin pergerakan dari Klender, banyak para pemimpin yang datang kekediamannya, seperti Sukarni dan Pandu Kartawiguna. Kedua tokoh Partai Murba menjelang 17 Agustus 1945 menyatakan kepadanya bahwa sebentar lagi Indonesia akan merdeka, dan mereka membicarakan pengusiran orang Jepang. Sejumlah tokoh masyarakat mengetahui bahwa Jepang sudah menyerah setelah di bom sekutu pada 6 Agustus 1945. "Kemudian saya panggil buaye-buaye sini. Dari mana-mana dari hutan-hutan juga (60 tahun lalu Klender masih merupakan perkampungan dan perkebunan-Red), Mereka datang atas panggilan saya. Saya bicarakan soal pengusiran orang-orng Jepang," ujar Haji Darif seperti dikutip sebuah harian yang terbit tahun 1950.

Konon, isu-isu saat itu menyatakan bahwa Haji Darif orang kebal, tidak mempan dibacok. Setelah mengumpulkan warga Klender dan sekitarnya menjelang proklamasi, mereka diperintah untuk mengusir orang Jepang yang ada di Pangkalan Jati, Pondok Gede, dan Cipinang Cempedak. Menurut sumber di Angkatan 45 Daerah Khusus Ibukota Jakarta, sepeninggal pejuang yang tidak mengenal pamrih itu, pensiunan dan tunjangannya dicabut. Sedangkan rumahnya terkena proyek pelebaran jalan dan tergusur. Hanya makamnya saja yang kini tersisa di dekat bekas kediamannya.

(alwi shahab)

Proklamasi di Rumah Bung Karno

Inilah gedung paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Karena dari gedung di Jl Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi) No 56, Jakarta Pusat, diproklamirkan kemerdekaan RI oleh Soekarno - Hatta atas nama bangsa Indonesia. Peristiwa itu terjadi di bulan suci Ramadhan, Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Bung Karno dan Ibu Negara Fatmawati mulai tinggal di bekas bungalo tua milik Belanda ini pada masa pendudukan Jepang. Setelah dia baru dibebaskan dari pembuangan di Bengkulu oleh Belanda. Putera sulungnya, Guntur Sukarnoputra lahir di gedung ini.

Banyak peristiwa bersejarah baik saat-saat menjelang kemerdekaan maupun paska kemerdekaan di gedung ini. Beberapa kali sidang kabinet dilaksanakan di gedung ini sebelum Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta hijrah ke Yogyakarta 3 Januari 1946. Mereka berangkat pada malam hari naik kereta api yang sengaja digelapkan dari stasiun kereta api Pegangsaan, yang terletak di belakang kediaman Bung Karno. Keberangkatan kereta api ini dirahasiakan untuk menghindari pasukan NICA yang datang dengan menggonceng pasukan sekutu. Kala itu Jakarta dalam keadaan tidak aman. Di mana-mana terjadi pertempuran antara NICA dan para pejuang yang sebagian besar bersenjata bambu runcing, dan sebagian senjata yang dirampas dari pasukan Jepang.

Hijrahnya Bung Karno dan Hatta ke Yogyakarta kemudian disusul para pejabat pemerintahan dan kaum republiken. Hingga kota perjuangan itu yang semula penduduknya 170 ribu dalam beberapa minggu berikutnya jadi 600 ribu jiwa.

Di Gedung Proklamasi ini pada tahun 1960 semasa gubernur Henk Ngantung telah dijadikan Gedung Pola untuk menyiapkan program pembangunan. Semacam Bappenas sekarang ini. Bung Karno tidak setuju ketika ada yang mengusulkan agar dijadikan sebagai 'Museum Bung Karno'. Henk Ngantung dalam memorinya menyatakan, setelah ia juga ikut mengusulkan dijadikan museum, Bung Karno menyatakan, 'rupanya kau juga ikut memamerkan celana kolorku'.

Willard A Hanna, seorang Amerika Serikat dalam bukunya 'Hikayat Jakarta' menyimpulkan bahwa pembongkaran tempat proklamasi ini karena Bung Karno tidak suka diingatkan kembali pada keadaan ketika menjelang proklamasi dia diculik para pemuda radikal. Karena itu gedung ini diratakan dengan tanah.

Bung Karno bersama Bung Hatta pada hari Kamis 16 Agustus 1945 sehabis makan sahur diculik sekelompok pemuda radikal pimpinan Sukarni ke Rengasdenglok, dekat Kerawang. Setelah tengah malam sebelumnya oleh para pemuda yang dipimpin Sukarni, ia dipaksa memproklamirkan kemerdekaan 16 Agustus 1945 karena Jepang telah menyerah pada Sekutu. Ikut dalam rombongan ke Rengasdenglok, Ibu Fatmawati yang menggendong Guntur yang masih berusia 9 1/2 bulan.

Di tempat bersejarah ini pada tahun 1957 diselenggarakan Musyawarah Kerukunan Nasi, setelah pada 1956 Bung Hatta meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden. Yang mengakibatkan pecahnya Dwitunggal: Soekarno-Hatta. Puncak acara musyawarah ini adalah penandatangan sebuah piagam oleh Soekarno-Hatta. Kemudian keduanya berziarah ke makam Jenderal Sudirman di Yogyakarta. Tapi munas ini hanya berupa janji-janji. Keadaan negara makin gawat, dan tidak berapa lama kemudian meletuslah pemberontakan PRRI/Permesta.

(Alwi Shahab )

Soemarto Frans Mendoer

Bangsa Indonesia kembali memperingati kemerdekaannya. Tahun ini kita telah 60 tahun merdeka. Untuk mengenang saat-saat menjelang proklamasi kemerdekaan, sebaiknya kita mendatangi sebuah gedung di Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, berdekatan dengan gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU). Di tempat gedung bercat putih berlantai dua itu berada, pada masa Belanda bernama Oranye Boulevard dan masa Jepang Meijidori. Di sinilah tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda, penghubung AL Jepang.

Di gedung bergaya Eropa yang dibangun pada 1930-an itulah Bung Karno dan Bung Hatta serta para pemimpin bangsa kala itu menyiapkan naskah proklamasi kemerdekaan RI. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada 16 Agustus tengah malam, setelah keduanya pulang dari Rengasdenglok karena diculik para pemuda militan. Naskah proklamasi -- yang kemudian pada tiap tahun peringatan detik-detik proklamasi selalu dibacakan -- baru selesai disusun pada 17 Agustus 1945 pukul 04.00, bertepatan dengan 8 Ramadhan 1364 Hijriah.

Gedung yang pernah ditempati Kedubes Inggris itu merupakan salah satu gedung bersejarah yang terselamatkan. Karena, gedung yang paling bersejarah di Jl Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi) No 56, tempat proklamasi kemerdekaan dibacakan, telah dibongkar pada 1960. Kembali ke gedung di Jl Imam Bonjol, yang kini dijadikan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, karena naskah baru selesai dibuat jelang subuh, banyak dari mereka langsung ke kediaman Bung Karno. Meskipun teks proklamasi baru akan dibacakan pukul 10.00 pagi, tapi sejak dini hari sudah berbondong-bondong, terutama Barisan Pelopor, yang datang ke Jl Pegangsaan Timur 56.

Karena serba cepat dan belum rapi pengorganisasiannya, banyak pemuda yang akan menghadiri acara tersebut datang ke lapangan Ikada (kini Monas). Di sini kemudian disebarkan selebaran tulisan tangan agar mereka ke Pegangsaan Timur 56. Pembacaan teks proklamasi di kediaman Bung Karno dianggap lebih aman mengingat balatentara Jepang masih berkeliaran di Jakarta. Sempat dikhawatirkan akan terjadi bentrokan antara massa rakyat dengan tentara Jepang.

Ada Barisan Pelopor sekitar 100 orang dari Penjaringan, Jakarta Utara, yang datang terlambat. Mereka kecewa karena tidak sempat melihat teks proklamasi kemerdekaan dibacakan. Lalu mereka meminta agar diulang. Tapi ditolak Bung Karno. Proklamasi kemerdekaan hanya dibaca satu kali saja tak boleh diulang dan untuk selama-lamanya.

Salah satu kekurangan besar yang hampir sukar dimaafkan adalah soal dokumentasi. Peristiwa paling bersejarah dan tidak mungkin diulang lagi meskipun 1000 tahun mendatang itu hampir saja tidak didokumentasikan. Hanya ada tiga adegan penting yang diabadikan. Pertama, adegan waktu Bung Karno membacakan teks proklamasi. Kedua, sebagian dari orang-orang yang hadir. Dan, ketiga, adegan waktu acara penaikan bendera Sang Saka Merah Putih. Ketiga gambar yang dijepret Soemarto Frans Mendoer itulah yang tiap tahun dimuat di suratkabar dan majalah menjelang HUT Proklamasi.

Memang disayangkan, mengapa putra kelahiran Sulawesi Utara yang berusia 32 tahun dan jadi jurufoto IPPHOS itu hanya mengabadikan tiga adegan saja dari peristiwa yang paling bersejarah tersebut. Tapi, andaikata tidak ada Frans Mendoer maka kita tidak akan punya satu foto dokumentasi pun dari peristiwa proklamasi kemerdekaan. Sementara yang paling disesalkan adalah gedung proklamasi kini sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada, rencana membangun kembali nilai sejarahnya tidak mungkin sama dengan yang asli.

H Soebagio IN dalam buku Jagad Wartawan Indonesia menulis, Mendoer sudah jadi wartawan foto sejak 1935. Mula-mula dia belajar pada kakak kandungnya sendiri Alex Mendoer yang kala itu menjadi wartawan foto Java Bode, koran berbahasa Belanda di Jakarta. Di samping di Wereldnieuws, sebuah mingguan berbahasa Belanda yang dicetak di percetakan de Unie di Jakarta. Setelah Jepang kalah perang, dia pula bersama BM Diah yang memelopoori perebutan percetakan de Unie. Sedangkan Soemarto adalah nama bapak angkatnya.

Jepang tahu benar, bahwa kalau gambar pembacaan proklamasi itu sampai tersiar niscaya punya efek atau akibat psikologis yang hebat sekali kepada rakyat. Sewaktu Jepang datang kepadanya dan minta negatifnya, Frans Mendoer menyatakan tidak ada lagi padanya dan sudah diambil oleh Barisan Pelopor. Padahal negatif foto-foto peristiwa pembacaan teks proklamasi itu disembunyikan Mendoer dan ditanam di halaman kantor harian Asia Raya di bawah pohon. Andaikata kala itu dia tidak bisa bohong niscaya generasi sekarang dan yang akan datang tidak dapat mengetahui seperti apa peristiwa itu. Seperti juga generasi sekarang tidak tahu lagi bentuk gedung proklamasi Pegangsaan Timur 56, tempat kediaman Bung Karno.

Frans Mendoer banyak pula mengabadikan suasana kota Jakarta pada masa-masa revolusi fisik, yang kini dapat kita saksikan foto-fotonya. Seperti kata-kata Merdeka atau Mati Freedom or Death semboyan yang banyak terdapat di Jakarta kala itu, termasuk di tembok-tembok dan trem listrik. Sewaktu pemerintah RI hijrah ke Yogyakarta, tidak ketinggalan Mendoer juga ikut serta. Bukan dengan pistol FN atau senjata bren, tapi dengan kameranya ia mengabadikan perjuangan bangsanya yang tengah bergulat hidup dan mati melalwan Belanda.

Frans Mendoer meninggal dunia pada 24 April 1971 di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta. Dalam hubungan ini harian Pedoman mencatat, ''Tidak banyak wartawan yang mengantar jenazah Soemarto Frans Mendoer ke makamnya.'' Sedangkan Merdeka menulis, ''Terlepas dari segala-galanya, dia berhak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlalwan.'' Sayangnya, tulis H Subagio IN, ''Meskipun begitu besar jasanya dan berhasil mengabdikan sejarah perjuangan bangsanya, namun dia kebetulan dianggap tidak punya syarat untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.'' Memang cukup tragis dan menyedihkan.

(Alwi Shahab )

Barisan Bambu Runcing

Hanya dengan bersenjatakan bambu runcing para pemuda patriot bangsa siap mempertahankan kemerdekaan. Dengan semangat meluap-luap untuk mengusir penjajah dengan tekad: 'Merdeka atau Mati'. Mereka berbaris di salah satu jalan raya di Jakarta. Di barisan paling depan dari 'pasukan bambu runcing' ini tiga orang pemuda membawa bendera merah putih.

Peristiwa ini terjadi hanya beberapa waktu setelah proklamasi kemerdekaan. Hanya pemimpin pasukan (paling kanan) dan beberapa orang saja yang mengenakan celana panjang dan bersepatu. Selebihnya bercelana pendek dan tanpa alas kaki. Berita proklamasi kemerdekaan RI segera tersebar secara luas terutama oleh para pemuda. Mereka dengan menyebarkan berita itu melalui selebaran-selebaran setelah mencetaknya secara kilat di mesin roneo. Kemudian secara beranting disebarluaskan ke seluruh Indonesia. Bahkan pada hari itu juga (17 Agustus 45), disiarkan melalui pemancar radio ke seluruh dunia.

Telegrafis kantor berita 'Domei' (nama KB Antara pada masa Jepang), Syahruddin secara diam-diam menyiarkan berita proklamasi pukul 16.00 hari itu juga. Saat personil Jepang tengah istirahat. Setelah proklamasi disusul aksi-aksi dan kegiatan-kegiatan yang mendukungnya. Jika para pemimpin bangsa -- termasuk kabinet yang baru dibentuk --, berpacu dengan waktu untuk melengkapi Negara RI, maka para pemuda pejuang dengan semangat bergelora dan tanpa gentar menghadapi tentara Jepang yang terkenal kejam.

Dalam sekejap kota Jakarta menjadi memanas. Para pemuda mencetuskan dan melampiaskan gelora perasaan melalui tulisan dan corat-coret di trem, bus, gerbong kereta api, tembok-tembok berupa pernyataan siap mati mempertahankan kemerdekaan. Maka dalam waktu cepat kota Jakarta yang sebelumnya tenang, masyarakatnya kini dilanda revolusi. Para pemuda patriot merebut dan menduduki gedung dan perusahaan penting. Banyak yang merebut senjata Jepang, untuk mengganti senjata bambu runcing.

Situasi makin gawat, ketika pasukan sekutu (diwakili pasukan Inggris), mendarat di Tanjung Piok (29 September 1945). Ikut membonceng tentara Belanda NICA (Neterhelands Indies Civil Administration). Mereka menduduki bagian wilayah Jakarta, sehingga mengakibatkan berbagai kekacauan. NICA yang diperkuat para tawanan perang Belanda selama pendudukan Jepang, menembaki tiap orang yang kelihatan mencurigakan. Teman saya (lupa namanya) yang berusia belasan tahun ketika sedang menjual koran 'Merdeka' di Kramat, Jakarta Pusat, karena ia meneriakkan kata 'merdeka' tewas ditembak NICA. Kekejaman NICA juga di daerah lain.

Presiden Sukarno yang masih tinggal di Jl Pegangsaan Timur (kini Jl Proklamasi) 56 terpaksa mengumumkan supaya rakyat menghindar dari jalan raya setelah jam delapan malam. Tapi patroli Belanda masih terus mengacau. Mereka menggedor rumah-rumah, merampok dan menyeret seorang atau seluruh isi rumah. Apabila rakyat membalas, Belanda membakar habis rumah-rumah rakyat (Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia- oleh Cindy Adams). Layaknya tentara Israel di Palestina, NICA menculik para pemuda dan mereka diangkut ke kamp-kamp yang diduduki Belanda. Kemudian tidak terdengar lagi nasib mereka. Di Jakarta saja 8.000 rakyat dibunuh NICA antara September-Desember 1945.

Menlu Belanda Bernard Bot, Selasa (16/8-2005) mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Sebelumnya Belanda, hanya mengakui saat penyerahan kedaulatan 27 Desember 1949. Menlu Belanda yang dilahirkan di Indonesia itu juga menyatakan penyesalan atas pengerahan militer Belanda secara besar-besaran pada masa revolusi fisik. Konon, sebelumnya, ketika Ratu Juliana pada tahun 1970'an akan berkunjung ke Indonesia, di negaranya ada suara-suara yang meminta agar ratu meminta maaf atas kekejaman Belanda selama menjajah Indonesia. Tapi Ratu hanya mengatakan agar kedua bangsa melupakan masa lalu.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Perang Melawan Premanisme

Banyak pihak yang memuji gebrakan Kapolri Jenderal Pol Sutarto. Hanya beberapa hari setelah dilantik ia membuat kontrak kerja dengan para Kapolda dan jajaran kepolisian bawahannya. Berantas judi dan narkoba, salah satu taruhan sukses tidaknya mereka dalam melaksanakan tugas.

Sampai kini 'genderang perang' itu terus ditabah. Di Jakarta operasi dilakukan terhadap diskotik dan tempat hiburan malam. Sejumlah artis yang ikut terjaring diharuskan tes urine. Dalam memberantas penjudian cukup banyak yang telah terjaring pihak kepolisian. Meskipun banyak pertanyaan, kok bandar utamanya masih belum tersentuh?

Tapi, perang terhadap segala bentuk kejahatan masih belum berakhir. Kapolri pun mengeluarkan perintah terhadap seluruh jajarannya, ''Berantas premanisme''. Seperti juga kontrak kerja, perintah ini pun ditindak lanjuti jajarannya. Dan, ramailah berita tentang penangkapan para preman. Meskipun masih ada yang menilai kok yang ditangkap kelas teri saja. Rupanya masih banyak preman yang belum jera. Buktinya berita-berita perampokan, perkosaan, dan pemerasan masih banyak terjadi.

Sampaim akhir minggu lalu preman-preman masih merajalela di pusat bisnis: Glodok - Pancoran. Seorang pemilik toko menceritakan bagaimana para preman memungut parkir sekehendak hati, meminta jatah dari toko dan warung. Mereka memasang tarif Rp 5-10 ribu untuk parkir. Kalau tidak dikasih kaca mobil bisa pecah. Hal yang sama juga terjadi di Tanah Abang. Tentu juga di tempat lain.

Premanisme memang banyak terjadi di kota-kota besar, di dunia. Bukan akhir-akhir ini saja. Seperti pernah dikutip oleh seorang kolumnis di sebuah suratkabar Jakarta, pada April 1965, Robert F Wagner, wali kota New York, melancarkan suatu operasi yang dikenal sebagai Operation Crack-down -- si kolomnis menyebutnya sebagai Operasi Kemplang, berperang melawan para bandit. Karena, yang dikemplang adalah pembunuh, perampok, dan mereka yang melakukan kejahatan di malam hari di kereta api bawah tanah New York.

Selama Operasi Kemplang dijalankan, masih terjadi 223 kejahatan. Tapi, jauh menurun dibandingkan sebelum operasi yang mencapai 589 kejahatan di kereta api New York di waktu malam -- berarti kejahatan berkurang 62 prosen. Hasil ini didapat dengan pengerahan banyak tenaga dan mengeluarkan banyak dana. Operasi berlangsung tiap malam dari pukul 08.00 sampai 04.00 pagi. Untuk lembur dan penambahan polisi menelan biaya 1,8 juta dolar AS.

Pada bulan yang sama sebuah suratkabar memuat berita terjadi perampasan dan penelanjangan di siang hari bolong yang begitu brutal di Jakarta. Peristiwa itu disaksikan cukup banyak orang. Setelah melakukan perampasan, penjahatnya tidak melarikan diri, tetapi berkeliaran di tempat itu untuk beberapa menit kemudian mengulangi kejahatannya.

Karena itulah, Ali Sadikin, gubernur DKI Jakarta saat itu, menyatakan, ''Banditisme di ibukota harus segera ditumpas''. Tapi, kejahatan di Ibukota tidak pernah surut. Dan, menjelang akhir 1970-an, Panglima ABRI Jenderal Benny Moerdani dalam upaya membasmi banditisme melancarkan operasi yang lebih dikenal dengan sebutan Petrus (penembak misterius). Kala itu, masyarakat sudah maklum bila ada berita surat kabar, "Ditemukan mayat dalam karung". Bahkan, ada juga mayat yang mengambang di sungai, atau tergeletak di semak-semak.

Kriminilitas di Jakarta pada tahun 1950-an masih jauh lebih kecil. Bahkan ada yang membandingkan masih lebih baik dibandingkan di kota-kota besar di negara lain, termasuk Singapura. Dulu masih ada penodong yang menggunakan senjata api palsu. Kini hampir tidak terdengar lagi. Penodongan di waktu siang kini sudah sering terdengar. Kalau pada 1950-an dan 1960-an penjahat, perampok, penodong hanya mengincar harta benda korbannya, dan masih mengindahkan nyawanya, sekarang tidak lagi. Banyak korban tewas akibat tembakan pistol si perampok.

Sejumlah tokoh Betawi menyatakan, pada tahun 1950-an situasi Jakarta aman, karena ada tokoh 'jagoan' yang merupakan 'palang pintu' di daerah tempat tinggalnya. Seperti dikemukakan tokoh Betawi H Irwan Sjafi'i, tokoh masyarakat setempat ini merasa malu dan terhina bila terjadi kriminalitas di kampungnya. Pada masa hidupnya, H Ung, kakek almarhum Bunyamin S, juga merupakan 'palang pintu' di daerah Kemayoran. Demikian juga Sabeni, Mahruf dan Derahman Djeni dari Tanah Abang. Mereka sangat dihormati warga, sehingga bila terjadi kejahatan merekalah yang diminta menanganinya.

Pada tahun 1950-an nama Kapten Imam Syafi'ie sangat dikenal di Jakarta dan sekitarnya. Pimpinan organiasi COBRA ini ikut memelihara keamanan di kota Jakarta. Apalagi ia merupakan perwira yang diperbantukan pada Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya (KMKBDR).

Ketika masih sebagai jagoan di Senen, dia turut menggerakkan masyarakat melawan Belanda saat revolusi fisik. Demikian juga halnya H Dahrip dari Klender. Ia mengerahkan ratusan pemuda untuk bergerilya, hingga Bung Karno dan Bung Hatta mengaguminya. Demikian juga KH Mughni dari Kuningan dan Mad Djaelani dari Kwitang.

Selain mereka, masih banyak lagi jagoan yang jadi pejuang kemerdekaan dan palang pintu dalam menjaga keamanan di kampungnya. Tapi, karena tawadhu, tidak ada yang mau menonjolkan diri, dan tidak minta diakui sebagai pahlawan. Tentu saja situasinya sekarang jauh berbeda. Rakyat mengharapkan aparat kepolisian berhasil dalam menumpas banditisme. Karena, Jakarta haraus aman agar para investor dan turis asing tidak takut mendatangi kota ini.

( Alwi Shahab )

Shouwburg di Pasar Baru

Inilah jembatan kearah pertokoan Pasar Baru, Jakarta Pusat diabadikan 1880 atau 125 tahun lalu. Jembatan diatasi Sungai Ciliwung begitu sederhana. Maklum kala itu belum nongol kendaraan bermotor. Paling-paling hanya delman atau sado. Di jembatan terlihat dua buah tiang alat penerangan, yang kala itu masih belum menggunakan listrik, tapi gas. Pabrik gas di bangun di Gang Ketapang (kini Jl KH Zainul Arifin) dan masih berfungsi hingga kini.

Beberapa orang Cina tampak berdiri di jembatan Pasar Baru. Kala itu rambut pria Cina umumnya masih dikepang, yang disebut kotang. Sayangnya tidak tampak dalam foto. Seperti juga di kawasan bisnis Glodok dan Senen, nuansa Cina juga sangat kental di Pasar Baru. Karena susunan bangunan rumahnya serupa dengan apa yang ada di negeri asal mereka. Baru kemudian para pendatang dari India ikut membuka toko di Pasar Baru. Mereka umumnya pedagang tekstil dan alat-alat olahraga. Dan bertempat tinggal di sekitar Jl Pintu Air dekat Pasar Baru.

Berhadapan dengan jembatan tampak Gedung Kesenian (Shouwburg), yang dibangun sejak masa kekuasaan Inggris (1811-1816). Orang Betawi sampai kini ada yang masih menyebut gedung komidi. Semula gedung kesenian ini terbuat dari bambu dan beratap rumbia. Tentara Inggris yang pernah bercokol di Batavia rupanya lebih mencintai seni katimbang Belanda. Karena mereka terpengaruh oleh Letnan Gubernur Sir Thomas Raffles yang punya perhatian khusus pada kesenian dan kebudayaan. Pementasan perdana di gedung ini Oktober 1814. Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) mula-mula hanya diterangi oleh lampu-lampu minyak dan lilin. Baru 1864 dimodernisasikan dengan lampu gas. Lampu listrik baru beberapa tahun kemudian.

Baru 1820 dibangun gedung permanen yang berdiri tegak hingga sekarang. Gedung bergaya Yunani Baru ini sebagian bahan bangunannya diambil dari tiga gedung tua dari wilayah Spinhuisgracht (sekitar Pasar Ikan). Yakni rumah tahanan, rumah sakit Cina dan sekolah. VOC Pada Oktober 1821 sebenarnya sudah bisa beroperasi. Tapi terhalang akibat terjadinya wabah kolera hingga masyarakat yang dihantui penyakit mematikan ini jadi takut. Akibat wadah kolera di Batavia saja 733 orang mati. Padahal penduduk kota ini kala itu hanya ratusan ribu manusia saja. Maklum kala itu, pengobatan tidak secanggih sekarang. Demikian pula pelayanan di rumah sakit.

Seorang turis Eropa yang datang ke Batavia setelah peresmian menilai bahwa gedung kesenian ini tidak kalah menariknya dari gedung kesenian yang ada di Eropa. Pada awal abad ke-19 ini, kebanyakan pembesar dan penontonnya mengendarai kereta kuda. Dan gedung ini khusus menyediakan kandang kuda. Di samping taman bunga yang berada di depan dan samping. Karcis masuk berturut-turut 4,5 gulden (perak), 3,50 gulden, seringgit (2,5 perak), satu setengah gulden dan tiga talen (75 sen). Kala itu, harga karcis ini terhitung mahal. Yang unik, penonton pria dan wanita tempat duduknya di pisah. Maklum pergaulan belum sebebas sekarang, termasuk di masyarakat Eropa. Pemisahan semacam ini juga terjadi di bioskop pada awal abad ke-20.

Schouwburg seringkali mementaskan drama-drama yang didatangkan dari luar negeri (Eropa). Seperti pemtasan karya Goethe dan Hamlet karya William Shakspeare sudah tidak asing kala itu. Bahkan pemain-pemainnya adalah aktor dan artis lokal. Yang mendapat pujian dari komisi Amsterdam sebagai seni yang bermutu. Sampai saat ini, GKJ tetap mempertahankan karakter aslinya, dengan ornamen-ornamen klasik, dengan pilar-pilarnya yang khas di dalam gedung.

Kembali ke kawasan Pasar Baru, yang hingga kini bertahan sebagai salah satu pusat perdagangan bergengsi di Jakarta, sebelum adanya pasar berupa kebun, rawa dan lapangan terbuka. Di lapangan terdapat beberapa buah kombongan untuk makan dan minum kuda. Hingga jadi pangkalan para tukang sado. Di sekitarnya terdapat warung-sarung kecil tempat para tukang sado berisitirahat, makan dan minum. Warung-warung kecil inilah yang kemudian jadi cikal bakal Pasar Baru.

Di masa Presiden Soekarno, Pasar Baru merupakan pasar gelap valuta asing. Kala itu, mereka yang ingin bepergian ke luar negeri dan sekembalinya ke tanah air menjual valuta asing di sini. Apalagi masa itu akibat fluktuasi valuta asing yang tidak terkendal, kursnya tidak boleh diumumkan di koran-koran. Sekarang jual beli dolar dan valas secara gelap masih terjadi di Pasar Baru. Bahkan sudah meluas ke Jl Kwitang, dari toko buku Gunung Agung sampai toko buku Walisongo.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Patekoan dan Kapitein Gan Djie

Meskipun sudah sejak lama namanya diubah jadi Jl Perniagaan, tapi masyarakat masih lebih banyak menyebutnya Patekoan. Terletak hanya beberapa ratus meter dari pusat pertokoan dan perdagangan Glodok, Jakarta Barat, yang selalu hingar bingar, Patekoan punya sejarah panjang. Bahkan ia dikenal sejak awal pemerintah kolonial Belanda. Karena, kawasan China Town inilah, sejak Jan Pieterzoon Coen memerintah (Mei 1619), yang dijadikan perkampungan Tionghoa. Tidak heran, kalau sejumlah kapitein Cina pernah tinggal di sini. Demikian pula sejumlah klenteng masih tetap berdiri tegak, sekalipun sudah berdiri lebih dari tiga abad.

Para kapitein oleh Belanda dijadikan sebagai penasehat resmi mengenai adat istidiadat Cina di pengadilan. Seperti Souw Beng Kong, kapiten Cina pertama (diangkat Oktober 1619) memiliki kapal, mengurus tempat perjudian, pembuatan uang tembaga, serta mengawasi rumah timbang bagi semua barang orang Tionghoa. Souw juga anemer (kontraktor) pertama di Batavia. Wakilnya, Jan Con, adalah seorang Muslim yang membangun masjid di Kampung Bebek, Jakarta Barat. Ketika Juli 1636, Souw Beng Kong mengundurkan diri dan pergi ke Formosa (Taiwan) yang kala itu merupakan jajahan Belanda, Belanda untuk sementara mengangkat Lim Lak (Limlaco), juga seorang Cina Muslim. Ia sebelumnya terkenal sebagai pemborong sepatu untuk kompeni.

Kapitein Cina yang prestasinya masih terlihat di Jakarta adalah Phoa Beng Gan. Ia yang menggali sungai (kanal) yang diapit antara Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada. Kapitein Cina kedua ini membangun kanal dari Harmoni (sekitar Sekretariat Negara), hingga rawa-rawa di sekitarnya yang selama ini jadi gudang penyakit, karena sarang nyamuk menjadi kering.

Phoa Beng Gan digantikan oleh Gan Djie, seoranmg Cina totok yang berasal dari Ciangciu, sebuah kota keresidenan di bagian selatan Provinsi Hokkian. Dalam usianya yang sangat muda ia datang ke Gresik, mengikuti kakak laki-lakinya yang sudah terlebih dulu datang ke Jawa. Di Gresik ia membantu kakaknya berdagang hasil bumi. Dia kemudian berjualan kelontong berkeliling ke desa-desa. Dia memikul dagangannya sendiri masuk desa keluar desa. Baru setelah sukses dia dibantu seorang kuli panggul. Di sebuah desa, ia bertemu dengan gadis Bali, yang kemudian diperistrinya.

Beberapa tahun kemudian berkat kerajinan dan kerja keras, Gan Djie menjadi saudagar besar di Gresik. Gan Djie meninggalkan Gresik ke Batavia tahun 1659. Dia tinggal di sebuah rumah di sebuah jalan yang sekarang disebut Patekoan (diganti Jl Perniagaan pada tahun 1960-an). Di Batavia ia berniaga hasil bumi. Karena sifatnya yang baik dan suka menolong, dalam waktu singkat ia menjadi salah seorang terkemuka di pemukimannya yang baru. Dan, ketika Phoa Beng Ganm pada 1663 mengundurkan diri, Gan Djie pun diangkat sebagai penggantinya. Maka sejak 10 April 1663 Gan Djie menjadi Kapiten der Chineezen (Kapitein Cina) ketiga. Ia dilantik oleh gubernur jenderal Joan Maetsuyker. Karena kesibukannya, ia dibantu istrinya, wanita Beli.

Di depan kantor Kapitein seringkali berteduh para pedagang keliling atau mereka yang kelelahan di jalan. Waktu udara begitu panas, orang yang melintas di jalan selalu sulit mendapatkan air untuk minum. Maklum kala itu, boleh dikata belum banyak penjual minuman. Melihat hal itu, istrinya, Nyai Gan Djie, mengusulkan pada si suami agar di depan kantor disediakan air teh untuk warga masyarakat yang kehausan. Bagi orang yang berkecukupan macam Kapiten Gan, tentu saja air teh tidak ada artinya. Tetapi bagi masyarakat yang 'kekeringan' penting sekali. Kapiten Gan langsung setuju usul istrinya.

Di depan kantor, di sebelah luar pintu, lalu dipasang meja-meja kecil. Di atasnya tiap pagi dan sore disediakan air teh. Supaya air teh mencukupi keperluan warga dan tidak setiap kali kehabisan, maka disediakan delapan tekoan (teko/poci teh). Persediaan air itu akhirnya menjadi suatu ciri untuk memudahkan bagi warga mencari kantor officer Tionghoa itu. Demikianlah, orang lalu mengatakan, dimana ada pat-te-koan di situlah tempat tinggalnya Kapiten Gan. Lambat laun menjadi Patekoan.

Pada 1666, setelah memangku jabatan tiga tahun, Kapitein Gan meninggal. Pemerintah Belanda kemudian meminta Nyai Gan Djie menggantikan jabatan suaminya sampai nantinya diangkat orang lain. Pada 1678, setelah 12 tahun memangku jabatannya, karena sudah tua, Nyai Gan pengunduran diri. Dan, pemerintah kolonial memberikan penghargaan padanya.

Menurut David Kwa, yang menulis sinopsis cerita ini dalam pementasan di Museum Sejarah Jakarta, Ahad (21/8-2005), salah satu prestasi Kapitein Gan adalah mengadakan bea cukai perjudian. Dengan cukai yang tinggi itu, dimaksudkan supaya orang tidak berjudi. Sayangnya, upaya ini tidak berhasil mengendalikan warga Tionghoa untuk berjudi yang merupakan kebudayaan mereka. Dia juga berhasil menyeragamkan timbangan, agar para pembeli tidak dirugikan, yang kemudian diambil alih Belanda dengan ijk wezen. Menurut David, di Patekoan sekarang tidak diketahui dimana bekas kediaman kapitein Cina ini. Maklum, sudah tiga setengah abad lalu./n

(Alwi Shahab )

Gedung Candranaya yang Merana

Bangunan mirip klenteng ini adalah bekas kediaman mayor Cina, Khouw Kim An. Dia merupakan mayor terakhir masyarakat Cina di Batavia. Ia meninggal tahun 1942 ketika dipenjara pada masa pendudukan Jepang. Di masa kolonial, Belanda menunjuk seorang kapiten (kapten) untuk memimpin tiap kelompok etnis. Khusus untuk masyarakat Cina, karena jumlah mereka yang besar dan perekoniannya yang kuat, etnis ini dipimpin seorang mayor, dibantu kapiten dan letnan. Ketika balatentara Jepang datang, semua gelar ini dihapus.

Sampai 1992, mereka yang melewati Jl Gajah Mada menuju Glodok akan melalui gedung antik yang dibangun awal abad ke-18. Gedung yang terletak di Jalan Gajah Mada 188 berdekatan dengan pusat bisnis dan belanja Glodok, Jakarta Barat. Ketika gedung ini dibangun, Jl Gajah Mada bernama Molenvliet West dan terletak diluar kota Batavia yang masih berbenteng.

Gedung yang atapnya berbentuk segi empat trapesium dengan kedua ujung atas agak meruncing, terdiri dari empat buah bangunan. Tapi kini hanya tinggal satu bangunan utama yang selamat. Yang lainnya terguusur, ketika pada 1992 gedung yang kala itu bernama Candranaya hendak dibangun gedung berlantai 32, untuk apartemen, pertokoan, dan tempat rekreasi. Tapi karena banyak reaksi mengingat sejarah gedung tua ini, akhirnya diambil jalan kompromi. Gedung utama tetap dipertahankan, tapi sudah tidak kelihatan lagi dari jalan raya karena tertelan pencakar langit.

Keluarga Khouw yang pertama menempati gedung ini adalah Khouw Tjoen. Ketika ia datang dari daratan Cina abad ke-18, sebelum menempati gedung ini terlebih dulu tinggal di Tegal, Jawa Tengah. Dan hanya dalam masa satu generasi, putranya bernama Khouw Tian Seck menjadi seorang kaya raya. Dia memiliki bejibun kekayaan, dan sawah di Batavia, Karawang, Cikapek dan Tangerang, disamping sejumlah penggilingan padi di tempat-tempat tersebut. Dia juga dikenal sebagai tuan tanah dan pemilik gedung-gedung di sekitar Molenvliet (Jl Gajah Mada dan Jl Hayam Wuruk), yang kala itu merupakan kawasan elite dan tempat peristirahatan warga Belanda.

Salah seorang cucu Khouw Tian Seck adalah Khouw Youuw Kee. Dia adalah kapiten Cina pada abad ke-19. Salah seorang putranya Khouw Kim An, keluarga Khouw terakhir yang menempati gedung ini, sebelum jadi mayor Cina adalah Ketua Dewan Cina di Batavia. Dia diangkat menjadi mayor pada 1910 - 1918 dan 1927 sampai datangnya Jepang ke Indonesia (Maret 1942). Mayor Khouw Kim An juga anggota volksraad (parlemen bentukan Belanda) dari 1921 - 1931. Keluarga Khouw juga membangun gedung yang sama yang letaknya berdekatan, masing-masing di Jl Gajah Mada 174 (kini SMU 2) dan Jl Gajah Mada 168 (pernah jadi Kedutaan Besar RR Cina ).

Setelah sang mayor meninggal, gedung ini 1946 berganti pemilik. Dan menjadi salah satu pusat kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat Tionghoa. Namanya Sin Min Hui (terang hati). Gedung yang berusia ratusan tahun itu juga menjadi tempat balai pengobatan. Pada tahun 1957 ketika nama-nama berbau asisng di Indonesia-kan, namanya diganti jadi Candranaya.

Konon, rumah Mayor Khouw ini memiliki 100 kamar tidur. Tidak perlu heran. Maklum sang mayor memiliki 14 istri dan 234 anak. Belum lagi pelayan yang cukup banyak. Pada zaman itu sangat lazim biloa seorang kaya raya memiliki sederet istri, harem kata orang Arab, atau gundik dan nyai kata orang Betawi. Dia tentunya memiliki kamar yang jauh lebih besar dan mewah katimbang anak-anaknya. Di sinilah sang mayor secara bergiliran menerima istri dan selirnya yang tinggal satu atap. Kini, gedung Candranaya tampak merana. Tergencet ditengah-tengah pencakar langit. Padahal, ia merupakan saksi sejarah selama ratusan tahun.

( Alwi Shahab, wartawan Republika )

Pencak Silat 'Mustika Kwitang'

Pencak silat telah dikenal selama berabad-abad di Tanah Air. Bahkan ia telah dipertunjukkan sejak abad ke-16, di saat pesta perkawinan atau khitanan di Jayakarta. Bagi warga Betawi main silat adalah suatu kemustian.

Pada tempo doeloe hampir di tiap kampung Betawi terdapat jagoan silat. Mereka sangat disegani karena tingkah lakunya yang terpuji. Mereka menggunakan ilmu bela dirinya untuk amar ma'ruf nahi munkar. Mengajak manusia ke jalan kebaikan dan mencegah kezaliman. Jauh dari tingkah laku para preman sekarang, yang main palak dan memeras tanpa mengenal kasihan.

Di Kampung Kwitang, Jakarta Pusat, setidaknya sampai tahun 1960-an dikenal sebagai salah gudang jago pencak silat di Ibukota. Di antara belasan jagoan terdapat H Muhammad Djaelani, yang lebih dikenal dengan sebutan Mad Djaelani. Ilmu silatnya, Mustika Kwitang, kini diwariskan pada cucunya, sekaligus muridnya, H Zakaria (76 tahun).

Kakek 40 cucu, enam cicit, dari 14 anak itu, sampai kini masih aktif mengajar dan melatih pencak silat sekalipun usianya sudah cukup gaek. Bahkan, ketika saya mendatangi kediamannya di Kramat Buntu, Kwitang, belakang toko buku Gunung Agung, H Zakaria masih tampak segar. ''Saya belajar silat langsung dari kakek saat revolusi fisik, tahun 1945-1949,'' katanya. Kakeknya wafat pada tahun 1969.

Berkat gemblengan kakeknya itu, pada PON II di Jakarta (1952), ia menjadi juara pencak silat dan mengantongi medali emas untuk kontingan Ibukota. Sedangkan pada PON III di Medan (1953) sebagai pelatih ia membawa kontingan pencak silat DKI meraih sukses dengan sejumlah medali.

Tampaknya, meskipun sudah lebih setengah abad menekuni dan menjadi pelatih pencak silat, dia semakin bergairah mengembangkan warisan budaya nenek moyang ini. Entah berapa ratus, mungkin ribuan, mudirnya tersebar bukan hanya di tanah air, tapi juga di manca negara. Saat saya datangi, misalnya, H Zakaria memakai kaos bertuliskan United Kingdom International Championships 12-13 June 2004.

Dalam kejuaraan pencak silat di London itu, dia diminta datang, sekaligus jadi pelatih pencak silat Mustika Kwitang yang kini sudah berkembang di Inggris. ''Saya juga diminta mengembangkan pencak silat Mustika Kwitang di Paris oleh warga Prancis keturunan Aljazair. Mereka juga meminta saya untuk melatih pencak silat di Aljazair.''

Tapi, bagaimanapun, waktunya terbatas. Untungnya, dalam usianya yang sudah mendekati kepala delapan ini, ia dibantu sejumlah asistennya. Melihat besarnya animo masyarakat untuk mempelajari ilmu silat dari Indonesia, tidak heran kalau H Eddy Nalapraya -- mantan wagub DKI Jakarta -- menjadi Presiden Pencak Silat Dunia.

Di Kwitang sendiri, tempat kelahirannya, dia seminggu dua kali (Ahad malam dan Rabu malam) bertempat di Majelis Taklim Habib Ali Kwitang, melatih para pemuda maen pukulan. Termasuk beberapa orang asing.

H Zakaria, yang kini menjadi pakar pencak silat di IPSI -- Ikatan Pencak Silat Indonesia -- dalam hidupnya yang cukup panjang punya pengalaman yang tak terlupakan.

Peristiwanya terjadi pada tahun 1960-an. Ketika itu, pasukan pengawal Presiden Soekarno, Tjakrabirawa, mendatangkan suhu (gurubesar) karate dari Jepang, yakni Prof Nakagama yang telah meraih Dan-7. Ia datang disertai mahaguru karate dari AS, Donn F Dragen.

Saat itu, Zakaria, pemuda Betawi dari Mustika Kwitang, diminta untuk memperlihatkan teknik bermain silat kepada kedua mahaguru karate itu. Zakaria, yang kala itu masih muda, dengan lihainya memperagakan jurus-jurus bermain senjata dan memecahkan batu dengan menggunakan pergelangan tangan. Jago silat dari Kwitang ini juga menunjukkan kemahirannya memainkan pisau dengan kecepatan tinggi.

Atraksi itu mengundang kekaguman master karate dari Jepang tersebut. Ia mengatakan pada Bung Karno, ''Mengapa Anda memiliki pemain sebagus ini kok pemuda-pemudinya kurang menyukai. Justru lebih suka bela diri dari Jepang.''

Ketika menuturkan kisah ini, Zakaria mengatakan masih banyak orang Indonesia yang menganggap rendah pencak silat dan dianggap mainan kampung. Padahal, di Eropa dan Asia, kini banyak yang mempelajarinya.

Pada zaman Belanda, katanya, pemerintah kolonial tak mengizinkan pencak silat. Karenanya, pada masa itu warga belajar silat secara ngumpet-ngumpet, mulai pukul 02.00 dini hari sampai pagi. Alasan Belanda kala itu, karena para pemberontak adalah ahli-ahli silat, seperti si Pitung, si Jampang, H Murtado.

Pada masa revolusi, sejumlah ahli silat Betawi dan para ulamanya pun bahu membahu memimpin barisan melawan Belanda. Sedangkan H Irwan Sjafiie (75), pengurus Lembaga Kebudayaan Betawi, menuturkan bahwa Mad Djaelani guru dan kakek H Zakaria pernah dihukum seumur hidup oleh Belanda. Sebabnya, sekitar 1940-an ia membunuh seorang konsul Jepang di Batavia. Di sangkanya seorang Cina kaki tangan Belanda. Ia dibebaskan Barisan Pelopor pada masa revolusi fisik.

H Zakaria, yang aktif dalam FORKABI (Forum Komunikasi Betawi), bersama para anggota FORKABI dari kecamatan Senen, merasa prihatin atas maraknya premanisme di pasar tertua di Jakarta itu. Mereka melakukan berbagai kejahatan yang sudah sangat meresahkan masyarakat banyak. Karena itu FORKABI mendukung Pemda DKI menertibkan keamanan di situ. Dulu preman tidak ada. Bahkan pada masa Bung Karno juga belum ada preman.

Meskipun sudah lebih setengah abad menjadi pemain dan pelatih pencak silat, tapi kemampuan ekonominya jauh dari cukup. Kediamannya masuk ke gang sempit yang tidak dapat dilalui motor. Boleh dibilang ia dan keluarganya hampir tidak memiliki perabot apapun. ''Sejauh ini yang dapat penghargaan hanya atletnya. Sedang pelatihnya hampir tidak mendapat apa-apa,'' katanya.

(Alwi Shahab )

Pelabuhan Tanjung Priok

Juru foto Woodbury & Page pada 1880 mengabadikan saat-saat dimulainya pembangunan pelabuhan Tanjung Priok. Foto koleksi Museum of Ethnology Rotterdam ini, terlihat alat-alat berat masa itu, dan ditempat yang kini jadi pelabuhan masih tampak rumah-rumah terbuat dari bambu. Pembangunan berlangsung selama enam tahun (1877-1885) setelah terlebih dulu dilakukan survei mencari lokasi yang tepat. Namun peresmiannya baru dilakukan Mei 1886, tujuh setengah tahun setelah Terusan Suez dibuka (November 1869).

Pelabuhan Tanjung Priok dibangun karena sejak pertengahan 1630-an lumpur yang mengendap di muara Ciliwung merupakan problem bagi kapal-kapal untuk berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa. Lumpur makin menumpuk ketika terjadi gempa bumi 1699. Saat Terusan Suez dibuka dan hubungan laut makin ramai, Sunda Kelapa sudah tidak lagi dapat menampung kapal-kapal uap yang bobotnya jauh lebih besar untuk sandar. Maka dipilihlah Tanjung Priok yang lokasinya 9 km dari Sunda Kelapa. Ketika hendak dibangun, banyak para pengusaha dengan keras menentangnya. Mereka khawatir perusahaan yang banyak terdapat di sekitar Kali Besar bila gulung tikar bila pelabuhan baru dikembangkan. Tapi kekhawatiran ini tidak perlu setelah merebak isu Tanjung Priok sarang malaria dan kawasan tidak sehat.

Untuk memperlancar arus barang dari perusahaan-perusahaan yang berkantor di Kali Besar dengan komplek pelabuhan maka dibuatlah terusan (Ancol) yang dapat dilayani kapal kecil dan perahu pengangkut komoditas ekspor-impor dengan jalan kereta listrik dua jalur. Akibat hubungan arus barang yang lancar hingga mereka tidak perlu memindahkan kantornya ke Priok. Rupanya ketika itu pungli belum separah sekarang ini hingga segalanya berjalan lancar. Sejak Indonesia merdeka, di Priok dan pelabuhan lainnya dikenal istilah 'biaya siluman'. Tidak heran beberapa waktu lalu ribuan sopir demo karena sudah tidak tahan lagi merajalelanya pungli. Sementara para penyelundup bermaim 'mata' dengan berbagai aparat tanpa mengenal malu menilep uang rakyat.

Saat diresmikan, semula Priok dianggap dapat menampung semua kapal dari berbagai negera, terutama dari Eropa yang makin marak berdatangan ke Hindia Belanda. Ternyata tidak cukup besar hingga perlu dilakukan pelebaran. Pelebaran dan perluasan pertama dilakukan selama tujuh tahun (1910-1917). Seperti raksasa tak pernah kenyang pelebaran terus dilakukan di Priok. Jadilah ia sebagai pelabuhan terbesar di negeri ini.

Dan, Priok pun makin makin banyak didatangi mereka yang ingin mengadu nasib. Dengan meningkatnya pelayaran maka dibangunlah KPM (Koninklijke Paketvaard Maatchappij) yang sejak 1891 merupakan perusahaan pelayaran terbesar di Hindia Belanda. Dengan ratusan armada modernnya, KPM dapat menjangkau seluruh pelabuhan di Indonesia. Yang kini menjadi tersendat-sendat setelah diambil alih dan dinasionalisasi Pelni pada 1957.

Pada 6 April 1925 dibuka stasiun baru dari Meester Cornelis (Jatinegara)-Tanjung Priok. Merupakan stasiun KA utama yang monumental dengan 8 jalur. Bangunannya bertumpu pada ratusan tiang pancang, memiliki atap penutup dari beton, mirip stasiun KA Amsterdam. Pada masa itu (dan mungkin sekarang ini), saat pembukaannya dilakukan selamatan untuk seluruh karyawan dan pekerja yang terlibat dalam pembangunan. Dua kepala kerbau ditanam di kedua sisi stasiun. Hal yang sama juga terjadi saat pembangunan stasiun Beos (Jakarta Kota). Kala itu masyarakat yakin bahwa tiap pembangunan proyek besar harus ada tumbal, yakni menanam kepala kerbau. Untuk mencegah jangan sampai nantinya proyek tersebut meminta korban.

Tanjung Priok di zaman Belanda adalah pelabuhan yang tertata rapi, asri dan bebas banjir, kata Ny Ashari (75 tahun) yang selama puluhan tahun tinggal di Priok. Salah satu keindahan adalah perahu-perahu milik perkumpulan Yachlt Club yang sampai tertambat berjejer di dermaga.

Yacht Club yang pernah berjaya adalah perkumpulan pecinta lautan yang didirikan sejumlah warga Belanda. Yachlt Club sebuah gedung cukup megah di tepi pantai, sampai 1970-an menjadi salah satu tempat hiburan paling banyak didatangi. Kita dapat menyantap hidangan laut sambil menikmati deburan ombak.

Satu lagi tempat hiburan di Priok adalah Pantai Zandvoord (orang menyebutnya Sampur). Pantainya yang bening dan belum kena polusi, di hari-hari liburan banyak dikunjungi masyarakat. Mereka yang tinggal agak jauh datang dengan naik kereta api. Letaknya sekitar 3 km dari Taman Impian Jaya Ancol, yang kala itu masih jadi tempat monyet.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Monumen Michiels Jadi Istiqlal

Kecuali gedung Departemen Keuangan dan gedung Mahkamah Agung, tiada lagi gedung tua tersisa di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat dan sekitarnya. Seperti di Willemslaan (kini Jl Perwira) yang berhadapan dengan Waterlooplein (Lapangan Banteng), sampai tahun 1942 terdapat sebuah monumen (gambar kiri) menjulang tinggi dan berpagar besi.

Lokasi monumen di persimpangan sebelah timur Jl Perwira dan bagian barat Waterlooplein (Lapangan Banteng). Monumen yang berdiri tegak di tengah-tengah sudut jalan itu kini jadi salah satu bagian ujung timur Masjid Istiqlal. Monumen Michiels dibangun pada (1853-1855) untuk menghormati Mayor Jenderal Andreas Victor Michiels, komandan Militer Belanda di Sumatera Barat. Dia meninggal karena menderita luka parah saat memimpin ekspedisi menghadapi pemberontakan di Bali (23 Mei 1849).

Jenderal Michiels dimakamkan di pemakaman Kristen Kebon Jahe Kober, Kerkhof Laan (kini Jl Tanah Abang I), Jakarta Pusat. Pemakaman ini setelah lama ditutup, pada awal 1970-an oleh Gubernur DKI Ali Sadikin dijadikan Museum Prasasti. Pemakaman ini telah berusia 210 tahun. Monumen Michiels diruntuhkan masa pendudukan Jepang (1942-1945) atau pada awal kemerdekaan RI oleh para pejuang tahun 1945. Willemslaan (Jl Perwira) tempat kantor pusat Pertamina berada, pernah jadi kediaman para elite di Batavia. Karena daerahnya yang tenang dan sejuk berkat pohon-pohon rindang di kiri kanan jalan.

Di sebelah kanan monumen, seperti terlihat dalam foto terdapat gereja Katolik yang dibangun pada 1828 sebelum diperluas jadi katedral (1901). Foto kedua bangunan diabadikan fotografer Netherlands Indies Topographic Bureau pada 1870-an. Agama Katolik yang mula-mula masuk ke Indonesia melalui Portugis yang pada abad abad ke-16 banyak berdatangan ke Indonesia pada masa VOC-- 1602 sampai 1799-- terarang di seluruh wilayah kekuasaan Kompeni. Pada 1806 ketika Louis Bonaparte ditunjuk jadi raja Belanda oleh kakaknya Kaisar Napoleon Bonaparte, ia menghilangkan diskriminasi ini. Membolehkan agama Katolik di Indonesia setelah tercapai persetujuan dengan Vatikan (1807).

Pada Pebruari 1810 Gubernur Jenderal, Willem Herman Daendels membangun sebuah gereja Katolik kecil di Gang Kenanga, depan Pasar Senen. Lokasinya diseberang bioskop Grand (Kramat). Untuk kemudian (1829-1880) berdiri gereja yang lebih besar di Lapangan Banteng (lihat gambar). Gereja itu kemudian direnovasi dan diperluas, hingga jadi Gereja Katedral sekarang ini.

Presiden Soeharto dalam lawatan-lawatannya ke luar negeri, sering membanggakan Masjid Istiqlal yang letaknya berdampingan dengan Gereja Katedral. Yang dikatakan sebagai wujud toleransi agama di Indonesia. Istiqlal (Merdeka) sekalipun pembangunannya baru dimulai 24 Agustus 1961, tapi ide membangun mesjid megah dan terbesar di Asia Tenggara ini telah dirintis sejak 1950. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta sejak awal terlibat dalam membangun Istiqlal.

Hasrat membangun Masjid Istiqlal merupakan cita-cita umat Islam, sebagai tanda syukur pada Allah SWT atas anugerah kemerdekaan. Kala itu tempat peribadatan umat Islam hanya terdapat di kampung-kampung. Berlainan dengan gereja yang berada di pusat-pusat kota dan di tepi-tepi jalan raya. Bagi Bung Karno, Masjid Istiqlal dengan menara setinggi 6.666 cm atau hampir 70 meter merupakan landmark Ibu Kota RI. Ketika bandara di Kemayoran dan kemudian di Halim Perdanakusuma saat pesawat hendak mendarat para penumpang akan melihat dua monumen raksasa: Monas dan Istiqlal.

Istiqlal dibangun di bekas sebuah taman bernama Wilhelmina Park yang dibangun untuk mengabadikan pengangkatan Ratu Wilhelmina, nenek Beatrix, ratu Belanda sekarang. Di sini juga terdapat sebuah benteng (citadel) yang ketika dihancurkan dengan dinamit oleh Korps Zeni AD memakan waktu satu setengah tahun. Karena kokohnya benteng itu. Selama Ramadhan, ribuan jamaah dapat menikmati buka puasa bersama di Istiqlal, yang pangannya sumbangan dari para dermawan. Tiap Jumat tidak kurang 25 ribu jamaah shalat di Istiqlal. Sedangkan di hari Idul Fitri dan Idul Adha jamaah membludak mencapai 250 ribu-500 ribu orang.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Orang Betawi Nyambut Puasa

Bagi warga Betawi, bulan suci Ramadhan sangat mereka nantikan. Sehari menjelang Ramadhan terlihat kesibukan luar biasa di rumah-rumah. Ibu-ibu belanja lebih banyak katimbang hari biasa untuk menyiapkan makan sahur. Sedang pasar-pasar diserbu para pembeli.

Pada tempo doeloe, ada suatu keistimewaan dalam menyambut Ramadhan yang kini sudah hampir tidak terdapat lagi. Saat itu, pada sore hari, di getek-getek di tepi sungai-sungai terlihat para ibu, khususnya gadis-gadis tengah keramas. Dengan bekemben kain batik mereka mandi dan menyiram seluruh tubuh.

Kalau sekarang digunakan shampo untuk mencuci rambut, hingga tiap jam kita disuguhkan puluhan iklannya di televisi, dulu untuk keramas digunakan merang. Yakni, kulit gabah yang dibakar kemudian dicampur dengan buah rek-rek. Buah berbusa yang umumnya digunakan untuk menyepuh perhiasan, emas dan perak, agar mengkilat kembali. Istilah ketombe baru muncul akhir-akhir ini, yang di iklan membuat wanita dan pria dijauhi lawan jenisnya.

Di samping merang, untuk keperluan keramas ada kalanya digunakan lidah buaya. Sedang untuk memperindah dan mencegah kerontokan rambut digunakan minyak kemiri. Baunya harum dan dipakai juga oleh pria. Minyak kemiri yang terkenal kala itu cap Dua Anak, keluaran Thio Tek Tjoe, seorang sinshe yang buka praktek di depan bioskop Kramat (Grand). Sampai awal 1950-an, sinshe ini tiap hari didatangi ratusan pasien, terutama anak-anak untuk berobat. Maklum kala itu dokter belum banyak.

Mandi dan keramas punya motif pembersihan lahir dan batin dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Begitu telitinya mereka keramas hingga di gosok-gosokkan ke ubun-ubun supaya air meresap sampai ke pori-pori.

Ada lagi tradisi yang hingga kini masih terus dilakukan, yakni tradisi ziarah kubur menjelang puasa. Di masyarakat Betawi, seperti dikemukakan tokohnya H Irwan Sjafi'i, tidak dikenal apa yang disebut nyekar. Yang dikenal hanya ziarah kubur. Kala itu, yang berziarah khusus kaum pria. Wanita dilarang karena khawatir ada diantara mereka yang mendapat haid.

Ziarah kubur dilakukan sebagai penghormatan dan mendoakan arawah orang tua dan keramat. Banyak yang membaca surat Yasin atau membaca tahlil, sambil membersihkan makam kerabat.

Yang kagak boleh dilupakan menjelang Ramadhan adalah mengantar penganan kepada orang tua. Bukan saja anak dan cucu. Calon mantu juga ngantar penganan pada calon mertoku. Penganan kala itu umumnya roti, sirop dan korma. Calon mantu yang datang membawa barang antaran ke rumah calon mertua, mendapat nilai lebih. Ia dapat pujian sebagai calon menantu yang baik dan bikin senang hati mertua.

Sebaliknya, calon mantu yang tidak bawa anteran apalagi tidak nongol jelang Ramadhan, urusannya bisa runyam. Calon mantu semacam ini tidak ada ia punya rasa hormat pada mertua. Bisa-bisa lamarannya bakal ditolak. Karena itu, sekalipun kantong kempes atau lagi bokek, ngantar pada mertua kudu dilakukan.

Konon, sampai sekarang masih ada hal semacam itu. Tapi zaman sudah berobah. Calon mertua lebih senang dikasih mentah-nya saja. Seperti juga undangan perkawinan, tertulis kalimat: Tidak terima bingkisan/kado dan karangan bunga. Tentu saja yang dimaksudkan adalah hanya menerima pemberian dalam bentuk uang.

Di depan tiap rumah diterangi puluhan lampu minyak tanah -- dulu minyak tidak bermasalah -- sejak magrib hingga subuh. Ini dilakukan hingga akhir bulan Ramadhan. Dan akan lebih meriah lagi pada saat-saat malam takbiran. Maklum kala itu belum banyak perkampungan tersentuh listrik.

Sekarang banyak orang yang tidak mengindahkan kesucian Ramadhan. Kala itu para tukang dagang baru membuka dagangannya pukul lima sore. Mereka menjual gado-gado, asinan, keredok, kolak pisang, ubi dan tales. Di siang hari hampir tidak ada tukang dagang. Hampir tidak ditemukan orang yang makan/minum di jalan. Bahkan para tamu -- sekalipun tidak puasa -- jangan harap dapat suguhan makan dan minum.

Anak-anak sejak usia tujuh tahun sudah dididik untuk jalankan ibadah puasa. Meskipun hanya setengah hari dan berbuka saat Dhuhur. Malamnya mereka diajak orang tuanya shalat tarawih. Kala itu, kegiatan lebih banyak terkonsentrasi di langgar (surau) dan masjid. Bapak-bapak banyak yang menghabiskan malam di rumah Allah ini.

Yang disebut mal, pusat pertokoan, belum nongol. Kecuali pasar-pasar tradisional. Tadarus yang dipimpin seorang guru ngaji -- mualim atau ustadz -- banyak diikuti masyarakat. Ada yang selama satu bulan bisa tiga kali khatam Alquran. Mereka memelihara telinga, mata dan bicara agar mendapatkan nilai puasa seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Bagi mereka yang bertempat tinggal di perkampungan masyarakat Betawi jangan khawatir terlambat sahur. Apalagi sampai ketinggalan makan sahur. Karena untuk menyiapkan makan sahur para ibu sudah bangun antara pukul 02.00 hingga 03.00 dinihari. Pada jam-jam tersebut, para pemuda akan mengitari rumah-rumah di kampung-kampung. Dengan membawa kencengan atau memukul tiang listrik mereka berseru, ''Saur ... saur ... saur!''

Sekarang suara itu sudah digantikan musik dangdut. Cara ini dianggap masih lebih sopan katimbang petasan. Maklum suaranya bisa bikin kaget, apalagi bagi mereka yang berpenyakit jantung. Untungnya petasan kini sudah dilarang.

(Alwi Shahab )

Pintu Gerbang Amsterdam

Sampai Desember 1950, bila kita menuju Pasar Ikan, Jakarta Utara akan melewati Pintu Gerbang Amsterdam (lihat gambar). Letaknya di bagian selatan dari kastil (benteng) dan sekitar 400 meter sebelah utara stadhuis ( Balai Kota), yang kini jadi Gedung Museum Sejarah Pemda Provinsi DKI Jakarta, Jl Fatahillah 1, Jakarta Utara.

Dibangun pertama kali pada abad ke-17, pintu gerbang ini telah mengalami beberapa kali perubahan. Bagian selatan kastil, termasuk pintu gerbang Amsterdam direnovasi selama masa pemerintahan gubernur jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff (1743-1750). Gubernur keturunan Jerman ini yang memulai dinas di VOC sejak prajurit rendahan, dilantik setelah terjadi pembantaian besar-besaran warga keturunan Tionghoa (September 1740).

Pada saat itu, di kiri kanan pintu gerbang diapit tembok ynag memanjang sejauh puluhan meter. Tembok ini kemudian dihancurkan karena menghalangi kereta kuda yang akan melewatinya. Ketika benteng kota Batavia dihancurkan oleh gubernur jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811), pintu gerbang ini terluiput penghancuran. Saat membangun Weltevreden (sekitar Gambir, Lapangan Banteng, Senen, dan Pasar Baru),

Bahan bangunannya berasal dari benteng dan gedung-gedung tua disekitarnya. Termasuk saat hendak membangun Istana di Lapangan Banteng (kini gedung Departemen Keuangan) dan gedung Mahkamah Agung di sebelahnya. Pintu gerbang Amsterdam yang lokasinya kini di Jalan Cengkeh dan Jl Tongkol, Jakarta Utara, terletak sebelah selatan jembatan kereta api, dan sebelah kiri terminal angkutan darat Kota Inten. Berdampingan dengan jembatan gantung di Pintu Besar Timur.

Pada bulan April 1869 ketika trem kuda mulai beroperasi, melewati sisi kiri pintu gerbang. Dengan rute dari Kanal Weg (Jl Tongkol), dekat Pelabuhan Sunda Kelapa dan menyusuri Prinsenstraat (kini Jl Cengkeh), untuk kemudian melewati Nieuwpoort Straat (Jl Pintu Besar Utara dan Pintu Besar Selatan. Kemudian trem melaju ke Molenvliet (kini Jl Gajah Mada). Sebelah kiri foto yang dibuat pada tahun 1880-an terlihat rel strem kuda, yang kemudian digantikan trem uap dan terakhir trem listrik.

Pada pertengahan abad ke-19 mereka yang datang ke Batavia melalui kapal laut dari pelabuhan lama (Sunda Kelapa) terlebih dulu melewati pintu gerbang Amsterdam sebelum memasuki kota. Di kiri dan kanan pintu gerbang terdapat dua patung tengah memegang tombak yang dipasang pada tahun 1830. Masing-masing patung Mars (dewa perang Romawi) dan patung Minerva (dewa kesenian Yunani), seolah-olah sebagai penjaga benteng Batavia.

Pintu gerbang ini bertahan sampai datangnya balatentara Jepang (1942-1945). Tapi sejak itu, patung Mars dan Minerva yang terbuat dari perunggu lenyap diambil Jepang. Sejak 1940-an, ketika kendaraan di Ibukota mulai ramai pintu gerbang ini menjadi penghalang lalu lintas kendaraan bermotor. Baru pada Desember 1950 dibongkar dan tidak berbekas lagi.

Selama masa VOC (1619-1799), Batavia merupakan kota berbenteng yang dikelilingi dinding. Area yang berada di dalam benteng (dinding) adalah kawasan kota, sebutan yang hingga kini masih tetap populer. Belanda sampai 1940-an menyebut Batavia Centrum (Pusat Kota Batavia), dan Weltevreden untuk daerah diselatan yang baru dibangun awal abad ke-19.

Sampai akhir abad ke-18, daerah yang berada di luar dinding kota Batavia masih rawan keamanannya. Beberapa kali mendapat serangan dari balatentara Islam Mataram dan Banten. Di samping para budak yang melarikan diri dari tuannya dan kemudian melakukan kejahatan, bersembunyi di daerah ini yang sebagian besar masih hutan belukar.

(Alwi Shahab, wartawan Republika)

Kali Besar atau De Groote Rivier

Foto ini memperlihatkan kawasan Kali Besar saat masih ramai dilayari. Daerah ini dibagi dua oleh Sungai Ciliwung, Kali Besar Timur, dan Kali Besar Barat, Jakarta Kota. Dahulu, muara Ciliwung memungkinkan 10 buah kapal dagang berkapasitas 100 ton, perahu-perahu Melayu, Jepang, Cina dan berbagai ragam kapal dari sebelah timur masuk dan berlabuh dengan aman.

Air sungai waktu itu mengalir bebas, tidak berlumpur dan penuh endapan seperti sekarang. Kapal-kapal yang singgah di Kali Besar mengambil air yang cukup baik, untuk mengisi botol dan guci mereka sebagai persediaan untuk pelayaran. Sedang pedagang pribumi menyiapkan untuk mereka ikan-ikan segar dan ikan asin dalam jumlah besar dengan harga relatif murah. Sementara tumbuhan pohon kelapa dan ladang tebu serta persawahan yang dekat dengan pelabuhan menjamin persediaan makanan bagi pengunjung maupun penetap, di samping arak yang melimpah.

Orang Tionghoa di sini menjadikan pabrik arak sebagai usaha utama dan arak dari Batavia ini sangat digemari para awak kapal mancanegara. Master Rodges, kapten kapal Portugis saat hendak berlabuh di Batavia pada 1700 menulis: ''Awak kapal kami saling berpelukan dan mengucapkan rasa syukur mereka karena telah tiba di tempat pesta minum-minuman yang gembira sekali.''

Di sebelah kanan foto, terlihat menara balai kota yang kini jadi Museum Sejarah DKI Jakarta. Kali Besar sama tuanya dengan Ciliwung. Sejak masa Sunda Kelapa ia telah jadi pelabuhan utama Kerajaan Pajajaran yang berpusat di Bogor. Kawasan seputar Kali Ciliwung ini telah ramai, mengingat sungai ini saat itu merupakan urat nadi pelayaran. Perahu-perahu yang membawa barang-barang antara Bogor - Kali Besar hampir tidak pernah mengalami hambatan. Pada era Jayakarta (1527-1619) kawasan Kali Besar tambah ramai. Lebih-lebih setelah JP Coen mendirikan Batavia setelah membumihanguskan kota Jayakarta.

Pada 1631 aliran Ciliwung yang semula berbelok-belok diluruskan, membentuk sebuah kanal besar yang membujur lurus dari selatan (mulai dari Harmoni) ke utara (Kali Besar) yang oleh Belanda dinamakan /De Groote Rivier. Kali Besar pernah merupakan pusat bisnis dan industri di Batavia. Bahkan, setelah Pelabuhan Tanjung Priok dibuka menggantikan Sunda Kelapa akhir abad ke-19, Kali Besar tetap jadi tempat perkantoran, yang sisa-sisanya masih kita jumpai sekarang ini.

Sebelumnya, tahun 1700-an dibagian selatan Kali Besar Barat dibangun sederatan hunian orang-orang Belanda. Di antaranya Toko Merah yang pernah jadi rumah kediaman Gubernur Jenderal Van Imhoff (1750-an). Di samping rumah-rumah warga Belanda lainnya. Di muara Ciliwung yang kini menjadi solokan besar dan berbau, dulunya tempat hiburan warga Belanda, termasuk muda-mudi yang tengah kasmaran menyanyi dan bermain gitar di perahu-perahu. Sekitar abad ke-19 dan 20 sejak dibuka perkebunan-perkebunan swasta fungsi Kali Besar sebagai daerah hunian mulai menghilang, berganti jadi kawasan perdagangan. Di ujung muara Ciliwung hingga kini berdiri jembatan Kota Intan, yang dulu saat kapal keluar masuk bisa dinaik dan turunkan.

Pemda DKI kini berupaya untuk menjadi kawasan kota tua ini sebagai salah satu tujuan wisata. Tapi sejauh ini Kali Besar belum berhasil meraih banyak dolar dari para wisatawan mancanegara. Karena untuk mendatanginya mereka dihadang oleh kemacetan lalu lintas, sementara banyak gedung tua yang tidak terawat. Padahal di sini berdiri hotel berbintang lima Omni Batavia. Tampaknya tamu-tamu hotel tidak tahan duduk berlama-lama ditepi Ciliwung meskipun sudah diberi tenda dan lampu taman. Karena airnya butek, hitam, dan berbau. Apakah tidak sebaiknya Pemda DKI Jakarta perlu menggiatkan lagi Prokasih (Program Kali Bersih) guna membersihkan lumpur dan sampah yang sudah hampir menutupi Ciliwung.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Percaloan, dari VOC ke Senayan

Calo, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah orang yang menjadi perantara untuk menguruskan sesuatu berdasarkan upah. Bagi warga Betawi, calo punya konotasi buruk. Dasar calo lu!, umpatan kekesalan seseorang karena ulah para calo yang sering melakukan pemerasan.

Di negara kita ada 1001 macam percaloan. Seperti dalam pengiriman TKI/TKW ke luar negeri, para calo sangat berperan. Mereka berkeliaran sampai ke desa-desa dan tidak jarang melakukan penipuan. Demikian juga saat penerimaan pegawai negeri, ada calo-calo yang meminta uang sampai puluhan juta rupiah.

Menjelang Idul Fitri ini dikabarkan sejak awal Ramadhan karcis kereta api untuk mudik lebaran sudah terjual habis. Ada yang mensinyalir itu akibat ulah para calo yang konon bermain dengan orang dalam. Para calo menawarkan karcis di atas harga resmi. Belum lagi percaloan di terminal-terminal bus, hingga Menhub Hatta Radjasa bertekad untuk memberantasnya. Bahkan kartu kompensasi BBM juga dicaloin. Ada yang berani beli dengan harga antara Rp 800 ribu dan Rp 1,2 juta. Hingga Presiden SBY menjadi sangat marah dan minta agar para calo dan penyelewengan itu ditindak tegas.

Tapi sejak sebulan ini terembus percalon gaya baru yang hingga sekarang masih jadi pemberitaan di berbagai media massa. Karena yang jadi calo adalah wakil-wakil rakyat di DPR. Wakil rakyat itu dituduh terlibat percaloan anggaran dana pasca bencana. Sampai ada yang mengatakan, kok tega-teganya menjadi calo di daerah yang rakyatnya menderita karena tertimpa bencana. Padahal karena rakyatlah mereka bisa ke Senayan.

Rupanya percaloan di negeri kita sudah berlangsung selama berabad-abad. Bahkan marak terjadi pada masa VOC atawa kompeni. Dikisahakan bahwa VOC selaku kongsi dagang raksasa yang sempat menguasai dunia perdagangan akhirnya bangkrut di tahun 1799. Salah satu sebabnnya adalah karena korupsi yang merajalela yang dilakukan pejabat tingginya sendiri, termasuk gubernur jenderalnya.

Untuk itu, sebaiknya kita mendatangi bekas markas VOC di Pasar Ikan, Jakarta Utara. Berdiri di bekas menara syahbandar VOC di depan Museum Bahari Pasar Ikan, kita akan melihat ratusan kapal phinisi tengah bersandar di muara Ciliwung di Teluk Jakarta. Dari tempat inilah, ketika imperium VOC memegang kendali pelabuhan Sunda Kelapa kapal-kapal yang melintasinya harus memberi uang rokok. Karena, di terminal ini ada calo-calo yang akan mempermudah kelancaran arus masuk dan keluar bongkar muat. Beberapa waktu lalu di pelabuhan Tanjung Priok para kuli bongkar muat melakukan aksi mogok, karena tidak tahan terhadap pungkli dan calo-calo yang melakukan pemerasan. Itu menunjukkan sampai sekarang masih terjadi pungli dan pencaloan di tempat yang amat vital dan strategis tersebut.

Kembali ke masa VOC, dikisahkan bahwa untuk menggemukkan kantongnya sendiri, sang gubernur jenderal menjual jabatan-jabatan 'empuk' atau 'basah', pada mereka yang berani menyogoknya. Bahkan, ada calon pejabat harus membayar kontan 50 ribu gulden dan selanjutnya tiap bulan menyerahkan 7000 ringgit. Dan, setelah yang bersangkutan memperoleh kedudukan basahnya tersebut ia akan berusaha untuk memperoleh jumlah dua kali lipat dari yang pernah ia berikan. Caranya, tentu saja dengan penyelewengan dan pemerasan.

Disamping itu, pejabat yang diangkat ditempat yang 'empuk' itu setiap tahun harus memberi 50 ribu gulden kepada gubernur jenderal sebagai balas jasa (upeti). Para pemegang hak memungut pajak Tionghoa, terutama pajak judi dan candu, turut menambah penghasilan bagi gubernur jenderal. Karena, untuk jabatan-jabatan itu dilakukan pelelangan, maka para tukang lelang sekaligus bertindak sebagai calo. Mereka menawarkan jumlah upeti yang harus diberikan pada atasannya. Korupsi dan percaloan bukan hanya di kalangan gubernur jenderal. Juga marak di eselon para pembantunya, terutama para residen.

Dalam buku Toko Merah yang diterbitkan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta disebutkan, gubernur jenderal William Herman Daendels digaji 118 ribu gulden setahun dan gajinya sebagai jenderal 12 ribu gulden. Walaupun gajinya terbilang besar, namun dalam kurun tiga tahun pemerintahannya (1908-1911), ia masih bisa menggaruk 553.275 ringgit dari sarang burung di Yogyakarta. Tanah partikulir yang diberikan kepadanya juga dijual dengan nilai lebih dari satu juta ringgit.

Datang dari tempat yang jauhnya ribuan kilometer dari Eropa ke Batavia, sebagai kompensasi para pejabat kompenmi berusaha mengumpulkan uang sebanyak mungkin sebagai bekal bila kembali ke negerinya. Mereka juga hidup sangat boros, membangun vila-vila mewah di luar kota, yang sebagian masih dapat kita saksikan saat ini. Mereka dan keluarganya dilayani puluhan, bahkan ada yang memiliki lebih seratus budak. Seperti juga sekarang, memiliki rumah mewah dan setumpuk pembantu merupakan gengsi. Di zaman itu, makin banyak memelihara budak tingkat sosial mereka makin tinggi. Tidak heran kalau di Batavia sekitar 50 persen dihuni para budak. Kawasan Kalibesar Jakarta Kota pernah jadi tempat pelelangan budak.

(Alwi Shahab )

Lenong, dari Ngamen ke Televisi

Lenong, sebuah teater tradisional Betawi, berkembang sejak akhir abad 19. Sebelumnya masyarakat mengenal komedi stambul dan teater bangsawan yang dimainkan bermacam suku bangsa dengan menggunakan bahasa Melayu.

Orang Betawi menirunya, dan lahirlah lenong. Sampai 1960-an, di pinggiran Jakarta--bila ada keriaan (keramaian)--hampir selalu nanggap lenong. Diiringi musik gambang kromong yang dipengaruhi alat musik unsur Cina, seperti tehyan, kongahyang, dan sukong. Alat musik selebihnya adalah khas Betawi, antara lain gambang keromong, gong, kendang, kempor, dan kecrekan.

Kuatnya unsur Cina karena dulu orkes ini dibina dan dikembangkan oleh masyarakat keturunan Cina. Terutama para tauke untuk mencari hiburan. Tapi lenong bukan cuma sarana hiburan atau rekreasi, tapi sekaligus mencerminkan ekspresi perjuangan dan protes sosial. Lakonnya mengandung pesan moral, menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela.

Nyaris punah
Hampir dalam semua lakon muncul seorang berjiwa satria. Dia maju membela rakyat kecil yang tertindas. Seperti dalam lakon-lakon Si Pitung, Si Jampang, dan Macan Kemayoran.

Akhir 1960-an lenong nyaris punah. Tetapi kemudian dibangkitkan kembali oleh tokoh lenong Djaduk Djayakusuma, Sumantri Sastrowardoyo dan SM Ardan. Jalan ceritanya dipersingkat jadi dua jam, tidak lagi semalam suntuk yang bisa membuat orang akhirnya jemu. Walhasil, ternyata lenong mendapat greget baru dan digemari karena banyak unsur humornya. Lalu, bisa tampil di Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM).

Banyak pemain lenong menjadi terkenal. Bahkan ada yang jadi bintang film, seperti Bu Siti, Pak Tile, Anen, Nasir, Bokir, Nirin, dan masih banyak lagi.

Topeng Betawi
Di film-film produksi 1970-an dan 1980-an banyak kita jumpai wajah mereka. Umumnya berperan sebagai pelawak. Sedangkan mendiang Benyamin Sueb adalah seniman Betawi yang mempopulerkan lagu-lagu gambang kromong, berdut dengan Ida Royani.

Yang juga digemari adalah Topeng Betawi. Banyak yang mempersamakan jenis kesenian ini dengan lenong. Padahal ada perbedaan. Kalau lenong pengiringnya musik gambang keromong, sedagkan topeng musik Betawi asli. Pun, kalau lenong menceritakan para jagoan melawan tuan tanah jahat, topeng menceritakan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Para seniman kesenian Betawi yang kini terkenal dan banjir tawaran di berbagai stasiun televisi, contohnya adalah Mandra, Bolot, Malih, dan adiknya Omas. Mereka adalah pemain topeng Betawi. Karena tumbuhnya di pinggiran kota Jakarta, topeng dipengaruhi kesenian Sunda.

Seperti juga lenong, topeng sebelum muncul di televisi ngamen dari kampung ke kampung. Mereka pentas malam hari di udara terbuka dan diterangi lampu minyak tanah. Mereka membawa dan menggendong anak kecil dan bahkan bayi, untuk berjalan berkilo-kilo meter.

Mungkin saja di antara anak-anak yang di gendong waktu itu adalah orang-orang yang kini dikenal sebagai Mandra, Bolot, Malih, dan Omas. Ketika pertunjukan berlangsung, salah seorang primadonanya mengitari penonton sambil meminta sumbangan secara sukarela. Banyak penonton melemparkan uang kecil di atas tikar yang khusus disediakan. Dari uang saweran inilah para pemain lenong dan topeng hidup pas-pasan, dan lebih banyak menyedihkan.

Sutradara Ali Shahab pernah menceritakan, sebelum bermain film Pepesan Kosong (1980-an), Malih dan Bolot rumahnya masih berlantai tanah. Bahkan SN Ardan, tokoh yang membangkitkan kembali lenong, mengatakan : ''Dulu ketika para pemain datang ke TIM harus naik bus kota. Bajunya lusu dan dekil.''

( alwi shahab )

Istana Gubernur Jenderal VOC di Dalam Kastil

Inilah gambar Istana Gubernur Jenderal V0C di dalam benteng (kastil) Batavia. Di tempat inilah Gubernur Jenderal JP Coen dan para penggantinya pernah tinggal selama di Batavia. Kastil (benteng) Batavia termasuk istana, berbenteng berdinding batu tebal. Pada keempat sudutnya dibangun bastion (benteng pertahanan) yang diberi nama diamant (intan), robijn (batu delima), de parel (mutiara), dan Safier (batu nilam).

Bastion diamant atau intan sampai kini masih dikenal orang sebagai kawasan Kota Intan, yang merupakan bagian paling akhir dari terminal Jakarta Kota dekat Pasar Ikan. Luas kastil sekitar 3,6 ha terletak di sebelah timur muara Sungai Ciliwung atau sekitar Jl Tongkol dan Jl Lodan saat ini. Bagian utaranya berhadapan langsung dengan Laut Jawa.

Kastil Batavia yang dibangun Coen merupakan cikal bakal Kota Batavia yang kemudian berkembang ke arah selatan, dan kini Jakarta yang telah menembus berbagai pelosok pedesaan berpenduduk lebih 10 juta jiwa.

Pada saat awal dibangun 350 tahun lalu, mereka yang berdiam di dalam kastil antara 1.000 dan 2.000 orang termasuk asrama militer. Di samping istana sebagai bangunan utama, terdapat rumah Dewan Penasehat Hindia, para saudagar dan saudagar utama, kantor para pegawai, kediaman wali kota, anggota Dewan Hindia, kepala Seksi Akomodasi, pemegang pembukuan, pengacara umum, para kapten, dan kantor sekretariat. Juga terdapat dapur dan tempat pembuatan roti, ruangan untuk penjaga, penjara, gudang-gudang, gereja, gereja, toko besar, rumah tabib, toko obat, dan tidak ketinggalan rumah untuk bersenang-senang. Semuanya dilindungi bastion dan parit-parit sebagai pertahanan menghadapi musuh. Maklum 80 tahun setelah VOC berdiri masih menghadapi ancaman dari balatentara Mataram, Banten, dan sisa-sisa pasukan Jayakarta.

Kastil yang dibangun di atas puing-puing kota Jayakarta-- antara lain kraton dan mesjid-- merupakan ambisi Coen yang bertujuan untuk menjadikan kota baru ini sebagai pusat kedudukan VOC, sekaligus untuk mengimbangi Portugis di Malaka.

Tidak heran kalau kastil Batavia dengan sejumlah bangunan besar dari batu dan atap genteng, merupakan pusat dagang VOC di Asia. Saat VOC membangun kastil ini Belanda mendatangkan sebagian bahan bahan bangunannya dari negerinya. Sebabnya, ketika kapal-kapal VOC menuju Nederland penuh berisi rempah-rempah dari Maluku. Demikian juga kapal-kapal VOC dari Sunda Kelapa. Agar kapal-kapal yang kembali tidak kosong dan menjaga keseimbangan, dimuatlah bahan-bahan bangunan.

Pernah terjadi pada 28 Oktober 1628 saat kapal 'Batavia' meninggalkan pelabuhan Texel, Nederland menuju Kota Batavia, pada 4 Juni 1629 menerjang karang dan kandas di lepas pantai Australia Barat. Kapal kebanggaan VOC ini mengangkut 341 penumpang, termasuk 100 prajurit. Kapal ini juga memuat pintu gerbang untuk kastil Batavia yang dipesan oleh JP Coen. Di samping 12 peti uang perak, batu permata, tekstil dan porselen. Kini pintu gerbang Batavia disimpan di Museum Perth.

Pihak Australia setuju untuk memberikan replika pintu gerbang Batavia, yang akan ditempatkan di depan Museum Bahari, Pasar Ikan, Jakarta Utara. Karena kastil Batavia sudah tidak tampak lagi. Dihancurkan Gubernur Jenderal Daendels ketika ia membangun Weltevreden (suka hati) pada 1808-1811. Bahan-bahan bangunan kastil digunakan antara lain untuk membangun Istana Weltevreden (kini Departemen Keuangan) dan sejumlah gedung dan bangunan di sekitar Lapangan Banteng.

Kawasan sekitar menara Syahbandar, galangan kapal VOC dan gudang rempah-rempah (kini Museum Bahari) merupakan peninggalan awal kekuasaan penjajah Belanda. Di sekitar kawasan inilah pernah jadi pusat kota Batavia, yang sampai tahun 1808 masih merupakan kota berbenteng.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Surat Menyurat dan Kantor Pos

Kesibukan biasanya terjadi di Kantor Pos dan Giro, Jl Pos, Pasar Baru, Jakarta Pusat, menjelang Idul Fitri. Seperti yang terjadi beberapa tahun lalu, ratusan pedagang kaki lima mangkal di depan gedung yang dibangun pada akhir abad ke-19 tersebut. Dengan memasang tenda-tenda mereka menjual kartu ucapan selamat lebaran.

Tapi, menjelang Idul Fitri 1426 H ini tidak lagi tampak keramaian seperti di masa-masa lalu, ketika saat-saat kantor pos diserbu pengunjung. Begitu pesatnya hubungan telekomunikasi, untuk mengirim pesan atau ucapan selamat kini sudah cukup melalui email, SMS lewat handphone, mesin fax dan berbagai cara lainnya yang lebih cepat dan praktis.

Mungkin sekarang ini tidak terbayangkan bagaimana begitu primitif dan lambannya jasa pos. Seperti pada era VOC (1602-1799) hubungan surat dari negeri Belanda ke Batavia butuh waktu sembilan bulan, kadang-kadang lebih setahun. Dari Batavia ke Maluku sebagai gudang rempah-rempah perlu waktu empat bulan. Maklum, kala itu angkutan pos masih mengandalkan kapal dagang VOC.

Belum lagi risiko pelayaran itu sendiri dalam mengarungi lautan serta menghadapi hadangan bajak laut. Seringkali terserang penyakit yang banyak menyebabkan kematian. Konon, ketika Presiden AS Abraham Lincoln tertembak mati pada 15 April 1865 di Washington DC, berita yang menghebohkan itu baru diketahui di Tanah Air berbulan-bulan kemudian.

Padahal, hubungan pos di zaman VOC jauh lebih baik dibandingkan masa-masa jauh sebelumnya, meskipun belum baik dan lancar. Ketika tahun 492 sebelum Masehi (SM) pasukan Darius Agung dari Persia menyerang Yunani dari dataran Marathon, dan dikalahkan, berita kemenangan ini disampaikan seorang pelari. Untuk itu dia berlari sepanjang 42 km dari Marathon ke pusat kerajaan Yunani. Namun, pelari ini meninggal dunia ketika tiba di hadapan raja. Untuk memperingati peristiwa sejarah ini dalam lomba atletik disediakan nomor lari marathon.

Kembali ke era VOC, guna mengatur dan menjamin kelancaran dan keamanan pos, maka pada 1746, gubernur jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff mendirikan kantor pos pertama di Hindia Belanda. Sampai kini gedung kantor pos pertama itu masih berdiri. Letaknya di Galangan Kapal Batavia, depan Museum Bahari, Pasar Ikan, Jakarta Utara. Ketika itu letaknya berhadapan dengan kastil (benteng) Batavia.

Sedang kediaman gubernur jenderal van Imhoff juga masih dapat kita jumpai di Kali Besar Barat, dikenal dengan nama Toko Merah. Ia jadi gubernur jenderal VOC setelah pembantian 10 ribu warga Tionghoa di Glodok (Oktober 1740). Peristiwa penjagalan besar-besaran, manusia disembelih seperti binatang. Pada 1750 berdiri kantor pos kedua di Semarang.

Berdasarkan catatan sejarah, kegiatan surat menyurat di Indonesia telah dimulai jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Yakni pada masa kerajaan Kutai, Tarumanegara, Pajajaran, Majapahit, Sriwijaya dan Mataram -- walaupun hanya terbatas pada hubungan antarpara raja. Bentuknya masih sangat sederhana, menggunakan kulit kayu, potongan bambu, daun lontar, dan kulit binatang.

Kegiatan pos semakin lancar, setelah pembuatan Jalan Raya Pos (de Grote Postweg) dari Anyer sampai Panarukan sepanjang 1000 km pada 1809 atas perintah gubernur jenderal Herman William Daendels. Menyebabkan waktu tempu pos dari Jawa Barat ke Jawa Timur yang sebelumnya memakan waktu 40 hari, diperpendek jadi enam hari.

Perangko pertama di dunia diterbitkan di Inggris (1840) dengan nama Penny Black, yang membuka zaman baru dalam bidang pertarifan pos. Belanda, saat menjajah Indonesia, mengikuti pula jejak Inggris. Pada 1852, diterbitkan perangko Belanda pertama, bergambar Raja Willem III. Sementara di jajahannya Hindia Belanda, perangko digunakan pertama kali pada 1865. Cetaknya di Belanda sebanyak dua juta lembar.

Sampai awal abad ke-20 ada yang disebut hari pos. Saat hari tibanya kapal dari Belanda. Warga Belanda sangat menantikan kedatangan surat-surat dari negeri leluhurnya. Kemudian pos pun berkembang pesat, ketika dimulainya era pesawat udara. Dan kantor pos merupakan salah satu tempat paling sibuk ketika itu.

Meskipun pemerintah kolonial Belanda menyediakan banyak kotak pos (brievenbus) di Batavia dan kota-kota lainnya, tapi banyak yang datang ke kantor-kantor pos agar surat-surat lebih cepat sampai ke tujuan. Sementara Belanda banyak menyediakan kotak pos (brievenbus) yang dipasang di jalan-jalan raya. Maksudnya supaya orang tidak perlu mendatangi kantor pos, cukup menitipkan surat ke kotak pos. Untuk kemudian surat-surat dikeluarkan dari kotak dan diangkut ke kantor pos.

Sekarang ini begitu cepat dan lancarnya komunikasi. Lebih-lebih sejak adanya televisi yang melakukan siaran langsung. Bangsa Indonesia yang umumnya gila bola dapat menonton siaran-siaran liga Eropa, sekalipun untuk itu mereka rela harus begadang.

Pada tahun 1960-an, meskipun televisi belum muncul, tapi pertandingan di liga Eropa sudah banyak diikuti. Peminatnya adalah para petaruh sepakbola. Mereka ini pada malam hari banyak menelpon ke Kantor Berita 'Antara' menanyakan hasil pertandingan, yang disiarkan oleh kantor-kantor berita asing, yang baru keesokan harinya di muat di koran-koran. Ketika menjadi redaksi di Antara, saya dan rekan-rekan seringkali jadi kesal karena banyaknya telpon yang minta hasil pertandingan.

(Alwi Shahab )

Tanjidor Musik Jazz Betawi

Betawi sangat kaya dengan ragam kesenian tradisional. Maklum sejak berabad-abad kota ini sudah didatangi beragam bangsa. Termasuk bangsa Portugis yang datang sebelum Belanda.

Bangsa di Eropa Selatan itu ikut memasukkan unsur keseniannya dalam bentuk musik tanjidor. Karena dimainkan oleh sepuluh bahkan sampai belasan orang dengan berbagai alat musik, sehingga ada yang mengkategorikannya sebagai ''musik jazz Betawi''.

Perkiraan asal muasalnya dari Portugis, karena berasal dari kata ''tanger'', yang berarti memainkan alat musik--pada pawai militer atau upacara keagamaan. Entah kenapa, kata ''tanger'' kemudian diucapkan jadi tanjidor.

Ngamen di kampung Mungkin generasi sekarang tidak banyak lagi mengenal musik klasik yang satu ini. Padahal, sampai pertengahan 1950-an, tanjidor 'ngamen' dari kampung ke kampung, terutama untuk memeriahkan perayaan Lebaran, pergantian tahun, dan Imlek (tahun baru Cina).

Pada saat Imlek, hari-hari ngamen tanjidor jauh lebih lama. Pasalnya, Imlek dirayakan sampai Capgomeh atau hari ke-15 Imlek. Pengamen tanjidor berasal dari daerah pinggiran Betawi, yaitu Karawang, Bekasi, Cibinong, dan Tangerang. Saat ngamen mereka terpaksa menginap di Jakarta, meninggalkan keluarganya di kampung.

Peralatan yang mereka bawa pun cukup berat, seperti terompet Prancis, klarinet dan tambur Turki, serta terompet besar. Yang menyedihkan, mereka ngamen dengan berjalan kaki tanpa alas sepatu atau sandal.

Berasal dari budak
Ernst Heiinz, ahli musik Belanda, berpendapat bahwa tanjidor asalnya dari para budak yang ditugaskan main musik oleh tuannya. Hal ini dipertegas oleh sejarahwan Belanda yang banyak menulis tentang Batavia bahwa orkes tanjidor kemudian muncul pada masa kompeni.

Sampai 1808, kota Batavia dikelilingi benteng tinggi. Tidak banyak tanah lapang. Para pejabat tinggi kompeni membangun villa di luar kota, seperti di Cilitan Besar, Pondok Gede, Tanjung Timur, Ciseeng, dan Cimanggis. Di vila-villa yang megah dan mewah itu, mereka mempekerjakan ratusan budak. Di antara mereka ada yang khusus memainkan alat-alat musik untuk menghibur para tuan saat jamuan makan malam dan kegiatan pesta lainnya. Ketika perbudakan dihapuskan 1860, mereka membentuk perkumpulan musik yang dinamakan tanjidor.

Pengaruh Belanda
Dalam perkembangannya kemudian, orkes rakyat ini dipengaruhi musik Belanda. Lagu-lagu yang dibawakan, antara lain Batalion, Kramton, Bananas, Delsi, Was Tak-tak, Welmes, dan Cakranegara.

Judul lagu itu berbau Belanda meski dengan ucapan Betawi. Tapi, Tanjidor juga membawakan lagu-lagu Betawi asli, seperti Jali-Jali, Surilang, Kicir-kicir, Cente Manis, Stambul, dan Parsi. Pada 1954, Walikota Sudiro melarang musik tanjidor ngamen. Pelarangan ini tentu saja membuat para senimannya menjadi kecewa.

Kini, musik tanjidor dikabarkan merana di tengah situasi Betawi modern (Jakarta). Keberadaannya tak lagi populer untuk ukuran Ibukota RI ini yang sudah kosmopolitan. Padatnya penduduk dan jalanan macet, juga menyulitkan rombongan seniman tanjidor untuk ngamen, meski sudah tak ada lagi larangan.



( alwi shahab )

Rekreasi di Sarang Monyet

Selama Idul Fitri banyak warga yang mendatangi tempat rekreasi. Salah satu yang banyak diserbu adalah Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) di Jakarta Utara. Seperti tahun-tahun lalu, pengunjung sampai membludak selama sebulan setelah lebaran. Bisa mencapai jutaan orang.

Hal demikian juga terjadi di tempo doeloe. Sampai tahun 1960-an selama lebaran warga ramai-ramai rekreasi ke Zandvoort, yang oleh lidah Betawi disebut 'sampur'. Jaraknya sekitar 3 km dari Ancol, dan hanya 1 km dari stasion Kereta Api Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Ancol, yang kini tempat rekreasi paling banyak menyedot pengunjung, kala itu masih hutan belukar dan sarang monyet. Hingga kendaraan yang lewat harus perlahan-lahan dan ekstra hati-hati, karena monyet-monyet sering berhamburan keluar. Banyak yang percaya para monyet itu memiliki seorang pemimpin yang dijuluki 'si kondor'. Tentu saja kini tidak satu pun monyet yang tersisa. Bahkan, semak belukar sudah jadi hutan beton.

Ulama Kondang almarhum KH Abdullah Syafe'ie, melalui radio Asyafi'iyah pada tahun 1970-an dan 80-an, sering menyindir bahwa monyet-monyet di Ancol sekarang bukan lagi berupa binatang tapi manusia yang tingkah lakunya lebih jelek dari binatang.

Maksud sindiran ulama Betawi itu, karena di malam hari para hidung belang dan WTS menjadikan kawasan Ancol sebagai tempat indehoy. Tanpa mengenal malu dan takut akan dosa, mereka melakukan maksiat di pasir tepi pantai, hanya di-alingin sebuah pantai. Konon, sekarang ini lebih berani lagi.

Ancol sebagai tempat maksiat dikenal jauh sebelumnya. Di kisahkan, playboy kaya raya Oey Tambahsia dan sejumlah warga tajir lainnya sering bersenang-senang di Ancol. Mereka memiliki soehian (semacam rumah pelacuran) tempat berpesiar dengan para harem. Bahkan, di salah satu vilanya itu, konon si mata keranjang Oey Tambahsia membunuh seorang gadis yang jadi korbannya.

Kemudian, gadis itu diidentikan sebagai Ariah yang hilang sekitar tahun 1870/1871. Ia meninggal dan jasadnya hilang, setelah menolak hendak diperkosa di sebuah vila di Ancol. Ia kemudian dikenal sebagai 'Si Manis dari Jembatan Ancol', yang pada malam hari sering keluar dan menggoda laki-laki, khususnya para sopir yang lewat jembatan.

Kisah itu telah berkali-kali disinetronkan, bahkan pernah difilmkan. Oleh perusahaan film Sarinande dengan produsen dan sutradara Turino Djunaedi dan pemeran utama Lenny Marlina, Farouk Afero dan Kris Biantoro.

Dalam tahun 1950-an, suratkabar Ibukota sering memberitakan kecelakaan lalu lintas yang meminta korban manusia di Jembatan Ancol. Berita-berita burung menyebutkan kecelakaan itu berkaitan dengan munculnya tiba-tiba seorang gadis ayu dekat jembatan Ancol. Si gadis bahenol terkadang berdiri di tepi jembatan dan terkadang melintasinya. Karena konsentrasi sopir terganggu, mobilnya menabrak pohon. Tidak heran, kala itu para pengemudi bila melewati jembatan ini harus beri kode: membunyikan klakson atau menyalakan lampu sen.

Seorang sordadoe Kompeni, Johannes Rach (1720-1783), ketika bertugas di Batavia sempat melukis Ancol. Kala itu banyak warga Belanda membangun vila di Ancol, yang kala itu masih bernama Slingerland. Prajurit itu melukis tuan dan nyonya Belanda serta kelurganya tengah berlibur di Ancol, yang kala itu letaknya di luar kota Batavia yang berpusat di Pasar Ikan. Sama seperti kalau kita berakhir pekan ke Puncak. Di Ancol, gubernur jenderal Valckenier memiliki sebuah vila besar dengan taman yang luas. Tentu saja ketika itu pantainya belum terkena polusi seperti sekarang.

Dalam lukisan tersebut tampak para wanita dengan pakaian mode dari Paris abad ke-18 yang dibagian bawahnya seperti 'kurungan ayam' tengah dipayungi budaknya. Sementara sejumlah budak lain mendampinginya memegang 'tempolong' untuk tempat ludah sirih 'si nyonya'. Kala itu, para wanita umumnya nyirih -- mengunyah daun sirih yang tengahnya diberi pinang dan gambir.

Kebiasan yang dilakukan para budak wanita itu kemudian ditiru para wanita Indo. Sampai 1950-an, hampir di tiap rumah selalu tersedia tempat sirih. Di kesultanan-kesultanan tempat sirih ada yang dibuat dari emas dan perak. Waktu itu, di jalan-jalan Ibukota terdapat penjual sirih yang memikul dagagangnya.

Pada masa perjuangan dan awal kemerdekaan, Ancol merupakan daerah terlupakan. Kawasan seluas 552 hektar itu dibiarkan terlantar dan jadi sarang malaria. Bersamaan dengan isu 'si Manis dari Jembatan Ancol'. Bung Karnolah yang punya ide untuk memanfaatkan Ancol, yang kala itu dijuluki 'tempat jin buang orok'. Presiden pertama RI itu merencanakan membangun Menara Soekarno. Namun urung, karena Bung Karno keburu dijatuhkan, sementara masyarakat menilainya sebagai 'proyek mercu suar'.

Pada saat keadaan Ancol demikian, Zandvoort menjadi tempat rekreasi warga Ibukota. Rekreasi ke pantai ini sangat menyenangkan. Tidak bayar sesenpun. Juga tidak perlu biaya banyak seperti ke Taman Impian Jaya Ancol. Warga dapat makan di dekat siraman ombak dan pantai yang jernih. Sementara di pinggir-pinggir jalan banyak pedagang, dengan harga yang terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.

Kini Zandvoort sudah tidak berbekas sama sekali. Bahkan, namanyapun tidak ada yang tahu, alias dilupakan. Kini di tempat rekreasi yang dulu paling banyak didatangi orang itu, yang tinggal hanya sejumlah gudang dan pantainya kotor penuh sampah.

(Alwi Shahab )

Si Jagur yang Kesepian

Setelah VOC mengalahkan Portugis di Malaka (1641), ia banyak menyandera tawanan perang. Mereka dijadikan budak belian dan baru dimerdekakan setelah ganti agama dari Katolik jadi Protestan. Keturunannya masih dapat kita jumpai di Kampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.

Termasuk gereja Tugu yang terkenal, dan keroncong Tugu, orkes peninggalan Portugis abad ke-18. Bersama para tawanan perang, Belanda juga mengangkut sebuah meriam besar beratnya 3,5 ton. Dikenal dengan 'meriam si jagur' (lihat gambar). Mungkin karena bunyinya jegar-jegur saat ditembakkan. Meriam macam ini oleh orang Betawi disebut 'meriam sundut'. Karena saat hendak ditembakkan lebih dulu lubang bagian belakang disundut setelah diisi peluru.

Belanda menempatkan si jagur di salah satu kastil (benteng) Batavia guna melindungi kota dan pelabuhan. Karena beratnya, 'si jagur' ditinggalkan begitu saja, ketika gubernur jenderal Daendels menghancurkan kastil Batavia, dan warga Belanda ramai-ramai 'mudik' ke Weltevreden (Gambir dan Senen) serta Meester Cornelis (Jatinegara). Sejak itu si jagur tergeletak di Kota Inten, dekat jembatan KA Jakarta Kota.

Entah sejak kapan, meriam perunggu buatan pabrik senjata 'St Jago de Barra' di Macao, Cina oleh Portugis kemudian jadi terkenal. Karena dianggap bertuah, banyak didatangi dan diziarahi orang. Bukan hanya dari Jakarta, juga dari tempat lain. Seolah-olah si jagur bisa mengabulkan permintaannya, para peziarah tidak segan-segan menyampaikan berbagai hajatnya melalui kuncen yang siang malam dengan setia mendampingi si jagur. Akibat membludaknya para peziarah, di sekitar kota Inten (tidak jauh dari terminal angkutan kota sekarang), banyak pedagang yang membangun warung di sekitarnya. Tapi yang laris adalah pedagang kembang dan kemenyan untuk ditaburkan dan nazar di meriam tua ini.

Yang paling banyak berziarah ke si jagur adalah pasangan suami istri yang meminta diberikan keturunan dan kesuburan. Pasalnya, ciri khas 'si jagur' terdapat di bagian buntutnya. Di sini terukir indah ibu jari tersembul di antara telunjuk dan jari tengah. Yang merupakan simbol senggama. Karena alasan itulah si jagur dianggap keramat dan diyakini bisa datangkan kesuburan. Bahkan ada yang anggap 'dewa kesuburan'. Para peziarah setelah memberikan uang pada kuncen (juru kunci), kemudian mendapatkan payung kecil warna merah dan kuning. Yang oleh si pasangan diletakkan di atas kelambu tempat mereka tidur.

Pernah terjadi seorang ibu dari Jawa Timur berziarah membawa dua anaknya, minta kesuburan pada si jagur. Setahun kemudian sang ibu kembali ke si jagur dan langsung marah-marah. Termasuk pada kuncen yang membacakan mantera dan doa-doa. Karena yang hamil bukan anaknya yang telah berkeluarga, tapi anak gadisnya.

Menyadari terjadinya kemusrikan, maka pada masa Wali Kota Sudiro pertengahan 1950-an, si jagur dipindahkan ke Museum Nasional di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Konon, ketika meriam ini dipindahkan seorang ibu yang berjualan di sekitarnya menjadi pingsan. Karena merasa rezekinya hilang. Dari Museum Nasional kemudian si jagur dipindahkan ke Taman Fatahilah di antara gedung Kantor Pos Jakarta Kota dan Kafe Batavia. Kini, meriam yang pernah dipuja-puja itu disimpan di Gedung Museum Sejarah DKI Jakarta. Sudah tidak ada lagi yang menziarahinya, seperti yang terjadi puluhan atau mungkin ratusan tahun lalu.

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Mudik di Jalan Daendels

Hari ini hampir semua pemudik sudah kembali ke Jakarta. Banyak di antara mereka yang mengajak saudara, tetangga, maupun kenalan untuk bekerja di Ibukota, sehingga penduduk Jakarta akan tambah berjubel. Menurut Pemda DKI Jakarta tiap tahun lebih 200 ribu pendatang baru dibawa para pemudik dari kampungnya dan menambah beban Ibukota. Apalagi sebagian besar pendatang baru tidak memiliki keterampilan.

Sejak awal 1970-an gubernur Ali Sadikin sudah menyatakan Jakarta sebagau kota tertutup. Kebijakan ini kemudian diikuti para penggantinya. Tapi, rupanya kagak mempan untuk menahan laju urbanisasi. Entah sudah berapa belas kali dilakukan 'operasi yustisi' guna menjaring para pendatang baru, tapi hasilnya nihil.

Kembali soal mudik, jutaan warga Jakarta rela dan siap menghadapi berbagai kesulitan agar dapat berlebaran di kampungnya masing-masing. Tidak peduli kemacetan atau ongkos angkutan dengan tarip gila-gilaan. Tapi apa yang mereka alami itu sebenarnya tidak ada artinya di banding derita dan pengorbanan rakyat ketika membangun Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan. Jalan sepanjang 1000 km -- sekitar Amsterrdam sampai Paris -- itulah yang dilewati sebagaian besar pemudik saat ini.

Jalan Raya Pos itu diarsiteki gubernur jenderal Willem Herman Daendels. Karenanya, lebih dikenal dengan sebutan Jalan Daendels. Ia satu-satunya gubernur jenderal yang tidak diangkat Ratu Belanda. Tapi oleh Lodewijk Bonaparte, adik Napoleon pada tahun 1808. Ketika itu Belanda berada dalam cengkeraman Prancdis, dan Napoleon mengangkat adiknya sebagak raja Belanda.

Untuk membangun jalan raya sepanjang itu, Daendels dengan kekerasan yang tiada tara mengharuskan para sultan dan bupati agar mengerahkan beribu-ribu pekerja rodi, tanpa imbalan sesenpun. Semua batu untuk peninggian dan pengerasan dibebankan kepada para petani. Sangat berat dan sulit para petani saat mengangkut bahan-bahan untuk jalan raya itu. Apalagi kala belum ada alat-alat berat. Tenaga manusialah yang digunakan untuk mengangkutnya melalui gerobak yang ditarik sapi. Pramoedya Ananta Toer menyebutkan bahwa pembangunan jalan itu merupakan genosida atau pembunuhan secara besar-besaran.

Menurut data dari pihak Inggris tidak kurang 12 ribu pekerja mati terkapar dan menggelepar untuk jalan raya yang kini kita nikmati itu. Sebelum membangun jalan raya tersebut, saat Daendels tiba di Anyer, ia menempuh perjalanan dari Anyer ke Batavia selama empat hari. Setelah ada Jalan Pos hanya ditempuh dalam satu hari, karena saat itu belum diaspal. Sekarang Anyer-Jakarta dapat kita capai dalam satu jam lewat jalan tol.

Sebagai gubernur jenderal yang keras kepala, angkuh dan otoriter, pengagum Kaisar Napoleon dan anak revolusi Prancis ini, pada 12 Nopember 1808 menghancurluluhkan Keraton Surosowan di Banten, yang sampai sekarang puing-puingnya masih dapat kita jumpai. Padahal, saat itu Surosutan merupakan keraton yang megah dan pernah menjadi kediaman 21 sultan Banten. Daendels berang terhadap sikap sultan Banten yang tidak mau mengerahkan rakyatnya untuk jadi korban rodi di Ujung Kulon, yang kala itu berawa-rawa dan menjadi sarang nyamuk malaria. Ribuan pekerja rodi di tempat-tempat lain juga meninggal karena terserang malaria -- penyakkit mematikan kala itu. Kesultanan Islam Banten, sejak masa Batavia-nya JP Coen tidak henti-hentinya mengusik Belanda. Mereka banyak bergerilya dengan markas di sekitar Angke dan Tangerang.

Setelah Jalan Pos dapat diselesaikan dalam waktu hanya satu tahun, jalur dari Batavia-Semarang-Surabaya dapat ditempuh hanya dalam enam hari. Padahal, sebelumnya harus ditempuh selama berbulan-bulan. Kala itu pembangunan Jalan Pos merupakan prestasi yang luar biasa.

Pembangunan Jalan Daendels dari Batavia-Depok-Buitenzorg (Bogor) tidak begitu menghadapi masalah. Tapi ketika jalan harus melewati Cisarua-Puncak-Cianjur terus merambat ke Priangan yang bergunung-gunung dan melewati lembah-lembah, kesulitan terjadi. Dan berkat kegigihan Daendels wilayah itu dapat ditembus. Tentu saja dengan pengorbanan ribuan rakyat kecil yang menjadi pekerja rodi.

Dalam Hikayat Jakarta, penulis Amerika Willard A Hanna melukiskan sosok Daendels. Para petani yang mengenalnya menganggapnya sebagai momok. Para penguasa tradisional menganggapnya sebagai tiran. Sedang orang-orang Belanda di Batavia menganggapnya sebagai pengkhianat, orang yang diragukan dan dibeli oleh Napoleon. Orang Belanda malah lebih suka diperintah oleh Inggris katimbang Prancis. Saking setianya kepada Napoleon, ia pernah mengibarkan bendera Prancis di Batavia.

Sejarah Daendels di Jawa telah berakhir dengan ditariknya ia dari jabatannya pada 1811, atau hampir dua abad lalu. Tetapi, namanya sebagai seorang tiran terkenal hingga kini. Jalan raya yang dibuatnya juga tetap terbentang merupakan contoh hasil kekerasan hati perencananya. Jalan yang begitu panjang tersebut melintasi pegunungan-pegunungan, menerobos hutan balantara, jurang-jurang terjal, pantai yang panjang dan lembah yang membentang.

Demi pembangunan jalan itu ribuan pekerja mati dan menderita. Mereka adalah rakyat kecil, yang sampai kini tetap menderita. Karena, itulah kita harus mengingat pengorbanan mereka. Semestinya pemerintah kini berusaha keras untuk memakmurkan mereka. Bukankah Bung Karno sering berkata, ''Kemerdekaan merupakan jembatan emas menuju kemakmuran.''

(Alwi Shahab )

Rebana, Ya Robbana...!

Jakarta sudah berkembang menjadi kota megapolitan, tapi kesenian rebana masih tetap mendapat tempat di hati masyarakatnya. Di tiap kampung yang ada pesantren, madrasah, majelis taklim, dan masjid dapat kita jumpai kesenian rebana, yang sering meraikan suasana acara Maulid Nabi atau khitanan.

Menurut seniman Betawi, Yahya Andi Saputra, rebana sampai ke Betawi dibawa oleh balatentara Kerajaan Islam Mataram pimpinan Sultan Agung ketika dua kali menyerang kota Batavia (1628 dan 1629). Lepas dari kegagalan untuk menaklukkan VOC, tapi banyak punggawa Mataram yang kemudian menetap di Jakarta. Di antaranya menjadi mubaligh yang handal dan mewariskan sejumlah masjid tua.

Rebana biang
Kata rebana, konon berasal dari kata ''Robbana'', yang berarti ''Tuhan kami''. Lama kelamaan alat musiknya disebut rebana, atau mengucapkannya dengan lafal robana, seperti di Ciganjur, Kebayoran Lama, dan Pondok Pinang. Di Jakarta, terdapat ratusan grup rebana dan kasidahan. Di samping manggung pada acara keagamaan, mereka juga menerima panggilan main pada acara-acara hiburan. Setiap grup rebana punya lagu yang berbeda. Bahkan kini, di samping menyanyikan lagu-lagu berirama padang pasir (Timur Tengah), juga lagu Melayu dan dangdut. Terutama dimainkan oleh grup ''rebana biang''--karena rebananya besar.

Rebana hadroh
Juga terdapat rebana hadroh. Kekhasannya adalah terdapat Adu Zikir. Di sini tampil dua grup yang silih berganti membawakan syair Diwan Hadroh. Grup yang kalah umumnya karena kurang hafal ketika membawakan syair. Dahulu, dalam grup ini turut serta Mudehir yang sejak kecil tunanetra. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana di Kampung Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Tetangganya seorang Betawi kaya dan punya pabrik batik. Tiap hari Mudehir mendengar kesibukan buruh yang kerja di pabrik batik cap itu. Suara hentakan bertalu-talu para buruh membangkitkan inspirasi dan imajinasi pada Mudehir. Semakin didengarkan, suara-suara itu kian memperkaya batinnya.

Suatu hari dia diajak bermain rebana oleh grup hadroh, yang bagi dia iramanya terdengar tidak asing. Mirip dengan suara-suara yang tiap hari didengarnya di pabrik batik cap. Rebana ini pernah ada di kampung Grogol, Kebayoran Lama, Kalibata, Duren Tiga, Utan Kayu, Kramat Sentiong, dan Paseban. Medehir, aktif mengembangkannya. Namun, setelah dia meninggal pada 1960, pamornya meredup.

Rebana burdah
Jenis lainnya adalah Rebana Burdah. Dikembangkan keluarga Ba'mar. Mereka berasal dari Hadramaut. Keluarga ini tinggal di Kampung Kuningan Barat, Mampang Parapatan, Jakarta Selatan. Sesepuh keluarga Ba'mar yang melahirkan kesenian rebana burdah adalah Sayid Abdullah Ba'mar, seorang kaya raya. Di masa jayanya, dia adalah pemilik sebagian besar tanah di kawasan segi tiga emas, Kuningan, dan Jl Gatot Subroto, Jakarta.

Tuan tanah dan peternak ratusan sapi itu menganjurkan semua anak cucunya belajar rebana burdah. Lagu-lagu yang dinyanyikan diambil dari syair Al-Busyiri, berupa puji-pujian kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sementara di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, muncul kesenian rebana maukhid. Yang mengembangkan adalah Habib Husein Alhadad, juga dari Hadramaut. Profesinya sehari-hari mubaligh. Untuk memeriahkan tablighnya, Habib bershalawat diiringi rebana. Syairnya diambil dari karya Habib Abdullah Alhadad, seorang sufi besar dari Hadramaut, yang karya-karyanya dijadikan rujukan di pesantren-pesantren dan majelis taklim. n

( alwi shahab )

Wajah-wajah Muslim di Bollywood

India menjadi satu negara pembuat film terkemuka di dunia. Tidak kurang dari 800 hingga 1.000 film cerita diproduksi Bollywood--Hollywood-nya India--yang berpusat di Mumbai (Bombay). Tingginya produksi film mereka, menggiring jutaan orang India tiap hari pergi ke bioskop-bioskop. Film Bollywood juga diekspor ke-50 negara di dunia, termasuk Indonesia. Di industri film, umat Islam juga banyak berperan. Pernah disebutkan sekitar 30 persen pelaku industri hiburan ini adalah Muslim. Mulai dari aktor, artis, sutradara, penulis cerita, skenario, sampai produser. Belum lagi para kru film.

Para bintang
Gemerlap bintang film Muslim pun bertebaran di langit Bollywood. Dalam era 1950-an sampai 1970-an, misalnya, dikenal Dilip Kumar yang beberapa kali dinobatkan sebagai aktor terbaik India. Sedang para artisnya antara lain Nargis dan Madhubala yang pada 1960-an dapat julukan ''venus dari India''.

Sedangkan Zeenat Aman yang pernah jadi Miss India, sampai 1980-an telah berakting di ratusan film. Demikian pula artis cantik Waheeda Rehman, yang sampai kini masih main memerankan tokoh ibu. Sama seperti Farida Jalal, yang berperan sebagai ibu Shah Rukh Khan dalam film Kuch Kuch Huta Hai. Tak kalah tenar, Shabana Azmi.

Ada beberapa produser Muslim yang film-filmnya oleh Hollywood dicalonkan sebagai peraih Piala Oscar di Amerika untuk kategori film asing. Pada 1950-an, diraih oleh film Mother India yang disutradarai dan diproduksi Mehboob Khan; pada 2002, Laagan, produksi Aamir Khan; dan tahun ini, terpilih film Paheli, dibintangi Shah Rukh Khan, sekaligus sebagai produsen.

Shah Rukh Khan yang melakukan debut filmnya pada 1991, sampai kini menempati peringkat teratas di antara para bintang India. Bersama sutradara Azis Mirza dan artis Juhi Chaula, ia juga mendirikan perusahaan film Dreamz Unlimited.

Masih ada lagi sutradara wanita, Farah Khan, yang sekaligus sebagai kreografi terkenal. Ia sering mendapat penghargaan untuk bidangnya ini. Seperti dalam film Kuch Kuch Hota Hai dan Kabhi Kushi Kabhi Gam. Selain Aamir Khan dan Shah Rukh Khan (pernah berkunjung ke Indonesia 2002), sejumlah bintang Muslim lainnya termasuk 10 besar aktor top Bollywood. Sebut saja misalnya, Saif Ali Khan, yang tahun ini terpilih sebagai aktor terbaik India. Dia adalah putra artis era 1970-an, Sharmila Tagore, dan atlit kriket India, Mansoor Ali Khan.

Termasuk aktor papan atas India adalah Salman Khan, yang namanya sudah tidak asing bagi pecinta Bollywood di Indonesia. Ayahnya, Salim Khan, adalah penulis cerita kenamaan di India, di samping pencipta lagu Majrooh dan Kaifi. Di deretan produser juga terdapat Feroz Khan. Sementara putranya, Fardeen Khan, kini tengah menanjak karirnya di Bollywood.

Hampir seluruh film India diwrnai nyanyian. Di antara para musisi India tercatat nama AR Rehman, yang lagu dan musik ciptaannya dalam film Laagam dan Devdas terpilih sebagai pemusik terbaik. Sedangkan pada dekade 1960-an dan 1970-an, terkenal musisi Naushad Ali. Kini muncul sejumlah sutradara muda beragama Islam. Seperti Sohan Shah dan Aneez Baznee, yang juga menjadi penulis skenario. Sementara Javed Akhtar berada di antara belasan pembuat syair untuk lagu-lagu dalam film Bollywood.

Potensi minoritas
Sekedar mengingatkan, India memiliki populasi Muslim kedua terbesar di dunia setelah Indonesia. Walaupun mereka termasuk golongan minoritas, tapi sekitar 13 persen (130 jiwa) dari sekitar satu miliar penduduk negeri Hinndustan itu beragama Islam.

Bahkan, Prof APJ Abdul Kalaam, merupakan presiden keempat India yang beragama Islam. Dia adalah ilmuwan Muslim yang punya prestasi dalam meningkatkan kemampuan negaranya untuk berswasembada dalam ilmu, industri, dan riset pertahanan. Juga tercatat sebagai salah satu ilmuwan India yang menjadikan negara itu muncul menjadi kekuatan nuklir dunia yang diperhitungkan.

Tentunya, masih banyak orang Muslim hebat di India. Begitu juga yang terjun di dunia film itu tadi. Mudah-mudahan, ke depan, film-film Bollywood pun menjadi ''islami'' dan rahmatan lil'alamin. Tidak terus hanyut dalam dominasi adegan yang mengeksploitasi aurat dan moral bejad.

( alwi shahab )

Dari Hotel Jadi Bina Graha

Sulit memperkirakan gedung berlantai dua dan beratap genteng seperti terlihat dalam gambar adalah gedung Bina Graha, salah satu tempat kegiatan presiden sehari-hari. Fotografer Woodbury & Page mengabadikan gedung ini pada awal 1870-an, saat masih menjadi Hotel der Nederlanden.

Letaknya di samping kanan Risjwijk Palace (kini Istana Negara) di Risjwijk (kini Jl Veteran), Jakarta Pusat. Di halamannya terlihat para petugas hotel dengan pakaian seragam dan beberapa sado, yang tengah menunggu penumpang. Maklum kala itu mobil belum nongol, hingga taksi digantikan kendaraan berkuda.

Hotel der Nederlanden, kala itu merupakan hotel termewah di Batavia, sebelum dibangun Hotel des Indes pada dekade pertama abad ke-20. Hotel ini memiliki pekarangan luas hingga ke Medan Merdeka Utara. Sekarang merupakan bagian dari Gedung Dewan Pertimbangan Agung (DPA), yang juga dibangun 1980. Sebelumnya gedung DPA yang berada di tempat sama masih sederhana. Presiden Soekarno di samping Panglima Tertinggi (Pangti) ABRI, Pemimpin Besar Revolusi (PBR), juga ketua DPA. Setelah Demokrasi Terpimpin (Juli 1959), banyak keputusan penting dilaksanakan dari gedung DPA.

Sementara Presiden Soeharto lebih banyak melakukan kegiatan sehari-hari di Bina Graha. Di gedung ini Soeharto setiap Selasa, memimpin sidang kabinet bidang Ekuin, di samping menerima para menteri dan tamu-tamu penting. Sebelumnya gedung ini merupakan rumah besar dan vila milik Pieter Tenzy (1796). Kemudian dijual pada Mr WH Van Isseldijk, anggota Dewan Hindia Belanda.

Raffles (1811-1816), memilih sebagai tempat tinggalnya di Batavia, saat Kerajaan Inggris menguasai Pulau Jawa. Hingga dinamakan Gedung Raffles. Sekalipun dia lebih sering tinggal di Istana Buitenzorg (Bogor) yang berhawa sejuk. Bertolak belakang dari Bogor sekarang dijuluki kota 'sejuta angkot' dan lalu lintasnya semrawut. Pada 1840 menjadi 'Hotel Place Royal' dengan pemiliknya Johannes Petrus Fals. Empat tahun kemudian (1846) namanya diganti jadi Hotel der Nederlanden.

Pada tahun 1950-an, ketika nama-nama asing di indonesiakan, lebih-lebih yang berbau kolonial namanya jadi Hotel Dharma Nirmala. Karena berdampingan dengan istana, Bung Karno menjadikannya sebagai Markas Cakrabirawa, pasukan elit pengawal Presiden. Setelah peristiwa G30S, Cakrabirawa dibubarkan dan pengawalan Presiden dialihkan pada CPM. Seorang pendatang dari Belanda ketika keliling Batavia awal abad ke-20 menulis: ''Di Rijswijk kami melewati beberapa hotel besar, rumah makan Departement van Binnelandse Bestuur (kini Depdagri), Istana Gubernur Jenderal, dan Kementerian Kehakiman.

Semua bangunan itu dicat putih dan dihiasi oleh pilar-pilar di terasnya. Berkilauan ditimpa cahaya matahari dengan latar belakang alam tropis yang hijau. Dari hotel-hotel di Rijswijk kami amat terkesan pada Hotel der Nederlanden walaupun hanya dilihat dari luar.''Selanjutnya ia menulis: ''Kami benar-benar terkesan pada Rijwijk dan daerah seberangnya Noordwijk (Jl Juanda) dengan toko-toko vilanya serta kafe. Semua tampak mewah dan indah, terutama pada saat kami berpapasan dengan kereta kuda pribadi dengan para kusir pribumi berseragam yang indah. Para perwira, penduduk, wanita yang berkuda, dan aneka pakaian penduduk pribumi serta Tionghoa dengan pakaian Timur mereka sangat menyegarkan mata.''

(Alwi Shahab, wartawan Republika )

Maria van Engels

Noordwijk (Jl Juanda) dan Rijswijk (Jl Veteran), diapit Ciliwung, merupakan kawasan elit Eropa. Di sini terdapat istana, toko-toko penjual produk dan busana Eropa. Ada sejumlah hotel, teater, klab malam, dan tempat hiburan lainnya. Semua dengan ciri-ciri Eropa modern. Lebih-lebih saat Raffles (1811-1816), letnan jenderal Inggris, menjadikannya kawasan warga Eropa. Berdekatan dengan Noordwijk terletak Jl Pecenongan, Jakarta Pusat, yang juga banyak dihuni warga Eropa. Diantaranya, keluarga Engels, warga Belanda.

Van Engels beristri gadis Wonosobo, Jawa Tengah, saat dia bekerja di onderneming teh di kaki Gunung Dieng. Mungkin untuk mencari peruntungan yang lebih baik, keluarga van Engels penganut Katolik kemudian hijrah ke Batavia. Ia pun dapat tugas turut membangun jalan kereta api Batavia ke Jawa Timur. Dia punya dua orang gadis, Maria dan Lies van Engels.
Sebagai gadis Indo-Belanda, Maria berkulit putih, cantik dan tinggi semampai. Dia bekerja di toko penjahit di Noordwijk. Di dekat Pecenongan, terletak Gang Abu, yang banyak dihuni keturunan Arab, saat Belanda membolehkan mereka tinggal di luar kampung Arab, Pekojan, Jakarta Kota.

Seorang habib, Abdurahman Alhabsyi, putra sulung Habib Ali pendiri majelis taklim Kwitang, Jakarta Pusat, sering mendatangi kawan-kawannya di Gang Abu, melewati tempat Maria van Engels bekerja. Habib Ali lahir 1867, meninggal 1968 dalam usia 102 tahun.

Diperkirakan, saat pertemuan antara pemuda keturunan Arab dengan gadis Indo itu terjadi sekitar akhir 1880-an. Hampir tiap hari Habib Ali menyambangi tempat Maria bekerja. Mula-mula memang dicuekin. Tapi berkat kegigihan sang habib, akhirnya kedua remaja berlainan agama itu saling terpikat.

Maria pun terlebih dulu menyatakan setuju menjadi Muslimah dan mengganti nama jadi Mariam. Bahkan, ibunya yang biasa disebut 'Encang', ikut bersama anak gadisnya. Konon, menjelang pernikahan mereka di kediaman Habib Ali Kwitang (kini jadi majelis taklim), tersiar isu serombongan tentara Belanda siap mendatangi kampung Kwitang untuk menggagalkannya.
Namun, rupanya jamaah Kwitang tak kalah gesitnya. Sejumlah jagoan dan jawaranya, seperti Haji Sairin, Haji Saleh, dan banyak lagi, bersiap menyambut kedatangan mereka. Mereka nongkrong di Warung Andil, perempatan Jalan Kramat II (dulu Gang Adjudant) dan Kembang I. Bersenjatakan golok sambil berkerodong kain sarung, mereka siap menyambut kedatangan soldadoe Belanda yang akhirnya urung datang.

Setelah pernikahan secara Islam, Mariam jadi menantu kesayangan Habib Ali dan tinggal disamping rumah mertuanya. Ia cepat dapat bergaul dan berpartisipasi dengan masyarakat sekitar. Orang-orang kampung Kwitang menyebutnya 'Wan Enon' atau 'Ibu Enon'. Sedang cucu-cucunya memanggil 'Jidah Non'. Jidah adalah sebutan nenek dalam bahasa Arab.
Setelah berkeluarga, Jidah Non oleh suaminya diminta kesediannya untuk tidak keluar rumah selama dua tahun. Dengan maksud melatih dan mendidik sang mualaf ajaran Islam. Sejak saat itu dia tidak pernah melepaskan busana Muslim. Memakai kain dan kebaya, serta berkerudung, dan hampir tidak pernah melepaskan tasbih. Sampai akhir hayatnya dia pun berusaha untuk tidak menemui orang yang bukan muhrim. Sedang ibunya yang juga tinggal bersama menantunya, menjadi seorang ibu saleha. Bahkan ia diberangkatkan ke tanah suci.

Setelah Habib Abdurahman wafat 1940, Jidah Non tetap menjalankan kehidupannya dengan penuh takwa. Untuk membantu keluarga -- yang sebagian sudah menikah -- dia berdagang jamu. Mulai jamu beranak sampai jamu nafsu makan. Dia memiliki keahlian dalam pengobatan herbal. Memiliki sebuah buku tentang pengobatan dan obat-obatan tradisional dalam bahasa Belanda. Sayangnya setelah almarhum wafat awal 1961, buku yang sangat berharga itu raib begitu saja. Dia juga berjiwa sosial. Sering memberikan pertolongan bila yang sakit orang tidak berpunya, dan memberikan jamu secara gratis.

Sekalipun berbeda agama, tapi hubungan dengan adiknya, Lies van Engels, tetap mesra. Kalau mereka bertemu saling mencium pipi. Kala itu, tanta Lies, demikian kami memanggilnya, sudah tinggal di Eijkmanlaan (kini Jl Kimia), bersebelahan dengan RSUP Ciptomangunkusumo. Kala itu RSUP bernama CBZ (Central Bergelijk Ziekenin Rachting), berdiri 1919. Pada 1957, hubungan Indonesia-Belanda putus akibat soal Irian Barat (Papua). Sementara Bung Karno menasionalisasi perusahaan-perusahaan milik Belanda, sambil menyerukan pada pekerjanya untuk mengambil alih.

Tanta Lies pun pulang ke Nederland bersama puterinya dan tinggal di Wesp, dekat Amsterdam. Salah seorang cucunya kawin dengan pemain sepakbola Belanda, Ayax Amsterdam. Selang beberapa tahun, satu dari keponakannya beserta suami dan keluarganya, berimigran ke Houston, AS.

Ketika salah satu misan saya pada 1990 berkunjung ke AS, keluarga mereka menanyakan putera dan puteri Jidah Non. Tapi sudah tidak bisa lagi berbahasa Indonesia. Dia menyatakan seorang puterinya kawin dengan pemuda Mesir dan masuk Islam.

Pada suatu malam tahun 1961, Jidah Non yang sedang sakit menginginkan semua keluarga berada di dekatnya. Dan ketika meninggal dunia, kami kirimkan kawat pada adiknya di Holland. Jenazahnya dibaringkan di dekat kamar mertuanya, Habib Ali. Sejumlah ulama terkemuka Jakarta, seperti KH Abdullah Syafie, KH Tohir Rohili, KH Nur Ali, hadir diantara ribuan pelayat.

(Alwi Shahab )

Murah dan Bermutu di Hadramaut

Hadramaut dikenal luar oleh masyarakat keturunan Arab di Indonesia. Hampir seluruh masyarakat keturunan Arab di Indonesia nenek moyang mereka berasal dari Hadramaut. Sebelum Perang Dunia ke-II banyak orang mengirimkan anaknya untuk belajar ke Hadramaut, sebuah daerah di propinsi Yaman Bagian Selatan. Sayangnya setelah merdeka dari Inggris, Yaman Selatan (masih belum bersatu dengan Yaman Utara) dikuasai oleh komunis. Selama 26 tahun pemerintahan komunis, hubungan antara Hadramaut dengan Indonesia seolah-olah terputus.

Setelah ideologi komunis ditolak rakyat Hadramaut, sejak pertengahan 1990-an, seperti meneruskan tradisi di masa lalu, semakin banyak warga Indonesia yang mengiirimkan anak-anaknya untuk menempuh pendidikan di kota itu.Adalah Habib Umar bin Muhammad Al-Hafidz Syekh Abubakar yang memepolori pembukaan kembali langkah itu. Ia menerima siswa dari Indonesia untuk belajar di Hadramaut, yang telah terputus selama hampir 30 tahun. Dia membuka pesantren Daarul Mustafa di kota Tarim, 30 km timur laut kota Seiwun. Sampai sekarang Daarul Mustafa mempunyai 37 cabang yang tersebar di berbagai belahan dunia. Dan tentu saja yang terbanyak dari Indonesia.

Di Indonesia terdapat 20 cabang, papar Habib Jindan Bin Novel, alumnus pertama pesantren itu. Ia membangun pesantren di Larangan Ciledug, Tangerang, dengan nama Yayasan Al-Fachriyah. Selain Habib Jindan, alumnus pertama Darul Mustafa lainnya adalah Habib Munzir Musawa, pimpinan Majelis Taklim Rasulullah di Jakarta, Habib Quraish Baharun dari Jawa Timur, Jafar bin Muhammad Kadir, dan Habib Saleh Aljufri, pimpinan Pondok Pesantren Darul Mustafa Solo.

Di Hadramaut yang terletak 3.070 kaki diatas permukaan laut terdapat dua pesantren ternama. Selain Darul Mustafa, ada juga Darul Zahrah. Bila yang pertama ditujukan untuk santri putra, maka Darul Zahrah merupakan pesantren khusus putri. Meskipun tidak sebanyak santri pria, banyak orang tua yang mengiirimkan putrinya untuk belajar ke Hadramaut. Biayanya juga tidak mahal. Cukup 20 dolar AS per bulan. Uang sebesar itu sudah dimasukkan biaya makan tiga kali sehari selama sebulan. Mereka tingga di asrama yang masing-masing ruang tidurnya ber-AC.
Tapi biaya bukan satu-satunya syarat. Selain calon santri punya kemauan kuat untuk menuntut ilmu agama, ia juga dimestikan menguasai pelajaran agama Islam bidang fikih, nahu, dan hadis. Syarat yang tidak kalah pentingnya adalah ia sudah harus hafal Alquran dari surah Adh-Duha hingga An-Nas. Dan ini yang paling penting, usia tidak boleh lebih dari 19 tahun, menguasai serta bisa menulis dalam bahasa Arab. Di samping itu, santri harus dapat izin dari orang tua atau walinya. Dan selama di pesantren, para santri diwajibkan berbahasa Arab.

Khusus calon santri dari negara-negara Barat, harus melampirkan riwayat hidup dan ijazah pendidikan sekolah formal maupun nonformal. Ia juga harus punya pengalaman dalam kajian Islam dan mendapoatkan rekomendasi dari guru yang mencantumkan kemampuan akademik dan perilakunya. Untuk calon santri perempuan, syarat-syaratnya tidak jauh berbeda dengan calon santri laki-laki.

Pesantren ini merupakan sistem gabungan antara sistem modern dan tradisional. Lama belajar 18 jam per hari, hingga para santrinya boleh dikata sejak bangun sebelum subuh ditempa dengan pwendidikan yang berat. Tetapi jangan dikira di pesantren ini tidak ada permainan menyenangkan. Tiap hari Jumat (hari libur-red), mereka boleh memilih aneka kegiatan olah raga. Menurut Ubaidillah, mantan santri Darul Mustafa asal Surabaya, fasilitas olah raga seperti sepak bola, bulu tangkis, bola basket, bahkan renang disediakan pengelola pesantren. Tentu saja antara perempuan dan laki-laki dipisah, karena memang tempatnya terpisah.

Pesantren yang lama pendidikan rata-rata empat tahun tidak mengenal sistem pendidikan kelas, seperti juga di pesantren Indonesia. Setiap siswa hanya belajar memahami dan mengkaji beberapa kitab. Tentu saja dengan bimbingan seorang ustadz. Setelah itu baru diuji. Bila lulus, santri melanjutkan belajar kitab yang lebih tinggi. Dalam hal makan, para santri mendapat jatah makan 3 X sehari ditambah dengan makanan ringan. Seperti yang dikaktakan oleh Ubaidillah, aib bagi siswa untuk makan di restoran. Ini bertentangan dengan prinsip belajar yang diterapkan di Darul Mustafa.

Dalam ruang belajar yang dipimpin seoroang ustadz, paling banyak terdiri dari 12 orang santri. Tidak heran bila di pesantren ini ada sekitar 150 ustadz pilihan yang mampuni. Disiplin yang diberlakukan di pesantren ini sangat ketat. Jauh sebelum shubuh yakni pukul 03.45, para santri sudah harus bangun. Setelah mandi dan bersuci melaksanakan shalat tahajud, dilanjutkan membaca berbagai macam zikir. Pada sekitar pukul 05.00 shalat Shubuh, dilanjutkan membaca atau menghadapal Alquran. Baru pada pukul 06.00 para santri mendapat pelajaran formal. Setelah itu diteruskan dengan pelajaran formal kembali hingga pukul 09.00. Setelah sarapan dilanjutkan dengan menelaah hadis, tauhid, dan tafsir.

Pukul 10.40 mereka baru diperkenankan istirahat kembali. Setelah shalat zhuhur mereka membaca atau menghafal Alquran kembali. Pukul 13.45 makan siang dan istirahat atau melakukan kegiatan ekstrakurikuler. Setelah shalat ashar, pada pukul 18.45 para siswa mendapat pelajaran kebersihan dan tasawuf. Menjelang magrib istirahat sejenak dan dilanjutkan pelajaran formal (ilmu fikih) hingga pukul 20.15. ''Pokoknya sangat padat jadwalnya,'' tutur Ubaidillah lagi. ( as )